Tentang Nama dan Nafsu Orang Tua

Siapa nama anak saya?

Awalnya sempat terpikir untuk memberi nama yang menggema: Muhammad Yesus Gautama. Gabungan tiga manusia pilihan yang membawa pencerahan bagi kemanusiaan.

Tapi nama diatas terlalu kontroversial. Jangan-jangan nanti dicekal waktu mau jadi gubernur. Dianggap pelecehan terhadap agama tertentu. Bisa-bisa ada aksi demo besar-besaran 234 atau 222 untuk menggulingkannya.

Oke kita coret.

Karena nama itu “brand” yang melekat seumur hidup, ia harus unik. Dan celakanya hampir semua nama orang Indonesia berasal dari kata benda. Bagaimana kalau kita cari nama yang berasal dari kata kerja? Nama yang merupakan salah satu misi hidup manusia:

Mencari Kedamaian Bahagia.

Tapi koq kurang cool dan gak sekeren nama-nama anak zaman sekarang? Disaat teman-temannya dipanggil Alexis, Dafa, atau Layla, masa dia akan dipanggil Men? Trus kalo dia dicari orang, masa orang yang nyari harus bilang: “Saya mencari Mencari”. RIP geramer >.<

Nama dan Harapan

Kenapa nama bisa sangat penting?

Karena nama adalah panggilan yang melekat sepanjang hidup anak kita. Karena itu dalam islam, nama harus berarti baik. Karena nama adalah doa, maka banyak orang tua memberi nama orang yang menjadi panutan.

Di Inggris, nama laki-laki paling popular menurut Guardian bukanlah Charles, James, atau John. Tapi justru Muhammad. Setidaknya itu menurut laporan tahun 2014 lalu. Karena hampir semua muslim menamai anak mereka dengan Muhammad, Mohammed, atau Mohammad. Diseluruh dunia, diperkirakan ada 150 juta orang yang memiliki nama sesuai rasul kita.

Di kampus saya, pernah ada mahasiswa dengan nama “Thomas Edison”. Mungkin ortunya pingin punya anak secerdas penemu lampu pijar. Alhamdulilah terbukti si bocah bisa kuliah kedokteran sambil menang berbagai lomba olimpiade sains.

Ada juga yang nekat memberi nama anaknya barang-barang yang disukai. Netizen pernah dihebohkan dengan orang tua yang memberi nama anaknya “Pajero Sport”. Karena si ayah sangat nge-fans dan merasa tidak sanggup membeli mobil SUV keluaran Mitsubishi itu.

Masalahnya, nama anak bersifat top down dari orang tua, berisi harapan yang diinginkan Ibu Bapaknya.  Tapi jujur saja, belum tentu si anak setuju dengan harapan ortunya. Ada kasus dimana seorang aktivis memberi nama anaknya “Gempur Soeharto”. Nah setelah zaman Soeharto lengser, si anak yang protes akhirnya mengajukan perubahan nama ke pengadilan.

Idealnya si anak harus bisa menentukan sendiri namanya. Ia akan memberi nama sesuai 4P:

Purpose : Untuk apa ia diciptakan

Potential value : Kelebihan apa yang dimiliki

Positioning : Apa yang orang lain ingat

Philosophy: Cerita tentang makna sebuah nama

Hampir seperti artis yang menciptakan nama panggung mereka sendiri, mereka bisa menentukan identitas sesuai panggilan hati dan kompetensi inti.

Sayangnya kita tidak bisa menunggu sang anak untuk berusia 17 tahun sebelum memutuskan nama untuk mereka sendiri. Menggunakan panggilan “hei”, atau “wahai anakku” juga kurang praktis untuk kegiatan sehari-hari.

Nama Gabungan

Kembali ke anak saya. Setelah bertapa, melakukan riset, berpikir, memlilah, memilih, bermeditasi, melakukan analisa, belajar semiotika, hermeunetika, dan berdiskusi, akhirnya kami memilih sebuah nama.

Yoda. Gabungan nama saya dan Pipi Kentang. Juga berarti nama master Jedi favorit saya dalam Star Wars. Salah satu Jedi yang paling bijak dan kuat, guru dari Anakin dan Luke Skywalker.

Askha. Gabungan nama simbah Pipi Kentang. Tapi setelah saya googling, nama Askha adalah merk kripik pisang di Lampung (jeng jeng jeng jeng). Ya semoga nanti bisa ketularan jadi pengusaha sukses.

Samsu. Karena relasi hubungan kami sama-sama suka, jadinya Samsu deh. Bercanda. Itu titipan nama keluarga dari Ibu saya hehe.

Namanya:

Yoda Askha Samsu. Disingkat YAS. Karena Yes sudah terlalu mainstream.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *