Monthly Archives: October 2018

Jurus Antik Mendapatkan Istri Cantik

Waktu reuni sekolah dan si Pipi Kentang ikutan, teman-teman saya heran:

“Koq mau ama Yoga?”

Maklum, Istri saya cantik dan modis. Berbanding terbalik dengan saya yang antik dan tragis.

Teman-teman sekolah pasti tahu betapa suramnya tampang saya waktu sekolah.

Karena wajah saya memang menarik. Menarik lalat dan nyamuk untuk hinggap.

Punya bemper muka yang jauh dari kata tampan atau “enak dilihat” memang challenging. Saya ga punya competitive advantage untuk menggoda kaum hawa.

Ganteng kagak, miss queen iya.

Saya memang sering “dekat” dengan banyak wanita.

Terutama di angkot dan pasar. Dekat secara posisi ya. Bukan dekat secara hubungan asmara.

Mungkin ini bukti jika Tuhan itu adil. Lelaki jelek perlu menikah dengan wanita cantik untuk mempertahankan garis evolusi.

Kalau orang jelek menikah dengan orang jelek dan menghasilkan keturunan yang jelek, maka lama-lama manusia bisa punah.

Toh pengalaman saya menunjukkan jika lelaki gendut biasanya istrinya cantik. God bless fat people!

Disini saya akan share tips bagaimana mendapatkan istri yang cantik meski kita tidak punya tampang yang menarik.

#1 Pasang banyak cermin di kamar

freepik.com

Karena jodoh itu 100% ada ditangan Tuhan. Kita hanya perlu melakukan 3B: Berdoa… berusaha… dan berkaca… hehehe.

Tapi tenang aja, urusan muka ga terlalu pengaruh koq.

Sebenarnya jika ada kaum hawa yang mau jadi pasangan saya itu bukan karena saya keren atau gimana. Tapi udah takdirnya begitu.

Meskipun saya gantengnya ngalahin Nabi Yusuf tapi klo si doi belum jodoh ya palingan jadi mimpi basah: berasa, tapi cuma di dunia maya.

Jadi ya banyakin berdoa ya gaes! Doa-nya simple koq:

“Ya Tuhan, jika Ia memang jodohku tolong mudahkanlah.

Jika Ia bukan jodohku maka jodohkanlah”.

Simple kan?

#2 Ikuti Standy Up Comedy

freepik.com

Apa yang membedakan kita dengan lelaki lain?

Apa kelebihan saya selain kelebihan berat badan?

Dua pertanyaan diatas perlu dijawab oleh semua lelaki yang bertarung di bursa jodoh.

Intinya kita harus menemukan unique selling point yang membuat lawan jenis tertarik. Bisa tajir melintir, otak intelek yang bikin melek, atau badan atletis kaya artis bokep.

Karena harta saya Cuma bisa untuk hidup H+1, IQ pas2an, dan badan saya lebih mirip karet sintetis daripada atletis, saya memilih aspek humor sebagai senjata utama. Intinya saya harus bisa membuat Pipi Kentang tertawa!

Caranya? Banyak2 baca buku humor dan dengerin jokes receh garing. Makanya jangan heran jika tulisan ini garing banget dan tinggal digoreng tanpa perlu dijemur lagi.

#3 Berhenti Berpikir

freepik.com

Harus saya akui, buku Men Are from Mars, Woman from Venus membantu saya memahami psikologi kaum hawa.

Saya jadi tahu jika wanita hanya ingin dimengerti dan dilindungi. Tak perlu dinasehati atau diceramahi.

Perempuan butuh dukungan. Bukan sanggahan atas kesalahan.

Mereka hanya ingin didengarkan. Tanpa mendapat penghakiman.

Pria sebagainya tidak menggunakan “men’s thinking” dalam berhubungan dengan perempuan. Jika masih belum paham, coba deh baca bukunya John Gray diatas.

It will help your relationship with any woman in any situation.

#4 Menjadi Kecoa

freepik.com

Alasan utama Pipi Kentang mau saya hamili (Bahasa alusnya: menerima saya) adalah: saya mirip kecoa.

Anda tahu, kecoa adalah salah satu hewan yang mampu bertahan meskipun terkena radiasi nuklir. Mereka symbol ketahanan dan sifat pantang menyerah.

Kecoak juga punya anti biotik super yang melindungi mereka dari penyakit paling mematikan sekalipun. Karena itulah mereka bisa bertahan hidup di tempat-tempat jorok dan sangat ga “liveable” (apalagi instagramable).

Intinya, milikilah ‘Grit’ dan sifat pantang menyerah seperti kecoa!

#5 Tutup Mata, Lupakan Cantiknya

males nyari foto baru haha

Saran klise: Jangan mencintai seseorang wanita karena dia cantik.

Karena kecantikan bisa memudar.

Dan Anda tahu, memulihkan kecantikan wanita yang memudar tidak bisa menggunakan bayclin (emang warna baju).

Cintai seorang wanita karena kamu percaya dia adalah tulang rusuk yang hilang.

Coba tutup mata dan berinteraksi dengannya. Apakah kamu bahagia? Apakah kamu masih ingin menghabiskan masa tua bersamanya?

Jika Ya, maka go fight for her!

Ingatlah, seorang wanita tidak dicintai pria karena cantik. Tapi Wanita menjadi cantik karena dicintai oleh seorang pria.

#6 Ingat Ulang Tahunnya

Terakhir, seorang pria harus ingat ulang tahun pasangannya. Seperti hari ini, Pipi Kentang berulang tahun!

Tulisan ini didedikasikan sebagai hadiah disertai ucapan standard: “Sebentar lagi lu bakal mati cuk!”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mendengarkan Keheningan

Pada 1952, John Milton Cage, salah satu composer music paling berpengaruh di abad 20, menulis karya yang tidak biasa.

Komposisi yang diberi judul 4’ 33” itu berisi karya music tanpa suara selama 4 menit 33 detik! Ya, John Cage menulis sebuah lagu tanpa sebuah nada apapun yang terdengar!. Kesunyian selama 4 menit, 33 detik.

Saat diwawancari oleh Richard Kostelanetz, Cage menjelaskan maksud dari 4’ 33”.

“You know I’ve a written a piece called 4’ 33” which has no sounds oh my own making in it… 4’ 33” becomes in performance the sound of the environment”.

John Cage rupanya sudah sampai di level Zen soal suara. Dia beranggapan semua suara adalah music, dan setiap benda pasti menghasilkan suara. Termasuk saat keadaan sunyi tanpa suara itu sendiri.

4’ 33” adalah ajakan untuk menikmati keheningan.

Bisingnya Kehidupan Modern

Karya John Cage masih tetap relevan saat ini karena manusia modern hampir tidak pernah menikmati keheningan.

Rutinitas manusia modern penuh dengan suara. Biasanya dimulai dari alarm pagi. Atau bunyi ayam jantan yang mengikuti suara adzan.

Setelah itu suara TV/radio/pemutar music terus menemani kita beraktivitas.

Kita mendegarkan berita saat sarapan. Menyetel music di kendaraan. Menguping pembicaraan di tempat kerja. Menonton youtube menjelang tidur. Sampai memutar lagu slow sebagai teman tidur.

Kapan kita bisa mendegarkan suara kita sendiri? Atau pertanyaan yang lebih penting: Kenapa kita perlu mendengarkan suara kita sendiri?

Pada dasarnya manusia yang tidak mendengarkan dirinya sendiri akan tumbuh sebagai manusia yang gelisah.

Hidupnya butuh pengakuan dari luar tanpa pernah mendengar kedalam.

Ia butuh pembenaran. Entah pembenaran secara social, atau pengakuan dari sisi material.

Mereka memiliki sesuatu karena orang lain menghargai itu. Memilih sesuatu karena manusia lain menginginkan itu. Hidup dengan cara tertentu karena masyarakat umum menganggapnya berharga.

Senyum Bahagia

Jika Anda berlatih meditasi, konon salah satu latihan yang penting untuk dikuasai adalah: mendengarkan nafas sendiri. Kenapa hal ini penting?

Karena ini adalah proses mencapai pratyahara. Kondisi sadar terhadap diri sendiri dan tidak terpengaruh oleh kondisi luar.

Itu berarti mengerti jika kebahagiaan dapat dimiliki hanya dengan bermodal senyuman, dan penerimaan terhadap diri sendiri.

Meditasi Yoga senyuman sungguh ceria:

Duduklah, rileks.

Tarik nafas dan senyumlah

Bahagialah, damailah

Mari kita lakukan yoga senyuman

Senyumlah. Senyum lagi. Senyumlah seakan-akan Anda tercerahi.

Bahagia, penuh rahmat, ceria.

Orang yang sadar diri tidak akan merasa kesepian ditengah keheningan. Karena mereka tetap bisa mendengarkan suara kesunyian.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Saya Semakin Malas Menulis Catatan Harian?

Sudah beberapa tahun ini saya semakin malas menulis catatan harian.

Padahal waktu awal-awal menulis tahun 2006, semangat banget.

Terinspirasi dari orang2 keren macam Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, atau Anne Frank.

Dalam angan-angan saya, catatan harian itu akan menjadi fosil perjalanan hidup. Yang akan berharga mahal saat saya jadi miliarder nanti.

Judulnya sengaja saya bikin jadi doa: “Catatan Harian Seorang Manusia Kaya”.

Tapi sampai sekarang alhamdulilah koq ga kaya-kaya juga haha.

Waktu zaman kuliah, setiap hari saya menulis 2 halaman.

Setelah lulus, turun jadi 1 halaman karena lebih sibuk nulis CV lamaran.

Waktu jadi kacung korporasi. Semakin jarang menulis setiap hari.

Mimpi jadi penulis semakin samar. Kalah dengan urusan pekerjaan yang semakin sangar. Proyek buku pun semakin tak terdengar hehe.

Tapi jika dianalisa, sebenarnya ada dua penyebab kemalasan saya menulis catatan harian.

Pertama soal bahasa.

Mulai 2010 saya menggunakan bahasa Inglis untuk nulis diary.

Padahal grammar saya ancur banget. Ngertinya cuma dialog film: “Oh yes, Oh no, Oh My God. Harder-deeper-faster”.

Penyebabnya waktu itu ada seminar di Fisipol. Pengisi acaranya alumni HI yang sukses keliling bumi. Dia bercerita pengalaman belajar ngomong bahasa bule: yang penting dicoba wae.

Lagipula ini zaman digitalis, mau ga mau saya kudu bisa sepik-sepik Inglish. Biar pun mix-mix ala Jaksel. Ora popo.

Gara-gara pake Inglish ala-ala, saya ga bisa bebas menuliskan ekspresi. Mungkin karena kosakata saya limited edition. Koleksinya terbatas hehe.

Tapi penyebab utama saya malas menulis sesungguhnya adalah: rutinitas saya mudah ditebak.

Hidup cuma bangun, olahraga, sarapan, pergi kerja, meeting, traveling kesana-sini, main ama anak istri, lalu tidur untuk memotong umur keesokan hari.

Tak terlalu banyak “intellectual sparkling” yang terjadi.

Beda saat waktu kuliah.

Pagi hari saya bisa bergumul dengan cultural studies, siangnya membedah pemikiran kaum kapitalis, malamnya membaca logika orang atheist.

Dulu sering sekali muncul pertanyaan random dikepala.

“Mengapa orang bisa ketawa? Apakah kita bisa melihat Tuhan? Kenapa ada orang miskin dan kaya?”

Sekarang pertanyaan yang muncul adalah:

“Bagaimana cara menaikkan market share? Gimana caranya beli rumah? Apa yang terjadi dengan Yoda 5 tahun lagi?”

Sepertinya hidup saya bergerak semakin banal.

Untungnya hidup kita tidak kekal.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail