Apakah Anda Ingin Hidup Bahagia?

Namanya Hendhi. Driver Gojek yang saya temui siang tadi. Nama tambahan di kontak handphone saya: Hendhi baik hati. 

Karena Ia memang berhati baik. 

Pada pertengahan Mei lalu, Ia diminta mengantar paket sembako. Penerimanya adalah seorang mahasiswa. 

Paket itu diterima dengan air mata. Karena ternyata Ia sedang kesusahan. Kekurangan bahan makanan. Tertahan Covid-19 yang merepotkan.

Tak tega melihat kondisi mahasiswa itu, Hendhi mengratiskan ongkos kirim. Ditambah beberapa hari kemudian datang lagi untuk membantu. Memberikan uang saku.

Hendhi lalu curhat ke media sosial. Dan menjadi cerita yang viral.

Hari ini saya sedih banget nganter gosend bahan pokok Beras + Nasi + Telur buat mahasiswa.Mereka kehabisan bekal untuk makan dan mereka gak bisa pulang ke kampung. Mulai hari ini saya buka FREE ONGKIR area jogja khusus mengantar bahan pokok untuk yg membutuhkan”

Cuitannya menginspirasi banyak orang. Ada yang tergerak melakukan penggalangan dana, untuk membantu mahasiswa yang kesusahan di luar sana. Ia juga tetap membantu aksi berbagi selama pandemi. Tentu dengan kapasitasnya sebagai driver Gojek: mengikhlaskan ongkos kirim yang ia miliki. 

Tapi yang membuat saya penasaran, apa yang Ia dapatkan dengan melakukan kebaikan?

Karena ternyata, ada banyak kebiasaan baik yang Hendhi suka lakukan. Seperti mem-pilox lubang aspal di jalan raya. Agar orang lain tidak mengalami apa yang ia rasakan: menjatuhkan minuman order Gofood karena tidak melihat lubang di jalanan.

Atau dengan isengnya Ia membeli barang dagangan penjual kerajinan yang mangkal di pinggir jalan. Hanya karena kasihan barang pedagang itu sampai malam tidak juga laku-laku. Padahal sudah tidak ada orang yang melewati jalan itu.

Jawabannya sederhana tapi bermakna: Tenang. 

Ganjaran terbesar karena melakukan kebaikan menurut Hendhi, adalah ketenangan hati. Bukan ganjaran materi, ketenaran, atau hal-hal yang bersifat duniawi.

“Karena hidup di dunia hanya sementara. Yang kita pertanggungjawabkan hanya amal, ibadah, dan perbuatan baik yang kita lakukan selama di dunia”. Begitu cerita singkatnya.

Saya tersenyum mendengarnya. Ternyata aturan Tuhan belum mengalami perubahan.

Konon, kebahagiaan sejati hanya bisa ditemukan pada kerja-kerja kemanusiaan. Bukan pada kepemilikan kebendaan, bukan pada pengertian ilmu pengetahuan, dan bukan juga pada kedudukan dan nikmatnya kekuasaan. 

Lewat kerja-kerja kemanusiaan, secara sederhana kita belajar menyalurkan rahmat Tuhan kepada semesta. Kegiatan yang menurut penelitian sains, terbukti mengaktifkan dopamine, ‘hormon kebahagiaan’ di syaraf kita.

Anda ingin hidup bahagia? Lakukan sesuatu untuk membuat orang lain bahagia.

Hidup Anda menderita? Itu adalah tanda jika Anda belum berbuat baik kepada sesama.

100 tahun yang lalu, penerima nobel sastra dari India, Rabindranath Tagore, sudah memberikan pesan:

Aku tertidur dan bermimpi jika hidup adalah kegembiraan

Aku terbangun dan melihat jika hidup adalah pelayanan

Aku melakukan dan percayalah, pelayanan adalah kegembiraan

Dan Hendhi sudah membuktikan: pelayanan dapat dilakukan di jalanan.

#SalamSatuAspal.

Apresiasi dari kantor Gojek
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *