Kenapa Landak Itu Keren – Inward Looking Strategy (5)

“If you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of a hundred battles” [Sun Tzu] 

Di tulisan sebelumnya kita berkenalan dengan outward looking strategy. Pendekatan yang ‘market driven’. Tapi pendekatan ini dikritik karena terlalu berfokus keluar. Dan belum tentu cocok dengan organisasi kita.

Karena terkadang, strategi terbaik adalah strategi yang sesuai kondisi dan kemampuan sendiri. Premis inilah yang mendasari inward looking strategy. Melihat kedalam dulu baru keluar.

Ibarat kapal, jika outward looking strategy melihat lautan es lalu kita mempersiapkan kapal dengan pemecah es, maka inward looking berpikir kebalikan. Udah tau kapalnya ga punya pemecah es, ngapain lewat lautan es? Mending lewat jalur lain yang lebih hangat meski harus memutar lebih jauh dan perjalanan lebih lama.

Apa aja sih tools-tools yang biasanya dipakai? Masih dengan contoh studi kasus koki restoran hotel yang terancam PHK karena Covid-19.

Product/Service Analysis

Yang paling sederhana adalah analisa produk/service kita sendiri. Jadi kita lihat dulu kita punya barang.

Abis dilihat diapain? Tentu ga cuma dipegang, diraba, dan diterawang, tapi juga dipikirkan beberapa pertanyaan:

– Apakah produk / jasa saya masih relevan? (bahasa gampangnya: masih laku ga sih?)

– Apakah ada yang perlu saya ubah?

– Apa inovasi yang perlu kita coba?

– Apakah kita mampu membuat produk/jasa baru?

Dan berbagai pertanyaan lainnya. Intinya kita pingin tahu:

A. Product-market fit : Ni barang/jasa diterima pasar nggak?

B. Product/service life cycle : Dimasa depan masih laku ga sih?

C. Product/service development plan : Perlu ada yang diubah atau bikin produk/jasa baru?

Kalau kasusnya koki resto. Kita bisa menganalisa menu-menu apa saja yang kita jual. Tanggapan pasar. Serta memikirkan inovasi menu dimasa depan. Siapa tahu dengan kondisi Covid-19 kita butuh mengubah menu menjadi lebih ‘sehat’.

Portfolio Analysis

Hampir mirip dengan product/service analysis. Tapi ini kasusnya untuk konglomerasi dengan banyak produk/jasa di berbagai industri. Tujuannya untuk memutuskan, unit bisnis mana yang dipertahankan, dikembangkan, atau dijual / dimatikan.

Caranya gimana? Mirip-mirip sih. Dimulai dengan performa unit bisnis, lalu industry trend, dan proyeksi kedepan. Metrix yang sering dipakai adalah BCG metrix dimana membagi unit bisnis menjadi 4 quadran: star, dog, cash cow, dan tanda tanya. 

managementconsulted.com

Segitiga Landak

Konsep yang saya sukai dan sangat bisa diterapkan di kehidupan pribadi. 

Berdasarkan dari fabel Yunani kuno: Rubah ingin menangkap landak. Ia menyerang, mencakar, mendorong, sampai berpura-pura mati. Tapi tetap saja kalah oleh landak yang cuma mengerti satu hal: berlindung dengan duri. 

Dari situ lahirlah pepatah: “Rubah tahu banyak hal kecil, tapi landak hanya tahu SATU hal besar”.

Jim Collins mempopulerkannya dalam buku fenomenal Good to Great (2001). Ia menyarankan kita harus berprilaku seperti landak. Sederhana. Fkus. Tidak gampang teralihkan ketika sedang berburu. Dan punya seni bertahan yang bagus lewat duri-durinya. 

Konkretnya bijimana? Untuk sukses, temukan perpotongan 3 hal:

1. Passion kita

2. Skill kita

3. Peluang ekonomis

Semua pribadi atau perusahaan idealnya menggabungkan 3 faktor diatas dalam menjalankan usahanya. Punya passion untuk berbisnis, punya kemampuan deliver value, dan ada peluang yang jelas.

mindtools.com

Untuk kasus Koki, misalnya ada ide untuk membuat channel tutorial memasak yang diharapkan bisa menambah pemasukan lewat iklan di Youtube. Apakah ide itu worth untuk dilakukan?

Gunakan segitiga landak. Jika kita punya passion melakukannya (membuat tutorial memasak), punya skill (bisa merekam dan mengedit video), dan ada peluang (viewer category food cukup tinggi), maka hal itu patut untuk dicoba.

Puzzle Aksi

Kita sudah belajar membaca peta, menentukan tujuan, dan mengenal beberapa framework strategi. Terus gimana?

Waktunya menyusun puzzle. Menggabungkan apa yang kita ketahui, menjadi translasi aksi yang benar-benar terjadi.

Insya Allah akan kita bahas di tulisan akhir pekan.

____________________________

Bagi pembaca yang baru pertama kali melihat tulisan ini mungkin bingung: ini tulisan apaan sih?

Tulisan ringan ini adalah sarana pembelajaran saya untuk berpikir strategis. Karena saya merasa sangat lemah dalam strategic thinking, sering bingung saat membuat yearly planning, dan rekomendasi solusi yang saya hasilkan sangat receh dan parsial.

Jujur saya iri dengan teman-teman kantor yang punya background konsultan. Mereka mampu menganalisa gambaran besar suatu permasalahan, merumuskan rencana aksi yang komprehensif, dan menemukan solusi atas akar permasalahan yang terjadi.

Karena itulah saya membaca buku-buku strategic thinking dan berpikir: hey banyak framework keren ternyata!

Kenapa ilmu ini hanya dipelajari oleh korporat-korporat besar dan professional di perusahaan multinasional? Padahal banyak sekali tools yang bisa kita pakai belajar berpikir strategis dan mencari solusi untuk masalah kehdupan sehari-hari. 

Harapan saya, semakin banyak masyarakat Indonesia yang mampu berpikir strategis.

#1 : Kenapa berpikir strategis?

#2 : Strategic alignment : Belajar Membaca Peta

#3 : Strategic goal setting : Belajar Menentukan Tujuan

#4 : Outward looking : Kenapa kita harus belajar ke Mama Loren

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *