Apakah Sebaiknya Kita Membeli PlayStation 5?

Mungkin ini kabar game-bira bagi gamers sedunia. Hampir sama pentingnya dengan penantian vaksin Corona. Penantian itu terjawab, Playstation kini punya cicit. Seri kelima dari console paling laris itu akan dirilis akhir tahun ini.

Design-nya cool dan futuristik. Pasti sexy kalo dibikin kartun Moe-nya. Dukungan hardware-nya mumpuni. Gawe-game kelas dewa siap beraksi.

Pertanyaannya: apakah gamer seharusnya membeli PS5?

Mungkin pertanyaan yang agak absurd. Karena kembali ke individu masing-masing. Kalau situ gamers dan punya duit ya silahkan beli. Klo missqueen bisa main sambil ngimpi aja lewat streaming youtube. Klo dhuafa quota mungkin waktunya beralih ke gobak sodor.

Pertanyaan ini muncul karena saya pribadi ingin membelinya. Tapi kemudian ada satu masalah muncul: berapa nilai dari memiliki PS5?


Nilai disini bukanlah harga beli. Tapi sejauh mana kepemilikan barang itu memberikan utility value (nilai pakai) dan return on investment (imbal balik investasi) jika barang yang dibeli adalah asset yang diharapkan memberikan keuntungan.

Ribet amat hidup lu cuk?

Oh jelas. Ini karena pengalaman saya membeli laptop gaming pada 2014. Harganya 8 juta. Tapi ternyata sangat jarang dipake nge-game! Dari 2014-2019, saya hanya memakainya untuk bermain game tak lebih dari 48 jam (dari manifes akun Steam).

Karena itu untuk menghitung nilai guna suatu barang, kita bisa mengevaluasi dengan dua rasio: 

  1. Utility value = acquisition cost / usage
  2. Opportunity cost value = berapa nilai yang kita dapatkan jika menggunakan sumber daya yang ada untuk kegiatan yang lain

Utility value

Kita coba hitung nilai pakai laptop tadi. Karena harganya 8 juta dan saya pakai bermain game hanya 48 jam, maka nilai guna game laptop saya = 8 juta / 48 jam = Rp 166.667 / jam. Lebih mahal dari nyewa mobil ya?

Aturannya kemudian simpel. Jika utility value < biaya sewa, maka kita sebaiknya membeli barang itu. Sebaliknya jika utility value > biaya sewa, maka sebaiknya kita rental saja.

Konsep utility value bisa kita terapkan untuk membuat keputusan:

1. Apakah kita harus membeli mobil? (dengan pilihan lain naik GoCar/taksi)
2. Apakah kita harus membeli perlengkangan bayi? (dengan pilihan lain sewa peralatan bayi)

  1. Apakah kita sebaiknya membeli baju pengantin? (yang hanya dipakai sekali seumur hidup vs sewa aja)

Harapannya agar kita mengoptimalkan value barang yang kita beli, dan hanya membeli barang yang benar-benar memberikan utility value yang masuk akal. Jangan sampai kita membeli sesuatu yang hanya dipakai 1-2 kali lalu mubadzir dan menjadi barang tidur.

Saya punya beberapa kenalan yang membeli mobil dan hanya memakainya di akhir pekan dan saat mudik. Setiap hari dia lebih memilih naik KRL dan Gojek. Saya ga tau itung-itungannya, logika kasaran saya utilitas value dan juga biaya perawatan + depresiasi membuat kepemilikan mobilnya menjadi beban finansial yang kurang bermanfaat.

Kembali ke topik PS5. Saya tahu Anda sangat mampu membeli. Harga resminya sendiri belum keluar. Tapi mari menggunakan asumsi harganya 10 juta. Anggap saja harga game dan biaya listriknya gratis.

Tergantung jam bermain, saya sudah bikin simulasi sederhananya:

Price Playing time hour/week Lifetime Playing time (hours) Utility value/hours
10,000,000 1 5 years 260 38,462
10,000,000 2 5 years 520 19,231
10,000,000 3 5 years 780 12,821
10,000,000 4 5 years 1,040 9,615
10,000,000 5 5 years 1,300 7,692
10,000,000 6 5 years 1,560 6,410
10,000,000 7 5 years 1,820 5,495
10,000,000 8 5 years 2,080 4,808


Dari kurva diatas semakin sering jam bermain Anda, maka biaya per jam akan semakin murah. Tapi pertanyaannya: apakah Anda MAMPU dan MAU mengalokasikan lebih dari 8 jam seminggu, lebih dari 2000 jam dalam 5 tahun, untuk bermain game?

Maka kita masuk ke perhitungan prinsip kedua: opportunity cost.

Biaya Peluang


Apa itu opportunity cost? Klo kita terjemahkan berarti ‘biaya peluang’. Karena opportunity cost memang menghitung nilai peluang yang bisa Anda dapatkan.

Contoh: Anda ikut kuis dan dapat tiket gratis nonton konser. Anda bisa menggunakan tiket itu untuk nonton, atau menjualnya dengan harga 500 ribu. Maka opportunity peluang nonton konser itu 500 ribu, karena Anda punya ‘peluang’ untuk menjualnya dengan harga 500 ribu.

Untuk kasus pembelian PS5, maka opportunity cost yang paling terasa adalah waktu. Komoditas yang tak bisa diperjual belikan. Apakah Anda rela menginvestasikan waktu Anda selama 2000 jam dalam 5 tahun untuk bermain PS5?

Bahasa sederhananya, kita bisa menggunakan 2000 jam dalam 5 tahun untuk mengambil 80 kursus online (asumsi per kursus 25 jam), membaca 250 buku (asumsi per buku 8 jam), atau sekedar memancing 24.000 upil di hidung (dengan asumsi sekali ngupil 5 menit). Sampai berdarah-darah tuh idung haha.

Mari kita simpulkan, apakah salah mengalokasikan dana dan waktu dengan sadar untuk bermain game? Tentu kembali ke pribadi masing-masing.

Jika Anda ikhlas dengan biaya utilitas dan biaya peluang yang ada, maka selamat. Sebaiknya Anda membeli PS5. Tapi jika Anda kesulitan menemukan waktu luang, atau memilih mengisi waktu itu untuk sesuatu yang mungkin lebih berharga, maka sebaiknya pikirkan lagi utility value dan opportunity costnya.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *