Weekend with Yoda: Mama Paranoia

Kelahiran Yoda ternyata sedikit banyak berpengaruh pada Pipi Kentang. Dia menjadi agak paranoid.

Contohnya saat saya baru selesai membawa Yoda berjemur. Pipi Kentang berpesan agar jangan pergi jauh. Tapi karena berjemur hanya di depan rumah kurang greget, saya mengajak Yoda jalan-jalan keliling kampong. Ga jauh, hanya 1-2 km saja.

Saat kembali, rumah kosong. Rupanya Pipi Kentang yang panic anaknya ngilang berusaha melacak saya. Pake menginterogasi orang-orang dijalan.

Saat balik kerumah, tiba-tiba dia nangis.

“Dia masih kecil, jangan dibawa pergi-pergi. Nanti kalo sakit aku ngerawatnya sendirian..”

Eh lha koq jadi film drakor (drama korea) gini. Ga pake adegan berpandangan dengan mata berkaca-kaca disertai salju berguguran dan music romantic sih.

Padahal saya ga ngajak Yoda jalan-jalan ke Suriah atau Korea Utara. Ini Cuma 1 km disekitar rumah. Tapi mungkin hal ini normal. Insting keibuan yang ingin memproteksi anaknya sendiri. Karena kebetulan si Yoda sendiri ketika lahir kurang fit.

Biru dan Diam

Ketika Yoda lahir, dia ga nangis dan berwarna agak biru. Air ketubannya juga berwarna hijau seperti alpukat.

Image and video hosting by TinyPic

Awalnya saya bangga punya anak berdarah biru. Wah calon bangsawan nih. Tapi ternyata kata dokter itu tanda kurang bagus. Bayi harusnya berwarna merah. Warna pucat pertanda ada yang salah. Dokter anak langsung memberi oksigen dan ia masuk ruang observasi.

Demikian juga jika tak ada tangisan. Normalnya bayi langsung menangis saat lahir. Semakin keras semakin bagus. Pertanda ia sehat dan kuat.

Diamnya Yoda sempat membuat saya mengira ia akan seperti bayi Yesus yang tidak menangis saat lahir. Tapi setelah dirangsang, akhirnya nangis juga tuh bocah. Berarti dia anak biasa-biasa aja hehehe.

Dan seperti bayi Yesus, Yoda dikunjungi tiga orang. Tapi bukan orang bijak dari timur, tapi perawat-perawat yang membantu persalinan yang kebetulan ada tiga orang. Hehehe lagi.

Menurut diagnosa dokter, Yoga mengalami distress pernafasan. Mungkin karena terlalu lama di Rahim (41 minggu lebih) dan ketuban Ibu-nya sudah ijo. Dugaan saya sih, dia shock karena punya Bapak kaya saya. Hehehe terus.

Soal ketuban berwarna ijo juga membuat saya berpikir, jangan-jangan ni bocah punya bakat jadi hulk. Klo setiap ngambek terus berubah kan report juga. Bisa bayangkan duit yang harus kita keluarkan untuk beli baju baru. Hehehe garing ah.

Terbaik Untuk Anak

Mungkin ada perubahan hormone yang dialami Pipi Kentang. Anggap aja sifat keibuannya keluar sehingga ingin memproteksi dan memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Contohnya soal pemilihan baju dan popok. Pipi Kentang selalu milih popok yang paling mahal, impor dari Jepang. Katanya sih paling berkualitas. Tapi kalau saya pribadi sih, selama si anak ga complain ya kasih aja yang murah dulu (bayi gimana komplainnya ya).

Saya pernah dimarahin karena membelikan baju dengan bahan yang kurang halus dan katanya tidak berkualitas. Padahal harga baju Yoda hampir sama dengan kaos yang saya pakai ngantor dengan ukuran Cuma sepersepuluh baju saya!,

Wah untung gede nih produsen baju bayi. Si anak juga ga mungkin tetep kecil dan harus ganti baju baru yang lebih besar. Market value baby product sendiri diperkirakan sekitar 10,8 milyar dollar worldwide. Di Indonesia sendiri di estimasi sekitar 90 trilyun, karena ada sekitar 5 juta bayi baru yang lahir setiap tahun.

Ya sutra lah ya. Namanya juga belajar jadi orang tua, belajar membesarkan titipan Tuhan. Semoga rezeki kami dimudahkan Amiin hehehe.

 

Data market:

https://www.statista.com/statistics/258435/revenue-of-the-baby-care-products-market-worldwide/

http://ekonomi.kompas.com/read/2015/06/08/202714226/Data.Angka.Kelahiran.Menjadi.Peluang.Pasar

 

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *