Category Archives: Curhat

Cuap-cuap tentang segala yang ada di kepala

Manfaat Skripsi yang Akhirnya Saya Ketahui

 

Saat kuliah, kita pasti pernah menulis skripsi. Dan hampir di setiap penelitian, ditulis dengan urutan yang seperti ini:

Bab 1: Rumusan masalah, hipotesa, dan metodologi

Bab 2: Landasan teori

Bab 3: Hasil penelitian

Bab 4: Simpulan dan saran

Jujur saja, saya ga ngerti kenapa harus mengikuti pakem seperti itu. Apa itu “rumusan masalah”? Masalah koq dicari-cari bukannya diselesaikan. Apa pula itu hipotesa? Ada berapa macam metodologi? Kenapa harus mengikuti metodologi yang pernah dilakukan orang lain di jurnal-jurnal ilmiah?

Dosen-dosen saya dulu tidak pernah menjelaskan apa manfaat pola pikir sistematis seperti itu (apa saya yang ga dengerin ya..). Dulu saya tahunya ya karena pakemnya udah gitu, tinggal ngikutin aja. Pokoknya udah shoheh dan ilmiah.

Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari? Ntar aja dipikiran, yang penting bisa bantu kamu lulus kuliah. Titik.

Ini menciptakan jarak antara dunia akademis dan dunia praktis. Ilmu hadir sebagai teori tinggi yang mengawang-ngawang tanpa perlu dipraktikkan dalam kehidupan yang kekinian.

Tapi dengan bertambahnya usia dan pengalaman, saya percaya jika pola pikir sistematis ala skripsi adalah kunci rahasia untuk menguasai dunia.

Big Why

Pendidikan zaman saya dulu adalah pendidikan model industrialis. Siswa dianggap sebagai tanah liat. Tugas lembaga pendidikan adalah membentuk tanah liat itu sesuai kebutuhan industri. Kalau pasar butuh vas, ya dibentuk vas. Kalau butuh kendi, ya dibentuk jadi kendi.

Karena itulah fakultas kedokteran akan mengajarkan ilmu medis, dan fakultas ekonomi akan ngajarin muridnya tentang bisnis. Ga akan ada ceritanya mahasiswa komunikasi diajarin ilmu nggendam, atau anak sastra disuruh kerja praktik jadi babi ngepet.

Masalahnya, proses pendidikan yang terjadi adalah transfer of knowledge, bukan proses search of knowledge. Bahasa gampangnya, selama saya kuliah, diskusi yang terjadi adalah membahasa “What”, dan tidak focus pada “Why”.

Saya dulu kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, jurusan manajemen. Semester pertama mata kuliah manajemen, saya dicekoki teori tentang manajemen modern, ilmu ekonomi, akuntansi pengantar, dan berbagai mata kuliah yang sudah saya lupakan.

Saya mayoritas belajar tentang “What”: Apa itu ekonomi makro, apa itu manajemen, apa itu akuntansi.

Hampir tidak ada dosen yang memantik rasa penasaran dan bertanya “Why”: Kenapa perusahaan bisa maju atau mundur? Kenapa ada negara kaya dan ada negara miskin? Kenapa saya gendut, jelek, dan miskin? Oh maap pemirsa, yang terakhir adalah curhatan pribadi.

Padahal proses penemuan selalu dimulai dengan pertanyaan, dan tak akan berakhir dalam sebuah jawaban.

Praktik

Kembali ke skripsi. Bab I selalu dimulai dengan “Big why” yang sebenarnya adalah inti dari rumusan masalah. Skripsi saya dulu tentang pengaruh pengaruh piala dunia terhadap turunnya harga saham. Big why-nya: Kenapa setiap ada piala dunia indeks harga saham Amerika terkoreksi? Apakah hal yang sama terjadi di Indonesia?

Jika sudah tau “Kenapa”, waktunya menemukan hipotesa. Kenapa perlu menciptakan hipotesa? Hipotesa sebenarnya dugaan awal kita, sebagai alasan terjadinya “Big Why”. Tanpa hipotesa, kita tak akan bisa masuk kedalam solusi permasalahan.

Sedangkan metodologi adalah teknik untuk membuktikan hipotesa. Seperti teknik pada umumnya, kita diberi kebebasan menggunakan metode yang pernah dipakai orang atau membuat sendiri. Khusus untuk level S1, penggunaan metodologi dari jurnal hanya untuk memudahkan mahasiswa dalam melakukan penelitian.

Masih bingung? Oke kita coba praktik. Misalnya Anda adalah direktur pemasaran. Sales terus turun. Apa yang Anda lakukan?

Seperti skripsi. Temukan “Big Why”. Identifikasi inti permasalahannya. Kenapa penjualan bisa turun? Lini produk mana yang turun? Saluran distribusi apa? Apakah pesaing juga mengalami hal yang sama?

Setelah itu ciptakan hipotesa, kenapa penjualan turun. Apakah karena pergerakan kompetitor? Apakah karena daya beli melemah? Apakah karena harga produk kita lebih mahal?

Jika hipotesa terkuat telah dipilih, waktunya untuk diuji. Misalnya hipotesa terkuat penyebab turunnya penjualan adalah daya beli melemah yang diikuti oleh penurunan harga oleh pesaing. Oke, berarti solusi instant-nya adalah menurunkan harga. Tapi apakah itu benar? Ya makanya perlu diuji.

Caranya? Coba bikin program diskon untuk periode yang terbatas. Jika dengan pengurangan harga, unit terjual kembali naik, berarti benar masalah ada pada harga. Tapi jika nggak ngefek? Berarti hipotesa kita salah dan harus mencari penyebab lainnya.

Inti dari penulisan skripsi bukan pada hasil penelitian itu sendiri. Tapi melatih manusia untuk mengembangkan rasa ingin tahu, berlatih membuktikan kebenaran dengan metode ilmiah, dan yang paling penting: menumbuhkan rasa haus mencari ilmu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mukhlis

Di kelas bahasa arab yang saya ikuti, ada soal tentang kata “mukhlis”. Isim fa’il (pelaku) yang berarti orang yang ikhlas. Apa makna ikhlas? Ikhlas berarti kemurnian hati. Seorang mukhlis hanya menemukan Tuhannya sebagai alasan semua amalannya.

Salah satu tanda keikhlasan adalah bisa menerima semua ketetapan Tuhan dengan senyuman. Contohnya jika rumah kita kebakaran. Orang yang ikhlas, kata Pak Ustadz, akan mampu menerima kenyataan dan tidak akan protes kepada Tuhan.

Urusan konslet hubungan pendek arus listrik, terbakar kena lilin, atau karena ledakan tabung LPG, itu cuma skenario teknis. Yang penting secara strategis ia sadar jika rumahnya adalah pemberian Tuhannya, dan sekarang sedang diminta oleh yang punya.

Seorang mukhlis tahu jika guru kehidupan itu bermacam-macam. Ada guru bernama kegembiraan, kenikmatan, dan kebahagiaan. Tapi ada juga guru berjudul kesedihan, kesakitan, dan kehilangan. Jika ingin belajar esensi kehidupan seutuhnya, kita harus belajar kepada semuanya.

Hanya menerima guru kesuksesan tanpa menerima guru kegagalan akan membuat kita terjerumus kesombongan. Hanya ingin bertemu guru kehidupan tanpa mengenal guru kematian membuat kita terbuai keduniawian.

Malam itu saya pulang dengan perasaan haru. Alhamdulilah bisa belajar sesuatu. Dan baru saja menerima teori kuliah kehidupan baru, keesokan harinya saya disuruh mempraktikkan ilmu ikhlas itu.

Ketika bangun, jam sudah menunjukkan jam 5 pagi. Alarm jam 3 pagi di hape tidak berbunyi sama sekali. Saya cari tidak ada. Demikian juga dengan laptop yang saya letakkan disamping. Raib tak berjejak. Saya bangun dan melihat pintu terbuka. Rupanya semalam saya lupa mengunci pintu dan ada orang yang bertamu.

Alhamdulilah. Berarti saya disuruh mempraktikkan ilmu ikhlas. Lupa mengunci pintu itu persoalan teknis, yang pasti secara strategis Tuhan mengambil harta yang ia titipkan, dan mengingatkan saya untuk lebih sering berbuat kebaikan.

Inilah tanda kasih sayang Tuhan. Pencuri pun ia berikan rezeki. Saya masih percaya si pencuri adalah orang baik yang hanya sedang butuh uang. Buktinya saya tidak mengalami cedera apa-apa.

Gara-gara kejadian itu saya tersadar, ternyata Tuhan telah memberikan harta yang sangat berharga: orang-orang baik disekitar saya.

Tetangga membantu saya meminjamkan handphone, uang, dan menyelidiki semua informasi. Sedangkan teman-teman kantor justru patungan memberikan sumbangan untuk membeli handphone dan mengganti laptop kantor yang hilang.

Saya cuma bisa bersyukur. Setidaknya ada dua asset terpenting yang belum hilang: iman dan harapan. Tanpa dua hal itu, hidup seorang milyuner tak ubahnya seorang pengemis: kosong dan hampa.

Saya juga masih belum bisa seikhlas orang bijak dalam cerita zen. Diceritakan seorang pertapa yang kemalingan. Pintunya tidak dikunci dan ketika bangun, ia melihat rumahnya berantakan. Ia lalu menangis keras dan membuat tetangganya datang. Mereka bertanya apakah ada barang yang hilang.

“Tidak ada yang hilang…” jawab si pertapa

Lalu kenapa kau menangis? Tanya si tetangga.

“Aku bersedih karena tidak punya barang apa-apa untuk diberikan kepada pencuri. Padahal jika ia membangunkanku, akan kuambilkan bulan di langit untuknya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Wish list vs Action list

Tahun baru membuat timeline saya dipenuhi dengan “resolusi baru”. Standar postingan masyarakat urban: pergantian tahun wajib hukumnya nulis refleksi dan penetapan target yang ingin dicapai.

Tapi saya melihat ada dua jenis orang di lini masa saya. Mereka yang menetapkan keinginan hidupnya sebagai target, dan orang yang menuliskan tindakan sebagai resolusi tahun barunya. Wish list versus action list.

Orang dengan wish list akan menuliskan IMPIAN yang ingin diwujudkan. Bisa berarti tempat yang ingin didatangi, pendidikan yang ingin diselesaikan, pendapatan yang ingin didapat, asset yang ingin dikuasai, dan masih banyak lagi.

Berbeda dengan tipe kedua, orang dengan action list akan menulis TINDAKAN yang akan dia lakukan selama 2018. Mereka sudah tidak menulis what to achieve, tapi juga how to achieve. Ini bisa berarti kebiasaan-kebiasaan baru yang ingin dilakukan, pengetahuan baru yang ingin dipelajari, dan deretan aksi yang harus terjadi.

Kira-kira golongan mana yang akan lebih berhasil mencapai target yang telah ditetapkan?

Riset dari British Journal of Psychology mungkin bisa memberikan sedikit petunjuk. Mereka melakukan percobaan tentang kebiasaan berolahraga selama 2 minggu. Dengan sample 248 orang dewasa yang dibagi ke dalam 3 grup.

Grup #1 control group. Mereka diminta untuk mencatat seberapa sering mereka berolahraga dalam 2 minggu kedepan.

Grup #2 motivation group. Selain diminta mencatat frekuensi olahraga dalam 2 minggu kedepan, mereka diminta membaca selebaran tentang pentingnya berolahraga bagi kesehatan.

Grup #3 intention group. Diminta mencatat frekuensi olahraga selama 2 minggu, juga menerima selebaran tentang manfaat olahraga, dan diminta untuk menuliskan KAPAN dan DIMANA mereka akan berolahraga.

Hasilnya? Group 3 mencatatkan skor luar biasa. Sekitar 91% melakukan olahraga sekali seminggu dan jauh lebih tinggi dari group 1 (38%), dan group 2 (35%).

Lesson learned? Complete your goal with complete plan. More details are better. We have to know HOW to do it, WHO will do it, WHERE it will happen, and WHEN it should be done.

Bagi yang sudah punya wish list, saatnya bikin action list. Kalau sudah punya action list, waktunya bikin timeline.

Kalau sudah punya timeline? Ya waktunya ACTION. #bikinjadinyata

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Remote Parenting: Parenting Zaman Now?

 

Sudah 2 bulan ini saya jadi anggota PJKA. Sebutan untuk orang yang kerja di kota A, tapi punya keluarga yang menanti di kota B. Disebut PJKA karena punya traveling habit yang khas: Pulang Jumat Kembali Ahad.

Sebenarnya banyak teman-teman yang melakukan hal yang serupa. Di kantor saya banyak yang berasal dari Negara tetangga dan mereka pasti pulang kampung ketika weekend tiba. Tapi rata-rata tidak memiliki anak bayi yang harus diawasi.

Dua bulan ini saya jadi weekend frequent flyer rute Jakarta – Yogyakarta. Setahun lagi BIG membership saya sepertinya bukan lagi platinum, tapi akan mencapai level uranium hehehe. Karena kebetulan Pipi Kentang pingin tinggal di Jogja, sedang saya masih jadi primata Ibukota.

Kenapa milih Jogja? Karena kalo Amerika susah dapat green card, dan kalo Jerman belum dapat visa pengungsi hihi. Sebenarnya Yogyakarta dipilih karena lebih manusiawi, dan yang pasti living cost yang lebih terjangkau di hati. Memang benar jika Jogja berhati mantan.

Ini membuat pertemuan saya dengan Yoda hanya kurang lebih 45 jam seminggu. Waktu yang terbilang singkat untuk membangun bonding dengan si bocah. Apalagi perkembangan bayi sangat cepat. Saya khawatir jika minggu ini dia baru bisa ngomong “uu.. uuhhh” dan tau-tau minggu depan dia sudah bisa ngucapin ayat kursi. Kan saya yang kebakar.

Remote Parenting

Jujur saja saya kurang paham dengan efek remote parenting seperti ini. Hampir semua buku-buku parenting yang saya baca (baru juga baca 1-2 buku hehe) kurang membahas masalah remote parenting: menjadi orang tua jarak jauh.

Apakah saya masih bisa menjalankan role model sebagai Bapak dan tidak Cuma menitipkan sperma untuk membuahi sel telur? Apakah saya bisa mengajarkan “pelajaran hidup” (aduh bahasanya..) kepada Yoda meski jarang bertemu? Apakah Yoda nanti tidak akan memanggil saya Oom?

Saya pernah membaca buku klasik Ken Blanchard yang terbit tahun 1980: The One Minute Manager. Ide yang ditawarkan sungguh menarik: Anda tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu mensupervisi anak buah. Pertemuan-pertemuan singkat yang efektif jauh lebih bermanfaat daripada meeting berjam-jam yang ga jelas.

Dalam bisnis, Anda bisa melakukan remote management: bebas mbolang kemana saja dan tinggal meminta report dari jauh sambil sekali-sekali ditengok. Apalagi zaman sudah canggih. Misalnya Anda lagi ngupil di Brazil dan pingin tau sales di Singapura, cukup akses dashboard lewat handphone dan sudah ketahuan hasilnya.

Masalahnya, anak bukan perusahaan. Tidak ada dashboard untuk memonitor perkembangan psikologis mereka. Mengandalkan metrics fisik untuk mengukur kebahagiaan juga bisa bias, tambah tinggi badannya belum tentu tambah bahagia hidupnya. Apalagi perkembangan spiritual. Gimana cara remote tracking-nya coba?

Yang bisa saya lakukan sekarang adalah memaksimalkan semua pertemuan yang ada. Setiap ketemu pasti saya puas-puasin cium pipinya sampe tembem hehehe. Tak ketinggalan juga menulis beberapa pertanyaan hidup yang mungkin akan ditanyakan Yoda suatu hari nanti. Sambil berpikir plan B untuk berganti karier yang lebih memberikan kebebasan finansial dan juga family time berkualitas. Doain ya! Hahaha.

Oh ya, ada cerita atau saran dari Papa-papa PJKA lainnya?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tentang Nama dan Nafsu Orang Tua

Siapa nama anak saya?

Awalnya sempat terpikir untuk memberi nama yang menggema: Muhammad Yesus Gautama. Gabungan tiga manusia pilihan yang membawa pencerahan bagi kemanusiaan.

Tapi nama diatas terlalu kontroversial. Jangan-jangan nanti dicekal waktu mau jadi gubernur. Dianggap pelecehan terhadap agama tertentu. Bisa-bisa ada aksi demo besar-besaran 234 atau 222 untuk menggulingkannya.

Oke kita coret.

Karena nama itu “brand” yang melekat seumur hidup, ia harus unik. Dan celakanya hampir semua nama orang Indonesia berasal dari kata benda. Bagaimana kalau kita cari nama yang berasal dari kata kerja? Nama yang merupakan salah satu misi hidup manusia:

Mencari Kedamaian Bahagia.

Tapi koq kurang cool dan gak sekeren nama-nama anak zaman sekarang? Disaat teman-temannya dipanggil Alexis, Dafa, atau Layla, masa dia akan dipanggil Men? Trus kalo dia dicari orang, masa orang yang nyari harus bilang: “Saya mencari Mencari”. RIP geramer >.<

Nama dan Harapan

Kenapa nama bisa sangat penting?

Karena nama adalah panggilan yang melekat sepanjang hidup anak kita. Karena itu dalam islam, nama harus berarti baik. Karena nama adalah doa, maka banyak orang tua memberi nama orang yang menjadi panutan.

Di Inggris, nama laki-laki paling popular menurut Guardian bukanlah Charles, James, atau John. Tapi justru Muhammad. Setidaknya itu menurut laporan tahun 2014 lalu. Karena hampir semua muslim menamai anak mereka dengan Muhammad, Mohammed, atau Mohammad. Diseluruh dunia, diperkirakan ada 150 juta orang yang memiliki nama sesuai rasul kita.

Di kampus saya, pernah ada mahasiswa dengan nama “Thomas Edison”. Mungkin ortunya pingin punya anak secerdas penemu lampu pijar. Alhamdulilah terbukti si bocah bisa kuliah kedokteran sambil menang berbagai lomba olimpiade sains.

Ada juga yang nekat memberi nama anaknya barang-barang yang disukai. Netizen pernah dihebohkan dengan orang tua yang memberi nama anaknya “Pajero Sport”. Karena si ayah sangat nge-fans dan merasa tidak sanggup membeli mobil SUV keluaran Mitsubishi itu.

Masalahnya, nama anak bersifat top down dari orang tua, berisi harapan yang diinginkan Ibu Bapaknya.  Tapi jujur saja, belum tentu si anak setuju dengan harapan ortunya. Ada kasus dimana seorang aktivis memberi nama anaknya “Gempur Soeharto”. Nah setelah zaman Soeharto lengser, si anak yang protes akhirnya mengajukan perubahan nama ke pengadilan.

Idealnya si anak harus bisa menentukan sendiri namanya. Ia akan memberi nama sesuai 4P:

Purpose : Untuk apa ia diciptakan

Potential value : Kelebihan apa yang dimiliki

Positioning : Apa yang orang lain ingat

Philosophy: Cerita tentang makna sebuah nama

Hampir seperti artis yang menciptakan nama panggung mereka sendiri, mereka bisa menentukan identitas sesuai panggilan hati dan kompetensi inti.

Sayangnya kita tidak bisa menunggu sang anak untuk berusia 17 tahun sebelum memutuskan nama untuk mereka sendiri. Menggunakan panggilan “hei”, atau “wahai anakku” juga kurang praktis untuk kegiatan sehari-hari.

Nama Gabungan

Kembali ke anak saya. Setelah bertapa, melakukan riset, berpikir, memlilah, memilih, bermeditasi, melakukan analisa, belajar semiotika, hermeunetika, dan berdiskusi, akhirnya kami memilih sebuah nama.

Yoda. Gabungan nama saya dan Pipi Kentang. Juga berarti nama master Jedi favorit saya dalam Star Wars. Salah satu Jedi yang paling bijak dan kuat, guru dari Anakin dan Luke Skywalker.

Askha. Gabungan nama simbah Pipi Kentang. Tapi setelah saya googling, nama Askha adalah merk kripik pisang di Lampung (jeng jeng jeng jeng). Ya semoga nanti bisa ketularan jadi pengusaha sukses.

Samsu. Karena relasi hubungan kami sama-sama suka, jadinya Samsu deh. Bercanda. Itu titipan nama keluarga dari Ibu saya hehe.

Namanya:

Yoda Askha Samsu. Disingkat YAS. Karena Yes sudah terlalu mainstream.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cerita Sederhana Tentang Laki-laki Tua yang Meninggalkan Ibu Saya

Kemarin Bapak pulang. 1 Agustus 2017, jam 6.30 malam.

Bapak pulang setelah menuntaskan tugasnya selama 71 tahun: menjadi makhluk Tuhan yang baik.

Saya percaya Bapak pulang tidak dengan tangan hampa. Ada sayap-sayap kebaikan yang menemaninya.

“Bapak seneng banget ngelihat petani binaan Bapak sudah sukses”. Saat itu ia bercerita ketika pulang nostalgia dari Sulawesi Selatan.

Keluarga kami memang pernah menetap belasan tahun disana. Saat Bapak jadi kepala dinas perkebunan. Usaha Bapak keluar masuk hutan membuahkan hasil.

Sekarang mantan staff-nya ada yang jadi Bupati, petani binaannya yang dulu miskin kini punya mobil bagus, daerah yang dulunya terbelakang, kini maju agri business-nya.

Saya masih ingat saat solo traveling ke daerah itu waktu masih mahasiswa. Orang2 sangat menghormati nama Bapak. Saat saya pulang, mereka berebut memberikan sangu dan oleh-oleh.

Pelajaran yang saya terima: kita akan bahagia saat membuat orang lain bahagia.

Warisan Kenangan

Bagian tersedih dari kehilangan orang yang kita cintai adalah saat kenangan indah bersamanya masih melekat di hati.

Otak kita seperti memutar film klasik, dimana kita hanya bisa menonton tanpa pernah bisa menginterupsi.

Saya masih bisa Continue reading Cerita Sederhana Tentang Laki-laki Tua yang Meninggalkan Ibu Saya

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Be Aware of “Event Bait” from Lazada!

 

In digital world, there is word called “click bait”. It’s a term where someone uses interesting fake image or hyperbolic title just to allure people to click. For example: using sexy girl image in video containing grave punishment (siksa kubur). Kaskus give it cool nickname: jebakan betman, Batman trap.

My own experience is more than click bait. It’s even worse: event bait. It was started when I saw an event in Eventbrite platform: Lazada Marketing Solution launch. Since I’m looking for alternative advertising platform beside of Google and Facebook, I keen to join the event.

So I signed up and received confirmation from Eventbrite. I also received reminder one day before event. Everything is normal and I can’t smell something fishy.

Event Bait

On the event day, since the invitation is 12:00 AM I arrived around 12:05 AM. I was fasting (it was Thursday) and didn’t think to get some “free lunch”. I just want to register, sholat, and join the party to fulfill my curiosity.

I was shocked when I was rejected in the registration booth! Continue reading Be Aware of “Event Bait” from Lazada!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mengapa Saya Adalah Pria Paling Beruntung di Dunia?

Faktanya: saya gendut, bego, jelek, dan tidak kaya.

Memiliki berat 95 kg dengan lingkar perut hampir 110 cm membuat badan saya mirip Hulk yang obesitas. Saya lebih mirip tokoh di serial Dragon Ball. Tentu bukan Son Goku atau Bezita, tapi lebih condong Majin Buu waktu belum berubah jadi versi langsing.

Muka saya juga sekilas ga mirip artis. Meski dari jauh kaya Brad Pitt, dari dekat malah jadi sandal jepit. Dari kejauhan mirip Alejandro, begitu disamperin: Muka koq bisa gitu ya ndro?.

Saya juga bukan orang pinter. Kuliah 7 tahun dan hampir kena DO dengan IPK yang perlu diinfus dan diberi nafas buatan untuk bisa lepas dari isu SARIP para HRD: Suku, Agama, Ras, dan IP. Pernah rekor memiliki IPK Nol dalam satu semester dengan 6 nilai F, dan pernah mendapat nilai E hanya karena membuat tugas akhir Ilmu PEREK-onomian dalam bentuk cerita pendek yang penuh fantasi. Saya juga pernah 3x mengulang Ekonometri dengan 3 nilai berbeda: E, D, dan C. Klo nilainya B, C, A saya pasti sudah punya bank.

Apakah saya kaya? Boro-boro. Kerja masih ikut orang. Bisa makan setiap hari saja sudah sujud syukur alhamdulilah. Disaat orang lain gonta-ganti kendaraan, saya kemana-mana gonta-ganti jalur komuter line. Saya tidak punya kendaraan bermotor sama sekali (bahkan sepeda motor). Gadget? Laptop hasil pinjeman kantor. Tabungan di Bank? hanya bisa untuk hidup bulan ini.

Sempat terbersit pikiran jujur: Apakah nanti ada perempuan yang khilaf dan mau kawin dengan saya? Apa ada yang mau hidup dengan lelaki kerdus (kere dan mbladus) kaya saya?

Secara statistik, peluang saya mendapatkan jodoh cantik hanyalah 0,0002% dengan asumsi hanya ada 1% (sekitar 500rb) wanita cantik yang bisa dinikahi dari seluruh wanita usia produktif di negeri ini.

Tapi saya beruntung karena ada bidadari yang mau menerima pinangan saya! Setelah ditolak berkali-kali! Saya beruntung karena punya istri cantik dan seksi! Tuhan memang Maha Adil. Ia tahu manusia bisa punah jika orang jelek kaya saya tidak bisa berkembang biak. Masa kawin ama tissue dan sabun?

Namanya Pipi Kentang. Saya sudah cerita banyak tentang dia. Tapi saya belum cerita kenapa dia mau menerima saya.

“Kamu itu kaya kecoak. Diinjek berkali-kali ga mati-mati”.

Rupanya dia nyerah karena saya begitu gigih memperjuangkan cintanya. Berulang kali dicuekin, diboongin, dimanfaatin, didiemin, eh masih aja coba ndeketin hehehe.

Pelajaran buat pejuang cinta: kata “Tidak” bukan berarti menolak. Coba terus sampai kamar bersalin memisahkan cinta Anda. Karena undangan yang disebar dan janur kuning yang berkibar masih bisa dikudeta dengan sangar. Hehehe tolong jangan ditiru ya.

Yang bikin saya lebih beruntung adalah, hari ini Pipi Kentang berulang tahun!

Itu berarti kesempatan untuk minta traktir sushi gratisan dan bisa sedikit melepaskan diri dari menu warteg yang itu-itu lagi. Ini juga berarti Pipi Kentang akan bertambah dewasa, dan harapan untuk bisa menua bersamanya akan menjadi semakin nyata.

Apa hadiah ulang tahunnya? ZE1YVI. Kode booking sederhana yang saya bayar kemarin sore.

Dulu saya berjanji membawanya ke tiga kota di dunia: Mekah, Praha, dan Tokyo. Insya Allah kami akan berkunjung ke negeri Sakura, untuk membuat Pipi Kentang menjadi wanita paling bahagia di dunia dan di luar angkas

Ultah 29 Oct
Ultah 29 Oct

a.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jika Semuanya ada di Internet, Apakah kita Masih Perlu Buku?

Kemarin saya berkunjung ke Big Bad Wolf Surabaya. Itu lho, pameran buku-buku impor yang sebelumnya digelar di ICE BSD. Waktu di Jakarta, karena masalah jarak dan waktu yang memisahkan kita, saya males datang kesana. Pas pulang ke rumah ortu kali ini lha koq pas ada.

posternya
posternya

Saya datang bersama teman, si Dimas. Acaranya sendiri diadakan di Jatim Expo Center, gedung serba guna di deket Graha Pena Surabaya. Ketika saya datang Sabtu sore, suasana sudah rame. Banyak orang nenteng kantong belanjaan gede-gede penuh dengan buku.

Tapi kan sekarang abad digital, apa masih relevan membaca buku?

Anjuran ‘bacalah’ sudah ga laku dan kurang gaul. Ngapain harus cari buku (atau ebook), buka-buka halaman sambil melototin huruf kecil2 yang bikin pusing? Udah lama, ribet, eh belum tentu nemu jawabannya :D.

Mencari informasi di halaman web (entah website, blog, social media, forum dll) terbukti mampu memberikan informasi yang kita inginkan dalam hitungan detik. Sebutannya sudah ‘flash’ dan bukan lagi instant. Karena instant butuh waktu 3 menit dan 200 ml air panas. Oh klo itu memang mie instant.

Apa yang salah dengan mencari informasi lewat browsing? Toh internet sudah menjadi perpustakaan dunia yang merekam segala informasi yang ada. Pingin tahu jarak bumi ke matahari? Tinggal browsing. Pingin tahu nama latin kodok? Tinggal ketik di google. Pingin tahu judul bokep di videotron tempo hari? Ga perlu tanya tetangga. Cukup ketik keyword yang sesuai.

Terus apanya yang salah donk? Sejujurnya ga ada yang salah. Yang salah sih yang ngeracun si Mirna. Lah koq ngomongin sidang kopi.

Gathering information through browsing are great, tapi jika tidak berhati-hati setidaknya ada tiga bahaya yang mengancam para “flash information seeker” (mereka yang ingin dapat informasi dalam sekejap). Tiga advantage yang menurut saya hanya didapat lewat “deep reading” melalui buku/ebook dan membuatnya tak tergantikan oleh website.

#1 Web give you faster information, a good book give you robust information.

It is debatable. Tapi Hoax menyebar begitu cepat lewat web daripada lewat buku. Mengapa? Karena tidak ada filter informasi. Besok saya bisa menulis teori tentang cara diet menurunkan berat badan menggunakan lemak ayam lewat blog saya. Tak ada yang me-recheck apakah informasi yang saya tulis benar atau salah. Filter hanya ada di pembaca yang mempertanyakan: ini masuk akal ga?

Berbeda dengan buku. Untuk menulis sebuah buku seorang penulis harus melewati berbagai filter. Mulai dari penyunting naskah, editor, hingga penerbit yang mempertaruhkan kredibilitasnya. Konsekuensinya? Validitas bisa lebih dipertanggungjawabkan. Tapi kita juga harus hati-hati, ada penerbit abal2 yang sengaja menerbitkan buku demi mengejar keuntungan lewat sensasi.

#2 Web only surfing the surface, a good book give us deeper understanding

Ketika mencari informasi via web baik itu lewat website atau blog, penulis content akan berusaha menyajikan informasi seringkas mungkin. Karena mereka tahu jika pembaca hanya punya waktu terbatas dan tidak ada guna untuk menulis semuanya.

Implikasinya, terkadang web hanya menyentuh rangkuman permukaan. Ia tidak sempat memberikan ruang yang lebar untuk pembangunan argumen dan logika. Informasi di internet dapat menjabarkan “What” dan “How”, tapi belum tentu bisa menjelaskan “Why” dengan baik.

Contohnya saat saya ingin tahu lebih jauh tentang kapitalisme vs marxisme. Hanya mengandalkan ulasan orang di web takkan membawa pemahaman yang mendalam tanpa membaca buku-buku yang ditulis Adam Smith, Keynes, Friedman, Karl Marx, Engels dan pemikir lain-nya.

Membaca Wikipedia tentang profil seseorang tentu akan jauh berbeda dengan membaca langsung biografi yang lebih lengkap dan menyeluruh. Baca sejarah kemerdekaan Indonesia di web, tentu beda dengan membaca Indonesia Menggugat-nya Soekarno, atau Untuk Negeriku-nya Hatta.

Bahayanya jika Kita terbiasa menelan informasi secara bulat, kita tidak akan terlatih untuk bertanya: Koq bisa gitu? Metodologynya kaya apa? Kenapa bisa lahir teori seperti itu? Kenapa kejadian itu bisa terjadi? Kita hanya tahu “apa” dan “siapa”, tapi lupa mencari tahu “bagaimana” dan “kenapa”.

#3 Web give you engagement, book give you moment of silent

Web memiliki kekuatan di komunikasi dua arah antara penulis content dan juga pembaca. Keistimewaan yang tidak bisa dimiliki sebuah buku. Tapi justru disitu kelebihannya, buku menawarkan keheningan disaat pembaca meresapi materi yang sedang dibacanya. Sifat komunikasi yang dibangun hanya searah membuat pembaca harus menginterpretasi informasi yang masuk dalam dialog diri yang penuh dengan rasa sunyi.

Buku adalah sebuah kapal selam. Ia mengajak pembacanya untuk berpikir lebih dalam, lebih jauh, dan berusaha menyentuh subtansi pengetahuan. Buku yang baik bukan hanya kaya akan informasi, tapi juga mengajak pembacanya bertanya: mengapa ini bisa terjadi? Sebuah perjalanan pikiran yang agak susah ditandingi oleh artikel website yang hanya punya 1000-2000 kata per postingnya.

Kematian Buku?

Sayangnya minat baca Indonesia masih diurutan 60 dari 61 negara berdasarkan hasil survey oleh Central Connecticut State University. Saya sedih sekaligus bersyukur. Sedih karena berarti kualitas pendidikan kita tertinggal jauh, tapi juga bersyukur sambil positive thingking: jangan-jangan masyarakat kita sudah jadi masyarakat multimedia?.

Karena hidup di abad 21 berarti menambah pilihan informasi. Toh Internet, buku/ebook, audiobook, video, dll hanyalah medium penyampaian informasi. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya sendiri percaya buku akan semakin digusur oleh ebook.

Yang penting kita harus menjadi manusia pembelajar. Manusia yang tak pernah lelah bertanya, mencari pengetahuan, dan menyebarkan ilmu untuk kebaikan kemanusiaan. Dan kebetulan, salah satu cara termudah mencari pengetahuan adalah dengan membaca. Karena itulah firman Tuhan yang pertama adalah “bacalah”, dan bukan “tontonlah”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Six Sigma Ways of Getting Richer

I just finished my green belt lean six sigma training. What is six sigma? Is it kamasutra sex training? What is green belt? Did I attend aikido training? Did I train for go green campaign?

green-belt-sertificate

Basically six sigma is a way of thinking. It’s the recipe on why some company could create world class product with zero defect. Ok, to make it simple lets use real practice. Imagine yourself. All of us want to get rich. But how? Let’s use six sigma approach.

DMAIC

Six sigma starts from defining our problem and goal, measuring it, analyzing which critical factor that can be improved, implementing change, and controling the impact. Define-Measure-Analyze-Implement-Control. DMAIC.

In that case, first we must define what is our problem and what is our goal. Our problem is being poor and our goal is becoming rich. Then we must define, how poor is our current condition? How rich we want to be? Write it down. For example:

Current condition: We have 10 mio IDR debts

Goal condition: We will have 1 bio IDR assets

Between current condition and expected goal there is a gap. How to fill the gap? We need a strategy. The beauty of six sigma is learning how to specify the improvement process, and break it down into small improvement project. Remember Pareto principle, there is 20% factor which contributes to 80% effect.

We all know that to be richer, there are two approaches:

#1 Getting more assets

#2 Reducing liabilities

Since it’s a broad subject, then we must choose which area that we want to improve. Lets say since we are still working 9 to 5, getting new asset will be harder. So lets choose reducing liabilities option. At least we will have more money to save and buy assets. Now, what kind of liabilities?

Specify it, Measure it

Which liabilities that we want to cut? We have to break it down into more detail aspects. For example in liabilities there is mortgage, credit card bills, daily consumption, transportation, and etc.

How to know which one to save? The only way is by asking the data. We must collect all of spending data and then make a decision based on it. So for example, we start writing down all of expenses in the past 30 days and suddenly find out that 30% of liabilities come from credit card payment. How come?

Then we find out that 50% of credit card bills are coming from restaurant and bar merchant. We realize that even though we make our own cook, sometimes it’s nice to chill out with friend in fancy hangout places. We also find out that we spend 30% for ecommerce since we are always tempted by “discounted fashion apparel online” regularly. Aha, there is potential area of improvement!

So if we write down the function of credit card consumption, the number will be:

Break down liabilities
Break down liabilities

Our project will be:

“How to reduce credit card liabilities from 30% into 18%?”

We know change is easy to say but hard to do. Change is not just applying technical aspect but it is also about human touch. 90% of change is failed because people are resistant for change. Using threat opportunity matrix we could try to convince ourselves on urgency of changes:

thread-opportunityChange what you can change

From the liabilities tree above, it turns out that restaurant and ecommerce posts contribute 80% of the bills. Can we reduce the restaurant and ecommerce expenses till zero? It seems impossible. So, do what we can do. Change what we can change. The most important thing: we must create improvement. So lets say we list down 7 possible actions to reduce credit card bills:

  1. Changing the hangout places
  2. Creating shopping list before browsing on ecommerce site
  3. Writing down reminder in laptop desk: “Reduce Your Bills, Save Your Money”
  4. Blocking ecommerce site in our laptop and mobile
  5. Saying goodbye to our lovely friends and never hang out in restaurant again
  6. Ordering cheaper foods during hang out
  7. Cutting our credit card … physically!

Hmmm how to choose which action we must take? We can use impact matrix. Categorize it based on effort and impact.

effort-impact-matrix

From metrix above It’s better to choose the red box (low effort-high impact) since those actions are easier to do but have impactful outcomes. The rule of thumb: choose the highest impactful actions (red and green box).

Okay, now we know what we want to do. So let’s do it. Creating shopping list and never buy “out of list” stuff, writing down reminder in our desk and of course choosing cheaper food like salad while we are hanging out.

All we have to do is to make it new habit or standard. Implement and control new ‘policy’, then measure it at the end of the period to measure the impacts. If our credit card liabilities drop untill 18% of all liabilities, that means we are success in achieving our goal. If don’t, look at the reasons. Why it can’t be implemented? And how to change it? Because life is a continuous change.

Remember the Holy Prophet Muhammad says:

“Do you know who is luckiest man? He is a person whose today is better than yesterday, and whose tomorrow is better than today”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail