Monthly Archives: January 2020

Tiga Cara Mengubah Kebiasaan Kita

 

Mengapa 80% orang yang diet gagal hanya dalam waktu seminggu*?

Mengapa saat resolusi tahun baru, hanya 19% orang yang mampu melaksanakannya selama 2 tahun**?

Mengapa kita seringkali tetap melakukan kebiasaan buruk, meski tahu kita seharusnya berhenti?

Kita tahu merokok tidak baik untuk kesehatan. Mengapa kita sulit untuk berhenti?

Kita tahu olahraga itu penting. Mengapa kita sangat malas menggerakkan badan?

Kita tahu membaca itu investasi. Mengapa kita tetap memilih menonton gosip dan sinetron?

Jawaban pertanyaan diatas menurut Charles Duhigg adalah: karena kita tersandera oleh kebiasaan (habit).

Kebiasaanlah yang membuat kita bergerak dan melakukan semua rutinitas tanpa perlu berpikir lagi. Ini yang membuat kita langsung membuka aplikasi sosmed saat membuka laptop padahal ada pekerjaan yang harus kita lakukan. 

Kebiasaan pula yang mengarahkan kita untuk membeli es krim coklat meski baru saja makan nasi padang. Bagi yang terbiasa membikin kopi, maka aktivitas pertama yang dilakukan adalah menyeduh secangkir kopi dipagi hari.

Pertanyaannya: apakah kebiasaan buruk bisa dihilangkan?

Jawaban jujurnya: TIDAK BISA!. Kebiasaan tidak bisa dihilangkan karena manusia adalah makhluk yang hidup berdasarkan kebiasaan.

Kabar baiknya: kebiasaan buruk dapat diganti dengan kebiasaan baik.

Dalam The Power of Habit, Duhigg menjelaskan rahasia-nya secara ilmiah.

3 Langkah

Sebelum mengganti kebiasaan, kita harus tahu dulu struktur sebuah kebiasaan. Menurut pakar, ada tiga komponen terciptanya habit:

#1 Cue (pemicu): pencetus lahirnya kebiasaan

#2 Routine (rutinitas): Aktivitas rutin yang dilakukan

#3 Reward: Imbalan yang kita dapatkan setelah melakukan aktivitas itu

Kita ambil contoh kebiasaan ngemil di kantor. 

Lahirnya kebiasaan ngemil seringkali terjadi bukan karena kita lapar, tapi adanya ‘pemicu’ berupa kue yang disediakan gratis oleh kantor. Rutinitasnya tentu saja mamam kue-nya. Dan kita mendapat reward berupa perut kenyang dan lidah yang dimanjakan. 

Lantas bagaimana mengubahkan?

Langkah pertama adalah: mengidentifikasi rutinitas yang ingin kita ubah. 

Sadar jika harus berubah menjadi krusial karena otak kita harus mengerti jika ‘ada sesuatu yang salah’ dengan aktivitas yang sedang kita lakukan. Kalo ga merasa sadar ya pasti ga berubah karena merasa ‘fine-fine’ aja.

Langkah kedua: lakukan eksperiment dengan reward. 

Tujuannya untuk mengubah ‘rutinitas’ sebelum mendapatkan reward. Jika sebelumnya kita absen dan langsung mengambil kue gratis, mungkin sebaiknya kita hanya makan kue setelah mengerjakan 1-2 laporan. Atau apa yang terjadi jika reward berupa kue diganti dengan buah?

Langkah ketiga: Temukan cue, motivasi sebuah kebiasaan

Kenapa kita melakukan apa yang kita lakukan? 

Kenapa kita makan kue di pagi hari? Apakah karena lapar? Atau suka rasa manisnya? Atau karena bengong dan ga tau harus ngapain?

Jika karena lapar, ya coba sarapan terlebih dahulu. Jika hanya suka manisnya, mungkin mengganti kue dengan jus segar yang lebih sehat. Jika karena bengong, mungkin bisa membalas email terlebih dahulu.

Terakhir: mulai berubah. Ciptakan rencana dan laksanakan rencana itu.

Karena Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubahnya sendiri.

Image result for charles duhigg"

 

*https://www.health.com/nutrition/5-reasons-most-diets-fail-within-7-days

**https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2980864

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail