Category Archives: Es Jeruk

Segelas es jeruk adalah Oase di tengah kehidupan yang semakin gersang…

Four Blocker

Ada pelajaran menarik dari meeting PLN dan Jokowi pada 5 Agustus 2019 kemarin.
Bukan tentang ‘ngambeknya’ Jokowi. Masih ga ada apa-apanya dibandingkan amukan netijen kelas menengah Ibukota.
Bukan juga soal manajemen PLN. Yang belum punya direktur. BUMN yang diganti namanya jadi ‘Perusahaan Lilin Negara’ oleh netijen Maha Mulia.
Yang menarik adalah proses berlangsungnya rapat. Berlangsung singkat. Karena perbedaan minat.
Jokowi meminta: “…tolong yang disampaikan yang simple-simple saja..”.
Wajar. Karena Presiden tidak punya kemampuan mekanik soal listrik.
Sementara pihak PLN lalu memberikan penjelasan teknis tentang penyebab pemadaman. Mulai dari sistem kelistrikan sampai permasalahan yang timbul.
Wajar. Karena mereka adalah ‘orang lapangan’ yang menguasai keadaan.
Jokowi sepertinya tidak mengerti. Lalu berkomentar: “Penjelasannya panjang sekali”.
Setelah meminta permasalahan ini segera diatasi, Ia pun langsung pergi.
Media politik mengeksploitasi: Presiden murka hari ini.
Generalis vs Spesialis
Adanya masalah komunikasi seperti ini sering terjadi di berbagai organisasi. Biasanya antara tim teknis dan direksi. Orang spesialis dan orang generalis.
Direksi biasanya hanya ingin melihat secara makro. Sedangkan tim teknis biasanya terlalu mengurusi hal-hal mikro.
Tim direksi butuh penjelasan sederhana. Sedangkan tim teknis ingin menjelaskan semuanya.
Direksi ingin solusi permasalahan instant. Sedangkan tim teknis tahu ada batasan yang bisa dilakukan.
Apa jurus yang bisa kita pakai untuk mengatasi permasalahan komunikasi ini?
Ada beberapa cara yang bisa dicoba. Yang paling sederhana: gunakan 4 Blocker. Apa itu?
Metode ini saya ambil dari buku #Sharing karya Handry Satriago, CEO General Electric.
Budaya komunikasi di GE dibuat sangat cair karena four blocker ini.
Semua orang bisa mengeluarkan idenya. Secara sederhana. Rapat dilakukan dalam tempo singkat. Keputusan diambil dengan cepat.
Rumus four blocker sederhana: Ide disampaikan dalam sebuah 1 (SATU) lembar presentasi.
Dibagi 4 blok.
Blok pertama. WHAT: Apa yang terjadi. Sebutkan data dan fakta yang ada.
Blok kedua. WHY: Kenapa koq bisa terjadi? Temukan root cause penyebabnya.
Blok ketiga. HOW: Apa sih solusi yang kita lakukan? Tulis action plan-nya. Klo banyak, cukup tulis 3 critical action.
yang terakhir: HELP: Apa sih yang kita butuhkan untuk mengeksekusi ide itu? Apakah butuh budget, man power, tambahan wewenang, atau apapun.
Dengan 4 blocker, ide dapat disampaikan secara sederhana dan pengambilan keputusan dapat dilakukan saat itu juga.
Ini berbeda dengan budaya pemerintahan atau BUMN kita. Saya sering melihat laporan yang sengaja diperpanjang, dibumbui kata-kata canggih, dan juga dibuat berlembar-lembar dengan tembusan yang sebenarnya bisa dijadikan lampiran.
Mungkin ini karena waktu sekolah dulu kita diajarkan: jawaban yang paling panjang adalah yang paling benar.
Padahal terkadang: jawaban paling sederhana adalah jawaban yang paling mengena.
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Memelihara Masalah

Ada sebuah cerita dari Secret of Power Negotiating karya Roger Dawson yang mungkin berguna bagi netijen zaman sekarang.
 
Tersebut seorang pasangan tua yang hidup di kepulauan Pasifik. Suatu hari terjadi bencana puting beliung yang memporak-porandakan rumah mereka.
 
Karena tidak punya tempat berteduh, dan juga tidak mampu membangun rumahnya kembali, mereka pindah ke rumah anaknya.
 
Masalahnya, rumah sang anak cukup kecil. Dia juga punya empat anak kecil dan dua saudara ipar yang juga tinggal serumah. Kini ada 10 orang yang hidup dalam satu atap. Kondisi ini membuatnya tidak nyaman dan stress.
 
Sempat terlintas ide untuk membeli rumah yang lebih besar atau menyewakan tempat untuk kedua orang tuanya. Tapi uangnya hanya cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
 
Akhirnya ia pergi ke tetua desa yang terkenal karena kebijaksanaannya. “Apa yang harus saya lakukan agar bisa hidup damai dengan kondisi seperti ini?”
 
Orang bijak itu merenung sebentar. Bukannya bertanya soal luas rumah, alternatif kontrakan, atau jumlah tabungan yang dimiliki sang anak, ia malah bertanya:
 
“Kamu punya ayam?”
 
“Ya, saya punya 10 ekor ayam”.
 
“Kalau begitu masukkan ke dalam pondokmu”.
 
Busyet! Problem solving macam apa ini? Bukankah hal ini tidak akan memecahkan masalah kekurangan ruang? Tapi karena percaya dengan kebijaksaan tetua desa, ia menurut saja.
 
Ide ini mendapat tentangan dari istri dan iparnya. Tapi sang anak bersikeras agar mencoba dulu. Dan benar saja, rumah itu menjadi kapal pecah karena ayam yang berkeliaran tidak karuan.
 
Setelah tiga hari Sang anak kembali mengharap orang bijak tadi. Siapa tahu ada solusi yang lebih masuk akal. Jawaban tetua desa semakin absurd.
 
“Kamu punya kambing kan?”
 
“Ya. Ada sekitar tiga ekor”.
 
“Masukkan juga kambing itu ke pondokmu”.
 
Dengan hati yang menggerutu ia melaksanakan perintah aneh itu. Baru semalam kambing itu dimasukkan, pondok itu sudah lebih pantas disebut kandang. Karena sekarang bukan hewan yang hidup di pondok manusia, tapi manusia yang hidup di kandang hewan.
 
Keesokan paginya ia menghadap lagi.
 
“Tolong berikan saya saran terbaik. Saya sudah mengikuti saranmu tapi keadaan semakin memburuk. Apa yang harus saya lakukan?”
 
Orang bijak tadi tersenyum.
 
“Sekarang keluarkan ayam dan kambing tadi. Rapikan pondokmu. Kamu akan menemukan kedamaian”.
 
Dengan cepat si anak pulang untuk mengeluarkan ayam dan kambing dan merapikan pondok yang lebih parah dari jalur Gaza. Anehnya, sekarang ia merasa lebih lega meskipun ada orang tua yang tinggal bersamanya. Ia juga tidak merasa stress atau mengeluh lagi. Ia menemukan kedamaian.
 
Hikmahnya?
 
Setiap masalah hidup hanya akan membuat kita semakin kuat.
 
Daripada meminta hidup tanpa masalah, mintalah kekuatan untuk bisa mengatasi semua masalah.
 
Pelajaran kedua: kedamaian tak kunjung datang karena kita menjejali pikiran dengan ‘binatang’ yang tak perlu kita ‘pelihara’.
 
Ada binatang bernama ‘merasa benar’. Sehingga selalu ingin terlihat menang saat debat di media sosial.
 
Ada hewan bernama ‘viral’. Hingga memaksa manusia menciptakan sensasi-sensasi yang sebenarnya tak perlu terjadi.
 
Ada peliharaan berwujud ‘up to date’. Membuat kita selalu mengikuti trend tanpa pernah sadar jika trend sengaja diciptakan untuk keuntungan pembuatnya.
 
Binatang ini menghabiskan space otak kita dan menyisakan sedikit ruang untuk hal-hal yang justru paling penting.
 
Orang tua yang jika dirawat akan melahirkan kedamaian. 
 
Bapaknya bernama kerendahhatian. Ibunya bernama rasa syukur akan kasih sayang Tuhan.
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

KALIDAWIR

Jumat ini saya menerima tamu istimewa. Mas Bambang. Vice President baru di kantor. Baru 7 minggu. Masih muda. Umurnya 37 tahun.

Apa yang istimewa?

Bukan karena dia malang melintang di dunia venture capital di Amerika. Bukan karena dia punya background financial dan investment yang kuat. Bukan karena banyak startup Indonesia yang telah ia bantu.

Yang menarik adalah cerita soal listrik.

“Saya baru merasakan listrik di umur 18 tahun”.

Mas Bambang lahir di Kalidawir, Tulungagung. Daerah gunung. Sangat ndeso. Didepan rumahnya masih ada hutan. Hiburannya cuma ngelihatin kalong.

Indonesia perlu berumur 55 tahun baru bisa masuk listrik. Sampai sekarang pun disana belum ada sambungan telpon.

Sewaktu sekolah, Mas Bambang ga pernah pake sepatu. Karena emang ga mampu. Setiap hari harus jalan kaki 8 km. Sampe sekolah? Belum. Itu baru ke jalan raya tempat nyegat angkutan umum.

Ketika SMA, gurunya memaksa dia turun gunung. Dia akhirnya ngekos. Sambil bekerja jadi tukang kebun, kuli bangunan, sampai tukang konveksi. Apa saja yang penting bisa sekolah.

Cita-citanya sederhana: Jadi kasir. Setidaknya nggak jadi tukang bangunan atau buruh sawit di Malaysia. Seperti cita2 anak muda di kampung nya.

Guru yang sama memberikan perintah gila: kamu harus kuliah.

Berbekal baju bekas almarhum Bapaknya dia merantau ke Jakarta. Mencoba daftar UMPTN. Coba ke UI, gagal.

Untung ada universitas swasta yang mau menerima dia. Full beasiswa. Sisanya tinggal cerita.

Karena tekun, studinya lancar dan exchange keluar negeri. Setelah lulus, Ia bekerja di Roma, Australia. Kota kecil yang penduduknya cuma 7 ribu. Separuh pengunjung mall di Jakarta.

Hanya betah beberapa bulan. Alasannya sederhana:

“Disana ga bisa jumatan”.

Lalu mulailah dia berkarier di sektor korporasi multinasional. Dari Jakarta sampai San Francisco. Hingga saat ini, jadi Vice President di startup decacorn Indonesia. Setelah 6 tahun hidup di Amerika.

Saya belajar dua hal.

Pertama tentu tentang rahmat Tuhan yang ada pada kesabaran. Karena seperti janji Tuhan: bersama kesulitan, ada kemudahan. Tinggal kita yang harus berusaha. Melakukan upaya terbaik yang kita bisa.

Kedua, sekali lagi saya melihat: bukti ilmu meninggikan derajat. Persis cerita laskar pelangi atau 9 Summers 10 Autumn. Bocah gunung bisa koq punya kompetensi world class.

Asal dididik dengan tepat. Punya kemauan kuat. Dikelilingi lingkungan yang tak menghujat. Ditambah doa pembawa berkat.

Jika hidup kita masih miss queen, maka kita wajib bertanya: berapa buku yang sudah kita baca? Berapa seminar/pelatihan yang sudah kita ikuti? Berapa guru yang sudah kita kunjungi?

Jika kita ingin kehidupan yang lebih baik, ya kita harus belajar dan mencari ilmu yang lebih banyak.

Bukan dengan marah-marah sambil demo menyalahkan pemerintah atau kaum zionis wahyudi mamarika.

Karena Investasi terbaik untuk mengusir kemiskinan adalah pendidikan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cara Berdebat Dengan Orang Gila

Sebagai netizen, kita pasti sering melihat debat di forum, media social atau kolom komentar berita. Terkadang debat dengan saling berbalas komentar lebih seru daripada subtansi berita/postingan yang ditampilkan. Bahkan ada yang sampai gelut dan berantem di dunia nyata.
Bagi yang tidak terbiasa debat dengan sehat, biasanya berujung pada penyerangan pribadi hingga bully yang ujung-nya menjadi pembunuhan karakter. Sadis bener.
Ilmu debat dan retorika sendiri sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani kuno. Ya Cuma sayangnya ga diajarkan ke semua orang.
Dan mayoritas masyarakat kita lebih tertarik belajar ilmu selangkangan daripada ilmu perdebatan.
Padahal ada cara elegan ‘menghabisi’ lawan debat kita. Sebuah metodologi yang jika Anda kuasai, bisa digunakan untuk mengimbangi Rocky Gerung debat di ILC hehe.
Apa itu?
Struktur Argumentasi
Menurut Brandon Royal dalam Little Blue Reasoning Book: 50 Principles for Clear and Effective Thinking (2010), kuncinya ada dalam memahami argumentasi lawan debat.
Argumen seseorang pada dasarnya adalah sebuah kesimpulan. Dan kesimpulan yang disampaikan, pasti dibangun dari dua hal: bukti-bukti (evidence) dan asumsi (assumption).
Evidence adalah bukti empiris. Assumption adalah opini atas logika yang dibangun. Bukti + opini akan menghasilkan kesimpulan argumentasi.
Rumusnya:

Conclusion = evidence + assumption

Atau
Conclusion – evidence = assumption

kerangka sebuah argument
Banyak perdebatan dunia maya menjadi sia-sia karena saling menyerang conclusion tanpa disertai bukti dan asumsi yang kuat.
Padahal untuk mengkritisi argument lawan bicara, kita cukup serang bukti dan asumsinya, jangan langsung hajar kesimpulan mereka. Jika kuda-kuda evidence + assumption sudah lemah, ambruklah kesimpulan dengan sendirinya.
Contoh: Yoga pantas jadi presiden!. Ini karena Presiden sekarang kerjanya ga becus dan banyak yang mendukung Yoga!
Conclusion: Yoga pantas jadi presiden
Assumption : Kerja presiden sekarang ga bener. Banyak yang mendukung Yoga.
Evidence: ???? (hampir tidak ada)
Jika Anda ingin mendebat Yoga, cukup tanyakan apa bukti jika kerja presiden sekarang ga bener, dan apa bukti jika banyak rakyat yang mendukung Yoga.
Untuk menyerang asumsi seseorang, setidaknya ada 5 (lima) jenis fallacy (kesesatan) berpikir yang bisa kita pakai untuk menciptakan keraguan dalam sebuah asumsi. (Tapi kita tulis lain kali biar ga terlalu panjang ya bosku, silahkan tinggalkan komentar jika ingin dibahas)
Melawan Orang Gila
Gimana jika lawan debat kita tetep ngeyel dan meyakini bukti yang kita sodorkan adalah ngawur dan penuh rekayasa?
Maka kita masuk ke level berdebat dengan orang gila. Melawan orang gila tidak bisa menggunakan analytical/critical thinking, tapi harus naik 1 tingkat di creative thinking. Contohnya cerita sufi Abunawas.
Suatu hari Abunawas meminjam uang ke tetangganya. Setelah beberapa hari, si tetangga menagih dan mensyaratkan tambahan bunga.
Abunawas menolak, bagaimana mungkin uangnya bisa bertambah. Tetangga itu menjawab:
“Uang itu harta. Sapi itu harta. Sapi saja bisa beranak kenapa uang tidak bisa?!?”
Dengan berat hati Abunawas membayar “anak uang” tadi. Setelah beberapa bulan Abunawas meminjam lagi dengan jumlah yang lebih besar.
Saat jatuh tempo, Abunawas tak kunjung datang mengembalikan uang pinjaman. Akhirnya tetangga culas ini mendatangi rumah Abunawas dan melihatnya sedang bersedih.
“Innalillahi wa inalillahiraji’un. Maafkan aku yang belum sempat datang ketempatmu untuk menyampaikan berita duka ini…. Uangmu… uangmu telah meninggal dunia kemarin….” Kata Abunawas sambil menangis tersedu-sedu.
“Dasar gila! Mana ada uang meninggal dunia! Cepat kembalikan uangku!” seru si tetangga.
Dengan terisak-isak, Abunawas berteriak:
“Kamu yang gila! Jika uang bisa beranak, ia juga pasti bisa meninggal!”
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Educere

Beberapa waktu lalu saya kumpul-kumpul dengan teman-teman. Dan seperti biasa, selain update masalah kehidupan, kita saling bertanya soal anak dan keluarga.

Termasuk soal pendidikan.

Seorang teman mengkhawatirkan soal mahalnya biaya pendidikan anak-anak zaman future (bukan now lagi bosku).

Uang pangkalnya puluhan juta, belum SPP yang nilainya mirip SPP kuliah saya dulu haha.

Yang membuat saya tersadar adalah, stigma yang mengasosiasikan jika pendidikan berarti sekolah.

Apakah tanpa sekolah seorang manusia bisa mendapatkan pendidikan?

Kebetulan saya baru saja menyelesaikan “Educated” dari Tara Westover. Memoar dari seorang ahli sejarah PhD Cambridge yang anehnya, tidak pernah mengenyam bangku sekolah hingga umur 16 tahun!

Sejarah hidup Tara sendiri unik. Dibesarkan oleh keluarga Mormon yang fanatik, Ayahnya menderita schizophrenia dan hidup dalam halusinasi tentang illuminati, konspirasi, dan semakin dekatnya hari kiamat.

Mereka anti pemerintah, tidak percaya dokter, dan bahkan tidak mengurus akte kelahiran anak-anak mereka.

Ayahnya seorang pedagang rongsokan dan kontraktor partikelir. Ibunya bekerja sebagai bidan ilegal. Lalu banting setir menjadi herbalis pengobatan tradisional setelah kecelakaan mobil hebat yang hampir menewaskan keluarga mereka.

Tak ada musik pop. Buku-buku bacaan yang ada hanya alkitab. Pendidikan yang diajarkan hanya baca tulis hitung sederhana. Kata sang Ayah, sekolah adalah alat illuminati untuk mencuci otak kaum muda.

“A man can’t make a living out of books and scraps of paper”.

Untung tak semua kakaknya tahan dengan kultur keluarga anti mainstream ini. Menginjak remaja, dua kakaknya minggat. Lalu menyusul anak ketiga, ingin sekolah.

Anak ketiga ini, Tyler, yang kemudian mengompori Tara untuk belajar. Mandiri. Tanpa diawasi.

Diberikannya buku-buku. Disuruhnya Tara ikut ACT. Test untuk masuk perguruan tinggi. Ijazahnya gimana? Dalam essay application ditulis: Tara mendapat pendidikan home schooling.

Tara sendiri mengisahkan perjuangannya belajar matematika, trigonometri, atau aljabar. Senjatanya cuma satu: kesabaran membaca meski ia tidak mengerti juga.

“The skill I was learning was a crucial one, the patience to read things I could not yet understand”.

Singkat cerita, dia lulus dan diterima di BYU (Bright Young University). Ajaibnya lagi, studinya lancar dan mendapatkan beasiswa ke Cambridge hingga menggenggam gelar PhD!.

Saya jadi tersadar, yang terpenting dari pendidikan bukan tentang INSTITUSI pendidikan. Tapi bagaimana bisa menghasilkan manusia-manusia pembelajar yang mencintai proses pendidikan itu sendiri.

Apalagi di zaman sekarang, pendidikan berbasis kelas terdisrupsi oleh ‘sekolah online’. Ada universitas raksasa bernama Google yang bisa membantu kita menemukan “guru” tentang pelajaran apa saja.

Pingin belajar edit video? Bisa mulai menonton ribuan tutorial di youtube. Ingin tahu soal data science? Banyak kursus di udemy. Pingin tahu matematika? Bisa main-main ke Khan Academy. Bingung klo ada pertanyaan soal coding? Silahkan lempar di Github.

Tentu ‘sekolah online’ takkan bisa 100% mengalahkan pertemuan langsung dengan pengajar ilmu. Ada “adab ilmu” yang harus diajarkan oleh seorang guru. Karena itu pendidikan formal masih memegang peranan penting, meski bukan yang terpenting.

Tantangan pendidikan dimasa depan bukan tentang transfer pengetahuan. Tapi bagaimana menciptakan koneksi antar pengetahuan. Ini tentang mengubah informasi menjadi strategi yang menghasilkan aksi valuasi.

Google menjadi kaya bukan karena menyimpan data search queries penduduk bumi. Google menjadi kaya karena bisa mengubah data keyword pencarian menjadi sesuatu yang berguna bagi pengiklan.

Menurut Craft (1984) kata ‘education’ sendiri punya dua makna. Bisa educare yang berarti membentuk. Atau educere, yang berarti mengeluarkan.

Apa yang dikeluarkan?

Rasa penasaran, kerendahhatian, dan penghormatan kepada anugerah Tuhan bernama pengetahuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Rileks

Anda ingin menjadi pemikir kreatif?

Maka berhentilah berpikir terlalu serius dan sering-seringlah main ke kamar mandi.

Itu hasil survey kecil-kecilan yang dilakukan Daniel Kahneman, pemenang nobel ekonomi kepada teman-temannya, Mereka mengaku menjadi kreatif dan mendapat ide-ide segar ketika mandi.

Kita pasti diajarkan di sekolah. Archimedes berteriak Eureka dan mendapatkan inspirasi hukum Archimedes saat berendam di kamar mandi. Bukan ketika lagi mengerjakan PR matematika, atau ngitung-ngitung  cicilan KPR.

Saya sih percaya jika Archimedes lahir di Surabaya, ia akan berteriak “JANC**! Dan kita akan mengenal hukum JANC** untuk menjelaskan massa jenis benda.

Saya yakin kita sering mendapat inspirasi saat “ngebom” di WC. Atau ketika ngopi dan ngobrol-ngobrol santai dengan teman?

Dan kenapa pula kita seringkali bisa mengingat barang yang terlupa justru pada saat sholat?

Tapi kenapa ide-ide kreatif justru muncul saat otak kita tidak dipaksa untuk berpikir?

Orang pintar punya pendapat.

Saat kita ngebom, ngopi santai, atau bengong pas sholat (hayo ngaku!), kita merasa rileks.

Kondisi rileks membantu otak lebih cair dan flow. Saat itu koneksi antar neuron bisa terhubung dengan baik.

“Anda perlu memberi waktu bagi otak Anda untuk beristirahat sehingga dapat mengkonsolidasi semua informasi yang masuk” kata Daniel Levitin, professor behavioural neuroscience dari Universitas McGill.

Intinya otak kita harus beristirahat dan mengendorkan syaraf.

Ibarat mesin, otak kita perlu didinginkan sebentar agar bisa melaju dengan lancar.

Mungkin karena itu system Pendidikan di Finlandia menerapkan kebijakan unik: murid diwajibkan beristirahat singkat setelah (maksimal) 45-60 menit pelajaran.

Guru-guru juga punya kewajiban: menyampaikan materi dalam waktu singkat. Jangan terlalu padat. Nanti informasi bisa ngadat.

Lantas, bagaimana cara untuk rileks ditengah semakin sengitnya arus modernitas yang menuntut semuanya serba cepat?

Secara teori gampang. Ingatlah jika semua ini hanyalah urusan dunia.

Dan berita baiknya: dunia tidak dibawa mati.

Harus menemukan produk baru? Harus menciptakan strategy bisnis? Harus menang Pilpres 2019?

Gus Dur sudah punya tag line jawaban kehidupan kita: Gitu aja koq repot.

Dan saya percaya Gus Dur adalah seorang pemikir yang kreatif.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ketika Malam Berakhir dan Siang Dimulai

Seorang rabi Yahudi bertanya kepada murid-muridnya:

“Bagaimana caranya agar kita tahu kapan malam berakhir dan siang dimulai?”

Karena ada doa dan ibadah yang hanya bisa dilakukan saat malam dan siang hari, para murid menganggap pertanyaan ini penting.

Murid pertama mencoba menjawab, “Rabi, ketika saya melihat ke ladang dan bisa membedakan ladang saya dan ladang tetangga, itulah saat malam berakhir dan siang dimulai”.

Rabi tampak kecewa mendengar jawaban itu. Ia hanya diam.

Murid kedua berkata, “Rabi, ketika saya keluar rumah dan bisa membedakan mana rumah saya dan rumah tetangga, saat itulah malam berakhir dan siang dimulai”.

Rabi masih terdiam.

“Rabi, ketika saya melihat hewan di kejauhan, dan saya bisa tahu hewan apa itu. Entah sapi, kuda, atau domba. Maka itu adalah saat malam berakhir dan siang dimulai”. Jawab murid ketiga.

Rabi malah menggeleng-gelengkan kepalanya.

Murid keempat tak mau kalah, “Ketika saya melihat bunga dan bisa membedakan warnanya, merah kuning atau biru. Itulah watunya malam berakhir dan siang dimulai”.

Mendengar jawaban terakhir itu malah membuat Rabi marah.

“Kalian semua tak mengerti! Kalian hanya membedakan! Kalian membedakan rumah kalian dari rumah tetangga, ladang kalian dari ladang tetangga, membedakan hewan dan warna bunga. Apa hanya ini yang bisa kita lakukan? Membedakan, memisahkan, memecah dunia jadi bagian-bagian? Apa itu guna Taurat?!? Bukan, murid-muridku tersayang, bukan seperti ini. Bukan seperti ini caranya.”

Murid-murid yang kaget tersadar telah mencerna pertanyaan Rabi dengan terlalu dangkal. Mereka menyerah dan bertanya:

“Wahai Rabi, tolong beritahu kami bagaimana cara mengetahui malam telah berakhir dan siang sudah dimulai?”.

Rabi menatap wajah murid-muridnya satu persatu. Dengan suara lembut dan menyentuh, Ia berkata:

“Ketika kalian memandang wajah orang lain, dan kalian bisa melihat bahwa orang itu adalah saudaramu, maka malam telah berakhir dan siang telah dimulai”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mendengarkan Keheningan

Pada 1952, John Milton Cage, salah satu composer music paling berpengaruh di abad 20, menulis karya yang tidak biasa.

Komposisi yang diberi judul 4’ 33” itu berisi karya music tanpa suara selama 4 menit 33 detik! Ya, John Cage menulis sebuah lagu tanpa sebuah nada apapun yang terdengar!. Kesunyian selama 4 menit, 33 detik.

Saat diwawancari oleh Richard Kostelanetz, Cage menjelaskan maksud dari 4’ 33”.

“You know I’ve a written a piece called 4’ 33” which has no sounds oh my own making in it… 4’ 33” becomes in performance the sound of the environment”.

John Cage rupanya sudah sampai di level Zen soal suara. Dia beranggapan semua suara adalah music, dan setiap benda pasti menghasilkan suara. Termasuk saat keadaan sunyi tanpa suara itu sendiri.

4’ 33” adalah ajakan untuk menikmati keheningan.

Bisingnya Kehidupan Modern

Karya John Cage masih tetap relevan saat ini karena manusia modern hampir tidak pernah menikmati keheningan.

Rutinitas manusia modern penuh dengan suara. Biasanya dimulai dari alarm pagi. Atau bunyi ayam jantan yang mengikuti suara adzan.

Setelah itu suara TV/radio/pemutar music terus menemani kita beraktivitas.

Kita mendegarkan berita saat sarapan. Menyetel music di kendaraan. Menguping pembicaraan di tempat kerja. Menonton youtube menjelang tidur. Sampai memutar lagu slow sebagai teman tidur.

Kapan kita bisa mendegarkan suara kita sendiri? Atau pertanyaan yang lebih penting: Kenapa kita perlu mendengarkan suara kita sendiri?

Pada dasarnya manusia yang tidak mendengarkan dirinya sendiri akan tumbuh sebagai manusia yang gelisah.

Hidupnya butuh pengakuan dari luar tanpa pernah mendengar kedalam.

Ia butuh pembenaran. Entah pembenaran secara social, atau pengakuan dari sisi material.

Mereka memiliki sesuatu karena orang lain menghargai itu. Memilih sesuatu karena manusia lain menginginkan itu. Hidup dengan cara tertentu karena masyarakat umum menganggapnya berharga.

Senyum Bahagia

Jika Anda berlatih meditasi, konon salah satu latihan yang penting untuk dikuasai adalah: mendengarkan nafas sendiri. Kenapa hal ini penting?

Karena ini adalah proses mencapai pratyahara. Kondisi sadar terhadap diri sendiri dan tidak terpengaruh oleh kondisi luar.

Itu berarti mengerti jika kebahagiaan dapat dimiliki hanya dengan bermodal senyuman, dan penerimaan terhadap diri sendiri.

Meditasi Yoga senyuman sungguh ceria:

Duduklah, rileks.

Tarik nafas dan senyumlah

Bahagialah, damailah

Mari kita lakukan yoga senyuman

Senyumlah. Senyum lagi. Senyumlah seakan-akan Anda tercerahi.

Bahagia, penuh rahmat, ceria.

Orang yang sadar diri tidak akan merasa kesepian ditengah keheningan. Karena mereka tetap bisa mendengarkan suara kesunyian.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#4 Kalung Kebaikan

source: freepik

Abdul Muzhaffar cucu Ibnul Jauzi berkata, “Ibnu Uqail pernah bercerita tentang pengalamannya sendiri:

“Suatu ketika aku pergi haji. Lalu aku menemukan kalung permata di sebuah buntalan benang merah. Tiba-tiba ada orang yang mengumumkan jika telah kehilangna kalung dan akan memberikan 100 dinar kepada orang yang menemukannya. Aku pun mengembalikannya”.

Kakek tua itu ingin memberikanku dinar, namun aku menolaknya.

Setelah itu, aku pergi ke Syam dan mengunjungi Al-Quds. Aku ingin pergi ke Baghdad dan singgah di sebuah masjid di Hald. Saat aku kedinginan dan kelaparan tiba-tiba ada orang yang mendatangi aku. Aku lalu shalat bersama, dan menerima jamuan makan dari mereka. Ini terjadi saat awal Ramadan.

Mereka berkata, “Imam kami meninggal dunia. Kami ingin engkau untuk shalat mengimami kami pada bulan ini”. Aku menyanggupi permintaan itu.

Mereka juga berkata, “Imam kami memiliki seorang anak perempuan”. Lalu aku dinikahkan bersamanya dan memiliki seorang anak laki-laki.

Suatu hari, aku memperhatikan istriku. Ternyata di lehernya ada kalung permata dengan benang merah, sama dengan kalung yang dulu aku temukan.

Aku lalu menceritakan pengalamanku dengan kalung itu.

Istriku menangis dan berkata,

“Demi Allah, engkaulah orangnya. Ayahku pernah menangis dan berdoa, ‘Ya Allah nikahkanlah putriku dengan pemuda yang serupa dengan orang yang telah mengembalikan kalung permata ini kepadaku’. Sungguh, Allah telah mengabulkan doa ayahku”.

Adz-Dzahabi dalam As-Siyar (19/449-450)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#3 Dicium Lelaki Lain

Al Mughirah bin Syu’bah bercerita:

“Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkanku kecuali seorang pemuda. Pernah suatu waktu aku ingin menikahi seorang wanita. Lalu aku mengajaknya bermusyawarah tentang wanita itu”.

Pemuda itu berkata, “Wahai Amir (Gubernur), menuruku sebaiknya engkau jangan menikahinya.

Kenapa? Tanya al Mughirah.

Jawaban sang pemuda sangat tak terduga, “Karena aku pernah melihat ada seorang laki-laki yang menciumnya!”.

Al Mughirah mengikuti saran pemuda itu. Tak lama berselang ia mendengar jika sang wanita sudah menikah. Dengan siapa? Dengan si pemuda yang memberinya saran tadi! Sungguh jurus menelikung tingkat tinggi. Hampir seperti Marquez menelikung Rossi.

“Bukankah kamu berkata bahwa ada seorang pria yang pernah menciumnya?” Tanya al Mughirah kepada si pemuda dengan jengkel.

Pemuda itu tersenyum. “Ya, aku pernah melihat lelaki lain menciumnya. Aku pernah melihat ayahnya mencium wanita itu ketika masih kecil”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail