#87 BHAG: Kenapa Kita Harus Punya Tujuan Besar

Sebagai kacung yang bekerja di travel industry, saya sering bekerja sama dengan departemen pariwisata negara ASEAN. Tapi ada hal yang menarik dari teman-teman di Kementrian Pariwisata kita. Setiap meeting, saya sering sekali mendengar kata “20 juta”.

“Kita punya target 20 juta wisataawan asing tahun 2019”.

“Sesuai arahan Pak Presiden, target kita 20 juta wisatawan.”

“…Ini untuk mencapai target 20 juta wisatawan”.

Yang bikin saya kagum: angka 20 juta ini diucapkan oleh menteri, pejabat eselon, hingga staff biasa. Ternyata hampir semua orang di kementrian pariwisata tahu apa yang mereka ingin capai: Pada 2019 membawa 20 juta wisatawan asing ke Indonesia.

Kenapa saya bisa bilang luar biasa? Karena tidak semua anggota organisasi tahu apa tujuan mereka. Apalagi ini sebuah organisasi gemuk bernama birokrasi.

Jika Anda bertanya ke teman atau saudara yang bekerja di organisasi raksasa seperti BUMN, perusahaan multinasional, atau departemen pemerintahan, belum tentu mereka tahu apa tujuan lembaganya.

Apa yang ingin dicapai? Jika profit, berapa banyak untungnya? Kapan mendapatkannya? Bagaimana caranya? Banyak dari kita hanya melakukan sesuatu sesuai job description tanpa pernah tahu strategic direction.

BHAG

Angka 20 juta yang didengung-dengungkan sebagai mantra adalah sebuah BHAG: Big Hairy Audacious Goal (dibaca Bee-Hag). Mimpi besar yang menginspirasi.

Dicetuskan oleh guru manajemen, Jim Collins dan Jerry Porras dalam Built to Last (1994). Collins mencatat, perusahaan-perusahaan besar yang sukses dalam jangka panjang selalu punya BHAG. Sebuah tanda jika mereka organisasi yang berani bermimpi.

Saat Kennedy mengajukan proposal ke Kongres untuk program “moon landing” pada tahun 60-an, ia mengajukan BHAG yang menyentuh ego umat manusia:

“..this Nation should commit itself to achieving the goal… landing a man on the moon and returning him safely to earth..”

Semua rakyat Amerika terpesona dan mendukung proyek 549 juta dollar itu karena mereka akan menjadi homo sapiens pertama yang mendarat di bulan.

Contoh klasik lain: Ketika Jack Welch merombak General Electric, GE terkenal dengan organisasi gemuk yang punya banyak sekali anak perusahaan. BHAG yang ia cetuskan sungguh sederhana:

“Become #1 or #2 in every market we serve and revolutionize this company to have speed and agility of small enterprise”.

Jadi yang terbaik dan bergerak segesit perusahaan kecil, atau tidak sama sekali. Hasilnya Welch merampingkan bisnis GE, menjual divisi yang tak punya prospek lagi, dan mengembangkan budaya inovasi.

Mimpi Pariwisata

“20 Juta wisatawan asing” adalah BHAG yang ambisius tapi sebenarnya mampu kita capai. Thailand dalam setahun menerima sekitar 35 juta wisatawan asing. Malaysia ada di angka 15 juta. Sedangkan kita masih megap-megap mencapai level 13 juta. Padahal jika dilihat potensi wisata dan luas wilayah, harusnya wisatawan kita melebihi kedua Negara itu.

Tentu masih banyak Pe-eR terutama dibidang infrastruktur, inovasi produk, sarana transportasi (kapasitas penerbangan rute internasional), dan pengembangan SDM yang ada di depan mata. Tapi saya merasa we are on the right track.

Sekarang Kementrian Pariwisata sangat aktif berpromosi keseluruh dunia. Sektor swasta diajak bekerja sama. Kita juga punya menteri pintar yang digital minded dan tahu bagaimana cara mengubah gaya birokrasi menjadi semi korporasi.

“Datanya mana? Kita harus bicara dengan data. Nanti habis kita dihadapan Pak Menteri”

“Kira-kira top 3 action yang bisa kita lakukan apa? Tolong dimasukkan ke weekly report”

“Seperti kata Pak Menteri, if you can’t measure it, you can’t manage it”

Pola pikir yang data driven dan action oriented adalah hal yang wajar di dalam dunia korporasi. Tapi bisa menerapkannya dalam sektor birokrasi adalah hal yang patut diapresiasi.

Saya menulis ini sebagai catatan kecil: tidak semua birokrasi menjadi penghambat inovasi. Insya Allah pariwisata Indonesia punya masa depan yang cerah.

View post on imgur.com

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *