Monthly Archives: December 2018

Rileks

Anda ingin menjadi pemikir kreatif?

Maka berhentilah berpikir terlalu serius dan sering-seringlah main ke kamar mandi.

Itu hasil survey kecil-kecilan yang dilakukan Daniel Kahneman, pemenang nobel ekonomi kepada teman-temannya, Mereka mengaku menjadi kreatif dan mendapat ide-ide segar ketika mandi.

Kita pasti diajarkan di sekolah. Archimedes berteriak Eureka dan mendapatkan inspirasi hukum Archimedes saat berendam di kamar mandi. Bukan ketika lagi mengerjakan PR matematika, atau ngitung-ngitung  cicilan KPR.

Saya sih percaya jika Archimedes lahir di Surabaya, ia akan berteriak “JANC**! Dan kita akan mengenal hukum JANC** untuk menjelaskan massa jenis benda.

Saya yakin kita sering mendapat inspirasi saat “ngebom” di WC. Atau ketika ngopi dan ngobrol-ngobrol santai dengan teman?

Dan kenapa pula kita seringkali bisa mengingat barang yang terlupa justru pada saat sholat?

Tapi kenapa ide-ide kreatif justru muncul saat otak kita tidak dipaksa untuk berpikir?

Orang pintar punya pendapat.

Saat kita ngebom, ngopi santai, atau bengong pas sholat (hayo ngaku!), kita merasa rileks.

Kondisi rileks membantu otak lebih cair dan flow. Saat itu koneksi antar neuron bisa terhubung dengan baik.

“Anda perlu memberi waktu bagi otak Anda untuk beristirahat sehingga dapat mengkonsolidasi semua informasi yang masuk” kata Daniel Levitin, professor behavioural neuroscience dari Universitas McGill.

Intinya otak kita harus beristirahat dan mengendorkan syaraf.

Ibarat mesin, otak kita perlu didinginkan sebentar agar bisa melaju dengan lancar.

Mungkin karena itu system Pendidikan di Finlandia menerapkan kebijakan unik: murid diwajibkan beristirahat singkat setelah (maksimal) 45-60 menit pelajaran.

Guru-guru juga punya kewajiban: menyampaikan materi dalam waktu singkat. Jangan terlalu padat. Nanti informasi bisa ngadat.

Lantas, bagaimana cara untuk rileks ditengah semakin sengitnya arus modernitas yang menuntut semuanya serba cepat?

Secara teori gampang. Ingatlah jika semua ini hanyalah urusan dunia.

Dan berita baiknya: dunia tidak dibawa mati.

Harus menemukan produk baru? Harus menciptakan strategy bisnis? Harus menang Pilpres 2019?

Gus Dur sudah punya tag line jawaban kehidupan kita: Gitu aja koq repot.

Dan saya percaya Gus Dur adalah seorang pemikir yang kreatif.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Banyak Orang Meminjam Kredit Online?

Minggu lalu saya mengikuti acara sosialisasi peraturan OJK. Dalam acara itu saya bertemu dengan banyak penggiat fintech dan kebanyakan berbentuk kredit online atau berbasis P2P (peer to peer).

Dari hasil ngobrol-ngobrol saya terbelalak kaget dengan bocoran angka yang mereka punya.

Salah satu fintech pelopor “kredit online” memberikan bisikan:

Ada belasan ribu debitur yang rela meminjam dengan bunga hampir 1% per hari! Bahkan disburstment mereka sudah sampai ratusan milyar dan ada nasabah yang rajin meminjam sampai 16 kali cycle!

Bunga 1% per hari cuk! Meskipun jika kita meminjam 2 juta, 1% hanya Rp 20.000. Tapi seriously?!?

Disini saya belum berbicara riba, tapi secara logika, kenapa ada orang yang rela meminjam 1% per hari?

Setelah mengulik lebih dalam, saya sampai pada beberapa hipotesa. Alasan mengapa ada orang yang rela membayar pinjaman 1% per hari.

Awalnya saya kira lebih karena factor sosio-ekonomi.

Logika saya, para peminjam online ini adalah orang-orang yang tak tersentuh bank, ga punya kartu kredit, berpenghasilan rendah, karena kepepet dan ga bisa minjem kemana-mana.

Apakah seperti itu sodara-sodara?

SALAH!!!

“Ada debitur kita yang kerja di law firm. Punya 2 kartu kredit, gajinya 14 juta”.

Karena si fintech juga ga bego. Mereka ga akan memberikan kredit kepada debitur miss queen yang bakal megap-megap untuk bayar pinjamannya (kredit macet mereka rendah karena menggunakan machine learning dan social media profiling).

Lha terus kenapa masih ada orang meminjam dengan bunga yang gila?

Konsumtif

Untungnya dalam obrolan kami ada founder fintech lain yang mencoba menjelaskan kepada saya. Kenapa ada orang yang “berbaik hati” membayar bunga 1% per hari.

Setidaknya karena dua alasan.

Pertama soal perilaku konsumtif.

Banyak orang meminjam kredit online, sebenarnya hanya untuk membeli barang-barang sekunder. Bukan kebutuhan utama.

Contohnya si karyawan law firm tadi.

Ternyata ada semacam “social rule” dimana untuk bisa bergaul dengan golongan social tertentu, kita harus memiliki barang dengan merek-merek tertentu.

Dalam hal ini, merujuk ke baju, gadget, dan prilaku jajan yang ga murah.

Logika yang dipakai: penampilan akan menunjang kesuksesan. Semakin Anda terlihat sukses, maka semakin besar peluang Anda mendapat klien atau naik jabatan.

Karena itulah si karyawan law firm punya 2 kartu kredit dan semuanya sudah over limit.

(Tapi ada juga peminjam yang ngutang karena kepepet. Misal: ga punya uang makan di akhir bulan)

Alasan kedua, banyak orang yang belum mendapatkan Pendidikan finansial dasar.

Pendidikan finansial ini bukan berarti certified wealth management atau semacamnya, tapi pengelolaan keuangan tingkat dasar.

Se-simple jika pendapatan saya 100, berapa % untuk konsumsi, berapa % untuk dana cadangan, berapa % untuk tabungan atau investasi?

Orang tanpa Pendidikan finansial akan mengiyakan pengajuan kredit selama ia merasa mampu membayar cicilannya yang biasanya mereka anggap ringan.

“Oh Cuma 300rb”.

“Nanti gajian juga lunas”.

“Ah yang penting kebeli sekarang. Bayar dipikir belakangan”

Banyak orang yang belum sadar “kesaktian” konsep time value of money dan “cost of capital”.

Intinya, berhati-hatilah terhadap rayuan “kredit mudah”.

Karena yang mudah, biasanya tidak murah.

Waspadalah! Waspadalah!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail