Category Archives: Ekonomi Bisnis

Tentang ekonomi dan Bisnis

Prosperity Paradox: Kenapa Memberikan Uang Kepada Orang Miskin Takkan Membuat Mereka Kaya

Jika Anda calon presiden dan ditantang untuk mengentaskan kemiskinan, mana yang akan Anda pilih:

  1. Memberikan setiap orang miskin uang 50 juta
  2. Memberikan insentif pajak kepada perusahaan startup

Mayoritas orang akan berpikir kemiskinan berarti tidak memiliki materi. Secara logika, cara tercepat untuk mengangkat derajat saudara missq-ueen kita adalah dengan memberikan mereka harta.

Karena itulah banyak bantuan hibah yang diberikan negara kaya. Pemerintah bahkan pernah memberikan Bantuan Langsung Tunai (sekalian buat politik). Tidak semudah itu, Ferguso.

Solusi ini ternyata tak sustainable (berkelanjutan). Kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan bukan hanya tentang kepemilikan kekayaan.

Contohnya Afghanistan. Pemerintah AS menggelontorkan 1 milliar dollar untuk pembangunan pendidikan dan kesehatan yang pada akhirnya menghasilkan 1.100 gedung kosong. Atau kasus di Afrika seperti Tanzania. Mereka menerima hibah 200 juta dollar untuk pembangunan industry kertas yang ternyata tidak bisa mereka kelola dan hanya menghasilan “pabrik proyek”.

Bahkan penelitian dari Hankins et al (2011) menunjukkan jika orang miskin yang menang lotre akan kembali bangkrut dalam waktu kurang dari 5 tahun!

Clayton Christensen dalam karya terbarunya, Prosperity Paradox: How Innovation can lift nations Out of poverty (2019) menyoroti hal ini.

Menurut professor Harvard ini, bantuan uang, asset, atau infrastruktur, takkan berguna jika tidak disertai oleh satu hal: market driven innovation. Inovasi berbasis pasar.

boston.carpe-diem.events.

Seperti kepercayaan kapitalis lainnya: Untuk menciptakan kesejahteraan, harus ada pasar penciptaan nilai. Inovasi berbasis nilai dipercaya akan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan kemakmuran.

Menggunakan study case dari berbagai negara Afrika, Asia, dan Amerika, Christensen menunjukkan kesaktian ‘inovasi pasar’. Bahkan thesisnya sangat “unik”:

“It may sound counterintuitive, but our research suggests that enduring prosperity for many countries will not come from fixing poverty. It will come from investing in innovations that create new markets within these countries”.

Dia membagi strategi pengentasan kemiskinan menjadi dua cara: push and pull.

Push lebih bersifat eksternal. Dimana ada negara Al-Tajirun yang menggelontorkan hibah proyek ke negara miskin dalam bentuk “hard assets”.

Sedangkan pull berarti dari dalam. Inilah peran masyarakat (jangan bergantung ama pemerintah!) untuk menciptakan inovasi berbasis nilai yang pada ujungnya mampu melayani kebutuhan pasar.

Korea yang pernah jadi negara yang sama miskin-nya dengan Indonesia, mampu bangkit dengan mendorong industry berbasis inovasi. Demikian juga dengan Amerika di abad 19. Atau Jepang setelah perang dunia kedua.

Ga ada dari negara negara kaya ini yang mencari pesugihan atau melihara babi ngepet. Semuanya bekerja keras dan berinovasi.

Setelah membaca buku yang sangat enak dibaca ini, saya belajar dua hal:

#1 Kemakmuran bukan hanya soal seberapa banyak uang yang kita miliki

#2 Jika kita miskin dan ingin makmur? Ya kita harus berinovasi dan menciptakan value added

Dan itu berarti berhenti menggantungkan nasib kita ke pihak ketiga bernama pemerintah.

Pasrahkan hidupmu hanya kepada Tuhan, dan ciptakan nilai tambah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Prosperity Paradox: Kenapa Memberikan Uang Kepada Orang Miskin Takkan Membuat Mereka Kaya

Jika Anda calon presiden dan ditantang untuk mengentaskan kemiskinan, mana yang akan Anda pilih:

  1. Memberikan setiap orang miskin uang 50 juta
  2. Memberikan insentif pajak kepada sperusahaan startup

Mayoritas orang akan berpikir kemiskinan berarti tidak memiliki materi. Berarti secara logika, cara tercepat untuk mengangkat derajat saudara missqueen kita adalah dengan memberikan mereka harta.

Karena itulah banyak bantuan hibah yang diberikan negara kaya. Pemerintah bahkan pernah memberikan Bantuan Langsung Tunai (sekalian buat pencitraan). Tapi solusi ini ternyata tak sustainable (berkelanjutan).

Tidak semudah itu, Ferguso. Kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan bukan hanya tentang kepemilikan kekayaan.

Contohnya Afghanistan. Pemerintah AS menggelontorkan 1 milliar dollar untuk pembangunan pendidikan dan kesehatan yang pada akhirnya menghasilkan 1.100 gedung kosong. Atau kasus di Afrika seperti Tanzania. Mereka menerima hibah 200 juta dollar untuk pembangunan industry kertas yang ternyata tidak bisa mereka kelola dan hanya menghasilan “pabrik proyek”.

Clayton Christensen dalam karya terbarunya, Prosperity Paradox: How Innovation can lift nations Out of poverty (2019) menyoroti hal ini.

Menurut professor Harvard ini, bantuan uang, asset, atau infrastruktur, takkan berguna jika tidak disertai oleh satu hal: market driven innovation. Inovasi berbasis pasar.

Seperti kepercayaan kapitalis lainnya: Untuk menciptakan kesejahteraan, harus ada pasar penciptaan nilai. Inovasi berbasis nilai dipercaya akan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan kemakmuran.

Menggunakan study case dari berbagai negara Afrika, Asia, dan Amerika, Christensen menunjukkan kesaktian ‘inovasi pasar’. Bahkan thesisnya sangat “unik”:

“It may sound counterintuitive, but our research suggests that enduring prosperity for many countries will not come from fixing poverty. It will come from investing in innovations that create new markets within these countries”.

Jepang dan Korea yang pernah jadi negara yang sama miskin-nya dengan Indonesia, mampu bangkit dengan mendorong industry berbasis inovasi.

Setelah membaca buku yang sangat enak dibaca ini, saya belajar dua hal:

#1 Kemakmuran bukan hanya soal seberapa banyak uang yang kita miliki.

#2 Jika kita miskin dan ingin kaya, ya kita harus berinovasi dan menciptakan nilai tambah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

OKR

OKR

Apa hubungan tahun baru dengan rahasia organisasi-organisasi kelas dunia?

Tahun baru identik dengan resolusi baru. Dan ternyata mayoritas organisasi hebat pasti punya “resolusi” yang jelas.

Berbeda dengan kita yang biasanya punya resolusi tinggi tapi mimpi (saya ingin langsing contohnya!), organisasi hebat macam Google, Intel, atau Microsoft punya tujuan yang jelas dan terperinci.

Mereka memiliki framework yang lebih dari sekedar resolusi tanpa arti.

Mayoritas organisasi kelas dunia memiliki OKR.

Makhluk apakah itu OKR?

OKR adalah singkatan dari Objective and Key Result.

Berarti tujuan yang ingin kita capai, dan indicator pencapaiannya.

Diciptakan oleh bos Intel, Andy Groove pada tahun 70-an dan dipopulerkan oleh John Doerr.

Konsep ini lalu diperkenalkan John Doerr ke Google yang membuat mereka mampu menciptakan strategi hyper growth yang luar biasa. Bahkan semua Googler (pegawai Google) dipaksa untuk menuliskan OKR pribadi untuk di share ke tim-nya.

Kenapa OKR bisa berdampak signifikan?

Karena OKR akan berfungsi sebagai kompas.

Ia akan memandu kita ke tujuan dan memberi tahu jika tujuan itu sudah/belum tercapai. Tanpa OKR kita hanya melakukan rutinitas biasa tanpa kejelasan kemana kita bergerak.

Menurut Doerr, OKR yang baik harus signifikan, konkret, action oriented, dan inspirasional. Dalam artian OKR itu harus menarik untuk dituju dan punya ukuran/metrix yang jelas.

Kita ambil contoh visi/misi capres 2019.

“Terwujudnya Indonesia Maju/Adil, Makmur, Bermartabat” bukanlah contoh OKR yang baik.

Tujuan itu mungkin terdengar gagah dan keren. Tapi terlalu mengawang-awang dan kurang jelas ukuran pencapaiannya.

“Menjadi negara sejahtera dengan pendapatan per kapita $4.000” jauh lebih gampang diukur. Jika pada akhir masa jabatan pendapatan per kapita masih $3.999 maka presiden itu belum mencapai tujuan.

Karena menurut Andy Groove, indikator OKR harus bisa diukur dengan “Ya atau Tidak”.

Untuk itulah ada “color grading checklist”. Untuk mengevaluasi kinerja kita selama periode tertentu. Hijau jika kita sudah 80-100% dari target, kuning jika 50-79%, dan merah jika dibawah 49%.

Tapi tentu yang lebih penting dari sekedar penetapan tujuan dan penciptaan strategi adalah: eksekusi.

Strategi terbaik adalah strategi yang benar-benar kita jalani.

Just do it.

Selamat mencapai OKR 2019!

source: HotPMO
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Banyak Orang Meminjam Kredit Online?

Minggu lalu saya mengikuti acara sosialisasi peraturan OJK. Dalam acara itu saya bertemu dengan banyak penggiat fintech dan kebanyakan berbentuk kredit online atau berbasis P2P (peer to peer).

Dari hasil ngobrol-ngobrol saya terbelalak kaget dengan bocoran angka yang mereka punya.

Salah satu fintech pelopor “kredit online” memberikan bisikan:

Ada belasan ribu debitur yang rela meminjam dengan bunga hampir 1% per hari! Bahkan disburstment mereka sudah sampai ratusan milyar dan ada nasabah yang rajin meminjam sampai 16 kali cycle!

Bunga 1% per hari cuk! Meskipun jika kita meminjam 2 juta, 1% hanya Rp 20.000. Tapi seriously?!?

Disini saya belum berbicara riba, tapi secara logika, kenapa ada orang yang rela meminjam 1% per hari?

Setelah mengulik lebih dalam, saya sampai pada beberapa hipotesa. Alasan mengapa ada orang yang rela membayar pinjaman 1% per hari.

Awalnya saya kira lebih karena factor sosio-ekonomi.

Logika saya, para peminjam online ini adalah orang-orang yang tak tersentuh bank, ga punya kartu kredit, berpenghasilan rendah, karena kepepet dan ga bisa minjem kemana-mana.

Apakah seperti itu sodara-sodara?

SALAH!!!

“Ada debitur kita yang kerja di law firm. Punya 2 kartu kredit, gajinya 14 juta”.

Karena si fintech juga ga bego. Mereka ga akan memberikan kredit kepada debitur miss queen yang bakal megap-megap untuk bayar pinjamannya (kredit macet mereka rendah karena menggunakan machine learning dan social media profiling).

Lha terus kenapa masih ada orang meminjam dengan bunga yang gila?

Konsumtif

Untungnya dalam obrolan kami ada founder fintech lain yang mencoba menjelaskan kepada saya. Kenapa ada orang yang “berbaik hati” membayar bunga 1% per hari.

Setidaknya karena dua alasan.

Pertama soal perilaku konsumtif.

Banyak orang meminjam kredit online, sebenarnya hanya untuk membeli barang-barang sekunder. Bukan kebutuhan utama.

Contohnya si karyawan law firm tadi.

Ternyata ada semacam “social rule” dimana untuk bisa bergaul dengan golongan social tertentu, kita harus memiliki barang dengan merek-merek tertentu.

Dalam hal ini, merujuk ke baju, gadget, dan prilaku jajan yang ga murah.

Logika yang dipakai: penampilan akan menunjang kesuksesan. Semakin Anda terlihat sukses, maka semakin besar peluang Anda mendapat klien atau naik jabatan.

Karena itulah si karyawan law firm punya 2 kartu kredit dan semuanya sudah over limit.

(Tapi ada juga peminjam yang ngutang karena kepepet. Misal: ga punya uang makan di akhir bulan)

Alasan kedua, banyak orang yang belum mendapatkan Pendidikan finansial dasar.

Pendidikan finansial ini bukan berarti certified wealth management atau semacamnya, tapi pengelolaan keuangan tingkat dasar.

Se-simple jika pendapatan saya 100, berapa % untuk konsumsi, berapa % untuk dana cadangan, berapa % untuk tabungan atau investasi?

Orang tanpa Pendidikan finansial akan mengiyakan pengajuan kredit selama ia merasa mampu membayar cicilannya yang biasanya mereka anggap ringan.

“Oh Cuma 300rb”.

“Nanti gajian juga lunas”.

“Ah yang penting kebeli sekarang. Bayar dipikir belakangan”

Banyak orang yang belum sadar “kesaktian” konsep time value of money dan “cost of capital”.

Intinya, berhati-hatilah terhadap rayuan “kredit mudah”.

Karena yang mudah, biasanya tidak murah.

Waspadalah! Waspadalah!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cerita Rahasia Selama di AirAsia

Tak terasa sudah 4 tahun saya “belajar” di AirAsia (ga pake spasi “Air Asia” ya!), banyak cerita yang saya alami. Sekarang, di last day saya nongkrong disini, ada 4 cerita yang harus saya bocorkan, sekalian iklan lowongan haha.

Tentang ID90: Rahasia jalan-jalan hemat

Di AirAsia setiap allstars (sebutan untuk staff) pasti mendapat benefit ID90. Apa itu? ID90 berarti diskon 90% dengan menunjukkan ID karyawan dan keluarga intinya. Ga salah lihat? Iya beneran 90%! Kesemua rute! Ini yang membuat saya males check-in di socmed kalau sedang di bandara. Lha wong hampir setiap minggu!.

Dengan ID90 ini kamu bisa ke Bali/Jogja/Surabaya pp Cuma 300rban. Atau ke Singapura/KL/Bangkok pp sekitar 700-900rb an. Selain itu kita juga dapat jatah coupon 16 point. Untuk penerbangan dibawah 4 jam, biayanya 1 point, sedangkan diatas 4 jam, ongkosnya 2 point. 16 point berarti saya bisa pulang pergi Jakarta-Tokyo 8x setahun secara gratis!

Dan nikmat tiket mana yang engkau dustakan?

Tentang Duty Travel: Kerja Sambil Jalan-jalan

Duty travel artinya perjalanan dinas. Tapi berbeda dengan perjalanan dinas PNS yang biasanya nyaman dan penuh rombongan, duty travel di AirAsia sangat efisien. Klo bisa pulang tektok, ga usah nginep hotel (saya sering ke SIN atau KL dateng pagi pulang malam). Klo cukup sendiri, ga perlu ngajak orang lain.

Total saya sudah duty travel sekitar 300 kali, menginap di hotel 90 hari, dan bisa halan-halan gratis ke 8 negara. Duty travel pertama: 3 hari setelah masuk kerja. Saat itu ada konferensi pariwisata di Singapura.

Duty travel “paling sengsara”: Kunming, Tiongkok. Saya pergi sama Bayu. Anak sales yang baru pertama kali keluar negeri. Sengsaranya gimana?

Waktu kita landing ke Kunming, karena ga bisa bahasa China and Ibu-ibu driver taksinya ga bisa bahasa Inggris, kita Cuma nunjukin brosur tempat event-nya. Ibu-nya langsung tancap gas dan membawa kita ke pinggir kota.

Karena su’udzon, saya iseng-iseng cek google maps (pake roaming karena google di blokir). Wah koq kita diarahin ke tanah kosong antah berantah? Langsung saya minta driver untuk putar balik dan menunjukkan lokasi Gmaps. Setelah ngobrol pake bahasa tarzan, akhirnya kami diantar ke tujuan sesuai Gmaps.

And ternyata dong, kita salah alamat! Kami menunjukkan exhibition center yang lama, sedangkan acara kami harusnya di exhibition center tempat baru. Jadi karena Google ga update di China, “area kosong” di peta sekarang sudah berubah jadi exhibition center kelas dunia. Dan berarti awalnya Ibu taksi udah bener!.

Penderitaan belum berakhir sodara-sodara! Setelah nyegat taksi lagi dan berhasil sampai di tempat pameran untuk registrasi, waktunya check in ke hotel. Tapi naik apa? Rata-rata orang bawa mobil, taksi yang lewat semuanya penuh, mau install uber/Didi ga bisa verifikasi.

Akhirnya kami jalan kaki 2 km sampai nemu halte bis. Karena ga tau rute dan semua pake bahasa Sun Go Kong, kami asal naik. Eh malah kesasar and ga nyampe-nyampe! Karena lelah, kita putuskan turun dan alhamdulilah ada taksi lewat.

Besoknya, karena trauma ribet pulang, kami sepakat menggunakan layanan bike-sharing. Cuma modal aplikasi dengan biaya 1 yuan. Akhirnya kami ngontel 10 km untuk pulang setiap hari. Lumayan olahraga.

Urusan makan juga gitu. Karena takut ga halal, saya putuskan Cuma makan telur rebus. Jadinya setiap sarapan saya makan 8 butir telur sekalian untuk makan siang dan makan malam. Waktu di kamar, tiba-tiba tercium bau telur.

“Sorry gw kentut ya Bay..”

Tentang Tulisan viral ke Tony Fernandez

Waktu itu facebook baru meluncurkan aplikasi untuk korporat bernama workplace. Ini semacam jaringan komunikasi internal. Dengan workplace, AirAsia ingin membuat komunikasi antar departemen lebih cair, dan interaksi antar allstars lebih hidup.

Nah, waktu sosialisasi, ada utusan dari KL yang buka booth. Kita dapat merchandise kalau install, register, dan upload foto profil pake foto yang keliatan mukanya. Ga boleh pake foto artis bokep atau hewan lagi selfie. Terus saya penasaran, “Kenapa harus pake profil picture?”

“Because Tony said so…”

What a stu**d reason. Karena prinsip saya: kita harus melakukan sesuatu karena hal itu baik bagi organisasi, bukan karena disuruh atasan.

Udah deh, saya bikin tulisan yang mengkritisi budaya “boss said” ini. Judulnya “Tony said” dan saya posting di Workplace. Langsung meledak. Bos saya yang lagi regional meeting di Bangkok harus menjelaskan “emang Yoga anaknya kaya gitu” ke team regional. Saya juga jadi berdebat ama Tony di workplace soal budaya ini.

Tapi banyak juga yang memuji. Commercial director China langsung merepost-nya dan memposting ke group manajemen. Director commercial regional langsung men-japri dan memberika assurance “you can talk to me directly”.

Saya jadi terkenal. Ada bule  regional yang tiba-tiba ngajak selfie waktu dia meeting di Jakarta.

“So this is famous Yoga!”. Yo wes, intinya saya ga jadi dipecat haha.

Tentang Baju ihram Untuk ke party

Terakhir cerita soal baju. Di AirAsia tak ada seragam (untuk back office), karena itu saya lebih memilih kaos dan celana jeans. Sebenarnya ada “dress code”. Senin warna putih, selasa batik, jumat merah, dll tapi saya ga pernah ngikutin hehe.

Bahkan saya pernah pakai baju gamis yang bikin kaget orang sekantor. Tapi yang bikin heboh saat annual party 2017 lalu. Seperti biasa, ada kontes berhadiah jutaan rupiah. Sempat terpikir untuk sewa kostum. Setelah menghitung probabilitas dan return on investment (membandingkan kemungkinan menang, sewa, dan hadiah), ternyata cukup masuk akal juga.

Masalahnya, kostum yang saya inginkan sudah out of stock semua (karena last minute). Terus kira-kira kostum apa ya yang unik?

Karena temanya Wonderland dan waktu itu saya sedang baca buku tentang Holy Land (Yerussalem), pagi-pagi kepikir: kenapa ga pake baju ihram aja ya? Toh ongkosnya nol karena sudah ada.

Jadilah ada penampakan manasik haji di salah tempat nongkrong di daerah SCBD. Siapa tau ada yang mau mabok jadi insyaf, yg mau zinah jadi tobat, dan yang mau makan jadi kenyang (ya kali). Alhamdulilahnya, saya terpilih jadi top 10 best costumer dan dapat duit beberapa juta! Yey, alhamdulilah.

(Ga usah pake gambar biar ga dikira melecehkan ya!)

*********

Yang paling bakal saya kangenin ya orang-orang keren didalamnya. Disini lingkungannya fun, terbuka, dan banyak orang pinter buat tempat belajar. Saya ga mungkin lupa saat abis kemalingan. Teman-teman langsung patungan untuk memberikan HP dan uang santunan. Makasih banyak ya guys!.

Mau gabung kesini? Yuk apply mumpung ada lowongan. Kalo kamu marketer gaul yang ngerti marketing strategy, digital, data analytic, punya leadership dan suka mbolang keliling dunia, coba aja daftar. Dijamin ga bakal nyesel hehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apa yang Terjadi Jika Kita Menguasai Data Orang di Facebook?

https://timedotcom.files.wordpress.com/2016/01/facebook-logo-002.jpgDunia dihebohkan dengan kebocoran data facebook. Ga tanggung-tanggung man, 87 juta data bocor dan digunakan untuk kepentingan orang ketiga. Eh, emangnya siapa yang selingkuh?

Bocor ban bisa ditambal, bocor genteng bisa dipakein No Drop, bocor kepala bisa berdarah (jelas lah..).

Lha ini yang bocor adalah data pengguna facebook yang notabene-nya sangat mementingkan privasi. Pasar modal langsung merespons dengan penurunan saham yang membuat kekayaan kawan lama saya, Mark Zuckerberg, berkurang 4,9 miliar dollar[1].

Kawan lama maksudnya: kalo saya ketemu Mark Zuckerberg, dia akan berpikir lamaaaaaaaaa banget mencoba mencari saya di ingatan kawan-kawannya. Karena capek, akhirnya dia sadar kalo kita memang belum pernah bertemu hehehe.

Saya tidak akan menyinggung kasus Cambridge Analytica. Silahkan baca di forum-forum BB21+. Cerita singkat yang saya tahu: ada aplikasi yang tujuan awalnya untuk riset prilaku digital. Aplikasi ini justru bisa mengakses data teman dari orang yang menjadi responden. Data ini dipakai untuk kampanye capres.

Yang lebih ingin saya tulis adalah, se-powerfull apa sih facebook? Apa yang terjadi jika kita curhat, pamer foto, dan bikin status alay di facebook? Dan seperti judul artikel ga penting tapi enak dibaca ini: apa yang bisa kita lakukan jika menguasai data di facebook?

Facebook is not social media, it’s social advertisement

Harus diakui, facebook adalah salah satu sosial media paling populer di planet ini. Tercatat memiliki 2,13 miliar pengguna aktif. Ada 300 juta foto baru yang di upload setiap hari, dan setiap detik, ada 5 akun baru mendaftar[2].

Dulu waktu awal-awal kemunculan facebook tahun 2007, saya masih belum mengerti dari mana mereka dapat uang. Saya pikir facebook adalah social media yang memberikan jasa gratisan dan tidak menghasilkan keuntungan.

Sekarang kantor saya membayar jutaan dollar untuk beriklan di facebook. Salah satu kerjaan saya adalah bikin iklan di facebook. Sampai banyak orang yang dibayar hanya untuk fesbukan sambil nyambi jadi admin page/brand tertentu.

Emang sesakti itukah facebook?

Jujur saja, iya. Facebook adalah salah satu media iklan terbaik. Sangat efektif dan efisien untuk berjualan dengan return of marketing investment yang cucok meong endang mbambang.

Kenapa facebook bisa menjadi media iklan yang sangat efektif?

Karena mereka memiliki data personal user-nya.

Ya data-data kita ini. Yang kita isi-isi sendiri lewat status, foto, click, like, comment, atau interaksi digital lainnya.

Facebook tahu mood kita, kadar ke-alay-an kita, hobi kita, lokasi kita, apa yang kita sukai, karakteristik teman-teman kita, sampai konten-konten yang sering kita konsumsi (biasakan clear history browser ya guys!). Pokoknya semua aktivitas kita akan di simpan oleh facebook untuk di formulasi dan pada akhirnya di monetisasi kepada pengiklan.

Tujuan facebook sangat mulia: bagaimana mengirimkan pesan (iklan) yang tepat kepada orang yang tepat (calon pembeli).

Karena itulah yang doyan buka situs e-commerce akan ngelihat iklan2 e-commerce, atau yang suka traveling akan sering melihat promo maskapai (btw AirAsia ke Jepang pp Cuma 1,6 juta!). Algoritma facebook akan tahu jika kita adalah lelaki, maka probabilitas melihat iklan pembalut adalah 0,0001%.

Kabar baiknya, apapun jenis bisnisnya, kita bisa menggunakan facebook untuk berjualan.

Misalnya Anda berbisnis “rendang crispy”. Udah ga zamannya lagi bawa rendang di jok sepeda motor, lalu muter-muter keliling kota sambil teriak-teriak “Rendang Crispyyy… Selalu di hatiiiii”. Itu marketing jaman old, yu now.

Cukup duduk manis didepan laptop, lalu buat business account di facebook. Setelah itu bikin iklan dengan gambar menarik. Targetkan ke orang di daerah pasar potential yang punya interest topic yang relevan seperti food, rendang, Indonesian food, dan sebagainya.

Anda Cuma perlu membayar biaya iklan yang tidak terlalu mahal (dihitung per CPM – cost per 1000 impression iklan tayang) dan biarkan algoritma facebook pixel yang bekerja mencarikan pembeli potensial.

Data mining is gold mining

Kembali ke pertanyaan judul, apa yang terjadi jika kita memiliki data-data pengguna facebook?

Seharusnya Anda akan jadi kaya, sangat-sangat kaya. Tentu jika tahu cara menggunakannya. Seperti kasus kampanye presiden di Amrik, pemilik data-data itu bisa menciptakan komunikasi yang relevan sesuai karakteristik orang yang ingin di target.

Ibaratnya mau PeDeKaTe ke lawan jenis, mengetahui data-data gebetan kita akan meningkatkan success rate untuk membuat si dia terkesan. Jika tahu si doi weton-nya kliwon dan sukanya di air, kita bisa langsung mengajaknya jalan-jalan ke Pantai dan bukan ke mall.

Karena sekarang adalah zaman informasi, maka data memegang peranan kunci. Memiliki akses ke data jutaan orang sama dengan nelayan yang memiliki peta pergerakan ikan dibawah laut. Ia bisa tahu harus menangkap ikan yang mana, kapan, dimana, dan umpan apa yang harus dipakai dan disukai si ikan.

Seperti pesan bang Napoleon Bonaparte: war is 99% information. Semakin banyak informasi yang Anda expose di facebook, semakin banyak analytics yang mereka dapat yang pada akhirnya membantu pengiklan seperti saya untuk berjualan.

Karena itulah sekarang saya jarang mengupdate status atau pamer foto hehehe.

Reference:

[1] http://www.scmp.com/news/world/united-states-canada/article/2137935/facebook-falls-pressure-mounts-zuckerberg-over-data

[2] https://zephoria.com/top-15-valuable-facebook-statistics/

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Horizon

Saya bertanya ke teman sekaligus mentor untuk urusan investasi. Bagaimana sih cara membuat investment plan yang baik? Jawabannya ternyata sangat sederhana:

“Analisa makro ekonominya. Kira-kira apa industry yang akan booming tahun depan, lihat valuasinya sekarang. Lu harus invest untuk beberapa tahun kedepan. Kalo masuk di industry yang booming tahun ini, udah telat. Harga udah naik”.

Saya tersadar. Kuncinya ada di time horizon. Sejauh mana kita bisa memandang masa depan.

Kualitas seorang pemimpin, inovator, atau investor diukur dari dari kemampuan melihat masa depan yang belum dilihat semua orang. Karena para innovator dan investor hebat, hidup dengan horizon yang panjang.

Meskipun definisi “masa depan” bisa sangat bervariasi.

Bagi politikus, masa depan berarti 5 tahun lagi. Seorang pengusaha mungkin menganggap masa depan berarti keadaan 10 tahun lagi. Menurut filsuf, masa depan berarti 100 tahun nanti. Sedangkan bagi spekulan, masa depan adalah apa yang terjadi 1 jam kedepan.

Melihat dan Berbuat

Ini berbeda dengan “budaya instant” yang menyerang masyarakat kita. Semuanya ingin serba cepat. Cepat kaya, cepat sehat, cepat pintar. Kita sering lupa orang yang kita lihat sukses sekarang, adalah orang yang bekerja sangat keras 10 tahun lalu.

Tak berhenti hanya melihat, innovator dan investor hebat  melakukan tindakan untuk mempersiapkan masa depan. Karena mampu melihat masa depan tanpa melakukan tindakan sama dengan melihat cewek cantik/cowok ganteng tapi ga berani berkenalan. Hasilnya kita tetap jomblo.

Ini yang membuat organisasi kelas dunia berinvestasi di teknologi yang masih belum jelas masa depannya. Karena mereka mempunyai horizon 20 hingga 50 tahun lagi.

Saat perusahaan migas kita masih meributkan harga BBM, perusahaan migas dunia terus mengembangkan energi terbarukan. Saat kita mewacanakan mobil nasional, Google dan Tesla sedang getol-getolnya riset tentang self driving car. Saat kita berdebat soal reklamasi, SpaceX sudah berambisi menciptakan koloni di luar angkasa nanti.

Jika kita tertinggal jauh dibelakang, apa yang bisa kita lakukan?

Satu-satunya cara mengejar ketertinggalan adalah bukan dengan mengikuti resep sukses yang terjadi saat ini, tapi melakukan quantum leap: memikirkan apa yang terjadi 10 tahun lagi dan mempersiapkannya dari sekarang.

Ini seperti pesan Jack Ma di World Economic Forum.

“If you want to be successful tomorrow, it’s impossible

If you want to be successful next year, it’s impossible

But if you want to be suceessful in the next 10 years, you have a chance.

Let’s compete for 10 years later. (You have to say): This is what I do believe in the next 10 years, and everything I do is for achieving that goal”.

Pelajarannya? Expand our vision, see longer horizon, and the most important thing: do the action.

https://cdn.pixabay.com/photo/2017/07/31/21/45/sea-2561397_960_720.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ignoramus: Kenapa ketidaktahuan lebih penting dari pengetahuan

Saat menjalani sidang doctor untuk menguji disertasinya, Andi Hakim Nasution (mantan rektor IPB) mendapat pertanyaan aneh dari seorang dewan penguji.

Secara tiba-tiba sang penguji bertanya tentang penyakit yang menyerang hewan tertentu. Ia sempat berpikir, “Mengapa dia bertanya tentang ini? Dan apa pula subyek yang ditanyakannya?” sambil memikirkan istilah asing yang ditanyakan dosen pengujinya.

Setelah merenung, dengan berat hati, calon doktor tadi menghela nafas dan berkata, “Maaf, saya tidak tahu…”.

Mendengar jawaban itu, tiba-tiba sang penguji merasa lega. Ia tersenyum dan memandang dengan puas melihat mahasiswanya tidak dapat menjawab pertanyaan yang ia berikan.

Calon doktor statistika eksperimental itu tertunduk lesu. Perjuangan riset bertahun-tahun bisa saja hancur karena sebuah pertanyaan istilah asing yang ia sendiri baru pertama kali mendengarnya. Tapi ternyata dia diumumkan lulus!

Saat berjabat tangan, dia bertanya kepada dosen penguji tadi.

“Apa jawaban dari pertanyaan yang Anda tanyakan?” tanyanya penasaran.

“Saya tidak tahu”, jawab sang penguji tersenyum.

“Pardon me… Maaf…”

“Iya, itu jawabannya. Saya sendiri tidak tahu jawabannya. Saya menanyakan hal yang sebenarnya tidak ada. Anda sudah menjawab semua pertanyaan kami dengan saat baik saat ujian. Tapi disitulah masalahnya. Kita sebagai ilmuwan terkadang harus mengetahui ada hal-hal yang tidak bisa kita ketahui. Saya ingin Anda belajar hal tersebut”.

Cerita yang saya ambil dari buku lawas “Pola Induksi Seorang Eksperimentalis” itu menegaskan sebuah pelajaran: ketidaktahuan lebih penting dari pengetahuan.

Hal ini menjadi relevan karena manusia modern begitu mengagungkan kalimat “pengetahuan adalah kekuatan”, sehingga kita seringkali tidak mau mengakui ketidaktahuan kita sendiri.

Lihatlah saat netizen berusaha berdebat tentang topic yang tidak ia kuasai, calon pegawai yang berusaha membuat pewawancaranya terkesan, atau anggota dewan yang ingin terlihat hebat didepan rakyat. Semuanya berusaha terlihat “Maha Tahu”.

Kita seringkali lupa dan tidak mau mengakui jika sumber pengetahuan sesungguhnya ada pada ketidaktahuan. Karena seorang ilmuwan pada dasarnya adalah seorang ignoramus: orang yang tidak tahu.

Perbedaan ilmuwan dan orang biasa ada pada langkah selanjutnya: apakah dia itu mau jujur mengakui ketidaktahuannya? Maukah ia mencari pengetahuan baru untuk menjawab ketidaktahuan itu?

Menerapkan pola pikir seorang ignoramus, berarti kita harus merayakan ketidaktahuan.

Ketidaktahuan adalah tanda jika masih banyak pelajaran yang bisa kita temukan. Tak perlu malu dan menutup-nutupi. Kita hanya perlu jujur pada diri sendiri: masih banyak yang harus kita pelajari.

Jika pengetahuan adalah kekuatan, maka ketidaktahuan adalah ibu dari pengetahuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#96 Fallacy of single cause: Kenapa kita harus berpikir multi dimensi

Kenapa banyak perusahaan ritel yang tutup?

Pertanyaan diatas sempat menjadi perbincangan hangat netizen beberapa waktu lalu. Banyak pihak yang berkomentar dan memberikan analisisnya.

Sebagian pengamat menyoroti shifting perilaku belanja masyarakat yang berpindah ke online. Ada pengamat yang menyalahkan lesunya daya beli masyarakat. Ada juga yang menyoroti inefisiensi peritel dalam melakukan ekspansi.

Mana yang benar? Semuanya bisa benar. Yang jelas, hanya “menyalahkan satu factor” dapat menyebabkan kita terperangkap dalam fallacy of single cause. Kecenderungan untuk menyederhanakan permasalahan.

Karena pada kenyataannya, masalah yang terjadi cenderung kompleks dan multi dimensi. Penutupan gerai pada perusahaan A bisa memiliki motif yang berbeda dengan penutupan gerai perusahaan B.

Hampir sama dengan pertanyaan: “Kenapa Jakarta sering banjir?”. Hanya menyebut “buruknya drainase” takkan menyelesaikan masalah karena masih ada aspek tata kota, perilaku warga, dan infrastruktur social yang sudah sangat padat ditengah lahan yang sempit.

Otak kita menyukai “single cause reasoning” karena lebih sederhana dan mudah dimengerti.

Kenapa ada krisis 1998? Jawaban single reasoning-nya: Karena ulah spekulan valas yang menghajar nilai tukar rupiah. Padahal masih ada permasalahan politik dan social yang membuat krisis tahun 98 mampu melahirkan reformasi.

Kenapa banyak koruptor di Indonesia? Jawaban gampangnya: karena banyak pejabat korup. Padahal ada aspek lemahnya pengawasan hukum, berbelitnya sistem birokrasi, dan juga sistem meritokrasi yang masih berjalan setengah hati.

Point-nya: biasakan untuk berpikir multi dimensi dan jangan hanya melihat dari satu sisi.

Contohnya jika Anda adalah seorang CEO yang baru saja meluncurkan produk baru. Setelah satu bulan, produk itu tidak laku. Apakah Anda akan menyalahkan tim marketing karena gagal mencapai target penjualan?

Sadarlah tentang jebakan fallacy of single cause. Duduk dengan tim Anda dan rincikan semua factor yang menyebabkan produk itu tidak terserap oleh pasar. Bisa promosi yang kurang, feature yang kurang greget, user interface yang membingungkan, dan lain-lain.

Rinci semua factor, dan bagi kedalam dua jenis: yang bisa kita ubah (harga, design, promosi, dll) dan yang tidak bisa kita ubah (kondisi ekonomi, nilai tukar, dll). Setelah itu lakukan test dengan merubah factor-faktor yang bisa mempengaruhi pembelian. Misal: mengubah harga, mengubah metode marketing, mengubah design produk, dll.

Jangan terjebak dengan mindset yang meminjam istilah filsuf Herbert Marcuse: one dimensional man. Kebiasaan hanya melihat satu sisi akan membuat Anda jadi kaum sumbu pendek yang ngamuk jika orang lain bilang bumi itu bulat.

Percayalah jika tidak pernah ada penyebab tunggal dalam setiap fenomena yang terjadi.

http://www.chronicle.com//img/photos/biz/photo_2914_landscape_650x433.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#93 Social Labeling bias: Kenapa kita suka mengkafirkan orang lain

Misalnya ada dua tempat duduk yang kosong. Anda bisa duduk disamping mas-mas berseragam polisi, atau duduk disamping lelaki sangar dengan tubuh penuh tato dan tindik yang menyeramkan. Mana yang akan Anda pilih?

Kita pasti akan menduga orang yang memakai baju polisi adalah polisi yang bertugas, sedangkan abang-abang bertato dengan tampang sangar adalah preman. Padahal bisa saja orang yang memakai baju polisi adalah penipu, dan si preman ternyata intel polisi yang menyamar.

Percaya atau tidak, secara bawah sadar otak kita akan memberikan label kepada orang lain. Proses pemberian label ini bisa terjadi dalam sekejapan mata atau dalam hitungan detik. Kita membutuhkannya untuk menganalisa kondisi dan mengidentifikasi adanya bahaya.

Berpapasan dengan orang yang membawa senjata akan meningkatkan kewaspadaan, sedangkan berpapasan dengan nenek tua akan menurunkan kecemasan kita akan bahaya. Padahal bisa saja sang nenek adalah pembunuh bayaran terlatih sedangkan pembawa senjata adalah pecinta olahraga air soft gun biasa.

Masalahnya, informasi yang kita terima sering kali tidak lengkap, dan ada informasi yang tidak kita ketahui. Bahasa gaulnya, ada assymetric information yang terjadi. Kita tidak tahu apa yang mereka ketahui, dan sebaliknya, mereka tidak merasakan apa yang kita rasakan.

Inilah yang membuat kita sering men-judge orang lain yang tidak sealiran dengan kita adalah salah, dan kita selalu merasa paling benar. Padahal bisa saja ada informasi yang belum kita ketahui. Kalau kata psikolog Joseph Luft dan Harrington Ingham (penemu Johari window), ada “façade information” antara kita dan orang lain. Hijab yang menutupi pengetahuan kita dan mereka.

http://communicationtheory.org/wp-content/uploads/2013/01/johari-model.jpg

Façade information juga yang membuat Musa terheran-heran dengan Khidir dan menyalahkannya karena telah merusak perahu dan membunuh anak kecil. Ilmu nabi Musa belum “sampai”, dan Khidir baru menjelaskan alasan tindakannya saat mereka akan berpisah.

Sultan Murad dan Ahli Maksiat

Seperti cerita Sultan Murad dari Turki. Suatu malam Ia tidak bisa tidur. Ia merasa gelisah dan ada yang bergemuruh dihatinya. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar istana dan menyamar sebagai rakyat jelata. Blusukan kalau bahasa sekarang.

Saat keluar tiba-tiba mereka menemukan seorang laki-laki yang terbaring di tengah jalan. Sultan mencoba membangunkannya. Ternyata laki-laki itu sudah meninggal. Anehnya, tidak ada yang mempedulikannya. Jenasahnya dibiarkan begitu saja.

Ia lalu bertanya ke orang-orang yang lewat: “Kenapa orang ini meninggal tapi tidak ada seorang pun yang peduli dan membawa ke rumahnya? Siapa dia? Dimana keluarganya?”

“Orang ini pelaku maksiat” kata orang-orang. “Ia juga selalu mabuk-mabukan dan berzina dengan pelacur”.

“Tapi bukankah ia juga umat Rasullullah, Muhammad s.a.w? Ayo angkat ia dan kita bawa ke rumahnya” ajak sultan Turki itu.

Mereka lalu membawa jenazah laki-laki itu kerumahnya. Sang istri yang baru mengetahui kematian sang suami, langsung menangis dan sedih. Orang-orang langsung meninggalkannya dan hanya ada Sultan dan para pengawal yang masih tinggal dan menghibur si istri.

Sultan bertanya, “Aku mendengar dari orang-orang jika suamimu adalah ahli maksiat sehingga mereka tidak peduli dengan kematiannya. Benarkah hal itu?”

“Awalnya aku menduga seperti itu tuan..” jawab si istri sambil menangis sesenggukan.

“Suamiku setiap malam keluar rumah pergi ke toko minuman keras, membeli sebanyak uang yang dimilikinya, lalu membawa pulang minuman itu untuk dibuang sambil berkata: ‘Alhamdulilah, aku telah meringankan dosa kaum muslimin’”.

“Suamiku juga pergi ke tempat pelacuran”, lanjutnya.

“Ia memberi mereka uang dan berkata, ‘Malam ini adalah jatah waktuku. Jadi tutup pintumu sampai pagi, jangan kau terima tamu lain!’. Kemudian akan pulang dan berkata kepadaku: ‘Alhamdulilah, malam ini aku telah meringankan dosa pemuda-pemuda islam’. Namun orang-orang yang melihatnya mengira suamiku suka mabuk-mabukan dan gemar berzinah. Berita ini lalu menyebar di masyarakat”.

Sang istri berusaha menahan tangis dan kemudian melanjutkan ceritanya.

“Sampai suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: Jika engkau meninggal, tidak aka nada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, menshalatkanmu, dan menguburkanmu”.

Suamiku hanya tertawa dan menjawab: “Janganlah takut wahai istriku! Jika aku mati, aku akan dishalati oleh sultannya kaum muslimin, dan juga para ulama dan ‘auliya Allah”.

Mendengar hal itu Sultan Murad langsung menangis dan berkata, “Benar apa yang dikatakannya. Demi Allah, akulah Sultan Murad itu dan besok pagi kita akan memandikan suamimu, menshalatinya, dan menguburkannya bersama masyarakat dan para ulama”.

Jangan mudah menyalahkan dan memberikan label kepada orang lain. Waspadai façade information. Jangan-jangan ilmu kita yang belum sampai.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail