Category Archives: Bookep

All about book, from resume to free book to gift!!!

Educere

Beberapa waktu lalu saya kumpul-kumpul dengan teman-teman. Dan seperti biasa, selain update masalah kehidupan, kita saling bertanya soal anak dan keluarga.

Termasuk soal pendidikan.

Seorang teman mengkhawatirkan soal mahalnya biaya pendidikan anak-anak zaman future (bukan now lagi bosku).

Uang pangkalnya puluhan juta, belum SPP yang nilainya mirip SPP kuliah saya dulu haha.

Yang membuat saya tersadar adalah, stigma yang mengasosiasikan jika pendidikan berarti sekolah.

Apakah tanpa sekolah seorang manusia bisa mendapatkan pendidikan?

Kebetulan saya baru saja menyelesaikan “Educated” dari Tara Westover. Memoar dari seorang ahli sejarah PhD Cambridge yang anehnya, tidak pernah mengenyam bangku sekolah hingga umur 16 tahun!

Sejarah hidup Tara sendiri unik. Dibesarkan oleh keluarga Mormon yang fanatik, Ayahnya menderita schizophrenia dan hidup dalam halusinasi tentang illuminati, konspirasi, dan semakin dekatnya hari kiamat.

Mereka anti pemerintah, tidak percaya dokter, dan bahkan tidak mengurus akte kelahiran anak-anak mereka.

Ayahnya seorang pedagang rongsokan dan kontraktor partikelir. Ibunya bekerja sebagai bidan ilegal. Lalu banting setir menjadi herbalis pengobatan tradisional setelah kecelakaan mobil hebat yang hampir menewaskan keluarga mereka.

Tak ada musik pop. Buku-buku bacaan yang ada hanya alkitab. Pendidikan yang diajarkan hanya baca tulis hitung sederhana. Kata sang Ayah, sekolah adalah alat illuminati untuk mencuci otak kaum muda.

“A man can’t make a living out of books and scraps of paper”.

Untung tak semua kakaknya tahan dengan kultur keluarga anti mainstream ini. Menginjak remaja, dua kakaknya minggat. Lalu menyusul anak ketiga, ingin sekolah.

Anak ketiga ini, Tyler, yang kemudian mengompori Tara untuk belajar. Mandiri. Tanpa diawasi.

Diberikannya buku-buku. Disuruhnya Tara ikut ACT. Test untuk masuk perguruan tinggi. Ijazahnya gimana? Dalam essay application ditulis: Tara mendapat pendidikan home schooling.

Tara sendiri mengisahkan perjuangannya belajar matematika, trigonometri, atau aljabar. Senjatanya cuma satu: kesabaran membaca meski ia tidak mengerti juga.

“The skill I was learning was a crucial one, the patience to read things I could not yet understand”.

Singkat cerita, dia lulus dan diterima di BYU (Bright Young University). Ajaibnya lagi, studinya lancar dan mendapatkan beasiswa ke Cambridge hingga menggenggam gelar PhD!.

Saya jadi tersadar, yang terpenting dari pendidikan bukan tentang INSTITUSI pendidikan. Tapi bagaimana bisa menghasilkan manusia-manusia pembelajar yang mencintai proses pendidikan itu sendiri.

Apalagi di zaman sekarang, pendidikan berbasis kelas terdisrupsi oleh ‘sekolah online’. Ada universitas raksasa bernama Google yang bisa membantu kita menemukan “guru” tentang pelajaran apa saja.

Pingin belajar edit video? Bisa mulai menonton ribuan tutorial di youtube. Ingin tahu soal data science? Banyak kursus di udemy. Pingin tahu matematika? Bisa main-main ke Khan Academy. Bingung klo ada pertanyaan soal coding? Silahkan lempar di Github.

Tentu ‘sekolah online’ takkan bisa 100% mengalahkan pertemuan langsung dengan pengajar ilmu. Ada “adab ilmu” yang harus diajarkan oleh seorang guru. Karena itu pendidikan formal masih memegang peranan penting, meski bukan yang terpenting.

Tantangan pendidikan dimasa depan bukan tentang transfer pengetahuan. Tapi bagaimana menciptakan koneksi antar pengetahuan. Ini tentang mengubah informasi menjadi strategi yang menghasilkan aksi valuasi.

Google menjadi kaya bukan karena menyimpan data search queries penduduk bumi. Google menjadi kaya karena bisa mengubah data keyword pencarian menjadi sesuatu yang berguna bagi pengiklan.

Menurut Craft (1984) kata ‘education’ sendiri punya dua makna. Bisa educare yang berarti membentuk. Atau educere, yang berarti mengeluarkan.

Apa yang dikeluarkan?

Rasa penasaran, kerendahhatian, dan penghormatan kepada anugerah Tuhan bernama pengetahuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Prosperity Paradox: Kenapa Memberikan Uang Kepada Orang Miskin Takkan Membuat Mereka Kaya

Jika Anda calon presiden dan ditantang untuk mengentaskan kemiskinan, mana yang akan Anda pilih:

  1. Memberikan setiap orang miskin uang 50 juta
  2. Memberikan insentif pajak kepada perusahaan startup

Mayoritas orang akan berpikir kemiskinan berarti tidak memiliki materi. Secara logika, cara tercepat untuk mengangkat derajat saudara missq-ueen kita adalah dengan memberikan mereka harta.

Karena itulah banyak bantuan hibah yang diberikan negara kaya. Pemerintah bahkan pernah memberikan Bantuan Langsung Tunai (sekalian buat politik). Tidak semudah itu, Ferguso.

Solusi ini ternyata tak sustainable (berkelanjutan). Kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan bukan hanya tentang kepemilikan kekayaan.

Contohnya Afghanistan. Pemerintah AS menggelontorkan 1 milliar dollar untuk pembangunan pendidikan dan kesehatan yang pada akhirnya menghasilkan 1.100 gedung kosong. Atau kasus di Afrika seperti Tanzania. Mereka menerima hibah 200 juta dollar untuk pembangunan industry kertas yang ternyata tidak bisa mereka kelola dan hanya menghasilan “pabrik proyek”.

Bahkan penelitian dari Hankins et al (2011) menunjukkan jika orang miskin yang menang lotre akan kembali bangkrut dalam waktu kurang dari 5 tahun!

Clayton Christensen dalam karya terbarunya, Prosperity Paradox: How Innovation can lift nations Out of poverty (2019) menyoroti hal ini.

Menurut professor Harvard ini, bantuan uang, asset, atau infrastruktur, takkan berguna jika tidak disertai oleh satu hal: market driven innovation. Inovasi berbasis pasar.

boston.carpe-diem.events.

Seperti kepercayaan kapitalis lainnya: Untuk menciptakan kesejahteraan, harus ada pasar penciptaan nilai. Inovasi berbasis nilai dipercaya akan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan kemakmuran.

Menggunakan study case dari berbagai negara Afrika, Asia, dan Amerika, Christensen menunjukkan kesaktian ‘inovasi pasar’. Bahkan thesisnya sangat “unik”:

“It may sound counterintuitive, but our research suggests that enduring prosperity for many countries will not come from fixing poverty. It will come from investing in innovations that create new markets within these countries”.

Dia membagi strategi pengentasan kemiskinan menjadi dua cara: push and pull.

Push lebih bersifat eksternal. Dimana ada negara Al-Tajirun yang menggelontorkan hibah proyek ke negara miskin dalam bentuk “hard assets”.

Sedangkan pull berarti dari dalam. Inilah peran masyarakat (jangan bergantung ama pemerintah!) untuk menciptakan inovasi berbasis nilai yang pada ujungnya mampu melayani kebutuhan pasar.

Korea yang pernah jadi negara yang sama miskin-nya dengan Indonesia, mampu bangkit dengan mendorong industry berbasis inovasi. Demikian juga dengan Amerika di abad 19. Atau Jepang setelah perang dunia kedua.

Ga ada dari negara negara kaya ini yang mencari pesugihan atau melihara babi ngepet. Semuanya bekerja keras dan berinovasi.

Setelah membaca buku yang sangat enak dibaca ini, saya belajar dua hal:

#1 Kemakmuran bukan hanya soal seberapa banyak uang yang kita miliki

#2 Jika kita miskin dan ingin makmur? Ya kita harus berinovasi dan menciptakan value added

Dan itu berarti berhenti menggantungkan nasib kita ke pihak ketiga bernama pemerintah.

Pasrahkan hidupmu hanya kepada Tuhan, dan ciptakan nilai tambah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Penyesalan Membeli Kindle

 

November 2018 lalu Amazon merilis kindle seri terbaru: Paperwhite 4.

Dengan storage lebih besar (8GB), gawai baca digital ini juga sudah anti air. Ga usah khawatir rusak klo kecemplung di kolam renang atau got.

Karena mulai lelah berurusan dengan buku fisik (sering hilang waktu traveling, berat di tas, dan harus menyiapkan rak), saya berpikir untuk pindah haluan membaca buku digital.

Awalnya agak ragu. Karena harganya setara dengan smartphone middle low (2,5 jutaan). Apalagi fungsinya Cuma satu: baca buku doang. Tapi berdasarkan testimoni teman-teman dan netijen yang udah pakai, akhirnya saya coba iseng-iseng beli.

Setelah browsing sana-sini, saya nemu reseller di salah satu market place yang menjual dengan harga paling murah. Bahkan lebih murah dari amazonnya sendiri. Kekurangannya: harus mau nunggu 2 bulan.

Ternyata 40 hari kemudian barang sudah datang. Dan saya pun tercengang. Kindle benar-benar tercipta untuk memanjakan pembaca buku!

Setidaknya ada 5 alasan kenapa Anda harus mulai beralih menggunakan kindle:

#1 E-ink Seperti Kertas yang Canggih

Kindle menggunakan teknologi e-ink yang membuat kita seperti membaca diatas kertas. Dengan resolusi 300 dpi, tulisan terlihat tajam dan enak dibaca. Apalagi teknologi kindle memberi kita kebebasan mengatur besar kecil tulisan, jenis-jenis font, dan sangat mudah men-highlight isi buku untuk kemudian dikirim dalam bentuk email. Ga perlu ribet-ribet ngetik ulang lagi!

#2 Ga perlu Takut Cahaya LED

Kindle paperwhite memiliki front light display (cahaya dari samping), berbeda dengan kebanyakan handphone yang menggunakan backlight display (cahaya dari belakang layar). Ini membuat mata tidak cepat capek klo untuk baca. Ga perlu juga takut dengan “blue radiation” yang katanya membuat mata kering. Mau baca berjam-jam? Amann!

#3 Fokus

Karena kindle hanya punya satu fungsi, ini menjadi kekurangan tapi juga kelebihan. Masa ngeluarin 2,5 juta Cuma buat baca buku doank? Mending tablet donk, bisa buat nonton film, browsing, atau main game.

Tapi justru disitu saktinya kindle. Karena Cuma punya satu fungsi, kita tak akan terganggu dalam membaca. Tak ada pesan notifikasi yang mengganggu, tak ada godaan untuk browsing sana-sini, tak ada alasan untuk nonton video-video ga jelas.

Kindle itu seperti perpustakaan. Tak ada keramaian. Tapi kita seperti menemukan ruang untuk menikmati kesendirian. Hanya bersama buku bacaan.

Selama 3 minggu megang kindle, alhamdulilah saya sudah menyelesaikan 3 buku. Sesuatu yang agak sulit dilakukan jika membaca menggunakan tablet.

#4 Lebih Murah

Dibandingkan beli buku fisik, Amazon memberikan diskon yang lebih murah untuk versi digital. Tapi ya gitu, mayoritas buku-buku yang ada berbahasa Inggris. Seandainya Gramedia mengembangkan hal yang serupa, saya yakin dunia perbukuan bisa semakin maju. Karena dengan versi digital, berarti ada penghematan biaya cetak dan distribusi.

Tapi mungkin Mbah Kompas Gramedia ga pingin toko-toko mereka sepi. Padahal dengan bisnis model digital, pengarang dan pembaca sangat diuntungkan. Harga lebih murah akan menjangkau pembaca lebih banyak.

#5 Banyak Ebook Gratis

Bukannya saya mau ngajarin yang ga bener, tapi banyak website menawarkan jutaan ebook kindle secara gratis. Ini memudahkan kita jika tidak kuat membayar buku dalam bentuk dollar. Prinsip busuk saya sih, selama masih ada yang gratisan, kenapa harus nyari yang mbayar? Hahaha.

Tapi saya tetap beli versi resmi koq untuk buku terbitan terbaru. Karena Namanya juga “bajakan”, ebook gratisan takkan bisa di sync dengan account amazon kita. Susah kalau mau men-highlight kalimat-kalimat penting di buku yang kita anggap menarik.

______________

Lho koq isinya positif review doank? Nyeselnya dimana donk?

Iya saya nyesel koq. Saya nyesel kenapa nggak dari dulu-dulu beli kindle-nya hehehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Prosperity Paradox: Kenapa Memberikan Uang Kepada Orang Miskin Takkan Membuat Mereka Kaya

Jika Anda calon presiden dan ditantang untuk mengentaskan kemiskinan, mana yang akan Anda pilih:

  1. Memberikan setiap orang miskin uang 50 juta
  2. Memberikan insentif pajak kepada sperusahaan startup

Mayoritas orang akan berpikir kemiskinan berarti tidak memiliki materi. Berarti secara logika, cara tercepat untuk mengangkat derajat saudara missqueen kita adalah dengan memberikan mereka harta.

Karena itulah banyak bantuan hibah yang diberikan negara kaya. Pemerintah bahkan pernah memberikan Bantuan Langsung Tunai (sekalian buat pencitraan). Tapi solusi ini ternyata tak sustainable (berkelanjutan).

Tidak semudah itu, Ferguso. Kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan bukan hanya tentang kepemilikan kekayaan.

Contohnya Afghanistan. Pemerintah AS menggelontorkan 1 milliar dollar untuk pembangunan pendidikan dan kesehatan yang pada akhirnya menghasilkan 1.100 gedung kosong. Atau kasus di Afrika seperti Tanzania. Mereka menerima hibah 200 juta dollar untuk pembangunan industry kertas yang ternyata tidak bisa mereka kelola dan hanya menghasilan “pabrik proyek”.

Clayton Christensen dalam karya terbarunya, Prosperity Paradox: How Innovation can lift nations Out of poverty (2019) menyoroti hal ini.

Menurut professor Harvard ini, bantuan uang, asset, atau infrastruktur, takkan berguna jika tidak disertai oleh satu hal: market driven innovation. Inovasi berbasis pasar.

Seperti kepercayaan kapitalis lainnya: Untuk menciptakan kesejahteraan, harus ada pasar penciptaan nilai. Inovasi berbasis nilai dipercaya akan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan kemakmuran.

Menggunakan study case dari berbagai negara Afrika, Asia, dan Amerika, Christensen menunjukkan kesaktian ‘inovasi pasar’. Bahkan thesisnya sangat “unik”:

“It may sound counterintuitive, but our research suggests that enduring prosperity for many countries will not come from fixing poverty. It will come from investing in innovations that create new markets within these countries”.

Jepang dan Korea yang pernah jadi negara yang sama miskin-nya dengan Indonesia, mampu bangkit dengan mendorong industry berbasis inovasi.

Setelah membaca buku yang sangat enak dibaca ini, saya belajar dua hal:

#1 Kemakmuran bukan hanya soal seberapa banyak uang yang kita miliki.

#2 Jika kita miskin dan ingin kaya, ya kita harus berinovasi dan menciptakan nilai tambah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Takdir

Baru beberapa minggu lalu saya memikirkan tentang takdir. Saya ingin menulis surat untuk Yoda mengenai topik misteri ini.

Sempat bertanya-tanya: Buku apa yang bisa dijadikan referensi ya? Terutama dari perspektif agama saya.

Sudah terlalu banyak bacaan saya yang mengupas takdir dari segi humanis positivis. Aliran ini percaya jika manusia bisa mengubah takdir mereka sendiri, tanpa perlu campur tangan ilahi.

Dan dua minggu lalu kebetulan saya ada market visit ke Brastagi. Biar hemat ongkos, saya coba naik angkutan umum. Sekalian merasakan jadi warga lokal.

Saat pulang, alhamdulillah semua bis selalu penuh. Sudah 30 menit saya melambaikan tangan. Mulai lambaian standard sampai lambaian mesra. Ga ada yang mau berhenti.

Cuma ada satu minibus rombongan sekolah dengan kernet kapitalis yang masih mau menciduk saya dengan satu syarat:

“Bang naik bang”

Naik kemana udah penuh gini?

“Naik ke atas lah” kata dia nunjuk atap minibus.

Karena penuh penumpang, yang kosong hanya “rooftop”. Itupun saya harus berbagi space pantat dengan penumpang lain.

Jangan harap ada kolam renang dengan mini bar untuk chill in. Ini bener-bener roof top open air stage tanpa asuransi atau perlindungan diri. Ya kali ada beruang bisa manjat ke atas genteng.

Akhirnya setelah nego, posisi dibalik. Kernet naik pangkat duduk di atap, dan saya ngelesot di pintu gantiin posisi kernet.

Setelah 2 jam numpang, saya diturunkan di persimpangan yang ga saya tahu namanya. Dari sini ke Medan kota naik apa bang?

Naik angkot bisa bang. Kata kernet yang berbakat jadi orang kaya ini.

Karena ga tau angkot yang mana, saya asal naik. Warna merah kalo ga salah. Pas saya tanya, katanya lewat lapangan Merdeka, daerah saya menginap. Wuih pas banget.

Setelah berjalan sekitar 30 menit, angkot melewati toko buku. Entah angin apa, tiba-tiba saya minta turun. Padahal tidak ada tanda-tanda nafsu pelecehan seksual atau rencana kejahatan yang akan dilakukan abang supir terhadap diriku.

Dan di toko buku itu, saya menemukan buku ini. Buku tentang Qadha dan Qadar karangan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah.

Secara probabilitas statistik, peluang saya menemukan buku yang sedang saya cari di tengah kota Medan harusnya sangat kecil sekali.

Apakah ini yang namanya takdir?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Gilanya Penjara Indonesia

 

Percayakah Anda dengan pernyataan dibawah ini:

  • Anda bisa mengelola bisnis narkoba dari dalam penjara
  • Kangen kehangatan wanita? Cukup panggil istri atau gunakan jasa prostitusi sambil sewa ruang besuk milik sipir
  • Banyak penipuan “mama minta pulsa” kepada orang umum yang dilakukan oleh tahanan

Jika Anda tidak percaya dengan semua point diatas, sebaiknya Anda membaca “Surat-Surat dari Balik Jeruji” yang ditulis Zeng Wui Jian, napi kasus narkoba yang 2 tahun ngamar di 4 penjara berbeda. Pedihnya siksaaan fisik dan batin di penjara membuatnya menulis kepada Jaya Suprana yang kemudian membukukannya.

cover bukunya

Kesan saya setelah membaca curhatannya: beruntunglah jika kita belum pernah dipenjara. Tidak ada penjara Indonesia yang manusiawi. Kapasitas penjara pasti overload, hukum yang penuh jebakan batman dengan tujuan memeras dompet, dan juga seringnya tindak kekerasan antar narapidana.

Setidaknya ada tiga hal yang membuat saya geleng-geleng kepala.

UUD

Didalam penjara, berlaku filosofi UUD yang sama. Ujung-ujungnya Duit. Ingin dapat sel yang “hanya” diisi 8 orang? Setor 3 juta. Kalo ga mau? Silahkan menikmati kehangatan sel yang diisi 20 orang. Disana handphone dilarang. Tapi di beberapa rutan, dengan iuran mingguan 200rb, Anda diperbolehkan menggenggam hape touchscreen terbaru.

Mendapat kiriman uang dari keluarga saat besuk? Jangan harap Anda terima 100%. Ada banyak pihak yang harus Anda sedekahkan, bisa menerima 80% saja sudah untung.

Bisnis Dalam Penjara

Kata siapa penjara menghalangi bisnis Anda? Karena justru banyak kasus perdagangan narkoba dikendalikan dari dalam terali besi. Bermodalkan HP, bandar besar memerintahkan produksi, mencari supplier, dan memasarkan barang haram itu dari dalam penjara. Bahkan di beberapa rutan, para napi bisa mengedarkan narkoba kesesama napi lain.

Selain itu, bisnis jasa transfer uang juga berkembang pesat. Para napi bisa menitipkan uang kepada para sipir yang meminta fee sampai 10%. Tak ketinggalan juga “bisnis receh” macam kopi, dan rokok yang merupakan food and beverages best seller diseluruh rutan.

Gledek

Yang membikin saya merinding: banyak penipuan dilakukan oleh bang napi. Bermodalkan hape, koneksi internet, dan kemampuan sepik-sepik, narapidana bisa “menggoyang” orang baik-baik diluar sana. Contoh klasiknya: penipuan pulsa.

Modus operandinya sederhana: bang napi akan membangun koneksi dengan calon korban. Bisa dengan pura2 nelpon ngaku teman, atau dengan profil palsu di facebook. Setelah akrab, si calon korban akan dimintai tolong. Biasanya berhubungan dengan penegak hukum.

Contohnya kejadian tanggal 4 Agustus 2015.

Si korban bernama Rano digarap oleh napi bernama Boyor. Ia mengaku Jarwo, teman lamanya yang jadi pelaut (si Rano sendiri yang menduga-duga). Nah ceritanya Jarwo lagi di kantor polisi kena razia, ia minta Rano membantu nego ke polisi (diperankan napi lain bernama Ade).

Polisi mau melepas Jarwo dengan satu syarat: duit tilang diganti pulsa. Jarwo menjanjikan komisi 200rb jika Rano mau membantu. Lha koq si Rano setuju. Ia pun bergegas ke Alfamart, mengisi 2 nomor masing-masing 200rb. Tapi ternyata pulsa belum masuk, nomornya keliru. Padahal ttu taktik penipuan “dikecot” dengan membuat korban salah transfer. Akhirnya Rano mengirim lagi 200rb. Total 600rb.

Setelah itu Jarwo kembali ke panggung sandiwara dengan meyakinkan uang cash pengganti pulsa sudah ia pegang. Dan ada kabar gembira, ia akan mendapatkan satu hp blackberry karena sudah membantu korps kepolisian.

Tapi ada syaratnya: ia harus suntik pulsa lagi ketiga nomor anggota buser, nanti uangnya diganti. Kali ini narapidana Emi yang mengaku sebagai AKP Wibowo. Mungkin karena iming-iming hape baru, dan seneng dapat kenalan polisi, Rano mengisi lagi 3 nomor dengan nilai 600rb.

Sebelum pesta berakhir, AKP Wibowo memberikan info teranyar: Tim polisi sedang menuju ke lokasi Rano untuk memberikan bonus. Ia juga diminta berbelanja barang apapun dan akan dibayari saat rombongan polisi sampai ditempatnya. Tak ketinggalan titipan pulsa Brigadir Adi (dimainkan napi lain lagi!) sebesar 600rb.

Total Jendral, Rano yang mengaku pedagang ayam dari Parung harus merogoh 1,8 juta ditambah belanjaan yang ia harap akan dibayarkan. Ia adalah korban “gledekan”, penipuan bermodal omong besar yang dilakukan para tahanan.

Enak DIbaca dan Perlu

Akhir kata, buku ini sedikit membuka rahasia umum tentang mirisnya manajemen Lembaga Pemasyarakatan yang sama sekali tidak memasyarakatkan manusia didalamnya. Anda akan mengerti kenapa keributan kecil antar napi bisa merembet ke tawuran masal antar gang. Atau kenapa banyak sipir yang “main mata” dengan para narapidana. Ditulis dengan bahasa ringan tapi berbobot, saya merekomendasikan untuk membacanya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jika Semuanya ada di Internet, Apakah kita Masih Perlu Buku?

Kemarin saya berkunjung ke Big Bad Wolf Surabaya. Itu lho, pameran buku-buku impor yang sebelumnya digelar di ICE BSD. Waktu di Jakarta, karena masalah jarak dan waktu yang memisahkan kita, saya males datang kesana. Pas pulang ke rumah ortu kali ini lha koq pas ada.

posternya
posternya

Saya datang bersama teman, si Dimas. Acaranya sendiri diadakan di Jatim Expo Center, gedung serba guna di deket Graha Pena Surabaya. Ketika saya datang Sabtu sore, suasana sudah rame. Banyak orang nenteng kantong belanjaan gede-gede penuh dengan buku.

Tapi kan sekarang abad digital, apa masih relevan membaca buku?

Anjuran ‘bacalah’ sudah ga laku dan kurang gaul. Ngapain harus cari buku (atau ebook), buka-buka halaman sambil melototin huruf kecil2 yang bikin pusing? Udah lama, ribet, eh belum tentu nemu jawabannya :D.

Mencari informasi di halaman web (entah website, blog, social media, forum dll) terbukti mampu memberikan informasi yang kita inginkan dalam hitungan detik. Sebutannya sudah ‘flash’ dan bukan lagi instant. Karena instant butuh waktu 3 menit dan 200 ml air panas. Oh klo itu memang mie instant.

Apa yang salah dengan mencari informasi lewat browsing? Toh internet sudah menjadi perpustakaan dunia yang merekam segala informasi yang ada. Pingin tahu jarak bumi ke matahari? Tinggal browsing. Pingin tahu nama latin kodok? Tinggal ketik di google. Pingin tahu judul bokep di videotron tempo hari? Ga perlu tanya tetangga. Cukup ketik keyword yang sesuai.

Terus apanya yang salah donk? Sejujurnya ga ada yang salah. Yang salah sih yang ngeracun si Mirna. Lah koq ngomongin sidang kopi.

Gathering information through browsing are great, tapi jika tidak berhati-hati setidaknya ada tiga bahaya yang mengancam para “flash information seeker” (mereka yang ingin dapat informasi dalam sekejap). Tiga advantage yang menurut saya hanya didapat lewat “deep reading” melalui buku/ebook dan membuatnya tak tergantikan oleh website.

#1 Web give you faster information, a good book give you robust information.

It is debatable. Tapi Hoax menyebar begitu cepat lewat web daripada lewat buku. Mengapa? Karena tidak ada filter informasi. Besok saya bisa menulis teori tentang cara diet menurunkan berat badan menggunakan lemak ayam lewat blog saya. Tak ada yang me-recheck apakah informasi yang saya tulis benar atau salah. Filter hanya ada di pembaca yang mempertanyakan: ini masuk akal ga?

Berbeda dengan buku. Untuk menulis sebuah buku seorang penulis harus melewati berbagai filter. Mulai dari penyunting naskah, editor, hingga penerbit yang mempertaruhkan kredibilitasnya. Konsekuensinya? Validitas bisa lebih dipertanggungjawabkan. Tapi kita juga harus hati-hati, ada penerbit abal2 yang sengaja menerbitkan buku demi mengejar keuntungan lewat sensasi.

#2 Web only surfing the surface, a good book give us deeper understanding

Ketika mencari informasi via web baik itu lewat website atau blog, penulis content akan berusaha menyajikan informasi seringkas mungkin. Karena mereka tahu jika pembaca hanya punya waktu terbatas dan tidak ada guna untuk menulis semuanya.

Implikasinya, terkadang web hanya menyentuh rangkuman permukaan. Ia tidak sempat memberikan ruang yang lebar untuk pembangunan argumen dan logika. Informasi di internet dapat menjabarkan “What” dan “How”, tapi belum tentu bisa menjelaskan “Why” dengan baik.

Contohnya saat saya ingin tahu lebih jauh tentang kapitalisme vs marxisme. Hanya mengandalkan ulasan orang di web takkan membawa pemahaman yang mendalam tanpa membaca buku-buku yang ditulis Adam Smith, Keynes, Friedman, Karl Marx, Engels dan pemikir lain-nya.

Membaca Wikipedia tentang profil seseorang tentu akan jauh berbeda dengan membaca langsung biografi yang lebih lengkap dan menyeluruh. Baca sejarah kemerdekaan Indonesia di web, tentu beda dengan membaca Indonesia Menggugat-nya Soekarno, atau Untuk Negeriku-nya Hatta.

Bahayanya jika Kita terbiasa menelan informasi secara bulat, kita tidak akan terlatih untuk bertanya: Koq bisa gitu? Metodologynya kaya apa? Kenapa bisa lahir teori seperti itu? Kenapa kejadian itu bisa terjadi? Kita hanya tahu “apa” dan “siapa”, tapi lupa mencari tahu “bagaimana” dan “kenapa”.

#3 Web give you engagement, book give you moment of silent

Web memiliki kekuatan di komunikasi dua arah antara penulis content dan juga pembaca. Keistimewaan yang tidak bisa dimiliki sebuah buku. Tapi justru disitu kelebihannya, buku menawarkan keheningan disaat pembaca meresapi materi yang sedang dibacanya. Sifat komunikasi yang dibangun hanya searah membuat pembaca harus menginterpretasi informasi yang masuk dalam dialog diri yang penuh dengan rasa sunyi.

Buku adalah sebuah kapal selam. Ia mengajak pembacanya untuk berpikir lebih dalam, lebih jauh, dan berusaha menyentuh subtansi pengetahuan. Buku yang baik bukan hanya kaya akan informasi, tapi juga mengajak pembacanya bertanya: mengapa ini bisa terjadi? Sebuah perjalanan pikiran yang agak susah ditandingi oleh artikel website yang hanya punya 1000-2000 kata per postingnya.

Kematian Buku?

Sayangnya minat baca Indonesia masih diurutan 60 dari 61 negara berdasarkan hasil survey oleh Central Connecticut State University. Saya sedih sekaligus bersyukur. Sedih karena berarti kualitas pendidikan kita tertinggal jauh, tapi juga bersyukur sambil positive thingking: jangan-jangan masyarakat kita sudah jadi masyarakat multimedia?.

Karena hidup di abad 21 berarti menambah pilihan informasi. Toh Internet, buku/ebook, audiobook, video, dll hanyalah medium penyampaian informasi. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya sendiri percaya buku akan semakin digusur oleh ebook.

Yang penting kita harus menjadi manusia pembelajar. Manusia yang tak pernah lelah bertanya, mencari pengetahuan, dan menyebarkan ilmu untuk kebaikan kemanusiaan. Dan kebetulan, salah satu cara termudah mencari pengetahuan adalah dengan membaca. Karena itulah firman Tuhan yang pertama adalah “bacalah”, dan bukan “tontonlah”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Binatangisme

source image: http://www.eoisabi.org

Pada suatu hari, si Mayor Babi pemimpin peternakan mengadakan rapat akbar. Ia ingin bercerita tentang mimpi yang ia alami. Ia lalu mengumpulkan seluruh hewan di peternakan. Tapi sebelum bercerita, si babi putih yang sudah tua itu mempertanyakan hakikat hidup seekor hewan:

“Sekarang, Kamerad, apa sih, sifat kehidupan kita? Mari kita hadapi: hidup kita ini sengsara, penuh kerja keras, dan pendek. Kita lahir, kita diberi begitu banyak makanan, sehingga menjaga napas dalam tubuh kita, dan di antara kita yang mampu dipaksa kerja dengan seluruh kekuatan kita sampai atom terakhir kekuatan kita; dan segera setelah kegunaan kita berakhir, kita disembelih dengan cara yang keji”.

Dan semuanya gara-gara binatang bernama manusia. Ia menambahkan:

“Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap tikus tanah. Namun, ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri. Tenaga kami untuk membajak tanah, kotoran kami untuk menyuburkan tanah, tetapi tak satu pun dari kami memiliki tanah seluas kulit kami”.

Setelah berhasil mengobarkan semangat penghuni peternakan, ia lalu bercerita jika semalam bermimpi mendengar lagu “binatang Inggris”. Lagu terlarang dari zaman yang terlupakan. Nyanyian yang berisi mimpi kemerdekaan binatang dari perbudakan manusia. Semacam ramalan: akan ada suatu masa dimana semua binatang tak lagi harus tersiksa.

Binatangisme

Tiga hari setelah rapat akbar, Mayor tua meninggal dunia. Tapi ide-nya terus tumbuh dan lagu “binatang Inggris” terus dinyanyikan setiap malam. Para babi penerus ide sang mayor mulai berkumpul dan merumuskan ajaran “binatangisme”. Sebuah weltanschauung, pandangan hidup. Ajaran kesetaraan antar binatang, larangan bermusuhan, dan ajakan memusuhi manusia. Bahkan binatangisme juga tidak memperbolehkan para binatang untuk meminum alkohol.

Ajaran binatangisme disambut baik karena disaat yang sama, Pak Jones, si pemilik peternakan mulai tidak memperhatikan kesejahteraan hewan ternaknya. Terlalu banyak mabuk-mabukan membuatnya sering terlambat memberi pakan, kandang tak terawat, dan para ternak yang awalnya mendukung hidup dibawah perlindungan manusia, mulai tidak puas.

Sampai pada suatu hari, pemberontakan itu terjadi. Pak Jones yang teler berat tiba-tiba diserang oleh kuda kesayangannya, Boxer. Ia menendang-nendang. Tak lupa para biri-biri, babi, ayam, itik, dan sapi turut menyerang kabin-nya. Pak Jones yang malang kemudian melarikan diri, dan mulai hari itu peternakan binatangisme telah berdiri. Dari hewan, oleh hewan, dan untuk hewan. Masa kejayaan para binatang akhirnya datang.

Tapi ternyata permasalahan tidak selesai sampai disitu. Dua babi pemimpin binatangisme, Snowball dan Napoleon terlibat persaingan politik. Mereka berusaha saling mempengaruhi. Snowball memiliki gagasan untuk membuat kincir angin sebagai penggerak mesin sehingga mereka bisa bekerja lebih ringan, sedangkan Napoleon menganggap ide itu adalah pembuangan tenaga dan terlalu mirip dengan teknologi manusia.

Sampai pada suatu rapat, para binatang terbagi dalam dua kubu yang sama-sama kuat. Saat voting akan dilakukan, tiba-tiba muncul anjing herder peliharaan Napoleon. Anjing lalu menyerang Snowball dan membuat babi cerdas itu lari tunggang langgang meninggalkan peternakan. Sejak itu tirani baru lahir.

Napoleon membuat keputusan mengangkat dirinya sebagai pemimpin peternakan. Ia juga menetapkan kaum babi tidak perlu bekerja karena mereka adalah pemikir dan pembuat sistem. Yang lebih anehnya lagi, Napoleon memerintahkan pembangunan kincir angin dan menuduh Snowball telah mencuri ide itu darinya.

Menjadi Manusia

Cerita diatas adalah cuplikan Animal Farm karya George Orwell. Orwell seperti sedang menertawakan prilaku “kebinatangan” yang sering dilakukan manusia. Tapi apakah selamanya binatang lebih buruk dari manusia?

Belum tentu. Karena terkadang manusia bisa lebih binatang dari binatang itu sendiri. Saya belum pernah melihat ular yang tetap makan meski perutnya kenyang. Sedangkan manusia? Berapa dari kita yang terus memasukkan makanan meski perut sudah terisi?

Saya tak pernah mendengar berita ada macan yang menggauli macan lain yang masih kecil. Manusia? Sudah berapa banyak berita pedophilia menghiasi layar gadget Anda? Untuk hewan yang hidup berkelompok, saya juga belum pernah melihat ada pemimpin binatang yang korupsi dan menyembunyikan makanan untuk dirinya sendiri. Manusia? Saya tak perlu bercerita.

Karena itulah, kita perlu berpuasa. Puasa adalah pelajaran menjadi manusia. Dengan menahan nafsu, ternyata dapat menjadi penyentuh kalbu. Saat membantu sesama lewat zakat, kita sesungguhnya sedang membersihkan jiwa dengan berkat.

Dalam akhir cerita Orwell, Napoleon menerima tamu Pak Pilkington dari peternakan tetangga. Pertemuan yang awalnya ramah, tiba-tiba menjadi pertengkaran seru gara-gara permainan kartu. Clover, kuda tua kesayangan Pak Jones, datang untuk melihat sumber keributan itu. Begitu kagetnya ia saat melihat kedalam. Ia tak bisa membedakan mana binatang, dan mana manusia.

Karena manusia baru bisa menjadi manusia saat ia mampu menguasai nafsu yang ada di dalam dirinya.

Selamat berpuasa. Selamat belajar menjadi manusia.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Sedikit Catatan Tentang “Stupid Marketing”

Dalam sebuah wawancara kerja untuk posisi marketing manajer, ada dua kandidat yang tersisa. Yang pertama adalah seorang MBA dari sekolah bisnis ternama, dengan fokus pemasaran. Sedangkan kandidat kedua adalah lulusan SMA tapi sudah berpengalaman sebagai salesman.

Jika ada sebuah kontes penjualan yang melibatkan MBA marketing dan orang lulusan SMA, kira-kira siapa yang akan menang? Akhirnya sang penguji memberikan tugas sederhana:

“Tolong jualkan pena ini kepada saya”, sambil menyerahkan sebuah pena yang dipegangnya.

Si MBA Marketing langsung nyerocos dan secara berapi-api menjelaskan fitur dan keunggulan pena yang dijualnya. Dia mengutip angka statistik, quotes tokoh terkenal, dan dengan berbusa-busa membujuk penguji untuk membeli.

Sedangkan kontestan kedua, si lulusan SMA hanya terdiam. Dia mengamati pena itu, mengambilnya, dan memasukkan ke saku jas. Ia kemudian merogoh dompet, lalu berkata:

“Saya punya cek 100 dollar yang akan saya berikan untuk Anda. Tapi saya tidak tahu ejaan nama Anda, bisakah Anda menuliskannya di cek ini?”

“Tapi saya tidak punya pena, boleh saya pinjam?” tanya si penguji.

“Kebetulan sekali, saya sedang menjual pena. Harganya hanya 100 dollar”.

Siklus Kebodohan

Cerita diatas memang hanya karangan saya. Karena berdasarkan pengalaman pribadi, itulah yang terjadi. Para “marketer intelektual” seringkali terjebak dalam menara gading, terlalu suka menganalisa, berteori, mengeluarkan hipotesa. Sedangkan kaum “marketer jalanan” biasanya seperti bajaj: pokoknya jalan, yang penting jualan.

Tentu yang paling baik adalah gabungan keduanya. Marketer yang memiliki landasan berpikir yang kuat, dan juga kemampuan eksekusi yang prima. Yang penting: street smart. Untuk itulah kita memerlukan buku marketing yang juga street smart.

Ketika membaca “Stupid Marketing” karya Sandy Wahyudi dkk, saya terperangah. Buku ini ditulis dengan sederhana, ceria, dan penuh dengan ilustrasi berwarna. Kita kembali diingatkan tentang pentingnya “menjadi bodoh”.

Loh koq jadi bodoh? Iya, kita wajib menjadi bodoh. Tapi bukan asal bodoh hingga menjadi botol : bodoh tolol. Tapi menjadi orang bodoh yang selalu ingin tahu dan berinovasi menciptakan nilai tambah dalam bisnis.

Buku yang ditulis oleh tim dari Universitas Ciputra ini men-highlight “siklus kebodohan”. Siklus ini dimulai dengan menganalisa peluang, melakukan validasi (dengan bantuan teori dan riset), mengoptimalkan ide untuk menciptakan value, menjual ide itu ke pasar, melihat hasil, dan kemudian mengevaluasi sambil kembali ke langkah pertama.

siklus kebodohan
siklus kebodohan

Terkadang marketer melupakan siklus ini. Contohnya saya, ketika ada marketing campaign, pattern-nya sudah bisa ditebak: Bikin marketing plan, Brief agency, beli media, brief ke tim sales dan distribusi, memantau penjualan, siap-siap bikin alasan kalau jualan jeblok, dan laporan ke regional kalau project-nya berhasil (aduh koq jadi curhat).

Bagian berbahanya adalah, saya menjadi kuda delman yang ditutup matanya. Karena melakukan sesuatu, tapi jarang berpikir mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan. Dan lupa mengajukan pertanyaan yang paling penting: apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki apa yang kita lakukan?

Beberapa catatan

Meskipun buku ini dituliis dengan sederhana dan menarik, ada beberapa catatan:

  1. Buku ini lebih ke panduan berpikir sebagai marketer yang ideal, dan bukan “how to create marketing plan”. Pembahasan tidak terlalu teknis dan sangat umum.
  2. Terlalu banyak simplifikasi. Contohnya pada bagian penetrate market, Anda tidak bisa hanya mengandalkan social media saat semua brand melakukan hal yang sama tapi dengan eskalasi budget yang lebih gila
  3. Kurangnya study case yang aplikatif. Karena rata-rata pembahasan sangat umum dan jikapun ada contoh, lebih ke sesuatu yang parsial. Saran saya penulis bisa menambahkan study case dimana ada perusahaan yang menerapkan “siklus kebodohan” dari awal hingga akhir

Tapi tetap saja, buku ini menarik untuk dibaca. Terutama bagi marketer, mahasiswa, pebisnis, dan pecinta pemasaran. Formatnya yang sederhana, ringan, dan penuh ilustrasi pasti membuat mata betah untuk menyelesaikan 156 halaman yang ada.

Saya sangat berharap akan lebih banyak buku ekonomi bisnis kita yang ditulis dengan gaya “Stupid Marketing” (jujur saja, saya berdoa agar bisa menulis buku seperti itu).

Agar masyarakat kita sadar jika pengetahuan itu sama pentingnya seperti makanan. Mereka yang tidak makan, akan mati. Mereka yang tidak belajar, pikirannya akan mati.

Stay fool. Stay hungry.

Cover buku, sumber: gramedia.com

Silahkan tinggalkan alamat jika ingin membaca buku ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cara Cepat Membaca Buku

Sejak melangsungkan ritual reproduksi yang dibalut aturan sosial kelembagaan bernama pernikahan, saya sudah sangat jarang membagi-bagi buku. Padahal aturan saya tetap sama: pengetahuan itu berasal dari Tuhan dan wajib dibagikan demi kepentingan kemanusiaan.

Nah, masalahnya Pipi Kentang suka menyuruh saya nahan buku yang akan dibagikan. Alasannya klasik tapi ga asyik: dia belum baca. Padahal buku sudah memenuhi rak. Di rumah biasanya ada 4-5 judul baru setiap bulan dan kami tetap tidak tertarik untuk membeli TV.

Oke, saya sengaja menulis tips membaca cepat agar si Pipi Kentang tidak terlalu lama menahan buku yang belum dibaca. Tips ini murni berdasarkan pengalaman pribadi tanpa teori sana-sini, dan juga khusus untuk non fiksi. Agak susah jika diterapkan ke prosa dan puisi.

  1. Baca apa yang Anda suka

Aturan pertama dan utama: Jangan pernah membaca karena dipaksa! Membaca karena terpaksa seperti sebuah pemerkosaan intelektual: sakit dan menimbulkan trauma! Pokoknya sakitnya tuh disini! (sambil nunjuk kepala dan bukan selangkangan).

Salah satu alasan rendahnya minat baca kita adalah karena sejak masa sekolah dipaksa untuk membaca buku pelajaran yang berat dan membosankan. Akibatnya banyak dari kita yang beranggapan jika membaca itu belajar. Padahal membaca itu sebenarnya rekreasi dan sebuah hiburan.

  1. Pilih buku yang bermutu

Anda tau GIGOLO? Bukan yang sama tante-tante. GIGOLO itu singkatan Garbage In Garbage Out = Low Optimization. Tidak semua buku itu baik. Ada yang sehat, dan ada yang sampah. Hemat waktu Anda dengan hanya mengkonsumsi buku-buku baik. Apa tanda buku baik? Temanya menarik, enak dibaca, ditulis dengan runtut, mudah dimengerti, juga tidak berisi kebohongan dan kebencian.

  1. Jangan baca semuanya

Iya itu kunci membaca cepat. Kata pengantar ga usah dibaca. Cukup cover, backcover, daftar isi, lalu boleh ke pendahuluan. Coba cerna apa ide besar yang ingin disampaikan penulis. Buka halaman yang menarik perhatian Anda. Tidak perlu urut. Langsung ke belakang juga boleh. Baca yang paling membuat penasaran.

  1. Apa yang ingin dikatakan penulis? Lupakan data dan angka

Buka halaman dengan cepat untuk setiap bab. Cari apa yang ingin disampaikan penulis. Biasanya ditulis awal atau akhir bab. Di tengah bab biasanya hanya data atau teori pendukung. Anda boleh membaca jika tertarik. Jika tidak, yang penting Anda tahu apa gagasan yang ditulis.

  1. Bisa karena biasa

Semakin lama Anda membaca, maka kecepatan bacaan akan semakin bertambah. Ukurannya word per minutes. Rata-rata dari kita memiliki kecepatan 300-400 wpm. Seiring waktu, bisa meningkat menjadi 700-800 kata per menit. Jika dalam satu halaman ada 600 kata, maka buku setebal 250 halaman akan tandas dalam waktu 5 jam saja.

Sebenarnya ada beberapa teknik untuk meningkatkan kecepatan membaca. Seperti crunching, meta guiding, associating, dan sebagainya. Tapi bagi saya terlalu ribet. Udah lah, baca saja dengan cara yang paling nyaman. Lama kelamaan akan tambah cepat juga.

Untuk buku sastra dan puisi, saya tidak menyarankan speed reading. Karena puisi itu seperti es krim, lebih enak dinikmati dengan tenang, perlahan, dan penuh perhatian. Untaian kata mutiara akan menjadi tidak bermakna jika dibaca tergesa-gesa.

Demikian sedikit tips dari saya, Ada yang punya tips lain?

Btw, ada Norwegian Wood-nya Haruki Murakami yang siap saya bagikan. Silahkan tinggalkan alamat di komentar.

92e97b1a251e79d6fa44fe0b064fcfb4

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail