Monthly Archives: July 2019

KALIDAWIR

Jumat ini saya menerima tamu istimewa. Mas Bambang. Vice President baru di kantor. Baru 7 minggu. Masih muda. Umurnya 37 tahun.

Apa yang istimewa?

Bukan karena dia malang melintang di dunia venture capital di Amerika. Bukan karena dia punya background financial dan investment yang kuat. Bukan karena banyak startup Indonesia yang telah ia bantu.

Yang menarik adalah cerita soal listrik.

“Saya baru merasakan listrik di umur 18 tahun”.

Mas Bambang lahir di Kalidawir, Tulungagung. Daerah gunung. Sangat ndeso. Didepan rumahnya masih ada hutan. Hiburannya cuma ngelihatin kalong.

Indonesia perlu berumur 55 tahun baru bisa masuk listrik. Sampai sekarang pun disana belum ada sambungan telpon.

Sewaktu sekolah, Mas Bambang ga pernah pake sepatu. Karena emang ga mampu. Setiap hari harus jalan kaki 8 km. Sampe sekolah? Belum. Itu baru ke jalan raya tempat nyegat angkutan umum.

Ketika SMA, gurunya memaksa dia turun gunung. Dia akhirnya ngekos. Sambil bekerja jadi tukang kebun, kuli bangunan, sampai tukang konveksi. Apa saja yang penting bisa sekolah.

Cita-citanya sederhana: Jadi kasir. Setidaknya nggak jadi tukang bangunan atau buruh sawit di Malaysia. Seperti cita2 anak muda di kampung nya.

Guru yang sama memberikan perintah gila: kamu harus kuliah.

Berbekal baju bekas almarhum Bapaknya dia merantau ke Jakarta. Mencoba daftar UMPTN. Coba ke UI, gagal.

Untung ada universitas swasta yang mau menerima dia. Full beasiswa. Sisanya tinggal cerita.

Karena tekun, studinya lancar dan exchange keluar negeri. Setelah lulus, Ia bekerja di Roma, Australia. Kota kecil yang penduduknya cuma 7 ribu. Separuh pengunjung mall di Jakarta.

Hanya betah beberapa bulan. Alasannya sederhana:

“Disana ga bisa jumatan”.

Lalu mulailah dia berkarier di sektor korporasi multinasional. Dari Jakarta sampai San Francisco. Hingga saat ini, jadi Vice President di startup decacorn Indonesia. Setelah 6 tahun hidup di Amerika.

Saya belajar dua hal.

Pertama tentu tentang rahmat Tuhan yang ada pada kesabaran. Karena seperti janji Tuhan: bersama kesulitan, ada kemudahan. Tinggal kita yang harus berusaha. Melakukan upaya terbaik yang kita bisa.

Kedua, sekali lagi saya melihat: bukti ilmu meninggikan derajat. Persis cerita laskar pelangi atau 9 Summers 10 Autumn. Bocah gunung bisa koq punya kompetensi world class.

Asal dididik dengan tepat. Punya kemauan kuat. Dikelilingi lingkungan yang tak menghujat. Ditambah doa pembawa berkat.

Jika hidup kita masih miss queen, maka kita wajib bertanya: berapa buku yang sudah kita baca? Berapa seminar/pelatihan yang sudah kita ikuti? Berapa guru yang sudah kita kunjungi?

Jika kita ingin kehidupan yang lebih baik, ya kita harus belajar dan mencari ilmu yang lebih banyak.

Bukan dengan marah-marah sambil demo menyalahkan pemerintah atau kaum zionis wahyudi mamarika.

Karena Investasi terbaik untuk mengusir kemiskinan adalah pendidikan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail