Category Archives: Cognitive biases

Pikiran yang Terkunci

Semalam saya naik pesawat JOG-CGK. Rutinitas mingguan seorang anggota PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad). Flight saya mendarat jam 23.30 dan karena ga dapat garbarata, kami diangkut menggunakan bus menuju terminal kedatangan 2F bandara Soetta.

Alhamdulilah dapat duduk di hot seat (kursi 1-5, 12 dan 14 maskapai AirAsia), dan itu berarti saya bisa boarding dan turun duluan. Lumayan membantu untuk yang pingin cepet-cepet keluar bandara (sekalian promosi dikit hehe).

Rombongan pertama pun sudah sampai di arrival gate. Begitu kagetnya kami karena pintu dalam keadaan tertutup dan tidak ada petugas yang berjaga!. Wah apa gara-gara final Piala Dunia nih ga ada petugas satu orang pun yang terlihat.

Kami pun mengantri didepan pintu, menunggu adanya petugas untuk membantu. Tiga menit berlalu, penumpang mulai kzl. Terdengar geraman dan komplain. Semua menyalahkan tidak adanya bantuan petugas terhadap penumpang yang kebingungan.

Lima menit hampir berlalu ketika tiba-tiba ada penumpang yang iseng mendorong pintu. Dan ternyata GA DIKUNCI dong! Jadi kita semua tadi berdiri ngantri di depan pintu yang sebenarnya bisa dibuka!

Cracker

Saya jadi sadar, selama lima menit pikiran kami-lah yang “terkunci”. Tidak berani membuka pintu. Mungkin karena ini lingkungan bandara, pintu tertutup, dan ada electronic key di samping tembok. Pikiran kami otomatis menciptakan hipotesa: jangan masuk kalau tidak berkuasa.

Hey, bukankah hidup juga seperti ini? Betapa sering pikiran kita menciptakan gembok saat ada peluang didepan mata. Kunci itu bisa berupa kata-kata:

“Project ini terlalu sulit…”

“Saya tidak punya sumber daya…”

“Lebih baik menunggu arahan atasan…”
Untuk membuka kunci itu, kita harus belajar menjadi cracker dan menerapkan prinsip tagline iklan: #JustDoIt, #BikinJadiNyata, #MulaiAjaDulu.

Seperti “penumpang cracker” yang iseng-iseng mendorong pintu dan membantu penumpang lain untuk menemukan jalan, para inovator adalah orang-orang yang bisa membuka gembok kebuntuan.

Karena kebuntuan itu ada didalam pikiran. Karena pintu bernama peluang itu selalu terbuka. Karena merupakan tugas kita sebagai manusia untuk berani mencoba.

source: freepik.com
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ignoramus: Kenapa ketidaktahuan lebih penting dari pengetahuan

Saat menjalani sidang doctor untuk menguji disertasinya, Andi Hakim Nasution (mantan rektor IPB) mendapat pertanyaan aneh dari seorang dewan penguji.

Secara tiba-tiba sang penguji bertanya tentang penyakit yang menyerang hewan tertentu. Ia sempat berpikir, “Mengapa dia bertanya tentang ini? Dan apa pula subyek yang ditanyakannya?” sambil memikirkan istilah asing yang ditanyakan dosen pengujinya.

Setelah merenung, dengan berat hati, calon doktor tadi menghela nafas dan berkata, “Maaf, saya tidak tahu…”.

Mendengar jawaban itu, tiba-tiba sang penguji merasa lega. Ia tersenyum dan memandang dengan puas melihat mahasiswanya tidak dapat menjawab pertanyaan yang ia berikan.

Calon doktor statistika eksperimental itu tertunduk lesu. Perjuangan riset bertahun-tahun bisa saja hancur karena sebuah pertanyaan istilah asing yang ia sendiri baru pertama kali mendengarnya. Tapi ternyata dia diumumkan lulus!

Saat berjabat tangan, dia bertanya kepada dosen penguji tadi.

“Apa jawaban dari pertanyaan yang Anda tanyakan?” tanyanya penasaran.

“Saya tidak tahu”, jawab sang penguji tersenyum.

“Pardon me… Maaf…”

“Iya, itu jawabannya. Saya sendiri tidak tahu jawabannya. Saya menanyakan hal yang sebenarnya tidak ada. Anda sudah menjawab semua pertanyaan kami dengan saat baik saat ujian. Tapi disitulah masalahnya. Kita sebagai ilmuwan terkadang harus mengetahui ada hal-hal yang tidak bisa kita ketahui. Saya ingin Anda belajar hal tersebut”.

Cerita yang saya ambil dari buku lawas “Pola Induksi Seorang Eksperimentalis” itu menegaskan sebuah pelajaran: ketidaktahuan lebih penting dari pengetahuan.

Hal ini menjadi relevan karena manusia modern begitu mengagungkan kalimat “pengetahuan adalah kekuatan”, sehingga kita seringkali tidak mau mengakui ketidaktahuan kita sendiri.

Lihatlah saat netizen berusaha berdebat tentang topic yang tidak ia kuasai, calon pegawai yang berusaha membuat pewawancaranya terkesan, atau anggota dewan yang ingin terlihat hebat didepan rakyat. Semuanya berusaha terlihat “Maha Tahu”.

Kita seringkali lupa dan tidak mau mengakui jika sumber pengetahuan sesungguhnya ada pada ketidaktahuan. Karena seorang ilmuwan pada dasarnya adalah seorang ignoramus: orang yang tidak tahu.

Perbedaan ilmuwan dan orang biasa ada pada langkah selanjutnya: apakah dia itu mau jujur mengakui ketidaktahuannya? Maukah ia mencari pengetahuan baru untuk menjawab ketidaktahuan itu?

Menerapkan pola pikir seorang ignoramus, berarti kita harus merayakan ketidaktahuan.

Ketidaktahuan adalah tanda jika masih banyak pelajaran yang bisa kita temukan. Tak perlu malu dan menutup-nutupi. Kita hanya perlu jujur pada diri sendiri: masih banyak yang harus kita pelajari.

Jika pengetahuan adalah kekuatan, maka ketidaktahuan adalah ibu dari pengetahuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#97 Curse of knowledge: Kenapa perempuan sangat sulit dipahami

Anda tahu lagu “selamat Ulang tahun”, “Lihat Kebunku”, atau “Burung Kakaktua”? Sekarang mari lakukan percobaan sederhana. Coba nyanyikan lagu itu menggunakan ketukan tangan (ga boleh pake suara mulut yaa) dan minta orang lain untuk menebak judul lagunya.

Jika kita menyanyikan 20 lagu terkenal, kira-kira berapa persen lagu yang yang bisa ditebak dengan benar? Apakah 50% atau bahkan 70%? Hei, ini lagu popular yang diketahui anak hingga orang tua.

Kenyataannya, hanya 3% lagu yang bisa ditebak! Setidaknya itu hasil percobaan dari Elizabeth Newton dalam disertasi tahun 1990: “Overconfidence in Communication of Intent”. Pengetuk lagu merasa lagu-lagu yang ia nyanyikan dalam hati adalah lagu terkenal sehingga ia yakin orang lain juga akan mengenalinya.

Eksperimen sederhana yang dilakukan peneliti Stanford itu mengingatkan kita tentang curse of knowledge, kutukan pengetahuan. Apa itu? Kutukan pengetahuan itu gampangannya begini: Kita tahu apa yang tidak diketahui orang lain, tapi kita seringkali merasa orang lain tahu, apa yang kita tahu.

Contoh curse of knowledge banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Buku panduan barang yang sangat teknis tanpa ilustrasi yang jelas, iklan dengan konsep abstrak yang bikin bingung penonton, Professor yang menjelaskan mata kuliah dengan banyak istilah alien, hingga perempuan yang sering Cuma ngasih kode untuk dipahami lelaki.

Curse of knowledge berbahaya karena menciptakan distorsi komunikasi dan kegagalan proses penyampaian pesan. Studi kasus paling klasik adalah saat kaum hawa ngambek dan ketika ditanya “Kamu kenapa?” mereka cuma menjawab “Aku gak papa…” sambil ngasih sinyal dalam bentuk non verbal (mata sayu, mulut cemberut, dan tatapan mata kosong).

Jawaban “Aku gak papa..” adalah sandi curse of knowledge tingkat tinggi yang perlu dipecahkan lewat riset dalam bentuk disertasi.

Untuk mengurangi curse of knowledge ini maka kita dapat melakukan dua hal. Pertama, kita harus menyesuaikan gaya komunikasi dengan profil pendengar. Ngobrol tentang investasi dengan seorang financial planner tentu akan berbeda gayanya dengan seorang tukang ojek.

Dan yang kedua, gunakan bahasa komunikasi yang singkat, jelas, dan mudah dipahami. Kita harus berasumsi jika pihak pendengar tidak menguasai istilah khusus dari topic pembicaraan yang ingin kita sampaikan.

Sedikit pesan untuk para perempuan: please speak your mind. Curse of knowledge seringkali membuat hubungan percintaan berakhir tragis hanya karena para pria tidak mampu memahami inti komunikasi yang sedang disampaikan oleh wanita.

Karena tidak semua lelaki paham arti dari “Aku gak papa..”.

http://2.bp.blogspot.com/-BaSDVxSO65k/VsauOi2LeyI/AAAAAAAABnQ/RJxpO4-vFTY/s1600/B7Ja-67CAAAvoQ-.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#94 Traveling Effect: Kenapa Traveling Terbukti Membuat Kita Bertambah Kaya

Boleh percaya boleh tidak, manusia bisa memiliki peradaban maju seperti sekarang karena nenek moyang kita doyan jalan-jalan.

Setidaknya itu salah satu hipotesa Yuval Noah Harari dalam karya monumentalnya: Sapiens. Menurut Pi-Ej-Di (pengucapan Ph.D zaman Now) asal Israel itu, ada suatu masa ketika nenek moyang kita menjadi seperti si bolang: gemar berpetualang.

Zaman old itu sekitar 45.000 tahun lalu dimana sapiens generasi awal belum mengenal agrikultur atau revolusi industry. Mereka harus hidup dengan berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain hanya untuk bertahan hidup.

Tapi ternyata kebiasaan menjelajah ini menjadi metodologi paling ampuh untuk mendapatkan ilmu baru. Karena mereka harus mampu mengembangkan kemampuan analisa dengan cepat untuk menjawab pertanyaan yang menyangkut hidup dan mati.

Makanan apa yang aman dimakan? Apakah ada bahaya mengancam? Apa yang harus kita lakukan saat udara dingin? Kemana saya harus pindah setelah ini?

Rumusnya ternyata sederhana:

Tempat baru = pengalaman baru = pengetahuan baru.

Traveling membantu nenek moyang kita untuk mengembangkan pohon pengetahuan yang pada akhirnya mendorong perkembangan kemampuan berpikir manusia.

Seiring kemajuan peradaban, semangat traveling berkembang menjadi semangat penaklukan. Manusia menjelajah untuk menemukan dan mendapatkan wilayah baru. Dan ternyata para imperium besar menginvestasikan sumber daya mereka untuk dua kata sederhana: terra incognita, Tanah tak dikenal.

Pada tahun 1519 Spanyol mengutus pelaut 39 tahun yang ingin mengelilingi bumi dan memutus rantai perdagangan rempah: Ferdinand Magellan. Meskipun ia terbunuh di Philipina, kapal itu, Armada de Molucca, mampu kembali ke Spanyol pada 1522.

Perjalanan Magellan berdampak besar dan mematahkan berbagai mitos: bumi datar dengan ujung dunia, legenda monster laut, peta navigasi jadul yang masih banyak “blank”-nya, dan banyak pengetahuan yang membuat Spanyol mampu menjadi penguasa dunia hingga ratusan tahun kedepan.

Jika kita tarik ke zaman now maka Traveling = pengetahuan baru = kekayaan baru.

Ada banyak bukti orang kaya yang dapat inspirasi dari jalan-jalan. Johny Andrean membuka bread talk gara-gara main ke Singapura. Hendy Setiono dapat ide usaha kebab saat mbolang ke Qatar, sejak itu lahir kebab Baba Rafi. Bahkan Jack Ma pernah menyebut jika trip singkat-nya ke Australia saat muda adalah “perjalanan pembuka mata”.

Sesakti itu kah #efektraveling? Sampai Prof Rhenald Kasali mewajibkan mahasiswanya untuk “get lost” diluar negeri?

Penelitian dari Godart et al (2014) dalam Journal Academy of Management menunjukkan jika professional yang pernah bekerja diluar negeri cenderung lebih kreatif daripada yang tidak. Riset lain dari Zimmermann dan Neyer (2012) menemukan jika traveling membuat mahasiswa subjek penelitiannya lebih extrovert dan terbuka terhadap hal-hal baru.

Kenapa? Karena traveling memberikan kita sudut pandang berbeda dan memaksa kita keluar dari zona nyaman yang ada. Saat traveling kita belajar menjadi minoritas, dan itu berarti harus menerima nilai-nilai yang tak sama.

Jika masih muda, siapkan paspormu, kemasi kopermu, tentukan tujuan petualanganmu. Ingatlah petuah Mark Twain:

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.”

Waktunya ngerasain #fektraveling mumpung ada #KursiGratis
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#92 Zeigarnik Effect: Kenapa Terkadang Menunda Itu Baik

Pada tahun 1927, sekelompok mahasiswa dan professor makan di restoran. Mereka memesan banyak makanan, dan anehnya: si pelayan tidak mencatat apapun!

Mereka menduga pasti ada pesanan yang keliru atau kurang. Tapi diluar dugaan, mereka mendapat apa yang mereka pesan tanpa ada kekurangan satu menu pun.

Setelah selesai, rombongna itu keluar. Salah satu mahasiswa psikologi, Bluma Zeigarnik, baru sadar jika selendangnya tertinggal. Buru-buru ia kembali ke restoran dan bertemu pelayan super tadi.

Anehnya, sang pelayan tidak mengenalinya. Ia juga lupa dimana Zeigarnik duduk. Kenapa pelayan tadi bisa lupa? Padahal ia bisa mengingat semua pesanan, bukankah itu berarti memori yang bagus? Zeigarnik penasaran dan bertanya kenapa pelayan bisa mengingat semua pesanan tapi sekarang seperti menderita amnesia:

“Saya mengingat semua pesanan di kepala, hingga pesanan itu dihidangkan”. Si pelayan membocorkan rahasianya.

Zeigarnik tersadar, otak manusia bekerja seperti itu. Kita akan mengingat tugas yang masih harus dikerjakan, dan melupakannya begitu selesai. Seperti computer, semua “unfinished task” akan terekam di sistem dan akan terhapus begitu statusnya “done”.

Serangkaian percobaan akhirnya melahirkan hipotesa tentang Zeigarnik effect: manusia akan lebih mudah mengingat pekerjaan yang tidak selesai (diinterupsi) daripada pekerjaan yang selesai. Ini menjelaskan kenapa ada perasaan yang mengganjal jika kita belum menyelesaikan sesuatu, dan merasa plong setelah melakukannya.

Beberapa riset bahkan menunjukkan jika pelajar yang menginterupsi proses belajarnya dengan kegiatan lain, akan mampu mengingat lebih baik daripada pelajar yang belajar tanpa adanya gangguan.

Jika kita tahu terkadang menunda menuntaskan sebuah tugas bisa berdampak baik, apakah itu berarti lebih baik kita tidak segera menyelesaikan tugas yang ada di hadapan kita? Untuk tugas-tugas kecil, sebaiknya kita jangan menunda. Tapi untuk tugas yang membutuhkan kreativitas, lebih baik kita tidak segera menyelesaikannya.

Riset yang dilakukan Adam Grant, pengarang buku laris Original, menunjukkan jika para “original thinker” punya kebiasaan menunda. Dalam artian jika deadline-nya 7 hari, mereka akan mulai mengerjakan di hari ke-2, membiarkannya tak selesai hingga hari ke 5, dan menyelesaikannya hingga hari ke-7.

Kenapa? Karena Zeigarnik effect membuat tugas yang tak selesai akan selalu kita ingat. Dan sambil menunda menyelesaikannya, para original thinker berpikir keras untuk menciptakan hal yang unik.

Secara bawah sadar otak mereka berusaha menciptakan koneksi antar disiplin ilmu untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Ditambah adrenalin kreativitas yang mengucur deras saat menjelang deadline, otak manusia dipaksa untuk menghasilkan solusi yang tak terduga.

Mulai sekarang jika Anda sedang mengerjakan proyek yang membutuhkan kreativitas, jangan buru-buru menyelesaikannya. Hasilnya bisa medioker. Coba kerjakan, lalu tinggalkan beberapa saat. Ketika Anda kembali untuk menyelesaikan-nya, Zeigarnik effect akan memberikan persepsi yang berbeda.

https://media.licdn.com/mpr/mpr/AAEAAQAAAAAAAA2eAAAAJGUzOWMxYWEzLTZiMGUtNDE2Yi04OTc4LTM5ZWJmMTg2YzAxYw.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#96 Fallacy of single cause: Kenapa kita harus berpikir multi dimensi

Kenapa banyak perusahaan ritel yang tutup?

Pertanyaan diatas sempat menjadi perbincangan hangat netizen beberapa waktu lalu. Banyak pihak yang berkomentar dan memberikan analisisnya.

Sebagian pengamat menyoroti shifting perilaku belanja masyarakat yang berpindah ke online. Ada pengamat yang menyalahkan lesunya daya beli masyarakat. Ada juga yang menyoroti inefisiensi peritel dalam melakukan ekspansi.

Mana yang benar? Semuanya bisa benar. Yang jelas, hanya “menyalahkan satu factor” dapat menyebabkan kita terperangkap dalam fallacy of single cause. Kecenderungan untuk menyederhanakan permasalahan.

Karena pada kenyataannya, masalah yang terjadi cenderung kompleks dan multi dimensi. Penutupan gerai pada perusahaan A bisa memiliki motif yang berbeda dengan penutupan gerai perusahaan B.

Hampir sama dengan pertanyaan: “Kenapa Jakarta sering banjir?”. Hanya menyebut “buruknya drainase” takkan menyelesaikan masalah karena masih ada aspek tata kota, perilaku warga, dan infrastruktur social yang sudah sangat padat ditengah lahan yang sempit.

Otak kita menyukai “single cause reasoning” karena lebih sederhana dan mudah dimengerti.

Kenapa ada krisis 1998? Jawaban single reasoning-nya: Karena ulah spekulan valas yang menghajar nilai tukar rupiah. Padahal masih ada permasalahan politik dan social yang membuat krisis tahun 98 mampu melahirkan reformasi.

Kenapa banyak koruptor di Indonesia? Jawaban gampangnya: karena banyak pejabat korup. Padahal ada aspek lemahnya pengawasan hukum, berbelitnya sistem birokrasi, dan juga sistem meritokrasi yang masih berjalan setengah hati.

Point-nya: biasakan untuk berpikir multi dimensi dan jangan hanya melihat dari satu sisi.

Contohnya jika Anda adalah seorang CEO yang baru saja meluncurkan produk baru. Setelah satu bulan, produk itu tidak laku. Apakah Anda akan menyalahkan tim marketing karena gagal mencapai target penjualan?

Sadarlah tentang jebakan fallacy of single cause. Duduk dengan tim Anda dan rincikan semua factor yang menyebabkan produk itu tidak terserap oleh pasar. Bisa promosi yang kurang, feature yang kurang greget, user interface yang membingungkan, dan lain-lain.

Rinci semua factor, dan bagi kedalam dua jenis: yang bisa kita ubah (harga, design, promosi, dll) dan yang tidak bisa kita ubah (kondisi ekonomi, nilai tukar, dll). Setelah itu lakukan test dengan merubah factor-faktor yang bisa mempengaruhi pembelian. Misal: mengubah harga, mengubah metode marketing, mengubah design produk, dll.

Jangan terjebak dengan mindset yang meminjam istilah filsuf Herbert Marcuse: one dimensional man. Kebiasaan hanya melihat satu sisi akan membuat Anda jadi kaum sumbu pendek yang ngamuk jika orang lain bilang bumi itu bulat.

Percayalah jika tidak pernah ada penyebab tunggal dalam setiap fenomena yang terjadi.

http://www.chronicle.com//img/photos/biz/photo_2914_landscape_650x433.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#95 Cherry Picking : Kenapa kita hanya melaporkan hal baik

Saya pernah diminta membuat report marketing campaign yang dilakukan bersama partner. Kami menginvestasikan uang dengan porsi 50:50 untuk membeli spot iklan di beberapa Negara Asia. Jumlahnya cukup besar untuk dibelikan lapangan bola di Meikarta hehehe.

Hipotesisnya: akan terjadi kenaikan penjualan saat periode promosi. Kenyataannya? Jualan malah turun cuk!

Apakah saya akan melaporkan buruknya penjualan? Jika saya melakukannya, sang partner akan berpikir dua kali untuk bekerja sama lagi di tahun depan.

Apakah saya akan memanipulasi data? Bagi saya, berbohong dengan data adalah dosa besar yang setara dengan memperkosa hewan peliharaan sendiri. Najis tralala untuk dilakukan.

Lalu, apa yang dapat saya lakukan untuk dapat terlihat sukses tanpa berbohong? Itulah guna cherry picking. Kita mengambil fakta partial yang menunjukkan kesuksesan kita. Terinspirasi dari petani yang hanya mengambil buah manis dan masak, serta meninggalkan yang masih muda dan masam.

Dalam kasus saya, ternyata data nationality Negara bersangkutan mengalami peningkatan. Itu berarti konsumen local meningkat. Sedangkan turunnya penjualan secara overall disebabkan penurunan pembeli nationality asing.

Saya dapat dengan bangga membagi hasil campaign: “Kita mendapat kenaikan penjualan XX% untuk konsumen dengan nationality XX”. Saya senang, mereka senang. Win-win solution.

Cherry picking adalah usaha melihat angle positif dari sebuah peristiwa, dan sering dipakai untuk berjualan. Misalnya saat Anda memesan hotel, gambar-gambar yang ditampilkan adalah hasil cherry picking. Karena prinsipnya sederhana: Tunjukkan yang baik, sembunyikan yang jelek.

Jika penjualan perusahaan Anda turun secara keseluruhan, coba laporkan lini usaha baru yang bertumbuh. Banyak complain dari pelanggan? Sundul 1-2 pujian yang Anda terima. Ingin terlihat sukses meski perusahaan terus merugi? Ceritakan efisiensi yang telah dilakukan.

Bagaimana agar terhindar dari cherry picking yang dilakukan orang lain? Biasakan untuk tidak hanya melihat report summary highlight. Kalau perlu lakukan drill down data mentah dan lakukan analisa berdasarkan pertanyaan sederhana.

“Apa big story yang sedang terjadi? Apakah kesimpulannya benar? Adakah data yang dilaporkan secara parsial?”

Jangan-jangan data yang terlihat bombastis adalah hasil cherry picking yang manis.

http://cummingstrengthandfitness.com/wp-content/uploads/2016/12/no-cherry-picking.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#94 The Power of Niat: Ternyata Motivasi Sangat Berarti

Dalam cerita sufi disebutkan ada sebuah pohon angker yang menjadi tempat menaruh sesajen. Mendengar ini, seorang laki-laki sholeh ingin menebang pohon itu. Menggunakan kapak, ia berangkat dan bertekad untuk memotong-motongnya menjadi kayu bakar.

Ditengah jalan ia bertemu dengan setan yang menyamar menjadi manusia. Setan bertanya:

“Hai Abu Ahmad, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku ingin menebang pohon keramat di desa tetangga”.

“Kenapa kamu ingin menebangnya?”

“Aku takut pohon itu menjadi sumber kesyirikan”.

Setan mencegat jalanan yang ingin dilalui. Karena tidak mau minggir akhirnya mereka berkelahi. Setelah melalui pergulatan, si setan bisa dikalahkan.

Setan yang babak belur meluncurkan tipus muslihat lain:

“Wahai fulan, aku tahu engkau orang yang saleh, tapi hidupmu kekurangan. Jika kau mau menunda niatmu menebang pohon itu, setiap hari engkau akan menemukan 2 keping perak dibawah bantalmu. Pulang dan periksalah jika tidak percaya”.

Mendengar tawaran itu, sang lelaki bergeming. Bayaran 2 keping yang bisa ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari terbersit dikepala. Ia bisa semakin khusuk beribadah dengan uang itu.

Akhirnya ia ingin membuktikan ucapan si setan. Ia lalu pulang dan benar-benar menemukan uang perak. Keesokan harinya, ia tidak menemukan uang perak “jatah harian” yang dijanjikan.

“Dasar setan penipu! Akan kutebang pohon itu”.

Ditengah jalan lagi-lagi ia dihadang oleh setan. Kini ia tersenyum. Lelaki yang masih marah kembali berkelahi dengan setan. Tapi kali ini dengan mudah setan bisa mengalahkan sang pemuda.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa tambah kuat?” tanya si pemuda.

“Sesungguhnya aku tidak bertambah kuat. Tapi niatmu yang melemah. Kemarin engkau ingin menebang pohon itu karena Allah, sekarang kau ingin menebangnya karena tidak mendapatkan uang perak”.

Niat dan Motivasi

Niat, dalam hal ini motivasi ternyata berperan penting pada prestasi. Banyak penelitian dan teori menegaskan hal ini.

Dalam manajemen, pegawai yang bermotivasi cenderung memiliki kinerja yang lebih tinggi (Robescu: 2016). Hal yang sama juga berlaku dalam pendidikan. Murid dengan motivasi dan determinasi tinggi, cenderung mampu menyelesaikan studi (Stevanovic:2014).

Percobaan yang dilakukan Robert Nida (2015) pada anak menunjukkan hal yang serupa. Ada 72 anak berusia 4 tahun diminta bermain untuk mengingat 10 mainan acak. Ada tiga grup dengan perlakukan berbeda: incidental, intensional, motivasional.

Di grup incidental, si anak tidak diberi intruksi apa-apa dan langsung diminta mengingat daftar mainan yang mereka pegang beberapa saat sebelumnya. Grup kedua, intensional, peneliti di awal sesi sudah berkata: “Coba ingat-ingat mainan yang kamu mainkan nanti”.

Sedangkan di grup ketiga, peneliti memberikan motivasi: mainan yang mereka ingat berhak untuk mereka simpan. Grup mana yang anak-anaknya memiliki kemampuan mengingat lebih baik? Sesuai hipotesis, grup motivasional secara rata-rata mampu mengingat lebih banyak dibanding grup lainnya.

Karena sesuai dengan inti cerita sufi: motivasi yang kita cari akan menentukan hasil yang kita temui. Dan anehnya, manusia akan mendapatkan hasil sesuai motivasi mereka. Setidaknya itu prinsip expectation theory dari Victor Vroom yang percaya jika:

“Intensity of work effort depends on the perception that an individual’s effort will result in a desired outcome”

Karena itu jika mengalami stagnansi dalam hidup, coba pertanyakan niatnya.

Jika bisnis sedang lesu, coba tanyakan lagi: apa motivasi kita dalam berbisnis?

Jika karier sedang mentok, coba gali lagi: apa yang ingin kita cari dalam bekerja?

Jika buntu dalam studi, coba perdalam lagi: apa yang ingin kita lakukan dengan ilmu yang kita miliki?

Jangan-jangan motivasi kita terlalu banal dan dangkal, sehingga tidak mampu menghasilkan karya monumental. Karena sesuai pesan Nabi: amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.

source image https://ishfah7.files.wordpress.com/2017/03/niat.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#93 Social Labeling bias: Kenapa kita suka mengkafirkan orang lain

Misalnya ada dua tempat duduk yang kosong. Anda bisa duduk disamping mas-mas berseragam polisi, atau duduk disamping lelaki sangar dengan tubuh penuh tato dan tindik yang menyeramkan. Mana yang akan Anda pilih?

Kita pasti akan menduga orang yang memakai baju polisi adalah polisi yang bertugas, sedangkan abang-abang bertato dengan tampang sangar adalah preman. Padahal bisa saja orang yang memakai baju polisi adalah penipu, dan si preman ternyata intel polisi yang menyamar.

Percaya atau tidak, secara bawah sadar otak kita akan memberikan label kepada orang lain. Proses pemberian label ini bisa terjadi dalam sekejapan mata atau dalam hitungan detik. Kita membutuhkannya untuk menganalisa kondisi dan mengidentifikasi adanya bahaya.

Berpapasan dengan orang yang membawa senjata akan meningkatkan kewaspadaan, sedangkan berpapasan dengan nenek tua akan menurunkan kecemasan kita akan bahaya. Padahal bisa saja sang nenek adalah pembunuh bayaran terlatih sedangkan pembawa senjata adalah pecinta olahraga air soft gun biasa.

Masalahnya, informasi yang kita terima sering kali tidak lengkap, dan ada informasi yang tidak kita ketahui. Bahasa gaulnya, ada assymetric information yang terjadi. Kita tidak tahu apa yang mereka ketahui, dan sebaliknya, mereka tidak merasakan apa yang kita rasakan.

Inilah yang membuat kita sering men-judge orang lain yang tidak sealiran dengan kita adalah salah, dan kita selalu merasa paling benar. Padahal bisa saja ada informasi yang belum kita ketahui. Kalau kata psikolog Joseph Luft dan Harrington Ingham (penemu Johari window), ada “façade information” antara kita dan orang lain. Hijab yang menutupi pengetahuan kita dan mereka.

http://communicationtheory.org/wp-content/uploads/2013/01/johari-model.jpg

Façade information juga yang membuat Musa terheran-heran dengan Khidir dan menyalahkannya karena telah merusak perahu dan membunuh anak kecil. Ilmu nabi Musa belum “sampai”, dan Khidir baru menjelaskan alasan tindakannya saat mereka akan berpisah.

Sultan Murad dan Ahli Maksiat

Seperti cerita Sultan Murad dari Turki. Suatu malam Ia tidak bisa tidur. Ia merasa gelisah dan ada yang bergemuruh dihatinya. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar istana dan menyamar sebagai rakyat jelata. Blusukan kalau bahasa sekarang.

Saat keluar tiba-tiba mereka menemukan seorang laki-laki yang terbaring di tengah jalan. Sultan mencoba membangunkannya. Ternyata laki-laki itu sudah meninggal. Anehnya, tidak ada yang mempedulikannya. Jenasahnya dibiarkan begitu saja.

Ia lalu bertanya ke orang-orang yang lewat: “Kenapa orang ini meninggal tapi tidak ada seorang pun yang peduli dan membawa ke rumahnya? Siapa dia? Dimana keluarganya?”

“Orang ini pelaku maksiat” kata orang-orang. “Ia juga selalu mabuk-mabukan dan berzina dengan pelacur”.

“Tapi bukankah ia juga umat Rasullullah, Muhammad s.a.w? Ayo angkat ia dan kita bawa ke rumahnya” ajak sultan Turki itu.

Mereka lalu membawa jenazah laki-laki itu kerumahnya. Sang istri yang baru mengetahui kematian sang suami, langsung menangis dan sedih. Orang-orang langsung meninggalkannya dan hanya ada Sultan dan para pengawal yang masih tinggal dan menghibur si istri.

Sultan bertanya, “Aku mendengar dari orang-orang jika suamimu adalah ahli maksiat sehingga mereka tidak peduli dengan kematiannya. Benarkah hal itu?”

“Awalnya aku menduga seperti itu tuan..” jawab si istri sambil menangis sesenggukan.

“Suamiku setiap malam keluar rumah pergi ke toko minuman keras, membeli sebanyak uang yang dimilikinya, lalu membawa pulang minuman itu untuk dibuang sambil berkata: ‘Alhamdulilah, aku telah meringankan dosa kaum muslimin’”.

“Suamiku juga pergi ke tempat pelacuran”, lanjutnya.

“Ia memberi mereka uang dan berkata, ‘Malam ini adalah jatah waktuku. Jadi tutup pintumu sampai pagi, jangan kau terima tamu lain!’. Kemudian akan pulang dan berkata kepadaku: ‘Alhamdulilah, malam ini aku telah meringankan dosa pemuda-pemuda islam’. Namun orang-orang yang melihatnya mengira suamiku suka mabuk-mabukan dan gemar berzinah. Berita ini lalu menyebar di masyarakat”.

Sang istri berusaha menahan tangis dan kemudian melanjutkan ceritanya.

“Sampai suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: Jika engkau meninggal, tidak aka nada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, menshalatkanmu, dan menguburkanmu”.

Suamiku hanya tertawa dan menjawab: “Janganlah takut wahai istriku! Jika aku mati, aku akan dishalati oleh sultannya kaum muslimin, dan juga para ulama dan ‘auliya Allah”.

Mendengar hal itu Sultan Murad langsung menangis dan berkata, “Benar apa yang dikatakannya. Demi Allah, akulah Sultan Murad itu dan besok pagi kita akan memandikan suamimu, menshalatinya, dan menguburkannya bersama masyarakat dan para ulama”.

Jangan mudah menyalahkan dan memberikan label kepada orang lain. Waspadai façade information. Jangan-jangan ilmu kita yang belum sampai.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#86 Celebrity Effect: Kenapa Artis Bisa jadi Komisaris?

Dunia bisnis dan showbiz dikejutkan dengan pengangkatan Raline Shah sebagai komisaris independen AirAsia. Betapa tidak, Raline yang tidak memiliki background korporat tiba-tiba menduduki jabatan bergensi di airlines berbiaya hemat terbaik dunia menurut Skytrax itu.

Halo Mbakkkk

Ngomong-ngomong koq bisa sih artis jadi komisaris? Kira-kira apa motifnya? Yang pasti, motifnya bukan kotak-kotak atau kembang-kembang. Alasan utamanya adalah kepentingan bisnis.

Tugas Komisaris

Bagi yang belum tahu, komisaris punya peran berbeda dengan direktur. Ia bertugas mengawasi kebijakan direksi dan menjadi lembaga penasihat. Hal ini diatur dalam UU no 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.

Peran komisaris independen dipertegas dalam penerapan GCG (Good Corporate Governance), dimana sebuah perusahaan yang sehat harus punya direksi, komisaris independen, dan juga komite audit.  Komisaris independen adalah dewan yang tidak berafiliasi dengan direksi, pemegang saham, atau komisaris lainnya.

Kenapa pejabat perusahan ga cukup hanya dewan direksi aja? Karena dalam dunia korporasi ada agency conflict theory. Jadi ceritanya, para direktur punya satu tujuan mulia: membuat pemegang saham semakin kaya (ini jujur lho..). Tapi sayangnya nggak semua direksi kerjaannya bener.

Bisa saja dia sengaja bikin aksi korporasi dengan tujuan mendapatkan bonus pribadi. Misal: menjual asset perusahaan dan mengakuinya sebagai laba tahun berjalan. Performa keuangan yang kinclong menjamin bonus yang keren dong. Urusan perusahaan rugi dimasa depan, itu dipikir belakangan.

Nah, tugas komisaris independen ini berperan penting untuk melakukan pengawasan agar jangan sampai ada kejadian seperti itu. Mereka dipilih oleh pemegang saham untuk mengawasi dan memberi saran pengembangan perusahaan.

Jika punya waktu silahkan baca jurnal klasik dari Firstenberg dan Malkiel (1980) yang berjudul: “Why Corporate Boards Need Independent Directors”.

Terus, kenapa harus artis?

Celebrity effect

Komisaris independen bisa berasal dari mana saja. Tokoh masyarakat sampai pengangguran diperbolehkan. Lagipula dipilihnya seorang artis kedalam tim manajemen bukanlah hal yang baru.

Tahun 2013, Alicia Keys pernah menjabat direktur creative RIM. Vokalis U2, Bono, menjadi direksi perusahaan gitar Fender setahun kemudian. Dan ga Cuma artis, banyak public figure lainnya yang kecipratan rezeki dari dunia korporasi.

http://www.connectnigeria.com/articles/wp-content/uploads/2013/02/alicia-keys-at-blackberry.jpg

Coca Cola pernah meng-hire Evander Holyfield, petinju yang digigit kupingnya oleh Mike Tyson. Michael Jordan pernah jadi direksi Oakley. Apple tidak mau ketinggalan karena pernah merekrut Al Gore.

Boleh percaya boleh tidak, beberapa studi menunjukkan hadirnya public figure dapat mengangkat harga saham. Saham Disney meroket 4.2% saat merekrut Sidney Poitier pada 1994. Perusahaan selai J.M Smucker menikmati kenaikan saham 2.1% saat pegolf professional Nancy Lopez bergabung kesana.

The Economist menyebutnya “celebrity effect”. Hipotesanya: exposure yang diberikan seorang artis menciptakan ketertarikan public dan secara tidak langsung membuat investor memiliki kepercayaan untuk berinvestasi disana.

Intinya kita tidak usah heran apalagi sirik melihat pengangkatan Raline. Semua pasti ada hitung-hitungan bisnisnya. Terbukti pengangkatannya langsung menjadi trending topic dan membuat netizen membicarakan AirAsia.

At least masih mending AirAsia menggandeng Raline dan bukan Mbak Awkarin.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail