Category Archives: Curhat

Cuap-cuap tentang segala yang ada di kepala

Jurus Antik Mendapatkan Istri Cantik

Waktu reuni sekolah dan si Pipi Kentang ikutan, teman-teman saya heran:

“Koq mau ama Yoga?”

Maklum, Istri saya cantik dan modis. Berbanding terbalik dengan saya yang antik dan tragis.

Teman-teman sekolah pasti tahu betapa suramnya tampang saya waktu sekolah.

Karena wajah saya memang menarik. Menarik lalat dan nyamuk untuk hinggap.

Punya bemper muka yang jauh dari kata tampan atau “enak dilihat” memang challenging. Saya ga punya competitive advantage untuk menggoda kaum hawa.

Ganteng kagak, miss queen iya.

Saya memang sering “dekat” dengan banyak wanita.

Terutama di angkot dan pasar. Dekat secara posisi ya. Bukan dekat secara hubungan asmara.

Mungkin ini bukti jika Tuhan itu adil. Lelaki jelek perlu menikah dengan wanita cantik untuk mempertahankan garis evolusi.

Kalau orang jelek menikah dengan orang jelek dan menghasilkan keturunan yang jelek, maka lama-lama manusia bisa punah.

Toh pengalaman saya menunjukkan jika lelaki gendut biasanya istrinya cantik. God bless fat people!

Disini saya akan share tips bagaimana mendapatkan istri yang cantik meski kita tidak punya tampang yang menarik.

#1 Pasang banyak cermin di kamar

freepik.com

Karena jodoh itu 100% ada ditangan Tuhan. Kita hanya perlu melakukan 3B: Berdoa… berusaha… dan berkaca… hehehe.

Tapi tenang aja, urusan muka ga terlalu pengaruh koq.

Sebenarnya jika ada kaum hawa yang mau jadi pasangan saya itu bukan karena saya keren atau gimana. Tapi udah takdirnya begitu.

Meskipun saya gantengnya ngalahin Nabi Yusuf tapi klo si doi belum jodoh ya palingan jadi mimpi basah: berasa, tapi cuma di dunia maya.

Jadi ya banyakin berdoa ya gaes! Doa-nya simple koq:

“Ya Tuhan, jika Ia memang jodohku tolong mudahkanlah.

Jika Ia bukan jodohku maka jodohkanlah”.

Simple kan?

#2 Ikuti Standy Up Comedy

freepik.com

Apa yang membedakan kita dengan lelaki lain?

Apa kelebihan saya selain kelebihan berat badan?

Dua pertanyaan diatas perlu dijawab oleh semua lelaki yang bertarung di bursa jodoh.

Intinya kita harus menemukan unique selling point yang membuat lawan jenis tertarik. Bisa tajir melintir, otak intelek yang bikin melek, atau badan atletis kaya artis bokep.

Karena harta saya Cuma bisa untuk hidup H+1, IQ pas2an, dan badan saya lebih mirip karet sintetis daripada atletis, saya memilih aspek humor sebagai senjata utama. Intinya saya harus bisa membuat Pipi Kentang tertawa!

Caranya? Banyak2 baca buku humor dan dengerin jokes receh garing. Makanya jangan heran jika tulisan ini garing banget dan tinggal digoreng tanpa perlu dijemur lagi.

#3 Berhenti Berpikir

freepik.com

Harus saya akui, buku Men Are from Mars, Woman from Venus membantu saya memahami psikologi kaum hawa.

Saya jadi tahu jika wanita hanya ingin dimengerti dan dilindungi. Tak perlu dinasehati atau diceramahi.

Perempuan butuh dukungan. Bukan sanggahan atas kesalahan.

Mereka hanya ingin didengarkan. Tanpa mendapat penghakiman.

Pria sebagainya tidak menggunakan “men’s thinking” dalam berhubungan dengan perempuan. Jika masih belum paham, coba deh baca bukunya John Gray diatas.

It will help your relationship with any woman in any situation.

#4 Menjadi Kecoa

freepik.com

Alasan utama Pipi Kentang mau saya hamili (Bahasa alusnya: menerima saya) adalah: saya mirip kecoa.

Anda tahu, kecoa adalah salah satu hewan yang mampu bertahan meskipun terkena radiasi nuklir. Mereka symbol ketahanan dan sifat pantang menyerah.

Kecoak juga punya anti biotik super yang melindungi mereka dari penyakit paling mematikan sekalipun. Karena itulah mereka bisa bertahan hidup di tempat-tempat jorok dan sangat ga “liveable” (apalagi instagramable).

Intinya, milikilah ‘Grit’ dan sifat pantang menyerah seperti kecoa!

#5 Tutup Mata, Lupakan Cantiknya

males nyari foto baru haha

Saran klise: Jangan mencintai seseorang wanita karena dia cantik.

Karena kecantikan bisa memudar.

Dan Anda tahu, memulihkan kecantikan wanita yang memudar tidak bisa menggunakan bayclin (emang warna baju).

Cintai seorang wanita karena kamu percaya dia adalah tulang rusuk yang hilang.

Coba tutup mata dan berinteraksi dengannya. Apakah kamu bahagia? Apakah kamu masih ingin menghabiskan masa tua bersamanya?

Jika Ya, maka go fight for her!

Ingatlah, seorang wanita tidak dicintai pria karena cantik. Tapi Wanita menjadi cantik karena dicintai oleh seorang pria.

#6 Ingat Ulang Tahunnya

Terakhir, seorang pria harus ingat ulang tahun pasangannya. Seperti hari ini, Pipi Kentang berulang tahun!

Tulisan ini didedikasikan sebagai hadiah disertai ucapan standard: “Sebentar lagi lu bakal mati cuk!”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Saya Semakin Malas Menulis Catatan Harian?

Sudah beberapa tahun ini saya semakin malas menulis catatan harian.

Padahal waktu awal-awal menulis tahun 2006, semangat banget.

Terinspirasi dari orang2 keren macam Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, atau Anne Frank.

Dalam angan-angan saya, catatan harian itu akan menjadi fosil perjalanan hidup. Yang akan berharga mahal saat saya jadi miliarder nanti.

Judulnya sengaja saya bikin jadi doa: “Catatan Harian Seorang Manusia Kaya”.

Tapi sampai sekarang alhamdulilah koq ga kaya-kaya juga haha.

Waktu zaman kuliah, setiap hari saya menulis 2 halaman.

Setelah lulus, turun jadi 1 halaman karena lebih sibuk nulis CV lamaran.

Waktu jadi kacung korporasi. Semakin jarang menulis setiap hari.

Mimpi jadi penulis semakin samar. Kalah dengan urusan pekerjaan yang semakin sangar. Proyek buku pun semakin tak terdengar hehe.

Tapi jika dianalisa, sebenarnya ada dua penyebab kemalasan saya menulis catatan harian.

Pertama soal bahasa.

Mulai 2010 saya menggunakan bahasa Inglis untuk nulis diary.

Padahal grammar saya ancur banget. Ngertinya cuma dialog film: “Oh yes, Oh no, Oh My God. Harder-deeper-faster”.

Penyebabnya waktu itu ada seminar di Fisipol. Pengisi acaranya alumni HI yang sukses keliling bumi. Dia bercerita pengalaman belajar ngomong bahasa bule: yang penting dicoba wae.

Lagipula ini zaman digitalis, mau ga mau saya kudu bisa sepik-sepik Inglish. Biar pun mix-mix ala Jaksel. Ora popo.

Gara-gara pake Inglish ala-ala, saya ga bisa bebas menuliskan ekspresi. Mungkin karena kosakata saya limited edition. Koleksinya terbatas hehe.

Tapi penyebab utama saya malas menulis sesungguhnya adalah: rutinitas saya mudah ditebak.

Hidup cuma bangun, olahraga, sarapan, pergi kerja, meeting, traveling kesana-sini, main ama anak istri, lalu tidur untuk memotong umur keesokan hari.

Tak terlalu banyak “intellectual sparkling” yang terjadi.

Beda saat waktu kuliah.

Pagi hari saya bisa bergumul dengan cultural studies, siangnya membedah pemikiran kaum kapitalis, malamnya membaca logika orang atheist.

Dulu sering sekali muncul pertanyaan random dikepala.

“Mengapa orang bisa ketawa? Apakah kita bisa melihat Tuhan? Kenapa ada orang miskin dan kaya?”

Sekarang pertanyaan yang muncul adalah:

“Bagaimana cara menaikkan market share? Gimana caranya beli rumah? Apa yang terjadi dengan Yoda 5 tahun lagi?”

Sepertinya hidup saya bergerak semakin banal.

Untungnya hidup kita tidak kekal.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cerita Rahasia Selama di AirAsia

Tak terasa sudah 4 tahun saya “belajar” di AirAsia (ga pake spasi “Air Asia” ya!), banyak cerita yang saya alami. Sekarang, di last day saya nongkrong disini, ada 4 cerita yang harus saya bocorkan, sekalian iklan lowongan haha.

Tentang ID90: Rahasia jalan-jalan hemat

Di AirAsia setiap allstars (sebutan untuk staff) pasti mendapat benefit ID90. Apa itu? ID90 berarti diskon 90% dengan menunjukkan ID karyawan dan keluarga intinya. Ga salah lihat? Iya beneran 90%! Kesemua rute! Ini yang membuat saya males check-in di socmed kalau sedang di bandara. Lha wong hampir setiap minggu!.

Dengan ID90 ini kamu bisa ke Bali/Jogja/Surabaya pp Cuma 300rban. Atau ke Singapura/KL/Bangkok pp sekitar 700-900rb an. Selain itu kita juga dapat jatah coupon 16 point. Untuk penerbangan dibawah 4 jam, biayanya 1 point, sedangkan diatas 4 jam, ongkosnya 2 point. 16 point berarti saya bisa pulang pergi Jakarta-Tokyo 8x setahun secara gratis!

Dan nikmat tiket mana yang engkau dustakan?

Tentang Duty Travel: Kerja Sambil Jalan-jalan

Duty travel artinya perjalanan dinas. Tapi berbeda dengan perjalanan dinas PNS yang biasanya nyaman dan penuh rombongan, duty travel di AirAsia sangat efisien. Klo bisa pulang tektok, ga usah nginep hotel (saya sering ke SIN atau KL dateng pagi pulang malam). Klo cukup sendiri, ga perlu ngajak orang lain.

Total saya sudah duty travel sekitar 300 kali, menginap di hotel 90 hari, dan bisa halan-halan gratis ke 8 negara. Duty travel pertama: 3 hari setelah masuk kerja. Saat itu ada konferensi pariwisata di Singapura.

Duty travel “paling sengsara”: Kunming, Tiongkok. Saya pergi sama Bayu. Anak sales yang baru pertama kali keluar negeri. Sengsaranya gimana?

Waktu kita landing ke Kunming, karena ga bisa bahasa China and Ibu-ibu driver taksinya ga bisa bahasa Inggris, kita Cuma nunjukin brosur tempat event-nya. Ibu-nya langsung tancap gas dan membawa kita ke pinggir kota.

Karena su’udzon, saya iseng-iseng cek google maps (pake roaming karena google di blokir). Wah koq kita diarahin ke tanah kosong antah berantah? Langsung saya minta driver untuk putar balik dan menunjukkan lokasi Gmaps. Setelah ngobrol pake bahasa tarzan, akhirnya kami diantar ke tujuan sesuai Gmaps.

And ternyata dong, kita salah alamat! Kami menunjukkan exhibition center yang lama, sedangkan acara kami harusnya di exhibition center tempat baru. Jadi karena Google ga update di China, “area kosong” di peta sekarang sudah berubah jadi exhibition center kelas dunia. Dan berarti awalnya Ibu taksi udah bener!.

Penderitaan belum berakhir sodara-sodara! Setelah nyegat taksi lagi dan berhasil sampai di tempat pameran untuk registrasi, waktunya check in ke hotel. Tapi naik apa? Rata-rata orang bawa mobil, taksi yang lewat semuanya penuh, mau install uber/Didi ga bisa verifikasi.

Akhirnya kami jalan kaki 2 km sampai nemu halte bis. Karena ga tau rute dan semua pake bahasa Sun Go Kong, kami asal naik. Eh malah kesasar and ga nyampe-nyampe! Karena lelah, kita putuskan turun dan alhamdulilah ada taksi lewat.

Besoknya, karena trauma ribet pulang, kami sepakat menggunakan layanan bike-sharing. Cuma modal aplikasi dengan biaya 1 yuan. Akhirnya kami ngontel 10 km untuk pulang setiap hari. Lumayan olahraga.

Urusan makan juga gitu. Karena takut ga halal, saya putuskan Cuma makan telur rebus. Jadinya setiap sarapan saya makan 8 butir telur sekalian untuk makan siang dan makan malam. Waktu di kamar, tiba-tiba tercium bau telur.

“Sorry gw kentut ya Bay..”

Tentang Tulisan viral ke Tony Fernandez

Waktu itu facebook baru meluncurkan aplikasi untuk korporat bernama workplace. Ini semacam jaringan komunikasi internal. Dengan workplace, AirAsia ingin membuat komunikasi antar departemen lebih cair, dan interaksi antar allstars lebih hidup.

Nah, waktu sosialisasi, ada utusan dari KL yang buka booth. Kita dapat merchandise kalau install, register, dan upload foto profil pake foto yang keliatan mukanya. Ga boleh pake foto artis bokep atau hewan lagi selfie. Terus saya penasaran, “Kenapa harus pake profil picture?”

“Because Tony said so…”

What a stu**d reason. Karena prinsip saya: kita harus melakukan sesuatu karena hal itu baik bagi organisasi, bukan karena disuruh atasan.

Udah deh, saya bikin tulisan yang mengkritisi budaya “boss said” ini. Judulnya “Tony said” dan saya posting di Workplace. Langsung meledak. Bos saya yang lagi regional meeting di Bangkok harus menjelaskan “emang Yoga anaknya kaya gitu” ke team regional. Saya juga jadi berdebat ama Tony di workplace soal budaya ini.

Tapi banyak juga yang memuji. Commercial director China langsung merepost-nya dan memposting ke group manajemen. Director commercial regional langsung men-japri dan memberika assurance “you can talk to me directly”.

Saya jadi terkenal. Ada bule  regional yang tiba-tiba ngajak selfie waktu dia meeting di Jakarta.

“So this is famous Yoga!”. Yo wes, intinya saya ga jadi dipecat haha.

Tentang Baju ihram Untuk ke party

Terakhir cerita soal baju. Di AirAsia tak ada seragam (untuk back office), karena itu saya lebih memilih kaos dan celana jeans. Sebenarnya ada “dress code”. Senin warna putih, selasa batik, jumat merah, dll tapi saya ga pernah ngikutin hehe.

Bahkan saya pernah pakai baju gamis yang bikin kaget orang sekantor. Tapi yang bikin heboh saat annual party 2017 lalu. Seperti biasa, ada kontes berhadiah jutaan rupiah. Sempat terpikir untuk sewa kostum. Setelah menghitung probabilitas dan return on investment (membandingkan kemungkinan menang, sewa, dan hadiah), ternyata cukup masuk akal juga.

Masalahnya, kostum yang saya inginkan sudah out of stock semua (karena last minute). Terus kira-kira kostum apa ya yang unik?

Karena temanya Wonderland dan waktu itu saya sedang baca buku tentang Holy Land (Yerussalem), pagi-pagi kepikir: kenapa ga pake baju ihram aja ya? Toh ongkosnya nol karena sudah ada.

Jadilah ada penampakan manasik haji di salah tempat nongkrong di daerah SCBD. Siapa tau ada yang mau mabok jadi insyaf, yg mau zinah jadi tobat, dan yang mau makan jadi kenyang (ya kali). Alhamdulilahnya, saya terpilih jadi top 10 best costumer dan dapat duit beberapa juta! Yey, alhamdulilah.

(Ga usah pake gambar biar ga dikira melecehkan ya!)

*********

Yang paling bakal saya kangenin ya orang-orang keren didalamnya. Disini lingkungannya fun, terbuka, dan banyak orang pinter buat tempat belajar. Saya ga mungkin lupa saat abis kemalingan. Teman-teman langsung patungan untuk memberikan HP dan uang santunan. Makasih banyak ya guys!.

Mau gabung kesini? Yuk apply mumpung ada lowongan. Kalo kamu marketer gaul yang ngerti marketing strategy, digital, data analytic, punya leadership dan suka mbolang keliling dunia, coba aja daftar. Dijamin ga bakal nyesel hehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Merasa Bisa vs Bisa Merasa

 

Suatu hari saya bertemu abang gojek jagoan. Dia bercerita jika baru saja resign dari pekerjaan menjadi sales handphone salah satu pabrikan merek China.

“Ah udah 2 tahun gitu-gitu aja. Saya udah nguasai ilmunya. Sales ya gitu-gitu aja. Yang penting pinter ngomong”.

Wuih hebat banget nih abang. Cuma 2 tahun udah nguasain ilmu sales. Mungkinkah dia penerus Joe Girard si jagoan selles?

Kalo jago harusnya dia betah donk. Saat saya tanya, “Kenapa koq resign bang?”

“Bos saya bego. Bisanya nyuruh-nyuruh doank. Lebih jagoan saya klo urusan sepik-sepik ke customer”.

Setelah resign dia merasa Pe-De dengan kemampuan salesnya. Dia yakin mampu mendapat pekerjaan dengan mudah. Tapi setelah beberapa bulan, belum ada pekerjaan baru yang nyantol. Akhirnya sambil nunggu panggilan, dia milih nggojek.

Penyakit Milenial

Mungkin ini penyakit generasi milenial kebanyakan termasuk saya. Merasa bisa, dan tidak bisa merasa.

Baru jadi Management Trainee, udah merasa punya ilmu level direksi. Baru bikin marketing campaign selama 2-3 tahun, ngerasa udah menguasai marketing strategy. Baru belajar setup digital campaign 3 tahun, ngerasa mampu jadi digital strategist.

Padahal kunci keahlian ada pada pembelajaran. Dan pembelajaran ada pada kesabaran. Kesabaran mempelajari skill yang tersebar pada hal-hal kecil.

Kita ambil contoh koki atau chef. Bagi sebagian orang, chef adalah pekerjaan yang bisa dipelajari lewat kursus kilat atau otodidak dalam waktu beberapa bulan. Semua orang bisa memasak kan?

Tapi tidak bagi chef Sushi terkenal dunia, Ono Jiro. Chef yang menerima bintang 3 Michelin ini tidak menerima tamu walk in. Anda harus memesan tempat satu bulan sebelumnya dengan harga paket omakase mulai 30.000 yen (3,8 juta) per kepala!

Jika Anda ingin jadi chef apprentice disana, tugas pertama yang perlu dilakukan sangat sederhana: memeras handuk panas. Handuk itu yang akan disediakan kepada pengunjung sebagai lap sebelum makan.

Setelah mahir, Anda baru Anda diperbolehkan menyentuh ikan. Anda harus bersabar dan focus pada pekerjaan mencuci peralatan masak, mengasah pisau, dan memotong ikan.

Memasak nasi? Jangan harap bisa Anda lakukan setelah satu tahun. Setelah 10 tahun, Anda baru diperbolehkan memasak telur untuk disajikan. Tetapi setelah “lulus” dari sana, Anda akan punya kualitas seorang master chef dan akan mudah membuka restoran sendiri.

Beauty of Small Things

Jika ingin menjadi master ya harus bersabar mengerjakan pekerjaan remeh yang membosankan. Ini yang membbuat Jennifer Roberts, profesor sejarah seni dan arsitektur di Harvard meminta mahasiswanya untuk menatap karya seni selama 3 jam.

Awalnya mahasiswanya protes, apa gunanya melihat satu lukisan selama berjam-jam? Bukankah lukisan itu sudah sangat jelas? Tapi ternyata devils is on the detail. Banyak rahasia yang terungkap dari hal-hal kecil.

Jennifer mencontohkan apa yang ia lihat dari lukisan portrait John Copley, A Boy with a Flying Squirrel.

http://1.bp.blogspot.com/

“It took me nine minutes to notice that the shape of the boy’s ear precisely echoes that of the ruff along the squirrel’s belly. It was 21 minutes before I registered the fact that the fingers holding the chain exactly span the diameter of the water glass beneath them. It took a good 45 minutes before I realized that the seemingly random folds and wrinkles in the background curtain are actually perfect copies of the shapes of the boy’s ear and eye..”

Berhentilah merasa bisa. Belajarlah untuk bisa merasa.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Takdir

Baru beberapa minggu lalu saya memikirkan tentang takdir. Saya ingin menulis surat untuk Yoda mengenai topik misteri ini.

Sempat bertanya-tanya: Buku apa yang bisa dijadikan referensi ya? Terutama dari perspektif agama saya.

Sudah terlalu banyak bacaan saya yang mengupas takdir dari segi humanis positivis. Aliran ini percaya jika manusia bisa mengubah takdir mereka sendiri, tanpa perlu campur tangan ilahi.

Dan dua minggu lalu kebetulan saya ada market visit ke Brastagi. Biar hemat ongkos, saya coba naik angkutan umum. Sekalian merasakan jadi warga lokal.

Saat pulang, alhamdulillah semua bis selalu penuh. Sudah 30 menit saya melambaikan tangan. Mulai lambaian standard sampai lambaian mesra. Ga ada yang mau berhenti.

Cuma ada satu minibus rombongan sekolah dengan kernet kapitalis yang masih mau menciduk saya dengan satu syarat:

“Bang naik bang”

Naik kemana udah penuh gini?

“Naik ke atas lah” kata dia nunjuk atap minibus.

Karena penuh penumpang, yang kosong hanya “rooftop”. Itupun saya harus berbagi space pantat dengan penumpang lain.

Jangan harap ada kolam renang dengan mini bar untuk chill in. Ini bener-bener roof top open air stage tanpa asuransi atau perlindungan diri. Ya kali ada beruang bisa manjat ke atas genteng.

Akhirnya setelah nego, posisi dibalik. Kernet naik pangkat duduk di atap, dan saya ngelesot di pintu gantiin posisi kernet.

Setelah 2 jam numpang, saya diturunkan di persimpangan yang ga saya tahu namanya. Dari sini ke Medan kota naik apa bang?

Naik angkot bisa bang. Kata kernet yang berbakat jadi orang kaya ini.

Karena ga tau angkot yang mana, saya asal naik. Warna merah kalo ga salah. Pas saya tanya, katanya lewat lapangan Merdeka, daerah saya menginap. Wuih pas banget.

Setelah berjalan sekitar 30 menit, angkot melewati toko buku. Entah angin apa, tiba-tiba saya minta turun. Padahal tidak ada tanda-tanda nafsu pelecehan seksual atau rencana kejahatan yang akan dilakukan abang supir terhadap diriku.

Dan di toko buku itu, saya menemukan buku ini. Buku tentang Qadha dan Qadar karangan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah.

Secara probabilitas statistik, peluang saya menemukan buku yang sedang saya cari di tengah kota Medan harusnya sangat kecil sekali.

Apakah ini yang namanya takdir?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tetangga di Jakarta

“Yoga kemana aja? Koq ga pernah shubuhan di musholla?” Tanya tetangga saya, Haji Fakih saat berpapasan di pagi hari.

“Iya pulang malam terus Pak hehe”. Jawab saya ngeles.

Saya memang pulang kantor habis maghrib, biasanya baru meluncur setelah isya. Terima kasih atas macet dan jauhnya jarak, saya baru bisa masuk rumah sekitar jam 10 malam.

Bisa langsung tidur?

Jangan harap. Masih ada proyek pribadi yang harus dilakukan. Membaca, menulis, riset kecil-kecilan, dan yang paling penting: push rank mobile lejen haha.
Tapi pertanyaan Haji Fakih menyadarkan saya. Untuk apa menjadi manusia hebat jika sholat berjamaah aja masih sering telat?

Pertanyaan beliau adalah pertanyaan terbaik seorang manusia kepada sesamanya. Jauh lebih baik dari pertanyaan standar macam, “Sekarang kerja dimana? Omset usaha udah berapa? Kapan nikah?” Halah.

Saya beruntung punya tetangga seperti Haji Fakih. Karena tetangga yang baik adalah tetangga yang saling tolong menolong dalam kebaikan. Dan itu juga berarti mengingatkan jika kita melakukan kesalahan.

Dalam ajaran agama saya, tetangga adalah saudara terdekat kita. Bakan seorang muslim bisa termasuk dzalim jika ia bisa hidup kenyang sedangkan tetangganya masih kelaparan.

Seperti cerita dari Abdullah bin Mubarak. Ia bermimpi mendengar malaikat membicarakan seorang dari Damsyik yang amal hajinya telah diterima, padahal orang ini tidak berangkat ke Mekah. Kenapa? Karena ia menyumbangkan 300 dirham tabungan hajinya untuk tetangganya yang sedang kelaparan dan kesusahan.

Dan ga cuma Haji Fakih yang baik. Bu Haji Pucung sering membantu saya beres-beres rumah. Bahkan Bi Itun sering menyapukan halaman saya. Ketahuan ya saya males bersih-bersih. Mungkin karena itu banyak nyamuk di rumahku (lagu generasi kolonial, bukan milenial).
Saya jadi bersyukur tinggal di kampung di selatan jakarta. Meski hanya berjarak 500 meter dari mall Aeon dan apartemen Southgate yang sedang dibangun dengan penuh kemewahan, lingkungan saya penuh dengan kehangatan. Meski bangunan rumah kami penuh dengan kesederhanaan.

Ya Rabbi, berkatilah tetangga-tetangga kami, dan orang-orang yang sudah membaca tulisan ga penting ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Untuk Apa Manusia Hidup?

Dear Yoda di tahun 2035,

Jika kamu benar-benar membaca tulisan ini pada tahun 2035, berarti umurmu sudah 17 tahun. Semoga kamu masih hidup ya hehehe..

Umur 17 tahun berarti kamu akan memasuki masa pra-dewasa. Dan itu berarti secara kognitif kamu sudah bisa melakukan memprosesan informasi tingkat tinggi, atau melakukan analisa atas objek yang bersifat abstrak. Bahasa sederhananya: kamu sudah bisa mikir.

Tulisan ini diketik di atas pesawat XT 7688 jurusan Jakarta-Surabaya, 23 Maret 2018 disaat kamu genap berumur 6 bulan dan mulai makan MPASI (Makanan pengganti ASI). Sekarang tujuan hidupmu sama dengan 6 miliar manusia ketika bayi: bagaimana caranya bertahan hidup.

Karena itulah kamu tidak bisa menahan lapar dan menangis saat haus, takut saat ditinggal Ibumu yang merupakan sumber makanan, dan lebih memilih susu daripada cek senilai 10 juta dollar.

Tapi di tahun 2035, seharusnya kamu memiliki tujuan hidup yang lebih kompleks, transedental, dan personal. Apakah itu?

Jujur saja, saya tidak tahu.

Personal Purpose

Alasan saya mengajakmu mempertanyakan tujuan hidup sebenarnya sederhana: karena tidak semua manusia tahu tujuan hidupnya. Mereka tidak tahu apa yang mereka cari sebelum mati.

Dan ini sangat berbahaya.

Manusia yang tidak memiliki tujuan hidup seperti kapal laut dengan kapten yang tidak tahu akan berlayar kemana. Mereka akan diombang-ambingkan lautan, dan bisa terdampar ke daratan yang tidak mereka inginkan.

Mereka tidak pernah bertanya:

Kenapa kita dilahirkan di dunia?

Apa misi yang sedang kita jalani?

Warisan apa yang ingin kita tinggalkan?

Apa makna penciptaan manusia dan seluruh alam raya?

Meskipun setiap manusia, bisa memiliki tujuan hidup yang berbeda.

Jika kamu bertanya kepada ahli biologi, mereka akan menjawab jika tujuan hidup manusia adalah bertahan hidup dan mempertahankan kelangsungan spesies kita.

Jika kamu bertanya kepada ahli psikologi, mereka akan menjawab jika tujuan hidup manusia adalah menemukan aktualisasi diri kita.

Jika kamu bertanya kepada ahli agama, mereka akan menjawab jika tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mana yang benar? Yang pasti tujuan hidup manusia begitu kompleks dan bisa merupakan gabungan alasan diatas atau alasan lainnya.

Saya tidak akan memberikan kuliah panjang soal tujuan hidupmu. It’s your life. Go find it by yourself. Saat kamu membaca tulisan ini, belum tentu saya masih bernafas.

Saya hanya meminta, mulailah bertanya.

Pertanyakan Tuhanmu, negaramu, duniamu, pandangan hidupmu. Ciptakan badai dalam dirimu.

Mulailah menggali informasi. Dari buku, diskusi, video, pod cast, dan segala sumber inspirasi. Ciptakan kontradiksi.

Jangan 100% percaya dengan apa yang dikatakan orang lain kepadamu. Bacalah kitab suci agama lain, dengarkan argumen orang Atheist. Saya tidak ingin kamu beragama Islam hanya karena keluargamu beragama Islam.

Dan yang paling penting: mulai pikirkan tujuan hidupmu. Jika kamu bingung, coba bayangkan saat kamu nanti mati, dan Tuhan bertanya:

“Hey Yoda, ngapain aja lu selama di dunia?” atau jika kamu nanti tidak percaya Tuhan (nanti kita harus diskusi panjang tentang ini), cukup pikirkan apa yang orang lain kenang ketika mengingat namamu.

Yang jelas, seperti kutipan meme-meme bijak: Tujuan dari hidup adalah untuk hidup dengan tujuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Manfaat Skripsi yang Akhirnya Saya Ketahui

 

Saat kuliah, kita pasti pernah menulis skripsi. Dan hampir di setiap penelitian, ditulis dengan urutan yang seperti ini:

Bab 1: Rumusan masalah, hipotesa, dan metodologi

Bab 2: Landasan teori

Bab 3: Hasil penelitian

Bab 4: Simpulan dan saran

Jujur saja, saya ga ngerti kenapa harus mengikuti pakem seperti itu. Apa itu “rumusan masalah”? Masalah koq dicari-cari bukannya diselesaikan. Apa pula itu hipotesa? Ada berapa macam metodologi? Kenapa harus mengikuti metodologi yang pernah dilakukan orang lain di jurnal-jurnal ilmiah?

Dosen-dosen saya dulu tidak pernah menjelaskan apa manfaat pola pikir sistematis seperti itu (apa saya yang ga dengerin ya..). Dulu saya tahunya ya karena pakemnya udah gitu, tinggal ngikutin aja. Pokoknya udah shoheh dan ilmiah.

Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari? Ntar aja dipikiran, yang penting bisa bantu kamu lulus kuliah. Titik.

Ini menciptakan jarak antara dunia akademis dan dunia praktis. Ilmu hadir sebagai teori tinggi yang mengawang-ngawang tanpa perlu dipraktikkan dalam kehidupan yang kekinian.

Tapi dengan bertambahnya usia dan pengalaman, saya percaya jika pola pikir sistematis ala skripsi adalah kunci rahasia untuk menguasai dunia.

Big Why

Pendidikan zaman saya dulu adalah pendidikan model industrialis. Siswa dianggap sebagai tanah liat. Tugas lembaga pendidikan adalah membentuk tanah liat itu sesuai kebutuhan industri. Kalau pasar butuh vas, ya dibentuk vas. Kalau butuh kendi, ya dibentuk jadi kendi.

Karena itulah fakultas kedokteran akan mengajarkan ilmu medis, dan fakultas ekonomi akan ngajarin muridnya tentang bisnis. Ga akan ada ceritanya mahasiswa komunikasi diajarin ilmu nggendam, atau anak sastra disuruh kerja praktik jadi babi ngepet.

Masalahnya, proses pendidikan yang terjadi adalah transfer of knowledge, bukan proses search of knowledge. Bahasa gampangnya, selama saya kuliah, diskusi yang terjadi adalah membahasa “What”, dan tidak focus pada “Why”.

Saya dulu kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, jurusan manajemen. Semester pertama mata kuliah manajemen, saya dicekoki teori tentang manajemen modern, ilmu ekonomi, akuntansi pengantar, dan berbagai mata kuliah yang sudah saya lupakan.

Saya mayoritas belajar tentang “What”: Apa itu ekonomi makro, apa itu manajemen, apa itu akuntansi.

Hampir tidak ada dosen yang memantik rasa penasaran dan bertanya “Why”: Kenapa perusahaan bisa maju atau mundur? Kenapa ada negara kaya dan ada negara miskin? Kenapa saya gendut, jelek, dan miskin? Oh maap pemirsa, yang terakhir adalah curhatan pribadi.

Padahal proses penemuan selalu dimulai dengan pertanyaan, dan tak akan berakhir dalam sebuah jawaban.

Praktik

Kembali ke skripsi. Bab I selalu dimulai dengan “Big why” yang sebenarnya adalah inti dari rumusan masalah. Skripsi saya dulu tentang pengaruh pengaruh piala dunia terhadap turunnya harga saham. Big why-nya: Kenapa setiap ada piala dunia indeks harga saham Amerika terkoreksi? Apakah hal yang sama terjadi di Indonesia?

Jika sudah tau “Kenapa”, waktunya menemukan hipotesa. Kenapa perlu menciptakan hipotesa? Hipotesa sebenarnya dugaan awal kita, sebagai alasan terjadinya “Big Why”. Tanpa hipotesa, kita tak akan bisa masuk kedalam solusi permasalahan.

Sedangkan metodologi adalah teknik untuk membuktikan hipotesa. Seperti teknik pada umumnya, kita diberi kebebasan menggunakan metode yang pernah dipakai orang atau membuat sendiri. Khusus untuk level S1, penggunaan metodologi dari jurnal hanya untuk memudahkan mahasiswa dalam melakukan penelitian.

Masih bingung? Oke kita coba praktik. Misalnya Anda adalah direktur pemasaran. Sales terus turun. Apa yang Anda lakukan?

Seperti skripsi. Temukan “Big Why”. Identifikasi inti permasalahannya. Kenapa penjualan bisa turun? Lini produk mana yang turun? Saluran distribusi apa? Apakah pesaing juga mengalami hal yang sama?

Setelah itu ciptakan hipotesa, kenapa penjualan turun. Apakah karena pergerakan kompetitor? Apakah karena daya beli melemah? Apakah karena harga produk kita lebih mahal?

Jika hipotesa terkuat telah dipilih, waktunya untuk diuji. Misalnya hipotesa terkuat penyebab turunnya penjualan adalah daya beli melemah yang diikuti oleh penurunan harga oleh pesaing. Oke, berarti solusi instant-nya adalah menurunkan harga. Tapi apakah itu benar? Ya makanya perlu diuji.

Caranya? Coba bikin program diskon untuk periode yang terbatas. Jika dengan pengurangan harga, unit terjual kembali naik, berarti benar masalah ada pada harga. Tapi jika nggak ngefek? Berarti hipotesa kita salah dan harus mencari penyebab lainnya.

Inti dari penulisan skripsi bukan pada hasil penelitian itu sendiri. Tapi melatih manusia untuk mengembangkan rasa ingin tahu, berlatih membuktikan kebenaran dengan metode ilmiah, dan yang paling penting: menumbuhkan rasa haus mencari ilmu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mukhlis

Di kelas bahasa arab yang saya ikuti, ada soal tentang kata “mukhlis”. Isim fa’il (pelaku) yang berarti orang yang ikhlas. Apa makna ikhlas? Ikhlas berarti kemurnian hati. Seorang mukhlis hanya menemukan Tuhannya sebagai alasan semua amalannya.

Salah satu tanda keikhlasan adalah bisa menerima semua ketetapan Tuhan dengan senyuman. Contohnya jika rumah kita kebakaran. Orang yang ikhlas, kata Pak Ustadz, akan mampu menerima kenyataan dan tidak akan protes kepada Tuhan.

Urusan konslet hubungan pendek arus listrik, terbakar kena lilin, atau karena ledakan tabung LPG, itu cuma skenario teknis. Yang penting secara strategis ia sadar jika rumahnya adalah pemberian Tuhannya, dan sekarang sedang diminta oleh yang punya.

Seorang mukhlis tahu jika guru kehidupan itu bermacam-macam. Ada guru bernama kegembiraan, kenikmatan, dan kebahagiaan. Tapi ada juga guru berjudul kesedihan, kesakitan, dan kehilangan. Jika ingin belajar esensi kehidupan seutuhnya, kita harus belajar kepada semuanya.

Hanya menerima guru kesuksesan tanpa menerima guru kegagalan akan membuat kita terjerumus kesombongan. Hanya ingin bertemu guru kehidupan tanpa mengenal guru kematian membuat kita terbuai keduniawian.

Malam itu saya pulang dengan perasaan haru. Alhamdulilah bisa belajar sesuatu. Dan baru saja menerima teori kuliah kehidupan baru, keesokan harinya saya disuruh mempraktikkan ilmu ikhlas itu.

Ketika bangun, jam sudah menunjukkan jam 5 pagi. Alarm jam 3 pagi di hape tidak berbunyi sama sekali. Saya cari tidak ada. Demikian juga dengan laptop yang saya letakkan disamping. Raib tak berjejak. Saya bangun dan melihat pintu terbuka. Rupanya semalam saya lupa mengunci pintu dan ada orang yang bertamu.

Alhamdulilah. Berarti saya disuruh mempraktikkan ilmu ikhlas. Lupa mengunci pintu itu persoalan teknis, yang pasti secara strategis Tuhan mengambil harta yang ia titipkan, dan mengingatkan saya untuk lebih sering berbuat kebaikan.

Inilah tanda kasih sayang Tuhan. Pencuri pun ia berikan rezeki. Saya masih percaya si pencuri adalah orang baik yang hanya sedang butuh uang. Buktinya saya tidak mengalami cedera apa-apa.

Gara-gara kejadian itu saya tersadar, ternyata Tuhan telah memberikan harta yang sangat berharga: orang-orang baik disekitar saya.

Tetangga membantu saya meminjamkan handphone, uang, dan menyelidiki semua informasi. Sedangkan teman-teman kantor justru patungan memberikan sumbangan untuk membeli handphone dan mengganti laptop kantor yang hilang.

Saya cuma bisa bersyukur. Setidaknya ada dua asset terpenting yang belum hilang: iman dan harapan. Tanpa dua hal itu, hidup seorang milyuner tak ubahnya seorang pengemis: kosong dan hampa.

Saya juga masih belum bisa seikhlas orang bijak dalam cerita zen. Diceritakan seorang pertapa yang kemalingan. Pintunya tidak dikunci dan ketika bangun, ia melihat rumahnya berantakan. Ia lalu menangis keras dan membuat tetangganya datang. Mereka bertanya apakah ada barang yang hilang.

“Tidak ada yang hilang…” jawab si pertapa

Lalu kenapa kau menangis? Tanya si tetangga.

“Aku bersedih karena tidak punya barang apa-apa untuk diberikan kepada pencuri. Padahal jika ia membangunkanku, akan kuambilkan bulan di langit untuknya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Wish list vs Action list

Tahun baru membuat timeline saya dipenuhi dengan “resolusi baru”. Standar postingan masyarakat urban: pergantian tahun wajib hukumnya nulis refleksi dan penetapan target yang ingin dicapai.

Tapi saya melihat ada dua jenis orang di lini masa saya. Mereka yang menetapkan keinginan hidupnya sebagai target, dan orang yang menuliskan tindakan sebagai resolusi tahun barunya. Wish list versus action list.

Orang dengan wish list akan menuliskan IMPIAN yang ingin diwujudkan. Bisa berarti tempat yang ingin didatangi, pendidikan yang ingin diselesaikan, pendapatan yang ingin didapat, asset yang ingin dikuasai, dan masih banyak lagi.

Berbeda dengan tipe kedua, orang dengan action list akan menulis TINDAKAN yang akan dia lakukan selama 2018. Mereka sudah tidak menulis what to achieve, tapi juga how to achieve. Ini bisa berarti kebiasaan-kebiasaan baru yang ingin dilakukan, pengetahuan baru yang ingin dipelajari, dan deretan aksi yang harus terjadi.

Kira-kira golongan mana yang akan lebih berhasil mencapai target yang telah ditetapkan?

Riset dari British Journal of Psychology mungkin bisa memberikan sedikit petunjuk. Mereka melakukan percobaan tentang kebiasaan berolahraga selama 2 minggu. Dengan sample 248 orang dewasa yang dibagi ke dalam 3 grup.

Grup #1 control group. Mereka diminta untuk mencatat seberapa sering mereka berolahraga dalam 2 minggu kedepan.

Grup #2 motivation group. Selain diminta mencatat frekuensi olahraga dalam 2 minggu kedepan, mereka diminta membaca selebaran tentang pentingnya berolahraga bagi kesehatan.

Grup #3 intention group. Diminta mencatat frekuensi olahraga selama 2 minggu, juga menerima selebaran tentang manfaat olahraga, dan diminta untuk menuliskan KAPAN dan DIMANA mereka akan berolahraga.

Hasilnya? Group 3 mencatatkan skor luar biasa. Sekitar 91% melakukan olahraga sekali seminggu dan jauh lebih tinggi dari group 1 (38%), dan group 2 (35%).

Lesson learned? Complete your goal with complete plan. More details are better. We have to know HOW to do it, WHO will do it, WHERE it will happen, and WHEN it should be done.

Bagi yang sudah punya wish list, saatnya bikin action list. Kalau sudah punya action list, waktunya bikin timeline.

Kalau sudah punya timeline? Ya waktunya ACTION. #bikinjadinyata

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail