Monthly Archives: May 2018

#15 Dimana Nikmat dari Tidur?

Tsamamah ibn al Asyras ditanya oleh orang gila biara di Hizqal

“Apakah tidur itu nikmat?”

Tentu saja benar, jawab Tsamamah.

Orang gila itu lalu bertanya kembali:

“Kapan orang tidur merasakan kenikmatan itu? Jika nikmat itu sebelum tidur, engkau terlalu memaksakan jawaban. Jika nikmat itu saat tidur, engkau keliru karena saat itu orang tidur tak berakal. Jika nikmat itu setelah tidur, engkau juga salah karena saat itu orang tidur sudah bangun”.

Tsamamah terdiam. Ia lalu balik bertanya, “Jadi bagaimana pendapatmu?”

Sesungguhnya kantuk adalah penyakit yang menimpa badan dan obatnya adalah tidur.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#14 Samnun dan 4 Hal

Samnub ash Shufi adalah orang gila dari kota Bashrah. Suatu hari ia dipanggil oleh khalifah yang bertanya: “Samnub. Dalam kedekatan, perlukah pengkhidmatan?”

Samnun menjawab,

“Amirulmukminin! Sesungguhnya hati orang2 yg terhubung dengan Allah senantiasa berkhidmat kepada-Nya”.

Bagaimana caramu terhubung dengan Nya? Tanya sang amir.

“Saya tidak bisa terhubung dengan Allah kecuali setelah mengamalkan 4 hal:

Saya mematikan yang hidup yaitu nafsu dan menghidupan sesuatu yang mati yaitu hati.

Saya menyaksikan yang gaib yaitu akhirat dan menganggap gaib sesuatu yang nyata yaitu dunia.

Saya mengabadikan sesuatu yang fana yaitu kehendak dan menfanakan sesuatu yang abadi yaitu hasrat.

Saya mengasingkab sesuatu yang akrab dengan kalian dan akrab dengan sesuatu yang asing dengan kalian”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#13 Doa Orang Gila

Di Mahrajan ada orang gila yang dipanggil Sabiq. Dia menggelandang dan tinggal di reruntuhan, kebun, dan kuburan.

Meski begitu, ia terkenal karena perkatanyannya terkadang lebih masuk akal dibandingkan orang biasa.

Suautu hari Abu Hammam Israil Ibn Muhammad al-Qadhi menemui Sabiq dan bertanya,

Sabiq, mohon ajari saya kata2 yang bisa saya jadikan sebagai doa:

“Sesungguhnya kata-kata yg paling mengena di hati adalah kata-kata yang datang dari hati.

Sesungguhnya tindakan yang paling utama adalah tindakan yang dibenci oleh hawa nafsu”.

Setelah itu Sabiq berdoa:

“Ya Allah, jadikanlah pandanganku sebagai pelajaran, diamku sebagai pemikiran dan perkataanku sebagai zikir”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#12 Bertanya kepada Orang Gila

Muhammad ibn Ismail ibn Abi Fudaik berkata,

“Di antara kami ada seorang lelaki yang disebut Abu Nashr berasal dari Juhainah. Akalnya tidak waras. Kurang lebih satu bulan sebelum meninggal dunia, dia senantiasa duduk bersama Ahlu Suffah di belakang Masjid Nabawi, Madinah. Apabila ditanya sesuatu, dia akan memberi jawaban yang baik.

Pada suatu hari, saya menemuinya di belakang masjid. Dia bertanya, “Ada keperluan apa dengan kami?” saat itu ia sedang berkumpul dengan Ahlu Suffah.

“Abu Nashr! Apa itu kemuliaan?”

Dia memberi jawaban, “kemuliaan adalah menanggung sesuatu yang ditimpa kerabat, baik yang ringan atau yang berat; menerima yang baik dari kerabat dan melupakan yang buruk dari mereka”.

Saya bertanya lagi,” Apa ity harga diri(al-muruah)?

“Harga diri adalah memberi makanan, menyebarkan salam perdamaian dan menjafa diri dari keji dan dosa”.

Apa pula kedermawanan?

“Kedermawanan adalah bersungguh sungguh dalam hal yang sedikit dan sekecil apapun”.

Lantas apa itu pelit?

“Kurang ajar!” Katanya sambil memalingkan muka.

Mengapa engkau tidak menjawab pertanyaan terakhirku?

“Aku telah menjawabnya”. Ia lalu berpesan:

“Sesungguhnya manusia apabila meninggal dunia akan ditemani oleh keluarganya, hartanya, dan amal perbuatannya. Ketika tubuhnya diletakkan dalam kuburan, keluarga dan hartanya pulang. Yang tersisa tinggal amal perbuatannya. Karena itu, pilihlah bagi diri kalian sesuatu yang akan menemani kalian di alam kubur”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#11  Dikalahkan Budak

Ibrahim bin Adham bercerita,

“Suatu ketika aku memasuki salah satu benteng di tepi pantai di desa di Syam. Waktu itu aku sedang mengalami kesulitan sementara hujan begitu deras dan hari makin gelap. Aku kemudian masuk ke dapur dan berkata, “Aku akan duduk sebentar hingga hujan reda”.

Ternyada ada lelaki berkulit hitam yang menyalakan api. Ibrahim mengucapkan salam dan bertanya,

“Apakah engkau mengizinkanku untuk mendekat hingga hujan reda?” Ia lalu memberi isyarat untuk masuk.

Ia lalu duduk di hadapannya. Lelaki itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia sibuk menyalakan api sementara sambil menggerakkan bibir dan menoleh ke kanan dan ke kiri tanpa henti.

Keesokan hari, ia berkata,

“Kamu jangan mencelaku jika tidak bisa menjamu dan melayanimu degan baik. Aku hanya seorang budak. Aku ditugaskan untuk melakukan apa yang kamu lihat tadi malam. Jadi aku tidak ingin lengah dari apa yang sudah ditugaskan kepadaku”.

Ibrahim penasaran, “Mengapa kamu menoleh ke kanan ke kiri tanpa henti?”

“Aku khawatir dengan datangnya kematian yang pasti datang. Hanya saja aku tidak tahu dari mana dan kapan ia menghampiriku”.

Ibrahim bertanya lagi, “Apa yang membuatmu menggerakkan bibir?”

“Aku sedang mengucapkan tahmid, tahlil, dan tasbih. Sebab telah sampai kepadaku bahwa Nabi bersabda kepada sebagian sahabatnya, ‘Janganlah kematian mendatangimu, kecuali lisanmu senantiasa basah karena mengingat Allah”.

Ibrahim lalu menangis dan berteriak, “Budak hitam ini telah mengalahkanmu, wahai Ibrahim!”.

Sumber: Ad_dinawari dalam Al-Mujalasah (hal 88). Dikutip dari  Air minum dari langit (2016)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#10 La A’rifuhu

Ibnu Adi berkata, “Aku mendengar beberapa syekh bercerita jika Muhammad bin Ismail al Bukhari akan datang ke Baghdad. Kedatangannya didengar oleh para ulama ahli hadits sehingga mereka bersaksi membuat perkumpulan akbar untuk menyodorkan 100 hadits dengan sanad dan matan yang diacak sedemikian rupa.

Seratus hadits ini dipercayakan kepada 10 orang sehingga satu orang memegang 10 hadist. Mereka diminta untuk menyampaikan hadits-hadits ini kepada Imam Bukhari.

Setelah semua tersusun rapi, mereka mengambil kesepakatan untuk pelaksanaan pertemuan itu. Tak lupa diundang juga ulama dari Khurasan dan daerah sekitar Baghdad.

Ketika hadirin sudah berkumpul, salah satu dari 10 orang itu menanyakan hadits yang telah mereka siapkan kepada Imam Bukhari. Menanggapi hal itu, Imam Bukhari hanya menjawab, “La a’rifuhu, aku tidak tahu”.

Hadirin mulai meragukan keilmuan Imam Bukhari. Karena diluar dugaan, ia justru berkata jika tidak tahu soal hadist yang baru saja ditanyakan.

Giliran orang kedua yang bertanya sampai 10 hadits ditanyakan, ia tetap menjawab “Aku tidak tahu”. Jawaban aku tidak tahu terus terdengar hingga orang kesepuluh.

Setelah 10 orang menyampaikan hadist yang diacak itu, akhirnya Imam Bukhari mulai bicara. Ia kembali ke penanya pertama dan mengoreksi hadist yang ia katakan. Imam Bukhari juga membetulkan matan dan sanad dari hadist yang sengaja diajak tadi. Demikian juga dengan 9 penanya yang lain.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#9 Berkah Orang Shalih

Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (13/203-205)

Abdul Abbas al-Muaddib berkata, “Tetanggaku keturunan Hasyim yang tinggal di Pasar Yahya bercerita kepadaku. Waktu itu kondisiku sangat memprihatinkan. Anakku baru lahir, dan istriku menyuruhku untuk mencari sesuatu untuk dimakan.

Setelah shalat Isya’ aku pergi keluar rumah dan mendatangi pedagang bahan makanan langgananku. Aku menceritakan kondisiku dan meminta sesuatu yang bisa ia berikan kepadaku. Namun karena aku berhutang kepadanya, ia tidak memberiku apa-apa.

Setelah itu aku perge menemui orang lain yang aku harap bisa membantuku, tapi dia juga tidak memberiku apa-apa. Aku kemudian bingung, tidak tahu harus kemana lagi. Akhirnya aku pergi ke sungai Dajlah dan melihat pelaut di Samariyah yang berteriak, “Pelabuhan Utsman, Istana Isa, wahai penduduk kota Saj!”.

Aku pun memanggilnya dan duduk bersamanya. Pelaut itu bertanya, “Kamu mau kemana?”

“Aku tidak tahu mau ke mana lagi”, jawabku.

“Aku tidak pernah melihat sesuatu  yang lebih aneh daripada dirimu. Kamu duduk bersamaku pada waktu seperti ini. Aku menghampirimu sementara kamu mengatakan jika kamu tidak tahu mau pergi ke mana.” Jawab si pelaut.

Aku lalu menceritakan kondisiku, lalu pelaut itu berkata, “Jangan bersedih! Aku adalah orang Saj, aku akan membantu istrimu, Insya Allah”.

Lalu ia membawaku ke masjid Ma’ruf al-Karkhi yang ada di daerah Saj dan memperkenalkan, “Ini adalah Ma’ruf al-Karkhi, ia biasa bermalam dan shalat di masjid. Sekarang berwudhulah untuk shalat, kemudian pergilah ke masjid, dan ceritakan kondisimu. Setelah itu, mintalah agar ia berdoa untukmu!”.

Aku pun melakukan sarannya, aku memasuki masjid. Ketika masuk masjid, ternyata Ma’ruf sedang shalat di mihrab. Aku kemudian mengucapkan salam, shalat dua rakaat, lalu duduk. Adapun Ma’ruf ketika selesai shalat ia menjawab salamku dan bertanya, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu, siapa kamu?”.

Aku pun menceritakan kondisiku, sementara Ma’ruf mendengarkan dengan seksama. Ia lalu berdiri untuk melaksanakan shalat. Waktu itu hujan turun dengan lebat. Aku semakin bersedih, bagaimana bisa pulang ke rumah?

Ketika memikirkan hal itu tiba-tiba ada orang yang datang dan mengucapkan salam kepada Ma’ruf.

Ma’ruf bertanya, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu, siapa kamu?”

Lelaki itu menjawab, “Aku adalah utusan si fulan. Ia menitipkan salam kepada dan berpesan, ‘Aku sedang tidur di atas hamparan dengan berselimut. Tiba2 aku diingatkan dengan nikmat Allah yang dilimpahkan kepadaku sehingga aku pun bersyukur kepada-Nya. Sebagai bentuk syukurku, aku membawa kantong ini kepadamu untuk kamu berikan kepada orang yang berhak”.

Serahkan kantong itu kepapda laki-laki keturunan Hasyim ini, pinta Ma’ruf.

“Kantong ini berisi 500 dinar”, kata si utusan.

Serahkan kepada laki-laki keturunan Hasyim ini! Kata Ma’ruf lagi.

Utusan itu menyerahkan kantong itu kepadaku. Aku pun pulang ke rumah dan tak lupa mampir ke pedagang makanan untuk melunasi hutang-hutangku. Aku juga membeli tanah untuk kami tanami dengan harapan agar hasil tanamannya bisa menghidupi kami.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#8 Periuk Ajaib

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Jabir berkata, “Ketika parit digali, aku melihat Nabi dalam keadaan sangat lapar. Kemudian, aku pulang menemui istriku, lalu berkata,”Apakah engkau mempunya sesuatu? Sungguh aku melihat keadaan Rasulullah yang sangat lapar.

Istriku lalu mengeluarkan sebuah wadah yang didalamnya ada segantang gandum. Sementara itu kami juga mempunyai anak kambing yang jinak. Aku kemudian menyembelih anak kambing itu sementara istriku menumbuk gandum.

Istriku telah selesai dengan pekerjaannya, begitu pula dengan aku. Lalu, aku potong-potong dagingnya dan kuletakkan di dalam periuk.

Aku pun kembali menuju tempat Rasullah, tetapi istriku berpesan, “Janganlah kamu mempermalukan aku dengan kedatangan Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya.

Selanjutnya aku mendatangi Nabi dan membisiki beliau, “Ya Rasulullah, kami menyembelih kambing kecil dan kami juga telah menumbuk segantang gandum yang kami miliki. Jadi, silakan datang ke rumah bersama beberapa orang saja yang akan menyertaimu.

Tiba-tiab Nabi berteriak, “Ya Ahlal khandaq! Sesungguhnya Jabir telah membuat suatu hidangan yang akan disuguhkan kepada kita. Mari kita pergi ke rumahnya bersama-sama.

Kemudian Nabi bersabda kepadaku, “Jangan sekali-kali Engkau turunkan periukmu dan jangan pula aduk gandummu untuk dijadikan roti sampai aku datang! Aku lalu kembali ke rumah dan Nabi juga datang sembari menyuruh orang2 mengikuti beliau ke sana. Begitulah sampai akhirnya aku menemui istriku.

Istriku berkata, “Ini semua gara-gara kamu, gara-gara kamu.

Aku berkata, “Aku hanya menerjakan apa yang engkau katakan kepadaku”.

Istriku lalu mengeluarkan adukan gandum kami, lalu Nabi meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahannya. Kemudian beliau mendekati tempat periuk kami dan meludah di situ juga serta mendoakan keberkahannya. Setelah itu beliau bersabda kepada istriku

“Panggillah seorang tukang pembuat roti agar ia datang membantu membuat roti bersamamu”. Lalu beliau bersabda lagi,

“Ciduklah dari periukmu, jangan diturunkan”.

Jabir melanjutkan,

“Orang-orang yang datang pada saat itu berjumlah seribu rang. Aku bersumpah dengan nama Allah. Sungguh, mereka dapat makan sampai mereka meninggalkannya dan pergi dari rumahku, padahal periuk kami masih tetap berbunyi karena isinya yang mendidih sebagaimana sebelumnya dan juga adukan roti kami tetap sebagaimana asalnya- tidak berkurang sedikit pun”. HR Bukhari: 4/1505 dan Muslim 6/117)

freepik
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#7 Tamu-tamu Laknat

Ada orang yang bertanya kepada Qais bin Sa’ad bin Ubadah, “Apakah engkau tahu orang yang lebih dermawan darimu?”

Qais dengan rendah hati menjawab, “Ya tentunya ada”.

Suatu hari Qais dan kawan-kawannya sedang dalam perjalanan dan singgah di sebuah perkampungan. Mereka diterima oleh seorang wanita karena sang suami masih ada urusan diluar. Ketika sang suami pulang, berkatalah sang istri, “Ada beberapa orang tamu yang menginap di rumahmu”.

Sang suami langsung menuntun seekor unta dan menyembelihnya. “Kalian diam saja di tempat” katanya kepada rombongan Qais.

Besoknya ia menyembelih seekor unta lagi dan berkata, “Aku tidak memberi makan tamu-tamuku yang hanya menginap semalam”.

Kami berada di rumahnya dua atau tiga hari. Selama itu hujan turun. Saat kami hendak melanjutkan perjalanan, si tuan rumah sedang keluar. Kami lalu meninggalkan uang 100 dinar kepada si istri.

“Sampaikan pamit kami kepada suamimu”.

Kami pun berangkat. Saat tengah hari kami mendengar teriakan orang dari belakang,

“Berhentilah kalian, wahai para pengembara terlaknat! Apakah kalian ingin membayar jamuanku? Ambil uang kalian ini atau lebiih aku menghujamkan tombak ini kepadamu”.

Kami pun mengambil lagi uang kami dan orang itu kembali pulang.

Madarij As-Salikin (2/239) dari Ibnu Qayyim al Jauziyyah, dikutip Ibnu Abdil Bari, dari Air Minum Dari Langit (2016).

http://waynehedlund.org/wp-content/uploads/2015/09/guest-friendly-follow-up.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#6 Insya Allah

Abu Manshur at-Takriri berkata

Abu Juwaliq pergi membeli keledai. Lalu ada orang yang bertanya,  “Mau kemana?”

“Membeli Keledai”, jawab Abu Juwaliq

“Katakan insya Allah”, ingat temannya.

Abu Juwaliq membantah, “Ini bukan waktu yg tepat untuk mengatakan insya Allah. Karena dirham ada di tanganku dan keledai ada di pasar”.

Di perjalanan, dirhamnya dicuri orang. Temannya melihat dalam kondisi sedih dan bertanya,

“Apa yg telah kamu lakukan? Kamu sudah membeli keledai bukan?”

“Dirhamku telah dicuri, insya Allah”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail