#4 Kalung Kebaikan

source: freepik

Abdul Muzhaffar cucu Ibnul Jauzi berkata, “Ibnu Uqail pernah bercerita tentang pengalamannya sendiri:

“Suatu ketika aku pergi haji. Lalu aku menemukan kalung permata di sebuah buntalan benang merah. Tiba-tiba ada orang yang mengumumkan jika telah kehilangna kalung dan akan memberikan 100 dinar kepada orang yang menemukannya. Aku pun mengembalikannya”.

Kakek tua itu ingin memberikanku dinar, namun aku menolaknya.

Setelah itu, aku pergi ke Syam dan mengunjungi Al-Quds. Aku ingin pergi ke Baghdad dan singgah di sebuah masjid di Hald. Saat aku kedinginan dan kelaparan tiba-tiba ada orang yang mendatangi aku. Aku lalu shalat bersama, dan menerima jamuan makan dari mereka. Ini terjadi saat awal Ramadan.

Mereka berkata, “Imam kami meninggal dunia. Kami ingin engkau untuk shalat mengimami kami pada bulan ini”. Aku menyanggupi permintaan itu.

Mereka juga berkata, “Imam kami memiliki seorang anak perempuan”. Lalu aku dinikahkan bersamanya dan memiliki seorang anak laki-laki.

Suatu hari, aku memperhatikan istriku. Ternyata di lehernya ada kalung permata dengan benang merah, sama dengan kalung yang dulu aku temukan.

Aku lalu menceritakan pengalamanku dengan kalung itu.

Istriku menangis dan berkata,

“Demi Allah, engkaulah orangnya. Ayahku pernah menangis dan berdoa, ‘Ya Allah nikahkanlah putriku dengan pemuda yang serupa dengan orang yang telah mengembalikan kalung permata ini kepadaku’. Sungguh, Allah telah mengabulkan doa ayahku”.

Adz-Dzahabi dalam As-Siyar (19/449-450)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *