Hey Yoda, Apakah Tuhan benar-benar Ada?

Untuk Yoda, di tahun 2024.

Karena sekarang umurmu 7 tahun (semoga masih hidup ya, karena umur siapa yang tahu), maka sudah waktunya kamu berkenalan dengan istilah Tuhan. Mari memulai diskusi kita dengan mengajukan tiga pertanyaan sederhana:

Apa itu Tuhan? Apa bukti jika Tuhan benar-benar ada? Apa manfaat mempercayai/tidak mempercayai adanya Tuhan?

Saya ingin kamu belajar bertanya secara kritis. Kenapa? Agar kamu sadar akan pilihanmu. Jangan sampai kamu percaya Tuhan dan menjadi pengikut agama tertentu, tanpa punya alasan yang kuat dibaliknya.

Pada dasarnya di dunia ini, ada dua golongan besar. Mereka yang mempercayai Tuhan vs manusia yang tidak percaya dengan zat bernama Tuhan. Sebenarnya ada orang ketiga: orang yang percaya Tuhan tapi tidak menjalankan perintahNya. Haha.

Masing-masing punya argumen dan alasan unik. Alangkah baiknya jika kita mendengarkan masing-masing pendapat dari kedua kubu.

Pertanyaan orang Atheist

Sepengetahuan saya, kenapa banyak orang menjadi atheist (tidak percaya Tuhan) adalah karena Tuhan tidak bisa dibuktikan secara empiris. Tuhan tidak memiliki wujud yang konkret. Tuhan hanyalah konsep abstrak di pikiran orang yang percaya. Semua hanya karangan pemuka agama untuk menancapkan pengaruhnya.

Bagi kaum atheist, dunia terbentuk dengan sebuah mekanisme besar berupa alam raya beserta hukum-hukum yang bernama sains. Ilmu pengetahuan. Tuhan itu tidak logis karena tidak terlihat dan wujudnya tidak jelas.

Menurut mereka, konsep “tuhan” lahir karena ketidakmampuan manusia menjelaskan fenomena alam raya. Nenek moyang kita begitu takut melihat petir, lalu lahirlah mitologi tentang zeus. Saat panen buruk, muncullah cerita soal dewi Sri.

Secara umum, kritik dasar yang dilancarkan tentang “ketiadaan Tuhan” ada tiga:

Pertama, Tuhan tidak bisa dibuktikan langsung secara empiris. Belum pernah ada manusia yang bertemu Tuhan. Orang mati juga tidak pernah kembali untuk menceritakan jika surga dan neraka benar-benar ada. Tuhan juga seperti “hilang”. Ia tidak tampak, kasat mata, dan seperti hilang dari peredaran.

Kedua, berbicara Tuhan pasti berbicara agama. Banyak kaum atheist yang mengkritik institusi sosial bernama agama. Agama dipandang sebagai insititusi penuh eksploitasi. Hanya menguntungkan pemuka agama.

Karl Marx bahkan mengingatkan jika agama adalah candu. Candu yang membuat manusia meringkuk ke dalam penjelasan tentang sebuah zat yang tak kasat mata dan membunuh sains.

Mayoritas agama abad modern juga bersumber dari ajaran yang diturunkan ratusan tahun yang lalu. Terus sekarang Tuhan ngapain donk? Abis ninggalin agama terus ngilang begitu aja?

Ketiga. Jika Tuhan benar-benar sesuatu yang universal, mengapa pengalaman spiritual yang dirasakan manusia sangat bersifat individual? Mengapa hanya nabi tertentu yang mendapat wahyu? Kenapa tidak semua orang? Kenapa Tuhan pilih-pilih terhadap wakilnya? Kenapa Tuhan tidak membuat pengumuman yang ditempel di langit untuk membuat semua manusia sadar jika Ia benar-benar ada?

Pembelaan Orang Beragama

Di sisi yang lain, orang beragama juga punya pembelaan. Saya coba rinci yang sederhana ya:

Pertama, Tuhan adalah pencipta yang berbeda dari makhluknya. Karena berbeda, kita tidak bisa menerapkan logika manusia kepadaNya. Ia tidak bisa dibuktikan secara indrawi, karena merupakan zat surgawi.

Pernyaan: sekarang Tuhan lagi ngapain ya? Adalah sebuah bentuk antromorphisme. Sebuah usaha “memanusiakan” Tuhan. Padahal menurut agamawan, Tuhan tidak tidur, makan, serta tak terikat ruang dan waktu. Kita tidak bisa menggunakan standar manusia.

Para biarawan memiliki pendekatan keren untuk menjelaskan ini: via negativa. Definisi Tuhan dijelaskan dengan semua hal yang bukan Tuhan. Karena Tuhan dipercaya berbeda dengan makhluknya, berarti Tuhan bukanlah semua hal yang kita ketahui.

Pembelaan kedua umat beragama, pengetahuan manusia sangat terbatas. Sains hanya baru pada level penjelasan yang penuh dengan dugaan. Kita membangun hipotesis berdasarkan data dan fakta yang ada, dan membuat dugaan bernama ilmu pengetahuan.

Manusia baru sampai level “penjelasan”, belum sampai “penciptaan”. Sepintar-pintarnya manusia membuat pesawat antariksa, manusia belum mampu menciptakan seekor nyamuk. Alam dan isinya adalah “bentuk empiris” adanya Tuhan.

Ketiga, ada konsep unik bernama iman. Iman berarti rasa percaya. Inilah pembeda orang atheist dan beragama. Iman, seperti kritik sebelumnya, bersifat sangat personal. Ia tidak bisa diproduksi secara massal, dan setiap manusia punya kadar yang berbeda-beda.

Ada orang yang awalnya beragama tapi kemudian murtad (misal Stalin), dan ada juga orang murtad yang pada akhirnya beragama (misal Malcolm X). Memang ada beberapa faktor yang diduga berpengaruh (misal lingkungan, pengalaman, insentif sosial dll), tapi tetap saja tidak menjamin jika seorang yang dibesarkan di lingkungan beragama akan mati sebagai ahli agama.

Berdasarkan pengalaman saya, konsep iman inilah yang menjadi kunci perdebatan kedua kubu. Semua pertanyaan orang atheist akan di counter oleh ahli agama, dan akan di jawab lagi oleh orang atheist. Pokoknya ga abis-abis dan akan jadi seperti Tiktok: seru tapi ngeselin.

Dengan konsep iman, semua kelar. Sebego-begonya argumen tapi kalo udah beriman ya diterima aja. Atau sebaliknya, secanggih-canggihnya penjelasan tapi kalo belum beriman ya gak mempan juga. Simple.

Okay, tulisan ini udah terlalu panjang. Akan kita lanjutkan dengan manfaat beragama atau tidak beragama.

Tapi sebelumnya, kira-kira kamu mau pilih kubu yang mana?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *