Category Archives: Bookep

All about book, from resume to free book to gift!!!

Rahib yang Menjual Ferrari

edisi bhs indo

Saya membaca The Monk Who Sold His Ferrari secara tidak sengaja. Ketika itu saya sedang sholat di praying room bandara Changi Singapura. Salah satu bandara terbaik dunia ini memang tidak memiliki musholla yang dedicated, tapi mereka menyediakan ruang doa bersama untuk semua penganut agama.

Saya berjamaah dengan bapak-bapak orang Melayu. Dia tanya saya dari mana. Pingin jawab “dari tadi” takutnya ga nyambung. Setelah ngobrol basa yang gak basi, saya akhirnya tahu jika dia bekerja di salah satu toko buku di dalam bandara.

Mainlah kesana, ajaknya. Karena flight saya masih satu jam lagi, saya mengiyakan tawarannya. Lagipula, buku adalah teman terbaik saat menunggu.

Novel Motivasi

Setelah sampai di toko, dia mempersilahkan saya melihat-lihat. Bagi saya, ini adalah kesempatan membaca gratis. Dari berbagai koleksi buku bahasa asing yang ada, saya tertarik pada sebuah buku dengan judul yang unik: The Monk Who Sold His Ferrari. Setelah saya balik ke Indonesia, ternyata edisi terjemahan-nya sudah dicetak sejak September 2014 lalu.

Buku cerita inspirasi ini berkisah tentang seorang pengacara kondang Julian Mantle. Hidupnya sangat sukses, baik dalam karier, ataupun berkeluarga. Punya rumah mewah, dan tentu saja: Ferrari Merah.

Tapi tentu semua yang ada di dunia, hanya sementara. Suatu hari, ada kabar duka. Putrinya kesayangannya meninggal karena kecelakaan. Julian yang sebelumnya sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu bersama keluarga, menjadi merasa bersalah. Dia merasa depresi. Kemudian mencoba menghibur diri lewat minuman keras dan tak butuh waktu lama untuk menghancurkan tubuhnya sendiri: dia terkena serangan jantung ketika sidang.

Disaat keadaan semakin buruk, dia memutuskan untuk pensiun dari dunia hukum, menjual semua asset (termasuk Ferrari kesayangannya) dan pergi ke India untuk hidup yang lebih baik. Ketika dia kembali, dia justru terlihat 10 tahun lebih muda, badan ramping, muka bercahaya, dan menjadi bijaksana. Apa rahasianya?

Cerita Rahasia dari Kaum Bijak Sivana

Dia membagi rahasia hidup bahagianya kepada John, kawan firma hukumnya. Sebuah rahasia yang konon diperoleh dari kaum pertapa Himalaya.

Rahasia yang ada dalam sebuah cerita sederhana:

Kau sedang duduk di tengah taman yang sangat Continue reading Rahib yang Menjual Ferrari

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Bacaan Oktober [Sold Out]

Seperti biasa, tinggalkan alamat jika tertarik buku-buku ini.

1. Daniel Pink, To Sell is Human. Buku tentang seni “menggerakkan” orang lain dan menjual ide. Sold to Desti.

2. 8 x 3 = 25! Bertambah Bijak Setiap Hari. karangan Budi Tanuwibowo. Sold to Vivit.

3. Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya. karangan Dewi Karisma Michellia (karya unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012), kebetulan saya pernah satu training anti korupsi sama penulisnya! 😛 Sold to Helvira Hasan

4. Selimut Debu, Agustinus Wibowo. Buku pertama sebelum Garis Batas dan Titik Nol. Bercerita tentang eksotisme Afghanistan.Sold to Michelle

5. Tribes. Buku penuh provokasi dari Seth Godin. Sold to Ambar

Saya percaya:

Pecinta ilmu bukanlah pengoleksi buku. Karena ilmu diciptakan untuk diamalkan dan disebarkan, bukan untuk disimpan, apalagi dipamerkan.

Dipilih-dipilih…
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Semoga Fikri Dapat Nobel Ekonomi!!!

“Cuk, buku lo berapa juta?”

“Hoi, 49.000”

“Mahal amir. 75 rebu donk”

“Boleh”

“Mana kirimin norek lu”

“Alamat aja dulu”

“Gw beli versi fotokopian ada ga?”

“No rek gampang”

“Wah uda jadi cowok gampangan lu. Gw lupa alamat kos”

“Kantor aja”

“Ntar dikira gratifikasi”

“Taik”

Transekrip (bingung cuk how to say transcript in bahasa) diatas bukanlah rekaman percakapan Menpora yang ketipu beli sepeda fixie, apalagi dialog di video PNS Bandung. Tapi percakapan singkat saya dengan Fikri, salah satu penulis keren favorit saya.

Kenapa saya bilang Fikri keren?

Karena Fikri itu teman kuliah saya. Sedangkan saya kan orang ganteng. Orang ganteng hanya berteman dengan orang keren. Sehingga otomatis, Fikri itu keren. Sungguh silogisme yang agak tidak logis, tapi tetap keren.

Dan Fikri itu salah satu mahasiswa FEB U*M yang paling keren. Jago bolos pas SMA, rambut gondrong, jeans belel, badan kurus junkies. Kalau ke kampus bawa buku kuliah dikira mau ngamen, sedang kalo bawa gitar malah dikira mau kuliah. Fikri ga cuma punya darah seni. Ditubuhnya mengalir air seni.

Absurdity, (judul bukunya pake koma cuy) adalah kompilasi kontemplasi kehidupan penulis dengan nama lengkap Fatihatul Insan Kamil Ramadhani Imama ini (nama Fikri adalah sebuah akronim). Berisi “ke-absurd-an” perjalanan hidupnya seperti ga pernah belajar malah lulus ujian, percintaan yang mengenaskan, suka duka mahasiswa, dan tentu saja fenomena pergaulan bebas kos-kosan Jogja (sekarang zamannya perdagangan bebas, masa pergaulan ga bebas).

Coba baca salah cerita keren fikri:

Karena tidak banyak teman yang memilih melakukan ujian di Jogja, kepergian saya disambut bahagia oleh teman-teman. Seperti biasa, orang Indonesia selalu saja meminta oleh-oleh kalau kerabatnya bepergian.

“Fik, lo mau ke Jogja ya? Beliin gue oleh-oleh dong, Bakpia ya!”

“Iya kalau bisa gue beliin deh buat lo”

“Asik nih ke Jogja! Fik, beliin gue batik dong!”

“Iya nanti kalau sempet gue jalan ke Malioboro”

“Fik, beliin gue lumpia dong”

“Lumpia itu dari Semarang, bego!”

Mereka yang meminta oleh-oleh sepertinya lupa kalau saya pergi ke Jogja bukan untuk pelesir. Saya ujian! Saya ingin melanjutkan pendidikan! Saya ingin berguna bagi bangsa dan tanah air tercinta! Saya ingin Indonesia lebih maju! Saya mengetik ini dengan posisi tangan ke dinding, badan condong miring, posisi kepala menghadap langit, dan sinar matahari menerpa wajah sebelah kiri membentuk siluet yang indah.

Setelah merampungkan absurdity, aksioma alam bawah sadar saya bertambah satu:

Jika fikri bisa menulis buku Teori Portofolio dan Analisis Investasi seperti menulis absurdity, dia pasti dapat nobel ekonomi.

absurdity

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Soso

Terlahir dengan nama Joseph Djugashvili. Pada awalnya sang Ayah adalah pembuat sepatu handal. Namun karena pengaruh pergaulan, dia menjadi pemabuk kasar yang suka memukuli keluarganya. Joseph adalah anak ketiga. Kedua kakaknya, Yakov dan Giorgi, meninggal sewaktu bayi. Tragedi yang membuat sang ayah bersumpah melakukan perjalanan suci ke Geri, demi kesehatan sang bayi.

Soso, panggilan kecil Joseph, adalah anak yang rapuh secara fisik, tetapi sangat cerdas. Suka belajar. Juara kelas dan menjadi favorit guru karena bakatnya di paduan suara sekolah gereja. Hal positif yang ditentang Beso, ayahnya, yang ingin dia menjadi pembuat sepatu seperti dirinya.

Seringkali sang Ayah akan datang ke sekolah untuk marah-marah dan memukuli Soso. Dan para guru akan bekerja sama untuk menyembunyikan dia dan meyakinkan Beso jika Soso tidak ada di sekolah hari ini.

“Mama, biarkan aku pergi sekolah, atau guru Illuridze akan memberiku nilai buruk..”

Rengek Soso suatu hari ketika dia sakit parah tertabrak kereta kuda. Biarpun sakit keras, Soso tetap rindu sekolah.

Berkat kerja keras sang Ibu, Soso bisa masuk seminari dan menjadi calon pendeta. Di sekolah elit itu dia kembali menjadi bintang. Nilai-nilainya mengagumkan. Menjadi pemimpin kelas meski berbadan kecil.

Semangat belajarnya semakin menggebu-gebu. Dia menghabiskan waktu luang dengan membaca dan selalu menyelipkan buku di ikat pinggangnya. Soso selalu membaca. Keke, sang Ibu mencatat jika Soso takkan tidur sebelum dini hari dan akan terus berkutat dengan bacaannya.

“Waktunya tidur” kata Keke, “Tidurlah – sudah mulai fajar”

“Aku sangat suka buku ini, Mama. Aku tidak bisa berhenti membaca..” dan saat intelektualitasnya semakin bergejolak, kesalehannya semakin sirna.

Menjadi Marxist

Soso berkenalan dengan tiga orang anak pendeta – Lado dan Vano Ketskhoveli dan Mikheil Davitashvili. Dari mereka lah Soso mendapat akses ke berbagai “buku terlarang”. Mulai dari Origin of Species dari Darwin, pemikiran Karl Marx, hingga sastra nasionalis Georgia Khevsur’s Motherland karya Eristavi. Buku-buku yang pada akhirnya membuat calon pendeta menjadi seorang penentang Tuhan.

Pada 13 Februari 1892, guru-guru seminari menyuruh anak didiknya untuk menonton hukuman pancung. Tiga pencuri sapi, yang melarikan diri dan membunuh polisi, akan dihukum mati hari ini. Tapi bagi Soso, dia tahu jika ketiga terdakwa ini hanyalah tiga petani yang sudah putus asa ditindas tuan tanah dan melarikan diri ke hutan.

Soso, yang bisa menyanyikan Mazmur dengan sangat indah merasa heran, bukankah Musa berkata: “Kalian dilarang membunuh”?.

Teman-teman seminari-nya berdebat:

“Apakah mereka masuk neraka?”

Soso, yang pada akhirnya menjelma menjadi Stalin sang diktaktor Soviet menjawab yakin:

“Tidak. Mereka sudah dieksekusi dan akan tidak adil jika mereka dihukum lagi”.

Tapi pertanyaan selanjutnya: Jika Tuhan Maha Adil, mengapa ia membiarkan semua ini? Mengapa harus ada Tsar yang menindas rakyat? Mengapa Russia harus menduduki Georgia? Mengapa ada orang miskin disaat ada orang yang menjadi semakin kaya?

“Tuhan tidak adil. Dia tidak benar-benar ada. Kita sudah ditipu. Kalau Tuhan ada, dia akan membuat dunia menjadi lebih adil”. Seru Soso kepada kawannya, Grisha.

Intelektual Seumur Hidup

Membaca biografi Stalin Muda karya Simon Sebag Montegiore ini seperti menemukan sisi lain seorang commissar Soviet. Siapa sangka, Stalin yang memerintahkan pembunuhan ribuan nyawa saat teror besar adalah seorang seniman dan intelektual.

Anda akan mengikuti kisah hidup anak pembuat sepatu yang hampir menjadi pendeta, penyair yang puisinya dibukukan saat masih berumur belasan tahun, pekerja departemen metereologi merangkap agitator, perampok untuk partai, hingga menjadi commissar lengkap dengan berbagai cerita affair Stalin dengan banyak wanita.

Tapi ada yang saya kagumi dari diktator tangan besi ini: semangat belajar yang tak pernah mati. Kemanapun Stalin pergi, dia akan membawa setumpuk buku. Bahkan dia mampu mengubah masa hukuman penjara di Batumi menjadi universitas kecil, dengan jadwal kuliah dan bacaan wajib untuk tahanan lain.

Ketika Stalin mendapat pengasingan ke Siberia dan kemudian pindah ke lingkaran Arktik kutub utara, hal yang dia inginkan tetaplah sama: buku dan pengetahuan baru.

“Temanku,” tulisnya kepada Zinoviev, “Salam hangatku kepadamu.. Aku menunggu buku-buku… Aku juga memintamu untuk mengirimiku beberapa jurnal bahasa Inggris (edisi lama ataupun baru tidak masalah – untuk bacaan saja karena tidak ada bacaan berbahasa Inggris di sini dan aku takut, tanpa berlatih, aku akan kehilangan semua keterampilan bahasa Inggris yang sudah kupelajari).

Kombinasi kecerdasan seorang pemikir dan kekejaman seorang perampok membuat Stalin mampu menyingkirkan musuh-musuhnya dan mendirikan Uni Soviet. Bahkan ketika sudah berusia 70 tahun dan menaklukkan Berlin, Stalin tetaplah seorang pembelajar.

“Lihat aku”, kata Stalin sekitar tahun 1950, “Aku tua dan aku masih belajar”.

Buku-buku perpustakaan Stalin semuanya dengan hati-hati diberi catatan dan coretan kecil. Tanda sering dibuka dan dibaca.

Karena itu izinkan saya meniru Stalin:

“Aku muda dan masih harus banyak belajar”.

yang mau buku ini silahkan tinggalin alamat dibawah ya :) siapa cepet dia dapat
yang mau buku ini silahkan tinggalin alamat dibawah ya 🙂 siapa cepet dia dapat
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Free Book: Kubah by Ahmad Tohari

Cover bukunya

Happy Id Mubarak all 🙂 (gaya sok inggeris hehehe)

Mohon maaf lahir batin, karena ke[sok]sibukan saya, blog ini jadi bolong-bolong update-nya.

Karena baru dateng and lagi males nulis, mau bagi2 buku aja deh. Novel-nya Kubah dari Ahmad Tohari, novel terbaik versi dinas Pendidikan & Kebudayaan taun 1981. Pingin tau kenapa jadi novel terbaik? karena menurut saya novel ini adalah sebuah propaganda anti komunisme! Haha.

Ceritanya tentang Karman yang baru pulang dari pengasingan di Pulau Buru. Ahmad Tohari dengan apik menjelaskan fenomena sosial sebelum G30S PK*, huru-hara yang terjadi, metode rekruitment kader, moda propaganda, dan pergulatan batin Karman tentang Tuhan dan partainya.

Ntar kapan-kapan saya tulis resume yang lebih niat dikit :p

Leave alamat atau email alamat ke: emailnya_yoga@yahoo.com bagi yang minat. Seperti biasa, gratis ongkir.

Oh ya, jangan lupa puasa syawalnya yah :D, boi-boi!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin…

Book Cover
Dede ternyata keliru.. ibu pergi bukan karena tak sayang lagi pada Dede. Ibu pergi untuk mengajarkan sesuatu.
Bahwa hidup harus menerima.. penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti.. pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami.. pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.
Ibu benar.. tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawanya pergi entah kemana. Dan kami akan mengerti, kami akan memahami.. dan kami akan menerima..

 

*)yang mau bukunya silahkan leave comment alamat pengiriman (cuma 1 stock T_T). yang uda perna dapet tolong jangan minta lagi ya hehehe

Oh ya, selamat berpuasa ya 😀

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

[SOLD] 100 Kisah Klasik Pemasaran

Hi all,

Pingin tau sejarah perkembangan brand-brand besar macam Apple, Cadburry, Coca-cola, Honda, Toyota, Starbucks, Ikea, IBM, dan lainnya? Coba baca 100 Kisah Klasik Pemasaran yang disusun oleh Jack Mussry and friend.

Buku ini akan memberikan broad perspective tentang pembangunan sebuah brand. Dimulai dari awal berdiri, pemilihan strategi, segala permasalahan yang dihadapi, dan solusi yang bisa dijadikan pelajaran dimasa depan nanti. Memang terkesan terlalu umum, at least, kita bisa tahu secara sekilas.

Wajib dibaca bagi pecinta marketing dan bisnis yang ingin bacaan ringan. Penuh dengan insight sejarah (dari sini saya tahu awal penamaan Mercedez Benz) yang menarik untuk diikuti.

UPDATE: Udah ada yang take via FB 1 menit setelah postingan ini keluar.

Case closed.

cover buku
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

[Ebook] Time Series Data Analysis Using Eviews

“Coba yang tidur itu disuruh cuci muka”.

Tiba-tiba teman sekelas menoleh kearah saya. Ada juga yang menjawil dan membangunkan. Oh, rupanya saya ketiduran saat kelas statistik. Untung dosennya baik, Pak A, menyuruh saya membasuh muka, kalau bisa berwudhu sekalian. Sholeh sekali bapak ini.

Dengan berat badan (bukan berat hati lagi) saya ke kamar mandi, cuci muka, lalu kembali ke kelas. Ga butuh waktu lama saya kembali ketiduran. Hahaha. Tapi kali ini saya berusaha agar tidak kedengaran ngoroknya. Rupanya “meditasi siang” saya bisa ketahuan karena ada suara aneh sejenis gelombang alpha yang terdengar di kelas. Ngrok… Hahahha.

Itu dulu. Saat saya membenci angka dan matematika. Waktu itu saya masih anak semester I yang masuk fakultas ekonomi karena membenci perhitungan sains di fakultas MIPA. Intinya, saat SMA saya sangat membenci IPA, dan sangat bangga jadi anak “SOS”.

Saya belum tahu kalau dasar ilmu ekonomi adalah statistik. Bahkan penerapan matematika itulah yang sering membuat ekonom sombong karena memiliki pendekatan kuantitatif yang lebih “eksak” dibandingkan jurusan social lainnya macam filsafat atau sastra.

Di ekonomi, semuanya harus bisa dihitung. Harga, luas, sampai probabilitas. Semua ada ukurannya. Untuk mengukur sesuatu yang abstract macam kebahagiaan dan kesehatan, ekonom ga kekurangan akal. Diciptakannya variable proxy, dan berbagai model dummy.

Cinta Tidak Selalu Pada Pandangan Pertama

Sekarang saya mengerti kenapa ekonom sangat Cinta dengan angka. Jawabannya sederhana: angka tidak pernah dusta. Angka adalah fakta yang ingin bercerita. Tugas seorang analis, dalam hal ini CEO atau investor, adalah mendengarkan cerita yang ingin disampaikan oleh angka.

Ketika laporan keuangan menunjukkan angka negative, sesungguhnya angka sedang bercerita bahwa ada yang salah dengan perusahaan ini. Ketika gross margin tinggi sedangkan net profit rendah, angka sedang ingin berbicara tentang inefisiensi yang mungkin sedang terjadi. Dan mereka yang menghiraukan angka, akan dihukum oleh angka. Saya pernah membuat keputusan yang salah, karena tidak mendengarkan angka, dan menggunakan emosi semata.

Terlebih lagi setelah saya membaca “Setan Angka”, karya Hans Magnus Enzensberger. Buku yang sangat menarik dan bercerita tentang seorang anak yang bermimpi bertemu dengan setan angka. Di mimpinya ia mendapat penjelasan tentang kegunaan angka, jenis-jenis angka, bilangan prima, dan berbagai logika matematika lainnya.

Didalam buku itu kalau tidak salah (karena sudah bertahun-tahun lalu bacanya) ada pengandaian yang sangat cerdas: mari membayangkan dunia tanpa angka. Bayangkan jika Anda membaca laporan keuangan dan di kolom aktiva tertera kata:

“Jumlah asset setara kas senilai: Tiga Ratus Tiga Puluh Tiga Milyar Seratus Empat Puluh Tiga Juta Sembilan Ratus Lima Puluh Tiga ribu rupiah”

 Sejak itu saya mulai menyukai angka. Toh Cinta bisa tumbuh karena terpaksa. Hahaha.

Semua Ilmu Berguna

Ketika belajar di dunia professional, kemampuan mendengarkan angka berbicara (analisa) ternyata sangat dibutuhkan. Bahkan sudah menjadi must have skill di semua bidang. Saya yang tiga kali mengulang mata kuliah ekonometrika I dengan nilai E, D, C (mungkin dosennya kasian liat muka saya sehingga akhirnya dikasih C :p) mau tidak mau, suka tidak suka, gemuk tidak gemuk (aamiiinn) harus bisa sedikit-sedikit ekonometrika.

Percayalah, Tuhan itu adil. Saya yang waktu kuliah malas membaca dan bertanya tentang ekonometrika, dipaksa untuk belajar kembali. Karena itu bagi teman-teman yang masih di bangku kuliah, yakinlah bahwa tidak ada ilmu Tuhan yang sia-sia. Semuanya berguna. Hanya saja kita tidak tahu kapan ilmu itu akan kita gunakan.

Oh ya, yang ingin belajar time series pakai Eviews, ini ebook yang bisa dibaca (klik gambar dibawah). Saya sudah mengirim email ke penulisnya, tapi belum juga dibalas. Jangan lupa, ucapkan terima kasih dan panjatkan doa bagi penulisnya yah!

time-series-data-analysis-using-eviews

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

[Buku Gratis] 65 -Sold Out

65 by Gitanyali

Mohon maaf lahir batin ya semua 🙂

Sorry 2 minggu ini belum sempet updet blog karena ke sok-sibukan pribadi (untuk nulis posting ini aja nyuri2 waktu after hour di kantor :D)

Daripada bingung, mending bagi2 buku. Novel 65 karya Gitanyali. Bercerita tentang pengalaman sang tokoh sebagai anak tokoh PKI.

Karena lagi males cerita, udah malam, dan kepingin pulang, mending langsung ninggal alamat aja bagi yang berminat ya hehehe.

Thanks, and again, minal aidzin wal faidzin (ga tau bener apa nggak nih penulisannya?).

(Udah sold out ke salah satu kawan ya :D)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail