Category Archives: Curhat

Cuap-cuap tentang segala yang ada di kepala

Merasa Bisa vs Bisa Merasa

 

Suatu hari saya bertemu abang gojek jagoan. Dia bercerita jika baru saja resign dari pekerjaan menjadi sales handphone salah satu pabrikan merek China.

“Ah udah 2 tahun gitu-gitu aja. Saya udah nguasai ilmunya. Sales ya gitu-gitu aja. Yang penting pinter ngomong”.

Wuih hebat banget nih abang. Cuma 2 tahun udah nguasain ilmu sales. Mungkinkah dia penerus Joe Girard si jagoan selles?

Kalo jago harusnya dia betah donk. Saat saya tanya, “Kenapa koq resign bang?”

“Bos saya bego. Bisanya nyuruh-nyuruh doank. Lebih jagoan saya klo urusan sepik-sepik ke customer”.

Setelah resign dia merasa Pe-De dengan kemampuan salesnya. Dia yakin mampu mendapat pekerjaan dengan mudah. Tapi setelah beberapa bulan, belum ada pekerjaan baru yang nyantol. Akhirnya sambil nunggu panggilan, dia milih nggojek.

Penyakit Milenial

Mungkin ini penyakit generasi milenial kebanyakan termasuk saya. Merasa bisa, dan tidak bisa merasa.

Baru jadi Management Trainee, udah merasa punya ilmu level direksi. Baru bikin marketing campaign selama 2-3 tahun, ngerasa udah menguasai marketing strategy. Baru belajar setup digital campaign 3 tahun, ngerasa mampu jadi digital strategist.

Padahal kunci keahlian ada pada pembelajaran. Dan pembelajaran ada pada kesabaran. Kesabaran mempelajari skill yang tersebar pada hal-hal kecil.

Kita ambil contoh koki atau chef. Bagi sebagian orang, chef adalah pekerjaan yang bisa dipelajari lewat kursus kilat atau otodidak dalam waktu beberapa bulan. Semua orang bisa memasak kan?

Tapi tidak bagi chef Sushi terkenal dunia, Ono Jiro. Chef yang menerima bintang 3 Michelin ini tidak menerima tamu walk in. Anda harus memesan tempat satu bulan sebelumnya dengan harga paket omakase mulai 30.000 yen (3,8 juta) per kepala!

Jika Anda ingin jadi chef apprentice disana, tugas pertama yang perlu dilakukan sangat sederhana: memeras handuk panas. Handuk itu yang akan disediakan kepada pengunjung sebagai lap sebelum makan.

Setelah mahir, Anda baru Anda diperbolehkan menyentuh ikan. Anda harus bersabar dan focus pada pekerjaan mencuci peralatan masak, mengasah pisau, dan memotong ikan.

Memasak nasi? Jangan harap bisa Anda lakukan setelah satu tahun. Setelah 10 tahun, Anda baru diperbolehkan memasak telur untuk disajikan. Tetapi setelah “lulus” dari sana, Anda akan punya kualitas seorang master chef dan akan mudah membuka restoran sendiri.

Beauty of Small Things

Jika ingin menjadi master ya harus bersabar mengerjakan pekerjaan remeh yang membosankan. Ini yang membbuat Jennifer Roberts, profesor sejarah seni dan arsitektur di Harvard meminta mahasiswanya untuk menatap karya seni selama 3 jam.

Awalnya mahasiswanya protes, apa gunanya melihat satu lukisan selama berjam-jam? Bukankah lukisan itu sudah sangat jelas? Tapi ternyata devils is on the detail. Banyak rahasia yang terungkap dari hal-hal kecil.

Jennifer mencontohkan apa yang ia lihat dari lukisan portrait John Copley, A Boy with a Flying Squirrel.

http://1.bp.blogspot.com/

“It took me nine minutes to notice that the shape of the boy’s ear precisely echoes that of the ruff along the squirrel’s belly. It was 21 minutes before I registered the fact that the fingers holding the chain exactly span the diameter of the water glass beneath them. It took a good 45 minutes before I realized that the seemingly random folds and wrinkles in the background curtain are actually perfect copies of the shapes of the boy’s ear and eye..”

Berhentilah merasa bisa. Belajarlah untuk bisa merasa.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Takdir

Baru beberapa minggu lalu saya memikirkan tentang takdir. Saya ingin menulis surat untuk Yoda mengenai topik misteri ini.

Sempat bertanya-tanya: Buku apa yang bisa dijadikan referensi ya? Terutama dari perspektif agama saya.

Sudah terlalu banyak bacaan saya yang mengupas takdir dari segi humanis positivis. Aliran ini percaya jika manusia bisa mengubah takdir mereka sendiri, tanpa perlu campur tangan ilahi.

Dan dua minggu lalu kebetulan saya ada market visit ke Brastagi. Biar hemat ongkos, saya coba naik angkutan umum. Sekalian merasakan jadi warga lokal.

Saat pulang, alhamdulillah semua bis selalu penuh. Sudah 30 menit saya melambaikan tangan. Mulai lambaian standard sampai lambaian mesra. Ga ada yang mau berhenti.

Cuma ada satu minibus rombongan sekolah dengan kernet kapitalis yang masih mau menciduk saya dengan satu syarat:

“Bang naik bang”

Naik kemana udah penuh gini?

“Naik ke atas lah” kata dia nunjuk atap minibus.

Karena penuh penumpang, yang kosong hanya “rooftop”. Itupun saya harus berbagi space pantat dengan penumpang lain.

Jangan harap ada kolam renang dengan mini bar untuk chill in. Ini bener-bener roof top open air stage tanpa asuransi atau perlindungan diri. Ya kali ada beruang bisa manjat ke atas genteng.

Akhirnya setelah nego, posisi dibalik. Kernet naik pangkat duduk di atap, dan saya ngelesot di pintu gantiin posisi kernet.

Setelah 2 jam numpang, saya diturunkan di persimpangan yang ga saya tahu namanya. Dari sini ke Medan kota naik apa bang?

Naik angkot bisa bang. Kata kernet yang berbakat jadi orang kaya ini.

Karena ga tau angkot yang mana, saya asal naik. Warna merah kalo ga salah. Pas saya tanya, katanya lewat lapangan Merdeka, daerah saya menginap. Wuih pas banget.

Setelah berjalan sekitar 30 menit, angkot melewati toko buku. Entah angin apa, tiba-tiba saya minta turun. Padahal tidak ada tanda-tanda nafsu pelecehan seksual atau rencana kejahatan yang akan dilakukan abang supir terhadap diriku.

Dan di toko buku itu, saya menemukan buku ini. Buku tentang Qadha dan Qadar karangan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah.

Secara probabilitas statistik, peluang saya menemukan buku yang sedang saya cari di tengah kota Medan harusnya sangat kecil sekali.

Apakah ini yang namanya takdir?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tetangga di Jakarta

“Yoga kemana aja? Koq ga pernah shubuhan di musholla?” Tanya tetangga saya, Haji Fakih saat berpapasan di pagi hari.

“Iya pulang malam terus Pak hehe”. Jawab saya ngeles.

Saya memang pulang kantor habis maghrib, biasanya baru meluncur setelah isya. Terima kasih atas macet dan jauhnya jarak, saya baru bisa masuk rumah sekitar jam 10 malam.

Bisa langsung tidur?

Jangan harap. Masih ada proyek pribadi yang harus dilakukan. Membaca, menulis, riset kecil-kecilan, dan yang paling penting: push rank mobile lejen haha.
Tapi pertanyaan Haji Fakih menyadarkan saya. Untuk apa menjadi manusia hebat jika sholat berjamaah aja masih sering telat?

Pertanyaan beliau adalah pertanyaan terbaik seorang manusia kepada sesamanya. Jauh lebih baik dari pertanyaan standar macam, “Sekarang kerja dimana? Omset usaha udah berapa? Kapan nikah?” Halah.

Saya beruntung punya tetangga seperti Haji Fakih. Karena tetangga yang baik adalah tetangga yang saling tolong menolong dalam kebaikan. Dan itu juga berarti mengingatkan jika kita melakukan kesalahan.

Dalam ajaran agama saya, tetangga adalah saudara terdekat kita. Bakan seorang muslim bisa termasuk dzalim jika ia bisa hidup kenyang sedangkan tetangganya masih kelaparan.

Seperti cerita dari Abdullah bin Mubarak. Ia bermimpi mendengar malaikat membicarakan seorang dari Damsyik yang amal hajinya telah diterima, padahal orang ini tidak berangkat ke Mekah. Kenapa? Karena ia menyumbangkan 300 dirham tabungan hajinya untuk tetangganya yang sedang kelaparan dan kesusahan.

Dan ga cuma Haji Fakih yang baik. Bu Haji Pucung sering membantu saya beres-beres rumah. Bahkan Bi Itun sering menyapukan halaman saya. Ketahuan ya saya males bersih-bersih. Mungkin karena itu banyak nyamuk di rumahku (lagu generasi kolonial, bukan milenial).
Saya jadi bersyukur tinggal di kampung di selatan jakarta. Meski hanya berjarak 500 meter dari mall Aeon dan apartemen Southgate yang sedang dibangun dengan penuh kemewahan, lingkungan saya penuh dengan kehangatan. Meski bangunan rumah kami penuh dengan kesederhanaan.

Ya Rabbi, berkatilah tetangga-tetangga kami, dan orang-orang yang sudah membaca tulisan ga penting ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Untuk Apa Manusia Hidup?

Dear Yoda di tahun 2035,

Jika kamu benar-benar membaca tulisan ini pada tahun 2035, berarti umurmu sudah 17 tahun. Semoga kamu masih hidup ya hehehe..

Umur 17 tahun berarti kamu akan memasuki masa pra-dewasa. Dan itu berarti secara kognitif kamu sudah bisa melakukan memprosesan informasi tingkat tinggi, atau melakukan analisa atas objek yang bersifat abstrak. Bahasa sederhananya: kamu sudah bisa mikir.

Tulisan ini diketik di atas pesawat XT 7688 jurusan Jakarta-Surabaya, 23 Maret 2018 disaat kamu genap berumur 6 bulan dan mulai makan MPASI (Makanan pengganti ASI). Sekarang tujuan hidupmu sama dengan 6 miliar manusia ketika bayi: bagaimana caranya bertahan hidup.

Karena itulah kamu tidak bisa menahan lapar dan menangis saat haus, takut saat ditinggal Ibumu yang merupakan sumber makanan, dan lebih memilih susu daripada cek senilai 10 juta dollar.

Tapi di tahun 2035, seharusnya kamu memiliki tujuan hidup yang lebih kompleks, transedental, dan personal. Apakah itu?

Jujur saja, saya tidak tahu.

Personal Purpose

Alasan saya mengajakmu mempertanyakan tujuan hidup sebenarnya sederhana: karena tidak semua manusia tahu tujuan hidupnya. Mereka tidak tahu apa yang mereka cari sebelum mati.

Dan ini sangat berbahaya.

Manusia yang tidak memiliki tujuan hidup seperti kapal laut dengan kapten yang tidak tahu akan berlayar kemana. Mereka akan diombang-ambingkan lautan, dan bisa terdampar ke daratan yang tidak mereka inginkan.

Mereka tidak pernah bertanya:

Kenapa kita dilahirkan di dunia?

Apa misi yang sedang kita jalani?

Warisan apa yang ingin kita tinggalkan?

Apa makna penciptaan manusia dan seluruh alam raya?

Meskipun setiap manusia, bisa memiliki tujuan hidup yang berbeda.

Jika kamu bertanya kepada ahli biologi, mereka akan menjawab jika tujuan hidup manusia adalah bertahan hidup dan mempertahankan kelangsungan spesies kita.

Jika kamu bertanya kepada ahli psikologi, mereka akan menjawab jika tujuan hidup manusia adalah menemukan aktualisasi diri kita.

Jika kamu bertanya kepada ahli agama, mereka akan menjawab jika tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mana yang benar? Yang pasti tujuan hidup manusia begitu kompleks dan bisa merupakan gabungan alasan diatas atau alasan lainnya.

Saya tidak akan memberikan kuliah panjang soal tujuan hidupmu. It’s your life. Go find it by yourself. Saat kamu membaca tulisan ini, belum tentu saya masih bernafas.

Saya hanya meminta, mulailah bertanya.

Pertanyakan Tuhanmu, negaramu, duniamu, pandangan hidupmu. Ciptakan badai dalam dirimu.

Mulailah menggali informasi. Dari buku, diskusi, video, pod cast, dan segala sumber inspirasi. Ciptakan kontradiksi.

Jangan 100% percaya dengan apa yang dikatakan orang lain kepadamu. Bacalah kitab suci agama lain, dengarkan argumen orang Atheist. Saya tidak ingin kamu beragama Islam hanya karena keluargamu beragama Islam.

Dan yang paling penting: mulai pikirkan tujuan hidupmu. Jika kamu bingung, coba bayangkan saat kamu nanti mati, dan Tuhan bertanya:

“Hey Yoda, ngapain aja lu selama di dunia?” atau jika kamu nanti tidak percaya Tuhan (nanti kita harus diskusi panjang tentang ini), cukup pikirkan apa yang orang lain kenang ketika mengingat namamu.

Yang jelas, seperti kutipan meme-meme bijak: Tujuan dari hidup adalah untuk hidup dengan tujuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Manfaat Skripsi yang Akhirnya Saya Ketahui

 

Saat kuliah, kita pasti pernah menulis skripsi. Dan hampir di setiap penelitian, ditulis dengan urutan yang seperti ini:

Bab 1: Rumusan masalah, hipotesa, dan metodologi

Bab 2: Landasan teori

Bab 3: Hasil penelitian

Bab 4: Simpulan dan saran

Jujur saja, saya ga ngerti kenapa harus mengikuti pakem seperti itu. Apa itu “rumusan masalah”? Masalah koq dicari-cari bukannya diselesaikan. Apa pula itu hipotesa? Ada berapa macam metodologi? Kenapa harus mengikuti metodologi yang pernah dilakukan orang lain di jurnal-jurnal ilmiah?

Dosen-dosen saya dulu tidak pernah menjelaskan apa manfaat pola pikir sistematis seperti itu (apa saya yang ga dengerin ya..). Dulu saya tahunya ya karena pakemnya udah gitu, tinggal ngikutin aja. Pokoknya udah shoheh dan ilmiah.

Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari? Ntar aja dipikiran, yang penting bisa bantu kamu lulus kuliah. Titik.

Ini menciptakan jarak antara dunia akademis dan dunia praktis. Ilmu hadir sebagai teori tinggi yang mengawang-ngawang tanpa perlu dipraktikkan dalam kehidupan yang kekinian.

Tapi dengan bertambahnya usia dan pengalaman, saya percaya jika pola pikir sistematis ala skripsi adalah kunci rahasia untuk menguasai dunia.

Big Why

Pendidikan zaman saya dulu adalah pendidikan model industrialis. Siswa dianggap sebagai tanah liat. Tugas lembaga pendidikan adalah membentuk tanah liat itu sesuai kebutuhan industri. Kalau pasar butuh vas, ya dibentuk vas. Kalau butuh kendi, ya dibentuk jadi kendi.

Karena itulah fakultas kedokteran akan mengajarkan ilmu medis, dan fakultas ekonomi akan ngajarin muridnya tentang bisnis. Ga akan ada ceritanya mahasiswa komunikasi diajarin ilmu nggendam, atau anak sastra disuruh kerja praktik jadi babi ngepet.

Masalahnya, proses pendidikan yang terjadi adalah transfer of knowledge, bukan proses search of knowledge. Bahasa gampangnya, selama saya kuliah, diskusi yang terjadi adalah membahasa “What”, dan tidak focus pada “Why”.

Saya dulu kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, jurusan manajemen. Semester pertama mata kuliah manajemen, saya dicekoki teori tentang manajemen modern, ilmu ekonomi, akuntansi pengantar, dan berbagai mata kuliah yang sudah saya lupakan.

Saya mayoritas belajar tentang “What”: Apa itu ekonomi makro, apa itu manajemen, apa itu akuntansi.

Hampir tidak ada dosen yang memantik rasa penasaran dan bertanya “Why”: Kenapa perusahaan bisa maju atau mundur? Kenapa ada negara kaya dan ada negara miskin? Kenapa saya gendut, jelek, dan miskin? Oh maap pemirsa, yang terakhir adalah curhatan pribadi.

Padahal proses penemuan selalu dimulai dengan pertanyaan, dan tak akan berakhir dalam sebuah jawaban.

Praktik

Kembali ke skripsi. Bab I selalu dimulai dengan “Big why” yang sebenarnya adalah inti dari rumusan masalah. Skripsi saya dulu tentang pengaruh pengaruh piala dunia terhadap turunnya harga saham. Big why-nya: Kenapa setiap ada piala dunia indeks harga saham Amerika terkoreksi? Apakah hal yang sama terjadi di Indonesia?

Jika sudah tau “Kenapa”, waktunya menemukan hipotesa. Kenapa perlu menciptakan hipotesa? Hipotesa sebenarnya dugaan awal kita, sebagai alasan terjadinya “Big Why”. Tanpa hipotesa, kita tak akan bisa masuk kedalam solusi permasalahan.

Sedangkan metodologi adalah teknik untuk membuktikan hipotesa. Seperti teknik pada umumnya, kita diberi kebebasan menggunakan metode yang pernah dipakai orang atau membuat sendiri. Khusus untuk level S1, penggunaan metodologi dari jurnal hanya untuk memudahkan mahasiswa dalam melakukan penelitian.

Masih bingung? Oke kita coba praktik. Misalnya Anda adalah direktur pemasaran. Sales terus turun. Apa yang Anda lakukan?

Seperti skripsi. Temukan “Big Why”. Identifikasi inti permasalahannya. Kenapa penjualan bisa turun? Lini produk mana yang turun? Saluran distribusi apa? Apakah pesaing juga mengalami hal yang sama?

Setelah itu ciptakan hipotesa, kenapa penjualan turun. Apakah karena pergerakan kompetitor? Apakah karena daya beli melemah? Apakah karena harga produk kita lebih mahal?

Jika hipotesa terkuat telah dipilih, waktunya untuk diuji. Misalnya hipotesa terkuat penyebab turunnya penjualan adalah daya beli melemah yang diikuti oleh penurunan harga oleh pesaing. Oke, berarti solusi instant-nya adalah menurunkan harga. Tapi apakah itu benar? Ya makanya perlu diuji.

Caranya? Coba bikin program diskon untuk periode yang terbatas. Jika dengan pengurangan harga, unit terjual kembali naik, berarti benar masalah ada pada harga. Tapi jika nggak ngefek? Berarti hipotesa kita salah dan harus mencari penyebab lainnya.

Inti dari penulisan skripsi bukan pada hasil penelitian itu sendiri. Tapi melatih manusia untuk mengembangkan rasa ingin tahu, berlatih membuktikan kebenaran dengan metode ilmiah, dan yang paling penting: menumbuhkan rasa haus mencari ilmu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mukhlis

Di kelas bahasa arab yang saya ikuti, ada soal tentang kata “mukhlis”. Isim fa’il (pelaku) yang berarti orang yang ikhlas. Apa makna ikhlas? Ikhlas berarti kemurnian hati. Seorang mukhlis hanya menemukan Tuhannya sebagai alasan semua amalannya.

Salah satu tanda keikhlasan adalah bisa menerima semua ketetapan Tuhan dengan senyuman. Contohnya jika rumah kita kebakaran. Orang yang ikhlas, kata Pak Ustadz, akan mampu menerima kenyataan dan tidak akan protes kepada Tuhan.

Urusan konslet hubungan pendek arus listrik, terbakar kena lilin, atau karena ledakan tabung LPG, itu cuma skenario teknis. Yang penting secara strategis ia sadar jika rumahnya adalah pemberian Tuhannya, dan sekarang sedang diminta oleh yang punya.

Seorang mukhlis tahu jika guru kehidupan itu bermacam-macam. Ada guru bernama kegembiraan, kenikmatan, dan kebahagiaan. Tapi ada juga guru berjudul kesedihan, kesakitan, dan kehilangan. Jika ingin belajar esensi kehidupan seutuhnya, kita harus belajar kepada semuanya.

Hanya menerima guru kesuksesan tanpa menerima guru kegagalan akan membuat kita terjerumus kesombongan. Hanya ingin bertemu guru kehidupan tanpa mengenal guru kematian membuat kita terbuai keduniawian.

Malam itu saya pulang dengan perasaan haru. Alhamdulilah bisa belajar sesuatu. Dan baru saja menerima teori kuliah kehidupan baru, keesokan harinya saya disuruh mempraktikkan ilmu ikhlas itu.

Ketika bangun, jam sudah menunjukkan jam 5 pagi. Alarm jam 3 pagi di hape tidak berbunyi sama sekali. Saya cari tidak ada. Demikian juga dengan laptop yang saya letakkan disamping. Raib tak berjejak. Saya bangun dan melihat pintu terbuka. Rupanya semalam saya lupa mengunci pintu dan ada orang yang bertamu.

Alhamdulilah. Berarti saya disuruh mempraktikkan ilmu ikhlas. Lupa mengunci pintu itu persoalan teknis, yang pasti secara strategis Tuhan mengambil harta yang ia titipkan, dan mengingatkan saya untuk lebih sering berbuat kebaikan.

Inilah tanda kasih sayang Tuhan. Pencuri pun ia berikan rezeki. Saya masih percaya si pencuri adalah orang baik yang hanya sedang butuh uang. Buktinya saya tidak mengalami cedera apa-apa.

Gara-gara kejadian itu saya tersadar, ternyata Tuhan telah memberikan harta yang sangat berharga: orang-orang baik disekitar saya.

Tetangga membantu saya meminjamkan handphone, uang, dan menyelidiki semua informasi. Sedangkan teman-teman kantor justru patungan memberikan sumbangan untuk membeli handphone dan mengganti laptop kantor yang hilang.

Saya cuma bisa bersyukur. Setidaknya ada dua asset terpenting yang belum hilang: iman dan harapan. Tanpa dua hal itu, hidup seorang milyuner tak ubahnya seorang pengemis: kosong dan hampa.

Saya juga masih belum bisa seikhlas orang bijak dalam cerita zen. Diceritakan seorang pertapa yang kemalingan. Pintunya tidak dikunci dan ketika bangun, ia melihat rumahnya berantakan. Ia lalu menangis keras dan membuat tetangganya datang. Mereka bertanya apakah ada barang yang hilang.

“Tidak ada yang hilang…” jawab si pertapa

Lalu kenapa kau menangis? Tanya si tetangga.

“Aku bersedih karena tidak punya barang apa-apa untuk diberikan kepada pencuri. Padahal jika ia membangunkanku, akan kuambilkan bulan di langit untuknya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Wish list vs Action list

Tahun baru membuat timeline saya dipenuhi dengan “resolusi baru”. Standar postingan masyarakat urban: pergantian tahun wajib hukumnya nulis refleksi dan penetapan target yang ingin dicapai.

Tapi saya melihat ada dua jenis orang di lini masa saya. Mereka yang menetapkan keinginan hidupnya sebagai target, dan orang yang menuliskan tindakan sebagai resolusi tahun barunya. Wish list versus action list.

Orang dengan wish list akan menuliskan IMPIAN yang ingin diwujudkan. Bisa berarti tempat yang ingin didatangi, pendidikan yang ingin diselesaikan, pendapatan yang ingin didapat, asset yang ingin dikuasai, dan masih banyak lagi.

Berbeda dengan tipe kedua, orang dengan action list akan menulis TINDAKAN yang akan dia lakukan selama 2018. Mereka sudah tidak menulis what to achieve, tapi juga how to achieve. Ini bisa berarti kebiasaan-kebiasaan baru yang ingin dilakukan, pengetahuan baru yang ingin dipelajari, dan deretan aksi yang harus terjadi.

Kira-kira golongan mana yang akan lebih berhasil mencapai target yang telah ditetapkan?

Riset dari British Journal of Psychology mungkin bisa memberikan sedikit petunjuk. Mereka melakukan percobaan tentang kebiasaan berolahraga selama 2 minggu. Dengan sample 248 orang dewasa yang dibagi ke dalam 3 grup.

Grup #1 control group. Mereka diminta untuk mencatat seberapa sering mereka berolahraga dalam 2 minggu kedepan.

Grup #2 motivation group. Selain diminta mencatat frekuensi olahraga dalam 2 minggu kedepan, mereka diminta membaca selebaran tentang pentingnya berolahraga bagi kesehatan.

Grup #3 intention group. Diminta mencatat frekuensi olahraga selama 2 minggu, juga menerima selebaran tentang manfaat olahraga, dan diminta untuk menuliskan KAPAN dan DIMANA mereka akan berolahraga.

Hasilnya? Group 3 mencatatkan skor luar biasa. Sekitar 91% melakukan olahraga sekali seminggu dan jauh lebih tinggi dari group 1 (38%), dan group 2 (35%).

Lesson learned? Complete your goal with complete plan. More details are better. We have to know HOW to do it, WHO will do it, WHERE it will happen, and WHEN it should be done.

Bagi yang sudah punya wish list, saatnya bikin action list. Kalau sudah punya action list, waktunya bikin timeline.

Kalau sudah punya timeline? Ya waktunya ACTION. #bikinjadinyata

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Remote Parenting: Parenting Zaman Now?

 

Sudah 2 bulan ini saya jadi anggota PJKA. Sebutan untuk orang yang kerja di kota A, tapi punya keluarga yang menanti di kota B. Disebut PJKA karena punya traveling habit yang khas: Pulang Jumat Kembali Ahad.

Sebenarnya banyak teman-teman yang melakukan hal yang serupa. Di kantor saya banyak yang berasal dari Negara tetangga dan mereka pasti pulang kampung ketika weekend tiba. Tapi rata-rata tidak memiliki anak bayi yang harus diawasi.

Dua bulan ini saya jadi weekend frequent flyer rute Jakarta – Yogyakarta. Setahun lagi BIG membership saya sepertinya bukan lagi platinum, tapi akan mencapai level uranium hehehe. Karena kebetulan Pipi Kentang pingin tinggal di Jogja, sedang saya masih jadi primata Ibukota.

Kenapa milih Jogja? Karena kalo Amerika susah dapat green card, dan kalo Jerman belum dapat visa pengungsi hihi. Sebenarnya Yogyakarta dipilih karena lebih manusiawi, dan yang pasti living cost yang lebih terjangkau di hati. Memang benar jika Jogja berhati mantan.

Ini membuat pertemuan saya dengan Yoda hanya kurang lebih 45 jam seminggu. Waktu yang terbilang singkat untuk membangun bonding dengan si bocah. Apalagi perkembangan bayi sangat cepat. Saya khawatir jika minggu ini dia baru bisa ngomong “uu.. uuhhh” dan tau-tau minggu depan dia sudah bisa ngucapin ayat kursi. Kan saya yang kebakar.

Remote Parenting

Jujur saja saya kurang paham dengan efek remote parenting seperti ini. Hampir semua buku-buku parenting yang saya baca (baru juga baca 1-2 buku hehe) kurang membahas masalah remote parenting: menjadi orang tua jarak jauh.

Apakah saya masih bisa menjalankan role model sebagai Bapak dan tidak Cuma menitipkan sperma untuk membuahi sel telur? Apakah saya bisa mengajarkan “pelajaran hidup” (aduh bahasanya..) kepada Yoda meski jarang bertemu? Apakah Yoda nanti tidak akan memanggil saya Oom?

Saya pernah membaca buku klasik Ken Blanchard yang terbit tahun 1980: The One Minute Manager. Ide yang ditawarkan sungguh menarik: Anda tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu mensupervisi anak buah. Pertemuan-pertemuan singkat yang efektif jauh lebih bermanfaat daripada meeting berjam-jam yang ga jelas.

Dalam bisnis, Anda bisa melakukan remote management: bebas mbolang kemana saja dan tinggal meminta report dari jauh sambil sekali-sekali ditengok. Apalagi zaman sudah canggih. Misalnya Anda lagi ngupil di Brazil dan pingin tau sales di Singapura, cukup akses dashboard lewat handphone dan sudah ketahuan hasilnya.

Masalahnya, anak bukan perusahaan. Tidak ada dashboard untuk memonitor perkembangan psikologis mereka. Mengandalkan metrics fisik untuk mengukur kebahagiaan juga bisa bias, tambah tinggi badannya belum tentu tambah bahagia hidupnya. Apalagi perkembangan spiritual. Gimana cara remote tracking-nya coba?

Yang bisa saya lakukan sekarang adalah memaksimalkan semua pertemuan yang ada. Setiap ketemu pasti saya puas-puasin cium pipinya sampe tembem hehehe. Tak ketinggalan juga menulis beberapa pertanyaan hidup yang mungkin akan ditanyakan Yoda suatu hari nanti. Sambil berpikir plan B untuk berganti karier yang lebih memberikan kebebasan finansial dan juga family time berkualitas. Doain ya! Hahaha.

Oh ya, ada cerita atau saran dari Papa-papa PJKA lainnya?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tentang Nama dan Nafsu Orang Tua

Siapa nama anak saya?

Awalnya sempat terpikir untuk memberi nama yang menggema: Muhammad Yesus Gautama. Gabungan tiga manusia pilihan yang membawa pencerahan bagi kemanusiaan.

Tapi nama diatas terlalu kontroversial. Jangan-jangan nanti dicekal waktu mau jadi gubernur. Dianggap pelecehan terhadap agama tertentu. Bisa-bisa ada aksi demo besar-besaran 234 atau 222 untuk menggulingkannya.

Oke kita coret.

Karena nama itu “brand” yang melekat seumur hidup, ia harus unik. Dan celakanya hampir semua nama orang Indonesia berasal dari kata benda. Bagaimana kalau kita cari nama yang berasal dari kata kerja? Nama yang merupakan salah satu misi hidup manusia:

Mencari Kedamaian Bahagia.

Tapi koq kurang cool dan gak sekeren nama-nama anak zaman sekarang? Disaat teman-temannya dipanggil Alexis, Dafa, atau Layla, masa dia akan dipanggil Men? Trus kalo dia dicari orang, masa orang yang nyari harus bilang: “Saya mencari Mencari”. RIP geramer >.<

Nama dan Harapan

Kenapa nama bisa sangat penting?

Karena nama adalah panggilan yang melekat sepanjang hidup anak kita. Karena itu dalam islam, nama harus berarti baik. Karena nama adalah doa, maka banyak orang tua memberi nama orang yang menjadi panutan.

Di Inggris, nama laki-laki paling popular menurut Guardian bukanlah Charles, James, atau John. Tapi justru Muhammad. Setidaknya itu menurut laporan tahun 2014 lalu. Karena hampir semua muslim menamai anak mereka dengan Muhammad, Mohammed, atau Mohammad. Diseluruh dunia, diperkirakan ada 150 juta orang yang memiliki nama sesuai rasul kita.

Di kampus saya, pernah ada mahasiswa dengan nama “Thomas Edison”. Mungkin ortunya pingin punya anak secerdas penemu lampu pijar. Alhamdulilah terbukti si bocah bisa kuliah kedokteran sambil menang berbagai lomba olimpiade sains.

Ada juga yang nekat memberi nama anaknya barang-barang yang disukai. Netizen pernah dihebohkan dengan orang tua yang memberi nama anaknya “Pajero Sport”. Karena si ayah sangat nge-fans dan merasa tidak sanggup membeli mobil SUV keluaran Mitsubishi itu.

Masalahnya, nama anak bersifat top down dari orang tua, berisi harapan yang diinginkan Ibu Bapaknya.  Tapi jujur saja, belum tentu si anak setuju dengan harapan ortunya. Ada kasus dimana seorang aktivis memberi nama anaknya “Gempur Soeharto”. Nah setelah zaman Soeharto lengser, si anak yang protes akhirnya mengajukan perubahan nama ke pengadilan.

Idealnya si anak harus bisa menentukan sendiri namanya. Ia akan memberi nama sesuai 4P:

Purpose : Untuk apa ia diciptakan

Potential value : Kelebihan apa yang dimiliki

Positioning : Apa yang orang lain ingat

Philosophy: Cerita tentang makna sebuah nama

Hampir seperti artis yang menciptakan nama panggung mereka sendiri, mereka bisa menentukan identitas sesuai panggilan hati dan kompetensi inti.

Sayangnya kita tidak bisa menunggu sang anak untuk berusia 17 tahun sebelum memutuskan nama untuk mereka sendiri. Menggunakan panggilan “hei”, atau “wahai anakku” juga kurang praktis untuk kegiatan sehari-hari.

Nama Gabungan

Kembali ke anak saya. Setelah bertapa, melakukan riset, berpikir, memlilah, memilih, bermeditasi, melakukan analisa, belajar semiotika, hermeunetika, dan berdiskusi, akhirnya kami memilih sebuah nama.

Yoda. Gabungan nama saya dan Pipi Kentang. Juga berarti nama master Jedi favorit saya dalam Star Wars. Salah satu Jedi yang paling bijak dan kuat, guru dari Anakin dan Luke Skywalker.

Askha. Gabungan nama simbah Pipi Kentang. Tapi setelah saya googling, nama Askha adalah merk kripik pisang di Lampung (jeng jeng jeng jeng). Ya semoga nanti bisa ketularan jadi pengusaha sukses.

Samsu. Karena relasi hubungan kami sama-sama suka, jadinya Samsu deh. Bercanda. Itu titipan nama keluarga dari Ibu saya hehe.

Namanya:

Yoda Askha Samsu. Disingkat YAS. Karena Yes sudah terlalu mainstream.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cerita Sederhana Tentang Laki-laki Tua yang Meninggalkan Ibu Saya

Kemarin Bapak pulang. 1 Agustus 2017, jam 6.30 malam.

Bapak pulang setelah menuntaskan tugasnya selama 71 tahun: menjadi makhluk Tuhan yang baik.

Saya percaya Bapak pulang tidak dengan tangan hampa. Ada sayap-sayap kebaikan yang menemaninya.

“Bapak seneng banget ngelihat petani binaan Bapak sudah sukses”. Saat itu ia bercerita ketika pulang nostalgia dari Sulawesi Selatan.

Keluarga kami memang pernah menetap belasan tahun disana. Saat Bapak jadi kepala dinas perkebunan. Usaha Bapak keluar masuk hutan membuahkan hasil.

Sekarang mantan staff-nya ada yang jadi Bupati, petani binaannya yang dulu miskin kini punya mobil bagus, daerah yang dulunya terbelakang, kini maju agri business-nya.

Saya masih ingat saat solo traveling ke daerah itu waktu masih mahasiswa. Orang2 sangat menghormati nama Bapak. Saat saya pulang, mereka berebut memberikan sangu dan oleh-oleh.

Pelajaran yang saya terima: kita akan bahagia saat membuat orang lain bahagia.

Warisan Kenangan

Bagian tersedih dari kehilangan orang yang kita cintai adalah saat kenangan indah bersamanya masih melekat di hati.

Otak kita seperti memutar film klasik, dimana kita hanya bisa menonton tanpa pernah bisa menginterupsi.

Saya masih bisa Continue reading Cerita Sederhana Tentang Laki-laki Tua yang Meninggalkan Ibu Saya

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail