Monthly Archives: July 2019

Memelihara Masalah

Ada sebuah cerita dari Secret of Power Negotiating karya Roger Dawson yang mungkin berguna bagi netijen zaman sekarang.
 
Tersebut seorang pasangan tua yang hidup di kepulauan Pasifik. Suatu hari terjadi bencana puting beliung yang memporak-porandakan rumah mereka.
 
Karena tidak punya tempat berteduh, dan juga tidak mampu membangun rumahnya kembali, mereka pindah ke rumah anaknya.
 
Masalahnya, rumah sang anak cukup kecil. Dia juga punya empat anak kecil dan dua saudara ipar yang juga tinggal serumah. Kini ada 10 orang yang hidup dalam satu atap. Kondisi ini membuatnya tidak nyaman dan stress.
 
Sempat terlintas ide untuk membeli rumah yang lebih besar atau menyewakan tempat untuk kedua orang tuanya. Tapi uangnya hanya cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
 
Akhirnya ia pergi ke tetua desa yang terkenal karena kebijaksanaannya. “Apa yang harus saya lakukan agar bisa hidup damai dengan kondisi seperti ini?”
 
Orang bijak itu merenung sebentar. Bukannya bertanya soal luas rumah, alternatif kontrakan, atau jumlah tabungan yang dimiliki sang anak, ia malah bertanya:
 
“Kamu punya ayam?”
 
“Ya, saya punya 10 ekor ayam”.
 
“Kalau begitu masukkan ke dalam pondokmu”.
 
Busyet! Problem solving macam apa ini? Bukankah hal ini tidak akan memecahkan masalah kekurangan ruang? Tapi karena percaya dengan kebijaksaan tetua desa, ia menurut saja.
 
Ide ini mendapat tentangan dari istri dan iparnya. Tapi sang anak bersikeras agar mencoba dulu. Dan benar saja, rumah itu menjadi kapal pecah karena ayam yang berkeliaran tidak karuan.
 
Setelah tiga hari Sang anak kembali mengharap orang bijak tadi. Siapa tahu ada solusi yang lebih masuk akal. Jawaban tetua desa semakin absurd.
 
“Kamu punya kambing kan?”
 
“Ya. Ada sekitar tiga ekor”.
 
“Masukkan juga kambing itu ke pondokmu”.
 
Dengan hati yang menggerutu ia melaksanakan perintah aneh itu. Baru semalam kambing itu dimasukkan, pondok itu sudah lebih pantas disebut kandang. Karena sekarang bukan hewan yang hidup di pondok manusia, tapi manusia yang hidup di kandang hewan.
 
Keesokan paginya ia menghadap lagi.
 
“Tolong berikan saya saran terbaik. Saya sudah mengikuti saranmu tapi keadaan semakin memburuk. Apa yang harus saya lakukan?”
 
Orang bijak tadi tersenyum.
 
“Sekarang keluarkan ayam dan kambing tadi. Rapikan pondokmu. Kamu akan menemukan kedamaian”.
 
Dengan cepat si anak pulang untuk mengeluarkan ayam dan kambing dan merapikan pondok yang lebih parah dari jalur Gaza. Anehnya, sekarang ia merasa lebih lega meskipun ada orang tua yang tinggal bersamanya. Ia juga tidak merasa stress atau mengeluh lagi. Ia menemukan kedamaian.
 
Hikmahnya?
 
Setiap masalah hidup hanya akan membuat kita semakin kuat.
 
Daripada meminta hidup tanpa masalah, mintalah kekuatan untuk bisa mengatasi semua masalah.
 
Pelajaran kedua: kedamaian tak kunjung datang karena kita menjejali pikiran dengan ‘binatang’ yang tak perlu kita ‘pelihara’.
 
Ada binatang bernama ‘merasa benar’. Sehingga selalu ingin terlihat menang saat debat di media sosial.
 
Ada hewan bernama ‘viral’. Hingga memaksa manusia menciptakan sensasi-sensasi yang sebenarnya tak perlu terjadi.
 
Ada peliharaan berwujud ‘up to date’. Membuat kita selalu mengikuti trend tanpa pernah sadar jika trend sengaja diciptakan untuk keuntungan pembuatnya.
 
Binatang ini menghabiskan space otak kita dan menyisakan sedikit ruang untuk hal-hal yang justru paling penting.
 
Orang tua yang jika dirawat akan melahirkan kedamaian. 
 
Bapaknya bernama kerendahhatian. Ibunya bernama rasa syukur akan kasih sayang Tuhan.
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

KALIDAWIR

Jumat ini saya menerima tamu istimewa. Mas Bambang. Vice President baru di kantor. Baru 7 minggu. Masih muda. Umurnya 37 tahun.

Apa yang istimewa?

Bukan karena dia malang melintang di dunia venture capital di Amerika. Bukan karena dia punya background financial dan investment yang kuat. Bukan karena banyak startup Indonesia yang telah ia bantu.

Yang menarik adalah cerita soal listrik.

“Saya baru merasakan listrik di umur 18 tahun”.

Mas Bambang lahir di Kalidawir, Tulungagung. Daerah gunung. Sangat ndeso. Didepan rumahnya masih ada hutan. Hiburannya cuma ngelihatin kalong.

Indonesia perlu berumur 55 tahun baru bisa masuk listrik. Sampai sekarang pun disana belum ada sambungan telpon.

Sewaktu sekolah, Mas Bambang ga pernah pake sepatu. Karena emang ga mampu. Setiap hari harus jalan kaki 8 km. Sampe sekolah? Belum. Itu baru ke jalan raya tempat nyegat angkutan umum.

Ketika SMA, gurunya memaksa dia turun gunung. Dia akhirnya ngekos. Sambil bekerja jadi tukang kebun, kuli bangunan, sampai tukang konveksi. Apa saja yang penting bisa sekolah.

Cita-citanya sederhana: Jadi kasir. Setidaknya nggak jadi tukang bangunan atau buruh sawit di Malaysia. Seperti cita2 anak muda di kampung nya.

Guru yang sama memberikan perintah gila: kamu harus kuliah.

Berbekal baju bekas almarhum Bapaknya dia merantau ke Jakarta. Mencoba daftar UMPTN. Coba ke UI, gagal.

Untung ada universitas swasta yang mau menerima dia. Full beasiswa. Sisanya tinggal cerita.

Karena tekun, studinya lancar dan exchange keluar negeri. Setelah lulus, Ia bekerja di Roma, Australia. Kota kecil yang penduduknya cuma 7 ribu. Separuh pengunjung mall di Jakarta.

Hanya betah beberapa bulan. Alasannya sederhana:

“Disana ga bisa jumatan”.

Lalu mulailah dia berkarier di sektor korporasi multinasional. Dari Jakarta sampai San Francisco. Hingga saat ini, jadi Vice President di startup decacorn Indonesia. Setelah 6 tahun hidup di Amerika.

Saya belajar dua hal.

Pertama tentu tentang rahmat Tuhan yang ada pada kesabaran. Karena seperti janji Tuhan: bersama kesulitan, ada kemudahan. Tinggal kita yang harus berusaha. Melakukan upaya terbaik yang kita bisa.

Kedua, sekali lagi saya melihat: bukti ilmu meninggikan derajat. Persis cerita laskar pelangi atau 9 Summers 10 Autumn. Bocah gunung bisa koq punya kompetensi world class.

Asal dididik dengan tepat. Punya kemauan kuat. Dikelilingi lingkungan yang tak menghujat. Ditambah doa pembawa berkat.

Jika hidup kita masih miss queen, maka kita wajib bertanya: berapa buku yang sudah kita baca? Berapa seminar/pelatihan yang sudah kita ikuti? Berapa guru yang sudah kita kunjungi?

Jika kita ingin kehidupan yang lebih baik, ya kita harus belajar dan mencari ilmu yang lebih banyak.

Bukan dengan marah-marah sambil demo menyalahkan pemerintah atau kaum zionis wahyudi mamarika.

Karena Investasi terbaik untuk mengusir kemiskinan adalah pendidikan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail