#11  Dikalahkan Budak

Ibrahim bin Adham bercerita,

“Suatu ketika aku memasuki salah satu benteng di tepi pantai di desa di Syam. Waktu itu aku sedang mengalami kesulitan sementara hujan begitu deras dan hari makin gelap. Aku kemudian masuk ke dapur dan berkata, “Aku akan duduk sebentar hingga hujan reda”.

Ternyada ada lelaki berkulit hitam yang menyalakan api. Ibrahim mengucapkan salam dan bertanya,

“Apakah engkau mengizinkanku untuk mendekat hingga hujan reda?” Ia lalu memberi isyarat untuk masuk.

Ia lalu duduk di hadapannya. Lelaki itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia sibuk menyalakan api sementara sambil menggerakkan bibir dan menoleh ke kanan dan ke kiri tanpa henti.

Keesokan hari, ia berkata,

“Kamu jangan mencelaku jika tidak bisa menjamu dan melayanimu degan baik. Aku hanya seorang budak. Aku ditugaskan untuk melakukan apa yang kamu lihat tadi malam. Jadi aku tidak ingin lengah dari apa yang sudah ditugaskan kepadaku”.

Ibrahim penasaran, “Mengapa kamu menoleh ke kanan ke kiri tanpa henti?”

“Aku khawatir dengan datangnya kematian yang pasti datang. Hanya saja aku tidak tahu dari mana dan kapan ia menghampiriku”.

Ibrahim bertanya lagi, “Apa yang membuatmu menggerakkan bibir?”

“Aku sedang mengucapkan tahmid, tahlil, dan tasbih. Sebab telah sampai kepadaku bahwa Nabi bersabda kepada sebagian sahabatnya, ‘Janganlah kematian mendatangimu, kecuali lisanmu senantiasa basah karena mengingat Allah”.

Ibrahim lalu menangis dan berteriak, “Budak hitam ini telah mengalahkanmu, wahai Ibrahim!”.

Sumber: Ad_dinawari dalam Al-Mujalasah (hal 88). Dikutip dari  Air minum dari langit (2016)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *