Monthly Archives: February 2019

PeHaKa

Awalnya saya tidak percaya. Tapi terbukti juga. Mantan kantor saya mengeluarkan pemutusan kerja!

Ada puluhan yang kena. Padahal mereka sudah bekerja lama. Mengabdikan jiwa dan raga.

Meski mendapat pesangon, tetap saja menciptakan kesan: Betapa besarnya risiko jadi karyawan!

Tapi tenang kawan, Tuhan tidak tidur. Pasti ada jalan.

Uang pesangon bisa digunakan untuk modal usaha. Semangat!

Peringatan bagi diri saya pribadi: berdoalah agar bisa jadi pembuka rezeki orang. Semoga bisa jadi pengusaha!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Meski Tua Wajib Belajar Data

Meski Tua, wajib belajar data

 

Di kantor saya ada sekolah tentang data. Mencakup pengenalan soal data, Analisa, visualisasi, sampai pembuatan dashboard. Dari mining sampai presenting.

Saya memang sedang belajar di kantor yang memperlakukan data seperti raja. Karena kebetulan kantor saya adalah perusahaan aplikasi.

Yang unicorn.

Dan yang online-online itu.

Disini semua data dianggap berharga. Meski hanya informasi penting yang dikurasi dan di eksplorasi. Sisanya disimpan di atas awan. Cloud computing.

Pemakaian data di kantor sudah mencapai level peta byte. Sekitar 1.000 terra byte. Jika satu film JAV berdurasi 1 jam besarnya sekitar 1 Giga byte, maka storage 1 peta byte bisa membuat Anda nonton film sepanjang 114.155 tahun!

Saya jadi sadar jika membuat aplikasi ‘super app’ ternyata ribet. Ada supporting system yang Panjang dan berliku. Dan kita sebagai user, takkan pernah tahu.

Prinsipnya: semakin smooth dan sederhana user experience-nya, maka semakin canggih system back end + front end-nya. Semakin pintar developer/enginer/data scientist-nya. Jadi wajar lah mereka dibayar mahal haha.

Saya akan membagi alur Analisa data secara sederhana. Bisa diterapkan di bidang apa saja. Semoga berguna, bagi kita yang sedang hidup di industry 4.0. Abad informasi.

#1 Start with goal

Pertanyaan pertama: apa yang kita cari?

Bergumul dengan data berarti kita berusaha mencari pemecahan sebuah masalah. Untuk itu kita harus punya tujuan yang jelas. Apa yang ingin kita ketahui? Apa yang ingin kita capai? Masalah apa yang sedang kita kembangkan?

Contoh: kita ingin tahu kenapa penjualan turun.

#2 Collect the right data

Setelah kita tahu apa yang kita ingin capai, maka masuk ke langkah kedua: kumpulkan data-nya! Hehe

Dalam kasus penjualan turun maka kita harus mengumpulkan data2 yang relevan. Contoh: histori penjualan per area, daftar sales, daftar marketing campaign, hingga feedback dari supplier/customer.

Tapi ya jangan asal ngumpulin data. Misal data harga cabe, atau data relawan. Ya ga nyambung bosku.

#3 Ask ‘Why?”

Uda tau tujuannya, uda dapat datanya. Waktunya mengembangkan hipotesa. Dugaan dugaan. Cara paling mudah adalah bertanya: kenapa?

Kenapa daerah X turun? Kenapa distributor Y naik? Apakah ada hubungan-nya dengan pergerakan competitor?

#4 Analize!

Pada phase ini kita akan membuat data bercerita. Kita bisa menggunakan berbagai metode statistic yang pada ujungnya membuat data berbicara dan menjawab dugaan kita.

Mulai dari statistic deskriptif hingga prediktif. Disinilah skill seorang analis dipertaruhkan. Sejauh mana ia mampu connecting the dots dan menjawab pertanyaan berdasarkan fakta-fakta yang ada.

#5 Create a next step

Langkah terakhir tapi juga yang terpenting: ciptakan action based on data. Abis tahu data-nya, ya masa Cuma diam aja?

Karena tujuan kita menganalisa adalah mempersiapkan action plan yang bisa kita lakukan.

______________

Ya begitulah 5 tahap dasar dalam Analisa data. Ga ada kata terlambat untuk belajar. Meski sudah berumur 31 tahun dan rata2 teman berumur 27 tahun (berasa tua cuy), kita harus tetap menguasai data analytic.

Karena barang siapa menguasai data, maka akan menguasai dunia. Haha

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pemantik

Ahmad Wajib pernah menulis:

Terlalu banyak persentase waktu untuk membaca itu tidak baik. Kita hanya sekedar akan menjadi reservoir ilmu. Pemikiran otentik yang kita adakan maksimal hanya dalam kerangka kemungkinan-kemungkinan yang diberikan dalam suatu buku dan perbandingannya dengan buku sarjana-sarjana lain.

Banyak membaca harus diimbangi dengan banyak merenung dan banyak observasi langsung. Harus ada keseimbangan antara membaca, merenung dan mengamati.

Dengan demikianlah kita akan mampu membentuk pendapat sendiri dan tidak sekedar mengikut pendapat orang atau memilih salah satu di antara
pendapat yang berbeda-beda.
24 April 1969

Apakah benar?

Antara ya dan tidak. Bagi saya sebagai seorang penulis yang masih belajar, membaca adalah pemantik.

Sebenarnya ada pemantik terbaik: pengalaman. Tulisan orang-orang hebat biasanya lahir dari pengalaman pribadi yang kuat.

Contohnya Dahlan Iskan. Dia bisa menulis DIsway setiap hari dengan sangat menarik karena keseharian beliau juga sangat menarik. Berpindah negara, bertemu orang-orang hebat, menciptakan proyek-proyek yang tidak membosankan.

Sayangnya tidak selamanya pengalaman saya pantas untuk ditulis. Saya belum punya rutinitas orang hebat, yang bangun dengan semangat dan gagasan-gagasan besar untuk diwujudkan. Saya sementara masih terperangkap dalam rutinitas salary man dan harus menyelesaikan urusan pekerjaan.

Untuk itulah buku menjadi salah satu pemantik pemikiran yang menghadirkan pengalaman orang lain untuk saya resapi.

Semoga nanti saya punya hari-hari yang menarik untuk ditulis setiap hari!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Educere

Beberapa waktu lalu saya kumpul-kumpul dengan teman-teman. Dan seperti biasa, selain update masalah kehidupan, kita saling bertanya soal anak dan keluarga.

Termasuk soal pendidikan.

Seorang teman mengkhawatirkan soal mahalnya biaya pendidikan anak-anak zaman future (bukan now lagi bosku).

Uang pangkalnya puluhan juta, belum SPP yang nilainya mirip SPP kuliah saya dulu haha.

Yang membuat saya tersadar adalah, stigma yang mengasosiasikan jika pendidikan berarti sekolah.

Apakah tanpa sekolah seorang manusia bisa mendapatkan pendidikan?

Kebetulan saya baru saja menyelesaikan “Educated” dari Tara Westover. Memoar dari seorang ahli sejarah PhD Cambridge yang anehnya, tidak pernah mengenyam bangku sekolah hingga umur 16 tahun!

Sejarah hidup Tara sendiri unik. Dibesarkan oleh keluarga Mormon yang fanatik, Ayahnya menderita schizophrenia dan hidup dalam halusinasi tentang illuminati, konspirasi, dan semakin dekatnya hari kiamat.

Mereka anti pemerintah, tidak percaya dokter, dan bahkan tidak mengurus akte kelahiran anak-anak mereka.

Ayahnya seorang pedagang rongsokan dan kontraktor partikelir. Ibunya bekerja sebagai bidan ilegal. Lalu banting setir menjadi herbalis pengobatan tradisional setelah kecelakaan mobil hebat yang hampir menewaskan keluarga mereka.

Tak ada musik pop. Buku-buku bacaan yang ada hanya alkitab. Pendidikan yang diajarkan hanya baca tulis hitung sederhana. Kata sang Ayah, sekolah adalah alat illuminati untuk mencuci otak kaum muda.

“A man can’t make a living out of books and scraps of paper”.

Untung tak semua kakaknya tahan dengan kultur keluarga anti mainstream ini. Menginjak remaja, dua kakaknya minggat. Lalu menyusul anak ketiga, ingin sekolah.

Anak ketiga ini, Tyler, yang kemudian mengompori Tara untuk belajar. Mandiri. Tanpa diawasi.

Diberikannya buku-buku. Disuruhnya Tara ikut ACT. Test untuk masuk perguruan tinggi. Ijazahnya gimana? Dalam essay application ditulis: Tara mendapat pendidikan home schooling.

Tara sendiri mengisahkan perjuangannya belajar matematika, trigonometri, atau aljabar. Senjatanya cuma satu: kesabaran membaca meski ia tidak mengerti juga.

“The skill I was learning was a crucial one, the patience to read things I could not yet understand”.

Singkat cerita, dia lulus dan diterima di BYU (Bright Young University). Ajaibnya lagi, studinya lancar dan mendapatkan beasiswa ke Cambridge hingga menggenggam gelar PhD!.

Saya jadi tersadar, yang terpenting dari pendidikan bukan tentang INSTITUSI pendidikan. Tapi bagaimana bisa menghasilkan manusia-manusia pembelajar yang mencintai proses pendidikan itu sendiri.

Apalagi di zaman sekarang, pendidikan berbasis kelas terdisrupsi oleh ‘sekolah online’. Ada universitas raksasa bernama Google yang bisa membantu kita menemukan “guru” tentang pelajaran apa saja.

Pingin belajar edit video? Bisa mulai menonton ribuan tutorial di youtube. Ingin tahu soal data science? Banyak kursus di udemy. Pingin tahu matematika? Bisa main-main ke Khan Academy. Bingung klo ada pertanyaan soal coding? Silahkan lempar di Github.

Tentu ‘sekolah online’ takkan bisa 100% mengalahkan pertemuan langsung dengan pengajar ilmu. Ada “adab ilmu” yang harus diajarkan oleh seorang guru. Karena itu pendidikan formal masih memegang peranan penting, meski bukan yang terpenting.

Tantangan pendidikan dimasa depan bukan tentang transfer pengetahuan. Tapi bagaimana menciptakan koneksi antar pengetahuan. Ini tentang mengubah informasi menjadi strategi yang menghasilkan aksi valuasi.

Google menjadi kaya bukan karena menyimpan data search queries penduduk bumi. Google menjadi kaya karena bisa mengubah data keyword pencarian menjadi sesuatu yang berguna bagi pengiklan.

Menurut Craft (1984) kata ‘education’ sendiri punya dua makna. Bisa educare yang berarti membentuk. Atau educere, yang berarti mengeluarkan.

Apa yang dikeluarkan?

Rasa penasaran, kerendahhatian, dan penghormatan kepada anugerah Tuhan bernama pengetahuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Prosperity Paradox: Kenapa Memberikan Uang Kepada Orang Miskin Takkan Membuat Mereka Kaya

Jika Anda calon presiden dan ditantang untuk mengentaskan kemiskinan, mana yang akan Anda pilih:

  1. Memberikan setiap orang miskin uang 50 juta
  2. Memberikan insentif pajak kepada perusahaan startup

Mayoritas orang akan berpikir kemiskinan berarti tidak memiliki materi. Secara logika, cara tercepat untuk mengangkat derajat saudara missq-ueen kita adalah dengan memberikan mereka harta.

Karena itulah banyak bantuan hibah yang diberikan negara kaya. Pemerintah bahkan pernah memberikan Bantuan Langsung Tunai (sekalian buat politik). Tidak semudah itu, Ferguso.

Solusi ini ternyata tak sustainable (berkelanjutan). Kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan bukan hanya tentang kepemilikan kekayaan.

Contohnya Afghanistan. Pemerintah AS menggelontorkan 1 milliar dollar untuk pembangunan pendidikan dan kesehatan yang pada akhirnya menghasilkan 1.100 gedung kosong. Atau kasus di Afrika seperti Tanzania. Mereka menerima hibah 200 juta dollar untuk pembangunan industry kertas yang ternyata tidak bisa mereka kelola dan hanya menghasilan “pabrik proyek”.

Bahkan penelitian dari Hankins et al (2011) menunjukkan jika orang miskin yang menang lotre akan kembali bangkrut dalam waktu kurang dari 5 tahun!

Clayton Christensen dalam karya terbarunya, Prosperity Paradox: How Innovation can lift nations Out of poverty (2019) menyoroti hal ini.

Menurut professor Harvard ini, bantuan uang, asset, atau infrastruktur, takkan berguna jika tidak disertai oleh satu hal: market driven innovation. Inovasi berbasis pasar.

boston.carpe-diem.events.

Seperti kepercayaan kapitalis lainnya: Untuk menciptakan kesejahteraan, harus ada pasar penciptaan nilai. Inovasi berbasis nilai dipercaya akan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan kemakmuran.

Menggunakan study case dari berbagai negara Afrika, Asia, dan Amerika, Christensen menunjukkan kesaktian ‘inovasi pasar’. Bahkan thesisnya sangat “unik”:

“It may sound counterintuitive, but our research suggests that enduring prosperity for many countries will not come from fixing poverty. It will come from investing in innovations that create new markets within these countries”.

Dia membagi strategi pengentasan kemiskinan menjadi dua cara: push and pull.

Push lebih bersifat eksternal. Dimana ada negara Al-Tajirun yang menggelontorkan hibah proyek ke negara miskin dalam bentuk “hard assets”.

Sedangkan pull berarti dari dalam. Inilah peran masyarakat (jangan bergantung ama pemerintah!) untuk menciptakan inovasi berbasis nilai yang pada ujungnya mampu melayani kebutuhan pasar.

Korea yang pernah jadi negara yang sama miskin-nya dengan Indonesia, mampu bangkit dengan mendorong industry berbasis inovasi. Demikian juga dengan Amerika di abad 19. Atau Jepang setelah perang dunia kedua.

Ga ada dari negara negara kaya ini yang mencari pesugihan atau melihara babi ngepet. Semuanya bekerja keras dan berinovasi.

Setelah membaca buku yang sangat enak dibaca ini, saya belajar dua hal:

#1 Kemakmuran bukan hanya soal seberapa banyak uang yang kita miliki

#2 Jika kita miskin dan ingin makmur? Ya kita harus berinovasi dan menciptakan value added

Dan itu berarti berhenti menggantungkan nasib kita ke pihak ketiga bernama pemerintah.

Pasrahkan hidupmu hanya kepada Tuhan, dan ciptakan nilai tambah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail