Category Archives: Politica

Perbandingan Social Media Calon Bupati Sidoarjo, Siapa yang Unggul?

Awalnya saya kaget, loh koq tanggal 9 Desember ada pengumuman libur? Ada hari besar apa ya? Perasaan hari raya udah lewat dan hari kiamat belum diumumkan. Betapa hebohnya saya ketika tahu jika tanggal itu adalah pilkada serentak.

Saya merasa kzl (kesel), sebagai warga negara yang baik dan kebetulan sedang merantau di luar kota, informasi yang saya terima sangat minim. Saya tidak tahu siapa yang maju, apa program mereka, dan kenapa saya harus repot-repot pulang hanya demi nyoblos muka asing yang tidak berpengaruh ke rekening bank saya setiap bulan.

Tapi saya tetap penasaran, siapa aja sih calonnya? Setelah browsing sana sini ternyata ada 4 calon pimpinan daerah yang akan menggawangi kabupaten Sidoarjo, daerah KTP saya.

Daftar calon KPU
Daftar calon KPU

Buset sapa mereka? Koq ga ada yang kenal. Saya coba meng-klik halaman visi misi. Isinya seragam: penuh janji berbusa dengan bahasa berbunga-bunga. Lantas, bagaimana saya bisa tahu pasangan mana yang berbeda?

Iseng-iseng saya mencoba men-compare data social media masing-masing calon. Karena zaman sekarang social media sudah menjadi alat propaganda politik yang sangat ampuh. Trend ini dimulai saat Obama menggunakan twitter dan facebook untuk merebut hati rakyat Amerika (Gross:2012).

Ditengah perkembangan dunia digital seperti saat ini, dimana tingkat penetrasi internet sudah lebih dari 60% dan Indonesia adalah salah satu negara dengan user facebook dan twitter terbesar, social media adalah salah satu senjata untuk mempengaruhi persepsi publik.

Data social media masing-masing calon terlampir dibawah ini:

Data data fans dan follower
Data data fans dan follower

He to the O, Helloowww! Jika melihat halaman social media masing-masing calon akan terlihat jelas jika akun masih memiliki potensi untuk dioptimalkan dengan melakukan posting secara teratur, engagement activity, response yang tanggap, dan juga iklan ke khalayak ramai.

Okay, secara angka fans dan follower maka pasangan no 1 memimpin tipis diatas pasangan no 2. Tapi bagaimana dengan engagement rate? Mari melihat angka-angka yang ada di twitter. Penulis menggunakan tools dari tweetreach untuk mendapatkan angka masing-masing calon kepala daerah. Untuk menyederhanakan data, saya hanya menggunakan nama calon bupati sebagai search query.

Hadi Sutjipo

Tweet Hadi Sutjipto memiliki jangkauan hingga lebih dari 30 ribu. Dan seminggu terakhir ada 15 orang yang mentweet tentang Hadi Sutjipto. Jika melihat contributor, maka reach terbesar berasal dari @beritajatimcom.

 Hadi sutcipto

Utsman Ikhsan

Memiliki reach yang tidak sebesar calon bupati pertama, dengan jumlah kontributor tweet yang lebih sedikit. Kontributor terbesar tetap @beritajatimcom.

Utsman IkhsanSaiful Ilah

Memiliki jumlah exposure dan reach terbesar. Dengan kontributor (orang yang men-tweet) sebanyak 22 orang dalam seminggu terakhir. Penyumbang reach terbesar dari @infojatimID dan @sidoarjonews.

Saiful IllahWarih Andono

Calon bupati terakhir dan paling kasihan. Namanya tidak terdengar di jagat dunia maya. Mungkin tim sukses mereka perlu memasang internet di rumah.

Warih AndonoJika kita melakukan komparasi menggunakan Topsy, didapatkan data yang serupa:

Topsy PilkadaCalon bupati no 3 mengungguli pasangan no 1 dan 2. Tapi beberapa hari terakhir calon no 1 mulai naik (lihat di sisi kanan grafik). Calon bupati no 4? Tolong ingatkan saya saat tim suksesnya sudah memasang internet.

Simpulan Sederhana

Melihat data-data sederhana social media, calon bupati no 1 dan 3 akan bersaing memperebutkan juara dan runner up. Tapi perlu dicatat jika tidak semua pemilih melek digital. Masih banyak kalangan grass root yang tidak mengakses social media. Dan yang paling penting, banyak faktor yang mempengaruhi keputusan pemilih.

Seperti pesan Brigitte Majewski:

“Just because you have a follower doesn’t mean you have a vote. It just means that you have caught their ear. … It’s a good signal, but at the end of the day, a signal is not a vote.”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Soso

Terlahir dengan nama Joseph Djugashvili. Pada awalnya sang Ayah adalah pembuat sepatu handal. Namun karena pengaruh pergaulan, dia menjadi pemabuk kasar yang suka memukuli keluarganya. Joseph adalah anak ketiga. Kedua kakaknya, Yakov dan Giorgi, meninggal sewaktu bayi. Tragedi yang membuat sang ayah bersumpah melakukan perjalanan suci ke Geri, demi kesehatan sang bayi.

Soso, panggilan kecil Joseph, adalah anak yang rapuh secara fisik, tetapi sangat cerdas. Suka belajar. Juara kelas dan menjadi favorit guru karena bakatnya di paduan suara sekolah gereja. Hal positif yang ditentang Beso, ayahnya, yang ingin dia menjadi pembuat sepatu seperti dirinya.

Seringkali sang Ayah akan datang ke sekolah untuk marah-marah dan memukuli Soso. Dan para guru akan bekerja sama untuk menyembunyikan dia dan meyakinkan Beso jika Soso tidak ada di sekolah hari ini.

“Mama, biarkan aku pergi sekolah, atau guru Illuridze akan memberiku nilai buruk..”

Rengek Soso suatu hari ketika dia sakit parah tertabrak kereta kuda. Biarpun sakit keras, Soso tetap rindu sekolah.

Berkat kerja keras sang Ibu, Soso bisa masuk seminari dan menjadi calon pendeta. Di sekolah elit itu dia kembali menjadi bintang. Nilai-nilainya mengagumkan. Menjadi pemimpin kelas meski berbadan kecil.

Semangat belajarnya semakin menggebu-gebu. Dia menghabiskan waktu luang dengan membaca dan selalu menyelipkan buku di ikat pinggangnya. Soso selalu membaca. Keke, sang Ibu mencatat jika Soso takkan tidur sebelum dini hari dan akan terus berkutat dengan bacaannya.

“Waktunya tidur” kata Keke, “Tidurlah – sudah mulai fajar”

“Aku sangat suka buku ini, Mama. Aku tidak bisa berhenti membaca..” dan saat intelektualitasnya semakin bergejolak, kesalehannya semakin sirna.

Menjadi Marxist

Soso berkenalan dengan tiga orang anak pendeta – Lado dan Vano Ketskhoveli dan Mikheil Davitashvili. Dari mereka lah Soso mendapat akses ke berbagai “buku terlarang”. Mulai dari Origin of Species dari Darwin, pemikiran Karl Marx, hingga sastra nasionalis Georgia Khevsur’s Motherland karya Eristavi. Buku-buku yang pada akhirnya membuat calon pendeta menjadi seorang penentang Tuhan.

Pada 13 Februari 1892, guru-guru seminari menyuruh anak didiknya untuk menonton hukuman pancung. Tiga pencuri sapi, yang melarikan diri dan membunuh polisi, akan dihukum mati hari ini. Tapi bagi Soso, dia tahu jika ketiga terdakwa ini hanyalah tiga petani yang sudah putus asa ditindas tuan tanah dan melarikan diri ke hutan.

Soso, yang bisa menyanyikan Mazmur dengan sangat indah merasa heran, bukankah Musa berkata: “Kalian dilarang membunuh”?.

Teman-teman seminari-nya berdebat:

“Apakah mereka masuk neraka?”

Soso, yang pada akhirnya menjelma menjadi Stalin sang diktaktor Soviet menjawab yakin:

“Tidak. Mereka sudah dieksekusi dan akan tidak adil jika mereka dihukum lagi”.

Tapi pertanyaan selanjutnya: Jika Tuhan Maha Adil, mengapa ia membiarkan semua ini? Mengapa harus ada Tsar yang menindas rakyat? Mengapa Russia harus menduduki Georgia? Mengapa ada orang miskin disaat ada orang yang menjadi semakin kaya?

“Tuhan tidak adil. Dia tidak benar-benar ada. Kita sudah ditipu. Kalau Tuhan ada, dia akan membuat dunia menjadi lebih adil”. Seru Soso kepada kawannya, Grisha.

Intelektual Seumur Hidup

Membaca biografi Stalin Muda karya Simon Sebag Montegiore ini seperti menemukan sisi lain seorang commissar Soviet. Siapa sangka, Stalin yang memerintahkan pembunuhan ribuan nyawa saat teror besar adalah seorang seniman dan intelektual.

Anda akan mengikuti kisah hidup anak pembuat sepatu yang hampir menjadi pendeta, penyair yang puisinya dibukukan saat masih berumur belasan tahun, pekerja departemen metereologi merangkap agitator, perampok untuk partai, hingga menjadi commissar lengkap dengan berbagai cerita affair Stalin dengan banyak wanita.

Tapi ada yang saya kagumi dari diktator tangan besi ini: semangat belajar yang tak pernah mati. Kemanapun Stalin pergi, dia akan membawa setumpuk buku. Bahkan dia mampu mengubah masa hukuman penjara di Batumi menjadi universitas kecil, dengan jadwal kuliah dan bacaan wajib untuk tahanan lain.

Ketika Stalin mendapat pengasingan ke Siberia dan kemudian pindah ke lingkaran Arktik kutub utara, hal yang dia inginkan tetaplah sama: buku dan pengetahuan baru.

“Temanku,” tulisnya kepada Zinoviev, “Salam hangatku kepadamu.. Aku menunggu buku-buku… Aku juga memintamu untuk mengirimiku beberapa jurnal bahasa Inggris (edisi lama ataupun baru tidak masalah – untuk bacaan saja karena tidak ada bacaan berbahasa Inggris di sini dan aku takut, tanpa berlatih, aku akan kehilangan semua keterampilan bahasa Inggris yang sudah kupelajari).

Kombinasi kecerdasan seorang pemikir dan kekejaman seorang perampok membuat Stalin mampu menyingkirkan musuh-musuhnya dan mendirikan Uni Soviet. Bahkan ketika sudah berusia 70 tahun dan menaklukkan Berlin, Stalin tetaplah seorang pembelajar.

“Lihat aku”, kata Stalin sekitar tahun 1950, “Aku tua dan aku masih belajar”.

Buku-buku perpustakaan Stalin semuanya dengan hati-hati diberi catatan dan coretan kecil. Tanda sering dibuka dan dibaca.

Karena itu izinkan saya meniru Stalin:

“Aku muda dan masih harus banyak belajar”.

yang mau buku ini silahkan tinggalin alamat dibawah ya :) siapa cepet dia dapat
yang mau buku ini silahkan tinggalin alamat dibawah ya 🙂 siapa cepet dia dapat
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Sapi Hitam

 

Berdasarkan penilaian saya, ada tanda utama untuk membedakan mana organisasi baik dan organisasi busuk. Apa itu? Sederhana saja, culture organisasi tentang kesalahan.

Di organisasi yang baik dan hebat, kesalahan dianggap sebuah pembelajaran. Mereka menyimpan file-file “kegagalan” yang telah terjadi (bahkan ditulis dalam bentuk power point!), disertai pembelajaran dan feedback yang bisa dilakukan penerus dimasa depan. Tidak ada kambing hitam personal. Ini kesalahan si A, manager B, atau supplier C. Kesalahan ada pada tindakan, bukan personal.

Sebaliknya, di organisasi busuk menyalahkan adalah sebuah kelaziman. Dan biasanya, yang menjadi kambing hitam adalah factor eksternal. Saya pernah membaca laporan keuangan sebuah perusahaan yang telah rugi bertahun-tahun. Dan di sambutan direksinya, dia menyebut perusahaan merugi karena imbas krisis Eropa!. Memang krisis mempengaruhi bisnis secara global, tapi setelah 2 tahun berlalu apakah manajemen tidak bisa mencari alternative diversifikasi pasar?

Demikian juga dengan masyarakat kita. Sangat suka menyalahkan, ditambah demen banget bikin alasan. Saya merasa kebiasaan menyalahkan dan mencari alasan ini membuat bangsa kita ga maju-maju. Contohnya saat banjir, yang pendukung gubernur lama menyalahkan gubernur baru karena dianggap ga becus, sedangkan gubernur baru menyalahkan gubernur lama karena memberikan warisan permasalahan. Ribut sendiri deh.

Elite politik juga gitu. Bos-nya ditangkap aparat penegak hukum, ujung-ujungnya lari ke konspirasi jionis lah, Wahyudi lah, Remason lah. Sibuk mencari sapi hitam (bosen pake kambing). Pokoknya kalo ada kesalahan, itu pasti karena factor eksternal.

Cerita tentang raja yang bodoh dari Eurice de Souze ini mungkin bisa menjadi pembelajaran. Ketidakmampuan melihat akar permasalahan dan kebiasaan menyalahkan bisa menjadi sumber kehancuran.

Raja yang Bodoh

Suatu hari seorang guru mengajak muridnya berjalan2 ke negeri yang terkenal akan kebodohan rajanya. Sang guru ingin memberikan pelajaran kepada muridnya, tentang akibat dari kebodohan itu sendiri. Kebetulan, saat mereka sampai di alun-alun kota, sedang diadakan pengadilan rakyat.

Dua orang wanita berjalan maju ke depan.

“Tuanku”, kata mereka kepada raja, “Kami menginginkan keadilan. Beberapa minggu lalu suami kami mencoba memasuki rumah seorang pedagang ketika ia sedang bepergian ke desa lain. Selagi mencoba membuat lubang yang cukup besar untuk dilewati, tembok runtuh dan membunuh suami kami. Jika rumah itu tidak tua dan sangat lapuk, suami kami tentu tidak akan terbunuh. Kami ingin pedagang itu dihukum karena merampas nyawa suami kami”.

Bukannya mempertanyakan alasan suami wanita memasuki rumah pedagang, Raja langsung memanggil pedagang untuk menghadap. “Tuanku, tembok yang runtuh itu bukan salahku. Continue reading Sapi Hitam

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kontradiksi

Captain Indonesia from na9a.com

Menyebut kata “pahlawan” berarti menyebut sebuah kontradiksi. Ada pertentangan. Ada perdebatan. Ada pertarungan. Karena pada dasarnya, arti pahlawan sendiri bersifat relative, dan kalau boleh saya bilang, sedikit absurd.

Apakah Soekarno pahlawan? Bagaimana dengan Sultan Hassanudin? Pangeran Diponegoro? Atau Imam Bonjol? Bagi kita, sebuah bangsa yang berusaha untuk berdiri di kaki sendiri, mereka adalah penyelamat bangsa. Tapi cobalah berpikir jika Anda seorang colonial yang lahir pada awal tahun 1900-an, maka nama-nama yang saya sebut adalah kaum renegade. Rebellion. Pemberontak. Pengacau ketertiban dan keamanan.

Karena sesungguhnya kepahlawanan bersinggungan erat dengan kekuasaan. Dan kekuasaan beririsan dengan kepentingan. Apa menjadi pahlawan untuk apa. Siapa menolong siapa. Karena hidup selalu punya dua sisi. Seseorang bisa menjadi pejuang bagi sebuah kaum, tapi bisa dianggap pemberontak bagi Negara lain. Ia bisa menjadi pemenang di malam hari, lalu berubah menjadi pecundang pada pagi hari.

Kita dan Mereka

Bagi kita, Deandels itu perampok. JP Coen itu penghisap. Pieter Both sang pemimpin pertama VOC adalah pemerkosa bangsa. Tapi bagi mereka, nun jauh di Negara yang lautnya lebih tinggi daripada darat, nama-nama diatas adalah pahlawan Continue reading Kontradiksi

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Bedah Iklan Pemilukada Jakarta

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=kkxZTotQExQ]

Dibalik perhelatan Pemilukada DKI 2012 putaran kedua yang telah usai, ada pelajaran “propaganda media” yang menarik untuk diperhatikan. Untuk kepentingan analisis, mari kita menggunakan data Nielsen untuk melakukan perbandingan media support.

Kita mulai dengan melihat kekuatan kedua kubu di televisi. Mainstream media masyarakat Indonesia. Pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, dengan iklan yang bercorak religius, memiliki support level yang cukup tinggi, mencapai 249 GRP (gross rating point). Nilai ini adalah akumulasi rating iklan televisi. Nilai satu rating point menunjukkan jika 1% pemirsa, telah menyaksikan iklan ini. Sekedar catatan, pengiklan “membeli” GRP ke pihak stasiun televisi. Semakin tinggi GRP, semakin besar biaya iklannya.

Dengan gross rating 249 point hanya dalam waktu tiga hari (14 hingga 16 September 2012), maka nilai ini cukup besar. Pemilihan channel-nya pun merata. Total pasangan Foke-Nara memasang di 7 channel swasta nasional. Paling banyak di Trans7 (31%), diikuti oleh Trans (20%), dan ANTV (14%). Ada 97 spot iklan mereka selama tiga hari kampanye. Dengan jangkauan reach mencapai 44%. Artinya, 44% pemirsa di Indonesia, pernah melihat iklan mereka.

“Prabowo Effect?”

Berbeda dengan Foke-Nara, kampanye iklan Jokowi-Ahok hanya memiliki Continue reading Bedah Iklan Pemilukada Jakarta

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Harapan

migraine-ista.blogspot.com

Untuk memenangkan pemilu, ada resep sederhana yang selama ini berlaku. Jika Anda “juara bertahan” (incumbent), cukup jelaskan keberhasilan apa.yang telah dicapai. Sertakan data yang menantang (kalau perlu permainkan metodologi statistiknya), ditunjang dengan kekuatan media sebagai sarana propaganda.

Sedangkan Jika Anda adalah seorang penantang, kunci suksesnya juga sederhana: cukup kritik keadaan saat ini dan tawarkan perubahan. Tampilkan kegagalan penguasa saat ini. Ajukan pertanyaan retoris tentang penderitaan mereka, lalu berikan pil ekstasi: janji akan perubahan.

Siapa yang menang? Pemenangnya adalah mereka yang mampu Continue reading Harapan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Solusi Gila Untuk Kemacetan Jakarta

sumber: Kompas.com

Jika Anda sedang berjalan-jalan di Jakarta, saat ini pasti Anda akan sangat mudah menemukan poster calon pemimpin Jakarta.

Dan lucunya “jualan” mereka rata-rata hampir sama. Gaya foto mereka sama-sama tersenyum cengengesan sok cool, sama-sama ingin membawa perubahan menuju Jakarta yang lebih baik, dan sama-sama menjanjikan solusi untuk tiga dosa utama ibukota Jakarta: macet, banjir, dan permasalahan social.

Untungnya saya bukan orang Jakarta (untungnya juga saya bukan orang utan). Tinggal disini juga baru sekitar 3 bulan setelah lulus kuliah. Jadi saya kurang peduli dengan kondisi politik kota ini. Tapi saya ingin mencermati solusi yang ditawarkan para calon pemimpin Jakarta. Tentang cara mengatasi kemacetan.

Macet

Tiada hari tanpa macet di Jakarta. Apalagi saat jam berangkat dan pulang kerja. Tampaknya hanya saat libur saja Jakarta bebas macet: libur hari raya, dan saat libur hari kiamat. Hari biasa? Mana mungkin… apalagi sedang musim demo seperti sekarang.

Terkadang saya lebih memilih jalan kaki untuk menghadiri meeting dengan client daripada naik roda empat yang menghabiskan waktu 30 menit perjalanan hanya untuk menempuh jarak 2 km. itung-itung pelangsingan gratisan juga sih. Yang penting nggak jalan ditempat.

Mau naik busway? Pasti lama ngantri dan jalurnya sering diserobot pengendara lain. Belum lagi risiko terkena pelecehan seksual (atut kakak…) karena dempet-dempetannya minta ampun. Kita bisa mendapatkan pelajaran empati bagaimana rasanya menjadi ikan sarden. Naik ojek? Mending bawa motor sendiri lah. Karena ongkos ojek lebih mahal daripada taxi. Naik kereta? Kurang fleksible kalau tujuannya dalam kota.

Naik kopaja? Kudu banyak dzikir. Naik bajaj? Uda dilarang masuk tengah kota. Naik becak? Ntar dirazia satpol PP. Naik haji? Kelamaan ngantri. Pokoknya, naik apapun, ujung-ujungnya naik pitam. Macet dan crowded.

Lalu datanglah para “messiah” calon pemimpin DKI yang membawa solusi mengatasi kemacetan. Karena ini bukan tulisan promosi salah satu calon, pokoknya rata-rata ingin melakukan perbaikan transportasi umum agar pengendara kendaraan pribadi beralih menggunakan kendaraan umum.

Tapi seperti kata Andre Taulany Stinky, “Mungkinkahhh?”

Intangible Benefit

Logikanya sederhana. Manusia dianggap rasional. Semakin baik transportasi umum (murah, cepat, aman dan nyaman), maka seseorang pengendara kendaraan pribadi akan melakukan cost benefit analysis dan pada akhirnya memutuskan memarkir kendaraan pribadinya di garasi rumah untuk beralih menggunakan transportasi umum.

Tapi sayangnya manusia tidak rasional Continue reading Solusi Gila Untuk Kemacetan Jakarta

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Pelajaran Untuk Demonstran

Semoga tenang disanaDunia berubah sejak 17 Desember tahun lalu. Dipicu seorang tukang buah yang lama menganggur dan masih berhutang $200. Pemuda itu lalu memutuskan membeli gerobak dan berjualan di kaki lima. Tapi nasibnya sedang sial, siang itu polisi Tunisia melakukan razia di kota Sidi Bouzid, 256 kilometer dari Tunis.

Gerobaknya disita. Sang pemuda, Mohammad Bouazizi yang dipanggil Basboosa, memberontak. Dia mengadu ke balai kota dan tidak mendapat tanggapan apa-apa. Akhirnya, ia membeli dua kaleng bensin, lalu membakar dirinya sendiri di depan kantor gubernur. Setelah tiga minggu, pemuda 29 tahun ini menghembuskan nafas terakhir.

“Aku pergi, Ibu. Maafkan, aku tidak patuh. Aku pergi dan tidak akan kembali,” katanya dalam dinding akun Facebook-nya.

Kematian seorang tukang buah yang memicu kemarahan rakyat. Ribuan pelayat berdatangan. Berteriak lantang. “Kami akan membalaskan dendam Anda, Mohammad!” Pemakaman berujung rusuh. Tragedy yang menjadi tipping point. Penyebar wabah ketidakpuasan pemerintah. Rakyat yang sudah muak, lapar, tertekan, dan butuh kehidupan yang lebih baik memberontak. Kematian Bouazizi seakan-akan menjadi martir perjuangan. Ia berubah menjadi sekam api pemberontakan.

“Saudaraku telah menjadi simbol perlawanan di dunia Arab,” ujar kakaknya, Salem Bouazizi.

Hasilnya, Presiden Tunisia Zine el-Abidine Ben Ali harus turun dan mencari suaka ke Arab Saudi. Tragedy pembakaran diri yang “membakar” Timur Tengah. Memaksa penguasa-penguasa dunia Arab, untuk turun dan melarikan diri.

Replikasi Setengah Jadi

Hampir setahun kemudian, 7 Desember 2011, aktivis KontraS, Sondang  Hutagalung, melakukan aksi yang serupa. Ia membakar dirinya depan Istana Negara. Akhirnya mahasiswa 22 tahun ini meninggal tiga hari kemudian. Tapi tidak seperti Bouazizi, hampir tidak ada yang “terbakar”. Rakyat masih merasa biasa-biasa saja. Koruptor masih tertawa-tawa. Politikus masih sibuk berdebat. Mafia hukum masih terus tawar menawar di pasar pengadilan.

“Kobar api Sondang menyebar, tapi tidak mampu membakar hati dan menyambar kaki sahabatnya, kawan-kawan kampusnya, dosennya, rekan-rekannya sesama aktivis KontraS, tokoh agama, akademisi dan para aktivis yang gemar berbicara kemanusiaan dan keadilan,” kata Adian Napitupulu, mantan aktivisi 98.

Kematiannya tidak membakar apa-apa. Tidak terjadi tipping point. Tidak ada penyebaran wabah seperti Bouazizi. Sondang sepertinya harus rela hanya akan menjadi penghias halaman pertama surat kabar, liputan televisi, topic seminar, menjadi pergunjingan pro kontra di forum dunia maya, atau topic obrolan warung kopi di masyarakat. Setidaknya ia mencatatkan sejarah sebagai orang pertama yang melakukan aksi bakar diri di bumi Indonesia selama melakukan demonstrasi.

Tapi apa yang sebenarnya ia cari? Jika Sondang ingin menyampaikan kritik kepada pemerintah, mengapa tidak ada aksi lanjutan? Mengapa tidak ada masyarakat yang ikut “terbakar”?

Continue reading Tiga Pelajaran Untuk Demonstran

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Parsimoni

“Skripsi ini ditulis bagi mereka yang ingin membunuh para mahasiswa, dosen, akademisi, dan praktisi dengan pikiran over complicated sophisticated. Para pendosa yang membuat bisnis berubah dari sesuatu yang sederhana memenjadi monster yang rumit dan sulit!!!”

Saya selalu kagum dengan kesederhanaan. Parsimoni. Kemampuan melakukan penyederhanaan untuk hal-hal yang dianggap rumit. Sebuah teori yang baik pasti memiliki prinsip parsimoni. Mampu membentuk pola-pola yang berlaku secara umum. Secara sederhana.

Sayangnya penyakit orang pintar itu, belum puas jika belum dianggap pintar. Celakanya, kita justru menganggap hal-hal rumit dan tidak kita kuasai sebagai hal yang hebat, dan orang yang mengucapkannya, pasti pintar.

Jika kita bicara tentang uang. Tentu semua mengerti uang dan beberapa dari kita jatuh cinta dan bersedia menikah dengan uang. Apa yang terjadi jika saya mulai berbicara aspek teknis tentang uang. Misalnya saya menjelaskan inflation targeting framework, trinitas moneter, gold standard, Grisham law, dan berbagai kata teknis komposisi bumbu Indomie: Gluten, Kalium Karbonat, Karboksi Metil Selulosa, Natrium Polifosfat, Natrium Karbonat, Tartrazine CI 19140….

(Cukup…cukup… WOW kakak… Anda pintar sekali!!!)

Inilah cara termudah untuk menjadi pintar. Gunakan kata-kata yang membuat Anda kelihatan pintar. Padahal saya sendiri tidak mengerti kata yang baru saja saya tuliskan :p.

Saran saya jika presentasi: buat pendengar mengerti akan presentasi yang kita sampaikan, dan jika tidak bisa, buatlah pendengar menjadi bingung dan tidak mengerti sehingga mereka terkagum-kagum akan kebingungan dan ketidakmengertian mereka sendiri.

Continue reading Parsimoni

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Bejatnya Dongeng Indonesia

Ternyata, dongeng Indonesia itu penuh dengan pelajaran korupsi dan tipu muslihat. Mungkin ini yang menyebabkan prilaku sebagian masyarakat Indonesia penuh dengan kelicikan, kemunafikan, dan berbagai trik untuk mengkadalin orang lain. Tentu tidak semuanya. Masih banyak yang penuh muatan moral positif.

Tapi saya punya tiga contoh cerita rakyat yang seharusnya tidak diceritakan lagi:

Kancil

saifulislam.com

Siapa yang tidak kenal tokoh ini? Tentu banyak. George Bush dan jutaan anak Amerika mungkin tidak kenal kancil (bener tho?). Tapi di Indonesia kancil begitu populer. Populer dengan kecerdikan yang sebenarnya penuh kebohongan dan jauh dari pesan kejujuran.

Masih ingat tentang Kancil sang pencuri ketimun? Saat tertangkap si kancil lalu membohongi anjing Pak Tani. Mengatakan jika ia akan diajak ke pesta. Anjing yang sudah seperti wartawan infotainment karena termakan gossip dan tidak mengenal kata cross check ini langsung percaya. Si kancil kembali Berjaya.

Saat membaca cerita ini ketika SD berabad-abad yang lalu (umur Om Jin berapa?), tak lupa dibumbui pesan moral: Anak-anak, jadilah seperti kancil yang cerdik. Wow… kancil memang cerdik. Cerdik untuk urusan membohongi dan memanipulasi!

Cerita kancil dan pak tani tidak mengajarkan pentingnya arti sebuah kejujuran dan tanggung jawab. Berani berbuat, berani menanggung akibatnya. Justru kancil dipuji karena bisa melarikan diri. Sebuah pelajaran untuk membohongi orang lain demi keselamatan diri sendiri. Luar binasa!

Continue reading Bejatnya Dongeng Indonesia

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail