Category Archives: Bookep

All about book, from resume to free book to gift!!!

Prinsip-prinsip Sukses Dalam Hidup [Principle by Ray Dalio]

Ray Dalio adalah founder dari ‘hedge fund’ Bridgewater. Apaan tuh Bridgewater alias jembatan air?

Anggep aja dia dukun yang bisa menggandakan duit investor lewat investasi di pasar keuangan (saham, obligasi, index dll).

Saat udah tua, si Ray Dalio tiba-tiba kepikiran: “Anjir, koq gw bisa tajir melintir ya?”

Setelah dipikir-pikir, ia merasa karena punya kebiasaan membuat ‘principle’ dalam kehidupan dan pekerjaan.
Ray Dalio percaya jika semesta adalah mesin raksasa. Yang perlu kita lakukan biar sukses ya menerapkan sistem dan algoritma yang tepat.

Nah, berhubung udah ga butuh duit, ia lalu membagikan prinsip hidupnya dalam buku ini: Principle.

Males baca atau ga punya bukunya? Bisa temukan slide-booknya disini ya:

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Cara Mengubah Kebiasaan Kita

 

Mengapa 80% orang yang diet gagal hanya dalam waktu seminggu*?

Mengapa saat resolusi tahun baru, hanya 19% orang yang mampu melaksanakannya selama 2 tahun**?

Mengapa kita seringkali tetap melakukan kebiasaan buruk, meski tahu kita seharusnya berhenti?

Kita tahu merokok tidak baik untuk kesehatan. Mengapa kita sulit untuk berhenti?

Kita tahu olahraga itu penting. Mengapa kita sangat malas menggerakkan badan?

Kita tahu membaca itu investasi. Mengapa kita tetap memilih menonton gosip dan sinetron?

Jawaban pertanyaan diatas menurut Charles Duhigg adalah: karena kita tersandera oleh kebiasaan (habit).

Kebiasaanlah yang membuat kita bergerak dan melakukan semua rutinitas tanpa perlu berpikir lagi. Ini yang membuat kita langsung membuka aplikasi sosmed saat membuka laptop padahal ada pekerjaan yang harus kita lakukan. 

Kebiasaan pula yang mengarahkan kita untuk membeli es krim coklat meski baru saja makan nasi padang. Bagi yang terbiasa membikin kopi, maka aktivitas pertama yang dilakukan adalah menyeduh secangkir kopi dipagi hari.

Pertanyaannya: apakah kebiasaan buruk bisa dihilangkan?

Jawaban jujurnya: TIDAK BISA!. Kebiasaan tidak bisa dihilangkan karena manusia adalah makhluk yang hidup berdasarkan kebiasaan.

Kabar baiknya: kebiasaan buruk dapat diganti dengan kebiasaan baik.

Dalam The Power of Habit, Duhigg menjelaskan rahasia-nya secara ilmiah.

3 Langkah

Sebelum mengganti kebiasaan, kita harus tahu dulu struktur sebuah kebiasaan. Menurut pakar, ada tiga komponen terciptanya habit:

#1 Cue (pemicu): pencetus lahirnya kebiasaan

#2 Routine (rutinitas): Aktivitas rutin yang dilakukan

#3 Reward: Imbalan yang kita dapatkan setelah melakukan aktivitas itu

Kita ambil contoh kebiasaan ngemil di kantor. 

Lahirnya kebiasaan ngemil seringkali terjadi bukan karena kita lapar, tapi adanya ‘pemicu’ berupa kue yang disediakan gratis oleh kantor. Rutinitasnya tentu saja mamam kue-nya. Dan kita mendapat reward berupa perut kenyang dan lidah yang dimanjakan. 

Lantas bagaimana mengubahkan?

Langkah pertama adalah: mengidentifikasi rutinitas yang ingin kita ubah. 

Sadar jika harus berubah menjadi krusial karena otak kita harus mengerti jika ‘ada sesuatu yang salah’ dengan aktivitas yang sedang kita lakukan. Kalo ga merasa sadar ya pasti ga berubah karena merasa ‘fine-fine’ aja.

Langkah kedua: lakukan eksperiment dengan reward. 

Tujuannya untuk mengubah ‘rutinitas’ sebelum mendapatkan reward. Jika sebelumnya kita absen dan langsung mengambil kue gratis, mungkin sebaiknya kita hanya makan kue setelah mengerjakan 1-2 laporan. Atau apa yang terjadi jika reward berupa kue diganti dengan buah?

Langkah ketiga: Temukan cue, motivasi sebuah kebiasaan

Kenapa kita melakukan apa yang kita lakukan? 

Kenapa kita makan kue di pagi hari? Apakah karena lapar? Atau suka rasa manisnya? Atau karena bengong dan ga tau harus ngapain?

Jika karena lapar, ya coba sarapan terlebih dahulu. Jika hanya suka manisnya, mungkin mengganti kue dengan jus segar yang lebih sehat. Jika karena bengong, mungkin bisa membalas email terlebih dahulu.

Terakhir: mulai berubah. Ciptakan rencana dan laksanakan rencana itu.

Karena Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubahnya sendiri.

Image result for charles duhigg"

 

*https://www.health.com/nutrition/5-reasons-most-diets-fail-within-7-days

**https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2980864

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Detik yang Menentukan

Jika Anda punya resolusi yang belum dicapai tahun ini, maka santai saja. Anda tidak sendiri.

Tapi kira-kira apa yang membuat orang belum mencapai target mereka? Dugaan saya: banyak dari kita yang belum memulai.

Contohnya jika saya punya mimpi jalan-jalan ke Eropa. Saya sudah menuliskannya ke resolusi. Tapi hanya menulis mimpi “jalan-jalan ke Eropa” punya dua permasalahan fundamental.

Pertama, mimpi itu terlalu abstrak dan tidak jelas. Eropa adalah daratan seluas 10,18 juta kilometer persegi. Saya juga tidak menjelaskan berangkat kapan, sendiri atau ikut grup, dan kapan kembalinya.

Kedua, target itu terlalu ‘besar’ tanpa road map yang jelas. Tak ada strategi dan rencana aksi. Bagaimana bisa pergi ke Eropa jika saya tidak tahu apa yang harus dilakukan?

Tanpa ada road map untuk memulai dari mana, kita hanya berputar-putar dalam wacana pergi ke Eropa tanpa mampu mengubahnya menjadi tindakan yang konkret (ujung-ujungnya cuma ke Gembira Loka).

Untungnya pakar strategi punya solusi. Kita harus menciptakan objective yang jelas, disertai key result yang bisa diukur. Itulah fungsi OKR. Objective and key result.

Setelah itu OKR dituruhkan jadi action plan. Tindakan-tindakan yang harus dilakukan. Misal tiga langkah awal ‘Liburan ke Eropa’ adalah:

1. Menentukan tujuan negara dan waktu jalan-jalan

  1. Melakukan survey tiket dan perkiraan biaya
  2. Membuka tabungan khusus

Apakah dengan membuat daftar aksi maka mimpi kita akan terjadi? Tidak semudah itu ferguso!

Prefontal cortex otak kita akan melakukan kalkulasi dan sugesti:

“Emang lu mampu? Hidup masih mulung juga. Mending ditabung cuk… “

Apa yang harus kita lakukan saat menghadapi kondisi seperti ini?

5 Detik

Mel Robbins punya jawaban sederhana: gunakan kekuatan meta-kognisi kita. 

Mahluk apa pula itu meta-kognisi? 

Bahasa sederhananya sih insting. Gunakan pikiran kita untuk mengarahkan insting bertindak. 

Gunakan #5SecondRule.

Premisnya sederhana: 

If you have an instinct to act on a goal, you must physically move within 5 seconds or your brain will kill it.

Jika kita ingin melakukan sesuatu dan setelah 5 detik masih kebanyakan mikir, besar kemungkinan tindakan itu ga jadi kita lakukan.

Contohnya waktu mau nanya nomor telpon cewek/cowok cantik di jalan. Kita ingin sekali bertindak tapi pikiran prefontal cortex kita mencegah:

“Nanti klo ga dikasih gimana? Malu ga sih? Emang siapa situ koq sok kenal?”

Kebanyakan mikir malah ga jalan.

Yang perlu kita lakukan sederhana banget. Berhitung 5..4…3…2..1 dan… berhenti mikir! Langsung gerak samperin dia! Pokoknya harus action! Ga usah dipikir konsekuensinya!

Itulah seni #5SecondRule. Seperti launching roket, kita menggunakan 5 detik untuk memusatkan tindakan dan menghiraukan pikiran sadar kita sendiri. Pokoknya pakai insting untuk melakukan sesuatu.

Aturan ini bisa dipakai saat kita takut memulai sesuatu yang baru, atau ragu-ragu dalam bertindak. Termasuk soal pemenuhan resolusi diri sendiri. 

Banyak orang tidak bisa mencapai target yang mereka inginkan karena mereka belum mulai BERGERAK untuk mencapainya.

Padahal kata kuncinya sederhana: Mulai aja dulu. Just do it.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ini Yang Saya Lakukan Untuk Bekerja Hanya 4 Hari Dalam Seminggu

freepik.com

Apa trend kerja yang patut kita coba di 2020?

Flexy hours? Udah basi.

Remote working? Biasa bingits.

Boleh pakai baju bebas termasuk celana pendekan? Itu Inovasi zaman vintage kawanku.

The new trend is: less workdays!

Semoga bos saya tidak membaca artikel ini. Tapi saya harus membuat pengakuan dosa: Saya hanya bekerja 4 hari dalam seminggu!

Tentu ada banyak faktor kenapa bisa kejadian.

Karena kebetulan saya belajar di perusahaan yang mementingkan hasil. Kebetulan budaya kerjanya bebas mau remote working, work from home, atau pakai sendal jepitan ke kantor. Kebetulan saya tidak berada di divisi yang membutuhkan kehadiran fisik sepanjang waktu.

Ritual less workdays ini terinspirasi dari buku jadul (tahun 2007) yang ditulis Tim Ferriss: 4 Hours Workweek.

Doi mengusulkan solusi yang pasti dicintai semua umat manusia:

a. Kerja cuma 4 jam seminggu

b. Nganggur-senganggur-nganggurnya

c. Tetap dapat duit buat keliling dunia

Secara logika sangat bisa dilakukan dengan:

  1. Menciptakan bisnis dengan sistem yang mapan
  2. Pastikan pengeluaran lebih kecil dari pendapatan

Tim menawarkan perspektif yang berbeda tentang kekayaan. Menurut dia, orang kaya itu bukan orang yang punya banyak uang. Orang kaya adalah orang yang memiliki komuditas yang tak mungkin diciptakan oleh manusia: waktu.

Orang kaya adalah orang yang punya waktu untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan.

Bagaimana caranya?

Framework yang Ia tawarkan adalah D-E-A-L.

D untuk Definition. Tentang mengubah mindset bahwa kekayaan itu bukan berbentuk harta. Tapi waktu yang terekam dalam bentuk ‘moment’. Buat apa punya 1 juta dollar di bank tapi ga pernah menikmati 1 juta dollar itu? Percuma punya villa tapi ga pernah tinggal di villa itu.

E untuk Elimination. Pentingnya hidup ‘sewajarnya’. Minimalis. Tapi bukan missqueen. Ini tentang meninggalkan ‘ilusi kebahagiaan’ berupa kepemilikan barang, penguasaan informasi, status, dan persepsi orang lain terhadap kita.

A untuk Automation. Bagaimana membangun sistem bisnis sehingga Anda tak perlu mengurus bisnis itu sendiri, kekuatan outsourcing, dan pelajaran MBA – Management by Absence.

L untuk Liberation. Berisi tips-tips praktis agar bisa ‘menghilang’ dari kantor tanpa diketahui bos, cara mendapatkan asisten virtual, sampai saran psikologis jika kita sudah menjadi manusia nomad yang bingung harus ngapain untuk mengisi waktu sehari-hari. Menjadi pengangguran berduit ternyata berbahaya secara psikologis!

Aplikasi Saya

Karena saya masih belajar ikut perusahaan orang, tentu ga bisa ekstrim kerja hanya 4 jam. Kecuali klo saya kawin ama nenek investornya yah…

Yang bisa saya lakukan: mengurangi hari kerja menjadi 4 hari. Dengan metode sederhana:

Design and delegate. Di awal tahun, membuat strategi dan action plan aktivitas yang akan dilakukan selama 6 bulan kedepan. Propose ke bos. Approve? Lanjut ke fase delegation. Kira-kira siapa vendor yang bisa mengeksekusi project ini. Dalam day to day basis, fungsi kita hanya sebagai kontroller dan evaluator.

Eliminate. Membuang pekerjaan yang gak berdampak. Penyakit orang kantoran: menganggap banyak kerjaan itu baik. Padahal aslinya biar kelihatan kerja doank. Output tidak sama dengan outcome. Cari critical output yang menghasilkan outcome paling besar.

Automate. Untuk reporting saya menggunakan automate queries. Inilah manfaat belajar data science. Sehingga setiap minggu sistem akan mengirimkan market performance secara otomatis untuk dianalisa. Report juga harus dibikin sederhana. Hanya satu halaman. Analisa detail bisa ditaruh dalam appendix.

Learning. Tim saya membuat perjanjian: sisihkan satu hari dalam seminggu untuk meninggalkan pekerjaan dan fokus untuk belajar. Apa saja. Ga harus berhubungan dengan urusan kantor. Kelihatannya tidak produktif. Tapi percayalah, karyawan yang terus belajar akan menghasilkan metode-metode baru yang pada ujungnya meningkatkan produktivitas perusahaan.

Dengan menerapkan 4 hari kerja saya merasa:

  1. Terpacu untuk bekerja lebih efektif dan efisien
  2. Mengurangi beban pikiran dengan tidak memikirkan ‘low impact activities’
  3. Merasa menjadi manusia yang lebih baik dengan terus belajar sepanjang waktu

Gimana. Penasaran mau coba? Inget pesen Oom Tim:

Most things make no difference. Being busy is a form of laziness—lazy thinking and indiscriminate action. Being overwhelmed is often as unproductive as doing nothing, and is far more unpleasant. Being selective—doing less—is the path of the productive. Focus on the important few and ignore the rest.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cara Membaca Buku 300 Halaman Dalam 2 Jam

Jika ada pilihan: mendapat 5 kg emas atau 5 kg buku rahasia mendapatkan emas. Kira-kira mana yang Anda pilih?

Jika memilih emas, maka saya menduga situ belum jadi orang kaya. (Klo udah kaya ga butuh emas lagi donk haha)

Konon orang yang benar-benar kaya biasanya tahu jika knowledge capital lebih penting dari monetary capital

Warren Buffet menghabiskan 80% waktunya untuk membaca. Qorun berkata jika kekayaannya didapat karena ilmu yang dimilikinya. Sayyidina Ali pernah berpesan: pilihlah ilmu dibanding harta. Karena jika kita memilih harta, kita harus menjaganya. Sedangkan jika kita memilih ilmu, ilmu yang akan menjaga kita.

Tentu yang terbaique adalah mendapatkan keduanya. 

Karena itu bekal yang diberikan Arkad, orang terkaya di Babilonia kepada anaknya, Nomasir. Ia menyuruh anaknya berkelana dan memberinya dua modal: 3 kantong emas dan 5 lempengan tablet berisi kebijaksanaan dalam mencari kekayaan..

Singkat cerita, emasnya habis tidak tersisa. Dan berkat rezeki Tuhan ditambah petunjuk dari tablet (tanah liat, bukan ipad)  itulah sang anak bisa kembali ke ayahnya dan membawa lebih banyak keuntungan. Harus ditambahin cap Tuhannya cuy biar ga dibilang kapir hehe.

Saya ga akan cerita rahasia yang ditulis Arkad. Anda bisa baca sendiri dalam The Richest Man in Babylon karya George Clason.

Saya cuma mau cerita: kita tahu membaca itu penting, tapi bagaimana bisa menyelesaikan buku dalam waktu yang terbatas?

Karena itulah saya iseng-iseng mengikuti training membaca cepat. Katanya sih menjamin buku 300 halaman bisa dituntaskan hanya dengan 2 jam, dengan 100% pemahaman, plus bisa bikin mindmap isi bukunya.

Biaya training full-nya 3 jutaan rupiah. Saya cuma ikut yang setelah hari. Bayar ratusan ribu. Dalam tulisan ini saya akan coba sarikan agar Anda ga perlu bayar sepeser pun. Cukup bayar pake doa hehehe.

Ini dia 3 rahasia membaca 300 halaman dalam waktu 2 jam:

Rahasia 1: Rombak Mindset

Kemalasan orang dalam membaca biasanya terletak pada mindset atau pola pikir. Contohnya:

  1. Membaca itu harus dari awal sampai akhir
  2. Membaca = sekolah
  3. Membaca = belajar

Ini adalah hasil didikan bertahun-tahun dimana kita dibiasakan hanya membaca di sekolah. Buku yang dibaca pun hanya buku pelajaran. Dan dirumah ga ada buku hiburan.

Mindset yang perlu ditanamkan:

  1. Membaca itu memuaskan rasa penasaran
  2. Buku yang dibaca ga harus berat
  3. Kita bebas membaca sesuai dengan gaya kita

Saya pernah menolak calon staff di bidang marketing karena bacaan. Waktu interview saya tanya:

“Buku marketing apa yang terakhir kamu baca?”

Setelah loading 30 detik, dia menjawab “Kotler”. 

Rahasia 2: Jangan Dibaca Semua! Baca yang Penting dengan Cepat!

Ini kunci utamanya. Buku bukan kitab suci. Ia hanya alat untuk menyimpan informasi. Kenapa ga perlu semua? Karena buku setebal 300 halaman biasanya berisi 90rb kata. Jika Anda ingin baca semua, dengan kecepatan kata per menit 200, maka butuh waktu sekitar 8 jam.

Itu full konsentrasi 8 jam. Belum memperhitungkan gangguan, distraksi, atau rasa bosan menghampiri. Ini yang membuat orang malas menuntaskan sebuah buku. Kesannya lama dan berat.

Lha terus piye ngerti isi bukune klo ga perlu dibaca semua? Step by stepnya seperti ini:

  1. Berdoa sebelum membaca. Mintalah kemudahan kepada Tuhan
  2. Pastikan posisi baca ergonomis dan kondisi nyaman +  rileks
  3. Start with Why. Kenapa kita ingin baca sebuah buku
  4. Find What. Baca daftar isi. Cari bagian yang ingin kita ketahui
  5. Pake metode skimming / speed reading / photo reading. Klo saya: Hanya baca paragraph awal/akhir, dan perhatikan ide kunci dari sebuah paragraph..
  6. Tingkatkan Kata per menit (KPM). Semakin tinggi KPM Anda, semakin cepat kelar bacanya. Ini masalah jam terbang. Ga usah dipikir. Semakin sering baca, KPM semakin tinggi.
  7. Membaca untuk mengeksplorasi. Coret-coret bagian yang Anda anggap penting. Tulis ide inti yang ingin disampaikan penulis. Tinggalkan bookmark untuk dibuka lagi. Jika menggunakan kindle, gunakan fungsi highlight/notes sebanyak mungkin.
  8. Ga usah dipaksa. Dibawa enjoy aja. Tapi tetapkan target minimal 1 bab. Kenapa? Agar agar progress. Biasanya ga lama koq. Antara 5-10 menit tergantung RPM dan kecanggihan kita dalam skimming 
  9. Setelah selesai 1 buku biarkan mengendap sehari

Rahasia 3: Membaca Untuk Mencari dan Berbagi

Ilmu terkadang seperti adonan. Ia perlu diendapkan agar masuk ke alam bawah sadar. Setelah diistirahatkan, maka ilmu perlu dikembangkan.

Sehari setelah dibaca cepat, maka kita WAJIB ‘mengikat makna’ (meminjam istilah almarhum Hernowo) isi buku yang kita baca.. Karena percuma juga membaca 1000 halaman tapi ga ngerti apa yang kita baca.

Cara paling mudah. Tulis dalam mindmap. Klo naik level bisa dalam bentuk artikel. Ga perlu berat2. Bisa kaya artikel ga penting seperti yang Anda baca ini. Klo punya banyak waktu, bisa sharing dalam bentuk video.

Percayalah, bagian terpenting dari proses belajar adalah mempraktikkan apa yang kita pelajari. 

Pengetahuan baru menjadi kebijaksanakan setelah dilaksanakan. Dan satu paragraf ilmu yang dipraktikan jauh lebih berharga dari 1.000 halaman buku yang hanya dihafalkan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Educere

Beberapa waktu lalu saya kumpul-kumpul dengan teman-teman. Dan seperti biasa, selain update masalah kehidupan, kita saling bertanya soal anak dan keluarga.

Termasuk soal pendidikan.

Seorang teman mengkhawatirkan soal mahalnya biaya pendidikan anak-anak zaman future (bukan now lagi bosku).

Uang pangkalnya puluhan juta, belum SPP yang nilainya mirip SPP kuliah saya dulu haha.

Yang membuat saya tersadar adalah, stigma yang mengasosiasikan jika pendidikan berarti sekolah.

Apakah tanpa sekolah seorang manusia bisa mendapatkan pendidikan?

Kebetulan saya baru saja menyelesaikan “Educated” dari Tara Westover. Memoar dari seorang ahli sejarah PhD Cambridge yang anehnya, tidak pernah mengenyam bangku sekolah hingga umur 16 tahun!

Sejarah hidup Tara sendiri unik. Dibesarkan oleh keluarga Mormon yang fanatik, Ayahnya menderita schizophrenia dan hidup dalam halusinasi tentang illuminati, konspirasi, dan semakin dekatnya hari kiamat.

Mereka anti pemerintah, tidak percaya dokter, dan bahkan tidak mengurus akte kelahiran anak-anak mereka.

Ayahnya seorang pedagang rongsokan dan kontraktor partikelir. Ibunya bekerja sebagai bidan ilegal. Lalu banting setir menjadi herbalis pengobatan tradisional setelah kecelakaan mobil hebat yang hampir menewaskan keluarga mereka.

Tak ada musik pop. Buku-buku bacaan yang ada hanya alkitab. Pendidikan yang diajarkan hanya baca tulis hitung sederhana. Kata sang Ayah, sekolah adalah alat illuminati untuk mencuci otak kaum muda.

“A man can’t make a living out of books and scraps of paper”.

Untung tak semua kakaknya tahan dengan kultur keluarga anti mainstream ini. Menginjak remaja, dua kakaknya minggat. Lalu menyusul anak ketiga, ingin sekolah.

Anak ketiga ini, Tyler, yang kemudian mengompori Tara untuk belajar. Mandiri. Tanpa diawasi.

Diberikannya buku-buku. Disuruhnya Tara ikut ACT. Test untuk masuk perguruan tinggi. Ijazahnya gimana? Dalam essay application ditulis: Tara mendapat pendidikan home schooling.

Tara sendiri mengisahkan perjuangannya belajar matematika, trigonometri, atau aljabar. Senjatanya cuma satu: kesabaran membaca meski ia tidak mengerti juga.

“The skill I was learning was a crucial one, the patience to read things I could not yet understand”.

Singkat cerita, dia lulus dan diterima di BYU (Bright Young University). Ajaibnya lagi, studinya lancar dan mendapatkan beasiswa ke Cambridge hingga menggenggam gelar PhD!.

Saya jadi tersadar, yang terpenting dari pendidikan bukan tentang INSTITUSI pendidikan. Tapi bagaimana bisa menghasilkan manusia-manusia pembelajar yang mencintai proses pendidikan itu sendiri.

Apalagi di zaman sekarang, pendidikan berbasis kelas terdisrupsi oleh ‘sekolah online’. Ada universitas raksasa bernama Google yang bisa membantu kita menemukan “guru” tentang pelajaran apa saja.

Pingin belajar edit video? Bisa mulai menonton ribuan tutorial di youtube. Ingin tahu soal data science? Banyak kursus di udemy. Pingin tahu matematika? Bisa main-main ke Khan Academy. Bingung klo ada pertanyaan soal coding? Silahkan lempar di Github.

Tentu ‘sekolah online’ takkan bisa 100% mengalahkan pertemuan langsung dengan pengajar ilmu. Ada “adab ilmu” yang harus diajarkan oleh seorang guru. Karena itu pendidikan formal masih memegang peranan penting, meski bukan yang terpenting.

Tantangan pendidikan dimasa depan bukan tentang transfer pengetahuan. Tapi bagaimana menciptakan koneksi antar pengetahuan. Ini tentang mengubah informasi menjadi strategi yang menghasilkan aksi valuasi.

Google menjadi kaya bukan karena menyimpan data search queries penduduk bumi. Google menjadi kaya karena bisa mengubah data keyword pencarian menjadi sesuatu yang berguna bagi pengiklan.

Menurut Craft (1984) kata ‘education’ sendiri punya dua makna. Bisa educare yang berarti membentuk. Atau educere, yang berarti mengeluarkan.

Apa yang dikeluarkan?

Rasa penasaran, kerendahhatian, dan penghormatan kepada anugerah Tuhan bernama pengetahuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Prosperity Paradox: Kenapa Memberikan Uang Kepada Orang Miskin Takkan Membuat Mereka Kaya

Jika Anda calon presiden dan ditantang untuk mengentaskan kemiskinan, mana yang akan Anda pilih:

  1. Memberikan setiap orang miskin uang 50 juta
  2. Memberikan insentif pajak kepada perusahaan startup

Mayoritas orang akan berpikir kemiskinan berarti tidak memiliki materi. Secara logika, cara tercepat untuk mengangkat derajat saudara missq-ueen kita adalah dengan memberikan mereka harta.

Karena itulah banyak bantuan hibah yang diberikan negara kaya. Pemerintah bahkan pernah memberikan Bantuan Langsung Tunai (sekalian buat politik). Tidak semudah itu, Ferguso.

Solusi ini ternyata tak sustainable (berkelanjutan). Kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan bukan hanya tentang kepemilikan kekayaan.

Contohnya Afghanistan. Pemerintah AS menggelontorkan 1 milliar dollar untuk pembangunan pendidikan dan kesehatan yang pada akhirnya menghasilkan 1.100 gedung kosong. Atau kasus di Afrika seperti Tanzania. Mereka menerima hibah 200 juta dollar untuk pembangunan industry kertas yang ternyata tidak bisa mereka kelola dan hanya menghasilan “pabrik proyek”.

Bahkan penelitian dari Hankins et al (2011) menunjukkan jika orang miskin yang menang lotre akan kembali bangkrut dalam waktu kurang dari 5 tahun!

Clayton Christensen dalam karya terbarunya, Prosperity Paradox: How Innovation can lift nations Out of poverty (2019) menyoroti hal ini.

Menurut professor Harvard ini, bantuan uang, asset, atau infrastruktur, takkan berguna jika tidak disertai oleh satu hal: market driven innovation. Inovasi berbasis pasar.

boston.carpe-diem.events.

Seperti kepercayaan kapitalis lainnya: Untuk menciptakan kesejahteraan, harus ada pasar penciptaan nilai. Inovasi berbasis nilai dipercaya akan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan kemakmuran.

Menggunakan study case dari berbagai negara Afrika, Asia, dan Amerika, Christensen menunjukkan kesaktian ‘inovasi pasar’. Bahkan thesisnya sangat “unik”:

“It may sound counterintuitive, but our research suggests that enduring prosperity for many countries will not come from fixing poverty. It will come from investing in innovations that create new markets within these countries”.

Dia membagi strategi pengentasan kemiskinan menjadi dua cara: push and pull.

Push lebih bersifat eksternal. Dimana ada negara Al-Tajirun yang menggelontorkan hibah proyek ke negara miskin dalam bentuk “hard assets”.

Sedangkan pull berarti dari dalam. Inilah peran masyarakat (jangan bergantung ama pemerintah!) untuk menciptakan inovasi berbasis nilai yang pada ujungnya mampu melayani kebutuhan pasar.

Korea yang pernah jadi negara yang sama miskin-nya dengan Indonesia, mampu bangkit dengan mendorong industry berbasis inovasi. Demikian juga dengan Amerika di abad 19. Atau Jepang setelah perang dunia kedua.

Ga ada dari negara negara kaya ini yang mencari pesugihan atau melihara babi ngepet. Semuanya bekerja keras dan berinovasi.

Setelah membaca buku yang sangat enak dibaca ini, saya belajar dua hal:

#1 Kemakmuran bukan hanya soal seberapa banyak uang yang kita miliki

#2 Jika kita miskin dan ingin makmur? Ya kita harus berinovasi dan menciptakan value added

Dan itu berarti berhenti menggantungkan nasib kita ke pihak ketiga bernama pemerintah.

Pasrahkan hidupmu hanya kepada Tuhan, dan ciptakan nilai tambah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Penyesalan Membeli Kindle

 

November 2018 lalu Amazon merilis kindle seri terbaru: Paperwhite 4.

Dengan storage lebih besar (8GB), gawai baca digital ini juga sudah anti air. Ga usah khawatir rusak klo kecemplung di kolam renang atau got.

Karena mulai lelah berurusan dengan buku fisik (sering hilang waktu traveling, berat di tas, dan harus menyiapkan rak), saya berpikir untuk pindah haluan membaca buku digital.

Awalnya agak ragu. Karena harganya setara dengan smartphone middle low (2,5 jutaan). Apalagi fungsinya Cuma satu: baca buku doang. Tapi berdasarkan testimoni teman-teman dan netijen yang udah pakai, akhirnya saya coba iseng-iseng beli.

Setelah browsing sana-sini, saya nemu reseller di salah satu market place yang menjual dengan harga paling murah. Bahkan lebih murah dari amazonnya sendiri. Kekurangannya: harus mau nunggu 2 bulan.

Ternyata 40 hari kemudian barang sudah datang. Dan saya pun tercengang. Kindle benar-benar tercipta untuk memanjakan pembaca buku!

Setidaknya ada 5 alasan kenapa Anda harus mulai beralih menggunakan kindle:

#1 E-ink Seperti Kertas yang Canggih

Kindle menggunakan teknologi e-ink yang membuat kita seperti membaca diatas kertas. Dengan resolusi 300 dpi, tulisan terlihat tajam dan enak dibaca. Apalagi teknologi kindle memberi kita kebebasan mengatur besar kecil tulisan, jenis-jenis font, dan sangat mudah men-highlight isi buku untuk kemudian dikirim dalam bentuk email. Ga perlu ribet-ribet ngetik ulang lagi!

#2 Ga perlu Takut Cahaya LED

Kindle paperwhite memiliki front light display (cahaya dari samping), berbeda dengan kebanyakan handphone yang menggunakan backlight display (cahaya dari belakang layar). Ini membuat mata tidak cepat capek klo untuk baca. Ga perlu juga takut dengan “blue radiation” yang katanya membuat mata kering. Mau baca berjam-jam? Amann!

#3 Fokus

Karena kindle hanya punya satu fungsi, ini menjadi kekurangan tapi juga kelebihan. Masa ngeluarin 2,5 juta Cuma buat baca buku doank? Mending tablet donk, bisa buat nonton film, browsing, atau main game.

Tapi justru disitu saktinya kindle. Karena Cuma punya satu fungsi, kita tak akan terganggu dalam membaca. Tak ada pesan notifikasi yang mengganggu, tak ada godaan untuk browsing sana-sini, tak ada alasan untuk nonton video-video ga jelas.

Kindle itu seperti perpustakaan. Tak ada keramaian. Tapi kita seperti menemukan ruang untuk menikmati kesendirian. Hanya bersama buku bacaan.

Selama 3 minggu megang kindle, alhamdulilah saya sudah menyelesaikan 3 buku. Sesuatu yang agak sulit dilakukan jika membaca menggunakan tablet.

#4 Lebih Murah

Dibandingkan beli buku fisik, Amazon memberikan diskon yang lebih murah untuk versi digital. Tapi ya gitu, mayoritas buku-buku yang ada berbahasa Inggris. Seandainya Gramedia mengembangkan hal yang serupa, saya yakin dunia perbukuan bisa semakin maju. Karena dengan versi digital, berarti ada penghematan biaya cetak dan distribusi.

Tapi mungkin Mbah Kompas Gramedia ga pingin toko-toko mereka sepi. Padahal dengan bisnis model digital, pengarang dan pembaca sangat diuntungkan. Harga lebih murah akan menjangkau pembaca lebih banyak.

#5 Banyak Ebook Gratis

Bukannya saya mau ngajarin yang ga bener, tapi banyak website menawarkan jutaan ebook kindle secara gratis. Ini memudahkan kita jika tidak kuat membayar buku dalam bentuk dollar. Prinsip busuk saya sih, selama masih ada yang gratisan, kenapa harus nyari yang mbayar? Hahaha.

Tapi saya tetap beli versi resmi koq untuk buku terbitan terbaru. Karena Namanya juga “bajakan”, ebook gratisan takkan bisa di sync dengan account amazon kita. Susah kalau mau men-highlight kalimat-kalimat penting di buku yang kita anggap menarik.

______________

Lho koq isinya positif review doank? Nyeselnya dimana donk?

Iya saya nyesel koq. Saya nyesel kenapa nggak dari dulu-dulu beli kindle-nya hehehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail