Kenapa Kita Harus Berguru ke Mama Loren – Outward Looking Strategic (4)

Ibarat melakukan perjalanan, di tulisan sebelumnya kita sudah belajar membaca peta dan menentukan destinasi perjalanan kita.

Langkah selanjutnya adalah membuat rencana strategis guna menjawab pertanyaan teknis: Bagaimana cara mencapai tujuan kita? Fase inilah yang membedakan pemimpi dan pemimpin. Pemimpi hanya bermimpi, sedangkan pemimpin melakukan aksi Nyata untuk mencapainya.

Jika mahasiswa sekolah bisnis mendengar kata strategi, biasanya langsung terbayang cost leadership vs differentiation vs focus-nya Mbah Michael Porter. Untuk bisa kesana, ada banyak teknis praktis penciptaan strategi yang bisa diterapkan. 

Kalau saya boleh sarikan ada 2 jenis pendekatan:

A. Outward looking: Melihat kebutuhan eksternal baru memikirkan apa yang harusnya dilakukan

B. Inward looking : Melihat kemampuan internal lalu memikirkan apa yang harus kita lakukan

Tentu yang terbaik adalah menggabungkan keduanya. Melihat kemampuan internal kita, tapi juga memikirkan keadaan eksternal. 

Biar ga bingung, kita coba kenali satu persatu. Masih dengan studi kasus jika kita adalah koki resto hotel yang terancam di-PHK jika tidak melakukan sesuatu.

Outward-Looking Approach

Ibarat perjalanan kapal, outward looking approach berarti melihat lautan yang akan kita arungi dimasa depan, baru mempersiapkan kapal yang cocok untuk melintasinya.

Gampangannya: jika kita melihat di masa depan lautan akan dipenuhi es, berarti kita harus menyiapkan kapal dengan pemecah es agar bisa tetap berlayar. 

Kelebihan strategi ini ada pada sifat ‘market fit’. Dalam artian kita sudah mempersiapkan kebutuhan pasar atau industri kita dimasa depan. Kelemahannya ada pada resources fullfilment. Kemampuan menyediakan sumber daya. Untuk organisasi kecil yang ga punya banyak sumber daya, pilihan aksi menjadi sangat terbatas.

Ada banyak sekali tools yang bisa dipakai. Tapi kita coba kenali tiga tools yang umum terdengar:

#1 Benchmarking

Benchmarking bahasa gampangannya adalah studi banding. Atau belajar ke orang yang sudah sukses. Prosesnya kita melihat organisasi lain yang sudah sukses, mempelajari strategi yang mereka lakukan, lalu mencoba ‘meniru’ mereka. Tentu setelah dilakukan penyesuaian disana-sini.

Contoh: kita mencari resto hotel lain yang masih bisa ‘survive’ dan melihat apa yang mereka lakukan. Misalnya kita belajar jika resto hotel lain menjual lewat gofood, berpromosi online lewat FB/IG ads, dan menciptakan frozen food siap santap dengan citarasa hotel berbintang. Tulis dulu pelajarannya. 

#2 Future Market Forecasting

Untuk cara kedua kita harus berguru ke almarhum Mama Loren. Karena kita akan mencoba ‘meramal’ trend yang ada di masa depan, lalu mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Apakah kita harus mengumpulkan ketujuh bola naga atau belajar ‘Edo Tensei’ untuk menghidupkan Mama Loren lagi? Kalau bisa sih silahkan. Jika tidak bisa untungnya ada Mbah Google yang ga kalah sakti. Caranya gimana?

Tentu yang pertama tolong hapus website tujuan browsing Anda dari po**hub.com, br***er.com dan situs internet positif lainnya. Bisa diganti ke situs berita macam Bloomberg, The economist, atau McKinsey. Karena di internet sudah banyak ‘para pakar’ mengabarkan trend yang sedang dan akan terjadi.

Kedua, gunakan common sense berdasarkan pengamatan sehari-hari. Karena para ahli ramalannya masih fifty:fifty. Mereka ga akan tahu local insight yang sedang terjadi.

Contoh: para ahli meramal Covid-19 takkan ada obatnya sampe 2021. Berarti kita harus berdamai dengan Corona. Apa implikasinya? Mungkin gaya makan dine in akan berubah. Space antar bangku semakin lebar. Ditambah sekat penutup antar pengunjung. Berarti kita harus men-design ulang layout resto kita agar ‘Corona safety’.

#3 Brainstorm Scenario Analysis

Kita tahu masa depan sangatlah tidak pasti. Bahkan kita tidak tahu apakah kita masih hidup atau tidak esok hari. 

Karena masa depan penuh ketidakpastian inilah, lahir scenario analysis. Untuk mempersiapkan kemungkinan terbaik hingga terburuk.

Biar tulisan ini keliatan se-tra-te-jik dan ilmiah (plus saya dianggep pinter), saya coba ceplokan model gambar dari Strategic Planning: How to Deliver Maximum Value Through Effective Business Strategy karya Wittmaan dan Reuter (2004).

Mamam tuh modeling! Udah kaya belajar planet-planet ya boss. Padahal praktiknya bisa kita buat simple koq . 

Coba bikin satu tabel berisi tiga kolom. Isinya: perkiraan kemungkinan yang terjadi, dampaknya kepada kita, lalu aksi apa yang kita lakukan. Contoh:

(kalau kasusnya korporat besar bisa puluhan halaman riset dengan data modeling yang canggih)

Nah itu baru outward-looking strategy bosku. Perlu dilengkapi dengan inward-looking agar kita tahu kondisi dan kemampuan organisasi kita. Akan kita bahas di tulisan selanjutnya agar artikel ini tidak terlalu panjang dan tahan lama.

Yang pikirannya kebayang macem-macem: saya tahu history browser Anda. Hehehe.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *