Category Archives: Es Jeruk

Segelas es jeruk adalah Oase di tengah kehidupan yang semakin gersang…

Binatangisme

source image: http://www.eoisabi.org

Pada suatu hari, si Mayor Babi pemimpin peternakan mengadakan rapat akbar. Ia ingin bercerita tentang mimpi yang ia alami. Ia lalu mengumpulkan seluruh hewan di peternakan. Tapi sebelum bercerita, si babi putih yang sudah tua itu mempertanyakan hakikat hidup seekor hewan:

“Sekarang, Kamerad, apa sih, sifat kehidupan kita? Mari kita hadapi: hidup kita ini sengsara, penuh kerja keras, dan pendek. Kita lahir, kita diberi begitu banyak makanan, sehingga menjaga napas dalam tubuh kita, dan di antara kita yang mampu dipaksa kerja dengan seluruh kekuatan kita sampai atom terakhir kekuatan kita; dan segera setelah kegunaan kita berakhir, kita disembelih dengan cara yang keji”.

Dan semuanya gara-gara binatang bernama manusia. Ia menambahkan:

“Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap tikus tanah. Namun, ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri. Tenaga kami untuk membajak tanah, kotoran kami untuk menyuburkan tanah, tetapi tak satu pun dari kami memiliki tanah seluas kulit kami”.

Setelah berhasil mengobarkan semangat penghuni peternakan, ia lalu bercerita jika semalam bermimpi mendengar lagu “binatang Inggris”. Lagu terlarang dari zaman yang terlupakan. Nyanyian yang berisi mimpi kemerdekaan binatang dari perbudakan manusia. Semacam ramalan: akan ada suatu masa dimana semua binatang tak lagi harus tersiksa.

Binatangisme

Tiga hari setelah rapat akbar, Mayor tua meninggal dunia. Tapi ide-nya terus tumbuh dan lagu “binatang Inggris” terus dinyanyikan setiap malam. Para babi penerus ide sang mayor mulai berkumpul dan merumuskan ajaran “binatangisme”. Sebuah weltanschauung, pandangan hidup. Ajaran kesetaraan antar binatang, larangan bermusuhan, dan ajakan memusuhi manusia. Bahkan binatangisme juga tidak memperbolehkan para binatang untuk meminum alkohol.

Ajaran binatangisme disambut baik karena disaat yang sama, Pak Jones, si pemilik peternakan mulai tidak memperhatikan kesejahteraan hewan ternaknya. Terlalu banyak mabuk-mabukan membuatnya sering terlambat memberi pakan, kandang tak terawat, dan para ternak yang awalnya mendukung hidup dibawah perlindungan manusia, mulai tidak puas.

Sampai pada suatu hari, pemberontakan itu terjadi. Pak Jones yang teler berat tiba-tiba diserang oleh kuda kesayangannya, Boxer. Ia menendang-nendang. Tak lupa para biri-biri, babi, ayam, itik, dan sapi turut menyerang kabin-nya. Pak Jones yang malang kemudian melarikan diri, dan mulai hari itu peternakan binatangisme telah berdiri. Dari hewan, oleh hewan, dan untuk hewan. Masa kejayaan para binatang akhirnya datang.

Tapi ternyata permasalahan tidak selesai sampai disitu. Dua babi pemimpin binatangisme, Snowball dan Napoleon terlibat persaingan politik. Mereka berusaha saling mempengaruhi. Snowball memiliki gagasan untuk membuat kincir angin sebagai penggerak mesin sehingga mereka bisa bekerja lebih ringan, sedangkan Napoleon menganggap ide itu adalah pembuangan tenaga dan terlalu mirip dengan teknologi manusia.

Sampai pada suatu rapat, para binatang terbagi dalam dua kubu yang sama-sama kuat. Saat voting akan dilakukan, tiba-tiba muncul anjing herder peliharaan Napoleon. Anjing lalu menyerang Snowball dan membuat babi cerdas itu lari tunggang langgang meninggalkan peternakan. Sejak itu tirani baru lahir.

Napoleon membuat keputusan mengangkat dirinya sebagai pemimpin peternakan. Ia juga menetapkan kaum babi tidak perlu bekerja karena mereka adalah pemikir dan pembuat sistem. Yang lebih anehnya lagi, Napoleon memerintahkan pembangunan kincir angin dan menuduh Snowball telah mencuri ide itu darinya.

Menjadi Manusia

Cerita diatas adalah cuplikan Animal Farm karya George Orwell. Orwell seperti sedang menertawakan prilaku “kebinatangan” yang sering dilakukan manusia. Tapi apakah selamanya binatang lebih buruk dari manusia?

Belum tentu. Karena terkadang manusia bisa lebih binatang dari binatang itu sendiri. Saya belum pernah melihat ular yang tetap makan meski perutnya kenyang. Sedangkan manusia? Berapa dari kita yang terus memasukkan makanan meski perut sudah terisi?

Saya tak pernah mendengar berita ada macan yang menggauli macan lain yang masih kecil. Manusia? Sudah berapa banyak berita pedophilia menghiasi layar gadget Anda? Untuk hewan yang hidup berkelompok, saya juga belum pernah melihat ada pemimpin binatang yang korupsi dan menyembunyikan makanan untuk dirinya sendiri. Manusia? Saya tak perlu bercerita.

Karena itulah, kita perlu berpuasa. Puasa adalah pelajaran menjadi manusia. Dengan menahan nafsu, ternyata dapat menjadi penyentuh kalbu. Saat membantu sesama lewat zakat, kita sesungguhnya sedang membersihkan jiwa dengan berkat.

Dalam akhir cerita Orwell, Napoleon menerima tamu Pak Pilkington dari peternakan tetangga. Pertemuan yang awalnya ramah, tiba-tiba menjadi pertengkaran seru gara-gara permainan kartu. Clover, kuda tua kesayangan Pak Jones, datang untuk melihat sumber keributan itu. Begitu kagetnya ia saat melihat kedalam. Ia tak bisa membedakan mana binatang, dan mana manusia.

Karena manusia baru bisa menjadi manusia saat ia mampu menguasai nafsu yang ada di dalam dirinya.

Selamat berpuasa. Selamat belajar menjadi manusia.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pengalaman Pertama dengan BPJS

Hari Jumat lalu untuk pertama kalinya saya menggunakan BPJS. Gara2 teledor jalan pas townhall meeting, kepala kejedot speaker. Karena ga pake No drop, bocor deh darah kemana2. Ternyata seperti ini ya rasanya menstruasi di kepala.

Setelah dibantu teman2 untuk pertolongan pertama (tq banget kawan!), saya dilarikan ke tukang tambal ban terdekat. Ya ke rumah sakit lah bos…

Kebetulan ada Rumah Sakit swasta di dekat kantor. Pas di UGD, dengan kepala cenut2 saya disuruh daftar ke administrasi dulu. Dan anehnya, RS ini tidak menerima asuransi swasta karena hanya melayani BPJS.

Stigma negatif tentang BPJS (antri lama, sering dibilang penuh, pelayanan kurang) membuat saya melupakan kartu itu dan selalu menggunakan asuransi swasta.

“KTP bawa kan?” Kata mbak2 di pendaftaran pasien.

Ternyata BPJS sudah terintegrasi dengan data kTP sodara-sodara! Wah ga rugi dulu saya input data sesuai kartu penduduk itu.

Karena masih harus nunggu, dan sepertinya pendarahan masih berlangsung, saya minta untuk mendapat penanganan medis. Klo darah yang keluar bisa didonorin sih gpp, atau kalau enggak, minimal bisa saya minum lagi biar masuk ke tubuh.

Akhirnya saya mendapat jahitan. Dari dokter koas yang masih muda dan bening.

“Saya mau nyoba jahit donk mas” kata mbak dokter ke perawat yang awalnya menangani saya.

Waduh saya mau jadi beruang percobaan nih. Mau ngelarang kan ga mungkin. Berdoa aja jahitannya bener. Mau pake jelujur, tusuk rantai, tusuk tikam jejak, atau tusuk flanel terserah deh yang penting helm saya bisa dipakai lagi.

Dengan bimbingan Tuhan, arahan mas perawat, dan beberapa kali tusukan disertai rintihan pasien, mbak dokter sukses menjahit kepala saya. Setelah selesai, saya harus antri untuk disuntik anti tetanus. Takut sudut speaker yang saya jedotin berkarat. Klo dapat 24 karat sih gpp. Lumayan bisa dijual ke toko emas hehehe.

Setelah itu, balik ke administrasi dan ambil obat. Karena ga bawa kartu BPJS, saya diminta menyerahkan fotocopy KTP. Dan itu berarti harus keluar RS karena anehnya di pendaftaran ga ada mesin fotocopy -_-.

Tentu saya berharap pelayanannya bisa menyamai RS yang hanya menerima asuransi swasta.

Baru seminggu lalu saya main ke salah satu RS di Jakarta Selatan. Kaki saya menderita cantengan dan harus dilakukan ekstraksi abses dengan menyayat jempol kaki.

Dokter di RS ini menjelaskan A-Z tentang kaki cantengan saya. Penyebab, diagnosa, dan langkah-langkah medis yang akan dilakukan. Selain itu ia mengakhiri sesi “diskusi” dengan pertanyaan: “Ada lagi yang mau ditanyakan?”

Sayangnya ada harga ada rupa. RS BPJS hanya mengenakan biaya 135rb untuk jahitan kepala, sedangkan RS Asuransi Swasta men-charge saya senilai 900rb untuk cantengan di kaki.

Overall mengenai BPJS, saya cukup puas dengan penanganan yang diberikan. Cashless, cardless, data terintegrasi, dan saya cuma nunggu sekitar 5-15 menit untuk mendapat pelayanan. Dalam benak saya, pasien BPJS sering ditelantarkan dan harus sabar ngantri berjam-jam.

Bagi yang masih “alergi” dengan BPJS, coba pikir lagi: asuransi mana yang memberikan banyak sekali benefit (operasi jantung aja di cover) dan hanya meminta premi 80rb/bulan?

Bagi yang masih protes, ga mau bayar kalo ga sakit, dan koar-koar di sosmed katanya negara gagal menjamin kesehatan warganya, saya punya satu pertanyaan untuk Anda:

Mission report, 16 December, 1991.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ingin Terdengar Cerdas Saat Bertanya? Gunakan 7 Template Pertanyaan Ini!

Saat sedang mengikuti pengajian, saya terkantuk-kantuk. Suara ustadz yang merdu mendayu-dayu, hembusan AC yang sejuk, dan empuknya kursi membuat setan dengan sukses membuat mata saya bertambah berat. Saya pun tertidur.

Ketika terbangun, pak Ustadz sudah selesai dengan ceramahnya dan waktunya sesi tanya jawab. Tapi entah kenapa, suasana hening karena ga ada yang bertanya. Daripada hening krik-krik terus dan kasihan Pak Ustadz-nya ngomong sendirian, saya iseng melontarkan pertanyaan.

Selesai acara, teman saya heran:

“Hebat banget lu Ga, abis tidur begitu bangun tiba-tiba nanya”.

Budaya kita memang bukan budaya bertanya. Padahal seperti peribahasa: malu bertanya sesat di jalan (terlalu banyak bertanya itu memalukan hehehe). Kita biasanya malu, atau justru bingung harus bertanya apa.

Saya jadi sadar, banyak dari kita perlu belajar “teknik bertanya yang cerdas”. Karena orang yang bertanya sering dianggap cerdas. Dan Anda ga perlu minum jamu tolak bala untuk jadi orang cerdas. Gunakan teknik-teknik dibawah ini untuk menghasilkan pertanyaan yang bernas.

Dengan menggunakan template ini, Anda bisa menghasilkan pertanyaan bahkan sebelum narasumber berbicara! Dan ini pasti berkontribusi positif untuk pencitraan. Anda bisa gunakan untuk menjilat atasan atau memukau gebetan hehehe.

Studi Kasus:

Jadi misalnya Anda mengikuti seminar dengan tema:

“PERAN INTERNET UNTUK PEREKONOMIAN INDONESIA DI TENGAH MASYARAKAT EKONOMI ASEAN”

Saya akan membagi ke beberapa tipe pertanyaan, yang perlu Anda perhatikan adalah jenis pertanyaan, tujuan pertanyaan, dan kata kunci (keyword) yang ditanyakan. Tapi Anda wajib menyimak materi yang disampaikan oleh narasumber. Jangan sampai kita menanyakan hal yang sudah dijelaskan, atau bertanya diluar topik yang dibicarakan.

  1. Kausatif

Pertanyaan untuk mengetahui akar masalah (root cause) suatu topik. Biasanya menggunakan kata kunci ‘Apa penyebab..’. Contoh:

“Menurut Anda, apa penyebab penetrasi internet di Indonesia masih sangat tertinggal dari negara ASEAN lain?”

  1. Eksploratif positive

Pertanyaan ekploratif positive berarti mencoba menganalisa faktor-faktor yang bisa berkontribusi positif terhadap pemecahan sebuah permasalahan. Contoh:

“Menurut Anda, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kesuksesan e-commerce Indonesia untuk bersaing dengan e-commerce dari negara-negara ASEAN seperti Singapura?”

  1. Eksploratif negatif

Kebalikan dari eksplorasi positif. Pertanyaan jenis ini melihat aspek negatif dari suatu permasalahan. Dan memunculkannya sebagai isu. Contoh:

“Menurut Anda apa saja yang harus diwaspadai pelaku usaha Indonesia untuk bersaing dalam MEA?”

  1. Komparatif

Membandingkan sesuatu dengan yang lebih sukses, selalu membuat kita kelihatan lebih cerdas. Tapi kita harus punya contoh sukses yang bisa dijadikan studi kasus. Contoh:

“Dibandingkan dengan Uni Eropa, kira-kira apa yang harus dilakukan oleh ASEAN untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketimpangan antar anggotanya?”

  1. Prediktif

Pertanyaan prediktif berarti bicara masa depan. Biasanya ia akan membicarakan apa yang terjadi kemudian. Anda bisa bertanya

“Menurut Anda, dengan kondisi yang ada, bagaimana perekonomian ASEAN 5 tahun lagi?”

  1. Imaginatif – What If

Berisi pengandaian. Anda bisa memasukkan skenario yang belum terpikirkan. Pertanyaan ini sangat bagus untuk memancing ide-ide baru. Contoh:

“Menurut Anda, apakah MEA harus menciptakan aliansi ekonomi dengan China dan India? Jika iya, aliansi macam apa yang harusnya kita lakukan?”

  1. Solutif

Pertanyaan model ini lebih bersifat meminta saran untuk kasus yang dihadapi. Anda bisa to the point seperti:

“Menurut Anda, apa yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk mendukung kesuksesan MEA?”

Untuk lebih singkatnya bisa mengacu tabel dibawah:

Template pertanyaan
Template pertanyaan

Pertanyaan Untuk Richard Branson

Nah, dengan 7 template pertanyaan ini Anda ga perlu bingung jika suasana krik-krik, hening dan khusyuk. Dan orang hebat selalu punya pertanyaan dahsyat. Socrates dihukum mati karena mengajak orang-orang bertanya tentang hakikat hidup manusia, Galileo terus mempertanyakan apakah bumi benar-benar datar, dan Copernicus mempertanyakan kepercayaan jika matahari bergerak mengelilingi bumi.

Dalam bisnis juga begitu. Suatu hari Richard Branson, pemilik dari Virgin Group sedang mengisi sebuah seminar. Di akhir sesi tanya jawab, ada seorang pemuda yang memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis dan berbobot. Ia merasa kualahan. Saat selesai acara ia menghubungi asistennya dan memintanya untuk bicara dengan pemuda itu, dengan harapan bisa merekrutnya menjadi pegawai dimasa depan.

Begitu terkejutnya si Richard, pemuda tadi ternyata tidak sedang mencari pekerjaan. Ia adalah Stelios Haji-Ioannou, anak taipan Yunani dan sedang mempersiapkan kelahiran Easy Jet, maskapai penerbangan yang ingin meniru kesuksesan Virgin airlines.

Memang benar, jika ingin mengetahui kejujuran seseorang, tatap matanya.

Tapi jika ingin mengetahui kecerdasan seseorang, dengarkan pertanyaannya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Acara Tivi Koq Kaya Gini?

Sering, Gusti, aku bertanya-tanya sendiri,

kenapa sih mama tenggelam di televisi,

mengunyah iklan menelan mimpi.

Sabar, mama, tunggu aku masuk ke layar tivi.

(Doa 1 – Silampukau)

logo tv dari https://infoindonesia.files.wordpress.com/2014/04/stasiun-tv-swasta.jpeg

Seorang kawan terheran-heran begitu tahu jika dirumah saya tak ada televisi.

“Hah yang bener? Pasti langganan tv kabel kan?”

Kabelnya sih ada, tapi tivi-nya ga ada. Lha gimana mau nonton tv kabel kalau ga punya tivi? Absennya kotak hiburan warna-warni di rumah kami memang sudah menjadi komitmen bersama. Selain tidak terlalu menikmati acara yang ditayangkan di layar kaca, kami sepakat untuk menjalani hidup hemat biaya hahaha.

Tapi ciyus, ada beberapa alasan kami tidak tertarik membeli tivi. Karena pernah bekerja di media agency, saya tahu jika televisi tak lebih dari media pemasaran untuk mendongkrak penjualan. Semua acara yang diproduksi pada akhirnya akan bermuara pada berapa banyak duit iklan yang bisa dihasilkan (rating hanya salah satu metode pengukuran).

Bagi yang belum tahu, biaya ngiklan selama 30 detik untuk prime time (jam 7 – 9 malam) bisa mencapai puluhan juta rupiah (30-80 juta). Dan biasanya semakin tinggi rating maka semakin mahal biaya ngiklannya.

Bagaimana cara mengukur rating? Mayoritas pengiklan akan menggunakan rating point hasil study AC Nielsen. Jadi Nielsen memiliki sebuah alat “people meter”, dimana dia akan memasangkan alat di ribuan rumah yang dijadikan sample. Lewat alat itu akan ketahuan, berapa persen orang yang menonton suatu acara, program apa yang paling diminati, acara yang paling sedikit penontonnya, dan kebiasaan menonton lainnya.

Semakin tinggi suatu rating, berarti semakin banyak penontonnya. Jika semakin banyak yang nonton, akan semakin banyak pengiklan yang membeli spot iklan di acara itu. Nah karena logika yang berlaku adalah hukum pasar, maka stasiun tivi akan terus menayangkan program yang memiliki rating bagus. Sekarang tahu kan kenapa ada Tukang Bubur yang udah bertahun-tahun exist meski buburnya ga ada lagi. Ya itu berarti tim programnya sukses mempertahankan rating acara.

 Bukan Salah Stasiun TV

Saya sering tertawa ketika mendengar ada orang menyalahkan stasiun tivi karena acara-acara yang dianggap “kurang bermutu”. Pertama, saya bingung ketika harus mendefiniskan acara yang “bermutu” dan “tidak bermutu” itu seperti apa. Apakah acara berita pasti lebih bagus dari sinetron? Apa benchmark-nya? Apa metrics yang digunakan untuk mengukurnya?

Kalau ada acara yang dianggap “kurang mendidik”, apa definisi program yang mendidik? Bukankah filter mendidik-tidaknya sebuah tayangan ada di otak para penontonnya sendiri? Contohnya ada acara sinetron yang menampilkan kehidupan keluarga kaya dan hidup mewah. Sebagian orang akan protes:

“Sinetron seperti ini hanya menampilkan kemewahan!”

Loh, bukannya justru bagus ya? bukannya itu mengajarkan kita untuk tidak malu jika ingin kaya, yang penting terus berusaha. Pola pikir sirik-nya diubah donk: Jika mereka yang ada di sinetron aja bisa kaya, kita juga pasti bisa.

Alasan kedua adalah program yang ada di televisi kita hanyalah cerminan selera masyarakat kita. Kan sebelumnya sudah saya bilang, iklan ngikutin rating, dan rating ngikutin selera penonton. Jadi ya jangan ngambek kalo acara kita isinya sinetron dan drama India, berarti ya masyarakat kita sukanya sinetron dan drama India.

Program yang ada di televisi kita hanyalah cerminan selera masyarakat kita

Saya iseng nulis ini sebagai salah satu aksi konkret dan ajakan untuk menjadi penonton kritis. Mumpung sedang ramai membahas revisi UU penyiaran. Mbok ya jangan Cuma mengutuk acara tivi kita yang katanya kurang mencerdaskan. Siaran Tivi ga cerdas ya berarti masyarakat kita juga belum cerdas. Masih suka drama cinta-cintaan, makhluk jadi-jadian, kebut-kebutan, India-Indiaan dan Turki-Turkian.

Sudah ga kuat dan muak dengan acara tivi yang ada? Jauhkan televisi dari rumah Anda :p

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Perahu ke Surga

Hari ini (9 April) saya diajak kawan kuliah (si Desti) untuk berkunjung ke Bogor. Bertemu murid-murid boarding school dari salah satu lembaga pendidikan. Desti punya ide untuk menghubungkan cita-cita dan realita dunia nyata. Ada muridnya yang ingin jadi Diplomat, dan kebetulan pula ada kawan kami (Dika) yang sekarang jadi diplomat.

Diharapkan Dika bisa sharing tentang suka duka jadi diplomat, sekaligus memberikan tips dan trick jika ingin mengikuti jejaknya. Semacam kelas inspirasi gitu. Saya sengaja ikutan untuk jalan-jalan, dan juga karena males disuruh bersih-bersih kalo hanya main game di rumah. Kami berlima (sama Bocil dan Lila) janjian ketemu di Bogor.

“Bro bear, Nanti disana lu harus menginspirasi anak-anak ya” kata Desti waktu kami bertemu di KFC stasiun Bogor.

Hah? Inspirasi apaan? Soal hubungan signifikan obesitas terhadap ketampanan? Atau pengaruh lari pagi terhadap penurunan berat badan yang tak pernah berarti? Saya tak akan bisa memotivasi orang lain karena saya percaya motivasi terbaik ya motivasi yang dihasilkan diri sendiri.

“Ya udah nanti sharing-sharing aja ya”. Kamipun berangkat dan menempuh perjalanan hampir 1 jam.

Acara dilaksanakan di masjid. Dika sukses menginspirasi anak-anak. Dengan cerita serunya keliling dunia mewakili Indonesia, serta berbagai cerita off the record soal hubungan luar negeri kita. Saat saya diminta sharing, masa saya harus cerita soal marketing strategy ke anak-anak SMA tak berdosa ini?

Saat bingung, saya teringat ‘Perahu Neraka ke Surga’. Salah satu problem solving tools sederhana yang saya pakai untuk memperbaiki proses, menambal loop hole, menciptakan perubahan, dan juga mendapatkan jodoh (hey, saya PDKT ke istri pakai manajemen strategic lho!).

Kalo saya pikir-pikir, tools ini saya tulis dari hasil membaca beberapa buku problem solving yang dikembangkan perusahaan konsultan macam McKinsey dan six sigma ala General Electric. Tentu dengan simplifikasi sederhana yang cocok untuk anak SMA.

Agar lebih mudah kita pakai cerita fiktif.

Surga yang Terbuka

Alkisah, ada orang yang menjadi penghuni neraka. Karena tak tahan menderita, ia lalu berdoa:

“Ya Tuhan, ampunilah dosa hamba. Sudah bertahun-tahun hamba di neraka, tolong hentikan siksa ini dan masukkan hamba ke surga”

Karena kasihan, Tuhan pun membukakan pintu surga untuknya.

“Baiklah, Kubukakan pintu surga untukmu”

Karena girang bukan kepalang, orang tadi langsung jingkrak-jingkrak dan berlari meninggalkan ‘kompleks neraka’. Begitu kagetnya ia ketika ternyata ada sungai yang memisahkan surga dan neraka. Didalam sungai banyak monster dan setan.

“Tuhan, bagaimana cara ke surga?”

Tiba-tiba ada suara:

“Gunakan akalmu, optimalkan sumber dayamu, semua kubebaskan kepadamu”. Kata suara ghaib itu.

Orang itu sadar, ia ada di neraka, dan ingin menuju ke surga. Dan pintu surga sudah terbuka! Ia hanya perlu kesana. Ia tahu ada sungai yang membatasi dan harus melintasinya. Ia butuh alat untuk menyebrang sungai.

Setelah melihat sekeliling, ia akhirnya mengambil pohon-pohon untuk menciptakan rakit. Urusan tenggelam itu belakangan, yang penting ia sudah membuat rakit dan mengarungi sungai. Membelah arus, menuju surga yang ia impikan.

Matrix Neraka-Surga

Cerita diatas hanyalah perumpamaan. Neraka adalah kondisi kita saat ini. Surga adalah hal yang ingin kita tuju. Sungai adalah hambatan yang menghadang. Kita harus tahu apa hambatan yang ada baru kemudian bisa menentukan solusi untuk mengatasi hambatan itu.

Untuk lebih simple-nya bisa mengacu matrix dibawah ini. Contoh kasus, saya ingin menurunkan badan dari 115 ke 95 kg. Yang perlu saya lakukan adalah menyebutkan keadaan sekarang, lalu kondisi yang saya harapkan.

Mengapa keadaan sekarang belum seperti yang saya harapkan? Karena ada “sungai hambatan”. Dengan merinci hambatan yang ada, saya bisa men-list “perahu” yang ingin saya buat. Setelah itu saya bisa menciptakan action plan yang harus saya lakukan.

Matrix neraka-surga
Matrix neraka-surga

Kenapa matrix neraka-surga ini penting?

  1. Karena banyak dari kita tidak tahu perubahan apa yang diinginkan
  2. Karena banyak dari kita tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan

Dengan menuliskan-nya di matrix neraka-surga, kita memiliki road map sederhana. Apa yang ingin kita capai, apa penghambatnya, apa yang kurang, dan apa yang harus kita lakukan.

Ketika salah satu murid bernama Sandy mencoba matrix ini, ia tahu jika cita-citanya adalah menjadi diplomat (surga). Sedangkan sekarang ia masih anak SMA (neraka). Ada sungai yang menghadang (gelar S1 dengan IPK dan Universitas yang bagus, Toefl 550, tes Departemen Luar Negeri, communication skill, negotiation skill, politik luar negeri, dan skill dipomat lainnya).

Sekarang Sandy tahu action plan yang harus dilakukan. Berdoa kepada Tuhan, belajar yang rajin, mempersiapkan kelulusan untuk masuk ke kampus bergengsi dan mengambil jurusan humaniora, membeli kamus, belajar vocabulary, mencoba menulis esai, belajar speaking in English, dan rajin membaca berita luar negeri di koran.

“Mulai hari ini dan seterusnya, saya memantapkan cita-cita saya di kemudian hari, yaitu memiliki pasport berwarna hitam…” tulis Sandy di facebook-nya. Pasport hitam adalah pasport diplomatik.

Sandy bermimpi. Tapi mimpi tak cukup. Kita harus beraksi. Sepenuh hati. Mengeluarkan potensi yang kita miliki. Karena Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubahnya sendiri.

Karena Tuhan telah membuka pintu surga-Nya. Kita hanya perlu perahu untuk mencapainya.

Foto bareng di Bogor
Foto bareng di Bogor
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pelajaran Menjual dari Asisten Perkantoran

source: dir.indiamart.com

Saat sedang duduk menunggu shuttle bus menuju bandara, disamping saya duduk mas-mas. Dilihat dari seragamnya, dia bekerja sebagai asisten perkantoran (ga enak mau nyebut office boy, secara dia udah bukan boy lagi). Daripada bengong saya iseng bertanya:

“Weekend ini libur kemana bos?” kebetulan saat itu ada libur di hari Jumat. Lumayan buat weekend getaway.

“Masuk mas. Kalo kita mah, ga ada liburnya. Mau izin aja susah bener”. Lantas dia sedikit bercerita mengenai suka duka menjadi asisten perkantoran. Saya Cuma mendengarkan sambil bersyukur diberi anugerah bisa bebas nentuin cuti.

Tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda orang beriman, dia bertanya:

“Eh Mas, lagi nyari motor ga?” busyet ni masnya penadah kali ya, tiba-tiba nawarin motor kaya nawarin minum.

“Nggak bos” jawab saya datar.

“Ini ada temen saya jualan Thunder cakep bener. Cuma 7 juta. Uda dimodif dikit, tapi mesin masih tokcer” serunya berpromosi. Tak lupa mengeluarkan hape dan menunjukkan fotonya. Belum selesai dia berpromosi soal motor, ada lagi yang ditawarkan.

“Kalau laptop gimana mas? Ini ada laptop second 3,5 juta kondisi masih mulus. Kalau mau dicek barangnya bisa” lagi-lagi dia men-scroll foto-foto laptop yang dia bantu jualkan. Wah ternyata jadi asisten perkantoran itu Cuma kedok, karena dia punya pekerjaan sambilan yang lebih menghasilkan: makelaran!

Karena bis shuttle sudah datang dan saya ada jadwal terbang, terpaksa proses lihat-lihat etalase toko harus saya hentikan (sepertinya dia punya barang lain yang mau ditawarkan). Setelah bertemu dengan mas tadi (yang saya lupa tanya namanya), tiba-tiba saya berpikir: bagaimana mungkin kita mau membeli dari orang asing yang baru kita temui?

Content, context, connection

Mas makelar menawarkan barang yang tidak saya butuhkan (saya belum butuh motor dan laptop), di tempat yang tidak saya harapkan (di ruang tunggu), pada waktu yang tidak saya inginkan (lagi mau terbang naik pesawat).

Tapi bukankah hal seperti itu yang dilakukan marketer kebanyakan? Menyasar “mass market”. Menghujani pasar dengan iklan dan promosi sepanjang hari. Seperti menyerang dengan senapan mesin, menembak membabi buta dan berharap ada orang yang terkena tembakan dan akhirnya mau membeli.

Bukankah seharusnya marketer memberikan content (barang yang dijual) disertai context (cara penjualan) yang menarik, dan juga memberikan connection agar barang yang dijual bisa nyambung dengan kebutuhan konsumen?

Karena itulah raksasa digital macam Google atau Facebook meninggalkan demographic profiling dan beralih menggunakan behaviour profiling untuk memasarkan iklan. Demographic profiling menggunakan “asumsi demografis” seperti umur, tempat tinggal, atau jenis kelamin untuk “menduga” kebutuhan konsumen.

Contohnya jika ada laki-laki berumur 25 tahun dan tinggal di kota besar, maka kita bisa menduga jika dia membutuhkan pisau cukur. Meskipun pada kenyataannya bisa saja dia sedang mencari boneka barbie untuk menambah koleksinya.

Sedangkan behaviour profiling menggunakan data prilaku digital untuk mencocokkan iklan yang akan dilihat calon konsumen. Oleh karena itu jika Anda sedang googling tentang tiket pesawat, maka Anda akan melihat iklan maskapai dan bukan iklan klinik Tongfang.

Sistem berdasarkan prilaku membuat orang yang sedang mencari rumah akan melihat iklan perumahan (dan bukan iklan shampoo), laki-laki mungkin melihat iklan pembalut (jika dia baru saja search tentang pembalut), dan anak-anak bisa melihat iklan minuman keras (jika mereka mencarinya di dunia maya).

Contact

Kembali pada mas-mas makelaran tadi. Apakah dia seorang penjual yang baik?

Artikel klasik yang ditulis Robert McMurry di Harvard Business Review tahun 1961 menyebutkan jika seorang salesman harus mampu melakukan tiga hal: menarik perhatian konsumen, melakukan rasionalisasi pembelian, dan yang terakhir adalah menutup penjualan. Dia juga menyebutkan jika salesman hebat punya sifat-sifat seperti optimis, percaya diri, disiplin, bernafsu pada penjualan, dan pantang menyerah.

Mas makelar berusaha menjual kepada saya. Ia menawarkan produk. Bercerita. Ia mencoba meyakinkan, membujuk, merayu, dan segala upaya agar saya tertarik. Tapi sayangnya ia tidak meninggalkan kontak. Saya tidak tahu namanya, tak tahu nomer mobilenya. Tidak ada koneksi antara saya dan dia.

Harusnya dia meninggalkan jejak. Minimal memberikan kartu nama dengan nomor telepon dan nama usaha yang ia pilih sendiri. Setelah itu saya percaya dia takkan menjadi asisten perkantoran untuk selamanya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Serunya Lari-larian Bareng Zombie Jadi-jadian (Run For Your Lives Indonesia)

Ngikutin serial Walking Dead atau main game Resident Evil? Pingin tahu rasanya diuber zombie? Gimana sih serunya menghadapi zombie-zombie gentayangan? Ga perlu menciptakan radiasi kimia berbahaya atau pergi jauh-jauh ke Amerika. Karena di Ancol, 19 December 2015 lalu, zombie-zombie menebar teror dan kita harus lari menyelamatkan diri!

Run For Your Life (RFYL) adalah event lari unik dimana peserta bisa memilih menjadi survivor atau terinfeksi virus menjadi zombie. Tugas survivor sederhana, Ia harus berlari sekencang-kencangnya untuk selamat dari kejaran zombie. Dia punya “tiga nyawa” berupa tali yang diikatkan di pinggang. Zombie bertugas mengejar survivor dan mengambil “nyawa” untuk menginfeksi survivor.

Zombie doyan selfie
Zombie doyan selfie

Jika di garis finish masih ada minimal satu nyawa, maka survivor akan mendapatkan “survivor medal”. Sedangkan jika sudah habis dimakan zombie, maka medalinya akan berganti menjadi “infected medal”.

Menjadi Zombie

Entah kenapa, saya memilih menjadi zombie. Sepertinya seru bisa nangkepin mbak-mbak survivor seksi yang lagi keringetan. Aduh ketahuan deh motif mesumnya. Tapi alasan utamanya sih karena gaya grafitasi membuat 95 kg massa tubuh saya bergerak lambat dan bakal jadi santapan empuk zombie-zombie kelaparan.

Ada beberapa wave (gelombang keberangkatan). Saya memilih wave pertama jam 12 siang. Setelah registrasi, seorang calon zombie harus di karantina dan mendapatkan sentuhan make over di zombification center. Sebenernya saya malas. Malas mengakuin kalau muka saya sudah kaya zombie dan setelah didandani jadi zombie justru lebih cakep. Tapi buat seru-seruan ya sutralah.

Dimulai dari pemberian “yayasan” atau foundation (bahasa Inggrisnya foundation itu yayasan kan?).

Wow kulitku jadi putihhh
Wow kulitku jadi putihhh

Lanjut pembuatan koreng-korengan.

Peserta didandanin biar cakep
Peserta didandanin biar cakep

Dicat pakai warna merah. dan Voila.

Koq perasaan saya jadi lebih ganteng ya?
Koq perasaan saya jadi lebih ganteng ya?

Ada sekitar 9 zona halangan dan rintangan yang harus dilalui seorang survivor. Saya bertugas menjaga zona zombie 1. Rame-rame cyin, ada kali 10 orang zombie.

Larinya kaya main gobak sodor
Larinya kaya main gobak sodor

Perlu Ditingkatkan

Jujur saja, RFYL ini sangat seru. Hanya disayangkan ada beberapa hal yang kurang dan harusnya bisa ditingkatkan lagi kedepannya. Ga usah jauh-jauh, saat pertama kali registrasi, proses berjalan sangat lama karena masih menggunakan cara manual.

Peserta menyerahkan form registrasi, panitia lalu mengecek nomor melalui handphone untuk kemudian menuliskan di gelang peserta. Ngecek pake handphone man? Sungguh mobile sekali. Apa sih susahnya bawa laptop biar agak sedikit cepat?

Registrasinya lamaaaa
Registrasinya lamaaaa

Lalu proses zombification yang hanya ada sekitar 5 line. Padahal pesertanya ratusan. Ini yang membuat jalannya event molor sekitar 1,5 jam (wave terakhir jam 4.30, di jadwal jam 3). Kerjaan jadi zombie juga membosankan. Kami harus menunggu survivor untuk datang dan setelah itu Cuma duduk-duduk sambil ngobrol. Harusnya setelah selesai jaga, zombie bisa ikutan untuk jadi survivor di wave selanjutnya.

Jpeg
Jpeg

Bagi survivor, track lari yang hanya 2,5 km juga disayangkan. Karena saat pendaftaran tertulis 5k. Kurang lama aja serunya. Masa baru keringetan dikit udah finish.

Ada perosotannya juga bo, sayang pas saya lari uda tutup
Ada perosotannya juga bo, sayang pas saya lari uda tutup

Anyway, RFYL cukup menyenangkan untuk diikuti. At least menjadi variasi dari event lari yang hanya mengandalkan kecepatan dan ketahanan tubuh. Semoga tahun depan track bisa diperpanjang dan zombie bisa ikutan lari jadi survivor.

Biar zombienya ga kebanyakan bengong. Karena lama-lama bisa jadi zomblo.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Startup Weekend Jakarta Stories: Jualan Sempak (1)

Disaat teman2 kantor saya asik ajep2 di Djakarta Warehouse Project 2015, saya juga mengikuti kegiatan yang tak kalah ajep-ajep: Startup Weekend Jakarta. SWJ adalah event dimana peserta datang membawa ide, melakukan pitching (menjual ide), membentuk tim, menciptakan produk/jasa, merencanakan bisnis, dan mempresentasikannya di hadapan venture capital.

Startup weekend

Kenapa saya sangat tertarik? Mudah saja. Sejak SMA saya bercita2 jadi pengusaha, sempat beberapa kali belajar bangkrut saat berbisnis semasa kuliah, dan tahun 2015 ini sudah tahun ketiga belajar jadi kapitalis kantoran di korporasi multinasional. Waktunya membuka warung sendiri! Mumpung usia belum kepala tiga.

Saya jatuh cinta pada dunia start up digital setelah tak sengaja membaca The 100$ Start Up karya Chris Guillebeau. Dari buku itu saya sadar jika perusahaan digital start up memiliki keunggulan yang tak dimiliki brick and mortar company (perusahaan konvensional). Setidaknya dalam dua hal:

  1. Low cost investment (sengan 100 dollar Amda sudah bisa memiliki perusahaan)
  2. Lean operation (ga perlu sewa tempat, penjaga toko dll)

Start up digital adalah game changer. Kaum Cracker. Mereka datang membawa business model baru, memaksa perusahaan tradisional untuk berevolusi menjadi lebih baik.

100 startup

Coba tengok go-jek dan uber yang mengubah landscape transportasi masyarakat urban. Online travel agent mengubah kebiasaan kita dalam memesan tiket liburan. Atau Airbnb yang mampu mengubah definisi kita tentang hotel.

Jualan Sempak

Agenda hari pertama adalah elevator speech pitching dan pembentukan team. Kita diberi waktu satu menit untuk menjelaskan ide di depan semua peserta. Setelah itu dilakukan voting untuk memilih 20 ide terfavorit, dan kita bisa mengajak orang lain untuk bergabung.

Dengan segala kegairahan dan optimisme ala pengantin baru menyambut malam pertama, saya ingin mengikuti WSJ dan menjual ide saya mengenai sponsorship platform. Tapi sayang, saat sudah siap berangkat, pekerjaan saya belum selesai dan ada request tambahan dari regional.

Saya menitipkan ide untuk dijualkan oleh istri. Karena sebetulnya dia lebih jago presentasi gara-gara rajin ikutan Toast master. Tapi setelah dikabari, ternyata hanya ada 4 orang yang menyukai ide itu. Hmmm mungkin market segment ide saya agak niche dan butuh cara penjualan berbeda bagi orang umum.

Saya percaya Tuhan punya rencana terbaik. Semua pasti ada hikmahnya. Karena tidak datang hari pertama, saya harus bergabung dengan 20 besar tim yang ada. Dan pada hari kedua saya bergabung dengan start up yang akan mengubah cara kita memandang dunia. Dunia perkancutan lebih tepatnya.

Ya, pada hari kedua saya bergabung dengan tim sempaq.com. haha.

Bersambung….

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

[Ngakak] Kompilasi Meme Perusak Bunga Amaryllis

Rusaknya kebun bunga Amaryllis  di daerah Pathuk, Gunung Kidul bukan hanya menimbulkan penyesalan (karena saya belum sempat kesana :p). Salah satu “oknum” mahasiswi yang menyebarkan foto di media social dan dengan cueknya berkata “Terserah gua donk” memaksi reaksi netizen. Puluhan meme lahir sebagai bentuk sindiran terharap mahasiswa baru itu.

initial foto
initial foto

Berikut beberapa meme yang sempat saya rangkum dari situs 1cak.com

Civil War version

captain americaShe is everywhere

everywhereVersi Larangan Ibu

ibu2

Jurassic Worldjurrassic Monaskompilasi1Sampe di Bulan Sob! mars Kompilasi Moto GPmoto GPPararel World pararrel world Adik Bayiselfie bayi Finding Neverlandselfie ketubrukPlant vs Zombie seperti zombie Ada benernya jugasholat selfieDimana-mana lagi transportasiWWE wweSo, next time hati-hati ya sebelum posting di social media 🙂

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Sedikit Catatan Tentang “Stupid Marketing”

Dalam sebuah wawancara kerja untuk posisi marketing manajer, ada dua kandidat yang tersisa. Yang pertama adalah seorang MBA dari sekolah bisnis ternama, dengan fokus pemasaran. Sedangkan kandidat kedua adalah lulusan SMA tapi sudah berpengalaman sebagai salesman.

Jika ada sebuah kontes penjualan yang melibatkan MBA marketing dan orang lulusan SMA, kira-kira siapa yang akan menang? Akhirnya sang penguji memberikan tugas sederhana:

“Tolong jualkan pena ini kepada saya”, sambil menyerahkan sebuah pena yang dipegangnya.

Si MBA Marketing langsung nyerocos dan secara berapi-api menjelaskan fitur dan keunggulan pena yang dijualnya. Dia mengutip angka statistik, quotes tokoh terkenal, dan dengan berbusa-busa membujuk penguji untuk membeli.

Sedangkan kontestan kedua, si lulusan SMA hanya terdiam. Dia mengamati pena itu, mengambilnya, dan memasukkan ke saku jas. Ia kemudian merogoh dompet, lalu berkata:

“Saya punya cek 100 dollar yang akan saya berikan untuk Anda. Tapi saya tidak tahu ejaan nama Anda, bisakah Anda menuliskannya di cek ini?”

“Tapi saya tidak punya pena, boleh saya pinjam?” tanya si penguji.

“Kebetulan sekali, saya sedang menjual pena. Harganya hanya 100 dollar”.

Siklus Kebodohan

Cerita diatas memang hanya karangan saya. Karena berdasarkan pengalaman pribadi, itulah yang terjadi. Para “marketer intelektual” seringkali terjebak dalam menara gading, terlalu suka menganalisa, berteori, mengeluarkan hipotesa. Sedangkan kaum “marketer jalanan” biasanya seperti bajaj: pokoknya jalan, yang penting jualan.

Tentu yang paling baik adalah gabungan keduanya. Marketer yang memiliki landasan berpikir yang kuat, dan juga kemampuan eksekusi yang prima. Yang penting: street smart. Untuk itulah kita memerlukan buku marketing yang juga street smart.

Ketika membaca “Stupid Marketing” karya Sandy Wahyudi dkk, saya terperangah. Buku ini ditulis dengan sederhana, ceria, dan penuh dengan ilustrasi berwarna. Kita kembali diingatkan tentang pentingnya “menjadi bodoh”.

Loh koq jadi bodoh? Iya, kita wajib menjadi bodoh. Tapi bukan asal bodoh hingga menjadi botol : bodoh tolol. Tapi menjadi orang bodoh yang selalu ingin tahu dan berinovasi menciptakan nilai tambah dalam bisnis.

Buku yang ditulis oleh tim dari Universitas Ciputra ini men-highlight “siklus kebodohan”. Siklus ini dimulai dengan menganalisa peluang, melakukan validasi (dengan bantuan teori dan riset), mengoptimalkan ide untuk menciptakan value, menjual ide itu ke pasar, melihat hasil, dan kemudian mengevaluasi sambil kembali ke langkah pertama.

siklus kebodohan
siklus kebodohan

Terkadang marketer melupakan siklus ini. Contohnya saya, ketika ada marketing campaign, pattern-nya sudah bisa ditebak: Bikin marketing plan, Brief agency, beli media, brief ke tim sales dan distribusi, memantau penjualan, siap-siap bikin alasan kalau jualan jeblok, dan laporan ke regional kalau project-nya berhasil (aduh koq jadi curhat).

Bagian berbahanya adalah, saya menjadi kuda delman yang ditutup matanya. Karena melakukan sesuatu, tapi jarang berpikir mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan. Dan lupa mengajukan pertanyaan yang paling penting: apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki apa yang kita lakukan?

Beberapa catatan

Meskipun buku ini dituliis dengan sederhana dan menarik, ada beberapa catatan:

  1. Buku ini lebih ke panduan berpikir sebagai marketer yang ideal, dan bukan “how to create marketing plan”. Pembahasan tidak terlalu teknis dan sangat umum.
  2. Terlalu banyak simplifikasi. Contohnya pada bagian penetrate market, Anda tidak bisa hanya mengandalkan social media saat semua brand melakukan hal yang sama tapi dengan eskalasi budget yang lebih gila
  3. Kurangnya study case yang aplikatif. Karena rata-rata pembahasan sangat umum dan jikapun ada contoh, lebih ke sesuatu yang parsial. Saran saya penulis bisa menambahkan study case dimana ada perusahaan yang menerapkan “siklus kebodohan” dari awal hingga akhir

Tapi tetap saja, buku ini menarik untuk dibaca. Terutama bagi marketer, mahasiswa, pebisnis, dan pecinta pemasaran. Formatnya yang sederhana, ringan, dan penuh ilustrasi pasti membuat mata betah untuk menyelesaikan 156 halaman yang ada.

Saya sangat berharap akan lebih banyak buku ekonomi bisnis kita yang ditulis dengan gaya “Stupid Marketing” (jujur saja, saya berdoa agar bisa menulis buku seperti itu).

Agar masyarakat kita sadar jika pengetahuan itu sama pentingnya seperti makanan. Mereka yang tidak makan, akan mati. Mereka yang tidak belajar, pikirannya akan mati.

Stay fool. Stay hungry.

Cover buku, sumber: gramedia.com

Silahkan tinggalkan alamat jika ingin membaca buku ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail