Monthly Archives: March 2018

Untuk Apa Manusia Hidup?

Dear Yoda di tahun 2035,

Jika kamu benar-benar membaca tulisan ini pada tahun 2035, berarti umurmu sudah 17 tahun. Semoga kamu masih hidup ya hehehe..

Umur 17 tahun berarti kamu akan memasuki masa pra-dewasa. Dan itu berarti secara kognitif kamu sudah bisa melakukan memprosesan informasi tingkat tinggi, atau melakukan analisa atas objek yang bersifat abstrak. Bahasa sederhananya: kamu sudah bisa mikir.

Tulisan ini diketik di atas pesawat XT 7688 jurusan Jakarta-Surabaya, 23 Maret 2018 disaat kamu genap berumur 6 bulan dan mulai makan MPASI (Makanan pengganti ASI). Sekarang tujuan hidupmu sama dengan 6 miliar manusia ketika bayi: bagaimana caranya bertahan hidup.

Karena itulah kamu tidak bisa menahan lapar dan menangis saat haus, takut saat ditinggal Ibumu yang merupakan sumber makanan, dan lebih memilih susu daripada cek senilai 10 juta dollar.

Tapi di tahun 2035, seharusnya kamu memiliki tujuan hidup yang lebih kompleks, transedental, dan personal. Apakah itu?

Jujur saja, saya tidak tahu.

Personal Purpose

Alasan saya mengajakmu mempertanyakan tujuan hidup sebenarnya sederhana: karena tidak semua manusia tahu tujuan hidupnya. Mereka tidak tahu apa yang mereka cari sebelum mati.

Dan ini sangat berbahaya.

Manusia yang tidak memiliki tujuan hidup seperti kapal laut dengan kapten yang tidak tahu akan berlayar kemana. Mereka akan diombang-ambingkan lautan, dan bisa terdampar ke daratan yang tidak mereka inginkan.

Mereka tidak pernah bertanya:

Kenapa kita dilahirkan di dunia?

Apa misi yang sedang kita jalani?

Warisan apa yang ingin kita tinggalkan?

Apa makna penciptaan manusia dan seluruh alam raya?

Meskipun setiap manusia, bisa memiliki tujuan hidup yang berbeda.

Jika kamu bertanya kepada ahli biologi, mereka akan menjawab jika tujuan hidup manusia adalah bertahan hidup dan mempertahankan kelangsungan spesies kita.

Jika kamu bertanya kepada ahli psikologi, mereka akan menjawab jika tujuan hidup manusia adalah menemukan aktualisasi diri kita.

Jika kamu bertanya kepada ahli agama, mereka akan menjawab jika tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mana yang benar? Yang pasti tujuan hidup manusia begitu kompleks dan bisa merupakan gabungan alasan diatas atau alasan lainnya.

Saya tidak akan memberikan kuliah panjang soal tujuan hidupmu. It’s your life. Go find it by yourself. Saat kamu membaca tulisan ini, belum tentu saya masih bernafas.

Saya hanya meminta, mulailah bertanya.

Pertanyakan Tuhanmu, negaramu, duniamu, pandangan hidupmu. Ciptakan badai dalam dirimu.

Mulailah menggali informasi. Dari buku, diskusi, video, pod cast, dan segala sumber inspirasi. Ciptakan kontradiksi.

Jangan 100% percaya dengan apa yang dikatakan orang lain kepadamu. Bacalah kitab suci agama lain, dengarkan argumen orang Atheist. Saya tidak ingin kamu beragama Islam hanya karena keluargamu beragama Islam.

Dan yang paling penting: mulai pikirkan tujuan hidupmu. Jika kamu bingung, coba bayangkan saat kamu nanti mati, dan Tuhan bertanya:

“Hey Yoda, ngapain aja lu selama di dunia?” atau jika kamu nanti tidak percaya Tuhan (nanti kita harus diskusi panjang tentang ini), cukup pikirkan apa yang orang lain kenang ketika mengingat namamu.

Yang jelas, seperti kutipan meme-meme bijak: Tujuan dari hidup adalah untuk hidup dengan tujuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Manfaat Skripsi yang Akhirnya Saya Ketahui

 

Saat kuliah, kita pasti pernah menulis skripsi. Dan hampir di setiap penelitian, ditulis dengan urutan yang seperti ini:

Bab 1: Rumusan masalah, hipotesa, dan metodologi

Bab 2: Landasan teori

Bab 3: Hasil penelitian

Bab 4: Simpulan dan saran

Jujur saja, saya ga ngerti kenapa harus mengikuti pakem seperti itu. Apa itu “rumusan masalah”? Masalah koq dicari-cari bukannya diselesaikan. Apa pula itu hipotesa? Ada berapa macam metodologi? Kenapa harus mengikuti metodologi yang pernah dilakukan orang lain di jurnal-jurnal ilmiah?

Dosen-dosen saya dulu tidak pernah menjelaskan apa manfaat pola pikir sistematis seperti itu (apa saya yang ga dengerin ya..). Dulu saya tahunya ya karena pakemnya udah gitu, tinggal ngikutin aja. Pokoknya udah shoheh dan ilmiah.

Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari? Ntar aja dipikiran, yang penting bisa bantu kamu lulus kuliah. Titik.

Ini menciptakan jarak antara dunia akademis dan dunia praktis. Ilmu hadir sebagai teori tinggi yang mengawang-ngawang tanpa perlu dipraktikkan dalam kehidupan yang kekinian.

Tapi dengan bertambahnya usia dan pengalaman, saya percaya jika pola pikir sistematis ala skripsi adalah kunci rahasia untuk menguasai dunia.

Big Why

Pendidikan zaman saya dulu adalah pendidikan model industrialis. Siswa dianggap sebagai tanah liat. Tugas lembaga pendidikan adalah membentuk tanah liat itu sesuai kebutuhan industri. Kalau pasar butuh vas, ya dibentuk vas. Kalau butuh kendi, ya dibentuk jadi kendi.

Karena itulah fakultas kedokteran akan mengajarkan ilmu medis, dan fakultas ekonomi akan ngajarin muridnya tentang bisnis. Ga akan ada ceritanya mahasiswa komunikasi diajarin ilmu nggendam, atau anak sastra disuruh kerja praktik jadi babi ngepet.

Masalahnya, proses pendidikan yang terjadi adalah transfer of knowledge, bukan proses search of knowledge. Bahasa gampangnya, selama saya kuliah, diskusi yang terjadi adalah membahasa “What”, dan tidak focus pada “Why”.

Saya dulu kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, jurusan manajemen. Semester pertama mata kuliah manajemen, saya dicekoki teori tentang manajemen modern, ilmu ekonomi, akuntansi pengantar, dan berbagai mata kuliah yang sudah saya lupakan.

Saya mayoritas belajar tentang “What”: Apa itu ekonomi makro, apa itu manajemen, apa itu akuntansi.

Hampir tidak ada dosen yang memantik rasa penasaran dan bertanya “Why”: Kenapa perusahaan bisa maju atau mundur? Kenapa ada negara kaya dan ada negara miskin? Kenapa saya gendut, jelek, dan miskin? Oh maap pemirsa, yang terakhir adalah curhatan pribadi.

Padahal proses penemuan selalu dimulai dengan pertanyaan, dan tak akan berakhir dalam sebuah jawaban.

Praktik

Kembali ke skripsi. Bab I selalu dimulai dengan “Big why” yang sebenarnya adalah inti dari rumusan masalah. Skripsi saya dulu tentang pengaruh pengaruh piala dunia terhadap turunnya harga saham. Big why-nya: Kenapa setiap ada piala dunia indeks harga saham Amerika terkoreksi? Apakah hal yang sama terjadi di Indonesia?

Jika sudah tau “Kenapa”, waktunya menemukan hipotesa. Kenapa perlu menciptakan hipotesa? Hipotesa sebenarnya dugaan awal kita, sebagai alasan terjadinya “Big Why”. Tanpa hipotesa, kita tak akan bisa masuk kedalam solusi permasalahan.

Sedangkan metodologi adalah teknik untuk membuktikan hipotesa. Seperti teknik pada umumnya, kita diberi kebebasan menggunakan metode yang pernah dipakai orang atau membuat sendiri. Khusus untuk level S1, penggunaan metodologi dari jurnal hanya untuk memudahkan mahasiswa dalam melakukan penelitian.

Masih bingung? Oke kita coba praktik. Misalnya Anda adalah direktur pemasaran. Sales terus turun. Apa yang Anda lakukan?

Seperti skripsi. Temukan “Big Why”. Identifikasi inti permasalahannya. Kenapa penjualan bisa turun? Lini produk mana yang turun? Saluran distribusi apa? Apakah pesaing juga mengalami hal yang sama?

Setelah itu ciptakan hipotesa, kenapa penjualan turun. Apakah karena pergerakan kompetitor? Apakah karena daya beli melemah? Apakah karena harga produk kita lebih mahal?

Jika hipotesa terkuat telah dipilih, waktunya untuk diuji. Misalnya hipotesa terkuat penyebab turunnya penjualan adalah daya beli melemah yang diikuti oleh penurunan harga oleh pesaing. Oke, berarti solusi instant-nya adalah menurunkan harga. Tapi apakah itu benar? Ya makanya perlu diuji.

Caranya? Coba bikin program diskon untuk periode yang terbatas. Jika dengan pengurangan harga, unit terjual kembali naik, berarti benar masalah ada pada harga. Tapi jika nggak ngefek? Berarti hipotesa kita salah dan harus mencari penyebab lainnya.

Inti dari penulisan skripsi bukan pada hasil penelitian itu sendiri. Tapi melatih manusia untuk mengembangkan rasa ingin tahu, berlatih membuktikan kebenaran dengan metode ilmiah, dan yang paling penting: menumbuhkan rasa haus mencari ilmu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Horizon

Saya bertanya ke teman sekaligus mentor untuk urusan investasi. Bagaimana sih cara membuat investment plan yang baik? Jawabannya ternyata sangat sederhana:

“Analisa makro ekonominya. Kira-kira apa industry yang akan booming tahun depan, lihat valuasinya sekarang. Lu harus invest untuk beberapa tahun kedepan. Kalo masuk di industry yang booming tahun ini, udah telat. Harga udah naik”.

Saya tersadar. Kuncinya ada di time horizon. Sejauh mana kita bisa memandang masa depan.

Kualitas seorang pemimpin, inovator, atau investor diukur dari dari kemampuan melihat masa depan yang belum dilihat semua orang. Karena para innovator dan investor hebat, hidup dengan horizon yang panjang.

Meskipun definisi “masa depan” bisa sangat bervariasi.

Bagi politikus, masa depan berarti 5 tahun lagi. Seorang pengusaha mungkin menganggap masa depan berarti keadaan 10 tahun lagi. Menurut filsuf, masa depan berarti 100 tahun nanti. Sedangkan bagi spekulan, masa depan adalah apa yang terjadi 1 jam kedepan.

Melihat dan Berbuat

Ini berbeda dengan “budaya instant” yang menyerang masyarakat kita. Semuanya ingin serba cepat. Cepat kaya, cepat sehat, cepat pintar. Kita sering lupa orang yang kita lihat sukses sekarang, adalah orang yang bekerja sangat keras 10 tahun lalu.

Tak berhenti hanya melihat, innovator dan investor hebat  melakukan tindakan untuk mempersiapkan masa depan. Karena mampu melihat masa depan tanpa melakukan tindakan sama dengan melihat cewek cantik/cowok ganteng tapi ga berani berkenalan. Hasilnya kita tetap jomblo.

Ini yang membuat organisasi kelas dunia berinvestasi di teknologi yang masih belum jelas masa depannya. Karena mereka mempunyai horizon 20 hingga 50 tahun lagi.

Saat perusahaan migas kita masih meributkan harga BBM, perusahaan migas dunia terus mengembangkan energi terbarukan. Saat kita mewacanakan mobil nasional, Google dan Tesla sedang getol-getolnya riset tentang self driving car. Saat kita berdebat soal reklamasi, SpaceX sudah berambisi menciptakan koloni di luar angkasa nanti.

Jika kita tertinggal jauh dibelakang, apa yang bisa kita lakukan?

Satu-satunya cara mengejar ketertinggalan adalah bukan dengan mengikuti resep sukses yang terjadi saat ini, tapi melakukan quantum leap: memikirkan apa yang terjadi 10 tahun lagi dan mempersiapkannya dari sekarang.

Ini seperti pesan Jack Ma di World Economic Forum.

“If you want to be successful tomorrow, it’s impossible

If you want to be successful next year, it’s impossible

But if you want to be suceessful in the next 10 years, you have a chance.

Let’s compete for 10 years later. (You have to say): This is what I do believe in the next 10 years, and everything I do is for achieving that goal”.

Pelajarannya? Expand our vision, see longer horizon, and the most important thing: do the action.

https://cdn.pixabay.com/photo/2017/07/31/21/45/sea-2561397_960_720.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail