“Manfaat” Corona bagi Indonesia

“Saya ini penderita Corona: Cowok Romantis dan Mempesona”

Joke garing diucapkan oleh seorang pejabat salah satu BUMN di Yogyakarta, saat saya meeting tanggal 19 Maret lalu. Inilah hebatnya warga negara +62, wabah penyakit pun bisa dijadikan guyonan. 

Padahal pandemi ini sudah menyerang 336 ribu orang dan menewaskan lebih dari 14 ribu penderitanya. Vaksinnya masih dalam pengembangan. Obatnya juga belum jelas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pecaya jika obatnya mirip obat malaria: Chloroquine dan Hydroxychloroquine. Sedangkan Presiden Jokowi merasa obatnya adalah Avigan, yang diplesetkan jadi Afgan. Indonesia sudah memesan 5 juta butir.

Menurut bocoran Dahlan Iskan, pasien Covid-19 di Jakarta diberi obat:  Oseltamivir 2x 75 mg, tambah vitamin C. Plus Azithromycin 2×500 mg atau Levofloxacin 1×750 mg. Jika berat maka diberi Chloroquine sulphate 2x 500 mg. Saya tak tahu yang mana yang benar. Saya bukan dokter. Meski punya tulisan tangan seperti dokter. 

Yang jelas Covid-19 sudah memporakporandakan perekonomian kita. Banyak proyek tertunda. IHSG terjun bebas. Pemerintah bingung untuk memberi stimulus fiskal. Menurut Asian Development Bank, dampak global akibat virus corona berkisar US$77 miliar hingga US$347 milar. Setara dengan 0,1% hingga 0,4% PDB global.

Kita boleh bersedih dan harus bersabar sambil mengelus dada (asal jangan dada tetangga). Tapi saya melihat, masih ada ‘hikmah’ dari cobaan ini. Saya mencatat setidaknya ada 5 manfaat yang bisa kita syukuri, untuk sementara.

  1. Lebih dekat dengan keluarga

Sejak Presiden Jokowi menghimbau warganya untuk bekerja #dirumahaja, banyak kantor yang memberlakukan Bekerja Dari Rumah (BDR). Dampaknya? Pekerja sekarang jadi lebih dekat dengan keluarganya.

Bagi yang belum tahu, banyak pekerja di Jabodetabek yang harus berangkat sesudah shubuh, dan pulang jam 10 malam (terima kasih traffic Ibukota!). Setiap hari, 5 hari seminggu. Tak heran jika anaknya lebih suka memanggil ‘Om’ dari pada ‘Papa’. Dengan BDR, ada waktu mobilitas yang bisa dihemat, ditambah libur sekolah, kini banyak keluarga yang bisa menghabiskan quality time bersama-sama #dirumahaja.

Tapi perlu dicatat: Ga semua pekerja bisa menikmati ini. Mayoritas yang bisa ya pekerja intelektual anggota kelas menengah dan bekerja di perusahaan besar. Bagi pekerja informal, sektor produksi, atau jenis pekerjaan yang high labor intense, maka konsep BDR hanyalah mimpi. Ga masuk kerja, ya ga makan.

Jadi bersyukurlah teman-teman yang bisa bekerja dimana saja ya!

  1. Orang Indo jadi lebih peduli dengan kesehatan

Sejak kapan orang Indo jadi rajin cuci tangan? Ya sejak wabah Covid melanda. Itu memang cuma pendapat subjektif saya. Tapi sejak Corona, cuci tangan menjadi budaya wajib yang dilakukan semua orang. Bahkan hand sanitizer sekarang begitu mudah ditemukan di kantor/masjid/tempat keramaian.

Padahal budaya cuci tangan yang diperkenalkan oleh dokter Hungaria, Ignaz Semmelweiz sejak 1870. Berangkat dari keprihatinan karena tingginya kematian Ibu ketika melahirkan. Ternyata salah satu penyebabnya, dokter yang menangani para Ibu tadi baru saja menangani pasien lain dan tidak melakukan pembersihan yang cukup. 

Budaya cuci tangan dengan sabun atau cairan antiseptik sendiri mulai diterapkan luas sejak 1980-an dan sejak saya kecil (90an) sudah digalakkan di sekolah-sekolah. Tapi saya belum pernah melihat aplikasi yang begitu masif seperti saat Covid ini. Tentunya kita berharap agar budaya ini tetap dijaga meski suatu saat Corona telah mereda (Aamiin).

  1. Akhirnya Kita Bisa Memanfaatkan Internet Untuk Sesuatu yang Produktif

“Internet cepat buat apa?” Dulu ada menteri yang kutipannya dipotong dan jadi pertanyaan seperti itu.

Ga kebayang kan bisa kuliah online? PNS kerja dirumah? Sidang skripsi lewat video call? Berkat kejadian luar biasa Covid-19 ini, masyarakat dituntut untuk mengadopsi teknologi guna mendukung produktifitas.

Yang semula belum paham cara pakai Zoom, Skype, atau Google Hangout, akhirnya pada coba. Aplikasi belajar online (Ruang *uru, Z*nius, dll) saya yakin mengalami peningkatan traffic. Internet bagi generasi muda +62 hanya identik dengan sosial media, youtube, game online, dan tempat cari video ena-ena, kini kembali kepada ‘khittah’-nya sebagai teknologi untuk berkreasi dan berbagi.

  1. Banyak aksi solidaritas sosial, karena Orang Indonesia itu Peduli dengan Sesama!

Ga semua orang bisa ‘survive’ dengan BDR (ditolong pendapatan gede, tabungan yang cukup, dan bisa remote working), banyak profesi yang terdampak kelangsungan hidupnya. Misalnya mitra ojek online. Mereka tak ada pilihan lain, klo ga narik ya ga makan. Mau BDR juga ga mungkin. 

Untungnya masyarakat masih memiliki empati. Muncul gerakan di twitter untuk berbagi. Membeli Gofood untuk sang driver itu sendiri. Belum lagi penggalangan dana crowd sourcing untuk pembelian alat kesehatan. Semua orang bahu-membahu membantu sesama.

  1. Kita Belajar tentang False Negative

Saya masih ingat saat banyak pejabat yang meng-klaim: “Orang Indonesia kebal Corona”. 

Ga perlu menyebut ‘merk’ pejabatnya. Silahkan Googling sendiri. Yang jelas, pernyataan-pernyataan diatas adalah bukti empiris tentang false negative, istilah dalam dunia medis saat diagnosa menganggap tidak adanya penyakit, padahal sebenarnya ada. Hal ini wajar terjadi karena keterbatasan informasi, dan mindset yang menganggap Covid-19 sama dengan flu biasa yang bisa sembuh dengan mudahnya.

Karena itu juga, jangan merasa yakin dengan jumlah penderita yang tedeteksi. Per 22 Maret, sudah tercatat 514 orang. Pertanyaannya, berapa orang yang sudah di tes? Belum ada mass rapid test yang dilakukan sehingga penderita sebenarnya bisa lebih banyak lagi.  Ancaman false negative masih ada didepan mata.

———————

Lima hal yang saya tulis diatas bukanlah sebuah ‘kegembiraan’ diatas penderitaan. Saya hanya ingin melihat hikmah yang bisa kita ambil, dari kejadian luar biasa ini. Sambil terus berdoa, dan berusaha dengan menjaga kesehatan, agar Virus Covid-19 bisa segera mereda.

Saya teringat cerita yang katanya bersumber dari kitab Kifayatul Awwam. Diceritakan Nabi Musa pernah sakit gigi. Karena belum ada dokter gigi, akhirnya ia berdoa kepada Allah. Allah memberikan resep: ambil rumput untuk diletakkan di gigi yang sakit. Puji Tuhan, sakit itu sembuh.

Di lain hari, sakit giginya kambuh. Karena emang belum ditambal. Nabi Musa berinisiatif menempelkan rumput yang sama ke giginya yang sakit. Lha koq ga ngefek? 

Allah menjawab:

“Wahai Musa, Aku adalah yang menyembuhkan dan Akulah yang mengobati. Akulah yang memberi mudharat dan Akulah yang memberi manfaat.”

Pelajarannya? Kita bukan Nabi Musa yang bisa minta ‘resep’ langsung ke Tuhan. Sebagai manusia biasa, kita wajib berdoa dan berusaha mencari obat kesembuhan, sambil tetap menjaga kesehatan.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *