Category Archives: Es Jeruk

Segelas es jeruk adalah Oase di tengah kehidupan yang semakin gersang…

Educere

Beberapa waktu lalu saya kumpul-kumpul dengan teman-teman. Dan seperti biasa, selain update masalah kehidupan, kita saling bertanya soal anak dan keluarga.

Termasuk soal pendidikan.

Seorang teman mengkhawatirkan soal mahalnya biaya pendidikan anak-anak zaman future (bukan now lagi bosku).

Uang pangkalnya puluhan juta, belum SPP yang nilainya mirip SPP kuliah saya dulu haha.

Yang membuat saya tersadar adalah, stigma yang mengasosiasikan jika pendidikan berarti sekolah.

Apakah tanpa sekolah seorang manusia bisa mendapatkan pendidikan?

Kebetulan saya baru saja menyelesaikan “Educated” dari Tara Westover. Memoar dari seorang ahli sejarah PhD Cambridge yang anehnya, tidak pernah mengenyam bangku sekolah hingga umur 16 tahun!

Sejarah hidup Tara sendiri unik. Dibesarkan oleh keluarga Mormon yang fanatik, Ayahnya menderita schizophrenia dan hidup dalam halusinasi tentang illuminati, konspirasi, dan semakin dekatnya hari kiamat.

Mereka anti pemerintah, tidak percaya dokter, dan bahkan tidak mengurus akte kelahiran anak-anak mereka.

Ayahnya seorang pedagang rongsokan dan kontraktor partikelir. Ibunya bekerja sebagai bidan ilegal. Lalu banting setir menjadi herbalis pengobatan tradisional setelah kecelakaan mobil hebat yang hampir menewaskan keluarga mereka.

Tak ada musik pop. Buku-buku bacaan yang ada hanya alkitab. Pendidikan yang diajarkan hanya baca tulis hitung sederhana. Kata sang Ayah, sekolah adalah alat illuminati untuk mencuci otak kaum muda.

“A man can’t make a living out of books and scraps of paper”.

Untung tak semua kakaknya tahan dengan kultur keluarga anti mainstream ini. Menginjak remaja, dua kakaknya minggat. Lalu menyusul anak ketiga, ingin sekolah.

Anak ketiga ini, Tyler, yang kemudian mengompori Tara untuk belajar. Mandiri. Tanpa diawasi.

Diberikannya buku-buku. Disuruhnya Tara ikut ACT. Test untuk masuk perguruan tinggi. Ijazahnya gimana? Dalam essay application ditulis: Tara mendapat pendidikan home schooling.

Tara sendiri mengisahkan perjuangannya belajar matematika, trigonometri, atau aljabar. Senjatanya cuma satu: kesabaran membaca meski ia tidak mengerti juga.

“The skill I was learning was a crucial one, the patience to read things I could not yet understand”.

Singkat cerita, dia lulus dan diterima di BYU (Bright Young University). Ajaibnya lagi, studinya lancar dan mendapatkan beasiswa ke Cambridge hingga menggenggam gelar PhD!.

Saya jadi tersadar, yang terpenting dari pendidikan bukan tentang INSTITUSI pendidikan. Tapi bagaimana bisa menghasilkan manusia-manusia pembelajar yang mencintai proses pendidikan itu sendiri.

Apalagi di zaman sekarang, pendidikan berbasis kelas terdisrupsi oleh ‘sekolah online’. Ada universitas raksasa bernama Google yang bisa membantu kita menemukan “guru” tentang pelajaran apa saja.

Pingin belajar edit video? Bisa mulai menonton ribuan tutorial di youtube. Ingin tahu soal data science? Banyak kursus di udemy. Pingin tahu matematika? Bisa main-main ke Khan Academy. Bingung klo ada pertanyaan soal coding? Silahkan lempar di Github.

Tentu ‘sekolah online’ takkan bisa 100% mengalahkan pertemuan langsung dengan pengajar ilmu. Ada “adab ilmu” yang harus diajarkan oleh seorang guru. Karena itu pendidikan formal masih memegang peranan penting, meski bukan yang terpenting.

Tantangan pendidikan dimasa depan bukan tentang transfer pengetahuan. Tapi bagaimana menciptakan koneksi antar pengetahuan. Ini tentang mengubah informasi menjadi strategi yang menghasilkan aksi valuasi.

Google menjadi kaya bukan karena menyimpan data search queries penduduk bumi. Google menjadi kaya karena bisa mengubah data keyword pencarian menjadi sesuatu yang berguna bagi pengiklan.

Menurut Craft (1984) kata ‘education’ sendiri punya dua makna. Bisa educare yang berarti membentuk. Atau educere, yang berarti mengeluarkan.

Apa yang dikeluarkan?

Rasa penasaran, kerendahhatian, dan penghormatan kepada anugerah Tuhan bernama pengetahuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Rileks

Anda ingin menjadi pemikir kreatif?

Maka berhentilah berpikir terlalu serius dan sering-seringlah main ke kamar mandi.

Itu hasil survey kecil-kecilan yang dilakukan Daniel Kahneman, pemenang nobel ekonomi kepada teman-temannya, Mereka mengaku menjadi kreatif dan mendapat ide-ide segar ketika mandi.

Kita pasti diajarkan di sekolah. Archimedes berteriak Eureka dan mendapatkan inspirasi hukum Archimedes saat berendam di kamar mandi. Bukan ketika lagi mengerjakan PR matematika, atau ngitung-ngitung  cicilan KPR.

Saya sih percaya jika Archimedes lahir di Surabaya, ia akan berteriak “JANC**! Dan kita akan mengenal hukum JANC** untuk menjelaskan massa jenis benda.

Saya yakin kita sering mendapat inspirasi saat “ngebom” di WC. Atau ketika ngopi dan ngobrol-ngobrol santai dengan teman?

Dan kenapa pula kita seringkali bisa mengingat barang yang terlupa justru pada saat sholat?

Tapi kenapa ide-ide kreatif justru muncul saat otak kita tidak dipaksa untuk berpikir?

Orang pintar punya pendapat.

Saat kita ngebom, ngopi santai, atau bengong pas sholat (hayo ngaku!), kita merasa rileks.

Kondisi rileks membantu otak lebih cair dan flow. Saat itu koneksi antar neuron bisa terhubung dengan baik.

“Anda perlu memberi waktu bagi otak Anda untuk beristirahat sehingga dapat mengkonsolidasi semua informasi yang masuk” kata Daniel Levitin, professor behavioural neuroscience dari Universitas McGill.

Intinya otak kita harus beristirahat dan mengendorkan syaraf.

Ibarat mesin, otak kita perlu didinginkan sebentar agar bisa melaju dengan lancar.

Mungkin karena itu system Pendidikan di Finlandia menerapkan kebijakan unik: murid diwajibkan beristirahat singkat setelah (maksimal) 45-60 menit pelajaran.

Guru-guru juga punya kewajiban: menyampaikan materi dalam waktu singkat. Jangan terlalu padat. Nanti informasi bisa ngadat.

Lantas, bagaimana cara untuk rileks ditengah semakin sengitnya arus modernitas yang menuntut semuanya serba cepat?

Secara teori gampang. Ingatlah jika semua ini hanyalah urusan dunia.

Dan berita baiknya: dunia tidak dibawa mati.

Harus menemukan produk baru? Harus menciptakan strategy bisnis? Harus menang Pilpres 2019?

Gus Dur sudah punya tag line jawaban kehidupan kita: Gitu aja koq repot.

Dan saya percaya Gus Dur adalah seorang pemikir yang kreatif.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ketika Malam Berakhir dan Siang Dimulai

Seorang rabi Yahudi bertanya kepada murid-muridnya:

“Bagaimana caranya agar kita tahu kapan malam berakhir dan siang dimulai?”

Karena ada doa dan ibadah yang hanya bisa dilakukan saat malam dan siang hari, para murid menganggap pertanyaan ini penting.

Murid pertama mencoba menjawab, “Rabi, ketika saya melihat ke ladang dan bisa membedakan ladang saya dan ladang tetangga, itulah saat malam berakhir dan siang dimulai”.

Rabi tampak kecewa mendengar jawaban itu. Ia hanya diam.

Murid kedua berkata, “Rabi, ketika saya keluar rumah dan bisa membedakan mana rumah saya dan rumah tetangga, saat itulah malam berakhir dan siang dimulai”.

Rabi masih terdiam.

“Rabi, ketika saya melihat hewan di kejauhan, dan saya bisa tahu hewan apa itu. Entah sapi, kuda, atau domba. Maka itu adalah saat malam berakhir dan siang dimulai”. Jawab murid ketiga.

Rabi malah menggeleng-gelengkan kepalanya.

Murid keempat tak mau kalah, “Ketika saya melihat bunga dan bisa membedakan warnanya, merah kuning atau biru. Itulah watunya malam berakhir dan siang dimulai”.

Mendengar jawaban terakhir itu malah membuat Rabi marah.

“Kalian semua tak mengerti! Kalian hanya membedakan! Kalian membedakan rumah kalian dari rumah tetangga, ladang kalian dari ladang tetangga, membedakan hewan dan warna bunga. Apa hanya ini yang bisa kita lakukan? Membedakan, memisahkan, memecah dunia jadi bagian-bagian? Apa itu guna Taurat?!? Bukan, murid-muridku tersayang, bukan seperti ini. Bukan seperti ini caranya.”

Murid-murid yang kaget tersadar telah mencerna pertanyaan Rabi dengan terlalu dangkal. Mereka menyerah dan bertanya:

“Wahai Rabi, tolong beritahu kami bagaimana cara mengetahui malam telah berakhir dan siang sudah dimulai?”.

Rabi menatap wajah murid-muridnya satu persatu. Dengan suara lembut dan menyentuh, Ia berkata:

“Ketika kalian memandang wajah orang lain, dan kalian bisa melihat bahwa orang itu adalah saudaramu, maka malam telah berakhir dan siang telah dimulai”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mendengarkan Keheningan

Pada 1952, John Milton Cage, salah satu composer music paling berpengaruh di abad 20, menulis karya yang tidak biasa.

Komposisi yang diberi judul 4’ 33” itu berisi karya music tanpa suara selama 4 menit 33 detik! Ya, John Cage menulis sebuah lagu tanpa sebuah nada apapun yang terdengar!. Kesunyian selama 4 menit, 33 detik.

Saat diwawancari oleh Richard Kostelanetz, Cage menjelaskan maksud dari 4’ 33”.

“You know I’ve a written a piece called 4’ 33” which has no sounds oh my own making in it… 4’ 33” becomes in performance the sound of the environment”.

John Cage rupanya sudah sampai di level Zen soal suara. Dia beranggapan semua suara adalah music, dan setiap benda pasti menghasilkan suara. Termasuk saat keadaan sunyi tanpa suara itu sendiri.

4’ 33” adalah ajakan untuk menikmati keheningan.

Bisingnya Kehidupan Modern

Karya John Cage masih tetap relevan saat ini karena manusia modern hampir tidak pernah menikmati keheningan.

Rutinitas manusia modern penuh dengan suara. Biasanya dimulai dari alarm pagi. Atau bunyi ayam jantan yang mengikuti suara adzan.

Setelah itu suara TV/radio/pemutar music terus menemani kita beraktivitas.

Kita mendegarkan berita saat sarapan. Menyetel music di kendaraan. Menguping pembicaraan di tempat kerja. Menonton youtube menjelang tidur. Sampai memutar lagu slow sebagai teman tidur.

Kapan kita bisa mendegarkan suara kita sendiri? Atau pertanyaan yang lebih penting: Kenapa kita perlu mendengarkan suara kita sendiri?

Pada dasarnya manusia yang tidak mendengarkan dirinya sendiri akan tumbuh sebagai manusia yang gelisah.

Hidupnya butuh pengakuan dari luar tanpa pernah mendengar kedalam.

Ia butuh pembenaran. Entah pembenaran secara social, atau pengakuan dari sisi material.

Mereka memiliki sesuatu karena orang lain menghargai itu. Memilih sesuatu karena manusia lain menginginkan itu. Hidup dengan cara tertentu karena masyarakat umum menganggapnya berharga.

Senyum Bahagia

Jika Anda berlatih meditasi, konon salah satu latihan yang penting untuk dikuasai adalah: mendengarkan nafas sendiri. Kenapa hal ini penting?

Karena ini adalah proses mencapai pratyahara. Kondisi sadar terhadap diri sendiri dan tidak terpengaruh oleh kondisi luar.

Itu berarti mengerti jika kebahagiaan dapat dimiliki hanya dengan bermodal senyuman, dan penerimaan terhadap diri sendiri.

Meditasi Yoga senyuman sungguh ceria:

Duduklah, rileks.

Tarik nafas dan senyumlah

Bahagialah, damailah

Mari kita lakukan yoga senyuman

Senyumlah. Senyum lagi. Senyumlah seakan-akan Anda tercerahi.

Bahagia, penuh rahmat, ceria.

Orang yang sadar diri tidak akan merasa kesepian ditengah keheningan. Karena mereka tetap bisa mendengarkan suara kesunyian.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#4 Kalung Kebaikan

source: freepik

Abdul Muzhaffar cucu Ibnul Jauzi berkata, “Ibnu Uqail pernah bercerita tentang pengalamannya sendiri:

“Suatu ketika aku pergi haji. Lalu aku menemukan kalung permata di sebuah buntalan benang merah. Tiba-tiba ada orang yang mengumumkan jika telah kehilangna kalung dan akan memberikan 100 dinar kepada orang yang menemukannya. Aku pun mengembalikannya”.

Kakek tua itu ingin memberikanku dinar, namun aku menolaknya.

Setelah itu, aku pergi ke Syam dan mengunjungi Al-Quds. Aku ingin pergi ke Baghdad dan singgah di sebuah masjid di Hald. Saat aku kedinginan dan kelaparan tiba-tiba ada orang yang mendatangi aku. Aku lalu shalat bersama, dan menerima jamuan makan dari mereka. Ini terjadi saat awal Ramadan.

Mereka berkata, “Imam kami meninggal dunia. Kami ingin engkau untuk shalat mengimami kami pada bulan ini”. Aku menyanggupi permintaan itu.

Mereka juga berkata, “Imam kami memiliki seorang anak perempuan”. Lalu aku dinikahkan bersamanya dan memiliki seorang anak laki-laki.

Suatu hari, aku memperhatikan istriku. Ternyata di lehernya ada kalung permata dengan benang merah, sama dengan kalung yang dulu aku temukan.

Aku lalu menceritakan pengalamanku dengan kalung itu.

Istriku menangis dan berkata,

“Demi Allah, engkaulah orangnya. Ayahku pernah menangis dan berdoa, ‘Ya Allah nikahkanlah putriku dengan pemuda yang serupa dengan orang yang telah mengembalikan kalung permata ini kepadaku’. Sungguh, Allah telah mengabulkan doa ayahku”.

Adz-Dzahabi dalam As-Siyar (19/449-450)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#3 Dicium Lelaki Lain

Al Mughirah bin Syu’bah bercerita:

“Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkanku kecuali seorang pemuda. Pernah suatu waktu aku ingin menikahi seorang wanita. Lalu aku mengajaknya bermusyawarah tentang wanita itu”.

Pemuda itu berkata, “Wahai Amir (Gubernur), menuruku sebaiknya engkau jangan menikahinya.

Kenapa? Tanya al Mughirah.

Jawaban sang pemuda sangat tak terduga, “Karena aku pernah melihat ada seorang laki-laki yang menciumnya!”.

Al Mughirah mengikuti saran pemuda itu. Tak lama berselang ia mendengar jika sang wanita sudah menikah. Dengan siapa? Dengan si pemuda yang memberinya saran tadi! Sungguh jurus menelikung tingkat tinggi. Hampir seperti Marquez menelikung Rossi.

“Bukankah kamu berkata bahwa ada seorang pria yang pernah menciumnya?” Tanya al Mughirah kepada si pemuda dengan jengkel.

Pemuda itu tersenyum. “Ya, aku pernah melihat lelaki lain menciumnya. Aku pernah melihat ayahnya mencium wanita itu ketika masih kecil”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#2 Pintu Hutang (Cerita Sederhana Teman Puasa)

source: freepik

Qa’is bin Sa’ad terkenal karena kedermawanannya. Suatu hari ia jatuh sakit, sementara sahabat dan saudaranya tidak ada yang datang menjenguk. Ini membuatnya bertanya-tanya, pergi kemana semua orang?

Setelah diselidiki, banyak yang enggan menjenguk karena malu masih memiliki hutang kepada Qa’is. Qais berkata, “Semoga Allah menghinakan harta yang telah menghalangi para saudara untuk menjenguk orang yang sakit”.

Ia lalu menyuruh orang untuk membuat pengumuman, “Siapa yang punya hutang kepada Qais, hutangnya dianggap lunas!”

Pada sore hari daun pintu rumah Qa’is rusak karena banyaknya orang yang datang menjenguk.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Merasa Bisa vs Bisa Merasa

 

Suatu hari saya bertemu abang gojek jagoan. Dia bercerita jika baru saja resign dari pekerjaan menjadi sales handphone salah satu pabrikan merek China.

“Ah udah 2 tahun gitu-gitu aja. Saya udah nguasai ilmunya. Sales ya gitu-gitu aja. Yang penting pinter ngomong”.

Wuih hebat banget nih abang. Cuma 2 tahun udah nguasain ilmu sales. Mungkinkah dia penerus Joe Girard si jagoan selles?

Kalo jago harusnya dia betah donk. Saat saya tanya, “Kenapa koq resign bang?”

“Bos saya bego. Bisanya nyuruh-nyuruh doank. Lebih jagoan saya klo urusan sepik-sepik ke customer”.

Setelah resign dia merasa Pe-De dengan kemampuan salesnya. Dia yakin mampu mendapat pekerjaan dengan mudah. Tapi setelah beberapa bulan, belum ada pekerjaan baru yang nyantol. Akhirnya sambil nunggu panggilan, dia milih nggojek.

Penyakit Milenial

Mungkin ini penyakit generasi milenial kebanyakan termasuk saya. Merasa bisa, dan tidak bisa merasa.

Baru jadi Management Trainee, udah merasa punya ilmu level direksi. Baru bikin marketing campaign selama 2-3 tahun, ngerasa udah menguasai marketing strategy. Baru belajar setup digital campaign 3 tahun, ngerasa mampu jadi digital strategist.

Padahal kunci keahlian ada pada pembelajaran. Dan pembelajaran ada pada kesabaran. Kesabaran mempelajari skill yang tersebar pada hal-hal kecil.

Kita ambil contoh koki atau chef. Bagi sebagian orang, chef adalah pekerjaan yang bisa dipelajari lewat kursus kilat atau otodidak dalam waktu beberapa bulan. Semua orang bisa memasak kan?

Tapi tidak bagi chef Sushi terkenal dunia, Ono Jiro. Chef yang menerima bintang 3 Michelin ini tidak menerima tamu walk in. Anda harus memesan tempat satu bulan sebelumnya dengan harga paket omakase mulai 30.000 yen (3,8 juta) per kepala!

Jika Anda ingin jadi chef apprentice disana, tugas pertama yang perlu dilakukan sangat sederhana: memeras handuk panas. Handuk itu yang akan disediakan kepada pengunjung sebagai lap sebelum makan.

Setelah mahir, Anda baru Anda diperbolehkan menyentuh ikan. Anda harus bersabar dan focus pada pekerjaan mencuci peralatan masak, mengasah pisau, dan memotong ikan.

Memasak nasi? Jangan harap bisa Anda lakukan setelah satu tahun. Setelah 10 tahun, Anda baru diperbolehkan memasak telur untuk disajikan. Tetapi setelah “lulus” dari sana, Anda akan punya kualitas seorang master chef dan akan mudah membuka restoran sendiri.

Beauty of Small Things

Jika ingin menjadi master ya harus bersabar mengerjakan pekerjaan remeh yang membosankan. Ini yang membbuat Jennifer Roberts, profesor sejarah seni dan arsitektur di Harvard meminta mahasiswanya untuk menatap karya seni selama 3 jam.

Awalnya mahasiswanya protes, apa gunanya melihat satu lukisan selama berjam-jam? Bukankah lukisan itu sudah sangat jelas? Tapi ternyata devils is on the detail. Banyak rahasia yang terungkap dari hal-hal kecil.

Jennifer mencontohkan apa yang ia lihat dari lukisan portrait John Copley, A Boy with a Flying Squirrel.

http://1.bp.blogspot.com/

“It took me nine minutes to notice that the shape of the boy’s ear precisely echoes that of the ruff along the squirrel’s belly. It was 21 minutes before I registered the fact that the fingers holding the chain exactly span the diameter of the water glass beneath them. It took a good 45 minutes before I realized that the seemingly random folds and wrinkles in the background curtain are actually perfect copies of the shapes of the boy’s ear and eye..”

Berhentilah merasa bisa. Belajarlah untuk bisa merasa.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mukhlis

Di kelas bahasa arab yang saya ikuti, ada soal tentang kata “mukhlis”. Isim fa’il (pelaku) yang berarti orang yang ikhlas. Apa makna ikhlas? Ikhlas berarti kemurnian hati. Seorang mukhlis hanya menemukan Tuhannya sebagai alasan semua amalannya.

Salah satu tanda keikhlasan adalah bisa menerima semua ketetapan Tuhan dengan senyuman. Contohnya jika rumah kita kebakaran. Orang yang ikhlas, kata Pak Ustadz, akan mampu menerima kenyataan dan tidak akan protes kepada Tuhan.

Urusan konslet hubungan pendek arus listrik, terbakar kena lilin, atau karena ledakan tabung LPG, itu cuma skenario teknis. Yang penting secara strategis ia sadar jika rumahnya adalah pemberian Tuhannya, dan sekarang sedang diminta oleh yang punya.

Seorang mukhlis tahu jika guru kehidupan itu bermacam-macam. Ada guru bernama kegembiraan, kenikmatan, dan kebahagiaan. Tapi ada juga guru berjudul kesedihan, kesakitan, dan kehilangan. Jika ingin belajar esensi kehidupan seutuhnya, kita harus belajar kepada semuanya.

Hanya menerima guru kesuksesan tanpa menerima guru kegagalan akan membuat kita terjerumus kesombongan. Hanya ingin bertemu guru kehidupan tanpa mengenal guru kematian membuat kita terbuai keduniawian.

Malam itu saya pulang dengan perasaan haru. Alhamdulilah bisa belajar sesuatu. Dan baru saja menerima teori kuliah kehidupan baru, keesokan harinya saya disuruh mempraktikkan ilmu ikhlas itu.

Ketika bangun, jam sudah menunjukkan jam 5 pagi. Alarm jam 3 pagi di hape tidak berbunyi sama sekali. Saya cari tidak ada. Demikian juga dengan laptop yang saya letakkan disamping. Raib tak berjejak. Saya bangun dan melihat pintu terbuka. Rupanya semalam saya lupa mengunci pintu dan ada orang yang bertamu.

Alhamdulilah. Berarti saya disuruh mempraktikkan ilmu ikhlas. Lupa mengunci pintu itu persoalan teknis, yang pasti secara strategis Tuhan mengambil harta yang ia titipkan, dan mengingatkan saya untuk lebih sering berbuat kebaikan.

Inilah tanda kasih sayang Tuhan. Pencuri pun ia berikan rezeki. Saya masih percaya si pencuri adalah orang baik yang hanya sedang butuh uang. Buktinya saya tidak mengalami cedera apa-apa.

Gara-gara kejadian itu saya tersadar, ternyata Tuhan telah memberikan harta yang sangat berharga: orang-orang baik disekitar saya.

Tetangga membantu saya meminjamkan handphone, uang, dan menyelidiki semua informasi. Sedangkan teman-teman kantor justru patungan memberikan sumbangan untuk membeli handphone dan mengganti laptop kantor yang hilang.

Saya cuma bisa bersyukur. Setidaknya ada dua asset terpenting yang belum hilang: iman dan harapan. Tanpa dua hal itu, hidup seorang milyuner tak ubahnya seorang pengemis: kosong dan hampa.

Saya juga masih belum bisa seikhlas orang bijak dalam cerita zen. Diceritakan seorang pertapa yang kemalingan. Pintunya tidak dikunci dan ketika bangun, ia melihat rumahnya berantakan. Ia lalu menangis keras dan membuat tetangganya datang. Mereka bertanya apakah ada barang yang hilang.

“Tidak ada yang hilang…” jawab si pertapa

Lalu kenapa kau menangis? Tanya si tetangga.

“Aku bersedih karena tidak punya barang apa-apa untuk diberikan kepada pencuri. Padahal jika ia membangunkanku, akan kuambilkan bulan di langit untuknya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#94 The Power of Niat: Ternyata Motivasi Sangat Berarti

Dalam cerita sufi disebutkan ada sebuah pohon angker yang menjadi tempat menaruh sesajen. Mendengar ini, seorang laki-laki sholeh ingin menebang pohon itu. Menggunakan kapak, ia berangkat dan bertekad untuk memotong-motongnya menjadi kayu bakar.

Ditengah jalan ia bertemu dengan setan yang menyamar menjadi manusia. Setan bertanya:

“Hai Abu Ahmad, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku ingin menebang pohon keramat di desa tetangga”.

“Kenapa kamu ingin menebangnya?”

“Aku takut pohon itu menjadi sumber kesyirikan”.

Setan mencegat jalanan yang ingin dilalui. Karena tidak mau minggir akhirnya mereka berkelahi. Setelah melalui pergulatan, si setan bisa dikalahkan.

Setan yang babak belur meluncurkan tipus muslihat lain:

“Wahai fulan, aku tahu engkau orang yang saleh, tapi hidupmu kekurangan. Jika kau mau menunda niatmu menebang pohon itu, setiap hari engkau akan menemukan 2 keping perak dibawah bantalmu. Pulang dan periksalah jika tidak percaya”.

Mendengar tawaran itu, sang lelaki bergeming. Bayaran 2 keping yang bisa ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari terbersit dikepala. Ia bisa semakin khusuk beribadah dengan uang itu.

Akhirnya ia ingin membuktikan ucapan si setan. Ia lalu pulang dan benar-benar menemukan uang perak. Keesokan harinya, ia tidak menemukan uang perak “jatah harian” yang dijanjikan.

“Dasar setan penipu! Akan kutebang pohon itu”.

Ditengah jalan lagi-lagi ia dihadang oleh setan. Kini ia tersenyum. Lelaki yang masih marah kembali berkelahi dengan setan. Tapi kali ini dengan mudah setan bisa mengalahkan sang pemuda.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa tambah kuat?” tanya si pemuda.

“Sesungguhnya aku tidak bertambah kuat. Tapi niatmu yang melemah. Kemarin engkau ingin menebang pohon itu karena Allah, sekarang kau ingin menebangnya karena tidak mendapatkan uang perak”.

Niat dan Motivasi

Niat, dalam hal ini motivasi ternyata berperan penting pada prestasi. Banyak penelitian dan teori menegaskan hal ini.

Dalam manajemen, pegawai yang bermotivasi cenderung memiliki kinerja yang lebih tinggi (Robescu: 2016). Hal yang sama juga berlaku dalam pendidikan. Murid dengan motivasi dan determinasi tinggi, cenderung mampu menyelesaikan studi (Stevanovic:2014).

Percobaan yang dilakukan Robert Nida (2015) pada anak menunjukkan hal yang serupa. Ada 72 anak berusia 4 tahun diminta bermain untuk mengingat 10 mainan acak. Ada tiga grup dengan perlakukan berbeda: incidental, intensional, motivasional.

Di grup incidental, si anak tidak diberi intruksi apa-apa dan langsung diminta mengingat daftar mainan yang mereka pegang beberapa saat sebelumnya. Grup kedua, intensional, peneliti di awal sesi sudah berkata: “Coba ingat-ingat mainan yang kamu mainkan nanti”.

Sedangkan di grup ketiga, peneliti memberikan motivasi: mainan yang mereka ingat berhak untuk mereka simpan. Grup mana yang anak-anaknya memiliki kemampuan mengingat lebih baik? Sesuai hipotesis, grup motivasional secara rata-rata mampu mengingat lebih banyak dibanding grup lainnya.

Karena sesuai dengan inti cerita sufi: motivasi yang kita cari akan menentukan hasil yang kita temui. Dan anehnya, manusia akan mendapatkan hasil sesuai motivasi mereka. Setidaknya itu prinsip expectation theory dari Victor Vroom yang percaya jika:

“Intensity of work effort depends on the perception that an individual’s effort will result in a desired outcome”

Karena itu jika mengalami stagnansi dalam hidup, coba pertanyakan niatnya.

Jika bisnis sedang lesu, coba tanyakan lagi: apa motivasi kita dalam berbisnis?

Jika karier sedang mentok, coba gali lagi: apa yang ingin kita cari dalam bekerja?

Jika buntu dalam studi, coba perdalam lagi: apa yang ingin kita lakukan dengan ilmu yang kita miliki?

Jangan-jangan motivasi kita terlalu banal dan dangkal, sehingga tidak mampu menghasilkan karya monumental. Karena sesuai pesan Nabi: amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.

source image https://ishfah7.files.wordpress.com/2017/03/niat.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail