Category Archives: Ekonomi Bisnis

Tentang ekonomi dan Bisnis

Cerita Rahasia Selama di AirAsia

Tak terasa sudah 4 tahun saya “belajar” di AirAsia (ga pake spasi “Air Asia” ya!), banyak cerita yang saya alami. Sekarang, di last day saya nongkrong disini, ada 4 cerita yang harus saya bocorkan, sekalian iklan lowongan haha.

Tentang ID90: Rahasia jalan-jalan hemat

Di AirAsia setiap allstars (sebutan untuk staff) pasti mendapat benefit ID90. Apa itu? ID90 berarti diskon 90% dengan menunjukkan ID karyawan dan keluarga intinya. Ga salah lihat? Iya beneran 90%! Kesemua rute! Ini yang membuat saya males check-in di socmed kalau sedang di bandara. Lha wong hampir setiap minggu!.

Dengan ID90 ini kamu bisa ke Bali/Jogja/Surabaya pp Cuma 300rban. Atau ke Singapura/KL/Bangkok pp sekitar 700-900rb an. Selain itu kita juga dapat jatah coupon 16 point. Untuk penerbangan dibawah 4 jam, biayanya 1 point, sedangkan diatas 4 jam, ongkosnya 2 point. 16 point berarti saya bisa pulang pergi Jakarta-Tokyo 8x setahun secara gratis!

Dan nikmat tiket mana yang engkau dustakan?

Tentang Duty Travel: Kerja Sambil Jalan-jalan

Duty travel artinya perjalanan dinas. Tapi berbeda dengan perjalanan dinas PNS yang biasanya nyaman dan penuh rombongan, duty travel di AirAsia sangat efisien. Klo bisa pulang tektok, ga usah nginep hotel (saya sering ke SIN atau KL dateng pagi pulang malam). Klo cukup sendiri, ga perlu ngajak orang lain.

Total saya sudah duty travel sekitar 300 kali, menginap di hotel 90 hari, dan bisa halan-halan gratis ke 8 negara. Duty travel pertama: 3 hari setelah masuk kerja. Saat itu ada konferensi pariwisata di Singapura.

Duty travel “paling sengsara”: Kunming, Tiongkok. Saya pergi sama Bayu. Anak sales yang baru pertama kali keluar negeri. Sengsaranya gimana?

Waktu kita landing ke Kunming, karena ga bisa bahasa China and Ibu-ibu driver taksinya ga bisa bahasa Inggris, kita Cuma nunjukin brosur tempat event-nya. Ibu-nya langsung tancap gas dan membawa kita ke pinggir kota.

Karena su’udzon, saya iseng-iseng cek google maps (pake roaming karena google di blokir). Wah koq kita diarahin ke tanah kosong antah berantah? Langsung saya minta driver untuk putar balik dan menunjukkan lokasi Gmaps. Setelah ngobrol pake bahasa tarzan, akhirnya kami diantar ke tujuan sesuai Gmaps.

And ternyata dong, kita salah alamat! Kami menunjukkan exhibition center yang lama, sedangkan acara kami harusnya di exhibition center tempat baru. Jadi karena Google ga update di China, “area kosong” di peta sekarang sudah berubah jadi exhibition center kelas dunia. Dan berarti awalnya Ibu taksi udah bener!.

Penderitaan belum berakhir sodara-sodara! Setelah nyegat taksi lagi dan berhasil sampai di tempat pameran untuk registrasi, waktunya check in ke hotel. Tapi naik apa? Rata-rata orang bawa mobil, taksi yang lewat semuanya penuh, mau install uber/Didi ga bisa verifikasi.

Akhirnya kami jalan kaki 2 km sampai nemu halte bis. Karena ga tau rute dan semua pake bahasa Sun Go Kong, kami asal naik. Eh malah kesasar and ga nyampe-nyampe! Karena lelah, kita putuskan turun dan alhamdulilah ada taksi lewat.

Besoknya, karena trauma ribet pulang, kami sepakat menggunakan layanan bike-sharing. Cuma modal aplikasi dengan biaya 1 yuan. Akhirnya kami ngontel 10 km untuk pulang setiap hari. Lumayan olahraga.

Urusan makan juga gitu. Karena takut ga halal, saya putuskan Cuma makan telur rebus. Jadinya setiap sarapan saya makan 8 butir telur sekalian untuk makan siang dan makan malam. Waktu di kamar, tiba-tiba tercium bau telur.

“Sorry gw kentut ya Bay..”

Tentang Tulisan viral ke Tony Fernandez

Waktu itu facebook baru meluncurkan aplikasi untuk korporat bernama workplace. Ini semacam jaringan komunikasi internal. Dengan workplace, AirAsia ingin membuat komunikasi antar departemen lebih cair, dan interaksi antar allstars lebih hidup.

Nah, waktu sosialisasi, ada utusan dari KL yang buka booth. Kita dapat merchandise kalau install, register, dan upload foto profil pake foto yang keliatan mukanya. Ga boleh pake foto artis bokep atau hewan lagi selfie. Terus saya penasaran, “Kenapa harus pake profil picture?”

“Because Tony said so…”

What a stu**d reason. Karena prinsip saya: kita harus melakukan sesuatu karena hal itu baik bagi organisasi, bukan karena disuruh atasan.

Udah deh, saya bikin tulisan yang mengkritisi budaya “boss said” ini. Judulnya “Tony said” dan saya posting di Workplace. Langsung meledak. Bos saya yang lagi regional meeting di Bangkok harus menjelaskan “emang Yoga anaknya kaya gitu” ke team regional. Saya juga jadi berdebat ama Tony di workplace soal budaya ini.

Tapi banyak juga yang memuji. Commercial director China langsung merepost-nya dan memposting ke group manajemen. Director commercial regional langsung men-japri dan memberika assurance “you can talk to me directly”.

Saya jadi terkenal. Ada bule  regional yang tiba-tiba ngajak selfie waktu dia meeting di Jakarta.

“So this is famous Yoga!”. Yo wes, intinya saya ga jadi dipecat haha.

Tentang Baju ihram Untuk ke party

Terakhir cerita soal baju. Di AirAsia tak ada seragam (untuk back office), karena itu saya lebih memilih kaos dan celana jeans. Sebenarnya ada “dress code”. Senin warna putih, selasa batik, jumat merah, dll tapi saya ga pernah ngikutin hehe.

Bahkan saya pernah pakai baju gamis yang bikin kaget orang sekantor. Tapi yang bikin heboh saat annual party 2017 lalu. Seperti biasa, ada kontes berhadiah jutaan rupiah. Sempat terpikir untuk sewa kostum. Setelah menghitung probabilitas dan return on investment (membandingkan kemungkinan menang, sewa, dan hadiah), ternyata cukup masuk akal juga.

Masalahnya, kostum yang saya inginkan sudah out of stock semua (karena last minute). Terus kira-kira kostum apa ya yang unik?

Karena temanya Wonderland dan waktu itu saya sedang baca buku tentang Holy Land (Yerussalem), pagi-pagi kepikir: kenapa ga pake baju ihram aja ya? Toh ongkosnya nol karena sudah ada.

Jadilah ada penampakan manasik haji di salah tempat nongkrong di daerah SCBD. Siapa tau ada yang mau mabok jadi insyaf, yg mau zinah jadi tobat, dan yang mau makan jadi kenyang (ya kali). Alhamdulilahnya, saya terpilih jadi top 10 best costumer dan dapat duit beberapa juta! Yey, alhamdulilah.

(Ga usah pake gambar biar ga dikira melecehkan ya!)

*********

Yang paling bakal saya kangenin ya orang-orang keren didalamnya. Disini lingkungannya fun, terbuka, dan banyak orang pinter buat tempat belajar. Saya ga mungkin lupa saat abis kemalingan. Teman-teman langsung patungan untuk memberikan HP dan uang santunan. Makasih banyak ya guys!.

Mau gabung kesini? Yuk apply mumpung ada lowongan. Kalo kamu marketer gaul yang ngerti marketing strategy, digital, data analytic, punya leadership dan suka mbolang keliling dunia, coba aja daftar. Dijamin ga bakal nyesel hehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apa yang Terjadi Jika Kita Menguasai Data Orang di Facebook?

https://timedotcom.files.wordpress.com/2016/01/facebook-logo-002.jpgDunia dihebohkan dengan kebocoran data facebook. Ga tanggung-tanggung man, 87 juta data bocor dan digunakan untuk kepentingan orang ketiga. Eh, emangnya siapa yang selingkuh?

Bocor ban bisa ditambal, bocor genteng bisa dipakein No Drop, bocor kepala bisa berdarah (jelas lah..).

Lha ini yang bocor adalah data pengguna facebook yang notabene-nya sangat mementingkan privasi. Pasar modal langsung merespons dengan penurunan saham yang membuat kekayaan kawan lama saya, Mark Zuckerberg, berkurang 4,9 miliar dollar[1].

Kawan lama maksudnya: kalo saya ketemu Mark Zuckerberg, dia akan berpikir lamaaaaaaaaa banget mencoba mencari saya di ingatan kawan-kawannya. Karena capek, akhirnya dia sadar kalo kita memang belum pernah bertemu hehehe.

Saya tidak akan menyinggung kasus Cambridge Analytica. Silahkan baca di forum-forum BB21+. Cerita singkat yang saya tahu: ada aplikasi yang tujuan awalnya untuk riset prilaku digital. Aplikasi ini justru bisa mengakses data teman dari orang yang menjadi responden. Data ini dipakai untuk kampanye capres.

Yang lebih ingin saya tulis adalah, se-powerfull apa sih facebook? Apa yang terjadi jika kita curhat, pamer foto, dan bikin status alay di facebook? Dan seperti judul artikel ga penting tapi enak dibaca ini: apa yang bisa kita lakukan jika menguasai data di facebook?

Facebook is not social media, it’s social advertisement

Harus diakui, facebook adalah salah satu sosial media paling populer di planet ini. Tercatat memiliki 2,13 miliar pengguna aktif. Ada 300 juta foto baru yang di upload setiap hari, dan setiap detik, ada 5 akun baru mendaftar[2].

Dulu waktu awal-awal kemunculan facebook tahun 2007, saya masih belum mengerti dari mana mereka dapat uang. Saya pikir facebook adalah social media yang memberikan jasa gratisan dan tidak menghasilkan keuntungan.

Sekarang kantor saya membayar jutaan dollar untuk beriklan di facebook. Salah satu kerjaan saya adalah bikin iklan di facebook. Sampai banyak orang yang dibayar hanya untuk fesbukan sambil nyambi jadi admin page/brand tertentu.

Emang sesakti itukah facebook?

Jujur saja, iya. Facebook adalah salah satu media iklan terbaik. Sangat efektif dan efisien untuk berjualan dengan return of marketing investment yang cucok meong endang mbambang.

Kenapa facebook bisa menjadi media iklan yang sangat efektif?

Karena mereka memiliki data personal user-nya.

Ya data-data kita ini. Yang kita isi-isi sendiri lewat status, foto, click, like, comment, atau interaksi digital lainnya.

Facebook tahu mood kita, kadar ke-alay-an kita, hobi kita, lokasi kita, apa yang kita sukai, karakteristik teman-teman kita, sampai konten-konten yang sering kita konsumsi (biasakan clear history browser ya guys!). Pokoknya semua aktivitas kita akan di simpan oleh facebook untuk di formulasi dan pada akhirnya di monetisasi kepada pengiklan.

Tujuan facebook sangat mulia: bagaimana mengirimkan pesan (iklan) yang tepat kepada orang yang tepat (calon pembeli).

Karena itulah yang doyan buka situs e-commerce akan ngelihat iklan2 e-commerce, atau yang suka traveling akan sering melihat promo maskapai (btw AirAsia ke Jepang pp Cuma 1,6 juta!). Algoritma facebook akan tahu jika kita adalah lelaki, maka probabilitas melihat iklan pembalut adalah 0,0001%.

Kabar baiknya, apapun jenis bisnisnya, kita bisa menggunakan facebook untuk berjualan.

Misalnya Anda berbisnis “rendang crispy”. Udah ga zamannya lagi bawa rendang di jok sepeda motor, lalu muter-muter keliling kota sambil teriak-teriak “Rendang Crispyyy… Selalu di hatiiiii”. Itu marketing jaman old, yu now.

Cukup duduk manis didepan laptop, lalu buat business account di facebook. Setelah itu bikin iklan dengan gambar menarik. Targetkan ke orang di daerah pasar potential yang punya interest topic yang relevan seperti food, rendang, Indonesian food, dan sebagainya.

Anda Cuma perlu membayar biaya iklan yang tidak terlalu mahal (dihitung per CPM – cost per 1000 impression iklan tayang) dan biarkan algoritma facebook pixel yang bekerja mencarikan pembeli potensial.

Data mining is gold mining

Kembali ke pertanyaan judul, apa yang terjadi jika kita memiliki data-data pengguna facebook?

Seharusnya Anda akan jadi kaya, sangat-sangat kaya. Tentu jika tahu cara menggunakannya. Seperti kasus kampanye presiden di Amrik, pemilik data-data itu bisa menciptakan komunikasi yang relevan sesuai karakteristik orang yang ingin di target.

Ibaratnya mau PeDeKaTe ke lawan jenis, mengetahui data-data gebetan kita akan meningkatkan success rate untuk membuat si dia terkesan. Jika tahu si doi weton-nya kliwon dan sukanya di air, kita bisa langsung mengajaknya jalan-jalan ke Pantai dan bukan ke mall.

Karena sekarang adalah zaman informasi, maka data memegang peranan kunci. Memiliki akses ke data jutaan orang sama dengan nelayan yang memiliki peta pergerakan ikan dibawah laut. Ia bisa tahu harus menangkap ikan yang mana, kapan, dimana, dan umpan apa yang harus dipakai dan disukai si ikan.

Seperti pesan bang Napoleon Bonaparte: war is 99% information. Semakin banyak informasi yang Anda expose di facebook, semakin banyak analytics yang mereka dapat yang pada akhirnya membantu pengiklan seperti saya untuk berjualan.

Karena itulah sekarang saya jarang mengupdate status atau pamer foto hehehe.

Reference:

[1] http://www.scmp.com/news/world/united-states-canada/article/2137935/facebook-falls-pressure-mounts-zuckerberg-over-data

[2] https://zephoria.com/top-15-valuable-facebook-statistics/

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Horizon

Saya bertanya ke teman sekaligus mentor untuk urusan investasi. Bagaimana sih cara membuat investment plan yang baik? Jawabannya ternyata sangat sederhana:

“Analisa makro ekonominya. Kira-kira apa industry yang akan booming tahun depan, lihat valuasinya sekarang. Lu harus invest untuk beberapa tahun kedepan. Kalo masuk di industry yang booming tahun ini, udah telat. Harga udah naik”.

Saya tersadar. Kuncinya ada di time horizon. Sejauh mana kita bisa memandang masa depan.

Kualitas seorang pemimpin, inovator, atau investor diukur dari dari kemampuan melihat masa depan yang belum dilihat semua orang. Karena para innovator dan investor hebat, hidup dengan horizon yang panjang.

Meskipun definisi “masa depan” bisa sangat bervariasi.

Bagi politikus, masa depan berarti 5 tahun lagi. Seorang pengusaha mungkin menganggap masa depan berarti keadaan 10 tahun lagi. Menurut filsuf, masa depan berarti 100 tahun nanti. Sedangkan bagi spekulan, masa depan adalah apa yang terjadi 1 jam kedepan.

Melihat dan Berbuat

Ini berbeda dengan “budaya instant” yang menyerang masyarakat kita. Semuanya ingin serba cepat. Cepat kaya, cepat sehat, cepat pintar. Kita sering lupa orang yang kita lihat sukses sekarang, adalah orang yang bekerja sangat keras 10 tahun lalu.

Tak berhenti hanya melihat, innovator dan investor hebat  melakukan tindakan untuk mempersiapkan masa depan. Karena mampu melihat masa depan tanpa melakukan tindakan sama dengan melihat cewek cantik/cowok ganteng tapi ga berani berkenalan. Hasilnya kita tetap jomblo.

Ini yang membuat organisasi kelas dunia berinvestasi di teknologi yang masih belum jelas masa depannya. Karena mereka mempunyai horizon 20 hingga 50 tahun lagi.

Saat perusahaan migas kita masih meributkan harga BBM, perusahaan migas dunia terus mengembangkan energi terbarukan. Saat kita mewacanakan mobil nasional, Google dan Tesla sedang getol-getolnya riset tentang self driving car. Saat kita berdebat soal reklamasi, SpaceX sudah berambisi menciptakan koloni di luar angkasa nanti.

Jika kita tertinggal jauh dibelakang, apa yang bisa kita lakukan?

Satu-satunya cara mengejar ketertinggalan adalah bukan dengan mengikuti resep sukses yang terjadi saat ini, tapi melakukan quantum leap: memikirkan apa yang terjadi 10 tahun lagi dan mempersiapkannya dari sekarang.

Ini seperti pesan Jack Ma di World Economic Forum.

“If you want to be successful tomorrow, it’s impossible

If you want to be successful next year, it’s impossible

But if you want to be suceessful in the next 10 years, you have a chance.

Let’s compete for 10 years later. (You have to say): This is what I do believe in the next 10 years, and everything I do is for achieving that goal”.

Pelajarannya? Expand our vision, see longer horizon, and the most important thing: do the action.

https://cdn.pixabay.com/photo/2017/07/31/21/45/sea-2561397_960_720.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ignoramus: Kenapa ketidaktahuan lebih penting dari pengetahuan

Saat menjalani sidang doctor untuk menguji disertasinya, Andi Hakim Nasution (mantan rektor IPB) mendapat pertanyaan aneh dari seorang dewan penguji.

Secara tiba-tiba sang penguji bertanya tentang penyakit yang menyerang hewan tertentu. Ia sempat berpikir, “Mengapa dia bertanya tentang ini? Dan apa pula subyek yang ditanyakannya?” sambil memikirkan istilah asing yang ditanyakan dosen pengujinya.

Setelah merenung, dengan berat hati, calon doktor tadi menghela nafas dan berkata, “Maaf, saya tidak tahu…”.

Mendengar jawaban itu, tiba-tiba sang penguji merasa lega. Ia tersenyum dan memandang dengan puas melihat mahasiswanya tidak dapat menjawab pertanyaan yang ia berikan.

Calon doktor statistika eksperimental itu tertunduk lesu. Perjuangan riset bertahun-tahun bisa saja hancur karena sebuah pertanyaan istilah asing yang ia sendiri baru pertama kali mendengarnya. Tapi ternyata dia diumumkan lulus!

Saat berjabat tangan, dia bertanya kepada dosen penguji tadi.

“Apa jawaban dari pertanyaan yang Anda tanyakan?” tanyanya penasaran.

“Saya tidak tahu”, jawab sang penguji tersenyum.

“Pardon me… Maaf…”

“Iya, itu jawabannya. Saya sendiri tidak tahu jawabannya. Saya menanyakan hal yang sebenarnya tidak ada. Anda sudah menjawab semua pertanyaan kami dengan saat baik saat ujian. Tapi disitulah masalahnya. Kita sebagai ilmuwan terkadang harus mengetahui ada hal-hal yang tidak bisa kita ketahui. Saya ingin Anda belajar hal tersebut”.

Cerita yang saya ambil dari buku lawas “Pola Induksi Seorang Eksperimentalis” itu menegaskan sebuah pelajaran: ketidaktahuan lebih penting dari pengetahuan.

Hal ini menjadi relevan karena manusia modern begitu mengagungkan kalimat “pengetahuan adalah kekuatan”, sehingga kita seringkali tidak mau mengakui ketidaktahuan kita sendiri.

Lihatlah saat netizen berusaha berdebat tentang topic yang tidak ia kuasai, calon pegawai yang berusaha membuat pewawancaranya terkesan, atau anggota dewan yang ingin terlihat hebat didepan rakyat. Semuanya berusaha terlihat “Maha Tahu”.

Kita seringkali lupa dan tidak mau mengakui jika sumber pengetahuan sesungguhnya ada pada ketidaktahuan. Karena seorang ilmuwan pada dasarnya adalah seorang ignoramus: orang yang tidak tahu.

Perbedaan ilmuwan dan orang biasa ada pada langkah selanjutnya: apakah dia itu mau jujur mengakui ketidaktahuannya? Maukah ia mencari pengetahuan baru untuk menjawab ketidaktahuan itu?

Menerapkan pola pikir seorang ignoramus, berarti kita harus merayakan ketidaktahuan.

Ketidaktahuan adalah tanda jika masih banyak pelajaran yang bisa kita temukan. Tak perlu malu dan menutup-nutupi. Kita hanya perlu jujur pada diri sendiri: masih banyak yang harus kita pelajari.

Jika pengetahuan adalah kekuatan, maka ketidaktahuan adalah ibu dari pengetahuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#96 Fallacy of single cause: Kenapa kita harus berpikir multi dimensi

Kenapa banyak perusahaan ritel yang tutup?

Pertanyaan diatas sempat menjadi perbincangan hangat netizen beberapa waktu lalu. Banyak pihak yang berkomentar dan memberikan analisisnya.

Sebagian pengamat menyoroti shifting perilaku belanja masyarakat yang berpindah ke online. Ada pengamat yang menyalahkan lesunya daya beli masyarakat. Ada juga yang menyoroti inefisiensi peritel dalam melakukan ekspansi.

Mana yang benar? Semuanya bisa benar. Yang jelas, hanya “menyalahkan satu factor” dapat menyebabkan kita terperangkap dalam fallacy of single cause. Kecenderungan untuk menyederhanakan permasalahan.

Karena pada kenyataannya, masalah yang terjadi cenderung kompleks dan multi dimensi. Penutupan gerai pada perusahaan A bisa memiliki motif yang berbeda dengan penutupan gerai perusahaan B.

Hampir sama dengan pertanyaan: “Kenapa Jakarta sering banjir?”. Hanya menyebut “buruknya drainase” takkan menyelesaikan masalah karena masih ada aspek tata kota, perilaku warga, dan infrastruktur social yang sudah sangat padat ditengah lahan yang sempit.

Otak kita menyukai “single cause reasoning” karena lebih sederhana dan mudah dimengerti.

Kenapa ada krisis 1998? Jawaban single reasoning-nya: Karena ulah spekulan valas yang menghajar nilai tukar rupiah. Padahal masih ada permasalahan politik dan social yang membuat krisis tahun 98 mampu melahirkan reformasi.

Kenapa banyak koruptor di Indonesia? Jawaban gampangnya: karena banyak pejabat korup. Padahal ada aspek lemahnya pengawasan hukum, berbelitnya sistem birokrasi, dan juga sistem meritokrasi yang masih berjalan setengah hati.

Point-nya: biasakan untuk berpikir multi dimensi dan jangan hanya melihat dari satu sisi.

Contohnya jika Anda adalah seorang CEO yang baru saja meluncurkan produk baru. Setelah satu bulan, produk itu tidak laku. Apakah Anda akan menyalahkan tim marketing karena gagal mencapai target penjualan?

Sadarlah tentang jebakan fallacy of single cause. Duduk dengan tim Anda dan rincikan semua factor yang menyebabkan produk itu tidak terserap oleh pasar. Bisa promosi yang kurang, feature yang kurang greget, user interface yang membingungkan, dan lain-lain.

Rinci semua factor, dan bagi kedalam dua jenis: yang bisa kita ubah (harga, design, promosi, dll) dan yang tidak bisa kita ubah (kondisi ekonomi, nilai tukar, dll). Setelah itu lakukan test dengan merubah factor-faktor yang bisa mempengaruhi pembelian. Misal: mengubah harga, mengubah metode marketing, mengubah design produk, dll.

Jangan terjebak dengan mindset yang meminjam istilah filsuf Herbert Marcuse: one dimensional man. Kebiasaan hanya melihat satu sisi akan membuat Anda jadi kaum sumbu pendek yang ngamuk jika orang lain bilang bumi itu bulat.

Percayalah jika tidak pernah ada penyebab tunggal dalam setiap fenomena yang terjadi.

http://www.chronicle.com//img/photos/biz/photo_2914_landscape_650x433.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#93 Social Labeling bias: Kenapa kita suka mengkafirkan orang lain

Misalnya ada dua tempat duduk yang kosong. Anda bisa duduk disamping mas-mas berseragam polisi, atau duduk disamping lelaki sangar dengan tubuh penuh tato dan tindik yang menyeramkan. Mana yang akan Anda pilih?

Kita pasti akan menduga orang yang memakai baju polisi adalah polisi yang bertugas, sedangkan abang-abang bertato dengan tampang sangar adalah preman. Padahal bisa saja orang yang memakai baju polisi adalah penipu, dan si preman ternyata intel polisi yang menyamar.

Percaya atau tidak, secara bawah sadar otak kita akan memberikan label kepada orang lain. Proses pemberian label ini bisa terjadi dalam sekejapan mata atau dalam hitungan detik. Kita membutuhkannya untuk menganalisa kondisi dan mengidentifikasi adanya bahaya.

Berpapasan dengan orang yang membawa senjata akan meningkatkan kewaspadaan, sedangkan berpapasan dengan nenek tua akan menurunkan kecemasan kita akan bahaya. Padahal bisa saja sang nenek adalah pembunuh bayaran terlatih sedangkan pembawa senjata adalah pecinta olahraga air soft gun biasa.

Masalahnya, informasi yang kita terima sering kali tidak lengkap, dan ada informasi yang tidak kita ketahui. Bahasa gaulnya, ada assymetric information yang terjadi. Kita tidak tahu apa yang mereka ketahui, dan sebaliknya, mereka tidak merasakan apa yang kita rasakan.

Inilah yang membuat kita sering men-judge orang lain yang tidak sealiran dengan kita adalah salah, dan kita selalu merasa paling benar. Padahal bisa saja ada informasi yang belum kita ketahui. Kalau kata psikolog Joseph Luft dan Harrington Ingham (penemu Johari window), ada “façade information” antara kita dan orang lain. Hijab yang menutupi pengetahuan kita dan mereka.

http://communicationtheory.org/wp-content/uploads/2013/01/johari-model.jpg

Façade information juga yang membuat Musa terheran-heran dengan Khidir dan menyalahkannya karena telah merusak perahu dan membunuh anak kecil. Ilmu nabi Musa belum “sampai”, dan Khidir baru menjelaskan alasan tindakannya saat mereka akan berpisah.

Sultan Murad dan Ahli Maksiat

Seperti cerita Sultan Murad dari Turki. Suatu malam Ia tidak bisa tidur. Ia merasa gelisah dan ada yang bergemuruh dihatinya. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar istana dan menyamar sebagai rakyat jelata. Blusukan kalau bahasa sekarang.

Saat keluar tiba-tiba mereka menemukan seorang laki-laki yang terbaring di tengah jalan. Sultan mencoba membangunkannya. Ternyata laki-laki itu sudah meninggal. Anehnya, tidak ada yang mempedulikannya. Jenasahnya dibiarkan begitu saja.

Ia lalu bertanya ke orang-orang yang lewat: “Kenapa orang ini meninggal tapi tidak ada seorang pun yang peduli dan membawa ke rumahnya? Siapa dia? Dimana keluarganya?”

“Orang ini pelaku maksiat” kata orang-orang. “Ia juga selalu mabuk-mabukan dan berzina dengan pelacur”.

“Tapi bukankah ia juga umat Rasullullah, Muhammad s.a.w? Ayo angkat ia dan kita bawa ke rumahnya” ajak sultan Turki itu.

Mereka lalu membawa jenazah laki-laki itu kerumahnya. Sang istri yang baru mengetahui kematian sang suami, langsung menangis dan sedih. Orang-orang langsung meninggalkannya dan hanya ada Sultan dan para pengawal yang masih tinggal dan menghibur si istri.

Sultan bertanya, “Aku mendengar dari orang-orang jika suamimu adalah ahli maksiat sehingga mereka tidak peduli dengan kematiannya. Benarkah hal itu?”

“Awalnya aku menduga seperti itu tuan..” jawab si istri sambil menangis sesenggukan.

“Suamiku setiap malam keluar rumah pergi ke toko minuman keras, membeli sebanyak uang yang dimilikinya, lalu membawa pulang minuman itu untuk dibuang sambil berkata: ‘Alhamdulilah, aku telah meringankan dosa kaum muslimin’”.

“Suamiku juga pergi ke tempat pelacuran”, lanjutnya.

“Ia memberi mereka uang dan berkata, ‘Malam ini adalah jatah waktuku. Jadi tutup pintumu sampai pagi, jangan kau terima tamu lain!’. Kemudian akan pulang dan berkata kepadaku: ‘Alhamdulilah, malam ini aku telah meringankan dosa pemuda-pemuda islam’. Namun orang-orang yang melihatnya mengira suamiku suka mabuk-mabukan dan gemar berzinah. Berita ini lalu menyebar di masyarakat”.

Sang istri berusaha menahan tangis dan kemudian melanjutkan ceritanya.

“Sampai suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: Jika engkau meninggal, tidak aka nada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, menshalatkanmu, dan menguburkanmu”.

Suamiku hanya tertawa dan menjawab: “Janganlah takut wahai istriku! Jika aku mati, aku akan dishalati oleh sultannya kaum muslimin, dan juga para ulama dan ‘auliya Allah”.

Mendengar hal itu Sultan Murad langsung menangis dan berkata, “Benar apa yang dikatakannya. Demi Allah, akulah Sultan Murad itu dan besok pagi kita akan memandikan suamimu, menshalatinya, dan menguburkannya bersama masyarakat dan para ulama”.

Jangan mudah menyalahkan dan memberikan label kepada orang lain. Waspadai façade information. Jangan-jangan ilmu kita yang belum sampai.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#87 BHAG: Kenapa Kita Harus Punya Tujuan Besar

Sebagai kacung yang bekerja di travel industry, saya sering bekerja sama dengan departemen pariwisata negara ASEAN. Tapi ada hal yang menarik dari teman-teman di Kementrian Pariwisata kita. Setiap meeting, saya sering sekali mendengar kata “20 juta”.

“Kita punya target 20 juta wisataawan asing tahun 2019”.

“Sesuai arahan Pak Presiden, target kita 20 juta wisatawan.”

“…Ini untuk mencapai target 20 juta wisatawan”.

Yang bikin saya kagum: angka 20 juta ini diucapkan oleh menteri, pejabat eselon, hingga staff biasa. Ternyata hampir semua orang di kementrian pariwisata tahu apa yang mereka ingin capai: Pada 2019 membawa 20 juta wisatawan asing ke Indonesia.

Kenapa saya bisa bilang luar biasa? Karena tidak semua anggota organisasi tahu apa tujuan mereka. Apalagi ini sebuah organisasi gemuk bernama birokrasi.

Jika Anda bertanya ke teman atau saudara yang bekerja di organisasi raksasa seperti BUMN, perusahaan multinasional, atau departemen pemerintahan, belum tentu mereka tahu apa tujuan lembaganya.

Apa yang ingin dicapai? Jika profit, berapa banyak untungnya? Kapan mendapatkannya? Bagaimana caranya? Banyak dari kita hanya melakukan sesuatu sesuai job description tanpa pernah tahu strategic direction.

BHAG

Angka 20 juta yang didengung-dengungkan sebagai mantra adalah sebuah BHAG: Big Hairy Audacious Goal (dibaca Bee-Hag). Mimpi besar yang menginspirasi.

Dicetuskan oleh guru manajemen, Jim Collins dan Jerry Porras dalam Built to Last (1994). Collins mencatat, perusahaan-perusahaan besar yang sukses dalam jangka panjang selalu punya BHAG. Sebuah tanda jika mereka organisasi yang berani bermimpi.

Saat Kennedy mengajukan proposal ke Kongres untuk program “moon landing” pada tahun 60-an, ia mengajukan BHAG yang menyentuh ego umat manusia:

“..this Nation should commit itself to achieving the goal… landing a man on the moon and returning him safely to earth..”

Semua rakyat Amerika terpesona dan mendukung proyek 549 juta dollar itu karena mereka akan menjadi homo sapiens pertama yang mendarat di bulan.

Contoh klasik lain: Ketika Jack Welch merombak General Electric, GE terkenal dengan organisasi gemuk yang punya banyak sekali anak perusahaan. BHAG yang ia cetuskan sungguh sederhana:

“Become #1 or #2 in every market we serve and revolutionize this company to have speed and agility of small enterprise”.

Jadi yang terbaik dan bergerak segesit perusahaan kecil, atau tidak sama sekali. Hasilnya Welch merampingkan bisnis GE, menjual divisi yang tak punya prospek lagi, dan mengembangkan budaya inovasi.

Mimpi Pariwisata

“20 Juta wisatawan asing” adalah BHAG yang ambisius tapi sebenarnya mampu kita capai. Thailand dalam setahun menerima sekitar 35 juta wisatawan asing. Malaysia ada di angka 15 juta. Sedangkan kita masih megap-megap mencapai level 13 juta. Padahal jika dilihat potensi wisata dan luas wilayah, harusnya wisatawan kita melebihi kedua Negara itu.

Tentu masih banyak Pe-eR terutama dibidang infrastruktur, inovasi produk, sarana transportasi (kapasitas penerbangan rute internasional), dan pengembangan SDM yang ada di depan mata. Tapi saya merasa we are on the right track.

Sekarang Kementrian Pariwisata sangat aktif berpromosi keseluruh dunia. Sektor swasta diajak bekerja sama. Kita juga punya menteri pintar yang digital minded dan tahu bagaimana cara mengubah gaya birokrasi menjadi semi korporasi.

“Datanya mana? Kita harus bicara dengan data. Nanti habis kita dihadapan Pak Menteri”

“Kira-kira top 3 action yang bisa kita lakukan apa? Tolong dimasukkan ke weekly report”

“Seperti kata Pak Menteri, if you can’t measure it, you can’t manage it”

Pola pikir yang data driven dan action oriented adalah hal yang wajar di dalam dunia korporasi. Tapi bisa menerapkannya dalam sektor birokrasi adalah hal yang patut diapresiasi.

Saya menulis ini sebagai catatan kecil: tidak semua birokrasi menjadi penghambat inovasi. Insya Allah pariwisata Indonesia punya masa depan yang cerah.

View post on imgur.com

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tentang Tahu Bulat yang Semakin Jarang Terlihat

Ada fenomena penting yang saya rasa luput dari pemberitaan media mainstream: tahu bulat kini sulit ditemukan!. Kita lebih suka meributkan mbak Afi dari Banyuwangi, Kaesang anak Jokowi, Sevel yang mati, atau kasus politik berbaju agama yang sudah mulai basi. Tapi tidak ada yang mengangkat isu sepenting tahu bulat!

Setidaknya itu berdasarkan pengamatan pribadi saya. Di dekat stasiun Tanjung Barat dulu ada 2 penjual tahu bulat. Menggunakan pick up yang dimodifikasi ala food truck, mereka mempromosikan tahu bulat dengan tagline yang sengak di kuping:

“Tahuuuu bulat… Digoreng dadakan, 500 an, hangat-hangat”.

Kini jingle itu tinggal sejarah dalam hipotalamus otak saya. Kedua penjual tadi lenyap. Demikian juga dengan mobile rounded tofu (tahu bulat keliling) yang sering datang ke kampung tempat saya tinggal. Tak pernah nongol lagi.

Jajanan Rakyat

Sebagai kaum sudra pecinta jajanan murah kaya lemak, bagi saya tahu bulat bukan hanya sebuah jajan yang digoreng dadakan. Tahu bulat adalah symbol inovasi sederhana tapi mengena. Tahu bulat lahir dan melengkapi keluarga besar tahu yang menjadi salah satu makanan wajib orang Asia.

Berbeda dengan tahu isi yang biasanya lebih kompleks (berisi sayur, sosis/daging, dan digoreng dalam balutan tepung), tahu bulat menawarkan kesederhanaan. Hanya tahu berbentuk bulat, digoreng dalam minyak panas, lalu dibumbui sesuai selera. Murah dan sederhana.

Kuliner yang konon berasal dari Jawa Barat ini sempat booming setahun lalu. Setidaknya itu berdasarkan keyword search yang diketikkan orang di mbah Google. Bahkan hal ini mendorong lahirnya game Tahu Bulat yang sempat menjadi salah satu top free games di 2016.

google trends

Tapi kini trend itu mulai berlalu. Interest orang terhadap tahu bulat mulai menurun. Mungkin hal itu yang mendorong penjual tahu bulat sudah tidak semasif tahun lalu. Ia sudah melewati peak period. Nggak hits dan nge-trend lagi.

Apa yang terjadi dengan tahu bulat?

Stagnansi

Menurut saya karena setidaknya karena tiga alasan.

  1. Tidak adanya inovasi – menjual komoditi

Terakhir saya makan tahu bulat beberapa bulan lalu (Pipi Kentang menganggap tahu bulat adalah makanan minyak ga bergisi), rasanya masih sama dengan tahu bulat yang saya makan saat baru launching. Tahu hambar agak asin (karena saya ga pernah mau pake bubuk absurd dari abang penjualnya).

Tidak ada inovasi yang dilakukan misalnya dengan menciptakan tahu bulat mozzarella, toping kaviar, atau tahu bulat dengan siraman red wine (kalo ga ada bisa diganti topi miring). Akhirnya penjual tahu bulat jatuh pada commodity trap ala pasar persaingan sempurna. Tak ada yang membedakan penjual A dan B.

  1. Business model yang stagnan

Saat tahu bulat baru masuk ke pasar, business modelnya inovatif. Menggunakan pick up, ia menawarkan mobile store yang mampu menjangkau wilayah distribusi yang luas. Disaat tukang gorengan lain duduk manis di store, penjual tahu bulat datang menjemput bola.

Tapi setelah itu tak ada lagi. Saya belum mengenal penjual tahu bulat yang membangun brandnya, menciptakan bisnis model baru (misalnya franchise), atau melakukan product development (missal dengan frozen rounded tofu).

  1. Perang harga

Tahu bulat sempat menjadi disruptive market gorengan. Disaat bakwan atau pisang goreng berharga 1000 rupiah, tahu bulat datang dengan cost leadership: jual cukup 500 perak. Strategy ini cukup berhasil untuk menggaet kaum marjinal berpendapatan rendah seperti saya.

Tapi bagaimana selanjutnya? Disinilah penjual tahu bulat mengalami dilemma. Disatu sisi harus mempertahankan cost leadership (kenaikan harga akan membuat konsumen lari ke gorengan lain), disisi lain ia harus menerima margin yang sangat tipis.

Ditengah inflasi yang semakin meninggi, ketatnya kompetisi, dan banyaknya produk subsitusi, kemungkinan banyak penjual yang merasa bisnis tahu bulat sudah tidak feasible dan sustainable untuk dilakukan. Mereka beralih bisnis dan membuat jumlah penjual tahu bulat semakin sedikit.

Equilibrium Baru

Saya percaya apa yang terjadi pada pasar tahu bulat adalah sebuah market synchronization, seleksi alam untuk melihat penjual mana yang bisa memberikan nilai tambah.

Pada akhirnya proses ini akan menciptakan equilibrium baru yang menyeimbangkan supply terharap demand. Yang jelas sebagai pecinta gorengan, saya berharap tahu bulat jangan sampai punah atau sampai di-klaim negara tetangga hehehe.

Besok-besok jika ada bos atau pelanggan yang meminta pekerjaan dadakan diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya, cukup ajukan pertanyaan: “Emang saya jualan tahu bulat bos?”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Semakin Tinggi Gaji Kita, Semakin Tinggi Hutang Kita?

source: postimg.org
source: postimg.org

Beberapa waktu lalu saya meeting dengan salah satu perusahaan penyedia kredit tanpa agunan. Mereka beroperasi di mall-mall dan bekerja sama dengan toko-toko besar. Lewat jasa mereka, Anda bisa mendapatkan kredit dengan mudah dan membawa pulang peralatan elektronik atau rumah tangga dengan uang muka yang ringan.

Iseng-iseng saya tanya, barang apa sih yang paling diminati oleh konsumen Indonesia. Jawabannya membuat saya heran: handphone dan gadget.

Berdasarkan data mereka, masyarakat kita tergolong konsumen yang selalu up to date untuk urusan gawai elektronik. Setiap ada model baru, konsumen sudah mengantri. Handphone yang dipakai juga berganti-ganti. Kasarannya: jika Amerika baru rilis Iphone 7, konsumen kita sudah siap membeli iphone 8.

Ada dua hal yang membuat saya heran. Pertama, kenapa banyak orang mengambil kredit konsumsi dengan bunga lumayan tinggi hanya untuk sebuah gadget? Ini kredit tanpa agunan loh, risiko tinggi akan di transfer dengan cost of capital yang lebih tinggi.

Kedua, bukankah gadget canggih nan mahal bukanlah kebutuhan primer? Di zaman sekarang komunikasi memang menjadi kebutuhan utama, tapi kan bisa beli handphone second atau yang ga terlalu mahal. Toh handphone 4G sudah banyak yang dijual dengan harga terjangkau.

Logika bego saya sih, untuk apa ngutang untuk sesuatu yang ga mengancam nyawa kita. Ngutang karena kelaparan atau butuh biaya berobat masih bisa saya terima, tapi ngutang demi beli handphone???

Balapan Tikus

Saya kemudian teringat petuah Kiyosaki yang saya baca sewaktu SMA. Ia memberikan penjelasan kenapa banyak orang bergaji tinggi, tapi hutangnya lebih tinggi. Ini adalah rahasia kenapa banyak orang kaya tambah kaya, dan banyak kelas menengah tidak naik jadi orang kaya.

Contohlah si A yang baru lulus kuliah dan kemudian bekerja. Sewaktu single pendapatannya pas-pasan. Ia hidup ngekos dan naik angkutan umum. Karena rajin bekerja, ia dipromosikan jadi manajer dan mendapat gaji tinggi. Ia lalu merasa manajer takkan afdol tanpa memiliki mobil pribadi. Akhirnya ia membeli mobil dengan harapan bisa mencicil dari gaji-nya setiap bulan.

Tak lama berselang ia bertemu wanita pujaan hatinya. Mereka menikah dan memutuskan membeli rumah mungil. Sampai disini sepertinya hidup A akan bahagia selamanya. Tapi mereka lalu memiliki anak, dan rumah mungil itu sudah terlalu kecil bagi mereka.

Kabar baik, A dipromosikan jadi general manajer dan pendapatannya naik lagi. Istrinya melahirkan anak kedua. Mereka lalu menjual rumah pertama untuk uang muka rumah yang lebih besar, dan mengkredit mobil kedua untuk menunjang mobilitas istrinya yang mulai sibuk ikut arisan.

Ketika A akhirnya menjadi direktur, ia pindah ke rumah mewah yang merepresentasikan citranya sebagai orang sukses, berganti mobil sport dengan harga miliaran, dan tak lupa mengikuti kenggotaan klub golf bergengsi untuk menambah pergaulan.

Kira-kira, apakah Pak A akan pensiun dengan asset miliaran atau hutang yang belum lunas hingga ia harus memperpanjang masa pensiunnya? Eits jangan lupa, anak-anaknya mulai dewasa dan butuh biaya kuliah.

Harta belum tentu asset

Pelajaran dari cerita diatas: kita seringkali tidak bisa membedakan asset (harta) vs liabilitas (kewajiban), dan terjebak dalam balapan tikus guna melunasi hutang sepanjang hidup. Masa sih, hidup hanya bekerja mengejar gaji untuk melunasi hutang esok hari?

Seperti si A, ia terjebak untuk membeli asset yang sebenarnya adalah sebuah liabilitas. Dalam akuntansi tradisional, setiap harta adalah asset kita. Tapi tidak menurut Kiyosaki. Ia mengusulkan definisi baru: asset adalah segala sesuatu yang mendatangkan pemasukan.

Dengan definisi itu, rumah yang kita tempati bukanlah asset (karena ada biaya pemeliharaan), kecuali kita sewakan. Mobil yang kita kendarai bukanlah asset (jika hanya untuk keperluan pribadi), kecuali kita gunakan untuk taksi online.

Handphone yang kita miliki bukanlah asset (karena ada depresiasi), kecuali kita sewakan atau perjual belikan.Uang tabungan di bank bukanlah asset (karena inflasi seringkali lebih tinggi daripada bunga), kecuali kita investasikan dalam bentuk lain.

Masalahnya kita berbondong-bondong membeli liabilitas yang dibalut jubah sebuah asset. Inilah yang membuat kelas menengah tak beranjak menjadi orang kaya. Dan ini yang membuat orang kaya, menjadi semakin kaya.

Mereka tahu apa itu asset. Oleh karena itu mereka hidup sewajarnya, membelanjakan uangnya untuk pendidikan, mendirikan usaha, berani berinvestasi, memelihara kesehatan, berpikiran positif, dan terus menyebarkan kebaikan sebelum nanti berpulang kepada Tuhan.

Mereka tahu “gaya hidup” tidak akan semahal “hidup gaya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Peran Iphone dibalik Hits PPAP

Saya berani bertaruh jika mayoritas dari kita sudah melihat video PPAP.

ppapVideo 1 menit yang menampilkan seorang laki-laki dengan gaya kuning yang ngejreng berlatar background putih sedang bernyanyi tentang apple + pen, dan pineapple + pen ini berhasil menyita perhatian netizen dan telah ditonton lebih dari 5 juta dalam 2 minggu.

Demi apa, Cuma video gini doank bisa ngetop? Sedangkan youtubers lain yang sudah ngepet siang malam shooting sambil begadang edit sana pake mandi 8 kembang masih aja viewers-nya ga seberapa.

Apa rahasianya? Kenapa ada content yang mudah diingat dan menancap di kepala penontonnya?

Stickyness Factor

Chip Heath dan Dan Heath dalam Made to Stick sudah menjelaskan tentang rahasia menjadikan ide lebih mudah diingat. Kita dapat menggunakan 6 kriteria yang disebut SUCCESS.

Simple – sampaikan pesan secara sederhana

Unexpected – berikan hal yang tak terduga

Concret – gunakan pendekatan yang nyata, jangan mengawang-awang

Credible – pastikan penyebar pesan dapat dipercaya

Emotional – sisipkan aspek emosi manusia

Stories – jadikan sebuah cerita, bukan ceramah

Dalam kasus PPAP, video itu hanya memenuhi beberapa kriteria Sticky. Ia simple, hanya 1 menit. Apakah ada unexpected factor? Bisa ya bisa tidak. Awalnya saya kira akan terjadi sesuatu. Tapi overall effect surprise-nya tidak mencolok.

PPAP tidak memiliki aspek emosional yang berarti, hanya menghibur bagi sebagian orang. Ada yang merasa jengkel. PPAP Juga bukan sebuah video dengan stories yang mengalir. Mungkin ia concrete, karena menunjukkan pena, apel, dan buah nanas.

Lantas, apa yang menjadikan video ini begitu hits?

Trigger

Saya menemukan dugaan jawabannya setelah membaca buku karya murid Heath bersaudara. Mahasiswa itu, Jonah Berger, terinspirasi oleh Made to Stick lalu menulis buku berjudul Contagious. Ia penasaran dan ingin mengetahui wabah “getok tular”. Kenapa sesuatu bisa lebih mewabah dan menjadi trend.

Berdasarkan riset bertahun-tahun yang ia lakukan atas video yang lebih sering ditonton, artikel yang paling sering dibagikan, dan berbagai fenomena sosial yang menjadi trend, terdapat 6 kriteria getok tular yang efektif. Diringkas menjadi Stepps. Yaitu:

Social curreny – sebuah trend harus memiliki mata uang sosial, yang membuat penyebar pesannya memiliki nilai lebih

Trigger – tahukah Anda jika penjualan coklat Mars meningkat saat misi pathfinder NASA diluncurkan? Coba tebak kemana tujuan misi itu? Tepat sekali, planet Mars.

Emotion – Content yang paling sering dibagikan di internet bukanlah tentang kekayaan, tapi kemanusiaan.

Public – manusia akan meniru manusia lain. gagasan kita harus dibuat seumum mungkin

Practical value – berdasarkan insight dari mobile conference yang saya ikuti, 87% content yang disukai adalah content dengan nilai praktis atau “how to”. Demikian juga dengan buku non fiksi laris.

Story – manusia menceritakan cerita. Semua propaganda harus dibentuk dalam cerita.

Nah, setelah melihat 6 faktor diatas saya percaya kesuksesan PPAP ditolong oleh trigger sebuah product yang sedang booming: Iphone. Tak percaya? Mari kita lihat datanya.

Iphone dan PPAP

Lewat google trend kita bisa melihat jumlah keyword yang diketik di google, terutama youtube. Dan saat saya memasukkan keyword iphone, apple, dan ppap di Jepang (tempat video ini berasal), jawaban itu terkuak.

Highlight kuning adalah saat PPAP di launch
Highlight kuning adalah saat PPAP di launch

Saat PPAP dirilis terjadi lonjakan search untuk keyword iphone dan juga apple (yang saya highlight kuning). Mengapa? Hipotesis saya: PPAP menggunakan kata ‘apple pen’ dan men-trigger apple fansboy bertanya-tanya. Mungkinkah Apple mengeluarkan produk pen terbaru?

Para fansboy apple ini kemudian menemukan video unexpected yang diluar dugaan mereka (awalnya mengira produk apple pen dan ternyata literally benar-benar apple dan pen), lalu kemudian menyebarkannya ke orang lain.

“Hey lihat, ada ‘apple pen’ terbaru!” Disini peran social currency berperan. Anda akan dianggap keren karena update informasi tapi juga berjasa karena menyebarkan konten yang menghibur.

The rest is history. PPAP menjadi hits dan meme icon diseluruh dunia. Bagaimana dengan Indonesia? Seperti biasa, kita adalah follower. Search term PPAP baru naik beberapa hari terakhir saat di Jepang sudah menunjukkan penurunan.

baru hits beberapa hari terakhir
baru hits beberapa hari terakhir

Ya gak papa sih. At least kita ga ikut-ikutan nyari judul JAV yang ada di videotron beberapa hari yang lalu hehehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail