Four Blocker

Ada pelajaran menarik dari meeting PLN dan Jokowi pada 5 Agustus 2019 kemarin.

Bukan tentang ‘ngambeknya’ Jokowi. Masih ga ada apa-apanya dibandingkan amukan netijen kelas menengah Ibukota.

Bukan juga soal manajemen PLN. Yang belum punya direktur. BUMN yang diganti namanya jadi ‘Perusahaan Lilin Negara’ oleh netijen Maha Mulia.

Yang menarik adalah proses berlangsungnya rapat. Berlangsung singkat. Karena perbedaan minat.

Jokowi meminta: “…tolong yang disampaikan yang simple-simple saja..”.

Wajar. Karena Presiden tidak punya kemampuan mekanik soal listrik.

Sementara pihak PLN lalu memberikan penjelasan teknis tentang penyebab pemadaman. Mulai dari sistem kelistrikan sampai permasalahan yang timbul.

Wajar. Karena mereka adalah ‘orang lapangan’ yang menguasai keadaan.

Jokowi sepertinya tidak mengerti. Lalu berkomentar: “Penjelasannya panjang sekali”.

Setelah meminta permasalahan ini segera diatasi, Ia pun langsung pergi.

Media politik mengeksploitasi: Presiden murka hari ini.

Generalis vs Spesialis

Adanya masalah komunikasi seperti ini sering terjadi di berbagai organisasi. Biasanya antara tim teknis dan direksi. Orang spesialis dan orang generalis.

Direksi biasanya hanya ingin melihat secara makro. Sedangkan tim teknis biasanya terlalu mengurusi hal-hal mikro.

Tim direksi butuh penjelasan sederhana. Sedangkan tim teknis ingin menjelaskan semuanya.

Direksi ingin solusi permasalahan instant. Sedangkan tim teknis tahu ada batasan yang bisa dilakukan.

Apa jurus yang bisa kita pakai untuk mengatasi permasalahan komunikasi ini?

Ada beberapa cara yang bisa dicoba. Yang paling sederhana: gunakan 4 Blocker. Apa itu?

Metode ini saya ambil dari buku #Sharing karya Handry Satriago, CEO General Electric.

Budaya komunikasi di GE dibuat sangat cair karena four blocker ini.

Semua orang bisa mengeluarkan idenya. Secara sederhana. Rapat dilakukan dalam tempo singkat. Keputusan diambil dengan cepat.

Rumus four blocker sederhana: Ide disampaikan dalam sebuah 1 (SATU) lembar presentasi.

Dibagi 4 blok.

Blok pertama. WHAT: Apa yang terjadi. Sebutkan data dan fakta yang ada.

Blok kedua. WHY: Kenapa koq bisa terjadi? Temukan root cause penyebabnya.

Blok ketiga. HOW: Apa sih solusi yang kita lakukan? Tulis action plan-nya. Klo banyak, cukup tulis 3 critical action.

yang terakhir: HELP: Apa sih yang kita butuhkan untuk mengeksekusi ide itu? Apakah butuh budget, man power, tambahan wewenang, atau apapun.

Dengan 4 blocker, ide dapat disampaikan secara sederhana dan pengambilan keputusan dapat dilakukan saat itu juga.

Ini berbeda dengan budaya pemerintahan atau BUMN kita. Saya sering melihat laporan yang sengaja diperpanjang, dibumbui kata-kata canggih, dan juga dibuat berlembar-lembar dengan tembusan yang sebenarnya bisa dijadikan lampiran.

Mungkin ini karena waktu sekolah dulu kita diajarkan: jawaban yang paling panjang adalah yang paling benar.

Padahal terkadang: jawaban paling sederhana adalah jawaban yang paling mengena.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *