#12 Bertanya kepada Orang Gila

Muhammad ibn Ismail ibn Abi Fudaik berkata,

“Di antara kami ada seorang lelaki yang disebut Abu Nashr berasal dari Juhainah. Akalnya tidak waras. Kurang lebih satu bulan sebelum meninggal dunia, dia senantiasa duduk bersama Ahlu Suffah di belakang Masjid Nabawi, Madinah. Apabila ditanya sesuatu, dia akan memberi jawaban yang baik.

Pada suatu hari, saya menemuinya di belakang masjid. Dia bertanya, “Ada keperluan apa dengan kami?” saat itu ia sedang berkumpul dengan Ahlu Suffah.

“Abu Nashr! Apa itu kemuliaan?”

Dia memberi jawaban, “kemuliaan adalah menanggung sesuatu yang ditimpa kerabat, baik yang ringan atau yang berat; menerima yang baik dari kerabat dan melupakan yang buruk dari mereka”.

Saya bertanya lagi,” Apa ity harga diri(al-muruah)?

“Harga diri adalah memberi makanan, menyebarkan salam perdamaian dan menjafa diri dari keji dan dosa”.

Apa pula kedermawanan?

“Kedermawanan adalah bersungguh sungguh dalam hal yang sedikit dan sekecil apapun”.

Lantas apa itu pelit?

“Kurang ajar!” Katanya sambil memalingkan muka.

Mengapa engkau tidak menjawab pertanyaan terakhirku?

“Aku telah menjawabnya”. Ia lalu berpesan:

“Sesungguhnya manusia apabila meninggal dunia akan ditemani oleh keluarganya, hartanya, dan amal perbuatannya. Ketika tubuhnya diletakkan dalam kuburan, keluarga dan hartanya pulang. Yang tersisa tinggal amal perbuatannya. Karena itu, pilihlah bagi diri kalian sesuatu yang akan menemani kalian di alam kubur”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *