Monthly Archives: April 2018

Tetangga di Jakarta

“Yoga kemana aja? Koq ga pernah shubuhan di musholla?” Tanya tetangga saya, Haji Fakih saat berpapasan di pagi hari.

“Iya pulang malam terus Pak hehe”. Jawab saya ngeles.

Saya memang pulang kantor habis maghrib, biasanya baru meluncur setelah isya. Terima kasih atas macet dan jauhnya jarak, saya baru bisa masuk rumah sekitar jam 10 malam.

Bisa langsung tidur?

Jangan harap. Masih ada proyek pribadi yang harus dilakukan. Membaca, menulis, riset kecil-kecilan, dan yang paling penting: push rank mobile lejen haha.
Tapi pertanyaan Haji Fakih menyadarkan saya. Untuk apa menjadi manusia hebat jika sholat berjamaah aja masih sering telat?

Pertanyaan beliau adalah pertanyaan terbaik seorang manusia kepada sesamanya. Jauh lebih baik dari pertanyaan standar macam, “Sekarang kerja dimana? Omset usaha udah berapa? Kapan nikah?” Halah.

Saya beruntung punya tetangga seperti Haji Fakih. Karena tetangga yang baik adalah tetangga yang saling tolong menolong dalam kebaikan. Dan itu juga berarti mengingatkan jika kita melakukan kesalahan.

Dalam ajaran agama saya, tetangga adalah saudara terdekat kita. Bakan seorang muslim bisa termasuk dzalim jika ia bisa hidup kenyang sedangkan tetangganya masih kelaparan.

Seperti cerita dari Abdullah bin Mubarak. Ia bermimpi mendengar malaikat membicarakan seorang dari Damsyik yang amal hajinya telah diterima, padahal orang ini tidak berangkat ke Mekah. Kenapa? Karena ia menyumbangkan 300 dirham tabungan hajinya untuk tetangganya yang sedang kelaparan dan kesusahan.

Dan ga cuma Haji Fakih yang baik. Bu Haji Pucung sering membantu saya beres-beres rumah. Bahkan Bi Itun sering menyapukan halaman saya. Ketahuan ya saya males bersih-bersih. Mungkin karena itu banyak nyamuk di rumahku (lagu generasi kolonial, bukan milenial).
Saya jadi bersyukur tinggal di kampung di selatan jakarta. Meski hanya berjarak 500 meter dari mall Aeon dan apartemen Southgate yang sedang dibangun dengan penuh kemewahan, lingkungan saya penuh dengan kehangatan. Meski bangunan rumah kami penuh dengan kesederhanaan.

Ya Rabbi, berkatilah tetangga-tetangga kami, dan orang-orang yang sudah membaca tulisan ga penting ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Titanic Syndom. Kenapa hanya Paranoid yang Bertahan

15 April, 106 tahun yang lalu.

Sebuah kapal raksasa berlayar mengarungi lautan Atlantic. Merupakan salah satu kapal terbesar yang pernah dibuat umat manusia di masa itu. Dibangun di Belfast, Irlandia, oleh White Star Line, perusahaan ekspedisi guna menghubungkan Erope ke Amerika.

Dengan panjang 268,8 meter, dan lebar 28,2 meter. Kapal itu memiliki berat 46.000 ton, dan memiliki kecepatan hingga 40 km/jam. Itu berarti rute dari Southampton ke New York bisa ditempuh dalam waktu kurang dari seminggu.

Target pasarnya kelas menengah yang mendambakan kenyamanan dalam perjalanan. Tiket termurah dijual mulai dari 3 pounds, atau setara 298$. Sedangkan first class dibrandrol 870 pounds atau 83.200$. Semewah apa fasilitas yang ditawarkan? Kapal itu Dilengkapi kolam renang, perpustakaan, bar dan restoran kelas atas, lapangan squash, gym, bahkan pemandian ala Turki.

Insinyur perancangnya, Thomas Andrew, harus menciptakan inovasi untuk bisa menciptakan kapal sebesar  dan semewah itu. Lumbungnya memiliki 16 kompartemen kedap air. Kapal ini dirancang untuk mampu mengapung meski 2 kompartemen tengah, atau 4 kompartemen depan kebanjiran air.

Karena itulah White Star Line menjualnya dengan tagline yang fenomenal: “Unsinkable ship”. Kapal yang tak bisa tenggelam. Mungkin karena di design takkan tenggelam, ia hanya memiliki sekoci terbatas.

“Control your Irish passions, Thomas. Your uncle here tells me you proposed 64 lifeboats and he had to pull your arm to get you down to 32. Now, I will remind you just as I reminded him these are my ships. And, according to our contract, I have final say on the design. I’ll not have so many little boats, as you call them, cluttering up my decks and putting fear into my passengers.”

Pesan J. Bruce Ismay, direktur dari White Star Line.

Akhirnya hanya ada 20 sekoci yang disediakan. Seharusnya mampu mengangkut 1.178 orang dari 2.223 total penumpang ketika mengalami kecelakaan saat menabrak gunung es. Pada kenyataannya, hanya 710 orang yang berhasil naik ke sekoci. 1514 nyawa lainnya harus tenggelam ditengah dinginnya lautan es.

Sebelum menghantam gunung es, sebenarnya sudah ada pesan yang dikirimkan dari Mesaba, kapal uap yang sedang berlayar didekatnya. Tapi operator kawat Jack Phillips dan Harold Bride tidak meneruskan pesan itu ke kapten kapal karena sibuk mengirimkan pesan-pesan dari penumpang.

Titanic Syndrom

Saya sengaja mengenang peristiwa karamnya Titanic karena sebuah pemikiran sederhana: Titanic syndrom masih terus ada.

Syndrom ini menyerang dengan tanda-tanda sederhana:

  1. Sangat percaya dengan keadaan status quo yang kita jalani
  2. Mengabaikan sinyal-sinyal perubahan yang merupakan “gunung es tak terlihat”

Coba perhatikan organisasi-organisasi besar yang karam. Mereka sangat percaya dengan adagium “too big too fail”. Terlalu besar untuk gagal. Semua rencana bisnis yang dilakukan bagaikan blue print Titanic: besar, kokoh, tanpa celah, takkan bisa “tenggelam”.

Padahal selalu ada bahaya tak terlihat. Gunung es yang tak terlihat di depan mata. Bisa berbentuk disrupsi industi, perubahan pola konsumsi, atau pergeseran teknologi.

Karena itulah perencanaan terbaik bukanlah strategic planning tanpa celah kegagalan. Tapi adaptive planning yang penuh perubahan, ketidakpastian, dan opsi melakukan “Plan B to Z”.

Meminjam buku klasik karangan CEO Intel Andrew Grove: Only Paranoid Survive. Perusahaan yang mampu bertahan adalah perusahaan yang mampu melihat kehancuran perusahaannya sendiri dan mempersiapkan masa depan.

Sebaik apapun rencana kita diatas kertas, selalu ingatlah tragedi Titanic: Tak ada yang sempurna di dunia, tak ada kapal yang tak bisa tenggelam.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apa yang Terjadi Jika Kita Menguasai Data Orang di Facebook?

https://timedotcom.files.wordpress.com/2016/01/facebook-logo-002.jpgDunia dihebohkan dengan kebocoran data facebook. Ga tanggung-tanggung man, 87 juta data bocor dan digunakan untuk kepentingan orang ketiga. Eh, emangnya siapa yang selingkuh?

Bocor ban bisa ditambal, bocor genteng bisa dipakein No Drop, bocor kepala bisa berdarah (jelas lah..).

Lha ini yang bocor adalah data pengguna facebook yang notabene-nya sangat mementingkan privasi. Pasar modal langsung merespons dengan penurunan saham yang membuat kekayaan kawan lama saya, Mark Zuckerberg, berkurang 4,9 miliar dollar[1].

Kawan lama maksudnya: kalo saya ketemu Mark Zuckerberg, dia akan berpikir lamaaaaaaaaa banget mencoba mencari saya di ingatan kawan-kawannya. Karena capek, akhirnya dia sadar kalo kita memang belum pernah bertemu hehehe.

Saya tidak akan menyinggung kasus Cambridge Analytica. Silahkan baca di forum-forum BB21+. Cerita singkat yang saya tahu: ada aplikasi yang tujuan awalnya untuk riset prilaku digital. Aplikasi ini justru bisa mengakses data teman dari orang yang menjadi responden. Data ini dipakai untuk kampanye capres.

Yang lebih ingin saya tulis adalah, se-powerfull apa sih facebook? Apa yang terjadi jika kita curhat, pamer foto, dan bikin status alay di facebook? Dan seperti judul artikel ga penting tapi enak dibaca ini: apa yang bisa kita lakukan jika menguasai data di facebook?

Facebook is not social media, it’s social advertisement

Harus diakui, facebook adalah salah satu sosial media paling populer di planet ini. Tercatat memiliki 2,13 miliar pengguna aktif. Ada 300 juta foto baru yang di upload setiap hari, dan setiap detik, ada 5 akun baru mendaftar[2].

Dulu waktu awal-awal kemunculan facebook tahun 2007, saya masih belum mengerti dari mana mereka dapat uang. Saya pikir facebook adalah social media yang memberikan jasa gratisan dan tidak menghasilkan keuntungan.

Sekarang kantor saya membayar jutaan dollar untuk beriklan di facebook. Salah satu kerjaan saya adalah bikin iklan di facebook. Sampai banyak orang yang dibayar hanya untuk fesbukan sambil nyambi jadi admin page/brand tertentu.

Emang sesakti itukah facebook?

Jujur saja, iya. Facebook adalah salah satu media iklan terbaik. Sangat efektif dan efisien untuk berjualan dengan return of marketing investment yang cucok meong endang mbambang.

Kenapa facebook bisa menjadi media iklan yang sangat efektif?

Karena mereka memiliki data personal user-nya.

Ya data-data kita ini. Yang kita isi-isi sendiri lewat status, foto, click, like, comment, atau interaksi digital lainnya.

Facebook tahu mood kita, kadar ke-alay-an kita, hobi kita, lokasi kita, apa yang kita sukai, karakteristik teman-teman kita, sampai konten-konten yang sering kita konsumsi (biasakan clear history browser ya guys!). Pokoknya semua aktivitas kita akan di simpan oleh facebook untuk di formulasi dan pada akhirnya di monetisasi kepada pengiklan.

Tujuan facebook sangat mulia: bagaimana mengirimkan pesan (iklan) yang tepat kepada orang yang tepat (calon pembeli).

Karena itulah yang doyan buka situs e-commerce akan ngelihat iklan2 e-commerce, atau yang suka traveling akan sering melihat promo maskapai (btw AirAsia ke Jepang pp Cuma 1,6 juta!). Algoritma facebook akan tahu jika kita adalah lelaki, maka probabilitas melihat iklan pembalut adalah 0,0001%.

Kabar baiknya, apapun jenis bisnisnya, kita bisa menggunakan facebook untuk berjualan.

Misalnya Anda berbisnis “rendang crispy”. Udah ga zamannya lagi bawa rendang di jok sepeda motor, lalu muter-muter keliling kota sambil teriak-teriak “Rendang Crispyyy… Selalu di hatiiiii”. Itu marketing jaman old, yu now.

Cukup duduk manis didepan laptop, lalu buat business account di facebook. Setelah itu bikin iklan dengan gambar menarik. Targetkan ke orang di daerah pasar potential yang punya interest topic yang relevan seperti food, rendang, Indonesian food, dan sebagainya.

Anda Cuma perlu membayar biaya iklan yang tidak terlalu mahal (dihitung per CPM – cost per 1000 impression iklan tayang) dan biarkan algoritma facebook pixel yang bekerja mencarikan pembeli potensial.

Data mining is gold mining

Kembali ke pertanyaan judul, apa yang terjadi jika kita memiliki data-data pengguna facebook?

Seharusnya Anda akan jadi kaya, sangat-sangat kaya. Tentu jika tahu cara menggunakannya. Seperti kasus kampanye presiden di Amrik, pemilik data-data itu bisa menciptakan komunikasi yang relevan sesuai karakteristik orang yang ingin di target.

Ibaratnya mau PeDeKaTe ke lawan jenis, mengetahui data-data gebetan kita akan meningkatkan success rate untuk membuat si dia terkesan. Jika tahu si doi weton-nya kliwon dan sukanya di air, kita bisa langsung mengajaknya jalan-jalan ke Pantai dan bukan ke mall.

Karena sekarang adalah zaman informasi, maka data memegang peranan kunci. Memiliki akses ke data jutaan orang sama dengan nelayan yang memiliki peta pergerakan ikan dibawah laut. Ia bisa tahu harus menangkap ikan yang mana, kapan, dimana, dan umpan apa yang harus dipakai dan disukai si ikan.

Seperti pesan bang Napoleon Bonaparte: war is 99% information. Semakin banyak informasi yang Anda expose di facebook, semakin banyak analytics yang mereka dapat yang pada akhirnya membantu pengiklan seperti saya untuk berjualan.

Karena itulah sekarang saya jarang mengupdate status atau pamer foto hehehe.

Reference:

[1] http://www.scmp.com/news/world/united-states-canada/article/2137935/facebook-falls-pressure-mounts-zuckerberg-over-data

[2] https://zephoria.com/top-15-valuable-facebook-statistics/

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail