Gilanya Penjara Indonesia

 

Percayakah Anda dengan pernyataan dibawah ini:

  • Anda bisa mengelola bisnis narkoba dari dalam penjara
  • Kangen kehangatan wanita? Cukup panggil istri atau gunakan jasa prostitusi sambil sewa ruang besuk milik sipir
  • Banyak penipuan “mama minta pulsa” kepada orang umum yang dilakukan oleh tahanan

Jika Anda tidak percaya dengan semua point diatas, sebaiknya Anda membaca “Surat-Surat dari Balik Jeruji” yang ditulis Zeng Wui Jian, napi kasus narkoba yang 2 tahun ngamar di 4 penjara berbeda. Pedihnya siksaaan fisik dan batin di penjara membuatnya menulis kepada Jaya Suprana yang kemudian membukukannya.

cover bukunya

Kesan saya setelah membaca curhatannya: beruntunglah jika kita belum pernah dipenjara. Tidak ada penjara Indonesia yang manusiawi. Kapasitas penjara pasti overload, hukum yang penuh jebakan batman dengan tujuan memeras dompet, dan juga seringnya tindak kekerasan antar narapidana.

Setidaknya ada tiga hal yang membuat saya geleng-geleng kepala.

UUD

Didalam penjara, berlaku filosofi UUD yang sama. Ujung-ujungnya Duit. Ingin dapat sel yang “hanya” diisi 8 orang? Setor 3 juta. Kalo ga mau? Silahkan menikmati kehangatan sel yang diisi 20 orang. Disana handphone dilarang. Tapi di beberapa rutan, dengan iuran mingguan 200rb, Anda diperbolehkan menggenggam hape touchscreen terbaru.

Mendapat kiriman uang dari keluarga saat besuk? Jangan harap Anda terima 100%. Ada banyak pihak yang harus Anda sedekahkan, bisa menerima 80% saja sudah untung.

Bisnis Dalam Penjara

Kata siapa penjara menghalangi bisnis Anda? Karena justru banyak kasus perdagangan narkoba dikendalikan dari dalam terali besi. Bermodalkan HP, bandar besar memerintahkan produksi, mencari supplier, dan memasarkan barang haram itu dari dalam penjara. Bahkan di beberapa rutan, para napi bisa mengedarkan narkoba kesesama napi lain.

Selain itu, bisnis jasa transfer uang juga berkembang pesat. Para napi bisa menitipkan uang kepada para sipir yang meminta fee sampai 10%. Tak ketinggalan juga “bisnis receh” macam kopi, dan rokok yang merupakan food and beverages best seller diseluruh rutan.

Gledek

Yang membikin saya merinding: banyak penipuan dilakukan oleh bang napi. Bermodalkan hape, koneksi internet, dan kemampuan sepik-sepik, narapidana bisa “menggoyang” orang baik-baik diluar sana. Contoh klasiknya: penipuan pulsa.

Modus operandinya sederhana: bang napi akan membangun koneksi dengan calon korban. Bisa dengan pura2 nelpon ngaku teman, atau dengan profil palsu di facebook. Setelah akrab, si calon korban akan dimintai tolong. Biasanya berhubungan dengan penegak hukum.

Contohnya kejadian tanggal 4 Agustus 2015.

Si korban bernama Rano digarap oleh napi bernama Boyor. Ia mengaku Jarwo, teman lamanya yang jadi pelaut (si Rano sendiri yang menduga-duga). Nah ceritanya Jarwo lagi di kantor polisi kena razia, ia minta Rano membantu nego ke polisi (diperankan napi lain bernama Ade).

Polisi mau melepas Jarwo dengan satu syarat: duit tilang diganti pulsa. Jarwo menjanjikan komisi 200rb jika Rano mau membantu. Lha koq si Rano setuju. Ia pun bergegas ke Alfamart, mengisi 2 nomor masing-masing 200rb. Tapi ternyata pulsa belum masuk, nomornya keliru. Padahal ttu taktik penipuan “dikecot” dengan membuat korban salah transfer. Akhirnya Rano mengirim lagi 200rb. Total 600rb.

Setelah itu Jarwo kembali ke panggung sandiwara dengan meyakinkan uang cash pengganti pulsa sudah ia pegang. Dan ada kabar gembira, ia akan mendapatkan satu hp blackberry karena sudah membantu korps kepolisian.

Tapi ada syaratnya: ia harus suntik pulsa lagi ketiga nomor anggota buser, nanti uangnya diganti. Kali ini narapidana Emi yang mengaku sebagai AKP Wibowo. Mungkin karena iming-iming hape baru, dan seneng dapat kenalan polisi, Rano mengisi lagi 3 nomor dengan nilai 600rb.

Sebelum pesta berakhir, AKP Wibowo memberikan info teranyar: Tim polisi sedang menuju ke lokasi Rano untuk memberikan bonus. Ia juga diminta berbelanja barang apapun dan akan dibayari saat rombongan polisi sampai ditempatnya. Tak ketinggalan titipan pulsa Brigadir Adi (dimainkan napi lain lagi!) sebesar 600rb.

Total Jendral, Rano yang mengaku pedagang ayam dari Parung harus merogoh 1,8 juta ditambah belanjaan yang ia harap akan dibayarkan. Ia adalah korban “gledekan”, penipuan bermodal omong besar yang dilakukan para tahanan.

Enak DIbaca dan Perlu

Akhir kata, buku ini sedikit membuka rahasia umum tentang mirisnya manajemen Lembaga Pemasyarakatan yang sama sekali tidak memasyarakatkan manusia didalamnya. Anda akan mengerti kenapa keributan kecil antar napi bisa merembet ke tawuran masal antar gang. Atau kenapa banyak sipir yang “main mata” dengan para narapidana. Ditulis dengan bahasa ringan tapi berbobot, saya merekomendasikan untuk membacanya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *