Kenapa Manusia Ingin Memiliki Anak?

 

image from freepik.com

Untuk Yoda yang akan lahir ke dunia,

Mungkin suatu saat kamu akan bertanya: “Kenapa sih setiap keluarga ingin memiliki anak?”

Pertanyaan lucu tapi valid. Secara biologis, jawabannya sederhana: untuk mempertahankan species. Dorongan natural kita membuat manusia suka beranak pinak dan berkembang biak. (untuk cara kopulasi bisa kamu baca di buku biologi ya!)

Tapi jawaban itu patut dipertanyakan relevansinya di dunia modern. Karena faktanya manusia sudah berkembang biak hingga sekitar 7,5 miliar jiwa. Manusia juga sudah menempati posisi teratas dalam piramida rantai makanan. Tak ada makhluk lain yang memburu dan memakan manusia.

Manusia purba masih mengalami fase penuh ancaman bahaya dari binatang atau alam sekitar. Nenek moyang kita harus beranak sebanyak mungkin untuk melangsungkan peradaban. Sekarang? Ilmu kedokteran semakin maju dan usia harapan hidup bisa diperpanjang sampai 70 tahun. Manusia modern justru mati karena mayoritas tiga hal: penyakit, bencana alam, atau karena sebab manusia lain (terbunuh, kecelakaan, perang, dll).

Kemungkinan kedua manusia ingin memiliki anak adalah: investasi. Anak menjadi future asset yang berguna di masa depan.

Karena itulah muncul istilah: banyak anak banyak rezeki. Anak yang ketika dewasa menjadi manusia produktif diharapkan bisa berkontribusi pada perekonomian keluarga.

Agama juga menempatkan anak sholeh sebagai harta tak tergantikan. Penolong di akhirat kelak. Doa mereka bisa meringankan perjalanan orang tuanya di alam kubur.

Banyak orang tua yang juga berharap bisa memiliki anak agar punya teman di masa tua. Mereka berharap anak-anaknya mau merawat dan menemani saat memasuki usia senja.

Tapi memandang anak sebagai investasi memiliki probabilitas. Tidak semua orang tua dianugerahi anak yang baik. Saya mengenal orang yang kesepian di hari tua meski anak-anaknya banyak (rata-rata orang tua mengalaminya). Ada yang dikasih ujian dengan anak-anak nakal. Ada juga yang hartanya habis karena anak-anaknya tidak bisa mengelola dengan baik.

Memiliki anak dan berharap anak akan menjadi pelipur lara di masa tua adalah sebuah sikap optimisme berlebihan. Tidak ada jaminan anak yang dibesarkan dengan kasih sayang akan menyayangi kita di masa depan.

Orang tua yang memiliki motif seperti itu adalah orang tua yang berkeluarga dengan sifat bisnis. Saat anak mereka sukses, ego orang tua akan naik dan berharap kontribusi mereka kepada kesuksesan sang anak dapat berpulang dalam bentuk bakti kepada mereka.

Sampai ada ungkapan yang sangat “transaksional”:

“Sayangi orang tuamu karena mereka sudah susah payah membesarkanmu”.

Kami tidak ingin menjadi orang tua seperti itu. Merawatmu adalah sebuah kerja besar kemanusiaan. Bukan sebuah investasi di hari tua agar si anak harus meramat manusia yang melahirkan dan membesarkan mereka.

Karena itu jangan cintai kami karena kami adalah orang tuamu. Jangan berbuat baik kepada kami karena kami yang membesarkanmu. Jangan menolong kami karena kami pernah menolongmu sewaktu kecil.

Berbuat baiklah kepada kami, dan kepada semua orang, karena kita adalah sama-sama ciptaan Tuhan.

Berbuat baiklah atas nama Tuhan dan kemanusiaan, karena itu adalah tujuan kita diciptakan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *