Monthly Archives: January 2018

Ignoramus: Kenapa ketidaktahuan lebih penting dari pengetahuan

Saat menjalani sidang doctor untuk menguji disertasinya, Andi Hakim Nasution (mantan rektor IPB) mendapat pertanyaan aneh dari seorang dewan penguji.

Secara tiba-tiba sang penguji bertanya tentang penyakit yang menyerang hewan tertentu. Ia sempat berpikir, “Mengapa dia bertanya tentang ini? Dan apa pula subyek yang ditanyakannya?” sambil memikirkan istilah asing yang ditanyakan dosen pengujinya.

Setelah merenung, dengan berat hati, calon doktor tadi menghela nafas dan berkata, “Maaf, saya tidak tahu…”.

Mendengar jawaban itu, tiba-tiba sang penguji merasa lega. Ia tersenyum dan memandang dengan puas melihat mahasiswanya tidak dapat menjawab pertanyaan yang ia berikan.

Calon doktor statistika eksperimental itu tertunduk lesu. Perjuangan riset bertahun-tahun bisa saja hancur karena sebuah pertanyaan istilah asing yang ia sendiri baru pertama kali mendengarnya. Tapi ternyata dia diumumkan lulus!

Saat berjabat tangan, dia bertanya kepada dosen penguji tadi.

“Apa jawaban dari pertanyaan yang Anda tanyakan?” tanyanya penasaran.

“Saya tidak tahu”, jawab sang penguji tersenyum.

“Pardon me… Maaf…”

“Iya, itu jawabannya. Saya sendiri tidak tahu jawabannya. Saya menanyakan hal yang sebenarnya tidak ada. Anda sudah menjawab semua pertanyaan kami dengan saat baik saat ujian. Tapi disitulah masalahnya. Kita sebagai ilmuwan terkadang harus mengetahui ada hal-hal yang tidak bisa kita ketahui. Saya ingin Anda belajar hal tersebut”.

Cerita yang saya ambil dari buku lawas “Pola Induksi Seorang Eksperimentalis” itu menegaskan sebuah pelajaran: ketidaktahuan lebih penting dari pengetahuan.

Hal ini menjadi relevan karena manusia modern begitu mengagungkan kalimat “pengetahuan adalah kekuatan”, sehingga kita seringkali tidak mau mengakui ketidaktahuan kita sendiri.

Lihatlah saat netizen berusaha berdebat tentang topic yang tidak ia kuasai, calon pegawai yang berusaha membuat pewawancaranya terkesan, atau anggota dewan yang ingin terlihat hebat didepan rakyat. Semuanya berusaha terlihat “Maha Tahu”.

Kita seringkali lupa dan tidak mau mengakui jika sumber pengetahuan sesungguhnya ada pada ketidaktahuan. Karena seorang ilmuwan pada dasarnya adalah seorang ignoramus: orang yang tidak tahu.

Perbedaan ilmuwan dan orang biasa ada pada langkah selanjutnya: apakah dia itu mau jujur mengakui ketidaktahuannya? Maukah ia mencari pengetahuan baru untuk menjawab ketidaktahuan itu?

Menerapkan pola pikir seorang ignoramus, berarti kita harus merayakan ketidaktahuan.

Ketidaktahuan adalah tanda jika masih banyak pelajaran yang bisa kita temukan. Tak perlu malu dan menutup-nutupi. Kita hanya perlu jujur pada diri sendiri: masih banyak yang harus kita pelajari.

Jika pengetahuan adalah kekuatan, maka ketidaktahuan adalah ibu dari pengetahuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mukhlis

Di kelas bahasa arab yang saya ikuti, ada soal tentang kata “mukhlis”. Isim fa’il (pelaku) yang berarti orang yang ikhlas. Apa makna ikhlas? Ikhlas berarti kemurnian hati. Seorang mukhlis hanya menemukan Tuhannya sebagai alasan semua amalannya.

Salah satu tanda keikhlasan adalah bisa menerima semua ketetapan Tuhan dengan senyuman. Contohnya jika rumah kita kebakaran. Orang yang ikhlas, kata Pak Ustadz, akan mampu menerima kenyataan dan tidak akan protes kepada Tuhan.

Urusan konslet hubungan pendek arus listrik, terbakar kena lilin, atau karena ledakan tabung LPG, itu cuma skenario teknis. Yang penting secara strategis ia sadar jika rumahnya adalah pemberian Tuhannya, dan sekarang sedang diminta oleh yang punya.

Seorang mukhlis tahu jika guru kehidupan itu bermacam-macam. Ada guru bernama kegembiraan, kenikmatan, dan kebahagiaan. Tapi ada juga guru berjudul kesedihan, kesakitan, dan kehilangan. Jika ingin belajar esensi kehidupan seutuhnya, kita harus belajar kepada semuanya.

Hanya menerima guru kesuksesan tanpa menerima guru kegagalan akan membuat kita terjerumus kesombongan. Hanya ingin bertemu guru kehidupan tanpa mengenal guru kematian membuat kita terbuai keduniawian.

Malam itu saya pulang dengan perasaan haru. Alhamdulilah bisa belajar sesuatu. Dan baru saja menerima teori kuliah kehidupan baru, keesokan harinya saya disuruh mempraktikkan ilmu ikhlas itu.

Ketika bangun, jam sudah menunjukkan jam 5 pagi. Alarm jam 3 pagi di hape tidak berbunyi sama sekali. Saya cari tidak ada. Demikian juga dengan laptop yang saya letakkan disamping. Raib tak berjejak. Saya bangun dan melihat pintu terbuka. Rupanya semalam saya lupa mengunci pintu dan ada orang yang bertamu.

Alhamdulilah. Berarti saya disuruh mempraktikkan ilmu ikhlas. Lupa mengunci pintu itu persoalan teknis, yang pasti secara strategis Tuhan mengambil harta yang ia titipkan, dan mengingatkan saya untuk lebih sering berbuat kebaikan.

Inilah tanda kasih sayang Tuhan. Pencuri pun ia berikan rezeki. Saya masih percaya si pencuri adalah orang baik yang hanya sedang butuh uang. Buktinya saya tidak mengalami cedera apa-apa.

Gara-gara kejadian itu saya tersadar, ternyata Tuhan telah memberikan harta yang sangat berharga: orang-orang baik disekitar saya.

Tetangga membantu saya meminjamkan handphone, uang, dan menyelidiki semua informasi. Sedangkan teman-teman kantor justru patungan memberikan sumbangan untuk membeli handphone dan mengganti laptop kantor yang hilang.

Saya cuma bisa bersyukur. Setidaknya ada dua asset terpenting yang belum hilang: iman dan harapan. Tanpa dua hal itu, hidup seorang milyuner tak ubahnya seorang pengemis: kosong dan hampa.

Saya juga masih belum bisa seikhlas orang bijak dalam cerita zen. Diceritakan seorang pertapa yang kemalingan. Pintunya tidak dikunci dan ketika bangun, ia melihat rumahnya berantakan. Ia lalu menangis keras dan membuat tetangganya datang. Mereka bertanya apakah ada barang yang hilang.

“Tidak ada yang hilang…” jawab si pertapa

Lalu kenapa kau menangis? Tanya si tetangga.

“Aku bersedih karena tidak punya barang apa-apa untuk diberikan kepada pencuri. Padahal jika ia membangunkanku, akan kuambilkan bulan di langit untuknya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Wish list vs Action list

Tahun baru membuat timeline saya dipenuhi dengan “resolusi baru”. Standar postingan masyarakat urban: pergantian tahun wajib hukumnya nulis refleksi dan penetapan target yang ingin dicapai.

Tapi saya melihat ada dua jenis orang di lini masa saya. Mereka yang menetapkan keinginan hidupnya sebagai target, dan orang yang menuliskan tindakan sebagai resolusi tahun barunya. Wish list versus action list.

Orang dengan wish list akan menuliskan IMPIAN yang ingin diwujudkan. Bisa berarti tempat yang ingin didatangi, pendidikan yang ingin diselesaikan, pendapatan yang ingin didapat, asset yang ingin dikuasai, dan masih banyak lagi.

Berbeda dengan tipe kedua, orang dengan action list akan menulis TINDAKAN yang akan dia lakukan selama 2018. Mereka sudah tidak menulis what to achieve, tapi juga how to achieve. Ini bisa berarti kebiasaan-kebiasaan baru yang ingin dilakukan, pengetahuan baru yang ingin dipelajari, dan deretan aksi yang harus terjadi.

Kira-kira golongan mana yang akan lebih berhasil mencapai target yang telah ditetapkan?

Riset dari British Journal of Psychology mungkin bisa memberikan sedikit petunjuk. Mereka melakukan percobaan tentang kebiasaan berolahraga selama 2 minggu. Dengan sample 248 orang dewasa yang dibagi ke dalam 3 grup.

Grup #1 control group. Mereka diminta untuk mencatat seberapa sering mereka berolahraga dalam 2 minggu kedepan.

Grup #2 motivation group. Selain diminta mencatat frekuensi olahraga dalam 2 minggu kedepan, mereka diminta membaca selebaran tentang pentingnya berolahraga bagi kesehatan.

Grup #3 intention group. Diminta mencatat frekuensi olahraga selama 2 minggu, juga menerima selebaran tentang manfaat olahraga, dan diminta untuk menuliskan KAPAN dan DIMANA mereka akan berolahraga.

Hasilnya? Group 3 mencatatkan skor luar biasa. Sekitar 91% melakukan olahraga sekali seminggu dan jauh lebih tinggi dari group 1 (38%), dan group 2 (35%).

Lesson learned? Complete your goal with complete plan. More details are better. We have to know HOW to do it, WHO will do it, WHERE it will happen, and WHEN it should be done.

Bagi yang sudah punya wish list, saatnya bikin action list. Kalau sudah punya action list, waktunya bikin timeline.

Kalau sudah punya timeline? Ya waktunya ACTION. #bikinjadinyata

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail