#19 Marshmallow Puasa

Ingin jadi manusia sukses? Belajarlah berpuasa.

Setidaknya itu hasil penelitian klasik “Marshmallow test” yang dilakukan Walter Mischel dari Universitas Stanford pada tahun 60-an.

Tes ini melibatkan anak-anak dengan instruksi sederhana: mereka akan diberi satu marshmallow/kue/permen. Boleh dimakan jika mereka suka. Tapi jika mau bersabar dan menunggu, mereka akan diberi dua marshmallow setelah beberapa waktu.

Dua puluh delapan tahun kemudian, diadakan tes kedua untuk memantau perkembangan anak yang mengikuti tes. Hasilnya? Anak-anak yang mampu menunda dan mau bersabar dilaporkan memiliki kehidupan yang lebih sukses.

Mereka tumbuh sebagai orang dewasa yang kompeten, punya nilai akademik yang bagus, dan lebih makmur secara pendapatan.

Kok bisa? Penelitian Mischel mengajarkan dua hal yang sangat penting untuk pengembangan karakter manusia:

#1 Willpower

Kemampuan mengontrol diri sendiri. Ini berarti mampu untuk TIDAK melakukan sesuatu disaat kita sebenarnya sangat ingin melakukan tindakan itu.

#2 Delayed gratification

Kemampuan menunda kesenangan. Ini berarti mampu berkata NANTI untuk sesuatu yang sangat kita inginkan saat ini.

Seorang anak yang memiliki willpower dan kemampuan menunda kesenangan akan tumbuh sebagai manusia yang hidup untuk mempersiapkan masa depan. Mereka tahu jika masa muda adalah masa pembangunan fondasi. Dan itu berarti mereka harus mau melakukan sesuatu yang PENTING, meski hal itu tidak selamanya MENYENANGKAN.

Puasa

Lantas apa hubungannya dengan puasa?

Puasa sebenarnya adalah sebuah “Marshmallow test” yang lebih luar biasa. Durasinya lebih panjang sampai 12 jam, dan “hadiah marshmallow” yang ditawarkan lebih dahsyat: dihapusnya dosa-dosa.

Yang diajarkan serupa:

Sejauh mana kita mampu mengontrol diri sendiri dan mau menunda kesenangan. Ini berarti tidak makan dan minum meski kita lapar dan haus, serta tidak melakukan sesuatu yang mengurangi amalan puasa meski kita ingin sekali melakukannya.

Seorang muslim yang mampu menahan lapar seharian harusnya mampu menolak sogokan yang menggiurkan. Harusnya bisa mengelola waktu untuk menunda kegiatan yang tak perlu. Pastinya bisa menunda konsumsi dan memperbanyak investasi.

 

Seorang yang sudah berpuasa seharusnya bisa menjadi manusia paripurna.

Karena puasa mengajarkan jika hidup bukan cuma pencarian kesenangan, dan kebaikan terkadang membutuhkan pengorbanan yang tidak menyenangkan.

freepik

Note:

Sebenarnya riset Mischel mendapat tantangan. Watts et al dari New York University (2018) mencoba mereplikasi apa yang dilakukan Mischel. Hasilnya? Tidak sejalan dengan temuan Mischell, Watts melihat peran keluarga dan lingkungan lebih penting untuk mendukung kesuksesan anak dibandingkan self control dari sang anak itu sendiri.

http://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0956797618761661

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *