Category Archives: Siapa dia

Tentang orang-orang hebattt

How to Write

7 September, 1982

If everybody in our company took an exam in writing, the highest marks would go to the 14 directors..

The better you write, the higher you go in Ogilvy & Mather. People who think well, write well.

Woolly minded people write woolly memos, woolly letters and woolly speeches.

Good writing is not a natural gift. You have to learn to write well. Here are 10 hints:

  1. Read the Roman-Raphaelson book on writing (Writing That Works, Harper & Row, 1981). Read it three times.
  2. Write the way you talk. Naturally.
  3. Use short words, short sentences and short paragraphs.
  4. Never use jargon words like reconceptualize, demassification, attitudinally, judgementally. They are hallmarks of a pretentious ass.
  5. Never write more than two pages on any subject.
  6. Check your quotations.
  7. Never send a letter or a memo on the day you write it. Read it aloud the next morning – and then edit it.
  8. If it is something important, get a colleague to improve it.
  9. Before you send your letter or your memo, make sure it is crystal clear what you want the recipient to do.

(point terakhir menurut saya yang paling penting)

  1. If you want ACTION, dont write. Go and tell they guy what you want.

Diambil dari The Unpublished David Ogilvy. 2012. Profile Books Ltd. London.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Semoga Fikri Dapat Nobel Ekonomi!!!

“Cuk, buku lo berapa juta?”

“Hoi, 49.000”

“Mahal amir. 75 rebu donk”

“Boleh”

“Mana kirimin norek lu”

“Alamat aja dulu”

“Gw beli versi fotokopian ada ga?”

“No rek gampang”

“Wah uda jadi cowok gampangan lu. Gw lupa alamat kos”

“Kantor aja”

“Ntar dikira gratifikasi”

“Taik”

Transekrip (bingung cuk how to say transcript in bahasa) diatas bukanlah rekaman percakapan Menpora yang ketipu beli sepeda fixie, apalagi dialog di video PNS Bandung. Tapi percakapan singkat saya dengan Fikri, salah satu penulis keren favorit saya.

Kenapa saya bilang Fikri keren?

Karena Fikri itu teman kuliah saya. Sedangkan saya kan orang ganteng. Orang ganteng hanya berteman dengan orang keren. Sehingga otomatis, Fikri itu keren. Sungguh silogisme yang agak tidak logis, tapi tetap keren.

Dan Fikri itu salah satu mahasiswa FEB U*M yang paling keren. Jago bolos pas SMA, rambut gondrong, jeans belel, badan kurus junkies. Kalau ke kampus bawa buku kuliah dikira mau ngamen, sedang kalo bawa gitar malah dikira mau kuliah. Fikri ga cuma punya darah seni. Ditubuhnya mengalir air seni.

Absurdity, (judul bukunya pake koma cuy) adalah kompilasi kontemplasi kehidupan penulis dengan nama lengkap Fatihatul Insan Kamil Ramadhani Imama ini (nama Fikri adalah sebuah akronim). Berisi “ke-absurd-an” perjalanan hidupnya seperti ga pernah belajar malah lulus ujian, percintaan yang mengenaskan, suka duka mahasiswa, dan tentu saja fenomena pergaulan bebas kos-kosan Jogja (sekarang zamannya perdagangan bebas, masa pergaulan ga bebas).

Coba baca salah cerita keren fikri:

Karena tidak banyak teman yang memilih melakukan ujian di Jogja, kepergian saya disambut bahagia oleh teman-teman. Seperti biasa, orang Indonesia selalu saja meminta oleh-oleh kalau kerabatnya bepergian.

“Fik, lo mau ke Jogja ya? Beliin gue oleh-oleh dong, Bakpia ya!”

“Iya kalau bisa gue beliin deh buat lo”

“Asik nih ke Jogja! Fik, beliin gue batik dong!”

“Iya nanti kalau sempet gue jalan ke Malioboro”

“Fik, beliin gue lumpia dong”

“Lumpia itu dari Semarang, bego!”

Mereka yang meminta oleh-oleh sepertinya lupa kalau saya pergi ke Jogja bukan untuk pelesir. Saya ujian! Saya ingin melanjutkan pendidikan! Saya ingin berguna bagi bangsa dan tanah air tercinta! Saya ingin Indonesia lebih maju! Saya mengetik ini dengan posisi tangan ke dinding, badan condong miring, posisi kepala menghadap langit, dan sinar matahari menerpa wajah sebelah kiri membentuk siluet yang indah.

Setelah merampungkan absurdity, aksioma alam bawah sadar saya bertambah satu:

Jika fikri bisa menulis buku Teori Portofolio dan Analisis Investasi seperti menulis absurdity, dia pasti dapat nobel ekonomi.

absurdity

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Soso

Terlahir dengan nama Joseph Djugashvili. Pada awalnya sang Ayah adalah pembuat sepatu handal. Namun karena pengaruh pergaulan, dia menjadi pemabuk kasar yang suka memukuli keluarganya. Joseph adalah anak ketiga. Kedua kakaknya, Yakov dan Giorgi, meninggal sewaktu bayi. Tragedi yang membuat sang ayah bersumpah melakukan perjalanan suci ke Geri, demi kesehatan sang bayi.

Soso, panggilan kecil Joseph, adalah anak yang rapuh secara fisik, tetapi sangat cerdas. Suka belajar. Juara kelas dan menjadi favorit guru karena bakatnya di paduan suara sekolah gereja. Hal positif yang ditentang Beso, ayahnya, yang ingin dia menjadi pembuat sepatu seperti dirinya.

Seringkali sang Ayah akan datang ke sekolah untuk marah-marah dan memukuli Soso. Dan para guru akan bekerja sama untuk menyembunyikan dia dan meyakinkan Beso jika Soso tidak ada di sekolah hari ini.

“Mama, biarkan aku pergi sekolah, atau guru Illuridze akan memberiku nilai buruk..”

Rengek Soso suatu hari ketika dia sakit parah tertabrak kereta kuda. Biarpun sakit keras, Soso tetap rindu sekolah.

Berkat kerja keras sang Ibu, Soso bisa masuk seminari dan menjadi calon pendeta. Di sekolah elit itu dia kembali menjadi bintang. Nilai-nilainya mengagumkan. Menjadi pemimpin kelas meski berbadan kecil.

Semangat belajarnya semakin menggebu-gebu. Dia menghabiskan waktu luang dengan membaca dan selalu menyelipkan buku di ikat pinggangnya. Soso selalu membaca. Keke, sang Ibu mencatat jika Soso takkan tidur sebelum dini hari dan akan terus berkutat dengan bacaannya.

“Waktunya tidur” kata Keke, “Tidurlah – sudah mulai fajar”

“Aku sangat suka buku ini, Mama. Aku tidak bisa berhenti membaca..” dan saat intelektualitasnya semakin bergejolak, kesalehannya semakin sirna.

Menjadi Marxist

Soso berkenalan dengan tiga orang anak pendeta – Lado dan Vano Ketskhoveli dan Mikheil Davitashvili. Dari mereka lah Soso mendapat akses ke berbagai “buku terlarang”. Mulai dari Origin of Species dari Darwin, pemikiran Karl Marx, hingga sastra nasionalis Georgia Khevsur’s Motherland karya Eristavi. Buku-buku yang pada akhirnya membuat calon pendeta menjadi seorang penentang Tuhan.

Pada 13 Februari 1892, guru-guru seminari menyuruh anak didiknya untuk menonton hukuman pancung. Tiga pencuri sapi, yang melarikan diri dan membunuh polisi, akan dihukum mati hari ini. Tapi bagi Soso, dia tahu jika ketiga terdakwa ini hanyalah tiga petani yang sudah putus asa ditindas tuan tanah dan melarikan diri ke hutan.

Soso, yang bisa menyanyikan Mazmur dengan sangat indah merasa heran, bukankah Musa berkata: “Kalian dilarang membunuh”?.

Teman-teman seminari-nya berdebat:

“Apakah mereka masuk neraka?”

Soso, yang pada akhirnya menjelma menjadi Stalin sang diktaktor Soviet menjawab yakin:

“Tidak. Mereka sudah dieksekusi dan akan tidak adil jika mereka dihukum lagi”.

Tapi pertanyaan selanjutnya: Jika Tuhan Maha Adil, mengapa ia membiarkan semua ini? Mengapa harus ada Tsar yang menindas rakyat? Mengapa Russia harus menduduki Georgia? Mengapa ada orang miskin disaat ada orang yang menjadi semakin kaya?

“Tuhan tidak adil. Dia tidak benar-benar ada. Kita sudah ditipu. Kalau Tuhan ada, dia akan membuat dunia menjadi lebih adil”. Seru Soso kepada kawannya, Grisha.

Intelektual Seumur Hidup

Membaca biografi Stalin Muda karya Simon Sebag Montegiore ini seperti menemukan sisi lain seorang commissar Soviet. Siapa sangka, Stalin yang memerintahkan pembunuhan ribuan nyawa saat teror besar adalah seorang seniman dan intelektual.

Anda akan mengikuti kisah hidup anak pembuat sepatu yang hampir menjadi pendeta, penyair yang puisinya dibukukan saat masih berumur belasan tahun, pekerja departemen metereologi merangkap agitator, perampok untuk partai, hingga menjadi commissar lengkap dengan berbagai cerita affair Stalin dengan banyak wanita.

Tapi ada yang saya kagumi dari diktator tangan besi ini: semangat belajar yang tak pernah mati. Kemanapun Stalin pergi, dia akan membawa setumpuk buku. Bahkan dia mampu mengubah masa hukuman penjara di Batumi menjadi universitas kecil, dengan jadwal kuliah dan bacaan wajib untuk tahanan lain.

Ketika Stalin mendapat pengasingan ke Siberia dan kemudian pindah ke lingkaran Arktik kutub utara, hal yang dia inginkan tetaplah sama: buku dan pengetahuan baru.

“Temanku,” tulisnya kepada Zinoviev, “Salam hangatku kepadamu.. Aku menunggu buku-buku… Aku juga memintamu untuk mengirimiku beberapa jurnal bahasa Inggris (edisi lama ataupun baru tidak masalah – untuk bacaan saja karena tidak ada bacaan berbahasa Inggris di sini dan aku takut, tanpa berlatih, aku akan kehilangan semua keterampilan bahasa Inggris yang sudah kupelajari).

Kombinasi kecerdasan seorang pemikir dan kekejaman seorang perampok membuat Stalin mampu menyingkirkan musuh-musuhnya dan mendirikan Uni Soviet. Bahkan ketika sudah berusia 70 tahun dan menaklukkan Berlin, Stalin tetaplah seorang pembelajar.

“Lihat aku”, kata Stalin sekitar tahun 1950, “Aku tua dan aku masih belajar”.

Buku-buku perpustakaan Stalin semuanya dengan hati-hati diberi catatan dan coretan kecil. Tanda sering dibuka dan dibaca.

Karena itu izinkan saya meniru Stalin:

“Aku muda dan masih harus banyak belajar”.

yang mau buku ini silahkan tinggalin alamat dibawah ya :) siapa cepet dia dapat
yang mau buku ini silahkan tinggalin alamat dibawah ya 🙂 siapa cepet dia dapat
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Belitung (2) : Betul-betul Kebetulan

“Sendirian ya Mas?” Seorang laki-laki berumur 20an menyapa saya.

Sebenernya saya ingin menjawab dengan jawaban standar: “Berdua, ama Tuhan”. Tapi karena takut percakapan akan terlalu berbau filosofis untuk pertemuan awal, saya hanya menjawab mainstream: “Iya”.

“Baru pertama kali ke Belitung?” Tanya-nya lagi. Ini mau liburan apa konferensi pers ya? Koq ditanya-tanyain melulu.

Karena merasa tidak membawa uang banyak untuk dirampok, dan tidak punya badan seksi untuk dicabuli, saya menjawab dengan ramah dan terbuka. Sambil memasuki arrival gate bandara, kami terus mengobrol. Akhirnya saya tahu kalau namanya Syifa (suka dipanggil Sheva, tapi akhirnya saya suka manggil Shepa).

Dia seorang dokter dari Jogja! Anak UMY lebih tepatnya. Baru lulus tahun lalu, dan bekerja disalah satu medical company yang menyuplai dokter-dokter perusahaan tambang. Karena merasa memiliki “Jogja connection” (saya kuliah S-1 disana :D), kami menjadi cepat akrab.

Eh, bukan pertama kalinya lho saya bisa cepat akrab dengan traveler. Perasaan senasib seperjalanan, sama-sama terdampar di negeri orang, menimbulkan rasa persaudaraan sesama pejalan. Sebuah sikap yang wajar untuk menciptakan koalisi. Toh sama-sama menguntungkan. Bisa jalan bareng, cost sharing, dan tolong menolong jika ada yang ditimpa musibah.

Saya pernah check-in satu kamar dengan traveler wanita yang baru saya kenal 2 jam sebelumnya saat di Sabang Aceh, nemu guide saat tersesat di pasar Hat Yai, dan bertemu partner in crime sampai ditawari hotel gratis saat di Johor Bahru. Intinya: dunia masih dipenuhi orang baik!.

Nah, untungnya saya dan Shepa punya banyak kebetulan. Kebetulan dia ada kenalan Couchsurfing yang mau menerimanya menjadi host, kebetulan temannya bisa menjadi guide, kebetulan dia sudah ada rentalan motor, dan kebetulan dia butuh teman. Lha koq kebetulan saya belum punya kenalan di Tanjung Pandan, kebetulan saya belum ada kendaraan, dan Kebetulan juga saya lagi nyari teman berpetualang.

Akhirnya setelah mengetahui tanggal kepulangan masing-masing, saya dan Shepa sepakat mengadakan koalisi strategic berdasarkan kebetulan-kebetulan yang betul-betul terjadi.

 

Guide book dan CD promosi Departemen Pariwisata yang bisa diambil gratis di Bandara

Next week: kita akan mengunjungi pulau terkecil di dunia!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cerita Sederhana Pengantar Senja Tentang Ayah dan Anaknya

Ketika di Belitung, saya menyaksikan kecelakaan tunggal di depan mata. Saat itu saya baru saja pulang berpetualang dari pantai Penyabong di daerah Membalong, dan hendak pulang kearah kota Tanjung Pandan.

Seorang ibu yang berboncengan dengan anaknya mengalami kecelakaan. Ia kaget karena anaknya bergerak tiba-tiba, dan secara reflex mengerem mendadak. Ban selip, dia pun jatuh. Anaknya yang dibonceng dan kira-kira masih berusia 7 tahun, jatuh menimpa batu. Tragisnya: karena tidak memakai helm, kepalanya bocor.

Dikarenakan jalanan sepi (ditengah pepohonan semi hutan), saya mengajukan diri untuk mengantar Ibu yang malang ini ke Puskesmas terdekat yang ada di daerah Simpang Rusa. Saya membonceng mereka berdua selama 3 km untuk mendapatkan perawatan. Kepala sang adik masih terus mengeluarkan darah. Sang Ibu tak henti mengucapkan doa dan istighfar dan meminta saya segera memacu gas.

Beruntungnya kita. Puskesmas masih buka. Padahal dokter jaganya sudah bersiap pulang. Ketika itu 31 December jam 3 sore. Orang-orang sudah terkena euphoria tahun baru. Pak dokter yang sudah berada di pagar keluar pun dipanggil kembali. Ada pasien gawat darurat menanti.

Setelah mendapat perawatan (membersihkan luka, menjahit kepala), tak lama kemudian sang Bapak datang. Pak Zainal namanya. Orang Jakarta, perantauan yang sudah 3 tahun menjadi juru las di pasar. Tampangnya rada sangar. Memakai jaket hitam, dengan kulit terbakar matahari. Mirip bang “Jo” yang menjadi host acara “Tangkap” di TV beberapa tahun lalu. Waspadalah! Waspadalah!

Apa yang pertama kali dilakukan Bapak sangar ini ketika melihat anaknya terbaring dengan jahitan dan lumuran darah di kepala? Bukan panik, bukan marah, bukan kaget. Dia justru tersenyum, tertawa, dan berkata:

“Ehh.. jagoan papa abis jatoh ya? Ga’papa kan sayang? Pasti kuat kan” sambil menunjukkan ekspresi tenang dan gembira.

Sang anak, Indra namanya, hanya diam dan tersenyum. Ia hanya bocah SD yang memaksa ikut Ibu ke kota untuk membeli terompet tahun baru karena ingin merayakan pergantian tahun bersama sang abang di perkemahan Meranti.

Mungkin dia kaget. Ayahnya tidak marah, dan itu berarti ia tidak salah! Berbeda dengan reaksi sang Ibu yang menyalahkan dirinya karena tidak mau menggunakan helm ketika berangkat.

“Ini loh Mas, udah aku suruh pake helm ga mau. Mau pake jaket aja setelah dipaksa-paksa. Makanya lain kali nurut!” sang Ibu seolah-olah tidak mau disalahkan atas kecelakaan yang menimpa anaknya.

Sang ayah hanya tersenyum. Tidak mengeluh. Tidak ngedumel. Selama sang anak baik-baik saja, berarti semuanya baik-baik saja.

Saat mengantarkan si ayah mengambil motor yang tertinggal, ia mulai bercerita. Tentang asal-usulnya. Bos-nya yang kabur. Bengkel yang ia ambil alih. Tunggakan hutang. Pengalaman membuka bengkel las. Kerasnya hidup. Dan cerita tentang keluarga kecilnya. Dunia kecil yang ia cintai, dan ingin ia lindungi.

Ayah tetaplah Ayah. Meski terlihat keras karena terbiasa berurusan dengan besi dan las, dia tetaplah seorang ayah yang harus mengajari anak laki-laki bahwa kekuatan sejati, ada pada kelembutan di dalam hati.

Pantai Penyabong. Sorry rada mendung. Aslinya hamparan laut tenang warna ijo yang bikin saya ga kuat untuk ga nyebur hahaha

 NB: Oh ya, saya menulis ini untuk Bapak saya yang berulang tahun hari ini! Semoga panjang umur ya Pak! 😀

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Sepeda Untuk Nana (2) : Terima Kasih!!!

 

Hari ini 13 Oktober 2013. Hari Minggu 8 Dhulhijjah. Hari yang berbahagia, akhirnya datang juga. Setelah tertunda dua Minggu lamanya. Sepeda itu, bisa diantar kepemilik sebenarnya.

Sebelumnya, saya ingin berterima kasih. Banyak-banyak terima kasih. Kepada Tuhan, kepada Ustad Nana, kepada kawan-kawan kecil kita, kepada para donatur, kepada para pembaca, kepada Anda semua.

Saya belajar banyak. Banyak pelajaran.

1. Tentang kenyataan bahwa manusia pada dasarnya baik dan ingin membantu sesama

2. Tentang meminta bantuan, big goal with simple action is more powerful than big goal without real action

3. Tentang semakin terbuktinya aturan sederhana Sang Pencipta: Mereka yang membantu, akan dibantu.

Hanya semalam, sejak tulisan itu di post, Alhamdulilah sudah ada belasan donatur yang bersedia. Dan hanya dalam hitungan hari, terkumpul uang 1,9 juta rupiah. Dua kali lipat dari perkiraan. Puji Tuhan.

Ingin sekali segera menyalurkan hak pejuang kecil kita di Karawang sana. Bergegas ke toko sepeda, membelikan sepeda baru, dan membayangkan betapa semangatnya mereka dengan sepeda itu. Kring-kring gowes-gowes.. dibunyikan bel sepeda. Membelah jalan raya. Pasti mereka bisa bersekolah dengan sedikit senyum bahagia: Akhirnya aku punya sepeda!

Tapi sayangnya ada beberapa halangan. Saya ada short trip ke negara tetangga. Minggu depannya giliran Priyok yang tidak bisa. Dan akhirnya, baru bisa diwujudkan sebelum idul adha. Kami datang berlima (Priyok, Ratih, DA, dan Desti – Thanks untuk kelas motivasinya Des!), sekalian silaturahmi menyambung tali keluarga.

Terima kasih Tuhan dan teman-teman (list nyusul-udah malem mau bobo T_T). Uang titipan 1,9 juta kita investasikan untuk dua buah sepeda seharga 1,4 juta (@700rb, kata-nya ini juga harga diskon karena pemilik toko tahu jika sepeda ini untuk sumbangan :D). Sisa uang 500rb, kita belikan berbagai bahan sembako untuk kebutuhan mereka sehari-hari.

Setelah ini tentu kita harus memantau perkembangan sepeda ini. Apakah benar-benar dipakai, apakah benar-benar membantu, atau justru mubadzir tidak digunakan. Kedepannya juga harus dipikirkan, model pendidikan apa yang bisa kita gunakan untuk membantu adik-adik kita. Syukur-syukur bisa memberdayakan agar lebih mandiri.

Sekali lagi, terima kasih banyak! biar Tuhan yang membalas. Yang penting niat kita harus baik. Karena semua perbuatan bergantung pada niatnya. Toh, Tuhan pasti tahu, apa yang tersembunyi di dalam sanubari. Selama niat kita tulus, tersenyumlah, dan percayalah:

Mereka yang membantu, akan dibantu.

priyok dan sepeda + sembako (yang atu didalam)
sharing motivasi dari tante desti
Sepeda atunya

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Sepeda Untuk Nana

Sebulan yang lalu saya diajak teman kuliah, si Priyok (anak akuntansi yang jadi ketua BEM fakultas dulu-) untuk berkunjung ke Karawang.

Bukan demi Arwah Goyang Karawang yang aduhai itu (busyet seleranya..), atau membaca puisi Karawang-Bekasi. Tapi demi berkunjung ke belakang Kawasan Industri Karawang. Ada apa disana?

Ternyata di belakang kawasan pabrik yang megah itu, masih ada surga kecil yang mencoba bertahan. Sebuah surau warna hijau, dengan bangunan semi permanen yang digunakan anak-anak yatim untuk tinggal, bersekolah, dan belajar mengaji. Ternyata masih ada kedamaian dalam kesederhanaan, ditengah keterbatasan.

Disana tinggal kurang lebih 20-an anak. Dengan Ustadz Nana sebagai pengasuhnya. Dan fasilitas hidup seadanya. Di sampingnya ada empang, yang sering dipakai anak-anak untuk mandi dipagi hari. Jika Anda datang ke sore hari, akan ada sekumpulan anak sedang membaca kitab suci. Terkadang ada yang mengeluh sakit gigi,

“Ustadz, gigi saya sakit” seru seorang anak.

“Iya, nanti dibeliin obat”. Jawab Ustadz Nana sabar.

“Ustad perut saya juga sakit” seorang akhwat tidak mau ketinggalan.

“Iya, nanti juga dibeliin obat” kata Ustadz Nana lagi. Pikir saya, ini guru ngaji apa tukang obat? Hahaha.

“Disini kalo mau kemana-mana jauh Mas. Ke Puskesmas harus ke kota.” Permasalahan klasik perekonomian dunia ketiga: infrastruktur. Tak ada jalan yang layak untuk mencapai Kampung Sarijaya Batu Koneng, Desa Telukjambe Timur tempat pondok Al-Kholisoh ini.

Bagaimana dengan sekolah? Jangan ditanya. Pergi ke sekolah menggunakan angkot adalah kemewahan disini. Jalanan yang rusak, berada di lahan perhutani (which means full of tumbuh-tumbuhan semi hutan) tentu membuat pengusaha angkot ataupun Kopaja mikir-mikir kalo mau ngetem disini.

Itulah mengapa Ustadz Nana harus rela mengantarkan santri-santri-nya ke sekolah satu persatu menggunakan motor. Meski jaraknya 10km lebih. Setiap pagi. Setelah shubuh, Ustadz Nana harus membelah jalan becek, menembus kawasan industry, menuju sekolah di kota. Demi masa depan santri-santrinya.

“Orang-orang disini jarang yang kerja di pabrik Mas… bagaimana bisa kerja di pabrik, ijazah aja ga punya. Karena itu saya pinginnya anak-anak disini bisa sekolah… sampe SMA… minimal nanti kerja di pabrik-pabrik didekat sini”.

 Impian Ustadz Nana. Cukup SMA. Yang penting bisa bekerja. Mendapat uang secukupnya. Hidup sewajarnya. Sederhana saja.

Sepeda Untuk Nana

Untuk meringankan beban Ustadz Nana, sempat terpikir untuk membuatkan jalan bawah tanah langsung menuju sekolah. Tapi ya Cuma di pikiran doank haha. Karena tidak realistis, pilihan jatuh kepada sepeda. Iya, sepeda pancal. Agar santri-santri Ustadz bisa berangkat sendiri. Tak perlu mengantri. Mengayuh mimpi. Kami berharap dengan sepeda, anak-anak bisa berangkat dengan mandiri.

Meski jaraknya 10 km, masih mungkin untuk ditempuh dengan sepeda. Yah mungkin mandi keringat sampai di sekolah. Tapi bukankah mereka yang berkeringat di masa muda, akan tersenyum bahagia di masa tua?

Sekalian mengajarkan semangat pantang menyerah dalam menuntut ilmu. Jika mereka bisa mengatasi jarak puluhan kilometer saat sekolah, mereka pasti bisa mengatasi jarak ribuan kilometer saat kuliah. Siapa yang tahu, kalau Tuhan menitipkan kecerdasan luar biasa meski mereka bukan anak dari kalangan yang berpunya?

Awalnya, kita mulai dari hal kecil. Mari memberikan satu sepeda untuk mereka. Jika ternyata sepeda bisa menjadi solusi, baru deh kita bagikan sepeda untuk semua anak. Sebelum itu, satu saja sebagai test drive.

Untuk itu, saya mengundang teman-teman yang ingin berpartisipasi dalam proyek sepeda ini. Project goal-nya 1 juta saja. Silahkan tulis nama di komentar. Nanti akan saya kirimkan no rekening yang bisa dituju. Satu orang cukup Rp.100.000 saja. Koq ga ditalangin sendiri bos? Bisa aja, tapi saya sedang belajar. Belajar untuk mengajak orang ikut berbuat baik.

Karena tolong-menolonglah kamu, dalam kebaikan.

Sepeda Untuk Nana participant @100.000 till 30 Oct 2013

  1. Yoga PS
  2. Priyok Pamungkas
  3. Diah
  4. Rizki Kuncoro
  5. Tri Wulandari
  6. Asti Ayuningtyas
  7. Hamba Allah
  8. Hamba Allah
  9. Dwi Andi R
  10. Pugo Sambodo
  11. Febri
  12. Agung Triatmoko
  13. Barkah
  14. Barkah
  15. Riris
  16. Santy Novaria

Alhamdulilah dalam waktu semalam sudah terkumpul donatur untuk satu sepeda. Karena minggu depan saya ada jadwal traveling, penyerahan sepedanya dilakukan minggu depannya lagi ya (5 atau 6 Oct).

Silahkan transfer ke Bank BCA 615-508-934-6 a.n Yoga Pratama Samsugiharja. Tolong konfirmasi kalo udah transfer ke 081-578-613-875. Semoga Allah yang membalas :D.

 Sorry, pas kesana HP saya kereset and semua pict ilang. ini ambil dari gambar temen via kaskus

jalan menuju tempat Ustadz nana (dari kaskus)
jalan menuju tempat Ustadz nana (dari kaskus)
tempat tinggal
tempat tinggal

masjid kecil dan tempat santri

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Membantu

vanderbilt.edu

“Ada yang bisa saya bantu?”

Pertanyaan ini sering kita dengar ketika berbelanja di toko atau menelpon call center. Biasanya diucapkan oleh penjaga toko atau resepsionis diujung telpon. Pertanyaan sederhana yang sesungguhnya sangat bermakna. Mengapa? Karena pertanyaan diatas adalah dasar semua bisnis. Pondasi seluruh kegiatan ekonomi. Kekayaan milyaran dolar, dimulai dari sana.

Bisnis atau kegiatan ekonomi, sering kita anggap hanya sebuah hubungan transaksional semata. Si A memberikan barang/jasa kepada si B, dan sebagai balas jasa, si B memberikan uang. Tapi sesungguhnya lebih dari itu. Bisnis menciptakan hubungan kemanusiaan yang saling menguntungkan. Transaksi tercipta karena relasi aksi-reaksi.

Karena manusia adalah makhluk social dan takkan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Ia butuh bantuan orang lain untuk melangsungkan kehidupan. Kita butuh pangan, sandang, papan, serta berjuta keinginan. Sedangkan para pengusaha, entrepreneur, kapitalis, (atau apapun Anda menyebutnya), adalah manusia terpilih yang mampu melihat kebutuhan manusia, dan “membantu” dengan menciptakan barang/jasa untuk memenuhi kebutuhan itu.

Pasar Adalah Orang yang Perlu Dibantu

Pada 1976 ketika berjalan-jalan di daerah sekitar kampusnya, Chittagong University, Muhammad Yunus menemukan kenyataan menyakitkan tentang pengrajin bambu. Mereka harus membayar bunga yang sangat tinggi kepada rentenir untuk bisa mendapatkan dana pinjaman. Yunus terkagum-kagum dengan semangat para pengrajin yang didominasi wanita. Mereka bekerja dengan rajin, dan terus berusaha membayar pinjaman meskipun dibebani bunga yang mencekik.

Ia sempat menemui bankir local dan bercerita tentang hal ini. Hasilnya adalah lelucon, bagaimana mungkin bank bisa memberikan kredit untuk mereka yang tidak pantas mendapat kredit? Pendidikan mereka rendah, tidak mengerti business plan atau system akuntansi. Yunus tak tinggal diam. Ia lalu menyuruh mahasiswanya mendata pengrajin, dan dengan uang pribadinya sebesar $27, memberikan kredit lunak. Selebihnya adalah sejarah. Grameen bank lahir, dan Yunus dianugerahi hadiah nobel.

Lain Bangladesh lain Indonesia. Jika pada 1970-an Anda ingin menyewa mobil di Jakarta Continue reading Membantu

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Menebak Kepribadian dari Tulisan Tangan

actions-speak.com

Sabtu kemarin saya iseng-iseng mengikuti pelatihan analisa sidik jari dan tulisan tangan (graphology). Lumayan lah bisa belajar hal baru. Untuk yang sidik jari, nanti saya bagi materinya (insya Allah saya scan dan upload besok). Nah, untuk tulisan tangan, setidaknya ada 10 hal yang bisa kita lakukan untuk sebuah analisa sederhana.

Sebelumnya, kita butuh tulisan tangan, bukan nasi putih dan bawang yang sudah dihaluskan. Karena kita mau membedah tulisan tangan, dan bukan masak nasi goreng. Silahkan menulis dengan tema bebas. Misalnya: impian saya 10 tahun lagi. Tulisan itu harus ditulis di kertas polos tanpa garis. Kenapa? Karena jika ditulis diatas batu, prasasti namanya. Udah ah, nanti ada penjelasannya. Bisa satu halaman. Lebih banyak lebih baik. Karena semakin lama menulis, karakter penulisan akan semakin keluar.

Udah punya tulisan tangan? Jangan lupa dibubuhi tanda tangan. Sekarang coba lakukan 10 langkah ini:

  1. Periksa keterbacaan. Apakah tulisan itu enak dibaca? Jika iya, berarti bagus. Jika tidak, berarti ada masalah komunikasi dari penulisnya.
  2. Margin. Jika tulisan itu margin kirinya sangat mepet, penulis adalah orang penyendiri yang tidak bisa melupakan masa lalu. jika margin kiri semakin melebar, penulis cenderung antusias, memerlukan kebebasan, ambisius, tapi kurang mampu merencanakan pekerjaan dengan efektif.
  3. Ukuran huruf. Standarnya 1-2 mili per huruf. Jika kecil, penulis berarti lebih suka menjadi “supporter”, sedangkan jika besar, penulis ingin mencari perhatian dan show off.
  4. Kemiringan tulisan. Kami diberi busur khusus untuk mengukur ini. Jika miring ke kanan, penulis ekstrovert, jika kiri introvert. Eh tapi harus diingat, jika kemiringannya ekstrem mengindikasikan penulisnya mengalami gangguan mental! Hiiiii..
  5. Arah tulisan. Coba deh perhatikan, jika kita menulis di HVS tanpa garis, tidak semua orang mampu membuat tulisan yang lurus. Jika tulisan semakin keatas, orang itu optimis. Jika kebawah, pesimis. Jika justified rapi seperti format MS word? Berarti penulis orang yang membosankan :p (tapi mampu mengorganisir dengan sangat baik).
  6. Jenis tulisan. Ada beberapa jenis tulisan: kaku, bulat, runcing, flat, thread dll. Tulisan yang bulat (dibaca terlihat empuk) menunjukkan orang yang ramah. Jika runcing, maka hati-hati jika memberi kritik, karena feedback yang diberikan akan tajam.
  7. Bad traits. Ada beberapa traits (kebiasaan) tulisan yang menunjukkan permasalahan psikologis penulis. Bisa berupa coil, hook, black spot dll. Untuk masalah ini bisa menghabiskan satu buku sendiri hehehe.
  8. Zona. Dalam sebuah tulisan ada beberapa “zona” (kita mengukurnya dengan penggaris khusus). Zona atas (tulisan terlihat tinggi) menandakan penulis adalah seorang pemikir. Jika zona bawahnya panjang, penulis berarti lebih memikirkan kebutuhan materialistis dan biologis (sex).
  9. Posisi tanda tangan. Jika dekat dengan batang tubuh tulisan, berarti tulisan itu realistis. Jika jauh, maka patut diwaspadai, karena bisa saja tulisan itu penuh dengan mimpi dan cenderung membual. Jika tanda tangan berada disisi kiri, penulis berorientasi pada masa lalu. sebaliknya jika di kanan, penulis adalah seorang yang future oriented.
  10. Kesesuaian tulisan dan tanda tangan. Pernah lihat tulisan ceker ayam tapi tanda tangannya sangat elegan? Pasti sering. Karena tanda tangan adalah “tulisan yang ingin dipersepsikan”. Sehingga banyak orang memiliki tanda tangan yang sangat indah, meskipun tulisan naturalnya berkebalikan. Waspadai hal ini. Dan juga untuk menganalisa tanda tangan, diperlukan keahlian khusus.

Nah, Apa kata tulisan tangan Anda?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail