Category Archives: Sastra

Dunia akan menjadi neraka tanpa kehadiran sastra dan seni

Chichikov

“Tuan menginginkan orang-orang yang sudah mati?” tanya Sobakevich heran.

“Ya… yang sudah tidak ada” jawab tamu dihadapannya menegaskan.

Bagaimana mungkin, seseorang ingin membeli petani-petaninya, yang sudah mati? Sobakevich si tuan tanah kembali bertanya. Tapi sang pembeli, sangat serius dengan tawarannya. Akhirnya mereka sepakat di harga dua setengah rubel. Untuk membeli petani yang sudah tak ada lagi. Transaksi jual beli atas jiwa-jiwa mati.

Pembeli itu, Chichikov, adalah pejabat licik yang bersembunyi dalam topeng kesopanan aristokrat. Pakaiannya selalu rapi, tubuhnya terbungkus jas dari satin atau beludru. Memiliki kereta dengan kuda yang sehat. Berkeliling Rusia untuk mencari tuan tanah, dan menawarkan transaksi konyol: Chichikov akan membeli petani mereka yang sudah tiada.

Korupsi

Chichikov adalah tokoh dalam Dead Souls karya Nikolai Gogol. Sastrawan besar Rusia yang mengkritik bobroknya birokrasi dalam karya sastra indah yang penuh nuansa satir. Chichikov digambarkan sebagai birokrat tulen: pandai menjilat atasan, bermuka manis, tapi sebenarnya akan melakukan apapun untuk keuntungan pribadinya.

Ilustrasi from Russia-antique.com
Ilustrasi from Russia-antique.com

Ia pernah menjadi petugas bea cukai. Menolak segala macam suap kecil hanya agar bisa dipromosikan ke kantor pusat sehingga ia bisa melakukan korupsi yang lebih besar: penyelundupan terselubung. Ketika kejahatannya mulai terendus, ia melarikan diri dan berpikir untuk melakukan bisnis “jiwa-jiwa mati”.

Diceritakan Rusia pada saat itu akan mengadakan sensus penduduk setiap beberapa tahun. Sayangnya data penduduk seringkali tidak update. Banyak penduduk yang tercatat meskipun pada kenyataannya mereka sudah mati. Pada umumnya petani penggarap ladang. Chichikov melihat peluang.

Rencana Chichikov sederhana: ia akan membeli petani mati (disensus tercatat masih hidup), mengurus akte pembelian sehingga ia secara resmi “tercatat memiliki petani”, untuk kemudian menjadikan akte kepemilikan petani itu sebagai jaminan untuk mendapatkan pinjaman.

Chichikov sudah dibutakan oleh harta. Yang ia tahu, bagaimana mendapatkan rubel dengan cara mudah. Meskipun harta itu didapat dari hasil korupsi, menjilat, atau menipu, bukanlah soal. Ia mungkin tidak tahu firman Tuhan:

“Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik..” Al-Baqarah 168.

Kostanjoglo

Ketika aparat hukum mulai mencurigai transaksi aneh ini, Chichikov melarikan diri. Ia sempat singgah di sebuah desa dan bertemu tuan tanah kaya yang rajin bekerja.

“Kalau Tuan ingin cepat kaya.. Tuan tak akan pernah kaya. Tapi, kalau Tuan ingin menjadi kaya tanpa memikirkan berapa lama Tuan membutuhkan waktu, Tuan akan menjadi kaya dengan cepat. Orang harus mencintai pekerjannya. Tanpa itu Tuan tak dapat melakukan sesatu.” Konstanjoglo menjawab pertanyaan Chichikov tentang cara cepat menjadi kaya.

Chichikov tercengang mendengar petuahnya. Dan beralasan jika ia tidak terlahir dari golongan kaya. Tapi Konstanjoglo menentang pendapat itu.

“Orang yang dilahirkan dengan beberapa ribu dan dibesarkan dengan beberapa ribu tak akan pernah mencetak uang, karena ia telah mengembangkan segala macam kebiasaan mahal dan segala macam hal yang lain.

Orang harus mulai dari permulaan dan bukan dari tengah, dari satu kopek, dan bukan dari satu rubel. Dari bawah dan bukan dari atas. Barulah orang akan mendapat pengetahuan yang menyeluruh mengenai hidup dan juga orang-orang, yang kemudian hari akan berurusan dengannya.

Kalau Tuan telah mengalami semua itu dan telah mengerti bahwa setiap uang tembaga harus dijaga baik-baik sebelum Tuan dapat melipatkannya menjadi tiga, dan apabila Tuan telah melewati segala macam cobaan dan bencana Tuan akan menjadi demikian terlatih dalam berbagai cara dunia, hingga Tuan tak akan pernah membuat kesalahan dan tak akan pernah bersedih dalam usaha apa pun.”

Di akhir novel, Chichikov harus merasakan akibat perbuatannya. Ia dijebloskan kepenjara. Tapi Chichikov beruntung. Pangeran bersedia mengampuninya setelah dibujuk oleh Murazov, pembela hukumnya. Chichikov pun hanya dihukum ringan: hartanya disita dan ia diminta pergi meninggalkan kota.

Saat diperjalanan, Chichikov terus mengingat pesan dari Murazov.

“Tuan tak punya kecintaan akan kebaikan, paksalah diri Tuan melakukan kebaikan tanpa suatu kecintaan kepadanya… Paksalah diri Tuan beberapa kali… nanti Tuan akan belajar mencintainya”.

Ia pun memulai hidup baru. Dari awal, tanpa memiliki apa-apa. Chichikov yang dulunya pejabat kalangan atas, sekarang harus menjadi rakyat kelas bawah.

Tapi bukankah itulah hukumnya? Orang harus mulai dari bawah, dan bukan dari atas.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Dari Atas Tumpukan Sampah: Menulis Adalah Menangis

-sepucuk surat untuk adik.

 Oleh: Khoer Jurzani*)

Cover Adam Kaisinan

  Jika menulis adalah tangis, rumah kita pasti sudah tenggelam.  Karenanya, kita beruntung memiliki bapak seorang pemulung. Ya karena profesi bapaklah setiap hari ada saja bahan bacaan gratis untuk kita; Koran dan majalah bekas, buku bekas. Sejak kecil kita sudah akrab dengan Si kuncung, Bobo, Si kembar O Sullivan, Garfield, Donal bebek. Sebab kita tidak memiliki banyak mainan seperti anak-anak lain, mainan kita adalah apa yang ada di dalam imaji kita, gambar-gambar berbicara, tulisan-tulisan mengajak kita menari.

Ketika bapak mulai sibuk dengan pekerjaan dan ibu sering membentak serta menyembunyikan buku-buku bacaan, entah kenapa ibu tidak suka sekali melihatku membaca seharian, aku pun mulai menulis. Tulisan pertamaku adalah puisi, mengenai ibu tiri.

Kakak tidak yakin apakah kakak bisa bertahan hidup sampai sekarang kalau Pak Cevi, Guru Madrasah Ibtidaiyah, tidak meminjami kakak novel dengan judul Dokter Widi, sebuah buku berlabel Milik Departeman P dan K, Tidak diperjualbelikan itu adalah buku pertama yang membuat kakak menangis. Sejak saat itu Pak Cevi selalu meminjami kakak buku-buku cerita. Kakak masih ingat, waktu kelas enam MI, kakak mulai mencoba membuat cerita bersambung, yang tiap hari kakak bagikan ke teman-teman sekelas.

Apakah kamu percaya, jika ada sebuah sekolah paling aneh di dunia, tidak ada guru, tidak ada murid, yang ada rerumput kering dan bangunan kusam. Seorang laki-laki kecil tiap hari berada di dalamnya, kesepian. Guru dan murid hanya berdatangan pada saat menjelang ujian. Tidak ada pelajaran. Tidak ada ilmu yang didapatkan.

Engkau beruntung bisa belajar di SMP negeri Dik, tidak berada di Madrasah Tsanawiyah di dasar jurang itu. Hingga untuk meyakinkan bapak dan ibu bahwa aku benar-benar berangkat ke sekolah, tiap hari aku pergi ke

Continue reading Dari Atas Tumpukan Sampah: Menulis Adalah Menangis

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Pemuda Batu

Sumpah pemuda pasti ngomongin pemuda. Ga mungkin kan ngomongin kakek tua. Kami, pemuda Indonesia berbangsa satu, berbahasa satu, dan beristri satu bla bla bla gitu deh.. pasti bosen kan klo saia nulis begituan? Karena itu saya Cuma mau sharing cerita rakyat Himalaya tentang Para Pangeran Berubah Menjadi Batu. Cerita ini saya cuplik dari Si Gajah dan Sekumpulan Semut karya Eurice de Souza. Buku berisi kumpulan cerita rakyat India. Cekidot bro:

ronosaurusrex.com

Pada suatu masa, hiduplah seorang raja yang memiliki tiga orang putra. Sang raja sering meminta ketiga putranya berkuda mengelilingi kerajaan untuk mengetahui keadaan rakyatnya.

Suatu hari, ketika putra sulung tengah berkuda melewati sebuah hutan, ia melihat empat ekor kuda yang gagah sedang merumput di pinggir sebuah kolam. Seorang pertapa mengawasi kuda-kuda itu selagi mereka merumput.

“Tuan”, kata pangeran seraya berjalan mendekati pertapa itu, “Mereka adalah kuda-kuda tercantik yang pernah saya lihat. Bolehkah aku menunggangi salah satu kuda ini sebentar saja?”

“Tentu saja boleh”, jawab sang pertapa. “Pilih satu kuda yang paling kau sukai dan silakan tunggangi sepanjang hari ini. Tetapi, kau harus kembali sebelum sore, dan ceritakan petualanganmu kepadaku serta apa artinya. Jika tidak, aku akan mengubahmu menjadi pilar batu”.

Sang pangeran merasa sangat senang. Ia menaiki seekor kuda dan pergi menungganginya. Selagi berkuda, pangeran melewati sepetak kecil kebun sayur mayor yang dipagari dengan papan kayu yang panjang dan tajam sehingga tidak bisa dimasuki oleh siapa pun. Ketika ia berhenti untuk melihat-lihat tempat itu, betapa terkejutnya sang pangeran melihat papan kayunya berubah menjadi sabit yang kemudian bergerak memangkas sayur mayor didalam kebun.

Bingung dan ketakutan, pangeran berkuda pulang secepat mungkin untuk kembali ke pinggir kolam, dan ia pun menceritakan kepada pertapa apa yang telah ia lihat.

“Apa arti kejadian itu?” tanya pertapa.

“Aku tidak tahu” jawab pangeran. “Kupikir justru Tuanlah yang akan menjelaskan artinya padaku”

“Tidak tahu!” seru pertapa. “Bagaimana mungkin kau bisa memimpin sebuah kerajaan jika kau tidak bisa memahami bahkan untuk hal-hal yang paling sederhana? Kau akan berubah menjadi batu karena kebodohanmu”.

Segera setelah kutukan itu diucapkan oleh pertapa, pangeran berubah menjadi sebuah pilar batu.

Keesokan harinya, pangeran kedua berkuda menuju untuk mencari kakaknya, dan ia pun bertemu dengan pertapa di pinggir kolam beserta keempat kuda yang sedang merumput. Sama seperti kakaknya, pangeran kedua juga bertanya kepada pertapa apakah ia boleh menunggangi salah satu kuda itu, dan sang pertama pun menyebutkan syarat yang sama.

“Aku sudah beribu-ribu kali berkuda melewati daerah ini” kata pangeran. “Dan, aku tidak pernah melihat sesuatu yang aneh”.

“Kita lihat saja nanti” balas pertapa, dan pangeran kedua pun berkuda ketempat yang jauh.

Beberapa jam kemudian, ia kembali.

“jadi bagaimana?” tanya pertapa. “Apakah kau melihat sesuatu yang aneh?”

“Oh, iya” jawab pangeran. “Aku bertemu dengan seorang Continue reading Tiga Pemuda Batu

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Iman Melawan Eman

Julia menghitung isi dompetnya, hanya tersisa beberapa pounds. Itu semua yang ia punya, dan hari itu adalah malam natal. Bagaimana mungkin ia bisa membeli hadiah untuk suaminya, Jim, dengan uang sedikit ini?

Dia meringkuk di sofa dan menangis. Lalu, menarik dirinya dan berdiri, merapikan rambutnya, mencuci muka yang sembab, dan tiba-tiba dia mempunyai ide. Di rumahnya mereka punya 2 benda yang sangat berharga. Yang satu jam emas milik Jim dan yang satunya lagi rambut panjangnya yang sedikit berombak.

“Saya tahu apa yang akan saya lakukan!”, katanya, “Saya akan menjual rambut saya!. Dengan begitu, saya akan mempunyai uang untuk membeli hadiah natal”.

Ia segera menemukan toko yang mau membeli rambutnya. Sekarang ia memiliki 50 poundsterling didalam kantong jaketnya- harga dari rambut yang indah. Ia berjalan menuju toko perhiasan dan membeli tali jam dari kulit yang bagus.

“Akhirnya”, batin Julia, “dia akan bisa memakai jamnya dengan bangga”. Sampai hari ini, Jim tidak bisa memakai jam karena tali jamnya sudah rusak.

Hari itu waktu sudah larut, Jim baru pulang. Ketika ia melihat rambut istrinya yang pendek, wajahnya berubah menjadi pucat Continue reading Iman Melawan Eman

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pencabut Nyawa

gaf.co.id

Pada bulan Januari 1848 di lembah Sacramento California, seorang tukang kayu bernama James W. Marshall dan partnernya, John A Sutter, berhasil menemukan emas secara tidak sengaja. Mereka sudah mencoba merahasiakan hal ini. Tapi emas adalah emas. Semakin ditutupi, semakin berkilau.

Samuel Brannan, pemilik toko perkakas didekat lumbung gergaji mereka, pergi ke San Fransisco untuk menyebarkan “kabar gembira” ini. Tujuan Brannan murni bisnis: agar banyak orang datang dan membeli peralatan tambang di tokonya. Dalam beberapa bulan, kabar menyebar seperti angin. Seluruh kota mengetahuinya. Dan seluruh kota mengejarnya. San Fransisco berubah menjadi kota hantu. Kota mati. Karena semua orang, tua muda, wanita pria, anak-anak dan dewasa, pergi untuk berburu emas.

Musim panas ditahun yang sama, berita sudah menyebar ke West Coast, menyeberangi Mexico, bahkan hingga ke Hawai. Rumor juga mencapai Mississippi dan Negara bagian timur. Presiden AS kala itu, James K Polk akhirnya membuat pengumuman resmi tentang penemuan emas di California. Pengumuman yang membuat orang-orang menjual harta mereka, membeli cangkul dan sekop, lalu pergi ke California untuk menambang emas.

Kutukan Midas

Para penambang, yang kemudian dikenal sebagai forty-niners atau argonauts, datang dari seluruh penjuru negeri Continue reading Pencabut Nyawa

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tuhan Tidak Datang Hari ini

Petang itu Konrad si tukang sepatu pulang kerja lebih awal. Ia lalu membersihkan seluruh rumah, terutama ruang tamu, memanggang roti, mengolah daging, dan menyiapkan minuman. Pendeknya, semua pekerjaan rumah yang selama ini jarang dilakukan, kini ia bereskan. Ia sengaja menyuruh sang istri dan anaknya untuk menginap dirumah mertua. Karena Konrad sedang menunggu tamu istimewa.

“Tuhan akan datang”, begitulah pesan dalam mimpinya semalam. Mimpi itu sendiri hanyalah kegelapan dengan suara misterius yang mengatakan Tuhan akan bertamu kerumah Konrad esok sore. Entah dalam wujud apa. Dan sepanjang sore gerimis tak berhenti. Udara dingin sekali. Konrad terus menanti Tuhan sambil merebus teh. Namun Tuhan belum datang juga.

Konrad hanyut dalam pikirannya sendiri, kebaikan Tuhan begitu istimewa kepadanya. “Biar tak sekolah tinggi, aku bisa punya bengkel sepatu. Meski yatim piatu, aku diberi istri cantik dan sepasang anak. Meski tak tampan, senyumku disukai penduduk kota. Meski tak punya kenalan pejabat, usahaku maju terus”. Konrad tenggelam dalam lamunan kilas-balik menampilkan seluruh babak kehidupannya, sambil terus memuji kebaikan Tuhan.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Pasti itu Tuhan!. Konrad bergegas membukanya. Continue reading Tuhan Tidak Datang Hari ini

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kolam di Pekarangan – Sapardi Djoko Damono

ikan akuarium kontrakan
ikan akuarium kontrakan

Kolam di Pekarangan

/1/

Daun yang membusuk di dasar kolam itu masih juga tengadah ke ranting pohon jeruk yang dulu melahirkannya. la ingin sekali bisa merindukannya. Tak akan dilupakannya hari itu menjelang subuh hujan terbawa angin memutarnya pelahan, melepasnya dari ranting yang dibebani begitu banyak daun yang terus-menerus berusaha untuk tidak bergoyang. la tak sempat lagi menyaksikan matahari yang senantiasa hilang-tampak di sela-sela rimbunan yang kalau siang diharapkan lumut yang membungkus batu-batu dan menempel di dinding kolam itu. Ada sesuatu yang dirasakannya hilang di hari pertama ia terbaring di kolam itu, ada lembab angin yang tidak akan bisa dirasakannya lagi di dalam kepungan air yang berjanji akan membusukkannya segera setelah zat yang dikandungnya meresap ke pori-porinya. Ada gigil matahari yang tidak akan bisa dihayatinya lagi yang berkas-berkas sinarnya suka menyentuhnyentuhkan hangatnya pada ranting yang hanya berbisik jika angin lewat tanpa mengatakan apa-apa. Zat itu bukan angin. Zat itu bukan cahaya matahari. Zat itu menyebabkannya menyerah saja pada air yang tak pernah bisa berhenti bergerak karena ikan-ikan yang di kolam itu diperingatkan entah oleh Siapa dulu ketika waktu masih sangat purba untuk tidak pernah tidur. Ia pun bergoyang ke sana ke mari di atas hamparan batu kerikil yang mengalasi kolam itu. Tak pernah terbayangkan olehnya bertanya kepada batu kerikil mengapa kamu selalu memejamkan mata. Ia berharap bisa mengenal satu demi satu kerikil itu sebelum sepenuhnya membusuk dan menjadi satu dengan air seperti daun-daun lain yang lebih dahulu jatuh ke kolam itu. Ia tidak suka membayangkan daun lain yang kebetulan jatuh di kaki pohon itu, membusuk dan menjadi pupuk, kalau kebetulan luput dari sapu si tukang kebun.

*

la ingin sekali bisa merindukan ranting pohon jeruk itu.

*

Ingin sekali bisa merindukan dirinya sebagai kuncup.

/2/

Ikan tidak pernah merasa terganggu setiap kali ada daun jatuh ke kolam, ia memahami bahwa air kolam tidak berhak mengeluh tentang apa saja yang jatuh di dalamnya Continue reading Kolam di Pekarangan – Sapardi Djoko Damono

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Rahasia Terbesar Kepenulisan yang Akhirnya Saya Ketahui

Selompok mahasiswa meminta Sinclair Lewis, seorang novelis pemenang nobel, untuk memberikan ceramah kepada mereka.

Lewis memulai ceramahnya dengan bertanya,

“Siapa diantara kalian yang sungguh-sungguh ingin menjadi penulis?”

Semua mahasiswa mengangkat tangannya.

“Kalau begitu, apa yang kalian lakukan disini? Nasihat saya adalah: Pulanglah ke rumah, lalu menulis, menulis, dan menulis…” kata Lewis sambil memasukkan kembali catatan-catatannya kedalam saku dan meninggalkan ruangan.

 

britannica
Sinclair Lewis/britannica

Sumber: Farid dkk. 2009. Kubik Leadership. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Sepotong Kayu Untuk Tuhan

cover cerpenIni adalah cerpen favorit saya. Karya Kuntowijoyo dalam Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (Anda juga harus membaca cerpen ini jika doyan cerpen sufistik, menurut saya lebih keren dari Adam Makrifat-nya Danarto. Karena Cerpen tema selangkangan zaman dulu belum rame).

 

Cerpen ini bercerita tentang perjuangan seorang kakek yang ingin menyumbangkan sepotong kayu nangka, untuk Tuhan tercinta.

 

Setiap membaca cerpen ini entah mengapa, saya selalu bersemangat melakukan kebaikan. Oleh karena itu suatu hari nanti saya ingin sekali menjadikan cerpen ini sebagai wallpaper penghias tembok rumah.

 

Agak panjang, alokasikan waktu 15-20 menit untuk membacanya. Bisa anda save dan baca jika ada waktu luang. Karena belum ada yang posting di internet, saya mengetik ulang cerpen ini. Jadi maaf klo ada salah2 ketik ya ^_^

 

Sepotong Kayu Untuk Tuhan

Oleh: Kuntowijoyo

 

Matahari sudah tinggi di pedusunan kecil itu, ketika lelaki tua terbaring di kursi panjang, di muka rumahnya. Ia berbuat demikian sejak pagi. Tak seorang pun akan menahannya berbuat itu! Isterinya tidak di rumah. Syukurlah aku bisa bikin anak! Dan anak itu bisa bikin cucu! Perempuan tua, isterinya, beberapa hari yang lalu mengatakan padanya, bahwa ia kangen setengah mati pada cucunya. Maka pergilah perempuan cerewet itu. Ia pergi dengan kereta terpagi kemarin.

Lelaki tua itu sendiri saja. Kalau tidak, tentu isterinya telah mencarinya, bila pagi-pagi dia berbaring saja macam sekarang. “Pergi pemalas!”, kata isterinya andaikata ia di rumah. Tetapi ia tak dirumah. Lelaki tua itu menjulurkan kaki sepuasnya, menyedot pipa sampai nafasnya terasa sesak. Sekaranglah ia benar-benar bebas. Seaptutnya ia pergunakan kebebasan itu untuk bermalas-malas: berbaring di kursi panjang menikmati langit, pohonan, dan kebunnya.

Rumah itu terletak dipinggir dusun, jauh dari tetangga. Tak seorang pun akan melihatnya berbaring sampai kapan pun. Dibelakang rumah adalah sungai kecil. Kebunnya melandai sampai menyentuh tepi sungai itu. Pohon-pohon meramaikan pekarangan. Alangkah berat kerjanya! kalau istri dirumah, dia akan disuruhnya membungkuk-bungkuk sepanjang kebun. Ada-ada saja. Kayu! Kayu habis! Alangkah kotor kebun kita! Ia harus bangkit cepat-cepat, kalau tidak ingin basah kuyup tubuhnya oleh siraman air istrinya. Kerja itu memang perlu, ia tahu. Hanya isterinya terlalu cerewet. Ia yang sudah seputih itu rambutnya masih saja dinilai sebagai pemalas. Persetan! Toh, istrinya tidak ada sekarang!.

Aku bukan pemalas, pikir lelaki tua itu. Aku anak cucu mereka yang suka kerja keras. Aku rajin, dari ujung kaki sampai ujung rambut! Ia menyedot rokok pipa dalam-dalam. Tapi buktikanlah, Kakek, tiba-tiba ia berpikir-pikir. Ya, berkata itu mudah. Bukti itu sulit. Namun ia tak tahu kerja apa yang dapat dikerjakan pada saat seperti ini. Katakanlah, misalnya kayu bakar. Kayu bakar telah bertumpuk di dapur. Ia sendiri menumpuknya. Atau menyapu halaman. Sia-sia saja, tak seorang pun akan melihat rumahnya. Rumahnya cukup terlindung dari mata orang.

Tiba-tiba ia bangkit. “Demi Tuhan!”, Continue reading Sepotong Kayu Untuk Tuhan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Bejatnya Dongeng Indonesia

Ternyata, dongeng Indonesia itu penuh dengan pelajaran korupsi dan tipu muslihat. Mungkin ini yang menyebabkan prilaku sebagian masyarakat Indonesia penuh dengan kelicikan, kemunafikan, dan berbagai trik untuk mengkadalin orang lain. Tentu tidak semuanya. Masih banyak yang penuh muatan moral positif.

Tapi saya punya tiga contoh cerita rakyat yang seharusnya tidak diceritakan lagi:

Kancil

saifulislam.com

Siapa yang tidak kenal tokoh ini? Tentu banyak. George Bush dan jutaan anak Amerika mungkin tidak kenal kancil (bener tho?). Tapi di Indonesia kancil begitu populer. Populer dengan kecerdikan yang sebenarnya penuh kebohongan dan jauh dari pesan kejujuran.

Masih ingat tentang Kancil sang pencuri ketimun? Saat tertangkap si kancil lalu membohongi anjing Pak Tani. Mengatakan jika ia akan diajak ke pesta. Anjing yang sudah seperti wartawan infotainment karena termakan gossip dan tidak mengenal kata cross check ini langsung percaya. Si kancil kembali Berjaya.

Saat membaca cerita ini ketika SD berabad-abad yang lalu (umur Om Jin berapa?), tak lupa dibumbui pesan moral: Anak-anak, jadilah seperti kancil yang cerdik. Wow… kancil memang cerdik. Cerdik untuk urusan membohongi dan memanipulasi!

Cerita kancil dan pak tani tidak mengajarkan pentingnya arti sebuah kejujuran dan tanggung jawab. Berani berbuat, berani menanggung akibatnya. Justru kancil dipuji karena bisa melarikan diri. Sebuah pelajaran untuk membohongi orang lain demi keselamatan diri sendiri. Luar binasa!

Continue reading Bejatnya Dongeng Indonesia

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail