Category Archives: Bookep

All about book, from resume to free book to gift!!!

Gilanya Penjara Indonesia

 

Percayakah Anda dengan pernyataan dibawah ini:

  • Anda bisa mengelola bisnis narkoba dari dalam penjara
  • Kangen kehangatan wanita? Cukup panggil istri atau gunakan jasa prostitusi sambil sewa ruang besuk milik sipir
  • Banyak penipuan “mama minta pulsa” kepada orang umum yang dilakukan oleh tahanan

Jika Anda tidak percaya dengan semua point diatas, sebaiknya Anda membaca “Surat-Surat dari Balik Jeruji” yang ditulis Zeng Wui Jian, napi kasus narkoba yang 2 tahun ngamar di 4 penjara berbeda. Pedihnya siksaaan fisik dan batin di penjara membuatnya menulis kepada Jaya Suprana yang kemudian membukukannya.

cover bukunya

Kesan saya setelah membaca curhatannya: beruntunglah jika kita belum pernah dipenjara. Tidak ada penjara Indonesia yang manusiawi. Kapasitas penjara pasti overload, hukum yang penuh jebakan batman dengan tujuan memeras dompet, dan juga seringnya tindak kekerasan antar narapidana.

Setidaknya ada tiga hal yang membuat saya geleng-geleng kepala.

UUD

Didalam penjara, berlaku filosofi UUD yang sama. Ujung-ujungnya Duit. Ingin dapat sel yang “hanya” diisi 8 orang? Setor 3 juta. Kalo ga mau? Silahkan menikmati kehangatan sel yang diisi 20 orang. Disana handphone dilarang. Tapi di beberapa rutan, dengan iuran mingguan 200rb, Anda diperbolehkan menggenggam hape touchscreen terbaru.

Mendapat kiriman uang dari keluarga saat besuk? Jangan harap Anda terima 100%. Ada banyak pihak yang harus Anda sedekahkan, bisa menerima 80% saja sudah untung.

Bisnis Dalam Penjara

Kata siapa penjara menghalangi bisnis Anda? Karena justru banyak kasus perdagangan narkoba dikendalikan dari dalam terali besi. Bermodalkan HP, bandar besar memerintahkan produksi, mencari supplier, dan memasarkan barang haram itu dari dalam penjara. Bahkan di beberapa rutan, para napi bisa mengedarkan narkoba kesesama napi lain.

Selain itu, bisnis jasa transfer uang juga berkembang pesat. Para napi bisa menitipkan uang kepada para sipir yang meminta fee sampai 10%. Tak ketinggalan juga “bisnis receh” macam kopi, dan rokok yang merupakan food and beverages best seller diseluruh rutan.

Gledek

Yang membikin saya merinding: banyak penipuan dilakukan oleh bang napi. Bermodalkan hape, koneksi internet, dan kemampuan sepik-sepik, narapidana bisa “menggoyang” orang baik-baik diluar sana. Contoh klasiknya: penipuan pulsa.

Modus operandinya sederhana: bang napi akan membangun koneksi dengan calon korban. Bisa dengan pura2 nelpon ngaku teman, atau dengan profil palsu di facebook. Setelah akrab, si calon korban akan dimintai tolong. Biasanya berhubungan dengan penegak hukum.

Contohnya kejadian tanggal 4 Agustus 2015.

Si korban bernama Rano digarap oleh napi bernama Boyor. Ia mengaku Jarwo, teman lamanya yang jadi pelaut (si Rano sendiri yang menduga-duga). Nah ceritanya Jarwo lagi di kantor polisi kena razia, ia minta Rano membantu nego ke polisi (diperankan napi lain bernama Ade).

Polisi mau melepas Jarwo dengan satu syarat: duit tilang diganti pulsa. Jarwo menjanjikan komisi 200rb jika Rano mau membantu. Lha koq si Rano setuju. Ia pun bergegas ke Alfamart, mengisi 2 nomor masing-masing 200rb. Tapi ternyata pulsa belum masuk, nomornya keliru. Padahal ttu taktik penipuan “dikecot” dengan membuat korban salah transfer. Akhirnya Rano mengirim lagi 200rb. Total 600rb.

Setelah itu Jarwo kembali ke panggung sandiwara dengan meyakinkan uang cash pengganti pulsa sudah ia pegang. Dan ada kabar gembira, ia akan mendapatkan satu hp blackberry karena sudah membantu korps kepolisian.

Tapi ada syaratnya: ia harus suntik pulsa lagi ketiga nomor anggota buser, nanti uangnya diganti. Kali ini narapidana Emi yang mengaku sebagai AKP Wibowo. Mungkin karena iming-iming hape baru, dan seneng dapat kenalan polisi, Rano mengisi lagi 3 nomor dengan nilai 600rb.

Sebelum pesta berakhir, AKP Wibowo memberikan info teranyar: Tim polisi sedang menuju ke lokasi Rano untuk memberikan bonus. Ia juga diminta berbelanja barang apapun dan akan dibayari saat rombongan polisi sampai ditempatnya. Tak ketinggalan titipan pulsa Brigadir Adi (dimainkan napi lain lagi!) sebesar 600rb.

Total Jendral, Rano yang mengaku pedagang ayam dari Parung harus merogoh 1,8 juta ditambah belanjaan yang ia harap akan dibayarkan. Ia adalah korban “gledekan”, penipuan bermodal omong besar yang dilakukan para tahanan.

Enak DIbaca dan Perlu

Akhir kata, buku ini sedikit membuka rahasia umum tentang mirisnya manajemen Lembaga Pemasyarakatan yang sama sekali tidak memasyarakatkan manusia didalamnya. Anda akan mengerti kenapa keributan kecil antar napi bisa merembet ke tawuran masal antar gang. Atau kenapa banyak sipir yang “main mata” dengan para narapidana. Ditulis dengan bahasa ringan tapi berbobot, saya merekomendasikan untuk membacanya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jika Semuanya ada di Internet, Apakah kita Masih Perlu Buku?

Kemarin saya berkunjung ke Big Bad Wolf Surabaya. Itu lho, pameran buku-buku impor yang sebelumnya digelar di ICE BSD. Waktu di Jakarta, karena masalah jarak dan waktu yang memisahkan kita, saya males datang kesana. Pas pulang ke rumah ortu kali ini lha koq pas ada.

posternya
posternya

Saya datang bersama teman, si Dimas. Acaranya sendiri diadakan di Jatim Expo Center, gedung serba guna di deket Graha Pena Surabaya. Ketika saya datang Sabtu sore, suasana sudah rame. Banyak orang nenteng kantong belanjaan gede-gede penuh dengan buku.

Tapi kan sekarang abad digital, apa masih relevan membaca buku?

Anjuran ‘bacalah’ sudah ga laku dan kurang gaul. Ngapain harus cari buku (atau ebook), buka-buka halaman sambil melototin huruf kecil2 yang bikin pusing? Udah lama, ribet, eh belum tentu nemu jawabannya :D.

Mencari informasi di halaman web (entah website, blog, social media, forum dll) terbukti mampu memberikan informasi yang kita inginkan dalam hitungan detik. Sebutannya sudah ‘flash’ dan bukan lagi instant. Karena instant butuh waktu 3 menit dan 200 ml air panas. Oh klo itu memang mie instant.

Apa yang salah dengan mencari informasi lewat browsing? Toh internet sudah menjadi perpustakaan dunia yang merekam segala informasi yang ada. Pingin tahu jarak bumi ke matahari? Tinggal browsing. Pingin tahu nama latin kodok? Tinggal ketik di google. Pingin tahu judul bokep di videotron tempo hari? Ga perlu tanya tetangga. Cukup ketik keyword yang sesuai.

Terus apanya yang salah donk? Sejujurnya ga ada yang salah. Yang salah sih yang ngeracun si Mirna. Lah koq ngomongin sidang kopi.

Gathering information through browsing are great, tapi jika tidak berhati-hati setidaknya ada tiga bahaya yang mengancam para “flash information seeker” (mereka yang ingin dapat informasi dalam sekejap). Tiga advantage yang menurut saya hanya didapat lewat “deep reading” melalui buku/ebook dan membuatnya tak tergantikan oleh website.

#1 Web give you faster information, a good book give you robust information.

It is debatable. Tapi Hoax menyebar begitu cepat lewat web daripada lewat buku. Mengapa? Karena tidak ada filter informasi. Besok saya bisa menulis teori tentang cara diet menurunkan berat badan menggunakan lemak ayam lewat blog saya. Tak ada yang me-recheck apakah informasi yang saya tulis benar atau salah. Filter hanya ada di pembaca yang mempertanyakan: ini masuk akal ga?

Berbeda dengan buku. Untuk menulis sebuah buku seorang penulis harus melewati berbagai filter. Mulai dari penyunting naskah, editor, hingga penerbit yang mempertaruhkan kredibilitasnya. Konsekuensinya? Validitas bisa lebih dipertanggungjawabkan. Tapi kita juga harus hati-hati, ada penerbit abal2 yang sengaja menerbitkan buku demi mengejar keuntungan lewat sensasi.

#2 Web only surfing the surface, a good book give us deeper understanding

Ketika mencari informasi via web baik itu lewat website atau blog, penulis content akan berusaha menyajikan informasi seringkas mungkin. Karena mereka tahu jika pembaca hanya punya waktu terbatas dan tidak ada guna untuk menulis semuanya.

Implikasinya, terkadang web hanya menyentuh rangkuman permukaan. Ia tidak sempat memberikan ruang yang lebar untuk pembangunan argumen dan logika. Informasi di internet dapat menjabarkan “What” dan “How”, tapi belum tentu bisa menjelaskan “Why” dengan baik.

Contohnya saat saya ingin tahu lebih jauh tentang kapitalisme vs marxisme. Hanya mengandalkan ulasan orang di web takkan membawa pemahaman yang mendalam tanpa membaca buku-buku yang ditulis Adam Smith, Keynes, Friedman, Karl Marx, Engels dan pemikir lain-nya.

Membaca Wikipedia tentang profil seseorang tentu akan jauh berbeda dengan membaca langsung biografi yang lebih lengkap dan menyeluruh. Baca sejarah kemerdekaan Indonesia di web, tentu beda dengan membaca Indonesia Menggugat-nya Soekarno, atau Untuk Negeriku-nya Hatta.

Bahayanya jika Kita terbiasa menelan informasi secara bulat, kita tidak akan terlatih untuk bertanya: Koq bisa gitu? Metodologynya kaya apa? Kenapa bisa lahir teori seperti itu? Kenapa kejadian itu bisa terjadi? Kita hanya tahu “apa” dan “siapa”, tapi lupa mencari tahu “bagaimana” dan “kenapa”.

#3 Web give you engagement, book give you moment of silent

Web memiliki kekuatan di komunikasi dua arah antara penulis content dan juga pembaca. Keistimewaan yang tidak bisa dimiliki sebuah buku. Tapi justru disitu kelebihannya, buku menawarkan keheningan disaat pembaca meresapi materi yang sedang dibacanya. Sifat komunikasi yang dibangun hanya searah membuat pembaca harus menginterpretasi informasi yang masuk dalam dialog diri yang penuh dengan rasa sunyi.

Buku adalah sebuah kapal selam. Ia mengajak pembacanya untuk berpikir lebih dalam, lebih jauh, dan berusaha menyentuh subtansi pengetahuan. Buku yang baik bukan hanya kaya akan informasi, tapi juga mengajak pembacanya bertanya: mengapa ini bisa terjadi? Sebuah perjalanan pikiran yang agak susah ditandingi oleh artikel website yang hanya punya 1000-2000 kata per postingnya.

Kematian Buku?

Sayangnya minat baca Indonesia masih diurutan 60 dari 61 negara berdasarkan hasil survey oleh Central Connecticut State University. Saya sedih sekaligus bersyukur. Sedih karena berarti kualitas pendidikan kita tertinggal jauh, tapi juga bersyukur sambil positive thingking: jangan-jangan masyarakat kita sudah jadi masyarakat multimedia?.

Karena hidup di abad 21 berarti menambah pilihan informasi. Toh Internet, buku/ebook, audiobook, video, dll hanyalah medium penyampaian informasi. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya sendiri percaya buku akan semakin digusur oleh ebook.

Yang penting kita harus menjadi manusia pembelajar. Manusia yang tak pernah lelah bertanya, mencari pengetahuan, dan menyebarkan ilmu untuk kebaikan kemanusiaan. Dan kebetulan, salah satu cara termudah mencari pengetahuan adalah dengan membaca. Karena itulah firman Tuhan yang pertama adalah “bacalah”, dan bukan “tontonlah”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Binatangisme

source image: http://www.eoisabi.org

Pada suatu hari, si Mayor Babi pemimpin peternakan mengadakan rapat akbar. Ia ingin bercerita tentang mimpi yang ia alami. Ia lalu mengumpulkan seluruh hewan di peternakan. Tapi sebelum bercerita, si babi putih yang sudah tua itu mempertanyakan hakikat hidup seekor hewan:

“Sekarang, Kamerad, apa sih, sifat kehidupan kita? Mari kita hadapi: hidup kita ini sengsara, penuh kerja keras, dan pendek. Kita lahir, kita diberi begitu banyak makanan, sehingga menjaga napas dalam tubuh kita, dan di antara kita yang mampu dipaksa kerja dengan seluruh kekuatan kita sampai atom terakhir kekuatan kita; dan segera setelah kegunaan kita berakhir, kita disembelih dengan cara yang keji”.

Dan semuanya gara-gara binatang bernama manusia. Ia menambahkan:

“Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap tikus tanah. Namun, ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri. Tenaga kami untuk membajak tanah, kotoran kami untuk menyuburkan tanah, tetapi tak satu pun dari kami memiliki tanah seluas kulit kami”.

Setelah berhasil mengobarkan semangat penghuni peternakan, ia lalu bercerita jika semalam bermimpi mendengar lagu “binatang Inggris”. Lagu terlarang dari zaman yang terlupakan. Nyanyian yang berisi mimpi kemerdekaan binatang dari perbudakan manusia. Semacam ramalan: akan ada suatu masa dimana semua binatang tak lagi harus tersiksa.

Binatangisme

Tiga hari setelah rapat akbar, Mayor tua meninggal dunia. Tapi ide-nya terus tumbuh dan lagu “binatang Inggris” terus dinyanyikan setiap malam. Para babi penerus ide sang mayor mulai berkumpul dan merumuskan ajaran “binatangisme”. Sebuah weltanschauung, pandangan hidup. Ajaran kesetaraan antar binatang, larangan bermusuhan, dan ajakan memusuhi manusia. Bahkan binatangisme juga tidak memperbolehkan para binatang untuk meminum alkohol.

Ajaran binatangisme disambut baik karena disaat yang sama, Pak Jones, si pemilik peternakan mulai tidak memperhatikan kesejahteraan hewan ternaknya. Terlalu banyak mabuk-mabukan membuatnya sering terlambat memberi pakan, kandang tak terawat, dan para ternak yang awalnya mendukung hidup dibawah perlindungan manusia, mulai tidak puas.

Sampai pada suatu hari, pemberontakan itu terjadi. Pak Jones yang teler berat tiba-tiba diserang oleh kuda kesayangannya, Boxer. Ia menendang-nendang. Tak lupa para biri-biri, babi, ayam, itik, dan sapi turut menyerang kabin-nya. Pak Jones yang malang kemudian melarikan diri, dan mulai hari itu peternakan binatangisme telah berdiri. Dari hewan, oleh hewan, dan untuk hewan. Masa kejayaan para binatang akhirnya datang.

Tapi ternyata permasalahan tidak selesai sampai disitu. Dua babi pemimpin binatangisme, Snowball dan Napoleon terlibat persaingan politik. Mereka berusaha saling mempengaruhi. Snowball memiliki gagasan untuk membuat kincir angin sebagai penggerak mesin sehingga mereka bisa bekerja lebih ringan, sedangkan Napoleon menganggap ide itu adalah pembuangan tenaga dan terlalu mirip dengan teknologi manusia.

Sampai pada suatu rapat, para binatang terbagi dalam dua kubu yang sama-sama kuat. Saat voting akan dilakukan, tiba-tiba muncul anjing herder peliharaan Napoleon. Anjing lalu menyerang Snowball dan membuat babi cerdas itu lari tunggang langgang meninggalkan peternakan. Sejak itu tirani baru lahir.

Napoleon membuat keputusan mengangkat dirinya sebagai pemimpin peternakan. Ia juga menetapkan kaum babi tidak perlu bekerja karena mereka adalah pemikir dan pembuat sistem. Yang lebih anehnya lagi, Napoleon memerintahkan pembangunan kincir angin dan menuduh Snowball telah mencuri ide itu darinya.

Menjadi Manusia

Cerita diatas adalah cuplikan Animal Farm karya George Orwell. Orwell seperti sedang menertawakan prilaku “kebinatangan” yang sering dilakukan manusia. Tapi apakah selamanya binatang lebih buruk dari manusia?

Belum tentu. Karena terkadang manusia bisa lebih binatang dari binatang itu sendiri. Saya belum pernah melihat ular yang tetap makan meski perutnya kenyang. Sedangkan manusia? Berapa dari kita yang terus memasukkan makanan meski perut sudah terisi?

Saya tak pernah mendengar berita ada macan yang menggauli macan lain yang masih kecil. Manusia? Sudah berapa banyak berita pedophilia menghiasi layar gadget Anda? Untuk hewan yang hidup berkelompok, saya juga belum pernah melihat ada pemimpin binatang yang korupsi dan menyembunyikan makanan untuk dirinya sendiri. Manusia? Saya tak perlu bercerita.

Karena itulah, kita perlu berpuasa. Puasa adalah pelajaran menjadi manusia. Dengan menahan nafsu, ternyata dapat menjadi penyentuh kalbu. Saat membantu sesama lewat zakat, kita sesungguhnya sedang membersihkan jiwa dengan berkat.

Dalam akhir cerita Orwell, Napoleon menerima tamu Pak Pilkington dari peternakan tetangga. Pertemuan yang awalnya ramah, tiba-tiba menjadi pertengkaran seru gara-gara permainan kartu. Clover, kuda tua kesayangan Pak Jones, datang untuk melihat sumber keributan itu. Begitu kagetnya ia saat melihat kedalam. Ia tak bisa membedakan mana binatang, dan mana manusia.

Karena manusia baru bisa menjadi manusia saat ia mampu menguasai nafsu yang ada di dalam dirinya.

Selamat berpuasa. Selamat belajar menjadi manusia.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Sedikit Catatan Tentang “Stupid Marketing”

Dalam sebuah wawancara kerja untuk posisi marketing manajer, ada dua kandidat yang tersisa. Yang pertama adalah seorang MBA dari sekolah bisnis ternama, dengan fokus pemasaran. Sedangkan kandidat kedua adalah lulusan SMA tapi sudah berpengalaman sebagai salesman.

Jika ada sebuah kontes penjualan yang melibatkan MBA marketing dan orang lulusan SMA, kira-kira siapa yang akan menang? Akhirnya sang penguji memberikan tugas sederhana:

“Tolong jualkan pena ini kepada saya”, sambil menyerahkan sebuah pena yang dipegangnya.

Si MBA Marketing langsung nyerocos dan secara berapi-api menjelaskan fitur dan keunggulan pena yang dijualnya. Dia mengutip angka statistik, quotes tokoh terkenal, dan dengan berbusa-busa membujuk penguji untuk membeli.

Sedangkan kontestan kedua, si lulusan SMA hanya terdiam. Dia mengamati pena itu, mengambilnya, dan memasukkan ke saku jas. Ia kemudian merogoh dompet, lalu berkata:

“Saya punya cek 100 dollar yang akan saya berikan untuk Anda. Tapi saya tidak tahu ejaan nama Anda, bisakah Anda menuliskannya di cek ini?”

“Tapi saya tidak punya pena, boleh saya pinjam?” tanya si penguji.

“Kebetulan sekali, saya sedang menjual pena. Harganya hanya 100 dollar”.

Siklus Kebodohan

Cerita diatas memang hanya karangan saya. Karena berdasarkan pengalaman pribadi, itulah yang terjadi. Para “marketer intelektual” seringkali terjebak dalam menara gading, terlalu suka menganalisa, berteori, mengeluarkan hipotesa. Sedangkan kaum “marketer jalanan” biasanya seperti bajaj: pokoknya jalan, yang penting jualan.

Tentu yang paling baik adalah gabungan keduanya. Marketer yang memiliki landasan berpikir yang kuat, dan juga kemampuan eksekusi yang prima. Yang penting: street smart. Untuk itulah kita memerlukan buku marketing yang juga street smart.

Ketika membaca “Stupid Marketing” karya Sandy Wahyudi dkk, saya terperangah. Buku ini ditulis dengan sederhana, ceria, dan penuh dengan ilustrasi berwarna. Kita kembali diingatkan tentang pentingnya “menjadi bodoh”.

Loh koq jadi bodoh? Iya, kita wajib menjadi bodoh. Tapi bukan asal bodoh hingga menjadi botol : bodoh tolol. Tapi menjadi orang bodoh yang selalu ingin tahu dan berinovasi menciptakan nilai tambah dalam bisnis.

Buku yang ditulis oleh tim dari Universitas Ciputra ini men-highlight “siklus kebodohan”. Siklus ini dimulai dengan menganalisa peluang, melakukan validasi (dengan bantuan teori dan riset), mengoptimalkan ide untuk menciptakan value, menjual ide itu ke pasar, melihat hasil, dan kemudian mengevaluasi sambil kembali ke langkah pertama.

siklus kebodohan
siklus kebodohan

Terkadang marketer melupakan siklus ini. Contohnya saya, ketika ada marketing campaign, pattern-nya sudah bisa ditebak: Bikin marketing plan, Brief agency, beli media, brief ke tim sales dan distribusi, memantau penjualan, siap-siap bikin alasan kalau jualan jeblok, dan laporan ke regional kalau project-nya berhasil (aduh koq jadi curhat).

Bagian berbahanya adalah, saya menjadi kuda delman yang ditutup matanya. Karena melakukan sesuatu, tapi jarang berpikir mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan. Dan lupa mengajukan pertanyaan yang paling penting: apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki apa yang kita lakukan?

Beberapa catatan

Meskipun buku ini dituliis dengan sederhana dan menarik, ada beberapa catatan:

  1. Buku ini lebih ke panduan berpikir sebagai marketer yang ideal, dan bukan “how to create marketing plan”. Pembahasan tidak terlalu teknis dan sangat umum.
  2. Terlalu banyak simplifikasi. Contohnya pada bagian penetrate market, Anda tidak bisa hanya mengandalkan social media saat semua brand melakukan hal yang sama tapi dengan eskalasi budget yang lebih gila
  3. Kurangnya study case yang aplikatif. Karena rata-rata pembahasan sangat umum dan jikapun ada contoh, lebih ke sesuatu yang parsial. Saran saya penulis bisa menambahkan study case dimana ada perusahaan yang menerapkan “siklus kebodohan” dari awal hingga akhir

Tapi tetap saja, buku ini menarik untuk dibaca. Terutama bagi marketer, mahasiswa, pebisnis, dan pecinta pemasaran. Formatnya yang sederhana, ringan, dan penuh ilustrasi pasti membuat mata betah untuk menyelesaikan 156 halaman yang ada.

Saya sangat berharap akan lebih banyak buku ekonomi bisnis kita yang ditulis dengan gaya “Stupid Marketing” (jujur saja, saya berdoa agar bisa menulis buku seperti itu).

Agar masyarakat kita sadar jika pengetahuan itu sama pentingnya seperti makanan. Mereka yang tidak makan, akan mati. Mereka yang tidak belajar, pikirannya akan mati.

Stay fool. Stay hungry.

Cover buku, sumber: gramedia.com

Silahkan tinggalkan alamat jika ingin membaca buku ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cara Cepat Membaca Buku

Sejak melangsungkan ritual reproduksi yang dibalut aturan sosial kelembagaan bernama pernikahan, saya sudah sangat jarang membagi-bagi buku. Padahal aturan saya tetap sama: pengetahuan itu berasal dari Tuhan dan wajib dibagikan demi kepentingan kemanusiaan.

Nah, masalahnya Pipi Kentang suka menyuruh saya nahan buku yang akan dibagikan. Alasannya klasik tapi ga asyik: dia belum baca. Padahal buku sudah memenuhi rak. Di rumah biasanya ada 4-5 judul baru setiap bulan dan kami tetap tidak tertarik untuk membeli TV.

Oke, saya sengaja menulis tips membaca cepat agar si Pipi Kentang tidak terlalu lama menahan buku yang belum dibaca. Tips ini murni berdasarkan pengalaman pribadi tanpa teori sana-sini, dan juga khusus untuk non fiksi. Agak susah jika diterapkan ke prosa dan puisi.

  1. Baca apa yang Anda suka

Aturan pertama dan utama: Jangan pernah membaca karena dipaksa! Membaca karena terpaksa seperti sebuah pemerkosaan intelektual: sakit dan menimbulkan trauma! Pokoknya sakitnya tuh disini! (sambil nunjuk kepala dan bukan selangkangan).

Salah satu alasan rendahnya minat baca kita adalah karena sejak masa sekolah dipaksa untuk membaca buku pelajaran yang berat dan membosankan. Akibatnya banyak dari kita yang beranggapan jika membaca itu belajar. Padahal membaca itu sebenarnya rekreasi dan sebuah hiburan.

  1. Pilih buku yang bermutu

Anda tau GIGOLO? Bukan yang sama tante-tante. GIGOLO itu singkatan Garbage In Garbage Out = Low Optimization. Tidak semua buku itu baik. Ada yang sehat, dan ada yang sampah. Hemat waktu Anda dengan hanya mengkonsumsi buku-buku baik. Apa tanda buku baik? Temanya menarik, enak dibaca, ditulis dengan runtut, mudah dimengerti, juga tidak berisi kebohongan dan kebencian.

  1. Jangan baca semuanya

Iya itu kunci membaca cepat. Kata pengantar ga usah dibaca. Cukup cover, backcover, daftar isi, lalu boleh ke pendahuluan. Coba cerna apa ide besar yang ingin disampaikan penulis. Buka halaman yang menarik perhatian Anda. Tidak perlu urut. Langsung ke belakang juga boleh. Baca yang paling membuat penasaran.

  1. Apa yang ingin dikatakan penulis? Lupakan data dan angka

Buka halaman dengan cepat untuk setiap bab. Cari apa yang ingin disampaikan penulis. Biasanya ditulis awal atau akhir bab. Di tengah bab biasanya hanya data atau teori pendukung. Anda boleh membaca jika tertarik. Jika tidak, yang penting Anda tahu apa gagasan yang ditulis.

  1. Bisa karena biasa

Semakin lama Anda membaca, maka kecepatan bacaan akan semakin bertambah. Ukurannya word per minutes. Rata-rata dari kita memiliki kecepatan 300-400 wpm. Seiring waktu, bisa meningkat menjadi 700-800 kata per menit. Jika dalam satu halaman ada 600 kata, maka buku setebal 250 halaman akan tandas dalam waktu 5 jam saja.

Sebenarnya ada beberapa teknik untuk meningkatkan kecepatan membaca. Seperti crunching, meta guiding, associating, dan sebagainya. Tapi bagi saya terlalu ribet. Udah lah, baca saja dengan cara yang paling nyaman. Lama kelamaan akan tambah cepat juga.

Untuk buku sastra dan puisi, saya tidak menyarankan speed reading. Karena puisi itu seperti es krim, lebih enak dinikmati dengan tenang, perlahan, dan penuh perhatian. Untaian kata mutiara akan menjadi tidak bermakna jika dibaca tergesa-gesa.

Demikian sedikit tips dari saya, Ada yang punya tips lain?

Btw, ada Norwegian Wood-nya Haruki Murakami yang siap saya bagikan. Silahkan tinggalkan alamat di komentar.

92e97b1a251e79d6fa44fe0b064fcfb4

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Rahib yang Menjual Ferrari

edisi bhs indo

Saya membaca The Monk Who Sold His Ferrari secara tidak sengaja. Ketika itu saya sedang sholat di praying room bandara Changi Singapura. Salah satu bandara terbaik dunia ini memang tidak memiliki musholla yang dedicated, tapi mereka menyediakan ruang doa bersama untuk semua penganut agama.

Saya berjamaah dengan bapak-bapak orang Melayu. Dia tanya saya dari mana. Pingin jawab “dari tadi” takutnya ga nyambung. Setelah ngobrol basa yang gak basi, saya akhirnya tahu jika dia bekerja di salah satu toko buku di dalam bandara.

Mainlah kesana, ajaknya. Karena flight saya masih satu jam lagi, saya mengiyakan tawarannya. Lagipula, buku adalah teman terbaik saat menunggu.

Novel Motivasi

Setelah sampai di toko, dia mempersilahkan saya melihat-lihat. Bagi saya, ini adalah kesempatan membaca gratis. Dari berbagai koleksi buku bahasa asing yang ada, saya tertarik pada sebuah buku dengan judul yang unik: The Monk Who Sold His Ferrari. Setelah saya balik ke Indonesia, ternyata edisi terjemahan-nya sudah dicetak sejak September 2014 lalu.

Buku cerita inspirasi ini berkisah tentang seorang pengacara kondang Julian Mantle. Hidupnya sangat sukses, baik dalam karier, ataupun berkeluarga. Punya rumah mewah, dan tentu saja: Ferrari Merah.

Tapi tentu semua yang ada di dunia, hanya sementara. Suatu hari, ada kabar duka. Putrinya kesayangannya meninggal karena kecelakaan. Julian yang sebelumnya sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu bersama keluarga, menjadi merasa bersalah. Dia merasa depresi. Kemudian mencoba menghibur diri lewat minuman keras dan tak butuh waktu lama untuk menghancurkan tubuhnya sendiri: dia terkena serangan jantung ketika sidang.

Disaat keadaan semakin buruk, dia memutuskan untuk pensiun dari dunia hukum, menjual semua asset (termasuk Ferrari kesayangannya) dan pergi ke India untuk hidup yang lebih baik. Ketika dia kembali, dia justru terlihat 10 tahun lebih muda, badan ramping, muka bercahaya, dan menjadi bijaksana. Apa rahasianya?

Cerita Rahasia dari Kaum Bijak Sivana

Dia membagi rahasia hidup bahagianya kepada John, kawan firma hukumnya. Sebuah rahasia yang konon diperoleh dari kaum pertapa Himalaya.

Rahasia yang ada dalam sebuah cerita sederhana:

Kau sedang duduk di tengah taman yang sangat Continue reading Rahib yang Menjual Ferrari

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Bacaan Oktober [Sold Out]

Seperti biasa, tinggalkan alamat jika tertarik buku-buku ini.

1. Daniel Pink, To Sell is Human. Buku tentang seni “menggerakkan” orang lain dan menjual ide. Sold to Desti.

2. 8 x 3 = 25! Bertambah Bijak Setiap Hari. karangan Budi Tanuwibowo. Sold to Vivit.

3. Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya. karangan Dewi Karisma Michellia (karya unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012), kebetulan saya pernah satu training anti korupsi sama penulisnya! 😛 Sold to Helvira Hasan

4. Selimut Debu, Agustinus Wibowo. Buku pertama sebelum Garis Batas dan Titik Nol. Bercerita tentang eksotisme Afghanistan.Sold to Michelle

5. Tribes. Buku penuh provokasi dari Seth Godin. Sold to Ambar

Saya percaya:

Pecinta ilmu bukanlah pengoleksi buku. Karena ilmu diciptakan untuk diamalkan dan disebarkan, bukan untuk disimpan, apalagi dipamerkan.

Dipilih-dipilih…
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Semoga Fikri Dapat Nobel Ekonomi!!!

“Cuk, buku lo berapa juta?”

“Hoi, 49.000”

“Mahal amir. 75 rebu donk”

“Boleh”

“Mana kirimin norek lu”

“Alamat aja dulu”

“Gw beli versi fotokopian ada ga?”

“No rek gampang”

“Wah uda jadi cowok gampangan lu. Gw lupa alamat kos”

“Kantor aja”

“Ntar dikira gratifikasi”

“Taik”

Transekrip (bingung cuk how to say transcript in bahasa) diatas bukanlah rekaman percakapan Menpora yang ketipu beli sepeda fixie, apalagi dialog di video PNS Bandung. Tapi percakapan singkat saya dengan Fikri, salah satu penulis keren favorit saya.

Kenapa saya bilang Fikri keren?

Karena Fikri itu teman kuliah saya. Sedangkan saya kan orang ganteng. Orang ganteng hanya berteman dengan orang keren. Sehingga otomatis, Fikri itu keren. Sungguh silogisme yang agak tidak logis, tapi tetap keren.

Dan Fikri itu salah satu mahasiswa FEB U*M yang paling keren. Jago bolos pas SMA, rambut gondrong, jeans belel, badan kurus junkies. Kalau ke kampus bawa buku kuliah dikira mau ngamen, sedang kalo bawa gitar malah dikira mau kuliah. Fikri ga cuma punya darah seni. Ditubuhnya mengalir air seni.

Absurdity, (judul bukunya pake koma cuy) adalah kompilasi kontemplasi kehidupan penulis dengan nama lengkap Fatihatul Insan Kamil Ramadhani Imama ini (nama Fikri adalah sebuah akronim). Berisi “ke-absurd-an” perjalanan hidupnya seperti ga pernah belajar malah lulus ujian, percintaan yang mengenaskan, suka duka mahasiswa, dan tentu saja fenomena pergaulan bebas kos-kosan Jogja (sekarang zamannya perdagangan bebas, masa pergaulan ga bebas).

Coba baca salah cerita keren fikri:

Karena tidak banyak teman yang memilih melakukan ujian di Jogja, kepergian saya disambut bahagia oleh teman-teman. Seperti biasa, orang Indonesia selalu saja meminta oleh-oleh kalau kerabatnya bepergian.

“Fik, lo mau ke Jogja ya? Beliin gue oleh-oleh dong, Bakpia ya!”

“Iya kalau bisa gue beliin deh buat lo”

“Asik nih ke Jogja! Fik, beliin gue batik dong!”

“Iya nanti kalau sempet gue jalan ke Malioboro”

“Fik, beliin gue lumpia dong”

“Lumpia itu dari Semarang, bego!”

Mereka yang meminta oleh-oleh sepertinya lupa kalau saya pergi ke Jogja bukan untuk pelesir. Saya ujian! Saya ingin melanjutkan pendidikan! Saya ingin berguna bagi bangsa dan tanah air tercinta! Saya ingin Indonesia lebih maju! Saya mengetik ini dengan posisi tangan ke dinding, badan condong miring, posisi kepala menghadap langit, dan sinar matahari menerpa wajah sebelah kiri membentuk siluet yang indah.

Setelah merampungkan absurdity, aksioma alam bawah sadar saya bertambah satu:

Jika fikri bisa menulis buku Teori Portofolio dan Analisis Investasi seperti menulis absurdity, dia pasti dapat nobel ekonomi.

absurdity

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Soso

Terlahir dengan nama Joseph Djugashvili. Pada awalnya sang Ayah adalah pembuat sepatu handal. Namun karena pengaruh pergaulan, dia menjadi pemabuk kasar yang suka memukuli keluarganya. Joseph adalah anak ketiga. Kedua kakaknya, Yakov dan Giorgi, meninggal sewaktu bayi. Tragedi yang membuat sang ayah bersumpah melakukan perjalanan suci ke Geri, demi kesehatan sang bayi.

Soso, panggilan kecil Joseph, adalah anak yang rapuh secara fisik, tetapi sangat cerdas. Suka belajar. Juara kelas dan menjadi favorit guru karena bakatnya di paduan suara sekolah gereja. Hal positif yang ditentang Beso, ayahnya, yang ingin dia menjadi pembuat sepatu seperti dirinya.

Seringkali sang Ayah akan datang ke sekolah untuk marah-marah dan memukuli Soso. Dan para guru akan bekerja sama untuk menyembunyikan dia dan meyakinkan Beso jika Soso tidak ada di sekolah hari ini.

“Mama, biarkan aku pergi sekolah, atau guru Illuridze akan memberiku nilai buruk..”

Rengek Soso suatu hari ketika dia sakit parah tertabrak kereta kuda. Biarpun sakit keras, Soso tetap rindu sekolah.

Berkat kerja keras sang Ibu, Soso bisa masuk seminari dan menjadi calon pendeta. Di sekolah elit itu dia kembali menjadi bintang. Nilai-nilainya mengagumkan. Menjadi pemimpin kelas meski berbadan kecil.

Semangat belajarnya semakin menggebu-gebu. Dia menghabiskan waktu luang dengan membaca dan selalu menyelipkan buku di ikat pinggangnya. Soso selalu membaca. Keke, sang Ibu mencatat jika Soso takkan tidur sebelum dini hari dan akan terus berkutat dengan bacaannya.

“Waktunya tidur” kata Keke, “Tidurlah – sudah mulai fajar”

“Aku sangat suka buku ini, Mama. Aku tidak bisa berhenti membaca..” dan saat intelektualitasnya semakin bergejolak, kesalehannya semakin sirna.

Menjadi Marxist

Soso berkenalan dengan tiga orang anak pendeta – Lado dan Vano Ketskhoveli dan Mikheil Davitashvili. Dari mereka lah Soso mendapat akses ke berbagai “buku terlarang”. Mulai dari Origin of Species dari Darwin, pemikiran Karl Marx, hingga sastra nasionalis Georgia Khevsur’s Motherland karya Eristavi. Buku-buku yang pada akhirnya membuat calon pendeta menjadi seorang penentang Tuhan.

Pada 13 Februari 1892, guru-guru seminari menyuruh anak didiknya untuk menonton hukuman pancung. Tiga pencuri sapi, yang melarikan diri dan membunuh polisi, akan dihukum mati hari ini. Tapi bagi Soso, dia tahu jika ketiga terdakwa ini hanyalah tiga petani yang sudah putus asa ditindas tuan tanah dan melarikan diri ke hutan.

Soso, yang bisa menyanyikan Mazmur dengan sangat indah merasa heran, bukankah Musa berkata: “Kalian dilarang membunuh”?.

Teman-teman seminari-nya berdebat:

“Apakah mereka masuk neraka?”

Soso, yang pada akhirnya menjelma menjadi Stalin sang diktaktor Soviet menjawab yakin:

“Tidak. Mereka sudah dieksekusi dan akan tidak adil jika mereka dihukum lagi”.

Tapi pertanyaan selanjutnya: Jika Tuhan Maha Adil, mengapa ia membiarkan semua ini? Mengapa harus ada Tsar yang menindas rakyat? Mengapa Russia harus menduduki Georgia? Mengapa ada orang miskin disaat ada orang yang menjadi semakin kaya?

“Tuhan tidak adil. Dia tidak benar-benar ada. Kita sudah ditipu. Kalau Tuhan ada, dia akan membuat dunia menjadi lebih adil”. Seru Soso kepada kawannya, Grisha.

Intelektual Seumur Hidup

Membaca biografi Stalin Muda karya Simon Sebag Montegiore ini seperti menemukan sisi lain seorang commissar Soviet. Siapa sangka, Stalin yang memerintahkan pembunuhan ribuan nyawa saat teror besar adalah seorang seniman dan intelektual.

Anda akan mengikuti kisah hidup anak pembuat sepatu yang hampir menjadi pendeta, penyair yang puisinya dibukukan saat masih berumur belasan tahun, pekerja departemen metereologi merangkap agitator, perampok untuk partai, hingga menjadi commissar lengkap dengan berbagai cerita affair Stalin dengan banyak wanita.

Tapi ada yang saya kagumi dari diktator tangan besi ini: semangat belajar yang tak pernah mati. Kemanapun Stalin pergi, dia akan membawa setumpuk buku. Bahkan dia mampu mengubah masa hukuman penjara di Batumi menjadi universitas kecil, dengan jadwal kuliah dan bacaan wajib untuk tahanan lain.

Ketika Stalin mendapat pengasingan ke Siberia dan kemudian pindah ke lingkaran Arktik kutub utara, hal yang dia inginkan tetaplah sama: buku dan pengetahuan baru.

“Temanku,” tulisnya kepada Zinoviev, “Salam hangatku kepadamu.. Aku menunggu buku-buku… Aku juga memintamu untuk mengirimiku beberapa jurnal bahasa Inggris (edisi lama ataupun baru tidak masalah – untuk bacaan saja karena tidak ada bacaan berbahasa Inggris di sini dan aku takut, tanpa berlatih, aku akan kehilangan semua keterampilan bahasa Inggris yang sudah kupelajari).

Kombinasi kecerdasan seorang pemikir dan kekejaman seorang perampok membuat Stalin mampu menyingkirkan musuh-musuhnya dan mendirikan Uni Soviet. Bahkan ketika sudah berusia 70 tahun dan menaklukkan Berlin, Stalin tetaplah seorang pembelajar.

“Lihat aku”, kata Stalin sekitar tahun 1950, “Aku tua dan aku masih belajar”.

Buku-buku perpustakaan Stalin semuanya dengan hati-hati diberi catatan dan coretan kecil. Tanda sering dibuka dan dibaca.

Karena itu izinkan saya meniru Stalin:

“Aku muda dan masih harus banyak belajar”.

yang mau buku ini silahkan tinggalin alamat dibawah ya :) siapa cepet dia dapat
yang mau buku ini silahkan tinggalin alamat dibawah ya 🙂 siapa cepet dia dapat
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Free Book: Kubah by Ahmad Tohari

Cover bukunya

Happy Id Mubarak all 🙂 (gaya sok inggeris hehehe)

Mohon maaf lahir batin, karena ke[sok]sibukan saya, blog ini jadi bolong-bolong update-nya.

Karena baru dateng and lagi males nulis, mau bagi2 buku aja deh. Novel-nya Kubah dari Ahmad Tohari, novel terbaik versi dinas Pendidikan & Kebudayaan taun 1981. Pingin tau kenapa jadi novel terbaik? karena menurut saya novel ini adalah sebuah propaganda anti komunisme! Haha.

Ceritanya tentang Karman yang baru pulang dari pengasingan di Pulau Buru. Ahmad Tohari dengan apik menjelaskan fenomena sosial sebelum G30S PK*, huru-hara yang terjadi, metode rekruitment kader, moda propaganda, dan pergulatan batin Karman tentang Tuhan dan partainya.

Ntar kapan-kapan saya tulis resume yang lebih niat dikit :p

Leave alamat atau email alamat ke: emailnya_yoga@yahoo.com bagi yang minat. Seperti biasa, gratis ongkir.

Oh ya, jangan lupa puasa syawalnya yah :D, boi-boi!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail