Category Archives: Curhat

Cuap-cuap tentang segala yang ada di kepala

Remote Parenting: Parenting Zaman Now?

 

Sudah 2 bulan ini saya jadi anggota PJKA. Sebutan untuk orang yang kerja di kota A, tapi punya keluarga yang menanti di kota B. Disebut PJKA karena punya traveling habit yang khas: Pulang Jumat Kembali Ahad.

Sebenarnya banyak teman-teman yang melakukan hal yang serupa. Di kantor saya banyak yang berasal dari Negara tetangga dan mereka pasti pulang kampung ketika weekend tiba. Tapi rata-rata tidak memiliki anak bayi yang harus diawasi.

Dua bulan ini saya jadi weekend frequent flyer rute Jakarta – Yogyakarta. Setahun lagi BIG membership saya sepertinya bukan lagi platinum, tapi akan mencapai level uranium hehehe. Karena kebetulan Pipi Kentang pingin tinggal di Jogja, sedang saya masih jadi primata Ibukota.

Kenapa milih Jogja? Karena kalo Amerika susah dapat green card, dan kalo Jerman belum dapat visa pengungsi hihi. Sebenarnya Yogyakarta dipilih karena lebih manusiawi, dan yang pasti living cost yang lebih terjangkau di hati. Memang benar jika Jogja berhati mantan.

Ini membuat pertemuan saya dengan Yoda hanya kurang lebih 45 jam seminggu. Waktu yang terbilang singkat untuk membangun bonding dengan si bocah. Apalagi perkembangan bayi sangat cepat. Saya khawatir jika minggu ini dia baru bisa ngomong “uu.. uuhhh” dan tau-tau minggu depan dia sudah bisa ngucapin ayat kursi. Kan saya yang kebakar.

Remote Parenting

Jujur saja saya kurang paham dengan efek remote parenting seperti ini. Hampir semua buku-buku parenting yang saya baca (baru juga baca 1-2 buku hehe) kurang membahas masalah remote parenting: menjadi orang tua jarak jauh.

Apakah saya masih bisa menjalankan role model sebagai Bapak dan tidak Cuma menitipkan sperma untuk membuahi sel telur? Apakah saya bisa mengajarkan “pelajaran hidup” (aduh bahasanya..) kepada Yoda meski jarang bertemu? Apakah Yoda nanti tidak akan memanggil saya Oom?

Saya pernah membaca buku klasik Ken Blanchard yang terbit tahun 1980: The One Minute Manager. Ide yang ditawarkan sungguh menarik: Anda tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu mensupervisi anak buah. Pertemuan-pertemuan singkat yang efektif jauh lebih bermanfaat daripada meeting berjam-jam yang ga jelas.

Dalam bisnis, Anda bisa melakukan remote management: bebas mbolang kemana saja dan tinggal meminta report dari jauh sambil sekali-sekali ditengok. Apalagi zaman sudah canggih. Misalnya Anda lagi ngupil di Brazil dan pingin tau sales di Singapura, cukup akses dashboard lewat handphone dan sudah ketahuan hasilnya.

Masalahnya, anak bukan perusahaan. Tidak ada dashboard untuk memonitor perkembangan psikologis mereka. Mengandalkan metrics fisik untuk mengukur kebahagiaan juga bisa bias, tambah tinggi badannya belum tentu tambah bahagia hidupnya. Apalagi perkembangan spiritual. Gimana cara remote tracking-nya coba?

Yang bisa saya lakukan sekarang adalah memaksimalkan semua pertemuan yang ada. Setiap ketemu pasti saya puas-puasin cium pipinya sampe tembem hehehe. Tak ketinggalan juga menulis beberapa pertanyaan hidup yang mungkin akan ditanyakan Yoda suatu hari nanti. Sambil berpikir plan B untuk berganti karier yang lebih memberikan kebebasan finansial dan juga family time berkualitas. Doain ya! Hahaha.

Oh ya, ada cerita atau saran dari Papa-papa PJKA lainnya?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tentang Nama dan Nafsu Orang Tua

Siapa nama anak saya?

Awalnya sempat terpikir untuk memberi nama yang menggema: Muhammad Yesus Gautama. Gabungan tiga manusia pilihan yang membawa pencerahan bagi kemanusiaan.

Tapi nama diatas terlalu kontroversial. Jangan-jangan nanti dicekal waktu mau jadi gubernur. Dianggap pelecehan terhadap agama tertentu. Bisa-bisa ada aksi demo besar-besaran 234 atau 222 untuk menggulingkannya.

Oke kita coret.

Karena nama itu “brand” yang melekat seumur hidup, ia harus unik. Dan celakanya hampir semua nama orang Indonesia berasal dari kata benda. Bagaimana kalau kita cari nama yang berasal dari kata kerja? Nama yang merupakan salah satu misi hidup manusia:

Mencari Kedamaian Bahagia.

Tapi koq kurang cool dan gak sekeren nama-nama anak zaman sekarang? Disaat teman-temannya dipanggil Alexis, Dafa, atau Layla, masa dia akan dipanggil Men? Trus kalo dia dicari orang, masa orang yang nyari harus bilang: “Saya mencari Mencari”. RIP geramer >.<

Nama dan Harapan

Kenapa nama bisa sangat penting?

Karena nama adalah panggilan yang melekat sepanjang hidup anak kita. Karena itu dalam islam, nama harus berarti baik. Karena nama adalah doa, maka banyak orang tua memberi nama orang yang menjadi panutan.

Di Inggris, nama laki-laki paling popular menurut Guardian bukanlah Charles, James, atau John. Tapi justru Muhammad. Setidaknya itu menurut laporan tahun 2014 lalu. Karena hampir semua muslim menamai anak mereka dengan Muhammad, Mohammed, atau Mohammad. Diseluruh dunia, diperkirakan ada 150 juta orang yang memiliki nama sesuai rasul kita.

Di kampus saya, pernah ada mahasiswa dengan nama “Thomas Edison”. Mungkin ortunya pingin punya anak secerdas penemu lampu pijar. Alhamdulilah terbukti si bocah bisa kuliah kedokteran sambil menang berbagai lomba olimpiade sains.

Ada juga yang nekat memberi nama anaknya barang-barang yang disukai. Netizen pernah dihebohkan dengan orang tua yang memberi nama anaknya “Pajero Sport”. Karena si ayah sangat nge-fans dan merasa tidak sanggup membeli mobil SUV keluaran Mitsubishi itu.

Masalahnya, nama anak bersifat top down dari orang tua, berisi harapan yang diinginkan Ibu Bapaknya.  Tapi jujur saja, belum tentu si anak setuju dengan harapan ortunya. Ada kasus dimana seorang aktivis memberi nama anaknya “Gempur Soeharto”. Nah setelah zaman Soeharto lengser, si anak yang protes akhirnya mengajukan perubahan nama ke pengadilan.

Idealnya si anak harus bisa menentukan sendiri namanya. Ia akan memberi nama sesuai 4P:

Purpose : Untuk apa ia diciptakan

Potential value : Kelebihan apa yang dimiliki

Positioning : Apa yang orang lain ingat

Philosophy: Cerita tentang makna sebuah nama

Hampir seperti artis yang menciptakan nama panggung mereka sendiri, mereka bisa menentukan identitas sesuai panggilan hati dan kompetensi inti.

Sayangnya kita tidak bisa menunggu sang anak untuk berusia 17 tahun sebelum memutuskan nama untuk mereka sendiri. Menggunakan panggilan “hei”, atau “wahai anakku” juga kurang praktis untuk kegiatan sehari-hari.

Nama Gabungan

Kembali ke anak saya. Setelah bertapa, melakukan riset, berpikir, memlilah, memilih, bermeditasi, melakukan analisa, belajar semiotika, hermeunetika, dan berdiskusi, akhirnya kami memilih sebuah nama.

Yoda. Gabungan nama saya dan Pipi Kentang. Juga berarti nama master Jedi favorit saya dalam Star Wars. Salah satu Jedi yang paling bijak dan kuat, guru dari Anakin dan Luke Skywalker.

Askha. Gabungan nama simbah Pipi Kentang. Tapi setelah saya googling, nama Askha adalah merk kripik pisang di Lampung (jeng jeng jeng jeng). Ya semoga nanti bisa ketularan jadi pengusaha sukses.

Samsu. Karena relasi hubungan kami sama-sama suka, jadinya Samsu deh. Bercanda. Itu titipan nama keluarga dari Ibu saya hehe.

Namanya:

Yoda Askha Samsu. Disingkat YAS. Karena Yes sudah terlalu mainstream.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cerita Sederhana Tentang Laki-laki Tua yang Meninggalkan Ibu Saya

Kemarin Bapak pulang. 1 Agustus 2017, jam 6.30 malam.

Bapak pulang setelah menuntaskan tugasnya selama 71 tahun: menjadi makhluk Tuhan yang baik.

Saya percaya Bapak pulang tidak dengan tangan hampa. Ada sayap-sayap kebaikan yang menemaninya.

“Bapak seneng banget ngelihat petani binaan Bapak sudah sukses”. Saat itu ia bercerita ketika pulang nostalgia dari Sulawesi Selatan.

Keluarga kami memang pernah menetap belasan tahun disana. Saat Bapak jadi kepala dinas perkebunan. Usaha Bapak keluar masuk hutan membuahkan hasil.

Sekarang mantan staff-nya ada yang jadi Bupati, petani binaannya yang dulu miskin kini punya mobil bagus, daerah yang dulunya terbelakang, kini maju agri business-nya.

Saya masih ingat saat solo traveling ke daerah itu waktu masih mahasiswa. Orang2 sangat menghormati nama Bapak. Saat saya pulang, mereka berebut memberikan sangu dan oleh-oleh.

Pelajaran yang saya terima: kita akan bahagia saat membuat orang lain bahagia.

Warisan Kenangan

Bagian tersedih dari kehilangan orang yang kita cintai adalah saat kenangan indah bersamanya masih melekat di hati.

Otak kita seperti memutar film klasik, dimana kita hanya bisa menonton tanpa pernah bisa menginterupsi.

Saya masih bisa Continue reading Cerita Sederhana Tentang Laki-laki Tua yang Meninggalkan Ibu Saya

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Be Aware of “Event Bait” from Lazada!

 

In digital world, there is word called “click bait”. It’s a term where someone uses interesting fake image or hyperbolic title just to allure people to click. For example: using sexy girl image in video containing grave punishment (siksa kubur). Kaskus give it cool nickname: jebakan betman, Batman trap.

My own experience is more than click bait. It’s even worse: event bait. It was started when I saw an event in Eventbrite platform: Lazada Marketing Solution launch. Since I’m looking for alternative advertising platform beside of Google and Facebook, I keen to join the event.

So I signed up and received confirmation from Eventbrite. I also received reminder one day before event. Everything is normal and I can’t smell something fishy.

Event Bait

On the event day, since the invitation is 12:00 AM I arrived around 12:05 AM. I was fasting (it was Thursday) and didn’t think to get some “free lunch”. I just want to register, sholat, and join the party to fulfill my curiosity.

I was shocked when I was rejected in the registration booth! Continue reading Be Aware of “Event Bait” from Lazada!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mengapa Saya Adalah Pria Paling Beruntung di Dunia?

Faktanya: saya gendut, bego, jelek, dan tidak kaya.

Memiliki berat 95 kg dengan lingkar perut hampir 110 cm membuat badan saya mirip Hulk yang obesitas. Saya lebih mirip tokoh di serial Dragon Ball. Tentu bukan Son Goku atau Bezita, tapi lebih condong Majin Buu waktu belum berubah jadi versi langsing.

Muka saya juga sekilas ga mirip artis. Meski dari jauh kaya Brad Pitt, dari dekat malah jadi sandal jepit. Dari kejauhan mirip Alejandro, begitu disamperin: Muka koq bisa gitu ya ndro?.

Saya juga bukan orang pinter. Kuliah 7 tahun dan hampir kena DO dengan IPK yang perlu diinfus dan diberi nafas buatan untuk bisa lepas dari isu SARIP para HRD: Suku, Agama, Ras, dan IP. Pernah rekor memiliki IPK Nol dalam satu semester dengan 6 nilai F, dan pernah mendapat nilai E hanya karena membuat tugas akhir Ilmu PEREK-onomian dalam bentuk cerita pendek yang penuh fantasi. Saya juga pernah 3x mengulang Ekonometri dengan 3 nilai berbeda: E, D, dan C. Klo nilainya B, C, A saya pasti sudah punya bank.

Apakah saya kaya? Boro-boro. Kerja masih ikut orang. Bisa makan setiap hari saja sudah sujud syukur alhamdulilah. Disaat orang lain gonta-ganti kendaraan, saya kemana-mana gonta-ganti jalur komuter line. Saya tidak punya kendaraan bermotor sama sekali (bahkan sepeda motor). Gadget? Laptop hasil pinjeman kantor. Tabungan di Bank? hanya bisa untuk hidup bulan ini.

Sempat terbersit pikiran jujur: Apakah nanti ada perempuan yang khilaf dan mau kawin dengan saya? Apa ada yang mau hidup dengan lelaki kerdus (kere dan mbladus) kaya saya?

Secara statistik, peluang saya mendapatkan jodoh cantik hanyalah 0,0002% dengan asumsi hanya ada 1% (sekitar 500rb) wanita cantik yang bisa dinikahi dari seluruh wanita usia produktif di negeri ini.

Tapi saya beruntung karena ada bidadari yang mau menerima pinangan saya! Setelah ditolak berkali-kali! Saya beruntung karena punya istri cantik dan seksi! Tuhan memang Maha Adil. Ia tahu manusia bisa punah jika orang jelek kaya saya tidak bisa berkembang biak. Masa kawin ama tissue dan sabun?

Namanya Pipi Kentang. Saya sudah cerita banyak tentang dia. Tapi saya belum cerita kenapa dia mau menerima saya.

“Kamu itu kaya kecoak. Diinjek berkali-kali ga mati-mati”.

Rupanya dia nyerah karena saya begitu gigih memperjuangkan cintanya. Berulang kali dicuekin, diboongin, dimanfaatin, didiemin, eh masih aja coba ndeketin hehehe.

Pelajaran buat pejuang cinta: kata “Tidak” bukan berarti menolak. Coba terus sampai kamar bersalin memisahkan cinta Anda. Karena undangan yang disebar dan janur kuning yang berkibar masih bisa dikudeta dengan sangar. Hehehe tolong jangan ditiru ya.

Yang bikin saya lebih beruntung adalah, hari ini Pipi Kentang berulang tahun!

Itu berarti kesempatan untuk minta traktir sushi gratisan dan bisa sedikit melepaskan diri dari menu warteg yang itu-itu lagi. Ini juga berarti Pipi Kentang akan bertambah dewasa, dan harapan untuk bisa menua bersamanya akan menjadi semakin nyata.

Apa hadiah ulang tahunnya? ZE1YVI. Kode booking sederhana yang saya bayar kemarin sore.

Dulu saya berjanji membawanya ke tiga kota di dunia: Mekah, Praha, dan Tokyo. Insya Allah kami akan berkunjung ke negeri Sakura, untuk membuat Pipi Kentang menjadi wanita paling bahagia di dunia dan di luar angkas

Ultah 29 Oct
Ultah 29 Oct

a.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jika Semuanya ada di Internet, Apakah kita Masih Perlu Buku?

Kemarin saya berkunjung ke Big Bad Wolf Surabaya. Itu lho, pameran buku-buku impor yang sebelumnya digelar di ICE BSD. Waktu di Jakarta, karena masalah jarak dan waktu yang memisahkan kita, saya males datang kesana. Pas pulang ke rumah ortu kali ini lha koq pas ada.

posternya
posternya

Saya datang bersama teman, si Dimas. Acaranya sendiri diadakan di Jatim Expo Center, gedung serba guna di deket Graha Pena Surabaya. Ketika saya datang Sabtu sore, suasana sudah rame. Banyak orang nenteng kantong belanjaan gede-gede penuh dengan buku.

Tapi kan sekarang abad digital, apa masih relevan membaca buku?

Anjuran ‘bacalah’ sudah ga laku dan kurang gaul. Ngapain harus cari buku (atau ebook), buka-buka halaman sambil melototin huruf kecil2 yang bikin pusing? Udah lama, ribet, eh belum tentu nemu jawabannya :D.

Mencari informasi di halaman web (entah website, blog, social media, forum dll) terbukti mampu memberikan informasi yang kita inginkan dalam hitungan detik. Sebutannya sudah ‘flash’ dan bukan lagi instant. Karena instant butuh waktu 3 menit dan 200 ml air panas. Oh klo itu memang mie instant.

Apa yang salah dengan mencari informasi lewat browsing? Toh internet sudah menjadi perpustakaan dunia yang merekam segala informasi yang ada. Pingin tahu jarak bumi ke matahari? Tinggal browsing. Pingin tahu nama latin kodok? Tinggal ketik di google. Pingin tahu judul bokep di videotron tempo hari? Ga perlu tanya tetangga. Cukup ketik keyword yang sesuai.

Terus apanya yang salah donk? Sejujurnya ga ada yang salah. Yang salah sih yang ngeracun si Mirna. Lah koq ngomongin sidang kopi.

Gathering information through browsing are great, tapi jika tidak berhati-hati setidaknya ada tiga bahaya yang mengancam para “flash information seeker” (mereka yang ingin dapat informasi dalam sekejap). Tiga advantage yang menurut saya hanya didapat lewat “deep reading” melalui buku/ebook dan membuatnya tak tergantikan oleh website.

#1 Web give you faster information, a good book give you robust information.

It is debatable. Tapi Hoax menyebar begitu cepat lewat web daripada lewat buku. Mengapa? Karena tidak ada filter informasi. Besok saya bisa menulis teori tentang cara diet menurunkan berat badan menggunakan lemak ayam lewat blog saya. Tak ada yang me-recheck apakah informasi yang saya tulis benar atau salah. Filter hanya ada di pembaca yang mempertanyakan: ini masuk akal ga?

Berbeda dengan buku. Untuk menulis sebuah buku seorang penulis harus melewati berbagai filter. Mulai dari penyunting naskah, editor, hingga penerbit yang mempertaruhkan kredibilitasnya. Konsekuensinya? Validitas bisa lebih dipertanggungjawabkan. Tapi kita juga harus hati-hati, ada penerbit abal2 yang sengaja menerbitkan buku demi mengejar keuntungan lewat sensasi.

#2 Web only surfing the surface, a good book give us deeper understanding

Ketika mencari informasi via web baik itu lewat website atau blog, penulis content akan berusaha menyajikan informasi seringkas mungkin. Karena mereka tahu jika pembaca hanya punya waktu terbatas dan tidak ada guna untuk menulis semuanya.

Implikasinya, terkadang web hanya menyentuh rangkuman permukaan. Ia tidak sempat memberikan ruang yang lebar untuk pembangunan argumen dan logika. Informasi di internet dapat menjabarkan “What” dan “How”, tapi belum tentu bisa menjelaskan “Why” dengan baik.

Contohnya saat saya ingin tahu lebih jauh tentang kapitalisme vs marxisme. Hanya mengandalkan ulasan orang di web takkan membawa pemahaman yang mendalam tanpa membaca buku-buku yang ditulis Adam Smith, Keynes, Friedman, Karl Marx, Engels dan pemikir lain-nya.

Membaca Wikipedia tentang profil seseorang tentu akan jauh berbeda dengan membaca langsung biografi yang lebih lengkap dan menyeluruh. Baca sejarah kemerdekaan Indonesia di web, tentu beda dengan membaca Indonesia Menggugat-nya Soekarno, atau Untuk Negeriku-nya Hatta.

Bahayanya jika Kita terbiasa menelan informasi secara bulat, kita tidak akan terlatih untuk bertanya: Koq bisa gitu? Metodologynya kaya apa? Kenapa bisa lahir teori seperti itu? Kenapa kejadian itu bisa terjadi? Kita hanya tahu “apa” dan “siapa”, tapi lupa mencari tahu “bagaimana” dan “kenapa”.

#3 Web give you engagement, book give you moment of silent

Web memiliki kekuatan di komunikasi dua arah antara penulis content dan juga pembaca. Keistimewaan yang tidak bisa dimiliki sebuah buku. Tapi justru disitu kelebihannya, buku menawarkan keheningan disaat pembaca meresapi materi yang sedang dibacanya. Sifat komunikasi yang dibangun hanya searah membuat pembaca harus menginterpretasi informasi yang masuk dalam dialog diri yang penuh dengan rasa sunyi.

Buku adalah sebuah kapal selam. Ia mengajak pembacanya untuk berpikir lebih dalam, lebih jauh, dan berusaha menyentuh subtansi pengetahuan. Buku yang baik bukan hanya kaya akan informasi, tapi juga mengajak pembacanya bertanya: mengapa ini bisa terjadi? Sebuah perjalanan pikiran yang agak susah ditandingi oleh artikel website yang hanya punya 1000-2000 kata per postingnya.

Kematian Buku?

Sayangnya minat baca Indonesia masih diurutan 60 dari 61 negara berdasarkan hasil survey oleh Central Connecticut State University. Saya sedih sekaligus bersyukur. Sedih karena berarti kualitas pendidikan kita tertinggal jauh, tapi juga bersyukur sambil positive thingking: jangan-jangan masyarakat kita sudah jadi masyarakat multimedia?.

Karena hidup di abad 21 berarti menambah pilihan informasi. Toh Internet, buku/ebook, audiobook, video, dll hanyalah medium penyampaian informasi. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya sendiri percaya buku akan semakin digusur oleh ebook.

Yang penting kita harus menjadi manusia pembelajar. Manusia yang tak pernah lelah bertanya, mencari pengetahuan, dan menyebarkan ilmu untuk kebaikan kemanusiaan. Dan kebetulan, salah satu cara termudah mencari pengetahuan adalah dengan membaca. Karena itulah firman Tuhan yang pertama adalah “bacalah”, dan bukan “tontonlah”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Six Sigma Ways of Getting Richer

I just finished my green belt lean six sigma training. What is six sigma? Is it kamasutra sex training? What is green belt? Did I attend aikido training? Did I train for go green campaign?

green-belt-sertificate

Basically six sigma is a way of thinking. It’s the recipe on why some company could create world class product with zero defect. Ok, to make it simple lets use real practice. Imagine yourself. All of us want to get rich. But how? Let’s use six sigma approach.

DMAIC

Six sigma starts from defining our problem and goal, measuring it, analyzing which critical factor that can be improved, implementing change, and controling the impact. Define-Measure-Analyze-Implement-Control. DMAIC.

In that case, first we must define what is our problem and what is our goal. Our problem is being poor and our goal is becoming rich. Then we must define, how poor is our current condition? How rich we want to be? Write it down. For example:

Current condition: We have 10 mio IDR debts

Goal condition: We will have 1 bio IDR assets

Between current condition and expected goal there is a gap. How to fill the gap? We need a strategy. The beauty of six sigma is learning how to specify the improvement process, and break it down into small improvement project. Remember Pareto principle, there is 20% factor which contributes to 80% effect.

We all know that to be richer, there are two approaches:

#1 Getting more assets

#2 Reducing liabilities

Since it’s a broad subject, then we must choose which area that we want to improve. Lets say since we are still working 9 to 5, getting new asset will be harder. So lets choose reducing liabilities option. At least we will have more money to save and buy assets. Now, what kind of liabilities?

Specify it, Measure it

Which liabilities that we want to cut? We have to break it down into more detail aspects. For example in liabilities there is mortgage, credit card bills, daily consumption, transportation, and etc.

How to know which one to save? The only way is by asking the data. We must collect all of spending data and then make a decision based on it. So for example, we start writing down all of expenses in the past 30 days and suddenly find out that 30% of liabilities come from credit card payment. How come?

Then we find out that 50% of credit card bills are coming from restaurant and bar merchant. We realize that even though we make our own cook, sometimes it’s nice to chill out with friend in fancy hangout places. We also find out that we spend 30% for ecommerce since we are always tempted by “discounted fashion apparel online” regularly. Aha, there is potential area of improvement!

So if we write down the function of credit card consumption, the number will be:

Break down liabilities
Break down liabilities

Our project will be:

“How to reduce credit card liabilities from 30% into 18%?”

We know change is easy to say but hard to do. Change is not just applying technical aspect but it is also about human touch. 90% of change is failed because people are resistant for change. Using threat opportunity matrix we could try to convince ourselves on urgency of changes:

thread-opportunityChange what you can change

From the liabilities tree above, it turns out that restaurant and ecommerce posts contribute 80% of the bills. Can we reduce the restaurant and ecommerce expenses till zero? It seems impossible. So, do what we can do. Change what we can change. The most important thing: we must create improvement. So lets say we list down 7 possible actions to reduce credit card bills:

  1. Changing the hangout places
  2. Creating shopping list before browsing on ecommerce site
  3. Writing down reminder in laptop desk: “Reduce Your Bills, Save Your Money”
  4. Blocking ecommerce site in our laptop and mobile
  5. Saying goodbye to our lovely friends and never hang out in restaurant again
  6. Ordering cheaper foods during hang out
  7. Cutting our credit card … physically!

Hmmm how to choose which action we must take? We can use impact matrix. Categorize it based on effort and impact.

effort-impact-matrix

From metrix above It’s better to choose the red box (low effort-high impact) since those actions are easier to do but have impactful outcomes. The rule of thumb: choose the highest impactful actions (red and green box).

Okay, now we know what we want to do. So let’s do it. Creating shopping list and never buy “out of list” stuff, writing down reminder in our desk and of course choosing cheaper food like salad while we are hanging out.

All we have to do is to make it new habit or standard. Implement and control new ‘policy’, then measure it at the end of the period to measure the impacts. If our credit card liabilities drop untill 18% of all liabilities, that means we are success in achieving our goal. If don’t, look at the reasons. Why it can’t be implemented? And how to change it? Because life is a continuous change.

Remember the Holy Prophet Muhammad says:

“Do you know who is luckiest man? He is a person whose today is better than yesterday, and whose tomorrow is better than today”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Ongoing Trends for Mobile Marketers

Thank God I attended Mobile Marketing Association Forum (MMAF) 2016 this Thursday (22 Sep). So many great speakers with interesting facts, stunning insight, and provoking questions. Basically the conference shared positive optimism regarding mobile advertising, plus several ongoing trends and study case.

MMAF 2016 at Jakarta
MMAF 2016 at Jakarta

From all of well known speakers (from agency, brand, publisher, and researcher) there are several key point that we must note. I tried to connect all of them into 5 ongoing trend:

#1 Going mobile is inevitable, like it or not, we must be ready!

The trend is unavoidable regardless of your industry. From telco, travel, e-commerce, fashion, to toiletries. Whatever your product is, our consumer will go mobile. And Indonesian mobile user number is growing, significantly. From around 70 mio smartphone user into approximately 150-180 mio by 2025.

Do you believe that we look at our mobile device for 150 times per day? How long do you spend staring at your mobile device to read news, watch video, or gossip about your boss with other colleagues? Even mobile consumption has surpassed TV for certain audience and become the prime screen, not just complimentary one. So, get ready for it.

#2 Mobile is personal device, give them personal touch

It’s really personal, and we never share our mobile device! They key is 3 P: present, personal, persuasive. The beauty of mobile, you could speak different message to different audience. Special advantage compare with TV or newspaper where we broadcast uni message to mass audience.

If we are e-commerce market place, we could do targeting and differentiate our offer based on audience. Showing dress for woman, shaver for man, games for teenager, or glasses for granny. Good bye one for all, and all for one communication!.

#3 Keep up with new cool things but always remember old thing

Innovation came and go. From augmented reality, virtual reality, social chat platform till voice search option. We must keep open and do innovation to keep pace with latest trend and technology. Sometimes there are “innovator dilemmas” where we want to adopt new technology but the market or infrastructure is not ready yet.

One of cool startup who want to implement IOT (internet of things) in agribusiness is E-fishery. They create machine to feed fish automatically and cant be controlled by farmer mobile phone. The biggest obstacle? Not all farmer familar with smartphone and technology. It needs time to makes them understand the benefit of it.

New cool things come and go, but the old question still the same: “Does it help our customer life?”

#4 Mobile data behavior give us insight, crack something from it

Mobile data give us data that can’t be provided by desktop like mobility or people movement. There are a lot of brand that already used it. For example AirAsia always targeting their audience based on location or travelling behavior in the past couple of months. If you have been roaming with your mobile phone, your probability to get expose by international routes ads will be higher than domestic routes.

#5 At the end mobile is just a medium

Consumer need story, not just product. Our job as marketers (or agency, or publisher) is to create value added for our market using any kind of technology that we have. We could create mobile site or fancy apps, but it must answer simple question:

“What is the value for me as customer?”

I love the example for ‘Berbagi Sehat’ app from Lifebuoy. They basically a soap brand, but they move from functional aspect like anti bacteria into more noble value which concern most of mom: how to have healthy family? With ‘Berbagi Sehat’ app we could track health status and have early diagnoze symptom with quite informative description. The goal is simply to protect our most prestigious assets: our kids.

Summary

So, in general let me use 4 blockers to simplify and get better understanding (thanks to @HandryGE who share this tools! Now I know why GE could discuss and make decision for 12 topics in just 1 hour!).

Share any thought if you reading this via mobile 🙂

PS: please correct my grammar, I want to improve my IELTS!

summary
summary
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Omne Ignotum Pro Magnifico

Sudah dua bulan ini saya mengikuti kelas bahasa arab. Ini sesuai dengan target dan sempat saya jadikan status pada 2013 lalu.

Nulis target ga ada ruginya loh
Nulis target ga ada ruginya loh

Alhamdulilah semuanya masih on progress. Saya sedang belajar R (salah satu software statistik) untuk bermain dengan big data sambil terus berkutat dengan marketing strategy salah satu LCC. Saya menghabiskan 30 menit setiap hari untuk membaca summary laporan keungan plus analisis teknikal perusahaan yang ingin saya invest, dan juga ga pernah berhenti takjub dengan perkembangan digital marketing serta tumbuhnya perusahaan startup.

Tapi baru tahun ini belajar bahasa arab… Dan salah satu pemicunya adalah abang Gojek.

Jadi ceritanya pada 6 April 2016 lalu, saya ada janji dengan salah satu teman di Central Park. Untuk menghemat waktu, saya naik Gojek. Saat perjalanan seperti biasa saya ajak ngobrol. Saya bertanya:

“Bang kalo abis narik gojek ngapain?”

Saya sih mikirnya jawaban standar kaya “Saya lagi ambil PhD untuk riset kalkulus integral” atau “Paling liburan ke Santorini Mas”. Oh itu ga standar ya? Tapi jawaban dia memang ga standar.

“Saya les Mas. Les bahasa Inggris”. Ia lalu menyebut salah satu lembaga kursus bahasa Inggris.

Mendengar Bapak-bapak Ojek berumur 30-an masih mau belajar bahasa Inggris itu seperti ngeliat kakek ompong masih mau makan kerupuk. Semangat banget cuk!

Saya jadi malu. Dia aja masih semangat tholabul ilmi, mencari ilmu. Saya koq malah semangat tholabul istri, mencari istri. Maaf Pipi Kentang :p! Sejak itu saya memutuskan untuk takkan pernah berhenti mencari ilmu, meski harus berjalan menembus kerak bumi, berenang mengarungi tujuh samudera, dan terbang ke langit ketujuh. Anjis pingin muntah saking lebaynya.

Usia Itu Alasan, Bukan Halangan

Dan dikelas bahasa arab, ada salah satu peserta yang menginspirasi. Namanya Pak Gatot, umur sudah hampir setengah abad. Tapi semangatnya paling hebat. Dia paling rajin datang ke kelas, tak pernah absen. Saat yang lain puas dengan 2x pertemuan seminggu saat malam, Pak Gatot juga datang di kelas akhir pekan.

Program kami memang hanya 2x seminggu selama 3 bulan untuk setiap tingkat, tapi penyelenggara membebaskan jika ingin ikut kelas pagi, malam, atau akhir pekan. Mau ikut semuanya juga boleh. Nah saking rajinnya Pak Gatot, dia bingung ketika ditanya: Antum sebenarnya kelas yang mana? Yang pasti Pak Gatot termasuk kelas mamalia.

Gara-gara Pak Gatot, saya jadi malu kalau hanya datang di kelas malam. Dia begitu semangat meski harus belajar hal dasar seperti makhrojul huruf, perkenalan dengan huruf syamsiyah qomariyah, menulis ism’, imla’, dan percakapan dasar.

Pak Gatot lagi praktik conversation (pake baju putih)
Pak Gatot lagi praktik conversation (pake baju putih)

Kita sekarang hidup di zaman materealistis, dimana semuanya diukur dengan materi. Dan harta dianggap lebih penting daripada ilmu. Kita lebih semangat ikutan seminar properti, MLM, atau rahasia investasi daripada mengkaji ilmu yang berguna di akhirat nanti.

Padahal Ali ibn Abi Thalib sudah memberikan pesan: pilihlah ilmu dibanding harta. Ilmu menjaga pemiliknya, sedang harta harus dijaga oleh pemiliknya. Harta berkurang saat dibelanjakan, sedangkan ilmu semakin bertambah saat dibagikan. Dan saya percaya: jika ilmu sudah kita dapat, harta akan mendekat.

Omne ignotum pro magnifico. Segala sesuatu yang tidak kita ketahui terlihat luar biasa. Tapi percayalah, Man saaro ‘alaa darbi washola. Barang siapa berjalan pada jalannya, maka dia akan sampai pada tujuannya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pengalaman Pertama dengan BPJS

Hari Jumat lalu untuk pertama kalinya saya menggunakan BPJS. Gara2 teledor jalan pas townhall meeting, kepala kejedot speaker. Karena ga pake No drop, bocor deh darah kemana2. Ternyata seperti ini ya rasanya menstruasi di kepala.

Setelah dibantu teman2 untuk pertolongan pertama (tq banget kawan!), saya dilarikan ke tukang tambal ban terdekat. Ya ke rumah sakit lah bos…

Kebetulan ada Rumah Sakit swasta di dekat kantor. Pas di UGD, dengan kepala cenut2 saya disuruh daftar ke administrasi dulu. Dan anehnya, RS ini tidak menerima asuransi swasta karena hanya melayani BPJS.

Stigma negatif tentang BPJS (antri lama, sering dibilang penuh, pelayanan kurang) membuat saya melupakan kartu itu dan selalu menggunakan asuransi swasta.

“KTP bawa kan?” Kata mbak2 di pendaftaran pasien.

Ternyata BPJS sudah terintegrasi dengan data kTP sodara-sodara! Wah ga rugi dulu saya input data sesuai kartu penduduk itu.

Karena masih harus nunggu, dan sepertinya pendarahan masih berlangsung, saya minta untuk mendapat penanganan medis. Klo darah yang keluar bisa didonorin sih gpp, atau kalau enggak, minimal bisa saya minum lagi biar masuk ke tubuh.

Akhirnya saya mendapat jahitan. Dari dokter koas yang masih muda dan bening.

“Saya mau nyoba jahit donk mas” kata mbak dokter ke perawat yang awalnya menangani saya.

Waduh saya mau jadi beruang percobaan nih. Mau ngelarang kan ga mungkin. Berdoa aja jahitannya bener. Mau pake jelujur, tusuk rantai, tusuk tikam jejak, atau tusuk flanel terserah deh yang penting helm saya bisa dipakai lagi.

Dengan bimbingan Tuhan, arahan mas perawat, dan beberapa kali tusukan disertai rintihan pasien, mbak dokter sukses menjahit kepala saya. Setelah selesai, saya harus antri untuk disuntik anti tetanus. Takut sudut speaker yang saya jedotin berkarat. Klo dapat 24 karat sih gpp. Lumayan bisa dijual ke toko emas hehehe.

Setelah itu, balik ke administrasi dan ambil obat. Karena ga bawa kartu BPJS, saya diminta menyerahkan fotocopy KTP. Dan itu berarti harus keluar RS karena anehnya di pendaftaran ga ada mesin fotocopy -_-.

Tentu saya berharap pelayanannya bisa menyamai RS yang hanya menerima asuransi swasta.

Baru seminggu lalu saya main ke salah satu RS di Jakarta Selatan. Kaki saya menderita cantengan dan harus dilakukan ekstraksi abses dengan menyayat jempol kaki.

Dokter di RS ini menjelaskan A-Z tentang kaki cantengan saya. Penyebab, diagnosa, dan langkah-langkah medis yang akan dilakukan. Selain itu ia mengakhiri sesi “diskusi” dengan pertanyaan: “Ada lagi yang mau ditanyakan?”

Sayangnya ada harga ada rupa. RS BPJS hanya mengenakan biaya 135rb untuk jahitan kepala, sedangkan RS Asuransi Swasta men-charge saya senilai 900rb untuk cantengan di kaki.

Overall mengenai BPJS, saya cukup puas dengan penanganan yang diberikan. Cashless, cardless, data terintegrasi, dan saya cuma nunggu sekitar 5-15 menit untuk mendapat pelayanan. Dalam benak saya, pasien BPJS sering ditelantarkan dan harus sabar ngantri berjam-jam.

Bagi yang masih “alergi” dengan BPJS, coba pikir lagi: asuransi mana yang memberikan banyak sekali benefit (operasi jantung aja di cover) dan hanya meminta premi 80rb/bulan?

Bagi yang masih protes, ga mau bayar kalo ga sakit, dan koar-koar di sosmed katanya negara gagal menjamin kesehatan warganya, saya punya satu pertanyaan untuk Anda:

Mission report, 16 December, 1991.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail