Cerita Sederhana Tentang Laki-laki Tua yang Meninggalkan Ibu Saya

Kemarin Bapak pulang. 1 Agustus 2017, jam 6.30 malam.

Bapak pulang setelah menuntaskan tugasnya selama 71 tahun: menjadi makhluk Tuhan yang baik.

Saya percaya Bapak pulang tidak dengan tangan hampa. Ada sayap-sayap kebaikan yang menemaninya.

“Bapak seneng banget ngelihat petani binaan Bapak sudah sukses”. Saat itu ia bercerita ketika pulang nostalgia dari Sulawesi Selatan.

Keluarga kami memang pernah menetap belasan tahun disana. Saat Bapak jadi kepala dinas perkebunan. Usaha Bapak keluar masuk hutan membuahkan hasil.

Sekarang mantan staff-nya ada yang jadi Bupati, petani binaannya yang dulu miskin kini punya mobil bagus, daerah yang dulunya terbelakang, kini maju agri business-nya.

Saya masih ingat saat solo traveling ke daerah itu waktu masih mahasiswa. Orang2 sangat menghormati nama Bapak. Saat saya pulang, mereka berebut memberikan sangu dan oleh-oleh.

Pelajaran yang saya terima: kita akan bahagia saat membuat orang lain bahagia.

Warisan Kenangan

Bagian tersedih dari kehilangan orang yang kita cintai adalah saat kenangan indah bersamanya masih melekat di hati.

Otak kita seperti memutar film klasik, dimana kita hanya bisa menonton tanpa pernah bisa menginterupsi.

Saya masih bisa merasakan kehangatan pelukannya saat membangunkan tidur, kumis kasarnya yang kadang-kadang lupa dicukur, radio dengan lagu oldies yang selalu diputar setiap pagi, rute jalan kaki yang ia jalani, hingga aroma sarung didalam lemari.

Saya juga mengenang dorongan positif dari Bapak. Saya selalu dipanggil “Anak ganteng”. Padahal kita semua tahu itu fitnah dan tidak ada gadis satu sekolah yang mau jadi pacar saya meski mendapat ancaman pembunuhan.

Biarpun jarang dapat rangking di sekolah dan bisa naik kelas saja sudah sujud syukur, Bapak ga pernah menggoblok-goblokkan saya. Dia selalu bilang:

“Kamu itu sebenarnya pintar, Cuma malas”. Kalimat sugesti positif yang entah kenapa membuat saya tambah malas karena merasa sudah pintar.

Warisan Bapak yang selalu ditekankan dan sampai sekarang saya pegang teguh adalah soal pendidikan. Bapak sangat concern dengan pendidikan anak-anaknya.

Bapak percaya ilmu itu seperti cahaya, akan menerangi hidup manusia. Ia selalu bilang:

“Bapak ga bisa ngewarisin apa-apa. Cuma bisa nyekolahin kamu”.

Dia juga orang yang jarang marah. Pernah suatu hari saya dipukul preman pas pulang sekolah. Kacamata pecah dan baju berdarah-darah.

Bapak ga panik dan bersikap biasa saja. Tanpa banyak bertanya saya diantar membeli baju dan kacamata baru.

Sejak itu saya mengerti: kekuatan laki-laki ada pada kelembutan hati.

Sakit Hati

Bapak pulang diantar oleh sakit hati. Lebih tepatnya, sirosis hati. Kematian jaringan organ yang tak akan bisa mengalahkan dalamnya perasaan.

Penyakit yang pernah menyerang Dahlan Iskan dan sekitar 10% penduduk bumi. Saat dokter memberikan diagnosis penyakit ini, pilihan jadi terbatas. Usia Bapak yang tak lagi muda ditambah riwayat diabetes membuatnya rawan untuk menjalani operasi apalagi transplantasi.

Yang bisa kita lakukan hanya memperingan melalui obat-obatan. Bapak harus keluar masuk rumah sakit beberapa bulan ini. Dua hari yang lalu saya masih sempat pulang. Menemani dan memijat punggungnya.

Liver yang bengkak membuat rongga perutnya membesar, dan kemungkinan menekan organ dalam yang lain. Di beberapa kasus, bisa terjadi pemecahan pembuluh darah dan membuat penderita muntah darah.

Saya sangat berterima kasih dan bersyukur menjadi anak kandungnya. Meski ia tidak setenar Donald Trump, sejenius Einstein, sekaya Rockefeller, atau seganteng Lee min Ho.

Bagi saya dia tetap Bapak terbaik di dunia dan diluar angkasa. Saya yang justru malu karena banyak berbuat salah dan belum membahagiakan beliau.

Kepulangan Bapak menjadi pengingat: semua yang bernyawa akan kembali kepada-Nya. Kita juga harus percaya jika takdir Allah pasti merupakan jalan terbaik.

Inna lillahi wa innaa ilaihi raajiun.

Sekarang Bapak sudah punya “hati baru”. Hati yang damai, hingga di akhirat nanti.

Tunggu saya pulang ya Pak 🙂

Tulisan terkait, Cerita sederhana Tentang Laki-laki Tua yang Menghamili Ibu Saya

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *