Monthly Archives: July 2018

Cerita Rahasia Selama di AirAsia

Tak terasa sudah 4 tahun saya “belajar” di AirAsia (ga pake spasi “Air Asia” ya!), banyak cerita yang saya alami. Sekarang, di last day saya nongkrong disini, ada 4 cerita yang harus saya bocorkan, sekalian iklan lowongan haha.

Tentang ID90: Rahasia jalan-jalan hemat

Di AirAsia setiap allstars (sebutan untuk staff) pasti mendapat benefit ID90. Apa itu? ID90 berarti diskon 90% dengan menunjukkan ID karyawan dan keluarga intinya. Ga salah lihat? Iya beneran 90%! Kesemua rute! Ini yang membuat saya males check-in di socmed kalau sedang di bandara. Lha wong hampir setiap minggu!.

Dengan ID90 ini kamu bisa ke Bali/Jogja/Surabaya pp Cuma 300rban. Atau ke Singapura/KL/Bangkok pp sekitar 700-900rb an. Selain itu kita juga dapat jatah coupon 16 point. Untuk penerbangan dibawah 4 jam, biayanya 1 point, sedangkan diatas 4 jam, ongkosnya 2 point. 16 point berarti saya bisa pulang pergi Jakarta-Tokyo 8x setahun secara gratis!

Dan nikmat tiket mana yang engkau dustakan?

Tentang Duty Travel: Kerja Sambil Jalan-jalan

Duty travel artinya perjalanan dinas. Tapi berbeda dengan perjalanan dinas PNS yang biasanya nyaman dan penuh rombongan, duty travel di AirAsia sangat efisien. Klo bisa pulang tektok, ga usah nginep hotel (saya sering ke SIN atau KL dateng pagi pulang malam). Klo cukup sendiri, ga perlu ngajak orang lain.

Total saya sudah duty travel sekitar 300 kali, menginap di hotel 90 hari, dan bisa halan-halan gratis ke 8 negara. Duty travel pertama: 3 hari setelah masuk kerja. Saat itu ada konferensi pariwisata di Singapura.

Duty travel “paling sengsara”: Kunming, Tiongkok. Saya pergi sama Bayu. Anak sales yang baru pertama kali keluar negeri. Sengsaranya gimana?

Waktu kita landing ke Kunming, karena ga bisa bahasa China and Ibu-ibu driver taksinya ga bisa bahasa Inggris, kita Cuma nunjukin brosur tempat event-nya. Ibu-nya langsung tancap gas dan membawa kita ke pinggir kota.

Karena su’udzon, saya iseng-iseng cek google maps (pake roaming karena google di blokir). Wah koq kita diarahin ke tanah kosong antah berantah? Langsung saya minta driver untuk putar balik dan menunjukkan lokasi Gmaps. Setelah ngobrol pake bahasa tarzan, akhirnya kami diantar ke tujuan sesuai Gmaps.

And ternyata dong, kita salah alamat! Kami menunjukkan exhibition center yang lama, sedangkan acara kami harusnya di exhibition center tempat baru. Jadi karena Google ga update di China, “area kosong” di peta sekarang sudah berubah jadi exhibition center kelas dunia. Dan berarti awalnya Ibu taksi udah bener!.

Penderitaan belum berakhir sodara-sodara! Setelah nyegat taksi lagi dan berhasil sampai di tempat pameran untuk registrasi, waktunya check in ke hotel. Tapi naik apa? Rata-rata orang bawa mobil, taksi yang lewat semuanya penuh, mau install uber/Didi ga bisa verifikasi.

Akhirnya kami jalan kaki 2 km sampai nemu halte bis. Karena ga tau rute dan semua pake bahasa Sun Go Kong, kami asal naik. Eh malah kesasar and ga nyampe-nyampe! Karena lelah, kita putuskan turun dan alhamdulilah ada taksi lewat.

Besoknya, karena trauma ribet pulang, kami sepakat menggunakan layanan bike-sharing. Cuma modal aplikasi dengan biaya 1 yuan. Akhirnya kami ngontel 10 km untuk pulang setiap hari. Lumayan olahraga.

Urusan makan juga gitu. Karena takut ga halal, saya putuskan Cuma makan telur rebus. Jadinya setiap sarapan saya makan 8 butir telur sekalian untuk makan siang dan makan malam. Waktu di kamar, tiba-tiba tercium bau telur.

“Sorry gw kentut ya Bay..”

Tentang Tulisan viral ke Tony Fernandez

Waktu itu facebook baru meluncurkan aplikasi untuk korporat bernama workplace. Ini semacam jaringan komunikasi internal. Dengan workplace, AirAsia ingin membuat komunikasi antar departemen lebih cair, dan interaksi antar allstars lebih hidup.

Nah, waktu sosialisasi, ada utusan dari KL yang buka booth. Kita dapat merchandise kalau install, register, dan upload foto profil pake foto yang keliatan mukanya. Ga boleh pake foto artis bokep atau hewan lagi selfie. Terus saya penasaran, “Kenapa harus pake profil picture?”

“Because Tony said so…”

What a stu**d reason. Karena prinsip saya: kita harus melakukan sesuatu karena hal itu baik bagi organisasi, bukan karena disuruh atasan.

Udah deh, saya bikin tulisan yang mengkritisi budaya “boss said” ini. Judulnya “Tony said” dan saya posting di Workplace. Langsung meledak. Bos saya yang lagi regional meeting di Bangkok harus menjelaskan “emang Yoga anaknya kaya gitu” ke team regional. Saya juga jadi berdebat ama Tony di workplace soal budaya ini.

Tapi banyak juga yang memuji. Commercial director China langsung merepost-nya dan memposting ke group manajemen. Director commercial regional langsung men-japri dan memberika assurance “you can talk to me directly”.

Saya jadi terkenal. Ada bule  regional yang tiba-tiba ngajak selfie waktu dia meeting di Jakarta.

“So this is famous Yoga!”. Yo wes, intinya saya ga jadi dipecat haha.

Tentang Baju ihram Untuk ke party

Terakhir cerita soal baju. Di AirAsia tak ada seragam (untuk back office), karena itu saya lebih memilih kaos dan celana jeans. Sebenarnya ada “dress code”. Senin warna putih, selasa batik, jumat merah, dll tapi saya ga pernah ngikutin hehe.

Bahkan saya pernah pakai baju gamis yang bikin kaget orang sekantor. Tapi yang bikin heboh saat annual party 2017 lalu. Seperti biasa, ada kontes berhadiah jutaan rupiah. Sempat terpikir untuk sewa kostum. Setelah menghitung probabilitas dan return on investment (membandingkan kemungkinan menang, sewa, dan hadiah), ternyata cukup masuk akal juga.

Masalahnya, kostum yang saya inginkan sudah out of stock semua (karena last minute). Terus kira-kira kostum apa ya yang unik?

Karena temanya Wonderland dan waktu itu saya sedang baca buku tentang Holy Land (Yerussalem), pagi-pagi kepikir: kenapa ga pake baju ihram aja ya? Toh ongkosnya nol karena sudah ada.

Jadilah ada penampakan manasik haji di salah tempat nongkrong di daerah SCBD. Siapa tau ada yang mau mabok jadi insyaf, yg mau zinah jadi tobat, dan yang mau makan jadi kenyang (ya kali). Alhamdulilahnya, saya terpilih jadi top 10 best costumer dan dapat duit beberapa juta! Yey, alhamdulilah.

(Ga usah pake gambar biar ga dikira melecehkan ya!)

*********

Yang paling bakal saya kangenin ya orang-orang keren didalamnya. Disini lingkungannya fun, terbuka, dan banyak orang pinter buat tempat belajar. Saya ga mungkin lupa saat abis kemalingan. Teman-teman langsung patungan untuk memberikan HP dan uang santunan. Makasih banyak ya guys!.

Mau gabung kesini? Yuk apply mumpung ada lowongan. Kalo kamu marketer gaul yang ngerti marketing strategy, digital, data analytic, punya leadership dan suka mbolang keliling dunia, coba aja daftar. Dijamin ga bakal nyesel hehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pikiran yang Terkunci

Semalam saya naik pesawat JOG-CGK. Rutinitas mingguan seorang anggota PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad). Flight saya mendarat jam 23.30 dan karena ga dapat garbarata, kami diangkut menggunakan bus menuju terminal kedatangan 2F bandara Soetta.

Alhamdulilah dapat duduk di hot seat (kursi 1-5, 12 dan 14 maskapai AirAsia), dan itu berarti saya bisa boarding dan turun duluan. Lumayan membantu untuk yang pingin cepet-cepet keluar bandara (sekalian promosi dikit hehe).

Rombongan pertama pun sudah sampai di arrival gate. Begitu kagetnya kami karena pintu dalam keadaan tertutup dan tidak ada petugas yang berjaga!. Wah apa gara-gara final Piala Dunia nih ga ada petugas satu orang pun yang terlihat.

Kami pun mengantri didepan pintu, menunggu adanya petugas untuk membantu. Tiga menit berlalu, penumpang mulai kzl. Terdengar geraman dan komplain. Semua menyalahkan tidak adanya bantuan petugas terhadap penumpang yang kebingungan.

Lima menit hampir berlalu ketika tiba-tiba ada penumpang yang iseng mendorong pintu. Dan ternyata GA DIKUNCI dong! Jadi kita semua tadi berdiri ngantri di depan pintu yang sebenarnya bisa dibuka!

Cracker

Saya jadi sadar, selama lima menit pikiran kami-lah yang “terkunci”. Tidak berani membuka pintu. Mungkin karena ini lingkungan bandara, pintu tertutup, dan ada electronic key di samping tembok. Pikiran kami otomatis menciptakan hipotesa: jangan masuk kalau tidak berkuasa.

Hey, bukankah hidup juga seperti ini? Betapa sering pikiran kita menciptakan gembok saat ada peluang didepan mata. Kunci itu bisa berupa kata-kata:

“Project ini terlalu sulit…”

“Saya tidak punya sumber daya…”

“Lebih baik menunggu arahan atasan…”
Untuk membuka kunci itu, kita harus belajar menjadi cracker dan menerapkan prinsip tagline iklan: #JustDoIt, #BikinJadiNyata, #MulaiAjaDulu.

Seperti “penumpang cracker” yang iseng-iseng mendorong pintu dan membantu penumpang lain untuk menemukan jalan, para inovator adalah orang-orang yang bisa membuka gembok kebuntuan.

Karena kebuntuan itu ada didalam pikiran. Karena pintu bernama peluang itu selalu terbuka. Karena merupakan tugas kita sebagai manusia untuk berani mencoba.

source: freepik.com
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Hey Yoda, Apakah Tuhan benar-benar Ada?

Untuk Yoda, di tahun 2024.

Karena sekarang umurmu 7 tahun (semoga masih hidup ya, karena umur siapa yang tahu), maka sudah waktunya kamu berkenalan dengan istilah Tuhan. Mari memulai diskusi kita dengan mengajukan tiga pertanyaan sederhana:

Apa itu Tuhan? Apa bukti jika Tuhan benar-benar ada? Apa manfaat mempercayai/tidak mempercayai adanya Tuhan?

Saya ingin kamu belajar bertanya secara kritis. Kenapa? Agar kamu sadar akan pilihanmu. Jangan sampai kamu percaya Tuhan dan menjadi pengikut agama tertentu, tanpa punya alasan yang kuat dibaliknya.

Pada dasarnya di dunia ini, ada dua golongan besar. Mereka yang mempercayai Tuhan vs manusia yang tidak percaya dengan zat bernama Tuhan. Sebenarnya ada orang ketiga: orang yang percaya Tuhan tapi tidak menjalankan perintahNya. Haha.

Masing-masing punya argumen dan alasan unik. Alangkah baiknya jika kita mendengarkan masing-masing pendapat dari kedua kubu.

Pertanyaan orang Atheist

Sepengetahuan saya, kenapa banyak orang menjadi atheist (tidak percaya Tuhan) adalah karena Tuhan tidak bisa dibuktikan secara empiris. Tuhan tidak memiliki wujud yang konkret. Tuhan hanyalah konsep abstrak di pikiran orang yang percaya. Semua hanya karangan pemuka agama untuk menancapkan pengaruhnya.

Bagi kaum atheist, dunia terbentuk dengan sebuah mekanisme besar berupa alam raya beserta hukum-hukum yang bernama sains. Ilmu pengetahuan. Tuhan itu tidak logis karena tidak terlihat dan wujudnya tidak jelas.

Menurut mereka, konsep “tuhan” lahir karena ketidakmampuan manusia menjelaskan fenomena alam raya. Nenek moyang kita begitu takut melihat petir, lalu lahirlah mitologi tentang zeus. Saat panen buruk, muncullah cerita soal dewi Sri.

Secara umum, kritik dasar yang dilancarkan tentang “ketiadaan Tuhan” ada tiga:

Pertama, Tuhan tidak bisa dibuktikan langsung secara empiris. Belum pernah ada manusia yang bertemu Tuhan. Orang mati juga tidak pernah kembali untuk menceritakan jika surga dan neraka benar-benar ada. Tuhan juga seperti “hilang”. Ia tidak tampak, kasat mata, dan seperti hilang dari peredaran.

Kedua, berbicara Tuhan pasti berbicara agama. Banyak kaum atheist yang mengkritik institusi sosial bernama agama. Agama dipandang sebagai insititusi penuh eksploitasi. Hanya menguntungkan pemuka agama.

Karl Marx bahkan mengingatkan jika agama adalah candu. Candu yang membuat manusia meringkuk ke dalam penjelasan tentang sebuah zat yang tak kasat mata dan membunuh sains.

Mayoritas agama abad modern juga bersumber dari ajaran yang diturunkan ratusan tahun yang lalu. Terus sekarang Tuhan ngapain donk? Abis ninggalin agama terus ngilang begitu aja?

Ketiga. Jika Tuhan benar-benar sesuatu yang universal, mengapa pengalaman spiritual yang dirasakan manusia sangat bersifat individual? Mengapa hanya nabi tertentu yang mendapat wahyu? Kenapa tidak semua orang? Kenapa Tuhan pilih-pilih terhadap wakilnya? Kenapa Tuhan tidak membuat pengumuman yang ditempel di langit untuk membuat semua manusia sadar jika Ia benar-benar ada?

Pembelaan Orang Beragama

Di sisi yang lain, orang beragama juga punya pembelaan. Saya coba rinci yang sederhana ya:

Pertama, Tuhan adalah pencipta yang berbeda dari makhluknya. Karena berbeda, kita tidak bisa menerapkan logika manusia kepadaNya. Ia tidak bisa dibuktikan secara indrawi, karena merupakan zat surgawi.

Pernyaan: sekarang Tuhan lagi ngapain ya? Adalah sebuah bentuk antromorphisme. Sebuah usaha “memanusiakan” Tuhan. Padahal menurut agamawan, Tuhan tidak tidur, makan, serta tak terikat ruang dan waktu. Kita tidak bisa menggunakan standar manusia.

Para biarawan memiliki pendekatan keren untuk menjelaskan ini: via negativa. Definisi Tuhan dijelaskan dengan semua hal yang bukan Tuhan. Karena Tuhan dipercaya berbeda dengan makhluknya, berarti Tuhan bukanlah semua hal yang kita ketahui.

Pembelaan kedua umat beragama, pengetahuan manusia sangat terbatas. Sains hanya baru pada level penjelasan yang penuh dengan dugaan. Kita membangun hipotesis berdasarkan data dan fakta yang ada, dan membuat dugaan bernama ilmu pengetahuan.

Manusia baru sampai level “penjelasan”, belum sampai “penciptaan”. Sepintar-pintarnya manusia membuat pesawat antariksa, manusia belum mampu menciptakan seekor nyamuk. Alam dan isinya adalah “bentuk empiris” adanya Tuhan.

Ketiga, ada konsep unik bernama iman. Iman berarti rasa percaya. Inilah pembeda orang atheist dan beragama. Iman, seperti kritik sebelumnya, bersifat sangat personal. Ia tidak bisa diproduksi secara massal, dan setiap manusia punya kadar yang berbeda-beda.

Ada orang yang awalnya beragama tapi kemudian murtad (misal Stalin), dan ada juga orang murtad yang pada akhirnya beragama (misal Malcolm X). Memang ada beberapa faktor yang diduga berpengaruh (misal lingkungan, pengalaman, insentif sosial dll), tapi tetap saja tidak menjamin jika seorang yang dibesarkan di lingkungan beragama akan mati sebagai ahli agama.

Berdasarkan pengalaman saya, konsep iman inilah yang menjadi kunci perdebatan kedua kubu. Semua pertanyaan orang atheist akan di counter oleh ahli agama, dan akan di jawab lagi oleh orang atheist. Pokoknya ga abis-abis dan akan jadi seperti Tiktok: seru tapi ngeselin.

Dengan konsep iman, semua kelar. Sebego-begonya argumen tapi kalo udah beriman ya diterima aja. Atau sebaliknya, secanggih-canggihnya penjelasan tapi kalo belum beriman ya gak mempan juga. Simple.

Okay, tulisan ini udah terlalu panjang. Akan kita lanjutkan dengan manfaat beragama atau tidak beragama.

Tapi sebelumnya, kira-kira kamu mau pilih kubu yang mana?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail