#9 Berkah Orang Shalih

Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (13/203-205)

Abdul Abbas al-Muaddib berkata, “Tetanggaku keturunan Hasyim yang tinggal di Pasar Yahya bercerita kepadaku. Waktu itu kondisiku sangat memprihatinkan. Anakku baru lahir, dan istriku menyuruhku untuk mencari sesuatu untuk dimakan.

Setelah shalat Isya’ aku pergi keluar rumah dan mendatangi pedagang bahan makanan langgananku. Aku menceritakan kondisiku dan meminta sesuatu yang bisa ia berikan kepadaku. Namun karena aku berhutang kepadanya, ia tidak memberiku apa-apa.

Setelah itu aku perge menemui orang lain yang aku harap bisa membantuku, tapi dia juga tidak memberiku apa-apa. Aku kemudian bingung, tidak tahu harus kemana lagi. Akhirnya aku pergi ke sungai Dajlah dan melihat pelaut di Samariyah yang berteriak, “Pelabuhan Utsman, Istana Isa, wahai penduduk kota Saj!”.

Aku pun memanggilnya dan duduk bersamanya. Pelaut itu bertanya, “Kamu mau kemana?”

“Aku tidak tahu mau ke mana lagi”, jawabku.

“Aku tidak pernah melihat sesuatu  yang lebih aneh daripada dirimu. Kamu duduk bersamaku pada waktu seperti ini. Aku menghampirimu sementara kamu mengatakan jika kamu tidak tahu mau pergi ke mana.” Jawab si pelaut.

Aku lalu menceritakan kondisiku, lalu pelaut itu berkata, “Jangan bersedih! Aku adalah orang Saj, aku akan membantu istrimu, Insya Allah”.

Lalu ia membawaku ke masjid Ma’ruf al-Karkhi yang ada di daerah Saj dan memperkenalkan, “Ini adalah Ma’ruf al-Karkhi, ia biasa bermalam dan shalat di masjid. Sekarang berwudhulah untuk shalat, kemudian pergilah ke masjid, dan ceritakan kondisimu. Setelah itu, mintalah agar ia berdoa untukmu!”.

Aku pun melakukan sarannya, aku memasuki masjid. Ketika masuk masjid, ternyata Ma’ruf sedang shalat di mihrab. Aku kemudian mengucapkan salam, shalat dua rakaat, lalu duduk. Adapun Ma’ruf ketika selesai shalat ia menjawab salamku dan bertanya, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu, siapa kamu?”.

Aku pun menceritakan kondisiku, sementara Ma’ruf mendengarkan dengan seksama. Ia lalu berdiri untuk melaksanakan shalat. Waktu itu hujan turun dengan lebat. Aku semakin bersedih, bagaimana bisa pulang ke rumah?

Ketika memikirkan hal itu tiba-tiba ada orang yang datang dan mengucapkan salam kepada Ma’ruf.

Ma’ruf bertanya, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu, siapa kamu?”

Lelaki itu menjawab, “Aku adalah utusan si fulan. Ia menitipkan salam kepada dan berpesan, ‘Aku sedang tidur di atas hamparan dengan berselimut. Tiba2 aku diingatkan dengan nikmat Allah yang dilimpahkan kepadaku sehingga aku pun bersyukur kepada-Nya. Sebagai bentuk syukurku, aku membawa kantong ini kepadamu untuk kamu berikan kepada orang yang berhak”.

Serahkan kantong itu kepapda laki-laki keturunan Hasyim ini, pinta Ma’ruf.

“Kantong ini berisi 500 dinar”, kata si utusan.

Serahkan kepada laki-laki keturunan Hasyim ini! Kata Ma’ruf lagi.

Utusan itu menyerahkan kantong itu kepadaku. Aku pun pulang ke rumah dan tak lupa mampir ke pedagang makanan untuk melunasi hutang-hutangku. Aku juga membeli tanah untuk kami tanami dengan harapan agar hasil tanamannya bisa menghidupi kami.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *