Monthly Archives: December 2017

#97 Curse of knowledge: Kenapa perempuan sangat sulit dipahami

Anda tahu lagu “selamat Ulang tahun”, “Lihat Kebunku”, atau “Burung Kakaktua”? Sekarang mari lakukan percobaan sederhana. Coba nyanyikan lagu itu menggunakan ketukan tangan (ga boleh pake suara mulut yaa) dan minta orang lain untuk menebak judul lagunya.

Jika kita menyanyikan 20 lagu terkenal, kira-kira berapa persen lagu yang yang bisa ditebak dengan benar? Apakah 50% atau bahkan 70%? Hei, ini lagu popular yang diketahui anak hingga orang tua.

Kenyataannya, hanya 3% lagu yang bisa ditebak! Setidaknya itu hasil percobaan dari Elizabeth Newton dalam disertasi tahun 1990: “Overconfidence in Communication of Intent”. Pengetuk lagu merasa lagu-lagu yang ia nyanyikan dalam hati adalah lagu terkenal sehingga ia yakin orang lain juga akan mengenalinya.

Eksperimen sederhana yang dilakukan peneliti Stanford itu mengingatkan kita tentang curse of knowledge, kutukan pengetahuan. Apa itu? Kutukan pengetahuan itu gampangannya begini: Kita tahu apa yang tidak diketahui orang lain, tapi kita seringkali merasa orang lain tahu, apa yang kita tahu.

Contoh curse of knowledge banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Buku panduan barang yang sangat teknis tanpa ilustrasi yang jelas, iklan dengan konsep abstrak yang bikin bingung penonton, Professor yang menjelaskan mata kuliah dengan banyak istilah alien, hingga perempuan yang sering Cuma ngasih kode untuk dipahami lelaki.

Curse of knowledge berbahaya karena menciptakan distorsi komunikasi dan kegagalan proses penyampaian pesan. Studi kasus paling klasik adalah saat kaum hawa ngambek dan ketika ditanya “Kamu kenapa?” mereka cuma menjawab “Aku gak papa…” sambil ngasih sinyal dalam bentuk non verbal (mata sayu, mulut cemberut, dan tatapan mata kosong).

Jawaban “Aku gak papa..” adalah sandi curse of knowledge tingkat tinggi yang perlu dipecahkan lewat riset dalam bentuk disertasi.

Untuk mengurangi curse of knowledge ini maka kita dapat melakukan dua hal. Pertama, kita harus menyesuaikan gaya komunikasi dengan profil pendengar. Ngobrol tentang investasi dengan seorang financial planner tentu akan berbeda gayanya dengan seorang tukang ojek.

Dan yang kedua, gunakan bahasa komunikasi yang singkat, jelas, dan mudah dipahami. Kita harus berasumsi jika pihak pendengar tidak menguasai istilah khusus dari topic pembicaraan yang ingin kita sampaikan.

Sedikit pesan untuk para perempuan: please speak your mind. Curse of knowledge seringkali membuat hubungan percintaan berakhir tragis hanya karena para pria tidak mampu memahami inti komunikasi yang sedang disampaikan oleh wanita.

Karena tidak semua lelaki paham arti dari “Aku gak papa..”.

http://2.bp.blogspot.com/-BaSDVxSO65k/VsauOi2LeyI/AAAAAAAABnQ/RJxpO4-vFTY/s1600/B7Ja-67CAAAvoQ-.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail