Apa yang Bisa Saya Lakukan Jika Terkena PHK (karena Corona)

Covid-19 memang memporak-porandakan perekonomian kita. World Bank sampai meramalkan terjadinya resesi atau pertumbuhan ekonomi yang negatif di seluruh dunia. 

Untuk Indonesia sendiri, diperkirakan ada 1,5 juta pekerja yang terkena imbas dan lebih dari 150 ribu terkena PHK. Terutama di sektor pariwisata dan hospitality.

Jika kita termasuk salah satu ‘korban’ Covid-19, apa yang bisa kita lakukan?

Pertama-tama saya ingin mengucapkan simpati dan dukungan sebesar-besarnya kepada rekan kita yang terimbas PHK. Karena itulah tulisan ini lahir. Saya belum bisa membantu memberikan pekerjaan. Siapa tahu tulisan ini memberikan ide dan inspirasi.

Kedua, tulisan ini bukan bermaksud menggurui. Karena saya bukan guru. Juga belum jadi motivator bisnis yang punya cerita sukses pribadi. Alhamdulilah kantor tempat saya belajar belum mem-PHK anggotanya (semoga nggak kejadian ya Allah). Jadi pasti ada biasnya. Karena saya tidak mengalami langsung beratnya cobaan kehilangan pekerjaan.

Saya menulis ini karena biasanya orang yang terkena musibah PHK masih shock. Juga bingung harus ngapain. Dan butuh solusi konkret dari sekedar hiburan di kolom komentar:

“Tetap sabar ya… semua akan Indah pada waktunya”.

Bukannya komentar atau kalimat menghibur itu tidak baik. Tapi klo bisa kita pikirkan solusi konkretnya ya kenapa Nggak. 

Sekoci dan Kapal

Jika kehidupan ibarat mengarungi lautan, maka terkena PHK berarti harus berganti kapal untuk tetap berlayar menuju tujuan. Anggap saja kapal adalah organisasi/perusahaan/bisnis yang kita naiki untuk bertahan hidup.

Kapal yang kita gunakan terkena ombak sangat besar bernama Covid-19 hingga hancur berkeping-keping. Untungnya kita masih hidup. Meski sekarang mengambang di tengah lautan. Bertahan hidup menggunakan sekoci, mencoba menemukan harapan.

Lantas apa yang bisa kita lakukan? Secara garis besar ada dua strategic objective yang perlu disiapkan:

A. Menyiapkan sekoci untuk bertahan hidup

B. Mencari kapal baru untuk melanjutkan perjalanan hidup

#1 Analisa Sekoci

Langkah pertama adalah melihat perbekalan di sekoci yang kita punya. 

Ibarat mengarungi lautan, kita harus tahu berapa stok persediaan air dan makanan. Tujuannya? Untuk mengetahui perbekalan yang ada. Kira-kira cukup berapa lama? Sampai seberapa jauh kita bisa berjalan dengan sekoci ini?

Aksi konkret yang wajib kita lakukan adalah membuat estimasi pengeluaran minimum selama 3 bulan kedepan. Ini pengeluaran minimum untuk bertahan hidup ya. Jadi ya hanya pangan dan papan. Biaya nongkrong, jajan, atau hiburan bisa dicoret dulu. 

Jumlahnya pasti berbeda-beda. Biaya hidup mereka yang single dan berkeluarga pasti tidak sama. Demikian lokasi, pasti berpengaruh sekali.

Jika kita sudah punya perkiraan biayanya, maka langkah selanjutnya adalah menemukan sumber pembiayaan itu. Pilihannya ada dua: 

#1. Internal: menggunakan asset yang kita miliki

Jika kita punya dana cadangan, maka saat inilah dana cadangan itu bisa digunakan. Jika tidak ada maka kita bisa melihat asset yang bisa dilikuidasi. Karena tujuannya adalah bertahan hidup. (Tapi ya ga perlu jual ginjal juga sih).

#2 Eksternal: Meminta bantuan pihak lain

Ga perlu malu dan gengsi jika sumber daya internal kita kurang. Karena kesulitan ekonomi bukan dosa seperti korupsi. Kita bisa meminta bantuan jaringan sosial kita seperti keluarga atau teman dekat. Atau bisa meminta bantuan lembaga sosial seperti lembaga keagamaan atau organisasi kemanusiaan.

Pemerintah meskipun tidak bisa kita jadikan sandaran 100%, bisa juga dijadikan alternatif. Kita bisa menghubungi RT/RW untuk didata dan tercatat di database kementrian sosial. Tapi ya semoga ini jadi pilihan terakhir!

#2 Siapkan kapal selanjutnya

Setelah kita berusaha menyiapkan sekoci untuk bertahan hidup selama terombang ambing, maka langkah selanjutnya adalah mencari kapal untuk melanjutkan perjalanan. Karena life must go on. Meski berat dan sempoyongan terkena ombak.

Pilihan kapal ini juga ada dua:

#A Bisa menyetop kapal yang ‘sudah ada’. Dalam artian kembali berusaha mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang sudah mapan

Aksi konkret yang bisa kita lakukan untuk bisa segera mendapat ‘kapal baru’ antara lain: 

#1 terus belajar dan melakukan upgrading skill (sekarang sudah banyak kelas online termasuk program prakerja pemerintah)

#2 Pergunakan jaringan kita baik offline atau online. Iklankan ‘pencarian kerja’ Anda dan minta bantuan rekomendasi mereka

#3 Memperlebar kriteria pencarian kerja. Tak perlu keukeuh dengan pekerjaan ideal. Sikat dulu peluang yang ada.

#B Jika belum ada kapal yang mau mengangkut atau bosan ‘ikut orang’. Bisa juga Mengumpulkan puing2 yang ada di lautan dan menciptakan kapal kita sendiri.

Mungkin teman-teman bisa menggunakan business idea canvas dari Sergio Seloti seperti dibawah ini untuk menemukan peluang. Biar ide usaha yang dibikin punya latar belakang pasar yang kuat dan ga hanya ikut-ikutan trend sesaat.

Kuncinya ada di aksi konkret dan jangan hanya berwacana. Segera tes ide kita dalam skala kecil (dengan biaya sekecil mungkin) untuk validasi, dan baru melakukan ekspansi modal jika sudah terbukti.

Modalnya dari mana? Sekali lagi ada 2 jenis pembiayaan: internal dan eksternal. Jika kita tidak punya modal sendiri, bisa mencari pembiayaan dari teman/keluarga, atau platform crowdfunding yang sekarang banyak bertebaran. Pinjam ke lembaga keuangan tidak saya sarankan karena cost of capital yang tinggi dan juga dibutuhkan adanya agunan.

Contoh: masyarakat menjadi sangat peduli dengan isu kesehatan. Dilain sisi, ramadan akan segera tiba. Jika Anda punya background di industri makanan, kita bisa mencoba menciptakan ‘cookies rempah’ yang sehat dan nikmat. Ciptakan MVP (minimum viable product).

Tes dulu produksi dalam skala kecil, pasarkan ke teman dan keluarga. Jika respon positif, baru pasarkan secara online. Tak perlu memikirkan investasi peralatan, outlet, dan karyawan. 

Mereka yang bilang ‘tak ada Modal’ sebagai halangan utama memulai usaha biasanya terlalu memikirkan overhead cost yang akan terjadi di masa depan. Padahal belum tentu ide yang kita miliki akan diterima pasar.

#PastiAdaJalan

Mana yang harus diambil? Ikut kapal orang atau bikin kapal sendiri? Semua tergantung situasi dan kondisi. Menyarankan orang untuk membuka usaha belum tentu menjadi solusi. Demikian juga dengan anjuran mencari pekerjaan lagi.

Saran saya pribadi: berdoalah dan lakukan yang mana yang bisa dilakukan.

Jika Anda masih muda dan punya skill yang menjual, mari bersaing dengan sehat dengan ribuan pencari kerja lainnya. Jika Anda melihat peluang usaha yang ada didepan mata, maka silahkan dieksekusi sekarang juga.

Yang agak repot itu: kita tidak punya skill yang menjual di dunia kerja, dan juga bingung mau usaha apa. Tambah tak punya modal pula! Jika ini yang terjadi maka ada satu hal yang bisa kita lakukan: belajar berenang!.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *