#93 Social Labeling bias: Kenapa kita suka mengkafirkan orang lain

Misalnya ada dua tempat duduk yang kosong. Anda bisa duduk disamping mas-mas berseragam polisi, atau duduk disamping lelaki sangar dengan tubuh penuh tato dan tindik yang menyeramkan. Mana yang akan Anda pilih?

Kita pasti akan menduga orang yang memakai baju polisi adalah polisi yang bertugas, sedangkan abang-abang bertato dengan tampang sangar adalah preman. Padahal bisa saja orang yang memakai baju polisi adalah penipu, dan si preman ternyata intel polisi yang menyamar.

Percaya atau tidak, secara bawah sadar otak kita akan memberikan label kepada orang lain. Proses pemberian label ini bisa terjadi dalam sekejapan mata atau dalam hitungan detik. Kita membutuhkannya untuk menganalisa kondisi dan mengidentifikasi adanya bahaya.

Berpapasan dengan orang yang membawa senjata akan meningkatkan kewaspadaan, sedangkan berpapasan dengan nenek tua akan menurunkan kecemasan kita akan bahaya. Padahal bisa saja sang nenek adalah pembunuh bayaran terlatih sedangkan pembawa senjata adalah pecinta olahraga air soft gun biasa.

Masalahnya, informasi yang kita terima sering kali tidak lengkap, dan ada informasi yang tidak kita ketahui. Bahasa gaulnya, ada assymetric information yang terjadi. Kita tidak tahu apa yang mereka ketahui, dan sebaliknya, mereka tidak merasakan apa yang kita rasakan.

Inilah yang membuat kita sering men-judge orang lain yang tidak sealiran dengan kita adalah salah, dan kita selalu merasa paling benar. Padahal bisa saja ada informasi yang belum kita ketahui. Kalau kata psikolog Joseph Luft dan Harrington Ingham (penemu Johari window), ada “façade information” antara kita dan orang lain. Hijab yang menutupi pengetahuan kita dan mereka.

http://communicationtheory.org/wp-content/uploads/2013/01/johari-model.jpg

Façade information juga yang membuat Musa terheran-heran dengan Khidir dan menyalahkannya karena telah merusak perahu dan membunuh anak kecil. Ilmu nabi Musa belum “sampai”, dan Khidir baru menjelaskan alasan tindakannya saat mereka akan berpisah.

Sultan Murad dan Ahli Maksiat

Seperti cerita Sultan Murad dari Turki. Suatu malam Ia tidak bisa tidur. Ia merasa gelisah dan ada yang bergemuruh dihatinya. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar istana dan menyamar sebagai rakyat jelata. Blusukan kalau bahasa sekarang.

Saat keluar tiba-tiba mereka menemukan seorang laki-laki yang terbaring di tengah jalan. Sultan mencoba membangunkannya. Ternyata laki-laki itu sudah meninggal. Anehnya, tidak ada yang mempedulikannya. Jenasahnya dibiarkan begitu saja.

Ia lalu bertanya ke orang-orang yang lewat: “Kenapa orang ini meninggal tapi tidak ada seorang pun yang peduli dan membawa ke rumahnya? Siapa dia? Dimana keluarganya?”

“Orang ini pelaku maksiat” kata orang-orang. “Ia juga selalu mabuk-mabukan dan berzina dengan pelacur”.

“Tapi bukankah ia juga umat Rasullullah, Muhammad s.a.w? Ayo angkat ia dan kita bawa ke rumahnya” ajak sultan Turki itu.

Mereka lalu membawa jenazah laki-laki itu kerumahnya. Sang istri yang baru mengetahui kematian sang suami, langsung menangis dan sedih. Orang-orang langsung meninggalkannya dan hanya ada Sultan dan para pengawal yang masih tinggal dan menghibur si istri.

Sultan bertanya, “Aku mendengar dari orang-orang jika suamimu adalah ahli maksiat sehingga mereka tidak peduli dengan kematiannya. Benarkah hal itu?”

“Awalnya aku menduga seperti itu tuan..” jawab si istri sambil menangis sesenggukan.

“Suamiku setiap malam keluar rumah pergi ke toko minuman keras, membeli sebanyak uang yang dimilikinya, lalu membawa pulang minuman itu untuk dibuang sambil berkata: ‘Alhamdulilah, aku telah meringankan dosa kaum muslimin’”.

“Suamiku juga pergi ke tempat pelacuran”, lanjutnya.

“Ia memberi mereka uang dan berkata, ‘Malam ini adalah jatah waktuku. Jadi tutup pintumu sampai pagi, jangan kau terima tamu lain!’. Kemudian akan pulang dan berkata kepadaku: ‘Alhamdulilah, malam ini aku telah meringankan dosa pemuda-pemuda islam’. Namun orang-orang yang melihatnya mengira suamiku suka mabuk-mabukan dan gemar berzinah. Berita ini lalu menyebar di masyarakat”.

Sang istri berusaha menahan tangis dan kemudian melanjutkan ceritanya.

“Sampai suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: Jika engkau meninggal, tidak aka nada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, menshalatkanmu, dan menguburkanmu”.

Suamiku hanya tertawa dan menjawab: “Janganlah takut wahai istriku! Jika aku mati, aku akan dishalati oleh sultannya kaum muslimin, dan juga para ulama dan ‘auliya Allah”.

Mendengar hal itu Sultan Murad langsung menangis dan berkata, “Benar apa yang dikatakannya. Demi Allah, akulah Sultan Murad itu dan besok pagi kita akan memandikan suamimu, menshalatinya, dan menguburkannya bersama masyarakat dan para ulama”.

Jangan mudah menyalahkan dan memberikan label kepada orang lain. Waspadai façade information. Jangan-jangan ilmu kita yang belum sampai.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *