Category Archives: Cognitive biases

#85 Crespi Effect: Kenapa kebaikan kita hanya bertahan saat Ramadan?

Bulan Ramadan membawa dampak positif bagi hidup kita. Masjid jadi ramai hingga dini hari, qur’an diperdengarkan disana sini, music di mall berganti lagu religi, orang jadi rajin berbagi, anak Yatim akhirnya dikunjungi, dan kita saling bermaaf-maafan sambil bersilaturahmi.

Saya sempat berpikir, apa yang membuat semua orang jadi sholeh?

Apakah karena pada bulan mulia ini setan dibelenggu dan pahala dilipatgandakan? Apakah karena pada bulan Ramadan ada malam yang lebih baik dari malam 1000 bulan?

Secara teoritis psikologis, ada korelasi antara performa yang dilakukan terhadap insentif yang didapatkan.

Pada tahun 1942, seorang Psikolog bernama Leo Crespi mencoba meneliti dampak insentif terhadap “kinerja” pada tikus. Ia meneliti tiga grup tikus yang rata-rata beranggotakan 20-an ekor tikus albino jantan berumur 3-6 bulan.

Disetiap grup ia meletakkan tikus itu di sebuah “sirkuit buatan” dengan umpan pakan yang ada di ujung “garis finish”. Ia menciptakan semacam “lomba balap tikus” dengan umpan yang berbeda-beda sebagai hadiahnya. Ia lalu mengukur kecepatan tikus dalam berlari mengambil umpan itu.

Hasilnya ternyata sesuai dugaan, semakin banyak reward (umpan) yang diberikan, semakin cepat performa lari si tikus. Demikian juga sebaliknya, semakin sedikit umpan di ujung lintasan, semakin tidak bersemangat si tikus yang membuat larinya melambat.

Mungkin ini yang membuat kita begitu bersemangat menyambut Ramadan. Kita terkena “Crespi effect” saat reward yang alhamdulilah dahsyatnya menjadi pendorong untuk melakukan kebaikan.

Pertanyaan selanjutnya: Kenapa kesalihan ini tidak bisa bertahan lama? Kenapa setelah Ramadan usai kita kembali melakukan dosa-dosa yang sama untuk ditebus di Ramadan berikutnya (jika masih hidup)?

Dugaan saya: karena kita masih seperti si tikus dan berfokus pada “umpan” bonus pahala saat Ramadan. Kita tidak sadar jika Ramadan adalah bulan latihan. Semacam environmental trial testing sebelum menjalani “ujian sesungguhnya” di bulan berikutnya.

Kita lupa jika puasa dibulan Ramadan dan puasa sunnah dibulan lain itu sama baiknya. Kita sering lupa jika menahan emosi itu seharusnya dilakukan sepanjang tahun. Dan seharusnya kita sadar jika menyantuni anak yatim itu bukan ritual setahun sekali.

Padahal Ramadan adalah sebuah penerapan incentive theory yang dilakukan oleh Tuhan. Ia memberikan positive reinforcement berupa bulan pengampunan dan pelipatgandaan pahala agar kita, pada akhirnya mencintai kebaikan dan menjadi orang baik.

Bukankah itu tujuan Tuhan menciptakan kita sebagai khalifah di dunia?

Tidak hanya mencari pahala ibadah berlipat ganda. Hal itu akan kita dapat jika kita melaksanakan tugas utama kita:

Menjadi rahmat bagi semesta.

https://static.comicvine.com/uploads/original/11119/111198831/4557633-2008240983-mouse.jpg

*sumber gambar

**sumber jurnal Crespi

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#85 Illusion of attention: Kenapa yang kita lihat bisa saja tipuan

Pada 1999 psikolog Daniel Simons dan Christopher Chabris membuat eksperimen sederhana. Mereka menampilkan video sekelompok orang (3 orang baju putih, 3 orang baju hitam) sedang mengoper bola basket. Instruktur di video meminta Anda untuk menghitung jumlah operan yang dilakukan peserta berbaju putih.

Ditengah kegiatan mengoper bola, tiba-tiba ada orang berpakaian gorilla yang berjalan diantara peserta. Anehnya, mayoritas dari responden mengaku tidak melihat ada gorilla besar yang nongol di tengah-tengah mereka. Jika penasaran, Anda bisa menonton “The Monkey business illusion” di youtube.

Itulah illusion of attention: saat kita terlalu menaruh perhatian pada sesuatu aspek, kita sering melewatkan hal besar yang tengah terjadi.

Hal ini yang menyebabkan kita dilarang menelpon saat menyetir. Perhatian yang terbagi antara jalan raya dan pembicaraan di telpon bisa memperbesar kemungkinan terjadinya kecelakaan.

Pesulap adalah profesi yang paling banyak memanfaatkan illusion of attention. Contohnya tipuan kelinci dari topi. Pesulap akan membuat kita memperhatikan topi dan sapu tangan yang ia bawa. Dua buah benda yang sengaja dimainkan untuk menciptakan illusion of attention. Padahal kunci trik itu ada pada kelinci yang tersembunyi dibawah meja.

Pencopet juga sering menggunakan illusion of attention untuk mengalihkan perhatian korbannya. Saya hampir kehilangan handphone saat ada orang mengajak ngobrol dan disaat yang sama berpura-pura menawarkan pijat gratis (ternyata ada komplotannya yang bergerak merogoh saku saya).

Dalam dunia intelejen, illusion of attention tercipta dengan menciptakan scenario yang bisa mengalihkan perhatian public. Contohnya invasi yang dilakukan oleh AS kepada Irak. Isu senjata pemusnah masal yang dihembuskan adalah illusion of attention agar dunia tidak sadar tentang kepentingan ekonomi dan politik yang ada dibelakangnya.

Pelajarannya: perhatian kita bisa menipu. Terlalu focus pada hal kecil membuat kita melupakan hal lain yang lebih besar.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#84 Ownership Bias: Ka’bah dan Pelajaran Tentang Kehilangan

Umroh kali ini terasa berbeda.

Tahun 2014 lalu saya datang sebagai solo gembel backpacker, sekarang saya membawa si Pipi Kentang dan Ibu Mertua dan ikut serta dalam rombongan 146 peserta.

Dari segi fasilitas? jauh lebih baik. Tiga tahun lalu saya tidur di emperan masjid, mandi di toilet, sengaja puasa untuk menghemat konsumsi, dan menggunakan bahasa arab hasil google translate untuk mendapat tumpangan kendaraan. Sekarang alhamdulilah ada kasur empuk di hotel berbintang yang hanya berjarak ratusan meter dari masjid, makanan prasmanan bebas nambah 3x sehari, dan bis nyaman untuk ditumpangi.

Dan nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?

Tapi selalu ada pelajaran berharga didalamnya, dan lagi-lagi soal kehilangan.

Saat umroh pertama, saya diberi pelajaran dengan kehilangan harta. Saya kehilangan semua barang yang saya bawa. Satu backpack besar berisi perlengkapan perjalanan hilang saat saya taruh didepan masjidil Haram, dan seluruh uang sisa saya hilang dicuri oleh komplotan taksi gelap di Jeddah (untung Tuhan mengirimkan Dody, teman kuliah yang kebetulan dinas disana. Thanks so much bro!).

Kali ini saya diajarkan untuk kehilangan tiga hal yang lebih besar.

Yang pertama adalah “kehilangan keluarga”.

Ceritanya saya ingin melakukan tawaf beserta keluarga. Karena Ibu mertua saya ga kuat jalan jauh, saya meminjam kursi roda hotel. Harusnya jamaah kursi roda melakukan tawaf dilantai 2, tapi karena jadi jauh (4 km cuy) saya coba nakal membawa kursi roda ke area ka’bah.

Apes, ada penjaga yang melihat. Kursi roda ga boleh turun. Saya meminta istri dan mertua untuk menunggu sementara saya meletakkan kursi roda ditempat aman. Setelah saya cari kira-kira tempat yang rada sepi dan aman (saya taruh di dekat penitipan sandal yang ga ada jamaahnya), saya pun menyusul.

Eh, mereka sudah ga ada! Dan pipi kentang ga bawa hape pula. Masa mereka sudah tawaf duluan sih? Bagaimana saya bisa menemukan mereka ditengah ribuan orang yang sedang tawaf? Bukankah Ibu mertua saya ga kuat jalan jauh?

Bismillah. Saya pun tawaf sambil berdoa.

“Ya Allah pertemukan saya dengan keluarga saya”.

Satu putaran, belum ketemu.

Saya mulai berpikir plan B, apakah nanti saya langsung tunggu dihotel saja? Bagaimana cara biar Ibu mertua kuat jalan kesana?

Dua putaran, belum juga ketemu.

Saya mulai merasa sepi, seperti ini rasanya ditinggal pergi keluarga yang kita cintai? Tak pernah bertemu lagi.

Tiga putaran, tak juga berjumpa.

Tapi bukankah, semua akan kembali kepada-Nya? Tugas kita hanya melepaskan dan mengikhlaskan. Setelah memberikan sugesti seperti itu, hati saya merasa lega. Dan tahu ga, di putaran ketiga ini saya melihat istri dan ibu mertua saya bersama jamaah yang lain! Alhamdulilah!.

Jadi ceritanya saat mereka menunggu, ada tawaran tawaf bersama jamaah satu rombongan. Mereka sudah menunggu tapi saya ga nongol-nongol juga. Akhirnya mereka tawaf duluan.

Kamipun menyelesaikan tawaf dan kembali keatas, untuk menerima kehilangan kedua.

 “Kehilangan amanat”.

Kursi roda itu sudah raib! Padahal sudah saya letakkan di tempat yang sepi jamaahnya. Saya coba tanya penjaga, “no English”. Saya coba pake bahasa arab seadanya. Dianya ga ngerti. Waduh. Padahal kursi roda itu amanat dari hotel. Jika hilang maka otomatis saya wajib mengganti.

Saya coba tanya pusat informasi, disuruh ke bagian lost & found yang jauh banget. Mana sudah mau adzan maghrib.

Qadarullah. Que sera-sera. Yang terjadi, terjadilah.

Akhirnya saya memutuskan sholat maghrib dan isya di depan Ka’bah sambil browsing harga-harga kursi roda. Waduh bisa ga jadi beli oleh-oleh nih kalau memang disuruh ganti. Tapi itulah harga amanat. Mungkin Allah nyuruh kami untuk sedekah kursi roda agar dipakai orang yang lebih membutuhkan.

Setelah sholat isya saya buat nadzar:

“Ya Allah kalau kursi roda itu ketemu, hamba akan berpuasa 3 hari”.

Sebagai last effort, saya coba cek sekali lagi. Dan ternyata sandal yang saya letakkan di kursi roda tidak diambil. Ada juga sandal jelek warna item. Awalnya saya kira punya Pipi Kentang, tapi karena gak yakin, tidak saya ambil.

“Loh itu sandal jepitnya koq ketemu? Punyaku mana?” kata Pipi Kentang.

Oh ternyata sandal item jelek itu punya dia. Ya udah daripada pulang nyeker, saya coba ambil lagi.

Tapi karena suasana ramai, saya coba masuk dari pintu lain (turunan samping King Abd Aziz gate) dan malah kesasar. Saya justru diusir penjaga dan disuruh keluar ke gerbang yang tidak saya ketahui.

Mungkin Allah punya rencana, karena ternyata kursi roda itu terparkir rapi dipintu keluar! Saya coba yakinkan diri, jangan-jangan punya orang lain? Tapi dari warna polos dan pijakan kakinya yang agak kroak emang bener ini punya hotel. Alhamdulilah… tinggal puasa 3 hari deh hehehe.

Saat saya kembali untuk mengambil sandal buluk item punya Pipi Kentang, ternyata sandal itu sudah menghilang. Kira-kira sapa sih yang mau ngambil sandal item bulukan itu? Saya Cuma tersenyum. Insya Allah semua sudah diatur.

Yang ketiga: “kehilangan teman”

Kehilangan ketiga dan terberat adalah kehilangan kawan sekamar saya, Pak Satrio. Beliau meninggal terkena serangan jantung setelah melakukan tawaf di hari terakhir berada di Mekkah.

Bapak yang satu ini paling semangat beribadah diantara teman-teman sekamar yang lain. Jam 2 selalu sudah bangun, mandi, dan berangkat ke masjid untuk sholat malam. Demikian juga saat melaksanakan tawaf sunnah.

Setelah tawaf, awalnya Pak Satrio merasakan sesak nafas. Ia lalu pulang ke hotel dan dikira hanya masuk angin. Kata istrinya, tidak ada riwayat penyakit aneh kaya jantung atau asma. Untung ada Pak Iwan, yang tahu jika itu bukan sesak biasa. Sesak nafas disertai dada yang sakit adalah indikasi serangan jantung.

Akhirnya Pak Satrio dilarikan kerumah sakit dan langsung masuk ruang ICU. Jantungnya terus melemah dan beberapa hari kemudian menghembuskan nafas terakhir di tanah suci, setelah disholatkan oleh ribuan jamaah masjidil haram. Sungguh akhir hidup yang indah dan insya Allah husnul khotimah.

Pelajarannya?

Kita menderita ownership bias: merasa memiliki apa yang sebenarnya tidak kita miliki.

Kita merasa memiliki harta, keluarga, sahabat, bahkan nyawa kita sendiri. Padahal semua hanyalah titipan yang bersifat sementara. Tak ada yang kita miliki hingga akhir dunia. Kita juga merasa sedih saat titipan itu harus dikembalikan kepada pemiliknya.

Padahal Tuhan sudah mengajarkan: Inna lillahi wa inna ilayhi raaji’un.

Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali.

http://pre03.deviantart.net/97c6/th/pre/i/2010/347/1/2/lost_soul_evolurtion_by_nataly1st-d34sqs9.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#83 Via Negativa

Dalam Art of Thinking Clearly karya Rolf Dobelli, diceritakan jika Paus Julius II pernah bertanya kepada Michelangelo:

“Apa rahasia kejeniusanmu? Bagaimana bisa kamu menciptakan patung David, masterpiece dari segala masterpiece?”

Michelangelo menjawab singkat:

“Sederhana. Saya membuang semua bagian yang bukan David”.

Gampangannya, jika Michelangelo melihat sebongkah batu raksasa, ia sudah bisa melihat David didalamnya dan tinggal membuang bagian yang tidak berguna: bongkahan yang bukan bagian tubuh David.

Jawaban Wdiatas memberikan kita petunjuk: terkadang kita tidak tahu rahasia kesuksesan, tapi kita jelas tahu penghalang kesuksesan. Yang perlu kita lakukan hanyalah tidak melakukan sesuatu yang bisa menghalangi kesuksesan itu.

Ini membuktikan jika negative knowledge (mengerti not to do – apa yang sebaiknya tidak dilakukan) sama pentingnya dengan positive knowledge (what to do – apa yang harus dilakukan). Teolog menyebutnya Via negativa dan menggunakannya untuk menjelaskan Tuhan kepada orang atheist. Bukan dengan menjelaskan ‘apa itu Tuhan’, tapi dengan menjelaskan ‘ apa yang bukan Tuhan’.

Manajemen modern membalut via negativa dalam berbagai metode canggih dan keren seperti Lean Six Sigma. Padahal Intinya sama: membuang aktivitas yang tidak perlu dan tanpa nilai tambah. Digabung dengan Kaizen, Anda akan menemukan rahasia kesuksesan produk Jepang: terus melihat kelemahan sendiri dan terus memperbaiki diri.

Kita bisa menerapkan via negativa untuk memperbaiki kehidupan pribadi. Kuncinya sama: tahu apa yang harus dihindari.

Contohnya jika saya ingin jadi petinju juara dunia, maka akan ada beberapa kategori aktivitas yang bisa saya lakukan:

  1. Aktivitas bermanfaat yang saya sukai. Misal: menambah asupan protein dalam makanan
  2. Aktivitas bermanfaat yang tidak saya sukai. Misal: berlatih beban
  3. Aktivitas tidak bermanfaat yang saya sukai. Misal: bermalas-malasan dan bermain game seharian
  4. Aktivitas tidak bermanfaat yang tidak saya sukai. Misal: merokok

Menerapkan via negativa berarti mengurangi kebiasaan negative yang menjauhkan diri dengan pencapaian mimpi kita sendiri.

Karena kita semua pasti punya mimpi-mimpi. Dan terkadang kita tidak pernah tahu cara mewujudkan mimpi itu. Tapi kita semua tahu tindakan atau kebiasaan yang menghalangi diri kita dalam mencapai mimpi.

Yang perlu kita lakukan hanyalah melakukan via positiva: melakukan tindakan yang bermanfaat, dan via negativa: menghindari aktivitas yang penuh mudharat.

activity matrix

Karena itulah agama saya mendefinisikan ketakwaan dengan konsep sederhana: mematuhi perintah-Nya (what to do), dan menjauhi larangan-Nya (not to do).

Hal ini juga yang menjadi rahasia Luqman Ibn ‘Anqa’ Ibn Sadun sehingga ia mendapat gelar Al-Hakim, orang yang bijaksana.

“Aku tahan pandaganku, aku jaga lisanku, aku perhatikan makananku, aku pelihara kemaluanku, aku berkata jujur, aku menunaikan janji, aku hormati tamu, aku pedulikan tetanggaku, dan aku tinggalkan segala yang tak bermanfaat bagiku”.

Lagi-lagi penerapan via negativa.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#82 House money effect: Kenapa penjudi semakin bernafsu saat menang

Misalnya Anda adalah seorang pekerja pabrik. Setiap hari Anda menabung dan hidup hemat. Setelah beberapa tahun terkumpul uang 250 juta hasil jerih payah keringat Anda. Kira-kira apa yang akan Anda lakukan dengan uang itu?

  1. Membiarkannya di tabungan bank
  2. Menginvestasikannya
  3. Menggunakan uang itu untuk merenovasi rumah atau membeli kendaraan
  4. Berlibur dan jalan-jalan keluar negeri

Kebanyakan orang akan memilih opsi A, B, atau C.

Sekarang kita balik kasusnya. Andaikan Anda baru saja memenangkan undian 250 juta. Apa yang akan Anda lakukan dengan uang itu? Rata-rata dari kita akan memilih opsi D, baru masuk ke opsi C, B, dan A.

Logikanya: uang itu sama-sama 250 juta. Yang berbeda hanya cara mendapatkannya. Kenapa kita memiliki pola konsumsi yang lebih konsumtif untuk jumlah uang yang sama?

Richard Thaller menyebutnya house-money effect. Terinspirasi dari penjudi yang lebih agresif saat sedang mengungguli bandar (the house). Mereka akan mempertaruhkan uang yang lebih besar, dan berani mengambil lebih banyak risiko.

https://s3.amazonaws.com/images.agentsvoice.com/uploads/image/image/20/large_house_money.jpg

Dalam pasar modal, house money effect mendorong investor yang memiliki “portofolio hijau” untuk lebih sering bertransaksi dan menginvestasikannya ke dalam saham yang lebih berisiko.

Thaller mencoba melakukan eksperimen sederhana. Ia membagi mahasiswanya menjadi dua grup. Grup pertama diberitahu jika mereka mendapatkan 30 dollar dan berkesempatan untuk memenangkan lebih jika mengikuti undian koin.

Jika kepala maka mereka mendapat tambahan 9 dollar, jika ekor maka uang mereka berkurang 9 dollar. Ada 70% respondend di grup pertama tertarik dengan taruhan ini.

Di grup kedua, mereka diberitahu jika tidak mendapat apa-apa. Dan mereka berkesempatan untuk mendapatkan 30 dollar secara langsung, atau mengikuti undian dengan hadiah 39 dollar jika koin yang dilempar kepala, dan 21 dollar jika koin yang dilempar adalah ekor.

Ternyata responden yang tertarik hanya 43%. Padahal expected value mereka sama: jika konservatif 30 dollar, dan jika agresif antara 21-39 dollar.

Pemasar menggunakan house money effect untuk mempengaruhi konsumen dengan memberikan free credit bagi pengguna pertama, referral bonus, hingga saldo gratis.

Tujuannya? Membuat konsumen merasa “menang” dan mulai berbelanja lebih banyak.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#81 Salience effect: Kenapa informasi hangat bisa menipu

Ada berita artis ditangkap karena mengkonsumsi narkoba. Semua orang berkomentar, mengutuk keras dan menyayangkan bagaimana bisa si artis terjerat lembah hitam itu. Narkoba menjadi topic hangat yang diperbincangkan di warung kopi, acara gossip, dan menghiasi headline media baik digital atau tradisional.

Misalnya Anda Anda adalah seorang jurnalis kriminal. Kebetulan keesokan harinya ada kecelakaan. Penyebabnya masih diselidiki polisi. Namun berdasarkan sumber internal yang Anda miliki, ditemukan beberapa gram bubuk narkotika di dashboard mobil.

Anda lalu menulis berita dengan judul panas:

“Narkoba kembali merenggut korban!”

Headline berita seperti diatas adalah korban salience effect. Salience adalah tingkat “noticeable” (kecenderungan untuk dikenal) atas informasi yang menonjol. Salience effect bisa berarti: terkadang sesuatu yang stand out, bisa mengacaukan analisa yang ada.

Adanya narkoba yang merupakan informasi dengan salient tingggi menciptakan bias. Karena belum tentu narkoba adalah penyebab terjadinya kecelakaan. Bisa saja sang pengemudi mengantuk, atau ada factor sabotase eksternal. Karena itu perlu dilakukan penyelidikan yang menyeluruh.

Contoh lainnya saat ramai-ramainya soal polemic transportasi online. Anda mendapat berita jika ada tabrakan antara angkot dengan salah satu taksi online. Jika terkena salience effect, Anda akan menulis:

“Angkot dan Taksi Online kembali berseteru!”

Judul berita diatas akan disukai editor Anda. Sifatnya bombastis, up to date, dan mampu memanfaatkan salient dari momentum gonjang-ganjing taksi online. Tapi secara logika, tabrakan yang terjadi belum tentu disebabkan oleh konflik supir angkot dengan taksi aplikasi online. Bisa saja kecelakaan terjadi karena hal lain yang tak disengaja, dan kebetulan salah satu korbannya adalah anggota taksi online.

Intinya, kita harus berhati-hati dengan salience effect. Informasi yang bersifat menonjol bisa melupakan kita untuk mencari akar permasalahan dan langsung memberikan penilaian yang dangkal.

Contohnya terakhir: saat maraknya kasus penculikan, tiba-tiba anak tetangga Anda belum pulang hingga malam hari. Jika Anda berpikir ia menjadi korban penculikan, maka cobalah untuk tenang dan kurangi salience effect yang terjadi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#80 Default Effect: Kenapa kita suka pilihan standar

Jika Anda ingin membeli sepeda motor dengan harga murah, carilah motor yang sudah dimodifikasi habis-habisan. Demikian juga dengan mobil, bekas anaik muda yang hobi modifikasi biasanya membuat harga jualnya turun.

Pasar akan menghargai lebih tinggi kendaraan yang masih standard daripada kendaraan yang sudah dimodif. Bahkan mobil antik dengan onderdil orisinal bisa punya harga berlipat-lipat dibandingkan mobil tua yang memakai spare part modern.

Kita menyukai orisinalitas bawaan. Bahkan manusia akan cenderung memilih pilihan standar (default) yang diberikan. Darisitulah lahir default effect, kecenderungan orang untuk memilih opsi yang dijadikan standard default.

Ada perusahaan airlines yang kesulitan menjual travel insurance tambahan. Apa yang mereka lakukan? Menggunakan default effect, mereka menjadikannya sebagai pilihan standard (default) saat pemesanan tiket (Anda harus un-click untuk tidak membeli). Hasilnya take up pembelian langsung meroket. Orang yang tidak tahu atau malas memilih cenderung menerima option standard yang diberikan.

Percobaan yang dilakukan oleh Eric Johnson dan Dan Goldstein menunjukkan hal yang serupa. Mereka bertanya kepada responden: “Apakah Anda tertarik mendonorkan organ Anda?”

Mereka menciptakan dua kondisi. Kondisi pertama, jawaban “Ya saya bersedia” tidak otomatis tercentang, sedangkan di kondisi kedua jawaban “Ya” tercentang dan menjadi jawaban default. Hasilnya? Kondisi pertama hanya menghasilkan 40% orang yang setuju sedangkan di kasus kedua jawaban “Ya” melonjak menjadi 80%.

Kenapa default effect bisa berpengaruh?

Menurut Young Huh et al (2014) setidaknya ada tiga sebab. Pertama, pilihan default secara implisit berarti pilihan yang disarankan oleh otoritas pemberi pilihan. Kedua, pilihan default menjadi reference point dan menciptakan loss aversion saat harus berganti pilihan. Ketiga, tidak dibutuhkan action untuk melakukannya, cukup mengikuti pilihan yang ada.

Pelajarannya: Jika ingin orang lain melakukan sesuatu, jadikan pilihan itu sebagai pilihan standard (default).

http://www.degreesource.com/wp-content/uploads/2015/05/default.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#79 Denomination Effect : Kenapa kita harus berhati-hati dengan janji cicilan ringan

Misalnya anak Anda meminta uang jajan 100rb. Kira-kira mana yang akan Anda berikan:

  1. Satu lembar uang merah 100rb
  2. 10 lembar uang ungu pecahan 10rb

Percaya atau tidak, jika Anda ingin anak Anda lebih hemat, sebaiknya berikan satu lembar 100rb-an. Setidaknya itu hasl penelitian dari Priya Raghubir dan Joydeep Srivastava (2009).

Mereka melakukan tiga eksperimen di tiga tempat yang berbeda. Mekanismenya sama: responden akan diberikan 1 pecahan besar (misal $5) atau beberapa pecahan uang kecil (5 lembar $1). Mereka lalu diberi pilihan untuk menyimpan atau membelanjakan uang itu.

Hasilnya ternyata sama: responden yang memegang uang dengan nilai lebih kecil, cenderung lebih boros dalam membelanjakan uang. Itulah kekuatan “denomination effect”, dimana uang dengan nominal yang kecil membuat kita lebih konsumtif untuk membelanjakannya.

Sama seperti saat Anda hanya memiliki uang 100rb didalam dompet. Kita merasa agak berat untuk “memecahkannya” untuk jajan di warung. Berbeda misalnya jika Anda punya 50 lembar Rp.2000. Secara bawah sadar kita merasa lebih ikhlas membelanjakan uang receh yang kita miliki, selain untuk mengurangi ketebalan dompet yang merepotkan.

Jika Anda mampir ke bandara-bandara besar seperti Changi Singapura, akan ada vending machine yang menjual barang-barang seharga $ 1. Mereka memanfaatkan denomination effect. Daripada membawa uang receh, mending dibelanjakan saja. Toh nilainya tidak besar.

Tukang kredit menggunakan denomination effect dengan mengklaim jika kita cukup membayar cicilan ringan. Mereka mengelabui konsumen yang tak pernah menghitung harga total perolehan karena sudah bernafsu membawa pulang barang dengan angsuran yang kelihatannya tidak seberapa.

Pelajarannya: saat ada dua pilihan ATM, pilihlah mesin dengan pecahan 100 ribu. Secara tidak langsung, kita akan mengurangi denomination effect. Dan berhati-hatilah dengan fasilitas cicilan yang rendah. Kesan “ringan”, “murah”, “tidak terasa” adalah hasil dari denomination effect.

http://33hsrj1iv2m43o25k925e51f.wpengine.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2015/07/business-cash-advance-728×410.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#78 In-Group Out-Group bias: Kenapa kita membenci orang yang berbeda kelompok

Beberapa bulan terakhir dunia social media menjadi ajang perdebatan Pilkada. Pasukan cyber media saling menyerang dan menjatuhkan lawan masing-masing dengan berbagai cara. Mulai black campaign, meme satire, framing media hingga debat komentar.

Terbentuk kelompok sesuai pilihan calon. Saya beradaptasi dengan mengurangi konsumsi berita lewat gadget, maximal hanya 15 menit dalam sehari.  Social media hanya saya gunakan untuk posting tulisan dan membalas komentar.

Kenapa? Karena saya merasa perdebatan dunia maya adalah low value added activity. Tidak membuat saya happy, juga tidak membuat saya tambah pinter. Mungkin juga saya tidak terlalu tertarik karena KTP saya masih luar DKI.

Meski bekerja dan alhamdulilah sudah membeli rumah mungil pertama di Jakarta, belum terbersit keinginan untuk berpindah kewargakotaan.

Yang menjadi pertanyaan saya: kenapa kita sangat getol membela kelompok kita sendiri?

Ternyata secara historis biologis, kebiasaan berkelompok adalah metode mempertahankan diri yang diturunkan dari nenek moyang kita. Kita adalah homo homini socius, makhluk social yang saling membutuhkan. Manusia purba berkelompok untuk berburu dan mengamankan wilayahnya dari serangan predator.

Masalahnya, berkelompok ternyata bisa menghasilkan bias pola pikir. Pertama, bias identitas sosial. Batasan “kelompok” sangat tidak jelas. Bisa sangat luas mulai dari kesamaan Negara, agama, suku, pekerjaan, hobi, bahkan kesamaan selera. Padahal identitas itu adalah identitas imajiner yang terbentuk didalam persepsi kita sendiri.

Henri Tajfel, psikolog Polandia menjelaskan jika kita seringkali membutuhkan identitas social untuk menjelaskan posisi kita terhadap orang lain. Disinilah bias kedua lahir: in-group out-group bias. kita seringkali memandang kelompok luar tidak sebaik kelompok kita.

Karena itulah orang Indonesia akan menganggap negaranya lebih baik dari Malaysia, dan sebaliknya, orang Malaysia beranggapan negaranya lebih baik dari Indonesia. Ini yang menjelaskan kenapa pendukung Barcelona akan menghina Madrid, dan sebaliknya, Madridistas akan menghujat Barcelona.

In-group out-group bias-lah yang membuat pendukung pilkada saling mengolok-olok meski yang dihina belum tentu lebih baik dari yang menghina.

Solusinya? Terimalah perbedaaan dan jangan pernah merasa kelompok kita lebih superior dibandingkan kelompok lain.

Bukankah Tuhan menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kita saling mengenal?

http://www.theemotionmachine.com/wp-content/uploads/ingroup-outgroup.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#75 Black Swan Theory: Karena tidak semua angsa ber-warna putih

#75 Black Swan Theory: Karena tidak semua angsa ber-warna putih

Sebelum tahun 1697, anak-anak sekolah di Eropa percaya jika semua angsa berwarna putih. Tidak ada angsa berwarna hitam. Bahkan ada peribahasa: “rara avis in terris nigroque simillima cygno”. Menemukan burung langka di bumi sama sulitnya seperti menemukan angsa hitam.

Tapi itu sebelum Willem de Vlamingh berkunjung ke Australia dan bertemu dengan burung berwarna hitam yang merupakan seekor angsa! Sejak itu runtuhlah teori semua angsa berwarna putih, dan lahirlah istilah “Black swan” untuk menjelaskan falsifikasi: Sebuah kebenaran bisa menjadi salah ketika ada bukti yang membantahnya.

Essais dan trader bernama Nassim Taleb mempopulerkan istilah Black Swan untuk sebutan peristiwa besar tak terprediksi yang mengubah kehidupan kita. Turunnya harga saham secara tiba-tiba (black Monday 19 October contohnya), penemuan transistor, revolusi internet, perang dunia I, hingga semburan lumpur Lapindo, hanyalah segelintir contoh Black swan.

Kenapa penjelasan tentang Black Swan menjadi penting? Karena Black Swan mengajarkan kita tentang ketidakpastian yang menghasilkan perubahan, dan betapa kita sering mengabaikannya. Contohnya: Jika kita bekerja di pemerintahan dan merasa hidup kita akan damai hingga pensiun, ternyata ada Black Swan yang berupa kebangkrutan Negara seperti yang dialami Yunani.

Menurut Taleb, ada 5 penyebab kita sering tidak melihat si Angsa hitam:

  1. Manusia cenderung fokus pada informasi yang mendukung pemikirannya (confirmation bias) dan tidak menerima pandangan pihak yang berbeda
  2. Illusion of understanding: Kita seringkali merasa menemukan ‘rahasia’ dalam sebuah informasi, lalu menciptakan cerita untuk menjelaskannya.
  3. Otak kita tidak diprogram untuk memikirkan hal yang belum ada
  4. Kita sering mengabaikan “bukti-bukti yang tak terlihat”
  5. Ludic fallacy: Kita cenderung menggunakan informasi yang kita ketahui untuk memperkirakan hal yang tidak kita ketahui. Pada kenyataannya, ada banyak faktor berpengaruh yang belum kita perhitungkan.

Jika kita sudah tahu tentang fenomena Black Swan, apa yang bisa kita lakukan? Persiapkan diri kita untuk Positive Black Swan. Cobalah berpikir dua langkah didepan. Ciptakan gerakan ahead the curve. Berusahalah menjadi inventor, entrepreneur, atau cracker yang membawa pembaruan.

Jika kita merasa nyaman dengan hidup kita sekarang, berjaga-jagalah jika ada Negative Black Swan. Itu berarti kita sebaiknya memiliki tabungan yang cukup, tidak gila hutang konsumtif, mulai berinvestasi, dan melakukan mitigasi risiko.

Yakinlah suatu saat Black Swan akan hadir ke hadapan Anda.

http://cdn.pcwallart.com/images/black-swan-bird-wallpaper-3.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail