Titanic Syndom. Kenapa hanya Paranoid yang Bertahan

15 April, 106 tahun yang lalu.

Sebuah kapal raksasa berlayar mengarungi lautan Atlantic. Merupakan salah satu kapal terbesar yang pernah dibuat umat manusia di masa itu. Dibangun di Belfast, Irlandia, oleh White Star Line, perusahaan ekspedisi guna menghubungkan Erope ke Amerika.

Dengan panjang 268,8 meter, dan lebar 28,2 meter. Kapal itu memiliki berat 46.000 ton, dan memiliki kecepatan hingga 40 km/jam. Itu berarti rute dari Southampton ke New York bisa ditempuh dalam waktu kurang dari seminggu.

Target pasarnya kelas menengah yang mendambakan kenyamanan dalam perjalanan. Tiket termurah dijual mulai dari 3 pounds, atau setara 298$. Sedangkan first class dibrandrol 870 pounds atau 83.200$. Semewah apa fasilitas yang ditawarkan? Kapal itu Dilengkapi kolam renang, perpustakaan, bar dan restoran kelas atas, lapangan squash, gym, bahkan pemandian ala Turki.

Insinyur perancangnya, Thomas Andrew, harus menciptakan inovasi untuk bisa menciptakan kapal sebesar  dan semewah itu. Lumbungnya memiliki 16 kompartemen kedap air. Kapal ini dirancang untuk mampu mengapung meski 2 kompartemen tengah, atau 4 kompartemen depan kebanjiran air.

Karena itulah White Star Line menjualnya dengan tagline yang fenomenal: “Unsinkable ship”. Kapal yang tak bisa tenggelam. Mungkin karena di design takkan tenggelam, ia hanya memiliki sekoci terbatas.

“Control your Irish passions, Thomas. Your uncle here tells me you proposed 64 lifeboats and he had to pull your arm to get you down to 32. Now, I will remind you just as I reminded him these are my ships. And, according to our contract, I have final say on the design. I’ll not have so many little boats, as you call them, cluttering up my decks and putting fear into my passengers.”

Pesan J. Bruce Ismay, direktur dari White Star Line.

Akhirnya hanya ada 20 sekoci yang disediakan. Seharusnya mampu mengangkut 1.178 orang dari 2.223 total penumpang ketika mengalami kecelakaan saat menabrak gunung es. Pada kenyataannya, hanya 710 orang yang berhasil naik ke sekoci. 1514 nyawa lainnya harus tenggelam ditengah dinginnya lautan es.

Sebelum menghantam gunung es, sebenarnya sudah ada pesan yang dikirimkan dari Mesaba, kapal uap yang sedang berlayar didekatnya. Tapi operator kawat Jack Phillips dan Harold Bride tidak meneruskan pesan itu ke kapten kapal karena sibuk mengirimkan pesan-pesan dari penumpang.

Titanic Syndrom

Saya sengaja mengenang peristiwa karamnya Titanic karena sebuah pemikiran sederhana: Titanic syndrom masih terus ada.

Syndrom ini menyerang dengan tanda-tanda sederhana:

  1. Sangat percaya dengan keadaan status quo yang kita jalani
  2. Mengabaikan sinyal-sinyal perubahan yang merupakan “gunung es tak terlihat”

Coba perhatikan organisasi-organisasi besar yang karam. Mereka sangat percaya dengan adagium “too big too fail”. Terlalu besar untuk gagal. Semua rencana bisnis yang dilakukan bagaikan blue print Titanic: besar, kokoh, tanpa celah, takkan bisa “tenggelam”.

Padahal selalu ada bahaya tak terlihat. Gunung es yang tak terlihat di depan mata. Bisa berbentuk disrupsi industi, perubahan pola konsumsi, atau pergeseran teknologi.

Karena itulah perencanaan terbaik bukanlah strategic planning tanpa celah kegagalan. Tapi adaptive planning yang penuh perubahan, ketidakpastian, dan opsi melakukan “Plan B to Z”.

Meminjam buku klasik karangan CEO Intel Andrew Grove: Only Paranoid Survive. Perusahaan yang mampu bertahan adalah perusahaan yang mampu melihat kehancuran perusahaannya sendiri dan mempersiapkan masa depan.

Sebaik apapun rencana kita diatas kertas, selalu ingatlah tragedi Titanic: Tak ada yang sempurna di dunia, tak ada kapal yang tak bisa tenggelam.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *