Monthly Archives: April 2020

Kenapa Saya Memanggil Semua Orang ‘Bos’?

https://images.assetsdelivery.com

“Makasih bos”. 

“SIap bosque”.

“Minta tolong ya bos”.

Saya sering mengucapkan kata ‘bos’ di belakang kalimat. Baik di email, media sosial, atau perbincangan fisik harian. Selalu ada kata ‘bos’ di akhirnya. Sebagai panggilan kehormatan kepada partner percakapan. 

Kenapa sih? Apa alasannya? Apakah saya menderita inferiority complex?

Saya mulai membiasakan panggilan ‘bos-bos’ sekitar beberapa tahun lalu. Tidak ingat kapan tahunnya. Jujur saja, saya melakukannya dengan sengaja. Karena ternyata memanggil bos kepada orang lain itu banyak manfaatnya.

Apa saja? Saya mencatat setidaknya ada tiga berkah memanggil orang lain ‘bos’:

#1 Belajar Membahagiakan Orang Lain

Kata Mbah Dale Carnegie (salah satu penulis buku personal development terlaris), rahasia kebahagiaan sosial manusia ada pada penghormatan. Manusia ingin sekali dianggap ‘penting’ dan ditinggikan kedudukannya. 

Masalahnya, tidak semua orang punya sumber daya untuk meninggikan derajatnya. Apalagi kita hidup di dunia materalistis kapitalis yang menilai derajat seseorang dari jabatan dan jumlah angka di rekening perbankan.

Padahal pada dasarnya hanya Tuhan yang bisa meninggikan atau merendahkan derajat seseorang. Hanya saja, ada segolongan saudara kita yang belum dititipi kekuasaan atau kekayaan itu.

Untuk saudara-saudara kita yang kebetulan berprofesi sebagai ‘orang kecil’, dipanggil dengan sebutan ‘Bos’ adalah sebuah sanjungan yang jarang mereka dapatkan.

Bagaimana dengan pekerja informal? Atau mereka yang setiap hari hanya menjalankan perintah, disuruh-suruh, dimarahi jika kerjanya tidak becus. Mereka juga rindu dan berhak untuk mendapat penghormatan.

Pengalaman saya mengajarkan, saat dipanggil ‘bos’, mereka akan tersenyum. Dada mereka terbuka. Sepertinya dunia terlihat lebih indah dari biasanya. Bahkan ada yang terang-terangan merasa malu: ‘Saya jangan dipanggil bos, situ yang bos’.

Efek jangka pendeknya, mereka akan memberikan support lebih kepada kita. Pelayanan yang lebih ramah. Lebih terbuka dalam berbagi informasi. Dan bersedia membantu jika saya kesulitan.

Tapi tujuan pertama saya sebenarnya sederhana: bagaimana membuat seseorang berbahagia. Karena manusia yang bahagia hidupnya, adalah manusia yang membahagiakan sesamanya.

#2 Belajar Mengurangi Kesombongan

steemitimages.com

Manfaat kedua yang saya rasakan: Insyaa Allah berkurangnya rasa sombong. 

Karena kata “Bos” identik dengan kedudukan superior. Mereka yang memanggil orang lain bos biasanya adalah bawahan. 

Insight saya sederhana. Penyakit manusia modern itu: suka membanding-bandingkan berdasarkan ukuran keduniawian. Ditambah ketidaksadaran dalam menggunakan kata ‘hanya’.

“Oh dia hanya petugas kebersihan”. 

“Siapa sih dia? Hanya anak magang juga”.

“Bisa apa dengan gaji hanya segini?”

Membiasakan memanggil orang lain “bos” adalah sebuah upaya pengingat diri: semua makhluk itu sama mulianya di hadapan Tuhan. Tak usah membanding-bandingkan dan merasa lebih membanggakan. 

Bisa saja orang yang kita anggap bukan siapa-siapa, sebenarnya idola para malaikat penghuni surga. Atau orang yang kita anggap punya derajat hebat, sebenarnya hidup dengan tipu muslihat.

Dengan memanggil bos saya belajar untuk tidak merendahkan ‘orang kecil’. Tapi juga tak perlu memuja ‘orang besar’. Karena ketinggian, kebesaran, kehebatan hanya berhak dimiliki oleh Tuhan.

#3 Belajar Menjadi ‘Pelayan’

Ini tujuan yang menurut saya paling sulit dari memanggil orang lain bos: membuang ego pribadi dan belajar ‘melayani’ orang lain.

giphy.com

Kata ‘bos’ identik dengan atasan/pelanggan. Sedangkan atasan/pelanggan harus dilayani dengan baik. Memanggil orang lain bos secara bawah sadar memaksa saya untuk belajar siap membantu orang lain, tanpa memandang status mereka.

Tuhan sudah menggariskan aturan: Sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi sesama. Manusia yang ringan tangannya, akan ringan beban hidupnya, damai hatinya, dan dimudahkan segala urusannya.

Karena itu dalam teori manajemen ada konsep ‘servant leadership’ yang dimotori oleh Robert K.Greenleaf. Hipotesanya indah sekali: pemimpin yang baik itu pemimpin yang menjadi ‘pelayan’ orang yang dipimpinnya.

Pelayan dalam artian bukan mengerjakan semua pekerjaan, tapi selalu siap membantu dalam kapasitasnya sebagai seorang leader. Dan itu berarti mendengarkan aspirasi, memimpin dengan hati dan empati, memperjuangkan kebutuhan dan perkembangan tim yang diasuhi, memiliki visi, dan berusaha mewariskan ‘legacy’.

Idealnya, hanya Tuhan yang harus kita ‘layani’. Tapi Ia tidak membutuhkan ‘layanan’ kita. Ia akan tetap besar, agung, dan penuh rahmat meski tanpa doa-doa dan ibadah yang kita panjatkan. 

Tuhan ‘ingin’ kita melayani sesama manusia. 

Karena itulah ada ‘perintah’: beri makan fakir miskin, cintai anak yatim, hormati orang tuamu, rangkul saudaramu, bantulah tetanggamu, tersenyumlah kepada orang yang berpapasan denganmu. 

Jadilah rahmat bagi semesta. 

Layani orang-orang ‘kecil’ seperti kamu melayani bos besarmu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apa yang Bisa Saya Lakukan Jika Terkena PHK (karena Corona)

Covid-19 memang memporak-porandakan perekonomian kita. World Bank sampai meramalkan terjadinya resesi atau pertumbuhan ekonomi yang negatif di seluruh dunia. 

Untuk Indonesia sendiri, diperkirakan ada 1,5 juta pekerja yang terkena imbas dan lebih dari 150 ribu terkena PHK. Terutama di sektor pariwisata dan hospitality.

Jika kita termasuk salah satu ‘korban’ Covid-19, apa yang bisa kita lakukan?

Pertama-tama saya ingin mengucapkan simpati dan dukungan sebesar-besarnya kepada rekan kita yang terimbas PHK. Karena itulah tulisan ini lahir. Saya belum bisa membantu memberikan pekerjaan. Siapa tahu tulisan ini memberikan ide dan inspirasi.

Kedua, tulisan ini bukan bermaksud menggurui. Karena saya bukan guru. Juga belum jadi motivator bisnis yang punya cerita sukses pribadi. Alhamdulilah kantor tempat saya belajar belum mem-PHK anggotanya (semoga nggak kejadian ya Allah). Jadi pasti ada biasnya. Karena saya tidak mengalami langsung beratnya cobaan kehilangan pekerjaan.

Saya menulis ini karena biasanya orang yang terkena musibah PHK masih shock. Juga bingung harus ngapain. Dan butuh solusi konkret dari sekedar hiburan di kolom komentar:

“Tetap sabar ya… semua akan Indah pada waktunya”.

Bukannya komentar atau kalimat menghibur itu tidak baik. Tapi klo bisa kita pikirkan solusi konkretnya ya kenapa Nggak. 

Sekoci dan Kapal

Jika kehidupan ibarat mengarungi lautan, maka terkena PHK berarti harus berganti kapal untuk tetap berlayar menuju tujuan. Anggap saja kapal adalah organisasi/perusahaan/bisnis yang kita naiki untuk bertahan hidup.

Kapal yang kita gunakan terkena ombak sangat besar bernama Covid-19 hingga hancur berkeping-keping. Untungnya kita masih hidup. Meski sekarang mengambang di tengah lautan. Bertahan hidup menggunakan sekoci, mencoba menemukan harapan.

Lantas apa yang bisa kita lakukan? Secara garis besar ada dua strategic objective yang perlu disiapkan:

A. Menyiapkan sekoci untuk bertahan hidup

B. Mencari kapal baru untuk melanjutkan perjalanan hidup

#1 Analisa Sekoci

Langkah pertama adalah melihat perbekalan di sekoci yang kita punya. 

Ibarat mengarungi lautan, kita harus tahu berapa stok persediaan air dan makanan. Tujuannya? Untuk mengetahui perbekalan yang ada. Kira-kira cukup berapa lama? Sampai seberapa jauh kita bisa berjalan dengan sekoci ini?

Aksi konkret yang wajib kita lakukan adalah membuat estimasi pengeluaran minimum selama 3 bulan kedepan. Ini pengeluaran minimum untuk bertahan hidup ya. Jadi ya hanya pangan dan papan. Biaya nongkrong, jajan, atau hiburan bisa dicoret dulu. 

Jumlahnya pasti berbeda-beda. Biaya hidup mereka yang single dan berkeluarga pasti tidak sama. Demikian lokasi, pasti berpengaruh sekali.

Jika kita sudah punya perkiraan biayanya, maka langkah selanjutnya adalah menemukan sumber pembiayaan itu. Pilihannya ada dua: 

#1. Internal: menggunakan asset yang kita miliki

Jika kita punya dana cadangan, maka saat inilah dana cadangan itu bisa digunakan. Jika tidak ada maka kita bisa melihat asset yang bisa dilikuidasi. Karena tujuannya adalah bertahan hidup. (Tapi ya ga perlu jual ginjal juga sih).

#2 Eksternal: Meminta bantuan pihak lain

Ga perlu malu dan gengsi jika sumber daya internal kita kurang. Karena kesulitan ekonomi bukan dosa seperti korupsi. Kita bisa meminta bantuan jaringan sosial kita seperti keluarga atau teman dekat. Atau bisa meminta bantuan lembaga sosial seperti lembaga keagamaan atau organisasi kemanusiaan.

Pemerintah meskipun tidak bisa kita jadikan sandaran 100%, bisa juga dijadikan alternatif. Kita bisa menghubungi RT/RW untuk didata dan tercatat di database kementrian sosial. Tapi ya semoga ini jadi pilihan terakhir!

#2 Siapkan kapal selanjutnya

Setelah kita berusaha menyiapkan sekoci untuk bertahan hidup selama terombang ambing, maka langkah selanjutnya adalah mencari kapal untuk melanjutkan perjalanan. Karena life must go on. Meski berat dan sempoyongan terkena ombak.

Pilihan kapal ini juga ada dua:

#A Bisa menyetop kapal yang ‘sudah ada’. Dalam artian kembali berusaha mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang sudah mapan

Aksi konkret yang bisa kita lakukan untuk bisa segera mendapat ‘kapal baru’ antara lain: 

#1 terus belajar dan melakukan upgrading skill (sekarang sudah banyak kelas online termasuk program prakerja pemerintah)

#2 Pergunakan jaringan kita baik offline atau online. Iklankan ‘pencarian kerja’ Anda dan minta bantuan rekomendasi mereka

#3 Memperlebar kriteria pencarian kerja. Tak perlu keukeuh dengan pekerjaan ideal. Sikat dulu peluang yang ada.

#B Jika belum ada kapal yang mau mengangkut atau bosan ‘ikut orang’. Bisa juga Mengumpulkan puing2 yang ada di lautan dan menciptakan kapal kita sendiri.

Mungkin teman-teman bisa menggunakan business idea canvas dari Sergio Seloti seperti dibawah ini untuk menemukan peluang. Biar ide usaha yang dibikin punya latar belakang pasar yang kuat dan ga hanya ikut-ikutan trend sesaat.

Kuncinya ada di aksi konkret dan jangan hanya berwacana. Segera tes ide kita dalam skala kecil (dengan biaya sekecil mungkin) untuk validasi, dan baru melakukan ekspansi modal jika sudah terbukti.

Modalnya dari mana? Sekali lagi ada 2 jenis pembiayaan: internal dan eksternal. Jika kita tidak punya modal sendiri, bisa mencari pembiayaan dari teman/keluarga, atau platform crowdfunding yang sekarang banyak bertebaran. Pinjam ke lembaga keuangan tidak saya sarankan karena cost of capital yang tinggi dan juga dibutuhkan adanya agunan.

Contoh: masyarakat menjadi sangat peduli dengan isu kesehatan. Dilain sisi, ramadan akan segera tiba. Jika Anda punya background di industri makanan, kita bisa mencoba menciptakan ‘cookies rempah’ yang sehat dan nikmat. Ciptakan MVP (minimum viable product).

Tes dulu produksi dalam skala kecil, pasarkan ke teman dan keluarga. Jika respon positif, baru pasarkan secara online. Tak perlu memikirkan investasi peralatan, outlet, dan karyawan. 

Mereka yang bilang ‘tak ada Modal’ sebagai halangan utama memulai usaha biasanya terlalu memikirkan overhead cost yang akan terjadi di masa depan. Padahal belum tentu ide yang kita miliki akan diterima pasar.

#PastiAdaJalan

Mana yang harus diambil? Ikut kapal orang atau bikin kapal sendiri? Semua tergantung situasi dan kondisi. Menyarankan orang untuk membuka usaha belum tentu menjadi solusi. Demikian juga dengan anjuran mencari pekerjaan lagi.

Saran saya pribadi: berdoalah dan lakukan yang mana yang bisa dilakukan.

Jika Anda masih muda dan punya skill yang menjual, mari bersaing dengan sehat dengan ribuan pencari kerja lainnya. Jika Anda melihat peluang usaha yang ada didepan mata, maka silahkan dieksekusi sekarang juga.

Yang agak repot itu: kita tidak punya skill yang menjual di dunia kerja, dan juga bingung mau usaha apa. Tambah tak punya modal pula! Jika ini yang terjadi maka ada satu hal yang bisa kita lakukan: belajar berenang!.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail