Category Archives: Curhat

Cuap-cuap tentang segala yang ada di kepala

Cerita Sederhana Tentang Laki-laki Tua yang Meninggalkan Ibu Saya

Kemarin Bapak pulang. 1 Agustus 2017, jam 6.30 malam.

Bapak pulang setelah menuntaskan tugasnya selama 71 tahun: menjadi makhluk Tuhan yang baik.

Saya percaya Bapak pulang tidak dengan tangan hampa. Ada sayap-sayap kebaikan yang menemaninya.

“Bapak seneng banget ngelihat petani binaan Bapak sudah sukses”. Saat itu ia bercerita ketika pulang nostalgia dari Sulawesi Selatan.

Keluarga kami memang pernah menetap belasan tahun disana. Saat Bapak jadi kepala dinas perkebunan. Usaha Bapak keluar masuk hutan membuahkan hasil.

Sekarang mantan staff-nya ada yang jadi Bupati, petani binaannya yang dulu miskin kini punya mobil bagus, daerah yang dulunya terbelakang, kini maju agri business-nya.

Saya masih ingat saat solo traveling ke daerah itu waktu masih mahasiswa. Orang2 sangat menghormati nama Bapak. Saat saya pulang, mereka berebut memberikan sangu dan oleh-oleh.

Pelajaran yang saya terima: kita akan bahagia saat membuat orang lain bahagia.

Warisan Kenangan

Bagian tersedih dari kehilangan orang yang kita cintai adalah saat kenangan indah bersamanya masih melekat di hati.

Otak kita seperti memutar film klasik, dimana kita hanya bisa menonton tanpa pernah bisa menginterupsi.

Saya masih bisa Continue reading Cerita Sederhana Tentang Laki-laki Tua yang Meninggalkan Ibu Saya

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Be Aware of “Event Bait” from Lazada!

 

In digital world, there is word called “click bait”. It’s a term where someone uses interesting fake image or hyperbolic title just to allure people to click. For example: using sexy girl image in video containing grave punishment (siksa kubur). Kaskus give it cool nickname: jebakan betman, Batman trap.

My own experience is more than click bait. It’s even worse: event bait. It was started when I saw an event in Eventbrite platform: Lazada Marketing Solution launch. Since I’m looking for alternative advertising platform beside of Google and Facebook, I keen to join the event.

So I signed up and received confirmation from Eventbrite. I also received reminder one day before event. Everything is normal and I can’t smell something fishy.

Event Bait

On the event day, since the invitation is 12:00 AM I arrived around 12:05 AM. I was fasting (it was Thursday) and didn’t think to get some “free lunch”. I just want to register, sholat, and join the party to fulfill my curiosity.

I was shocked when I was rejected in the registration booth! Continue reading Be Aware of “Event Bait” from Lazada!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mengapa Saya Adalah Pria Paling Beruntung di Dunia?

Faktanya: saya gendut, bego, jelek, dan tidak kaya.

Memiliki berat 95 kg dengan lingkar perut hampir 110 cm membuat badan saya mirip Hulk yang obesitas. Saya lebih mirip tokoh di serial Dragon Ball. Tentu bukan Son Goku atau Bezita, tapi lebih condong Majin Buu waktu belum berubah jadi versi langsing.

Muka saya juga sekilas ga mirip artis. Meski dari jauh kaya Brad Pitt, dari dekat malah jadi sandal jepit. Dari kejauhan mirip Alejandro, begitu disamperin: Muka koq bisa gitu ya ndro?.

Saya juga bukan orang pinter. Kuliah 7 tahun dan hampir kena DO dengan IPK yang perlu diinfus dan diberi nafas buatan untuk bisa lepas dari isu SARIP para HRD: Suku, Agama, Ras, dan IP. Pernah rekor memiliki IPK Nol dalam satu semester dengan 6 nilai F, dan pernah mendapat nilai E hanya karena membuat tugas akhir Ilmu PEREK-onomian dalam bentuk cerita pendek yang penuh fantasi. Saya juga pernah 3x mengulang Ekonometri dengan 3 nilai berbeda: E, D, dan C. Klo nilainya B, C, A saya pasti sudah punya bank.

Apakah saya kaya? Boro-boro. Kerja masih ikut orang. Bisa makan setiap hari saja sudah sujud syukur alhamdulilah. Disaat orang lain gonta-ganti kendaraan, saya kemana-mana gonta-ganti jalur komuter line. Saya tidak punya kendaraan bermotor sama sekali (bahkan sepeda motor). Gadget? Laptop hasil pinjeman kantor. Tabungan di Bank? hanya bisa untuk hidup bulan ini.

Sempat terbersit pikiran jujur: Apakah nanti ada perempuan yang khilaf dan mau kawin dengan saya? Apa ada yang mau hidup dengan lelaki kerdus (kere dan mbladus) kaya saya?

Secara statistik, peluang saya mendapatkan jodoh cantik hanyalah 0,0002% dengan asumsi hanya ada 1% (sekitar 500rb) wanita cantik yang bisa dinikahi dari seluruh wanita usia produktif di negeri ini.

Tapi saya beruntung karena ada bidadari yang mau menerima pinangan saya! Setelah ditolak berkali-kali! Saya beruntung karena punya istri cantik dan seksi! Tuhan memang Maha Adil. Ia tahu manusia bisa punah jika orang jelek kaya saya tidak bisa berkembang biak. Masa kawin ama tissue dan sabun?

Namanya Pipi Kentang. Saya sudah cerita banyak tentang dia. Tapi saya belum cerita kenapa dia mau menerima saya.

“Kamu itu kaya kecoak. Diinjek berkali-kali ga mati-mati”.

Rupanya dia nyerah karena saya begitu gigih memperjuangkan cintanya. Berulang kali dicuekin, diboongin, dimanfaatin, didiemin, eh masih aja coba ndeketin hehehe.

Pelajaran buat pejuang cinta: kata “Tidak” bukan berarti menolak. Coba terus sampai kamar bersalin memisahkan cinta Anda. Karena undangan yang disebar dan janur kuning yang berkibar masih bisa dikudeta dengan sangar. Hehehe tolong jangan ditiru ya.

Yang bikin saya lebih beruntung adalah, hari ini Pipi Kentang berulang tahun!

Itu berarti kesempatan untuk minta traktir sushi gratisan dan bisa sedikit melepaskan diri dari menu warteg yang itu-itu lagi. Ini juga berarti Pipi Kentang akan bertambah dewasa, dan harapan untuk bisa menua bersamanya akan menjadi semakin nyata.

Apa hadiah ulang tahunnya? ZE1YVI. Kode booking sederhana yang saya bayar kemarin sore.

Dulu saya berjanji membawanya ke tiga kota di dunia: Mekah, Praha, dan Tokyo. Insya Allah kami akan berkunjung ke negeri Sakura, untuk membuat Pipi Kentang menjadi wanita paling bahagia di dunia dan di luar angkas

Ultah 29 Oct
Ultah 29 Oct

a.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jika Semuanya ada di Internet, Apakah kita Masih Perlu Buku?

Kemarin saya berkunjung ke Big Bad Wolf Surabaya. Itu lho, pameran buku-buku impor yang sebelumnya digelar di ICE BSD. Waktu di Jakarta, karena masalah jarak dan waktu yang memisahkan kita, saya males datang kesana. Pas pulang ke rumah ortu kali ini lha koq pas ada.

posternya
posternya

Saya datang bersama teman, si Dimas. Acaranya sendiri diadakan di Jatim Expo Center, gedung serba guna di deket Graha Pena Surabaya. Ketika saya datang Sabtu sore, suasana sudah rame. Banyak orang nenteng kantong belanjaan gede-gede penuh dengan buku.

Tapi kan sekarang abad digital, apa masih relevan membaca buku?

Anjuran ‘bacalah’ sudah ga laku dan kurang gaul. Ngapain harus cari buku (atau ebook), buka-buka halaman sambil melototin huruf kecil2 yang bikin pusing? Udah lama, ribet, eh belum tentu nemu jawabannya :D.

Mencari informasi di halaman web (entah website, blog, social media, forum dll) terbukti mampu memberikan informasi yang kita inginkan dalam hitungan detik. Sebutannya sudah ‘flash’ dan bukan lagi instant. Karena instant butuh waktu 3 menit dan 200 ml air panas. Oh klo itu memang mie instant.

Apa yang salah dengan mencari informasi lewat browsing? Toh internet sudah menjadi perpustakaan dunia yang merekam segala informasi yang ada. Pingin tahu jarak bumi ke matahari? Tinggal browsing. Pingin tahu nama latin kodok? Tinggal ketik di google. Pingin tahu judul bokep di videotron tempo hari? Ga perlu tanya tetangga. Cukup ketik keyword yang sesuai.

Terus apanya yang salah donk? Sejujurnya ga ada yang salah. Yang salah sih yang ngeracun si Mirna. Lah koq ngomongin sidang kopi.

Gathering information through browsing are great, tapi jika tidak berhati-hati setidaknya ada tiga bahaya yang mengancam para “flash information seeker” (mereka yang ingin dapat informasi dalam sekejap). Tiga advantage yang menurut saya hanya didapat lewat “deep reading” melalui buku/ebook dan membuatnya tak tergantikan oleh website.

#1 Web give you faster information, a good book give you robust information.

It is debatable. Tapi Hoax menyebar begitu cepat lewat web daripada lewat buku. Mengapa? Karena tidak ada filter informasi. Besok saya bisa menulis teori tentang cara diet menurunkan berat badan menggunakan lemak ayam lewat blog saya. Tak ada yang me-recheck apakah informasi yang saya tulis benar atau salah. Filter hanya ada di pembaca yang mempertanyakan: ini masuk akal ga?

Berbeda dengan buku. Untuk menulis sebuah buku seorang penulis harus melewati berbagai filter. Mulai dari penyunting naskah, editor, hingga penerbit yang mempertaruhkan kredibilitasnya. Konsekuensinya? Validitas bisa lebih dipertanggungjawabkan. Tapi kita juga harus hati-hati, ada penerbit abal2 yang sengaja menerbitkan buku demi mengejar keuntungan lewat sensasi.

#2 Web only surfing the surface, a good book give us deeper understanding

Ketika mencari informasi via web baik itu lewat website atau blog, penulis content akan berusaha menyajikan informasi seringkas mungkin. Karena mereka tahu jika pembaca hanya punya waktu terbatas dan tidak ada guna untuk menulis semuanya.

Implikasinya, terkadang web hanya menyentuh rangkuman permukaan. Ia tidak sempat memberikan ruang yang lebar untuk pembangunan argumen dan logika. Informasi di internet dapat menjabarkan “What” dan “How”, tapi belum tentu bisa menjelaskan “Why” dengan baik.

Contohnya saat saya ingin tahu lebih jauh tentang kapitalisme vs marxisme. Hanya mengandalkan ulasan orang di web takkan membawa pemahaman yang mendalam tanpa membaca buku-buku yang ditulis Adam Smith, Keynes, Friedman, Karl Marx, Engels dan pemikir lain-nya.

Membaca Wikipedia tentang profil seseorang tentu akan jauh berbeda dengan membaca langsung biografi yang lebih lengkap dan menyeluruh. Baca sejarah kemerdekaan Indonesia di web, tentu beda dengan membaca Indonesia Menggugat-nya Soekarno, atau Untuk Negeriku-nya Hatta.

Bahayanya jika Kita terbiasa menelan informasi secara bulat, kita tidak akan terlatih untuk bertanya: Koq bisa gitu? Metodologynya kaya apa? Kenapa bisa lahir teori seperti itu? Kenapa kejadian itu bisa terjadi? Kita hanya tahu “apa” dan “siapa”, tapi lupa mencari tahu “bagaimana” dan “kenapa”.

#3 Web give you engagement, book give you moment of silent

Web memiliki kekuatan di komunikasi dua arah antara penulis content dan juga pembaca. Keistimewaan yang tidak bisa dimiliki sebuah buku. Tapi justru disitu kelebihannya, buku menawarkan keheningan disaat pembaca meresapi materi yang sedang dibacanya. Sifat komunikasi yang dibangun hanya searah membuat pembaca harus menginterpretasi informasi yang masuk dalam dialog diri yang penuh dengan rasa sunyi.

Buku adalah sebuah kapal selam. Ia mengajak pembacanya untuk berpikir lebih dalam, lebih jauh, dan berusaha menyentuh subtansi pengetahuan. Buku yang baik bukan hanya kaya akan informasi, tapi juga mengajak pembacanya bertanya: mengapa ini bisa terjadi? Sebuah perjalanan pikiran yang agak susah ditandingi oleh artikel website yang hanya punya 1000-2000 kata per postingnya.

Kematian Buku?

Sayangnya minat baca Indonesia masih diurutan 60 dari 61 negara berdasarkan hasil survey oleh Central Connecticut State University. Saya sedih sekaligus bersyukur. Sedih karena berarti kualitas pendidikan kita tertinggal jauh, tapi juga bersyukur sambil positive thingking: jangan-jangan masyarakat kita sudah jadi masyarakat multimedia?.

Karena hidup di abad 21 berarti menambah pilihan informasi. Toh Internet, buku/ebook, audiobook, video, dll hanyalah medium penyampaian informasi. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya sendiri percaya buku akan semakin digusur oleh ebook.

Yang penting kita harus menjadi manusia pembelajar. Manusia yang tak pernah lelah bertanya, mencari pengetahuan, dan menyebarkan ilmu untuk kebaikan kemanusiaan. Dan kebetulan, salah satu cara termudah mencari pengetahuan adalah dengan membaca. Karena itulah firman Tuhan yang pertama adalah “bacalah”, dan bukan “tontonlah”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Six Sigma Ways of Getting Richer

I just finished my green belt lean six sigma training. What is six sigma? Is it kamasutra sex training? What is green belt? Did I attend aikido training? Did I train for go green campaign?

green-belt-sertificate

Basically six sigma is a way of thinking. It’s the recipe on why some company could create world class product with zero defect. Ok, to make it simple lets use real practice. Imagine yourself. All of us want to get rich. But how? Let’s use six sigma approach.

DMAIC

Six sigma starts from defining our problem and goal, measuring it, analyzing which critical factor that can be improved, implementing change, and controling the impact. Define-Measure-Analyze-Implement-Control. DMAIC.

In that case, first we must define what is our problem and what is our goal. Our problem is being poor and our goal is becoming rich. Then we must define, how poor is our current condition? How rich we want to be? Write it down. For example:

Current condition: We have 10 mio IDR debts

Goal condition: We will have 1 bio IDR assets

Between current condition and expected goal there is a gap. How to fill the gap? We need a strategy. The beauty of six sigma is learning how to specify the improvement process, and break it down into small improvement project. Remember Pareto principle, there is 20% factor which contributes to 80% effect.

We all know that to be richer, there are two approaches:

#1 Getting more assets

#2 Reducing liabilities

Since it’s a broad subject, then we must choose which area that we want to improve. Lets say since we are still working 9 to 5, getting new asset will be harder. So lets choose reducing liabilities option. At least we will have more money to save and buy assets. Now, what kind of liabilities?

Specify it, Measure it

Which liabilities that we want to cut? We have to break it down into more detail aspects. For example in liabilities there is mortgage, credit card bills, daily consumption, transportation, and etc.

How to know which one to save? The only way is by asking the data. We must collect all of spending data and then make a decision based on it. So for example, we start writing down all of expenses in the past 30 days and suddenly find out that 30% of liabilities come from credit card payment. How come?

Then we find out that 50% of credit card bills are coming from restaurant and bar merchant. We realize that even though we make our own cook, sometimes it’s nice to chill out with friend in fancy hangout places. We also find out that we spend 30% for ecommerce since we are always tempted by “discounted fashion apparel online” regularly. Aha, there is potential area of improvement!

So if we write down the function of credit card consumption, the number will be:

Break down liabilities
Break down liabilities

Our project will be:

“How to reduce credit card liabilities from 30% into 18%?”

We know change is easy to say but hard to do. Change is not just applying technical aspect but it is also about human touch. 90% of change is failed because people are resistant for change. Using threat opportunity matrix we could try to convince ourselves on urgency of changes:

thread-opportunityChange what you can change

From the liabilities tree above, it turns out that restaurant and ecommerce posts contribute 80% of the bills. Can we reduce the restaurant and ecommerce expenses till zero? It seems impossible. So, do what we can do. Change what we can change. The most important thing: we must create improvement. So lets say we list down 7 possible actions to reduce credit card bills:

  1. Changing the hangout places
  2. Creating shopping list before browsing on ecommerce site
  3. Writing down reminder in laptop desk: “Reduce Your Bills, Save Your Money”
  4. Blocking ecommerce site in our laptop and mobile
  5. Saying goodbye to our lovely friends and never hang out in restaurant again
  6. Ordering cheaper foods during hang out
  7. Cutting our credit card … physically!

Hmmm how to choose which action we must take? We can use impact matrix. Categorize it based on effort and impact.

effort-impact-matrix

From metrix above It’s better to choose the red box (low effort-high impact) since those actions are easier to do but have impactful outcomes. The rule of thumb: choose the highest impactful actions (red and green box).

Okay, now we know what we want to do. So let’s do it. Creating shopping list and never buy “out of list” stuff, writing down reminder in our desk and of course choosing cheaper food like salad while we are hanging out.

All we have to do is to make it new habit or standard. Implement and control new ‘policy’, then measure it at the end of the period to measure the impacts. If our credit card liabilities drop untill 18% of all liabilities, that means we are success in achieving our goal. If don’t, look at the reasons. Why it can’t be implemented? And how to change it? Because life is a continuous change.

Remember the Holy Prophet Muhammad says:

“Do you know who is luckiest man? He is a person whose today is better than yesterday, and whose tomorrow is better than today”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Ongoing Trends for Mobile Marketers

Thank God I attended Mobile Marketing Association Forum (MMAF) 2016 this Thursday (22 Sep). So many great speakers with interesting facts, stunning insight, and provoking questions. Basically the conference shared positive optimism regarding mobile advertising, plus several ongoing trends and study case.

MMAF 2016 at Jakarta
MMAF 2016 at Jakarta

From all of well known speakers (from agency, brand, publisher, and researcher) there are several key point that we must note. I tried to connect all of them into 5 ongoing trend:

#1 Going mobile is inevitable, like it or not, we must be ready!

The trend is unavoidable regardless of your industry. From telco, travel, e-commerce, fashion, to toiletries. Whatever your product is, our consumer will go mobile. And Indonesian mobile user number is growing, significantly. From around 70 mio smartphone user into approximately 150-180 mio by 2025.

Do you believe that we look at our mobile device for 150 times per day? How long do you spend staring at your mobile device to read news, watch video, or gossip about your boss with other colleagues? Even mobile consumption has surpassed TV for certain audience and become the prime screen, not just complimentary one. So, get ready for it.

#2 Mobile is personal device, give them personal touch

It’s really personal, and we never share our mobile device! They key is 3 P: present, personal, persuasive. The beauty of mobile, you could speak different message to different audience. Special advantage compare with TV or newspaper where we broadcast uni message to mass audience.

If we are e-commerce market place, we could do targeting and differentiate our offer based on audience. Showing dress for woman, shaver for man, games for teenager, or glasses for granny. Good bye one for all, and all for one communication!.

#3 Keep up with new cool things but always remember old thing

Innovation came and go. From augmented reality, virtual reality, social chat platform till voice search option. We must keep open and do innovation to keep pace with latest trend and technology. Sometimes there are “innovator dilemmas” where we want to adopt new technology but the market or infrastructure is not ready yet.

One of cool startup who want to implement IOT (internet of things) in agribusiness is E-fishery. They create machine to feed fish automatically and cant be controlled by farmer mobile phone. The biggest obstacle? Not all farmer familar with smartphone and technology. It needs time to makes them understand the benefit of it.

New cool things come and go, but the old question still the same: “Does it help our customer life?”

#4 Mobile data behavior give us insight, crack something from it

Mobile data give us data that can’t be provided by desktop like mobility or people movement. There are a lot of brand that already used it. For example AirAsia always targeting their audience based on location or travelling behavior in the past couple of months. If you have been roaming with your mobile phone, your probability to get expose by international routes ads will be higher than domestic routes.

#5 At the end mobile is just a medium

Consumer need story, not just product. Our job as marketers (or agency, or publisher) is to create value added for our market using any kind of technology that we have. We could create mobile site or fancy apps, but it must answer simple question:

“What is the value for me as customer?”

I love the example for ‘Berbagi Sehat’ app from Lifebuoy. They basically a soap brand, but they move from functional aspect like anti bacteria into more noble value which concern most of mom: how to have healthy family? With ‘Berbagi Sehat’ app we could track health status and have early diagnoze symptom with quite informative description. The goal is simply to protect our most prestigious assets: our kids.

Summary

So, in general let me use 4 blockers to simplify and get better understanding (thanks to @HandryGE who share this tools! Now I know why GE could discuss and make decision for 12 topics in just 1 hour!).

Share any thought if you reading this via mobile 🙂

PS: please correct my grammar, I want to improve my IELTS!

summary
summary
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Omne Ignotum Pro Magnifico

Sudah dua bulan ini saya mengikuti kelas bahasa arab. Ini sesuai dengan target dan sempat saya jadikan status pada 2013 lalu.

Nulis target ga ada ruginya loh
Nulis target ga ada ruginya loh

Alhamdulilah semuanya masih on progress. Saya sedang belajar R (salah satu software statistik) untuk bermain dengan big data sambil terus berkutat dengan marketing strategy salah satu LCC. Saya menghabiskan 30 menit setiap hari untuk membaca summary laporan keungan plus analisis teknikal perusahaan yang ingin saya invest, dan juga ga pernah berhenti takjub dengan perkembangan digital marketing serta tumbuhnya perusahaan startup.

Tapi baru tahun ini belajar bahasa arab… Dan salah satu pemicunya adalah abang Gojek.

Jadi ceritanya pada 6 April 2016 lalu, saya ada janji dengan salah satu teman di Central Park. Untuk menghemat waktu, saya naik Gojek. Saat perjalanan seperti biasa saya ajak ngobrol. Saya bertanya:

“Bang kalo abis narik gojek ngapain?”

Saya sih mikirnya jawaban standar kaya “Saya lagi ambil PhD untuk riset kalkulus integral” atau “Paling liburan ke Santorini Mas”. Oh itu ga standar ya? Tapi jawaban dia memang ga standar.

“Saya les Mas. Les bahasa Inggris”. Ia lalu menyebut salah satu lembaga kursus bahasa Inggris.

Mendengar Bapak-bapak Ojek berumur 30-an masih mau belajar bahasa Inggris itu seperti ngeliat kakek ompong masih mau makan kerupuk. Semangat banget cuk!

Saya jadi malu. Dia aja masih semangat tholabul ilmi, mencari ilmu. Saya koq malah semangat tholabul istri, mencari istri. Maaf Pipi Kentang :p! Sejak itu saya memutuskan untuk takkan pernah berhenti mencari ilmu, meski harus berjalan menembus kerak bumi, berenang mengarungi tujuh samudera, dan terbang ke langit ketujuh. Anjis pingin muntah saking lebaynya.

Usia Itu Alasan, Bukan Halangan

Dan dikelas bahasa arab, ada salah satu peserta yang menginspirasi. Namanya Pak Gatot, umur sudah hampir setengah abad. Tapi semangatnya paling hebat. Dia paling rajin datang ke kelas, tak pernah absen. Saat yang lain puas dengan 2x pertemuan seminggu saat malam, Pak Gatot juga datang di kelas akhir pekan.

Program kami memang hanya 2x seminggu selama 3 bulan untuk setiap tingkat, tapi penyelenggara membebaskan jika ingin ikut kelas pagi, malam, atau akhir pekan. Mau ikut semuanya juga boleh. Nah saking rajinnya Pak Gatot, dia bingung ketika ditanya: Antum sebenarnya kelas yang mana? Yang pasti Pak Gatot termasuk kelas mamalia.

Gara-gara Pak Gatot, saya jadi malu kalau hanya datang di kelas malam. Dia begitu semangat meski harus belajar hal dasar seperti makhrojul huruf, perkenalan dengan huruf syamsiyah qomariyah, menulis ism’, imla’, dan percakapan dasar.

Pak Gatot lagi praktik conversation (pake baju putih)
Pak Gatot lagi praktik conversation (pake baju putih)

Kita sekarang hidup di zaman materealistis, dimana semuanya diukur dengan materi. Dan harta dianggap lebih penting daripada ilmu. Kita lebih semangat ikutan seminar properti, MLM, atau rahasia investasi daripada mengkaji ilmu yang berguna di akhirat nanti.

Padahal Ali ibn Abi Thalib sudah memberikan pesan: pilihlah ilmu dibanding harta. Ilmu menjaga pemiliknya, sedang harta harus dijaga oleh pemiliknya. Harta berkurang saat dibelanjakan, sedangkan ilmu semakin bertambah saat dibagikan. Dan saya percaya: jika ilmu sudah kita dapat, harta akan mendekat.

Omne ignotum pro magnifico. Segala sesuatu yang tidak kita ketahui terlihat luar biasa. Tapi percayalah, Man saaro ‘alaa darbi washola. Barang siapa berjalan pada jalannya, maka dia akan sampai pada tujuannya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pengalaman Pertama dengan BPJS

Hari Jumat lalu untuk pertama kalinya saya menggunakan BPJS. Gara2 teledor jalan pas townhall meeting, kepala kejedot speaker. Karena ga pake No drop, bocor deh darah kemana2. Ternyata seperti ini ya rasanya menstruasi di kepala.

Setelah dibantu teman2 untuk pertolongan pertama (tq banget kawan!), saya dilarikan ke tukang tambal ban terdekat. Ya ke rumah sakit lah bos…

Kebetulan ada Rumah Sakit swasta di dekat kantor. Pas di UGD, dengan kepala cenut2 saya disuruh daftar ke administrasi dulu. Dan anehnya, RS ini tidak menerima asuransi swasta karena hanya melayani BPJS.

Stigma negatif tentang BPJS (antri lama, sering dibilang penuh, pelayanan kurang) membuat saya melupakan kartu itu dan selalu menggunakan asuransi swasta.

“KTP bawa kan?” Kata mbak2 di pendaftaran pasien.

Ternyata BPJS sudah terintegrasi dengan data kTP sodara-sodara! Wah ga rugi dulu saya input data sesuai kartu penduduk itu.

Karena masih harus nunggu, dan sepertinya pendarahan masih berlangsung, saya minta untuk mendapat penanganan medis. Klo darah yang keluar bisa didonorin sih gpp, atau kalau enggak, minimal bisa saya minum lagi biar masuk ke tubuh.

Akhirnya saya mendapat jahitan. Dari dokter koas yang masih muda dan bening.

“Saya mau nyoba jahit donk mas” kata mbak dokter ke perawat yang awalnya menangani saya.

Waduh saya mau jadi beruang percobaan nih. Mau ngelarang kan ga mungkin. Berdoa aja jahitannya bener. Mau pake jelujur, tusuk rantai, tusuk tikam jejak, atau tusuk flanel terserah deh yang penting helm saya bisa dipakai lagi.

Dengan bimbingan Tuhan, arahan mas perawat, dan beberapa kali tusukan disertai rintihan pasien, mbak dokter sukses menjahit kepala saya. Setelah selesai, saya harus antri untuk disuntik anti tetanus. Takut sudut speaker yang saya jedotin berkarat. Klo dapat 24 karat sih gpp. Lumayan bisa dijual ke toko emas hehehe.

Setelah itu, balik ke administrasi dan ambil obat. Karena ga bawa kartu BPJS, saya diminta menyerahkan fotocopy KTP. Dan itu berarti harus keluar RS karena anehnya di pendaftaran ga ada mesin fotocopy -_-.

Tentu saya berharap pelayanannya bisa menyamai RS yang hanya menerima asuransi swasta.

Baru seminggu lalu saya main ke salah satu RS di Jakarta Selatan. Kaki saya menderita cantengan dan harus dilakukan ekstraksi abses dengan menyayat jempol kaki.

Dokter di RS ini menjelaskan A-Z tentang kaki cantengan saya. Penyebab, diagnosa, dan langkah-langkah medis yang akan dilakukan. Selain itu ia mengakhiri sesi “diskusi” dengan pertanyaan: “Ada lagi yang mau ditanyakan?”

Sayangnya ada harga ada rupa. RS BPJS hanya mengenakan biaya 135rb untuk jahitan kepala, sedangkan RS Asuransi Swasta men-charge saya senilai 900rb untuk cantengan di kaki.

Overall mengenai BPJS, saya cukup puas dengan penanganan yang diberikan. Cashless, cardless, data terintegrasi, dan saya cuma nunggu sekitar 5-15 menit untuk mendapat pelayanan. Dalam benak saya, pasien BPJS sering ditelantarkan dan harus sabar ngantri berjam-jam.

Bagi yang masih “alergi” dengan BPJS, coba pikir lagi: asuransi mana yang memberikan banyak sekali benefit (operasi jantung aja di cover) dan hanya meminta premi 80rb/bulan?

Bagi yang masih protes, ga mau bayar kalo ga sakit, dan koar-koar di sosmed katanya negara gagal menjamin kesehatan warganya, saya punya satu pertanyaan untuk Anda:

Mission report, 16 December, 1991.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Perahu ke Surga

Hari ini (9 April) saya diajak kawan kuliah (si Desti) untuk berkunjung ke Bogor. Bertemu murid-murid boarding school dari salah satu lembaga pendidikan. Desti punya ide untuk menghubungkan cita-cita dan realita dunia nyata. Ada muridnya yang ingin jadi Diplomat, dan kebetulan pula ada kawan kami (Dika) yang sekarang jadi diplomat.

Diharapkan Dika bisa sharing tentang suka duka jadi diplomat, sekaligus memberikan tips dan trick jika ingin mengikuti jejaknya. Semacam kelas inspirasi gitu. Saya sengaja ikutan untuk jalan-jalan, dan juga karena males disuruh bersih-bersih kalo hanya main game di rumah. Kami berlima (sama Bocil dan Lila) janjian ketemu di Bogor.

“Bro bear, Nanti disana lu harus menginspirasi anak-anak ya” kata Desti waktu kami bertemu di KFC stasiun Bogor.

Hah? Inspirasi apaan? Soal hubungan signifikan obesitas terhadap ketampanan? Atau pengaruh lari pagi terhadap penurunan berat badan yang tak pernah berarti? Saya tak akan bisa memotivasi orang lain karena saya percaya motivasi terbaik ya motivasi yang dihasilkan diri sendiri.

“Ya udah nanti sharing-sharing aja ya”. Kamipun berangkat dan menempuh perjalanan hampir 1 jam.

Acara dilaksanakan di masjid. Dika sukses menginspirasi anak-anak. Dengan cerita serunya keliling dunia mewakili Indonesia, serta berbagai cerita off the record soal hubungan luar negeri kita. Saat saya diminta sharing, masa saya harus cerita soal marketing strategy ke anak-anak SMA tak berdosa ini?

Saat bingung, saya teringat ‘Perahu Neraka ke Surga’. Salah satu problem solving tools sederhana yang saya pakai untuk memperbaiki proses, menambal loop hole, menciptakan perubahan, dan juga mendapatkan jodoh (hey, saya PDKT ke istri pakai manajemen strategic lho!).

Kalo saya pikir-pikir, tools ini saya tulis dari hasil membaca beberapa buku problem solving yang dikembangkan perusahaan konsultan macam McKinsey dan six sigma ala General Electric. Tentu dengan simplifikasi sederhana yang cocok untuk anak SMA.

Agar lebih mudah kita pakai cerita fiktif.

Surga yang Terbuka

Alkisah, ada orang yang menjadi penghuni neraka. Karena tak tahan menderita, ia lalu berdoa:

“Ya Tuhan, ampunilah dosa hamba. Sudah bertahun-tahun hamba di neraka, tolong hentikan siksa ini dan masukkan hamba ke surga”

Karena kasihan, Tuhan pun membukakan pintu surga untuknya.

“Baiklah, Kubukakan pintu surga untukmu”

Karena girang bukan kepalang, orang tadi langsung jingkrak-jingkrak dan berlari meninggalkan ‘kompleks neraka’. Begitu kagetnya ia ketika ternyata ada sungai yang memisahkan surga dan neraka. Didalam sungai banyak monster dan setan.

“Tuhan, bagaimana cara ke surga?”

Tiba-tiba ada suara:

“Gunakan akalmu, optimalkan sumber dayamu, semua kubebaskan kepadamu”. Kata suara ghaib itu.

Orang itu sadar, ia ada di neraka, dan ingin menuju ke surga. Dan pintu surga sudah terbuka! Ia hanya perlu kesana. Ia tahu ada sungai yang membatasi dan harus melintasinya. Ia butuh alat untuk menyebrang sungai.

Setelah melihat sekeliling, ia akhirnya mengambil pohon-pohon untuk menciptakan rakit. Urusan tenggelam itu belakangan, yang penting ia sudah membuat rakit dan mengarungi sungai. Membelah arus, menuju surga yang ia impikan.

Matrix Neraka-Surga

Cerita diatas hanyalah perumpamaan. Neraka adalah kondisi kita saat ini. Surga adalah hal yang ingin kita tuju. Sungai adalah hambatan yang menghadang. Kita harus tahu apa hambatan yang ada baru kemudian bisa menentukan solusi untuk mengatasi hambatan itu.

Untuk lebih simple-nya bisa mengacu matrix dibawah ini. Contoh kasus, saya ingin menurunkan badan dari 115 ke 95 kg. Yang perlu saya lakukan adalah menyebutkan keadaan sekarang, lalu kondisi yang saya harapkan.

Mengapa keadaan sekarang belum seperti yang saya harapkan? Karena ada “sungai hambatan”. Dengan merinci hambatan yang ada, saya bisa men-list “perahu” yang ingin saya buat. Setelah itu saya bisa menciptakan action plan yang harus saya lakukan.

Matrix neraka-surga
Matrix neraka-surga

Kenapa matrix neraka-surga ini penting?

  1. Karena banyak dari kita tidak tahu perubahan apa yang diinginkan
  2. Karena banyak dari kita tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan

Dengan menuliskan-nya di matrix neraka-surga, kita memiliki road map sederhana. Apa yang ingin kita capai, apa penghambatnya, apa yang kurang, dan apa yang harus kita lakukan.

Ketika salah satu murid bernama Sandy mencoba matrix ini, ia tahu jika cita-citanya adalah menjadi diplomat (surga). Sedangkan sekarang ia masih anak SMA (neraka). Ada sungai yang menghadang (gelar S1 dengan IPK dan Universitas yang bagus, Toefl 550, tes Departemen Luar Negeri, communication skill, negotiation skill, politik luar negeri, dan skill dipomat lainnya).

Sekarang Sandy tahu action plan yang harus dilakukan. Berdoa kepada Tuhan, belajar yang rajin, mempersiapkan kelulusan untuk masuk ke kampus bergengsi dan mengambil jurusan humaniora, membeli kamus, belajar vocabulary, mencoba menulis esai, belajar speaking in English, dan rajin membaca berita luar negeri di koran.

“Mulai hari ini dan seterusnya, saya memantapkan cita-cita saya di kemudian hari, yaitu memiliki pasport berwarna hitam…” tulis Sandy di facebook-nya. Pasport hitam adalah pasport diplomatik.

Sandy bermimpi. Tapi mimpi tak cukup. Kita harus beraksi. Sepenuh hati. Mengeluarkan potensi yang kita miliki. Karena Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubahnya sendiri.

Karena Tuhan telah membuka pintu surga-Nya. Kita hanya perlu perahu untuk mencapainya.

Foto bareng di Bogor
Foto bareng di Bogor
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Tanda Kita Harus Segera Resign

Bulan ini, dua rekan kerja saya resign. Mereka bukan sekedar konco gawe biasa, tapi juga partner in crime dalam bermain, belajar, ngegosip, ngebully, dan teman tidur yang menyenangkan (kata Umar, kita bisa tahu karakter seseorang setelah bepergian dengannnya, berbisnis dengannya, dan tidur di rumahnya).

Dua-duanya pindah ke perusahaan start up. Kawan pertama pindah ke online travel agent yang katanya berpotensi menjadi the first start up unicorn di Indonesia (perusahaan dengan valuasi 1 milyar USD). Kawan kedua pindah ke perusahaan FMCG dairy product dari Thailand yang produknya akan masuk ke pasar Indonesia.

Tentu saya merasa kehilangan, sambil ngelus perut dan bertanya: “situ kapan bro?”. Bagi generasi Millenials seperti kami, berganti pekerjaan bukanlah sesuatu yang tabu. Menurut statistik, 80% beranggapan bahwa waktu ideal bekerja di satu perusahaan adalah maksimal 3 tahun. Dan itu berarti kami bisa berganti pekerjaan hingga 15-17 kali dengan 5 bidang karier yang berbeda. Bahkan 55% generasi ini ingin membuka perusahaannya sendiri.

Sejak lulus kuliah dan mencoba belajar di dunia korporasi pada 2012, saya sudah pindah 4 perusahaan. Mengajukan surat pengunduran diri bukanlah sesuatu yang asing. Tapi berdasarkan pengalaman pribadi, ada tiga syarat dimana kita wajib mengajukan surat cinta ini:

  1. Mengalami stagnansi

Masih melakukan pekerjaan yang persis sama seperti 2 tahun lalu? Maka ada dua kemungkinan. Pertama, Anda semakin ahli (specialist expert) atau kemungkinan kedua: Anda ga kemana-mana lagi (stagnant). Bagaimana membedakannya? Sederhana.

Cukup ajukan pertanyaan kepada diri sendiri: “Apakah saya belajar hal baru? Apakah saya bertemu orang baru? Apakah saya memberikan kontribusi baru?”. Jika jawabannya tidak, maka selamat bertemu dengan makhluk setengah dementor bernama stagnansi. Ia akan menyeret korbannya ke zona nyaman dan perlahan-lahan menyedot perkembangan hidup si korban.

  1. Tidak ada inspirasi

Ketika Anda bangun pagi dan berdoa ada badai salju agar tidak perlu ke kantor hari ini, maka itu adalah tanda tiadanya inspirasi. Saat Anda merasa bosan dan berharap segera pulang, maka itu adalah pertanda gairah yang hilang. Saat pekerjaan menjadi tuntutan kewajiban, maka setiap tanggung jawab terasa seperti beban.

Pekerjaan yang baik harus membuat Anda bersemangat bangun pagi, tertawa saat sibuk di siang hari, dan tersenyum ketika pulang di malam hari. Jika Anda tidak bahagia, berarti ada yang salah dengan pekerjaan Anda, atau cara Anda memaknai pekerjaan itu.

  1. Mengejar mimpi

Mark Zuckerberg mengembangkan Fecebook saat belum genap 20 tahun, Henry Ford memulai Ford Motor di usia 39, Colonel Sanders membuka gerai KFC pertama di umur 65. Intinya: orang akan mengingat karya Anda, bukan usia Anda. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan yang membawa kebaikan.

Ketika Anda sadar jika Tuhan menciptakan Anda bukan untuk melakukan pekerjaan ini dan memiliki “panggilan” untuk melakukan sesuatu yang lain, maka waktunya mengikuti panggilan itu. Jangan membunuh suara hati kecil Anda.

Posisi versus Kontribusi

Bagaimana jika tujuan pindah kerja untuk mencari penghidupan (gaji) yang lebih baik? Tentu itu wajar dan manusiawi. Tapi anehnya, hampir semua orang hebat (entrepreneur, direktur, pejabat publik) yang saya temui dan baca biografinya tidak meletakkan bayaran sebagai motivasi utama. Mengutip Kiyosaki:

“Hanya kelas menengah yang bekerja demi gaji”.

Oleh karena itulah, juga demi menghindari pajak, CEO perusahaan besar seperti Steve Jobs (Apple), Sergey Brin (Google), atau Lee Iacocca (Chrysler) hanya ‘digaji’ 1 dollar USD. (Tentu mereka mendapat benefit package lain senilai jutaan dollar yang dikenai pajak lebih kecil).

Bagi orang-orang keren ini, bayaran tak perlu dipikirkan. Hal itu pasti naik mengikuti pertumbuhan kualitas diri. Mereka tidak berkata : “Apa yang saya dapatkan?”, tapi justru malah bertanya: “Apa yang bisa saya berikan?”.

Mereka tahu perbedaan antara posisi dan kontribusi. Posisi itu alat. Kontribusi itu nilai. Orang kebanyakan lebih mementingkan posisi daripada kontribusi. Sedangkan mereka tahu jika kontribusi lebih penting daripada posisi. Kontribusi memberikan Anda posisi. Posisi mewajibkan Anda untuk berkontribusi. Kita tak perlu menunggu memiliki posisi, untuk menyumbangkan kontribusi.

Direktur itu posisi. Mengusulkan solusi itu kontribusi.

Pejabat itu posisi. Melayani orang lain itu kontribusi.

Guru itu posisi. Membagi ilmu itu kontribusi.

Dokter itu posisi. Membantu sesama itu kontribusi.

Polisi itu posisi. Melindungi yang lemah itu kontribusi.

Menjadi manusia itu posisi.

Menjadi makhluk ciptaan Tuhan dan berbuat kebaikan, Itu kewajiban.

Surat dari kawan
Surat dari kawan

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail