#7 Tamu-tamu Laknat

Ada orang yang bertanya kepada Qais bin Sa’ad bin Ubadah, “Apakah engkau tahu orang yang lebih dermawan darimu?”

Qais dengan rendah hati menjawab, “Ya tentunya ada”.

Suatu hari Qais dan kawan-kawannya sedang dalam perjalanan dan singgah di sebuah perkampungan. Mereka diterima oleh seorang wanita karena sang suami masih ada urusan diluar. Ketika sang suami pulang, berkatalah sang istri, “Ada beberapa orang tamu yang menginap di rumahmu”.

Sang suami langsung menuntun seekor unta dan menyembelihnya. “Kalian diam saja di tempat” katanya kepada rombongan Qais.

Besoknya ia menyembelih seekor unta lagi dan berkata, “Aku tidak memberi makan tamu-tamuku yang hanya menginap semalam”.

Kami berada di rumahnya dua atau tiga hari. Selama itu hujan turun. Saat kami hendak melanjutkan perjalanan, si tuan rumah sedang keluar. Kami lalu meninggalkan uang 100 dinar kepada si istri.

“Sampaikan pamit kami kepada suamimu”.

Kami pun berangkat. Saat tengah hari kami mendengar teriakan orang dari belakang,

“Berhentilah kalian, wahai para pengembara terlaknat! Apakah kalian ingin membayar jamuanku? Ambil uang kalian ini atau lebiih aku menghujamkan tombak ini kepadamu”.

Kami pun mengambil lagi uang kami dan orang itu kembali pulang.

Madarij As-Salikin (2/239) dari Ibnu Qayyim al Jauziyyah, dikutip Ibnu Abdil Bari, dari Air Minum Dari Langit (2016).

http://waynehedlund.org/wp-content/uploads/2015/09/guest-friendly-follow-up.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *