Category Archives: Ekonomi Bisnis

Tentang ekonomi dan Bisnis

#96 Fallacy of single cause: Kenapa kita harus berpikir multi dimensi

Kenapa banyak perusahaan ritel yang tutup?

Pertanyaan diatas sempat menjadi perbincangan hangat netizen beberapa waktu lalu. Banyak pihak yang berkomentar dan memberikan analisisnya.

Sebagian pengamat menyoroti shifting perilaku belanja masyarakat yang berpindah ke online. Ada pengamat yang menyalahkan lesunya daya beli masyarakat. Ada juga yang menyoroti inefisiensi peritel dalam melakukan ekspansi.

Mana yang benar? Semuanya bisa benar. Yang jelas, hanya “menyalahkan satu factor” dapat menyebabkan kita terperangkap dalam fallacy of single cause. Kecenderungan untuk menyederhanakan permasalahan.

Karena pada kenyataannya, masalah yang terjadi cenderung kompleks dan multi dimensi. Penutupan gerai pada perusahaan A bisa memiliki motif yang berbeda dengan penutupan gerai perusahaan B.

Hampir sama dengan pertanyaan: “Kenapa Jakarta sering banjir?”. Hanya menyebut “buruknya drainase” takkan menyelesaikan masalah karena masih ada aspek tata kota, perilaku warga, dan infrastruktur social yang sudah sangat padat ditengah lahan yang sempit.

Otak kita menyukai “single cause reasoning” karena lebih sederhana dan mudah dimengerti.

Kenapa ada krisis 1998? Jawaban single reasoning-nya: Karena ulah spekulan valas yang menghajar nilai tukar rupiah. Padahal masih ada permasalahan politik dan social yang membuat krisis tahun 98 mampu melahirkan reformasi.

Kenapa banyak koruptor di Indonesia? Jawaban gampangnya: karena banyak pejabat korup. Padahal ada aspek lemahnya pengawasan hukum, berbelitnya sistem birokrasi, dan juga sistem meritokrasi yang masih berjalan setengah hati.

Point-nya: biasakan untuk berpikir multi dimensi dan jangan hanya melihat dari satu sisi.

Contohnya jika Anda adalah seorang CEO yang baru saja meluncurkan produk baru. Setelah satu bulan, produk itu tidak laku. Apakah Anda akan menyalahkan tim marketing karena gagal mencapai target penjualan?

Sadarlah tentang jebakan fallacy of single cause. Duduk dengan tim Anda dan rincikan semua factor yang menyebabkan produk itu tidak terserap oleh pasar. Bisa promosi yang kurang, feature yang kurang greget, user interface yang membingungkan, dan lain-lain.

Rinci semua factor, dan bagi kedalam dua jenis: yang bisa kita ubah (harga, design, promosi, dll) dan yang tidak bisa kita ubah (kondisi ekonomi, nilai tukar, dll). Setelah itu lakukan test dengan merubah factor-faktor yang bisa mempengaruhi pembelian. Misal: mengubah harga, mengubah metode marketing, mengubah design produk, dll.

Jangan terjebak dengan mindset yang meminjam istilah filsuf Herbert Marcuse: one dimensional man. Kebiasaan hanya melihat satu sisi akan membuat Anda jadi kaum sumbu pendek yang ngamuk jika orang lain bilang bumi itu bulat.

Percayalah jika tidak pernah ada penyebab tunggal dalam setiap fenomena yang terjadi.

http://www.chronicle.com//img/photos/biz/photo_2914_landscape_650x433.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#93 Social Labeling bias: Kenapa kita suka mengkafirkan orang lain

Misalnya ada dua tempat duduk yang kosong. Anda bisa duduk disamping mas-mas berseragam polisi, atau duduk disamping lelaki sangar dengan tubuh penuh tato dan tindik yang menyeramkan. Mana yang akan Anda pilih?

Kita pasti akan menduga orang yang memakai baju polisi adalah polisi yang bertugas, sedangkan abang-abang bertato dengan tampang sangar adalah preman. Padahal bisa saja orang yang memakai baju polisi adalah penipu, dan si preman ternyata intel polisi yang menyamar.

Percaya atau tidak, secara bawah sadar otak kita akan memberikan label kepada orang lain. Proses pemberian label ini bisa terjadi dalam sekejapan mata atau dalam hitungan detik. Kita membutuhkannya untuk menganalisa kondisi dan mengidentifikasi adanya bahaya.

Berpapasan dengan orang yang membawa senjata akan meningkatkan kewaspadaan, sedangkan berpapasan dengan nenek tua akan menurunkan kecemasan kita akan bahaya. Padahal bisa saja sang nenek adalah pembunuh bayaran terlatih sedangkan pembawa senjata adalah pecinta olahraga air soft gun biasa.

Masalahnya, informasi yang kita terima sering kali tidak lengkap, dan ada informasi yang tidak kita ketahui. Bahasa gaulnya, ada assymetric information yang terjadi. Kita tidak tahu apa yang mereka ketahui, dan sebaliknya, mereka tidak merasakan apa yang kita rasakan.

Inilah yang membuat kita sering men-judge orang lain yang tidak sealiran dengan kita adalah salah, dan kita selalu merasa paling benar. Padahal bisa saja ada informasi yang belum kita ketahui. Kalau kata psikolog Joseph Luft dan Harrington Ingham (penemu Johari window), ada “façade information” antara kita dan orang lain. Hijab yang menutupi pengetahuan kita dan mereka.

http://communicationtheory.org/wp-content/uploads/2013/01/johari-model.jpg

Façade information juga yang membuat Musa terheran-heran dengan Khidir dan menyalahkannya karena telah merusak perahu dan membunuh anak kecil. Ilmu nabi Musa belum “sampai”, dan Khidir baru menjelaskan alasan tindakannya saat mereka akan berpisah.

Sultan Murad dan Ahli Maksiat

Seperti cerita Sultan Murad dari Turki. Suatu malam Ia tidak bisa tidur. Ia merasa gelisah dan ada yang bergemuruh dihatinya. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar istana dan menyamar sebagai rakyat jelata. Blusukan kalau bahasa sekarang.

Saat keluar tiba-tiba mereka menemukan seorang laki-laki yang terbaring di tengah jalan. Sultan mencoba membangunkannya. Ternyata laki-laki itu sudah meninggal. Anehnya, tidak ada yang mempedulikannya. Jenasahnya dibiarkan begitu saja.

Ia lalu bertanya ke orang-orang yang lewat: “Kenapa orang ini meninggal tapi tidak ada seorang pun yang peduli dan membawa ke rumahnya? Siapa dia? Dimana keluarganya?”

“Orang ini pelaku maksiat” kata orang-orang. “Ia juga selalu mabuk-mabukan dan berzina dengan pelacur”.

“Tapi bukankah ia juga umat Rasullullah, Muhammad s.a.w? Ayo angkat ia dan kita bawa ke rumahnya” ajak sultan Turki itu.

Mereka lalu membawa jenazah laki-laki itu kerumahnya. Sang istri yang baru mengetahui kematian sang suami, langsung menangis dan sedih. Orang-orang langsung meninggalkannya dan hanya ada Sultan dan para pengawal yang masih tinggal dan menghibur si istri.

Sultan bertanya, “Aku mendengar dari orang-orang jika suamimu adalah ahli maksiat sehingga mereka tidak peduli dengan kematiannya. Benarkah hal itu?”

“Awalnya aku menduga seperti itu tuan..” jawab si istri sambil menangis sesenggukan.

“Suamiku setiap malam keluar rumah pergi ke toko minuman keras, membeli sebanyak uang yang dimilikinya, lalu membawa pulang minuman itu untuk dibuang sambil berkata: ‘Alhamdulilah, aku telah meringankan dosa kaum muslimin’”.

“Suamiku juga pergi ke tempat pelacuran”, lanjutnya.

“Ia memberi mereka uang dan berkata, ‘Malam ini adalah jatah waktuku. Jadi tutup pintumu sampai pagi, jangan kau terima tamu lain!’. Kemudian akan pulang dan berkata kepadaku: ‘Alhamdulilah, malam ini aku telah meringankan dosa pemuda-pemuda islam’. Namun orang-orang yang melihatnya mengira suamiku suka mabuk-mabukan dan gemar berzinah. Berita ini lalu menyebar di masyarakat”.

Sang istri berusaha menahan tangis dan kemudian melanjutkan ceritanya.

“Sampai suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: Jika engkau meninggal, tidak aka nada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, menshalatkanmu, dan menguburkanmu”.

Suamiku hanya tertawa dan menjawab: “Janganlah takut wahai istriku! Jika aku mati, aku akan dishalati oleh sultannya kaum muslimin, dan juga para ulama dan ‘auliya Allah”.

Mendengar hal itu Sultan Murad langsung menangis dan berkata, “Benar apa yang dikatakannya. Demi Allah, akulah Sultan Murad itu dan besok pagi kita akan memandikan suamimu, menshalatinya, dan menguburkannya bersama masyarakat dan para ulama”.

Jangan mudah menyalahkan dan memberikan label kepada orang lain. Waspadai façade information. Jangan-jangan ilmu kita yang belum sampai.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#87 BHAG: Kenapa Kita Harus Punya Tujuan Besar

Sebagai kacung yang bekerja di travel industry, saya sering bekerja sama dengan departemen pariwisata negara ASEAN. Tapi ada hal yang menarik dari teman-teman di Kementrian Pariwisata kita. Setiap meeting, saya sering sekali mendengar kata “20 juta”.

“Kita punya target 20 juta wisataawan asing tahun 2019”.

“Sesuai arahan Pak Presiden, target kita 20 juta wisatawan.”

“…Ini untuk mencapai target 20 juta wisatawan”.

Yang bikin saya kagum: angka 20 juta ini diucapkan oleh menteri, pejabat eselon, hingga staff biasa. Ternyata hampir semua orang di kementrian pariwisata tahu apa yang mereka ingin capai: Pada 2019 membawa 20 juta wisatawan asing ke Indonesia.

Kenapa saya bisa bilang luar biasa? Karena tidak semua anggota organisasi tahu apa tujuan mereka. Apalagi ini sebuah organisasi gemuk bernama birokrasi.

Jika Anda bertanya ke teman atau saudara yang bekerja di organisasi raksasa seperti BUMN, perusahaan multinasional, atau departemen pemerintahan, belum tentu mereka tahu apa tujuan lembaganya.

Apa yang ingin dicapai? Jika profit, berapa banyak untungnya? Kapan mendapatkannya? Bagaimana caranya? Banyak dari kita hanya melakukan sesuatu sesuai job description tanpa pernah tahu strategic direction.

BHAG

Angka 20 juta yang didengung-dengungkan sebagai mantra adalah sebuah BHAG: Big Hairy Audacious Goal (dibaca Bee-Hag). Mimpi besar yang menginspirasi.

Dicetuskan oleh guru manajemen, Jim Collins dan Jerry Porras dalam Built to Last (1994). Collins mencatat, perusahaan-perusahaan besar yang sukses dalam jangka panjang selalu punya BHAG. Sebuah tanda jika mereka organisasi yang berani bermimpi.

Saat Kennedy mengajukan proposal ke Kongres untuk program “moon landing” pada tahun 60-an, ia mengajukan BHAG yang menyentuh ego umat manusia:

“..this Nation should commit itself to achieving the goal… landing a man on the moon and returning him safely to earth..”

Semua rakyat Amerika terpesona dan mendukung proyek 549 juta dollar itu karena mereka akan menjadi homo sapiens pertama yang mendarat di bulan.

Contoh klasik lain: Ketika Jack Welch merombak General Electric, GE terkenal dengan organisasi gemuk yang punya banyak sekali anak perusahaan. BHAG yang ia cetuskan sungguh sederhana:

“Become #1 or #2 in every market we serve and revolutionize this company to have speed and agility of small enterprise”.

Jadi yang terbaik dan bergerak segesit perusahaan kecil, atau tidak sama sekali. Hasilnya Welch merampingkan bisnis GE, menjual divisi yang tak punya prospek lagi, dan mengembangkan budaya inovasi.

Mimpi Pariwisata

“20 Juta wisatawan asing” adalah BHAG yang ambisius tapi sebenarnya mampu kita capai. Thailand dalam setahun menerima sekitar 35 juta wisatawan asing. Malaysia ada di angka 15 juta. Sedangkan kita masih megap-megap mencapai level 13 juta. Padahal jika dilihat potensi wisata dan luas wilayah, harusnya wisatawan kita melebihi kedua Negara itu.

Tentu masih banyak Pe-eR terutama dibidang infrastruktur, inovasi produk, sarana transportasi (kapasitas penerbangan rute internasional), dan pengembangan SDM yang ada di depan mata. Tapi saya merasa we are on the right track.

Sekarang Kementrian Pariwisata sangat aktif berpromosi keseluruh dunia. Sektor swasta diajak bekerja sama. Kita juga punya menteri pintar yang digital minded dan tahu bagaimana cara mengubah gaya birokrasi menjadi semi korporasi.

“Datanya mana? Kita harus bicara dengan data. Nanti habis kita dihadapan Pak Menteri”

“Kira-kira top 3 action yang bisa kita lakukan apa? Tolong dimasukkan ke weekly report”

“Seperti kata Pak Menteri, if you can’t measure it, you can’t manage it”

Pola pikir yang data driven dan action oriented adalah hal yang wajar di dalam dunia korporasi. Tapi bisa menerapkannya dalam sektor birokrasi adalah hal yang patut diapresiasi.

Saya menulis ini sebagai catatan kecil: tidak semua birokrasi menjadi penghambat inovasi. Insya Allah pariwisata Indonesia punya masa depan yang cerah.

View post on imgur.com

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tentang Tahu Bulat yang Semakin Jarang Terlihat

Ada fenomena penting yang saya rasa luput dari pemberitaan media mainstream: tahu bulat kini sulit ditemukan!. Kita lebih suka meributkan mbak Afi dari Banyuwangi, Kaesang anak Jokowi, Sevel yang mati, atau kasus politik berbaju agama yang sudah mulai basi. Tapi tidak ada yang mengangkat isu sepenting tahu bulat!

Setidaknya itu berdasarkan pengamatan pribadi saya. Di dekat stasiun Tanjung Barat dulu ada 2 penjual tahu bulat. Menggunakan pick up yang dimodifikasi ala food truck, mereka mempromosikan tahu bulat dengan tagline yang sengak di kuping:

“Tahuuuu bulat… Digoreng dadakan, 500 an, hangat-hangat”.

Kini jingle itu tinggal sejarah dalam hipotalamus otak saya. Kedua penjual tadi lenyap. Demikian juga dengan mobile rounded tofu (tahu bulat keliling) yang sering datang ke kampung tempat saya tinggal. Tak pernah nongol lagi.

Jajanan Rakyat

Sebagai kaum sudra pecinta jajanan murah kaya lemak, bagi saya tahu bulat bukan hanya sebuah jajan yang digoreng dadakan. Tahu bulat adalah symbol inovasi sederhana tapi mengena. Tahu bulat lahir dan melengkapi keluarga besar tahu yang menjadi salah satu makanan wajib orang Asia.

Berbeda dengan tahu isi yang biasanya lebih kompleks (berisi sayur, sosis/daging, dan digoreng dalam balutan tepung), tahu bulat menawarkan kesederhanaan. Hanya tahu berbentuk bulat, digoreng dalam minyak panas, lalu dibumbui sesuai selera. Murah dan sederhana.

Kuliner yang konon berasal dari Jawa Barat ini sempat booming setahun lalu. Setidaknya itu berdasarkan keyword search yang diketikkan orang di mbah Google. Bahkan hal ini mendorong lahirnya game Tahu Bulat yang sempat menjadi salah satu top free games di 2016.

google trends

Tapi kini trend itu mulai berlalu. Interest orang terhadap tahu bulat mulai menurun. Mungkin hal itu yang mendorong penjual tahu bulat sudah tidak semasif tahun lalu. Ia sudah melewati peak period. Nggak hits dan nge-trend lagi.

Apa yang terjadi dengan tahu bulat?

Stagnansi

Menurut saya karena setidaknya karena tiga alasan.

  1. Tidak adanya inovasi – menjual komoditi

Terakhir saya makan tahu bulat beberapa bulan lalu (Pipi Kentang menganggap tahu bulat adalah makanan minyak ga bergisi), rasanya masih sama dengan tahu bulat yang saya makan saat baru launching. Tahu hambar agak asin (karena saya ga pernah mau pake bubuk absurd dari abang penjualnya).

Tidak ada inovasi yang dilakukan misalnya dengan menciptakan tahu bulat mozzarella, toping kaviar, atau tahu bulat dengan siraman red wine (kalo ga ada bisa diganti topi miring). Akhirnya penjual tahu bulat jatuh pada commodity trap ala pasar persaingan sempurna. Tak ada yang membedakan penjual A dan B.

  1. Business model yang stagnan

Saat tahu bulat baru masuk ke pasar, business modelnya inovatif. Menggunakan pick up, ia menawarkan mobile store yang mampu menjangkau wilayah distribusi yang luas. Disaat tukang gorengan lain duduk manis di store, penjual tahu bulat datang menjemput bola.

Tapi setelah itu tak ada lagi. Saya belum mengenal penjual tahu bulat yang membangun brandnya, menciptakan bisnis model baru (misalnya franchise), atau melakukan product development (missal dengan frozen rounded tofu).

  1. Perang harga

Tahu bulat sempat menjadi disruptive market gorengan. Disaat bakwan atau pisang goreng berharga 1000 rupiah, tahu bulat datang dengan cost leadership: jual cukup 500 perak. Strategy ini cukup berhasil untuk menggaet kaum marjinal berpendapatan rendah seperti saya.

Tapi bagaimana selanjutnya? Disinilah penjual tahu bulat mengalami dilemma. Disatu sisi harus mempertahankan cost leadership (kenaikan harga akan membuat konsumen lari ke gorengan lain), disisi lain ia harus menerima margin yang sangat tipis.

Ditengah inflasi yang semakin meninggi, ketatnya kompetisi, dan banyaknya produk subsitusi, kemungkinan banyak penjual yang merasa bisnis tahu bulat sudah tidak feasible dan sustainable untuk dilakukan. Mereka beralih bisnis dan membuat jumlah penjual tahu bulat semakin sedikit.

Equilibrium Baru

Saya percaya apa yang terjadi pada pasar tahu bulat adalah sebuah market synchronization, seleksi alam untuk melihat penjual mana yang bisa memberikan nilai tambah.

Pada akhirnya proses ini akan menciptakan equilibrium baru yang menyeimbangkan supply terharap demand. Yang jelas sebagai pecinta gorengan, saya berharap tahu bulat jangan sampai punah atau sampai di-klaim negara tetangga hehehe.

Besok-besok jika ada bos atau pelanggan yang meminta pekerjaan dadakan diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya, cukup ajukan pertanyaan: “Emang saya jualan tahu bulat bos?”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Semakin Tinggi Gaji Kita, Semakin Tinggi Hutang Kita?

source: postimg.org
source: postimg.org

Beberapa waktu lalu saya meeting dengan salah satu perusahaan penyedia kredit tanpa agunan. Mereka beroperasi di mall-mall dan bekerja sama dengan toko-toko besar. Lewat jasa mereka, Anda bisa mendapatkan kredit dengan mudah dan membawa pulang peralatan elektronik atau rumah tangga dengan uang muka yang ringan.

Iseng-iseng saya tanya, barang apa sih yang paling diminati oleh konsumen Indonesia. Jawabannya membuat saya heran: handphone dan gadget.

Berdasarkan data mereka, masyarakat kita tergolong konsumen yang selalu up to date untuk urusan gawai elektronik. Setiap ada model baru, konsumen sudah mengantri. Handphone yang dipakai juga berganti-ganti. Kasarannya: jika Amerika baru rilis Iphone 7, konsumen kita sudah siap membeli iphone 8.

Ada dua hal yang membuat saya heran. Pertama, kenapa banyak orang mengambil kredit konsumsi dengan bunga lumayan tinggi hanya untuk sebuah gadget? Ini kredit tanpa agunan loh, risiko tinggi akan di transfer dengan cost of capital yang lebih tinggi.

Kedua, bukankah gadget canggih nan mahal bukanlah kebutuhan primer? Di zaman sekarang komunikasi memang menjadi kebutuhan utama, tapi kan bisa beli handphone second atau yang ga terlalu mahal. Toh handphone 4G sudah banyak yang dijual dengan harga terjangkau.

Logika bego saya sih, untuk apa ngutang untuk sesuatu yang ga mengancam nyawa kita. Ngutang karena kelaparan atau butuh biaya berobat masih bisa saya terima, tapi ngutang demi beli handphone???

Balapan Tikus

Saya kemudian teringat petuah Kiyosaki yang saya baca sewaktu SMA. Ia memberikan penjelasan kenapa banyak orang bergaji tinggi, tapi hutangnya lebih tinggi. Ini adalah rahasia kenapa banyak orang kaya tambah kaya, dan banyak kelas menengah tidak naik jadi orang kaya.

Contohlah si A yang baru lulus kuliah dan kemudian bekerja. Sewaktu single pendapatannya pas-pasan. Ia hidup ngekos dan naik angkutan umum. Karena rajin bekerja, ia dipromosikan jadi manajer dan mendapat gaji tinggi. Ia lalu merasa manajer takkan afdol tanpa memiliki mobil pribadi. Akhirnya ia membeli mobil dengan harapan bisa mencicil dari gaji-nya setiap bulan.

Tak lama berselang ia bertemu wanita pujaan hatinya. Mereka menikah dan memutuskan membeli rumah mungil. Sampai disini sepertinya hidup A akan bahagia selamanya. Tapi mereka lalu memiliki anak, dan rumah mungil itu sudah terlalu kecil bagi mereka.

Kabar baik, A dipromosikan jadi general manajer dan pendapatannya naik lagi. Istrinya melahirkan anak kedua. Mereka lalu menjual rumah pertama untuk uang muka rumah yang lebih besar, dan mengkredit mobil kedua untuk menunjang mobilitas istrinya yang mulai sibuk ikut arisan.

Ketika A akhirnya menjadi direktur, ia pindah ke rumah mewah yang merepresentasikan citranya sebagai orang sukses, berganti mobil sport dengan harga miliaran, dan tak lupa mengikuti kenggotaan klub golf bergengsi untuk menambah pergaulan.

Kira-kira, apakah Pak A akan pensiun dengan asset miliaran atau hutang yang belum lunas hingga ia harus memperpanjang masa pensiunnya? Eits jangan lupa, anak-anaknya mulai dewasa dan butuh biaya kuliah.

Harta belum tentu asset

Pelajaran dari cerita diatas: kita seringkali tidak bisa membedakan asset (harta) vs liabilitas (kewajiban), dan terjebak dalam balapan tikus guna melunasi hutang sepanjang hidup. Masa sih, hidup hanya bekerja mengejar gaji untuk melunasi hutang esok hari?

Seperti si A, ia terjebak untuk membeli asset yang sebenarnya adalah sebuah liabilitas. Dalam akuntansi tradisional, setiap harta adalah asset kita. Tapi tidak menurut Kiyosaki. Ia mengusulkan definisi baru: asset adalah segala sesuatu yang mendatangkan pemasukan.

Dengan definisi itu, rumah yang kita tempati bukanlah asset (karena ada biaya pemeliharaan), kecuali kita sewakan. Mobil yang kita kendarai bukanlah asset (jika hanya untuk keperluan pribadi), kecuali kita gunakan untuk taksi online.

Handphone yang kita miliki bukanlah asset (karena ada depresiasi), kecuali kita sewakan atau perjual belikan.Uang tabungan di bank bukanlah asset (karena inflasi seringkali lebih tinggi daripada bunga), kecuali kita investasikan dalam bentuk lain.

Masalahnya kita berbondong-bondong membeli liabilitas yang dibalut jubah sebuah asset. Inilah yang membuat kelas menengah tak beranjak menjadi orang kaya. Dan ini yang membuat orang kaya, menjadi semakin kaya.

Mereka tahu apa itu asset. Oleh karena itu mereka hidup sewajarnya, membelanjakan uangnya untuk pendidikan, mendirikan usaha, berani berinvestasi, memelihara kesehatan, berpikiran positif, dan terus menyebarkan kebaikan sebelum nanti berpulang kepada Tuhan.

Mereka tahu “gaya hidup” tidak akan semahal “hidup gaya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Peran Iphone dibalik Hits PPAP

Saya berani bertaruh jika mayoritas dari kita sudah melihat video PPAP.

ppapVideo 1 menit yang menampilkan seorang laki-laki dengan gaya kuning yang ngejreng berlatar background putih sedang bernyanyi tentang apple + pen, dan pineapple + pen ini berhasil menyita perhatian netizen dan telah ditonton lebih dari 5 juta dalam 2 minggu.

Demi apa, Cuma video gini doank bisa ngetop? Sedangkan youtubers lain yang sudah ngepet siang malam shooting sambil begadang edit sana pake mandi 8 kembang masih aja viewers-nya ga seberapa.

Apa rahasianya? Kenapa ada content yang mudah diingat dan menancap di kepala penontonnya?

Stickyness Factor

Chip Heath dan Dan Heath dalam Made to Stick sudah menjelaskan tentang rahasia menjadikan ide lebih mudah diingat. Kita dapat menggunakan 6 kriteria yang disebut SUCCESS.

Simple – sampaikan pesan secara sederhana

Unexpected – berikan hal yang tak terduga

Concret – gunakan pendekatan yang nyata, jangan mengawang-awang

Credible – pastikan penyebar pesan dapat dipercaya

Emotional – sisipkan aspek emosi manusia

Stories – jadikan sebuah cerita, bukan ceramah

Dalam kasus PPAP, video itu hanya memenuhi beberapa kriteria Sticky. Ia simple, hanya 1 menit. Apakah ada unexpected factor? Bisa ya bisa tidak. Awalnya saya kira akan terjadi sesuatu. Tapi overall effect surprise-nya tidak mencolok.

PPAP tidak memiliki aspek emosional yang berarti, hanya menghibur bagi sebagian orang. Ada yang merasa jengkel. PPAP Juga bukan sebuah video dengan stories yang mengalir. Mungkin ia concrete, karena menunjukkan pena, apel, dan buah nanas.

Lantas, apa yang menjadikan video ini begitu hits?

Trigger

Saya menemukan dugaan jawabannya setelah membaca buku karya murid Heath bersaudara. Mahasiswa itu, Jonah Berger, terinspirasi oleh Made to Stick lalu menulis buku berjudul Contagious. Ia penasaran dan ingin mengetahui wabah “getok tular”. Kenapa sesuatu bisa lebih mewabah dan menjadi trend.

Berdasarkan riset bertahun-tahun yang ia lakukan atas video yang lebih sering ditonton, artikel yang paling sering dibagikan, dan berbagai fenomena sosial yang menjadi trend, terdapat 6 kriteria getok tular yang efektif. Diringkas menjadi Stepps. Yaitu:

Social curreny – sebuah trend harus memiliki mata uang sosial, yang membuat penyebar pesannya memiliki nilai lebih

Trigger – tahukah Anda jika penjualan coklat Mars meningkat saat misi pathfinder NASA diluncurkan? Coba tebak kemana tujuan misi itu? Tepat sekali, planet Mars.

Emotion – Content yang paling sering dibagikan di internet bukanlah tentang kekayaan, tapi kemanusiaan.

Public – manusia akan meniru manusia lain. gagasan kita harus dibuat seumum mungkin

Practical value – berdasarkan insight dari mobile conference yang saya ikuti, 87% content yang disukai adalah content dengan nilai praktis atau “how to”. Demikian juga dengan buku non fiksi laris.

Story – manusia menceritakan cerita. Semua propaganda harus dibentuk dalam cerita.

Nah, setelah melihat 6 faktor diatas saya percaya kesuksesan PPAP ditolong oleh trigger sebuah product yang sedang booming: Iphone. Tak percaya? Mari kita lihat datanya.

Iphone dan PPAP

Lewat google trend kita bisa melihat jumlah keyword yang diketik di google, terutama youtube. Dan saat saya memasukkan keyword iphone, apple, dan ppap di Jepang (tempat video ini berasal), jawaban itu terkuak.

Highlight kuning adalah saat PPAP di launch
Highlight kuning adalah saat PPAP di launch

Saat PPAP dirilis terjadi lonjakan search untuk keyword iphone dan juga apple (yang saya highlight kuning). Mengapa? Hipotesis saya: PPAP menggunakan kata ‘apple pen’ dan men-trigger apple fansboy bertanya-tanya. Mungkinkah Apple mengeluarkan produk pen terbaru?

Para fansboy apple ini kemudian menemukan video unexpected yang diluar dugaan mereka (awalnya mengira produk apple pen dan ternyata literally benar-benar apple dan pen), lalu kemudian menyebarkannya ke orang lain.

“Hey lihat, ada ‘apple pen’ terbaru!” Disini peran social currency berperan. Anda akan dianggap keren karena update informasi tapi juga berjasa karena menyebarkan konten yang menghibur.

The rest is history. PPAP menjadi hits dan meme icon diseluruh dunia. Bagaimana dengan Indonesia? Seperti biasa, kita adalah follower. Search term PPAP baru naik beberapa hari terakhir saat di Jepang sudah menunjukkan penurunan.

baru hits beberapa hari terakhir
baru hits beberapa hari terakhir

Ya gak papa sih. At least kita ga ikut-ikutan nyari judul JAV yang ada di videotron beberapa hari yang lalu hehehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Six Sigma Ways of Getting Richer

I just finished my green belt lean six sigma training. What is six sigma? Is it kamasutra sex training? What is green belt? Did I attend aikido training? Did I train for go green campaign?

green-belt-sertificate

Basically six sigma is a way of thinking. It’s the recipe on why some company could create world class product with zero defect. Ok, to make it simple lets use real practice. Imagine yourself. All of us want to get rich. But how? Let’s use six sigma approach.

DMAIC

Six sigma starts from defining our problem and goal, measuring it, analyzing which critical factor that can be improved, implementing change, and controling the impact. Define-Measure-Analyze-Implement-Control. DMAIC.

In that case, first we must define what is our problem and what is our goal. Our problem is being poor and our goal is becoming rich. Then we must define, how poor is our current condition? How rich we want to be? Write it down. For example:

Current condition: We have 10 mio IDR debts

Goal condition: We will have 1 bio IDR assets

Between current condition and expected goal there is a gap. How to fill the gap? We need a strategy. The beauty of six sigma is learning how to specify the improvement process, and break it down into small improvement project. Remember Pareto principle, there is 20% factor which contributes to 80% effect.

We all know that to be richer, there are two approaches:

#1 Getting more assets

#2 Reducing liabilities

Since it’s a broad subject, then we must choose which area that we want to improve. Lets say since we are still working 9 to 5, getting new asset will be harder. So lets choose reducing liabilities option. At least we will have more money to save and buy assets. Now, what kind of liabilities?

Specify it, Measure it

Which liabilities that we want to cut? We have to break it down into more detail aspects. For example in liabilities there is mortgage, credit card bills, daily consumption, transportation, and etc.

How to know which one to save? The only way is by asking the data. We must collect all of spending data and then make a decision based on it. So for example, we start writing down all of expenses in the past 30 days and suddenly find out that 30% of liabilities come from credit card payment. How come?

Then we find out that 50% of credit card bills are coming from restaurant and bar merchant. We realize that even though we make our own cook, sometimes it’s nice to chill out with friend in fancy hangout places. We also find out that we spend 30% for ecommerce since we are always tempted by “discounted fashion apparel online” regularly. Aha, there is potential area of improvement!

So if we write down the function of credit card consumption, the number will be:

Break down liabilities
Break down liabilities

Our project will be:

“How to reduce credit card liabilities from 30% into 18%?”

We know change is easy to say but hard to do. Change is not just applying technical aspect but it is also about human touch. 90% of change is failed because people are resistant for change. Using threat opportunity matrix we could try to convince ourselves on urgency of changes:

thread-opportunityChange what you can change

From the liabilities tree above, it turns out that restaurant and ecommerce posts contribute 80% of the bills. Can we reduce the restaurant and ecommerce expenses till zero? It seems impossible. So, do what we can do. Change what we can change. The most important thing: we must create improvement. So lets say we list down 7 possible actions to reduce credit card bills:

  1. Changing the hangout places
  2. Creating shopping list before browsing on ecommerce site
  3. Writing down reminder in laptop desk: “Reduce Your Bills, Save Your Money”
  4. Blocking ecommerce site in our laptop and mobile
  5. Saying goodbye to our lovely friends and never hang out in restaurant again
  6. Ordering cheaper foods during hang out
  7. Cutting our credit card … physically!

Hmmm how to choose which action we must take? We can use impact matrix. Categorize it based on effort and impact.

effort-impact-matrix

From metrix above It’s better to choose the red box (low effort-high impact) since those actions are easier to do but have impactful outcomes. The rule of thumb: choose the highest impactful actions (red and green box).

Okay, now we know what we want to do. So let’s do it. Creating shopping list and never buy “out of list” stuff, writing down reminder in our desk and of course choosing cheaper food like salad while we are hanging out.

All we have to do is to make it new habit or standard. Implement and control new ‘policy’, then measure it at the end of the period to measure the impacts. If our credit card liabilities drop untill 18% of all liabilities, that means we are success in achieving our goal. If don’t, look at the reasons. Why it can’t be implemented? And how to change it? Because life is a continuous change.

Remember the Holy Prophet Muhammad says:

“Do you know who is luckiest man? He is a person whose today is better than yesterday, and whose tomorrow is better than today”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Ongoing Trends for Mobile Marketers

Thank God I attended Mobile Marketing Association Forum (MMAF) 2016 this Thursday (22 Sep). So many great speakers with interesting facts, stunning insight, and provoking questions. Basically the conference shared positive optimism regarding mobile advertising, plus several ongoing trends and study case.

MMAF 2016 at Jakarta
MMAF 2016 at Jakarta

From all of well known speakers (from agency, brand, publisher, and researcher) there are several key point that we must note. I tried to connect all of them into 5 ongoing trend:

#1 Going mobile is inevitable, like it or not, we must be ready!

The trend is unavoidable regardless of your industry. From telco, travel, e-commerce, fashion, to toiletries. Whatever your product is, our consumer will go mobile. And Indonesian mobile user number is growing, significantly. From around 70 mio smartphone user into approximately 150-180 mio by 2025.

Do you believe that we look at our mobile device for 150 times per day? How long do you spend staring at your mobile device to read news, watch video, or gossip about your boss with other colleagues? Even mobile consumption has surpassed TV for certain audience and become the prime screen, not just complimentary one. So, get ready for it.

#2 Mobile is personal device, give them personal touch

It’s really personal, and we never share our mobile device! They key is 3 P: present, personal, persuasive. The beauty of mobile, you could speak different message to different audience. Special advantage compare with TV or newspaper where we broadcast uni message to mass audience.

If we are e-commerce market place, we could do targeting and differentiate our offer based on audience. Showing dress for woman, shaver for man, games for teenager, or glasses for granny. Good bye one for all, and all for one communication!.

#3 Keep up with new cool things but always remember old thing

Innovation came and go. From augmented reality, virtual reality, social chat platform till voice search option. We must keep open and do innovation to keep pace with latest trend and technology. Sometimes there are “innovator dilemmas” where we want to adopt new technology but the market or infrastructure is not ready yet.

One of cool startup who want to implement IOT (internet of things) in agribusiness is E-fishery. They create machine to feed fish automatically and cant be controlled by farmer mobile phone. The biggest obstacle? Not all farmer familar with smartphone and technology. It needs time to makes them understand the benefit of it.

New cool things come and go, but the old question still the same: “Does it help our customer life?”

#4 Mobile data behavior give us insight, crack something from it

Mobile data give us data that can’t be provided by desktop like mobility or people movement. There are a lot of brand that already used it. For example AirAsia always targeting their audience based on location or travelling behavior in the past couple of months. If you have been roaming with your mobile phone, your probability to get expose by international routes ads will be higher than domestic routes.

#5 At the end mobile is just a medium

Consumer need story, not just product. Our job as marketers (or agency, or publisher) is to create value added for our market using any kind of technology that we have. We could create mobile site or fancy apps, but it must answer simple question:

“What is the value for me as customer?”

I love the example for ‘Berbagi Sehat’ app from Lifebuoy. They basically a soap brand, but they move from functional aspect like anti bacteria into more noble value which concern most of mom: how to have healthy family? With ‘Berbagi Sehat’ app we could track health status and have early diagnoze symptom with quite informative description. The goal is simply to protect our most prestigious assets: our kids.

Summary

So, in general let me use 4 blockers to simplify and get better understanding (thanks to @HandryGE who share this tools! Now I know why GE could discuss and make decision for 12 topics in just 1 hour!).

Share any thought if you reading this via mobile 🙂

PS: please correct my grammar, I want to improve my IELTS!

summary
summary
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mental Block Investasi di Pasar Modal

sumber gambar: http://www.finsecpartners.com.au/wp-content/uploads/2015/04/investment.jpg

Seorang teman penasaran tentang investasi saham yang saya lakukan. Koq kayaknya keren, bisa main saham kaya di pilem-pilem. Padahal harusnya investasi di pasar modal adalah sesuatu yang biasa aja. Mirip dengan investasi di emas, ternak, atau perkebunan. Cuma bedanya investasi di pasar modal adalah paper asset. Aset yang tercatat di kertas.

Saya jadi sadar jika investor individu di negara ini masih kecil. Per Februari 2016 baru ada 582.052 rekening. Dibandingkan dengan 250 juta penduduk negara kita, Itu berarti masih 0,2%, dan jauh tertinggal dari negara tetangga macam Singapura (30%) dan Malaysia (35%).

Koq bisa kecil amat sih? Menurut saya, ada beberapa mental block (mindset yang keliru) tentang investasi di pasar modal yang menghantui masyarakat kita. Saya coba mendaftar beberapa diantaranya:

“Saham itu bentuknya kaya apa? Apa Beda Pasar Modal dengan Pasar Senen?”

Banyak dari kita yang belum tahu apa itu saham, dan apa itu pasar modal. Padahal sebenarnya saham itu sederhana: bagian kepemilikan dari perusahaan. Dan pasar modal adalah tempat dimana perusahaan yang butuh modal (emiten) bertemu dengan orang yang punya modal (investor).

Zaman dulu katanya saham itu bertentuk kertas, macam sertifikat gitu. Tapi sejak perkembangan teknologi, saham hanya tercatat di rekening bursa seorang investor dan dia tak perlu menyimpan berlembar-lembar saham fisik. Enak kan, ga ribet kalo kebanjiran hehehe.

Sebagai pemilik kita akan dapat bagi hasil berupa deviden (klo untung). Dan enaknya di pasar modal, kita bisa memperjual belikan kepemilikan saham kita. Jadi jika awalnya punya saham di perusahaan tambang terus ngerasa bosen dan pingin punya saham di perusahaan telekomunikasi, ya tinggal dijual aja ke orang lain. Transaksi inilah yang menyebabkan harga saham naik turun kaya ingus.

 “Saham hanya untuk orang kaya! Aku mah apa atuh, Cuma serbuk gergaji di semesta ini”

Mindset yang sering menyerang kebanyakan dari kita: hanya orang kaya yang berhak berinvestasi. Nah sekarang pertanyaannya: “mereka berinvestasi karena kaya”, atau “mereka kaya karena berinvestasi”?

Padahal banyak banget saham yang harganya terjangkau. Contohnya MYOR (Mayora) yang per 7 Agustus dijual dengan harga 1.640 rupiah saja per lembar. Atau TLKM (Telkom) seharga 4.350. Jika suka otomotif bisa membeli ASII (Astra) di level 7.925 perak.

Nah bedanya untuk pembelian di pasar modal hitungannya lot bos. Zaman dulu 1 lot itu 500 lembar. Sekarang Cuma 100 lembar. Jadi 1 lot Astra Cuma 792.000 dan 1 lot Mayora hanya 164.000-an saja. Masih ngerasa kemahalan? Bisa cari yang dibawah harga 500 perak macam GIAA (Garuda) yang diperdagangkan di harga 470 rupiah per lembarnya. Beli gadget 5 juta aja bisa, masa beli saham 47 ribu ga mampu?

“Jangan invest saham, itu judi!”

Perlu diingat, harga saham di pasar bisa berubah-ubah dipengaruhi banyak faktor. Bisa laporan keuangan, proyeksi pertumbuhan ekonomi, krisis politik, sampai ulah spekulan. Karena sejatinya harga saham adalah proyeksi nilai dari sebuah perusahaan. Dan namanya juga valuasi, terus berubah sepanjang waktu.

Orang yang berpikir jika saham adalah perjudian seringkali lupa jika investasi mengandung risiko. Ketika kita berinvestasi pada ternak, kita berharap ternak itu bisa besar dan dijual dengan harga tinggi. Bagaimana jika ternak-nya ga gede2 karena kena penyakit?

Hampir sama dengan investasi di pasar modal. Kita berinvestasi di sebuah perusahaan dan berharap perusahaan itu menghasilkan keuntungan. Tapi jika ternyata rugi? Ya siap-siap harga saham kita turun.

“Saya bisa cepat kaya dan juga bisa cepat miskin”

Aduh bos, jangan menelan mentah-mentah informasi dari pilem Hollywood kaya Wallstreet atau Wolf of Wallstreet. Karena investasi itu ga seperti melihara tuyul instant. Bisa konsisten untung 20% setiap tahun sudah termasuk luar biasa.

Investor terkenal dunia macam Warren Buffet atau Merril Lynch dikenal bukan karena membuat klien-nya bisa beli kapal pesiar dalam satu tahun seperti iklan MLM. Tapi keuntungan yang stabil selama 10-20 tahun. Untuk membatasi kerugian juga biasanya ada aturan cut-loss. Anda harus menjual saham itu jika nilainya terus turun. Besaran cut-loss tergantung kepada Anda, sang investor.

“Waduh saya kan sibuk, mana sempet belajar ilmu investasi yang njelimet”

Saya selalu ingat pesan Benjamin Graham guru Warren Buffet, untuk berinvestasi hanya dibutuhkan ilmu aritmatika sederhana. Anda ga perlu katam kalkulus, bikin model valuasi njelimet, atau melototin grafik sambil bergadang 7 hari 7 malam.

Karena sekarang semua informasi tersedia. Bahkan broker Anda sudah menghitungkan rasio-rasio keuangannya, memberikan historical data harganya, sampai memberikan rekomendasi pilihan sahamnya. Yang perlu kita lakukan sebagai investor hanyalah menggunakan akal sehat dan mengambil keputusan berdasarkan dua skill wajib: analisa laporan keuangan dan sedikit technical analysis.

Oke saya ingin berinvestasi di pasar modal. Harus Mulai Darimana?

Cukup datang ke perusahaan sekuritas resmi yang terdaftar di bursa. Mintalah dibuatkan dummy account dan cobalah berinvestasi secara virtual. Biasakan diri melihat istilah keuangan, daftar kode saham, pergerakan pasar, dan nikmati semua prosesnya.

Yang pasti kita harus belajar mindset seorang investor: tidak konsumtif, bersabar, dan melihat nilai di masa depan. Ga usah ikut-ikutan jika teman ganti gadget atau tetangga ganti baju (nanti dikira ngintip). Karena lebih baik jadi orang miskin secara penampilan tapi kaya secara laporan keuangan, daripada terlihat kaya secara penampilan tapi sebenarnya miskin secara laporan keuangan.

Setelah Anda yakin dan terbiasa, silahkan membuka rekening di bursa. Ga usah banyak-banyak, yang pasti make sure uang itu adalah disposable income (tabungan sisa) dan bukan hasil korupsi atau ngepet jadi babi.

Selamat berinvestasi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mengejar Valuasi, Cerita Perusahaan yang Sengaja Rugi

source: grobecpa.com

“Serem”. Kata yang tak saya sangka akan diucapkan oleh Pak W, salah satu petinggi biro iklan multinasional ketika mengomentari belanja iklan jor-joran dari perusahaan e-commerce.

Malam itu pertengahan tahun 2015. Kami sedang makan malam dalam rangka memperkenalkan direktur baru kami kepada partner, salah satunya media agency dimana Pak W bekerja. Kita sedang berdiskusi tentang hebohnya startup. Karena tiga tahun terakhir adalah surga bagi “perusahaan online”. Semua berinvestasi jor-joran, termasuk untuk belanja iklan.

“Kelihatannya sih bagus, tapi siapa siapa bisa jamin tahun depannya? Contohnya si Rocket internet (group dibalik Lazada, Zalora dll), tahun lalu dia spending gila-gilaan. Tapi kalo tiba-tiba dia decide untuk tutup operasinya dari Indonesia? Kita yang pusing dikejerin media”.

Dia kemudian menyinggung strategy “burning money” serta “cut loss” yang biasa terjadi dalam dunia start up. Burning money berarti mereka rela rugi, sedangkan cut loss maksudnya mereka bisa kapan saja hengkang saat dirasa perusahaan yang mereka bangun tidak berkembang.

 “Sekarang di dunia ini, ada dua jenis perusahaan”. Pria botak yang sempat menjadi direktur salah satu airlines itu lalu bercerita.

“Ada operation company, dimana perusahaan mencari untung dari proses operasi yang dilakukan. Mereka memproduksi barang dan jasa, lalu dijual dengan margin untuk mendapatkan keuntungan. Nah selain itu, ada namanya valuation company. Mereka tidak mengejar keuntungan dari operasi, tapi valuasi bisnis yang dilakukan oleh potensial investor”.

Bakar Duit, Dapat Duit

Ia lalu mencontohnya Traveloka. Online travel agent yang iklannya bisa kita lihat setiap hari. Bagaimana mungkin tiket yang dijual di Traveloka bisa lebih murah dari website airlines sendiri?

“Karena mereka tidak mengejar keuntungan. Komisi di bypass ke konsumen, ditambahin subsidi. Convenience fee tidak dibebankan ke pembeli. Mereka berani rugi, yang penting traffic masuk, dapat user gede yang pada ujungnya membuat Traveloka seksi dimata investor”.

Beberapa media meng-klaim Traveloka berpotensi menjadi startup unicorn, perusahaan dengan valuasi 1 milyar dollar. Dengan tingginya potensi traffic, user, dan masa depan industri travel di Indonesia, tak heran jika mereka mendapat suntikan dana dari Global Founders Capital, salah satu venture capital elit dunia yang punya uang ga berseri.

Mungkin karena itu juga start up macam Go-jek dan Grab Bike melakukan hal yang sama. Rela “bakar duit” dengan mensubsidi tarif antar penumpang dan barang, ngasih komisi lumayan ke driver, hingga ngiklan kemana-mana.

Go-jek dikabarkan mendapat pendanaan dari beberapa private equity macam Northstar Group dan Sequoia capital yang nilainya lumayan gede (konon total bisa ratusan juta dollar). Sedangkan Grab dapat 350 juta dollar dari China Investment Corporation. Pokoknya , kalo duit para venture capital ini dibelikan es dawet, kita bisa bikin kali Ciliwung full of dawet.

Investasi

Apa yang dicari oleh venture capital ketika memodali sebuah perusahaan startup?

Back to basic: duit. Venture capital bukan orang bego atau sinterklas yang rela duitnya dibakar begitu saja. Seperti kata pepatah:

“Dibutuhkan ikan kecil untuk menjadi umpan ikan besar”

Mereka berinvestasi karena percaya akan nilai dari business model yang diciptakan. Sekaligus pasti berharap return di kemudian hari. Setiap investasi yang dilakukan pasti sudah ada perhitungannya. Berapa tahun harus merugi, kapan harus mulai melepas subsidi, kapan harus profit taking, termasuk menghitung valuasi saat “exit strategy”.

Ya, mayoritas venture capital mensupport startup untuk “dijual” lagi. Mereka mendanai masa inkubasi, mendapat jatah saham, untuk kemudian dijual ke pemodal lain  dengan keuntungan yang berlipat-lipat. Itulah yang disebut “exit”. Studi dilakukan Tyebjee and Bruno (1984), mayoritas venture capital sudah punya strategy untuk keluar saat mereka baru mendanai startup itu.

Sedangkan berdasarkan riset yang dilakukan Miloud et al (2015), valuasi startup yang dilakukan venture capital berdasarkan beberapa faktor:

  1. Product differentiation – sejauh mana produk itu benar-benar unik dan punya “disruptive effect”
  2. Industry growth – apakah industri ini berprospek cerah?
  3. Entrepreneur dan manajerial – siapa dibalik tim manajemennya?
  4. Network – sejauh mana startup itu mampu membangun jaringan

Intinya jika Anda ingin dapat funding jutaan dollar dari venture capital: temukan industry yang akan booming, ciptakan produk yang inovatif, miliki tim yang solid, dan kembangkan jaringan seluas-luasnya.

Karena mimpi utama semua venture capital adalah ketika startup yang didanai-nya bisa go public dan listing di bursa saham. Ketika itu terjadi, mereka telah lulus ujian sebagai seorang kapitalis yang sukses menciptakan mesin pencetak uang. Seperti kata salah satu maestro valuasi saham, Warren Buffett:

“Price is what you pay. Value is what you get”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail