Monthly Archives: December 2019

5 Detik yang Menentukan

Jika Anda punya resolusi yang belum dicapai tahun ini, maka santai saja. Anda tidak sendiri.

Tapi kira-kira apa yang membuat orang belum mencapai target mereka? Dugaan saya: banyak dari kita yang belum memulai.

Contohnya jika saya punya mimpi jalan-jalan ke Eropa. Saya sudah menuliskannya ke resolusi. Tapi hanya menulis mimpi “jalan-jalan ke Eropa” punya dua permasalahan fundamental.

Pertama, mimpi itu terlalu abstrak dan tidak jelas. Eropa adalah daratan seluas 10,18 juta kilometer persegi. Saya juga tidak menjelaskan berangkat kapan, sendiri atau ikut grup, dan kapan kembalinya.

Kedua, target itu terlalu ‘besar’ tanpa road map yang jelas. Tak ada strategi dan rencana aksi. Bagaimana bisa pergi ke Eropa jika saya tidak tahu apa yang harus dilakukan?

Tanpa ada road map untuk memulai dari mana, kita hanya berputar-putar dalam wacana pergi ke Eropa tanpa mampu mengubahnya menjadi tindakan yang konkret (ujung-ujungnya cuma ke Gembira Loka).

Untungnya pakar strategi punya solusi. Kita harus menciptakan objective yang jelas, disertai key result yang bisa diukur. Itulah fungsi OKR. Objective and key result.

Setelah itu OKR dituruhkan jadi action plan. Tindakan-tindakan yang harus dilakukan. Misal tiga langkah awal ‘Liburan ke Eropa’ adalah:

1. Menentukan tujuan negara dan waktu jalan-jalan

  1. Melakukan survey tiket dan perkiraan biaya
  2. Membuka tabungan khusus

Apakah dengan membuat daftar aksi maka mimpi kita akan terjadi? Tidak semudah itu ferguso!

Prefontal cortex otak kita akan melakukan kalkulasi dan sugesti:

“Emang lu mampu? Hidup masih mulung juga. Mending ditabung cuk… “

Apa yang harus kita lakukan saat menghadapi kondisi seperti ini?

5 Detik

Mel Robbins punya jawaban sederhana: gunakan kekuatan meta-kognisi kita. 

Mahluk apa pula itu meta-kognisi? 

Bahasa sederhananya sih insting. Gunakan pikiran kita untuk mengarahkan insting bertindak. 

Gunakan #5SecondRule.

Premisnya sederhana: 

If you have an instinct to act on a goal, you must physically move within 5 seconds or your brain will kill it.

Jika kita ingin melakukan sesuatu dan setelah 5 detik masih kebanyakan mikir, besar kemungkinan tindakan itu ga jadi kita lakukan.

Contohnya waktu mau nanya nomor telpon cewek/cowok cantik di jalan. Kita ingin sekali bertindak tapi pikiran prefontal cortex kita mencegah:

“Nanti klo ga dikasih gimana? Malu ga sih? Emang siapa situ koq sok kenal?”

Kebanyakan mikir malah ga jalan.

Yang perlu kita lakukan sederhana banget. Berhitung 5..4…3…2..1 dan… berhenti mikir! Langsung gerak samperin dia! Pokoknya harus action! Ga usah dipikir konsekuensinya!

Itulah seni #5SecondRule. Seperti launching roket, kita menggunakan 5 detik untuk memusatkan tindakan dan menghiraukan pikiran sadar kita sendiri. Pokoknya pakai insting untuk melakukan sesuatu.

Aturan ini bisa dipakai saat kita takut memulai sesuatu yang baru, atau ragu-ragu dalam bertindak. Termasuk soal pemenuhan resolusi diri sendiri. 

Banyak orang tidak bisa mencapai target yang mereka inginkan karena mereka belum mulai BERGERAK untuk mencapainya.

Padahal kata kuncinya sederhana: Mulai aja dulu. Just do it.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail