Category Archives: Sosial Budaya

Apa yang terjadi di sekitar kita…

Apa yang diajarkan seorang anggota DPR kepada Anaknya dan Tidak Diajarkan oleh Orang Lain?

Beberapa bulan lalu ada anak magang di kantor saya. Sebut saja Bunga, bukan nama sebenarnya. Manis parasnya, baru 18 tahun usianya, dan itu berarti saya ketahuan tua-nya. Haha.

Si Bunga lagi summer break kuliah dan memutuskan iseng-iseng ikutan internship. Dimana kampusnya? Cukup jauh kalo ingin didatangin, aid (dia) kuliah business di Inggris. Apakah dia punya kunci Inggris? It’s not my business sodara-sodara.

Karena si Bunga pingin belajar marketing, saya ditugaskan untuk menjadi buddy. Semacam partner kerja yang bertugas untuk melayani dan membahagiakan hidup si Bunga. Halah. Kebetulan dia juga duduk disamping saya.

“Ntar lu kalo ngomong ama dia siap-siap bawa kamus. Ngomongnya Inggeris terus” kata teman yang udah bertemu dengan Bunga. Wah-wah jangan-jangan kaya Cinta Laura nih. Yang penting jangan Lauren si waria jadi-jadian deh.

Sebagai homo Javanicus (orang Jawa) dengan nilai IELTS yang berada di garis kebodohan, saya tentu keder. Apalagi referensi belajar bahasa Inggris saya hanya berdasarkan pilem-pilem gituan yang Cuma punya dialog “oh yess”, “oh no..”, dan “Oh my God..”.

Tapi setelah bertemu, ternyata anaknya baik. Memang ngomongnya sering nge-blend antara Indo dan Inggris. Saat menulis sesuatu (kami memintanya membuat artikel untuk website), dia menulis dalam bahasa Inggris dulu baru kemudian di-translate ke bahasa Indonesia. Maklum, sekolahnya selalu di sekolah internasional yang kalau misuh pun harus dalam bahasa Inggris.

Hidup Makmur

Yang bikin istimewa: ternyata dia anak seorang pejabat tinggi di negeri ini. Salah satu anggota dewan yang terhormat. Bapaknya cukup ngetop dengan komentar-komentar kontroversial sehingga sering dijadikan bahan bully netizen. Pokoknya kalo saya sebut namanya, situ pasti pernah dengar deh.

Awalnya dia ga mau ngaku. Mungkin dia ingin down to earth dan lepas dari bayangan sang ayah.

Sebagai anak seorang pejabat, hidup Bunga serba berkecukupan. Bisa mbolang kesana-kemari. Dia cerita kalau habis liburan dari Miami. Es krim Miami? Ketahuan deh selera proletar. Ini Miami beneran yang di Amerika sana cuy.

Selain negeri paman Sam, Bunga sangat suka dengan Eropa. Mayoritas Negara-negara terkenal yang mainstream sudah ia kunjungi. Beberapa bulan lagi ia akan mengunjungi Jerman. Nyari suaka? Amit-amit, dia kesana dalam rangka kunjungan tim sepakbola putri kampusnya.

Alhamdulilah dalam hidup Bunga, agak susah menemukan kata susah. Ibarat kalau search engine, kata “hidup susah” udah ke blokir. Error forbidden 404. Jika ia bermain monopoli, maka ia mendapatkan “Kesempatan” dan “Dana Umum” terus-menerus.

Karena Bunga suka nyanyi, dapur rekaman sudah menanti. Karena Bunga suka melukis, sudah ada kolektor yang antri mengoleksi. Saat ingin magang, komisaris kantor saya langsung membukakan pintu untuk dimasuki.

Bunga sendiri sadar, kemudahan dan fasilitas yang ia terima dari orang lain tidaklah gratis. Pasti ada motif membangun relasi dengan sang Ayah. Yang bisa ia lakukan adalah memanfaatkan setiap kesempatan yang datang.

Dua Pelajaran

Dalam pengamatan awam saya, setidaknya Ayah Bunga melakukan dua hal investasi besar untuk sang anak:

Pertama, investasi untuk pendidikan. Bunga belajar di sekolah yang baik, kuliah keluar negeri, membaca banyak buku berkualitas, berkenalan dengan banyak orang hebat, dan membangun jaringan.

Ngobrol dengan Bunga tidak seperti stereotype perbincangan dengan ABG 18 tahun yang dipenuhi pembahasan alay dan kurang penting. Bunga cukup update dengan isu-isu global. Anda bisa berdiskusi tentang politik, ekonomi, real estate, atau perkembangan seni dan sejarah music klasik.

Kedua, investasi dalam pengalaman berpolitik.

Meskipun Ayahnya tidak ingin Bunga terjun dalam politik, tapi tetap saja Bunga dilibatkan. Ia duduk sebagai observer saat penyusunan strategi pilkada Jakarta. Ia ikut dalam rapat-rapat tim sukses. ia juga belajar mengendalikan dan mempengaruhi orang lain, esensi utama dalam berpolitik.

“Kamu tahu FORD principle?” Kata Bunga di dalam mobil yang saya tebengin dalam perjalanan pulang.

Saya menggeleng.

“FORD principle dipakai untuk akrab dengan orang yang baru kita kenal. F for Family, gunakan topik tentang keluarga lawan bicara kita. O untuk Occupation, kita juga bisa ngobrol tentang pekerjaan mereka. R untuk recreation. Coba tanya liburan mereka. Dan terakhir D untuk desire. Apa mimpi yang ingin dicapai?” Rupanya Bunga sudah belajar komunikasi politik dengan terlebih dahulu belajar kemampuan intrapersonal.

Apakah Bunga ingin ikutan terjun dalam politik? Anehnya, ayah Bunga justru menyarankan dia untuk menjauhi politik.

“Kalau Cuma jadi anggota DPR, supir angkot juga bisa”.

Quotes dari sang Ayah yang ia sampaikan dan membuat saya berpikir keras: jangan-jangan ini penyebab rendahnya kualitas anggota dewan kita.

Bunga membocorkan rahasia: semua statement ngawur ayahnya sengaja digunakan untuk meningkatkan popularitas. Karena ternyata, pemilih Indonesia belum rasional. Mereka tidak memilih calon dengan program kerja paling masuk akal. Mayoritas pemilih akan mencoblos orang yang dikenalnya.

Bagaimana cara agar cepat terkenal? Ciptakan skandal, keluarkan statement kontroversial, jadilah media darling, siapkan diri untuk di bully.

Bunga sudah belajar jika politik adalah sebuah panggung sandiwara raksasa. Yang perlu kita lakukan hanyalah memainkan peran sebaik mungkin. Entah jadi protagonist, atau justru antagonis. Yang pasti artis yang menjiwai perannya akan mendapat spotlight, giliran untuk tampil dalam panggung kekuasaan.

She’s smart girl. Saya berdoa Ia akan lebih baik dari Bapaknya.

sumber gambar: http://portalsatu.com/upload2/files/2017/ILUSTRASI/pol.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#87 BHAG: Kenapa Kita Harus Punya Tujuan Besar

Sebagai kacung yang bekerja di travel industry, saya sering bekerja sama dengan departemen pariwisata negara ASEAN. Tapi ada hal yang menarik dari teman-teman di Kementrian Pariwisata kita. Setiap meeting, saya sering sekali mendengar kata “20 juta”.

“Kita punya target 20 juta wisataawan asing tahun 2019”.

“Sesuai arahan Pak Presiden, target kita 20 juta wisatawan.”

“…Ini untuk mencapai target 20 juta wisatawan”.

Yang bikin saya kagum: angka 20 juta ini diucapkan oleh menteri, pejabat eselon, hingga staff biasa. Ternyata hampir semua orang di kementrian pariwisata tahu apa yang mereka ingin capai: Pada 2019 membawa 20 juta wisatawan asing ke Indonesia.

Kenapa saya bisa bilang luar biasa? Karena tidak semua anggota organisasi tahu apa tujuan mereka. Apalagi ini sebuah organisasi gemuk bernama birokrasi.

Jika Anda bertanya ke teman atau saudara yang bekerja di organisasi raksasa seperti BUMN, perusahaan multinasional, atau departemen pemerintahan, belum tentu mereka tahu apa tujuan lembaganya.

Apa yang ingin dicapai? Jika profit, berapa banyak untungnya? Kapan mendapatkannya? Bagaimana caranya? Banyak dari kita hanya melakukan sesuatu sesuai job description tanpa pernah tahu strategic direction.

BHAG

Angka 20 juta yang didengung-dengungkan sebagai mantra adalah sebuah BHAG: Big Hairy Audacious Goal (dibaca Bee-Hag). Mimpi besar yang menginspirasi.

Dicetuskan oleh guru manajemen, Jim Collins dan Jerry Porras dalam Built to Last (1994). Collins mencatat, perusahaan-perusahaan besar yang sukses dalam jangka panjang selalu punya BHAG. Sebuah tanda jika mereka organisasi yang berani bermimpi.

Saat Kennedy mengajukan proposal ke Kongres untuk program “moon landing” pada tahun 60-an, ia mengajukan BHAG yang menyentuh ego umat manusia:

“..this Nation should commit itself to achieving the goal… landing a man on the moon and returning him safely to earth..”

Semua rakyat Amerika terpesona dan mendukung proyek 549 juta dollar itu karena mereka akan menjadi homo sapiens pertama yang mendarat di bulan.

Contoh klasik lain: Ketika Jack Welch merombak General Electric, GE terkenal dengan organisasi gemuk yang punya banyak sekali anak perusahaan. BHAG yang ia cetuskan sungguh sederhana:

“Become #1 or #2 in every market we serve and revolutionize this company to have speed and agility of small enterprise”.

Jadi yang terbaik dan bergerak segesit perusahaan kecil, atau tidak sama sekali. Hasilnya Welch merampingkan bisnis GE, menjual divisi yang tak punya prospek lagi, dan mengembangkan budaya inovasi.

Mimpi Pariwisata

“20 Juta wisatawan asing” adalah BHAG yang ambisius tapi sebenarnya mampu kita capai. Thailand dalam setahun menerima sekitar 35 juta wisatawan asing. Malaysia ada di angka 15 juta. Sedangkan kita masih megap-megap mencapai level 13 juta. Padahal jika dilihat potensi wisata dan luas wilayah, harusnya wisatawan kita melebihi kedua Negara itu.

Tentu masih banyak Pe-eR terutama dibidang infrastruktur, inovasi produk, sarana transportasi (kapasitas penerbangan rute internasional), dan pengembangan SDM yang ada di depan mata. Tapi saya merasa we are on the right track.

Sekarang Kementrian Pariwisata sangat aktif berpromosi keseluruh dunia. Sektor swasta diajak bekerja sama. Kita juga punya menteri pintar yang digital minded dan tahu bagaimana cara mengubah gaya birokrasi menjadi semi korporasi.

“Datanya mana? Kita harus bicara dengan data. Nanti habis kita dihadapan Pak Menteri”

“Kira-kira top 3 action yang bisa kita lakukan apa? Tolong dimasukkan ke weekly report”

“Seperti kata Pak Menteri, if you can’t measure it, you can’t manage it”

Pola pikir yang data driven dan action oriented adalah hal yang wajar di dalam dunia korporasi. Tapi bisa menerapkannya dalam sektor birokrasi adalah hal yang patut diapresiasi.

Saya menulis ini sebagai catatan kecil: tidak semua birokrasi menjadi penghambat inovasi. Insya Allah pariwisata Indonesia punya masa depan yang cerah.

View post on imgur.com

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Semakin Tinggi Gaji Kita, Semakin Tinggi Hutang Kita?

source: postimg.org
source: postimg.org

Beberapa waktu lalu saya meeting dengan salah satu perusahaan penyedia kredit tanpa agunan. Mereka beroperasi di mall-mall dan bekerja sama dengan toko-toko besar. Lewat jasa mereka, Anda bisa mendapatkan kredit dengan mudah dan membawa pulang peralatan elektronik atau rumah tangga dengan uang muka yang ringan.

Iseng-iseng saya tanya, barang apa sih yang paling diminati oleh konsumen Indonesia. Jawabannya membuat saya heran: handphone dan gadget.

Berdasarkan data mereka, masyarakat kita tergolong konsumen yang selalu up to date untuk urusan gawai elektronik. Setiap ada model baru, konsumen sudah mengantri. Handphone yang dipakai juga berganti-ganti. Kasarannya: jika Amerika baru rilis Iphone 7, konsumen kita sudah siap membeli iphone 8.

Ada dua hal yang membuat saya heran. Pertama, kenapa banyak orang mengambil kredit konsumsi dengan bunga lumayan tinggi hanya untuk sebuah gadget? Ini kredit tanpa agunan loh, risiko tinggi akan di transfer dengan cost of capital yang lebih tinggi.

Kedua, bukankah gadget canggih nan mahal bukanlah kebutuhan primer? Di zaman sekarang komunikasi memang menjadi kebutuhan utama, tapi kan bisa beli handphone second atau yang ga terlalu mahal. Toh handphone 4G sudah banyak yang dijual dengan harga terjangkau.

Logika bego saya sih, untuk apa ngutang untuk sesuatu yang ga mengancam nyawa kita. Ngutang karena kelaparan atau butuh biaya berobat masih bisa saya terima, tapi ngutang demi beli handphone???

Balapan Tikus

Saya kemudian teringat petuah Kiyosaki yang saya baca sewaktu SMA. Ia memberikan penjelasan kenapa banyak orang bergaji tinggi, tapi hutangnya lebih tinggi. Ini adalah rahasia kenapa banyak orang kaya tambah kaya, dan banyak kelas menengah tidak naik jadi orang kaya.

Contohlah si A yang baru lulus kuliah dan kemudian bekerja. Sewaktu single pendapatannya pas-pasan. Ia hidup ngekos dan naik angkutan umum. Karena rajin bekerja, ia dipromosikan jadi manajer dan mendapat gaji tinggi. Ia lalu merasa manajer takkan afdol tanpa memiliki mobil pribadi. Akhirnya ia membeli mobil dengan harapan bisa mencicil dari gaji-nya setiap bulan.

Tak lama berselang ia bertemu wanita pujaan hatinya. Mereka menikah dan memutuskan membeli rumah mungil. Sampai disini sepertinya hidup A akan bahagia selamanya. Tapi mereka lalu memiliki anak, dan rumah mungil itu sudah terlalu kecil bagi mereka.

Kabar baik, A dipromosikan jadi general manajer dan pendapatannya naik lagi. Istrinya melahirkan anak kedua. Mereka lalu menjual rumah pertama untuk uang muka rumah yang lebih besar, dan mengkredit mobil kedua untuk menunjang mobilitas istrinya yang mulai sibuk ikut arisan.

Ketika A akhirnya menjadi direktur, ia pindah ke rumah mewah yang merepresentasikan citranya sebagai orang sukses, berganti mobil sport dengan harga miliaran, dan tak lupa mengikuti kenggotaan klub golf bergengsi untuk menambah pergaulan.

Kira-kira, apakah Pak A akan pensiun dengan asset miliaran atau hutang yang belum lunas hingga ia harus memperpanjang masa pensiunnya? Eits jangan lupa, anak-anaknya mulai dewasa dan butuh biaya kuliah.

Harta belum tentu asset

Pelajaran dari cerita diatas: kita seringkali tidak bisa membedakan asset (harta) vs liabilitas (kewajiban), dan terjebak dalam balapan tikus guna melunasi hutang sepanjang hidup. Masa sih, hidup hanya bekerja mengejar gaji untuk melunasi hutang esok hari?

Seperti si A, ia terjebak untuk membeli asset yang sebenarnya adalah sebuah liabilitas. Dalam akuntansi tradisional, setiap harta adalah asset kita. Tapi tidak menurut Kiyosaki. Ia mengusulkan definisi baru: asset adalah segala sesuatu yang mendatangkan pemasukan.

Dengan definisi itu, rumah yang kita tempati bukanlah asset (karena ada biaya pemeliharaan), kecuali kita sewakan. Mobil yang kita kendarai bukanlah asset (jika hanya untuk keperluan pribadi), kecuali kita gunakan untuk taksi online.

Handphone yang kita miliki bukanlah asset (karena ada depresiasi), kecuali kita sewakan atau perjual belikan.Uang tabungan di bank bukanlah asset (karena inflasi seringkali lebih tinggi daripada bunga), kecuali kita investasikan dalam bentuk lain.

Masalahnya kita berbondong-bondong membeli liabilitas yang dibalut jubah sebuah asset. Inilah yang membuat kelas menengah tak beranjak menjadi orang kaya. Dan ini yang membuat orang kaya, menjadi semakin kaya.

Mereka tahu apa itu asset. Oleh karena itu mereka hidup sewajarnya, membelanjakan uangnya untuk pendidikan, mendirikan usaha, berani berinvestasi, memelihara kesehatan, berpikiran positif, dan terus menyebarkan kebaikan sebelum nanti berpulang kepada Tuhan.

Mereka tahu “gaya hidup” tidak akan semahal “hidup gaya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Peran Iphone dibalik Hits PPAP

Saya berani bertaruh jika mayoritas dari kita sudah melihat video PPAP.

ppapVideo 1 menit yang menampilkan seorang laki-laki dengan gaya kuning yang ngejreng berlatar background putih sedang bernyanyi tentang apple + pen, dan pineapple + pen ini berhasil menyita perhatian netizen dan telah ditonton lebih dari 5 juta dalam 2 minggu.

Demi apa, Cuma video gini doank bisa ngetop? Sedangkan youtubers lain yang sudah ngepet siang malam shooting sambil begadang edit sana pake mandi 8 kembang masih aja viewers-nya ga seberapa.

Apa rahasianya? Kenapa ada content yang mudah diingat dan menancap di kepala penontonnya?

Stickyness Factor

Chip Heath dan Dan Heath dalam Made to Stick sudah menjelaskan tentang rahasia menjadikan ide lebih mudah diingat. Kita dapat menggunakan 6 kriteria yang disebut SUCCESS.

Simple – sampaikan pesan secara sederhana

Unexpected – berikan hal yang tak terduga

Concret – gunakan pendekatan yang nyata, jangan mengawang-awang

Credible – pastikan penyebar pesan dapat dipercaya

Emotional – sisipkan aspek emosi manusia

Stories – jadikan sebuah cerita, bukan ceramah

Dalam kasus PPAP, video itu hanya memenuhi beberapa kriteria Sticky. Ia simple, hanya 1 menit. Apakah ada unexpected factor? Bisa ya bisa tidak. Awalnya saya kira akan terjadi sesuatu. Tapi overall effect surprise-nya tidak mencolok.

PPAP tidak memiliki aspek emosional yang berarti, hanya menghibur bagi sebagian orang. Ada yang merasa jengkel. PPAP Juga bukan sebuah video dengan stories yang mengalir. Mungkin ia concrete, karena menunjukkan pena, apel, dan buah nanas.

Lantas, apa yang menjadikan video ini begitu hits?

Trigger

Saya menemukan dugaan jawabannya setelah membaca buku karya murid Heath bersaudara. Mahasiswa itu, Jonah Berger, terinspirasi oleh Made to Stick lalu menulis buku berjudul Contagious. Ia penasaran dan ingin mengetahui wabah “getok tular”. Kenapa sesuatu bisa lebih mewabah dan menjadi trend.

Berdasarkan riset bertahun-tahun yang ia lakukan atas video yang lebih sering ditonton, artikel yang paling sering dibagikan, dan berbagai fenomena sosial yang menjadi trend, terdapat 6 kriteria getok tular yang efektif. Diringkas menjadi Stepps. Yaitu:

Social curreny – sebuah trend harus memiliki mata uang sosial, yang membuat penyebar pesannya memiliki nilai lebih

Trigger – tahukah Anda jika penjualan coklat Mars meningkat saat misi pathfinder NASA diluncurkan? Coba tebak kemana tujuan misi itu? Tepat sekali, planet Mars.

Emotion – Content yang paling sering dibagikan di internet bukanlah tentang kekayaan, tapi kemanusiaan.

Public – manusia akan meniru manusia lain. gagasan kita harus dibuat seumum mungkin

Practical value – berdasarkan insight dari mobile conference yang saya ikuti, 87% content yang disukai adalah content dengan nilai praktis atau “how to”. Demikian juga dengan buku non fiksi laris.

Story – manusia menceritakan cerita. Semua propaganda harus dibentuk dalam cerita.

Nah, setelah melihat 6 faktor diatas saya percaya kesuksesan PPAP ditolong oleh trigger sebuah product yang sedang booming: Iphone. Tak percaya? Mari kita lihat datanya.

Iphone dan PPAP

Lewat google trend kita bisa melihat jumlah keyword yang diketik di google, terutama youtube. Dan saat saya memasukkan keyword iphone, apple, dan ppap di Jepang (tempat video ini berasal), jawaban itu terkuak.

Highlight kuning adalah saat PPAP di launch
Highlight kuning adalah saat PPAP di launch

Saat PPAP dirilis terjadi lonjakan search untuk keyword iphone dan juga apple (yang saya highlight kuning). Mengapa? Hipotesis saya: PPAP menggunakan kata ‘apple pen’ dan men-trigger apple fansboy bertanya-tanya. Mungkinkah Apple mengeluarkan produk pen terbaru?

Para fansboy apple ini kemudian menemukan video unexpected yang diluar dugaan mereka (awalnya mengira produk apple pen dan ternyata literally benar-benar apple dan pen), lalu kemudian menyebarkannya ke orang lain.

“Hey lihat, ada ‘apple pen’ terbaru!” Disini peran social currency berperan. Anda akan dianggap keren karena update informasi tapi juga berjasa karena menyebarkan konten yang menghibur.

The rest is history. PPAP menjadi hits dan meme icon diseluruh dunia. Bagaimana dengan Indonesia? Seperti biasa, kita adalah follower. Search term PPAP baru naik beberapa hari terakhir saat di Jepang sudah menunjukkan penurunan.

baru hits beberapa hari terakhir
baru hits beberapa hari terakhir

Ya gak papa sih. At least kita ga ikut-ikutan nyari judul JAV yang ada di videotron beberapa hari yang lalu hehehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jalan dan Tujuan

Santiago si anak gembala. Suatu hari ia bermimpi melihat piramida. Beberapa hari mengalami mimpi yang sama. Ia lalu menemui peramal yang berkata: itu adalah pertanda harta paling bernilai dalam hidupnya. Ia harus segera mencarinya.

Akhirnya Santiago menjual domba-dombanya. Menyeberang ke Afrika dan menjadi pengembara, untuk mencari harta berharga. Tapi semesta punya rencana. Di pelabuhan ia ditipu orang. Semua harta penjualan dombanya hilang. Untuk bertahan hidup ia bekerja di toko kristal. Membersihkan barang dan belajar menjual.

“Dua hari yang lalu, kamu mengatakan bahwa aku tidak pernah bermimpi mengembara,”Pedagang itu suatu kali bercerita.

“Kewajiban kelima bagi setiap Muslim adalah menunaikan ibadah haji. Kami diwajibkan, paling sedikit satu kali selama hidup, untuk rnengunjungi kota suci Mekkah. Mekkah malah lebih jauh dari Piramida. Saat aku muda, yang kuinginkan hanyalah mengumpulkan uang untuk membuka toko ini. Aku berpikir, suatu hari nanti aku akan kaya dan dapat pergi ke Mekkah. Mulailah uang kudapat, tapi aku tak pernah bisa lega meninggalkan toko pada orang lain; kristal adalah barang yang rentan”.

“Kenapa Bapak tidak pergi ke Mekkah sekarang?” tanya si bocah.

“Justru pikiran tentang Mekkah-lah yang membuatku terus hidup. Itulah yang membuatku kuat menghadapi hari-hari yang sama belaka ini; yang membuatku tahan menghadapi kristal-kristal bisu di rak, dan sanggup makan siang dan makan malarn di warung jelek yang itu-itu juga. Aku takut bila impianku terwujud, aku tak punya alasan lagi untuk melanjutkan hidup”.

Tersandera Cinta, Lupa, dan Takut

Cerita Santiago di dalam novel Alchemist karya Coelho sengaja saya tulis sebagai pengingat diri: akankah saya menjadi penjual kristal tadi? Pedagang Kristal bermimpi pergi ke Mekah dan menunaikan haji. Ia sudah berusaha mengumpulkan harta. Tapi sayangnya harta dunia itu justu menyandera dirinya. Ia berniat memenuhi panggilan Tuhan. Tapi harta kekayaan menjadikannya seorang tawanan.

Penyandera itu hadir dalam tiga nama: “cinta, “lupa”, dan “takut”. Kita terlalu mencintai apa yang kita miliki. Kita lupa jika di dunia tak ada yang abadi. Dan kita takut kehilangan apa yang ada saat ini.

Ketiga sandera ini yang menyebabkan kita berpikir dua kali sebelum mengorbankan apa yang kita punya. Dan seringkali membuat kita berpikir untung rugi dalam membantu sesama. Tiga sandera itu juga yang membuat kita menderita, saat kehilangan apa yang kita punya.

Santiago tahu hal itu. Dan ia tahu perbedaan “jalan” dan “tujuan”. Ia membantu sang pedagang untuk berjualan teh menggunakan gelas Kristal di atas bukit. Belum pernah ada yang menyajikan teh di gelas Kristal. Kedainya ramai dan tersohor. Membuatnya menjadi juragan kecil dan harta yang mampu membeli 120 domba.

Anehnya Santiago justru meninggalkan kedai yang telah memberinya kekayaan. Ia memilih melanjutkan perjalanan dan menunaikan panggilan hidupnya untuk mencari piramida. Ia tahu jika menjadi kaya adalah “jalan”, dan bukan “tujuan”.

Jalan adalah sarana. Tujuan adalah hasil akhir yang ingin dicapai. Tujuan yang salah akan memberikan jalan yang salah. Mereka yang hanya ingin kaya bisa menghalalkan segala cara. Mereka yang ingin berkuasa bisa menindas siapa saja. Dan mereka yang menginginkan dunia, akan merasakan derita saat harus meninggalkannya.

Masalahnya kita sering lupa perbedaan jalan dan tujuan. Kita beranggapan kekayaan itu tujuan, pengetahuan itu tujuan, kekuasaan itu tujuan, dan segala kenikmatan adalah tujuan. Termasuk soal ajaran agama. Kita lebih memilih menabung untuk haji yang kedua daripada menggunakan uangnya untuk membantu sesama. Padahal Ibadah adalah jalan. Sholat adalah sarana. Zakat adalah sarana. Puasa adalah sarana. Haji juga sarana.

Tujuannya? Menjadi sebaik-baiknya hamba Tuhan dan berbuat kebaikan pada kehidupan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

7 Pelajaran Hidup dari Pokemon Go

Pokemon sukses mengguncang dunia. Anak-anak muda sekarang lebih sering bertanya “Sudah punya Pikachu belum?” daripada pertanyaan basa-basi menyindir hati macam “sudah punya pacar atau belum?”.

Disaat Amerika sedang mengirimkan satelit untuk memfoto permukaan Pluto, kita masih ketakutan jika gara-gara game ini kantor pemerintahan kita dimata-matai mbah Google, atau tembok belakang kampus tempat nongkrong mahasiswa sambil ngupil bisa ketahuan.

Saya sudah 2 minggu bermain Pokemon Go. Dan menurut saya ada banyak aspek positif yang kita ambil hikmahnya. Karena seorang gamer sejati pasti tahu, games bukan sekedar permainan, tapi juga pembelajaran kehidupan.

#1 Jika peluang dalam hidup diibaratkan Pokemon, maka melarikan diri bukan solusi.

1

Kita harus menghadapi seseram apapun “pokemon” (peluang dan masalah kehidupan) yang ada di depan kita. Karena winner never quit, quitter never win.

#2 Semakin banyak ‘pokemon’ yang Anda tangkap, level kehidupan Anda naik

2Bersyukurlah jika sedang banyak masalah. Itu adalah ‘pokemon’ yang dikirimkan Tuhan untuk menguji kita. Semakin banyak permasalahan hidup yang kita selesaikan, Tuhan akan menaikkan kualitas diri kita

#3 Anda ingin maju? Bergeraklah

bergerak

Pokemon memaksa pemainnya untuk keluar rumah karena kemajuan tidak didapat dengan duduk manis didalam rumah. Kita harus bergerak mencari peluang.

#4 Setelah menangkap urusan belum selesai, kita harus berlatih

battle

Sudah berhasil pokemon naga seperti Dratini? Tugas Anda belum selesai. Ia harus dilatih. Demikian juga hidup. Setiap bakat adalah ‘pokemon’ yang kita miliki. Kita harus mengasahnya untuk menjadikannya ahli.

#5 Jika ingin kuat, kita harus bekerja sama

kerjasama

Pokemon Go memaksa pemainnya untuk memilih team ketika memasuki level 5. Tidak ada lone wolf atau single fighter. Karena tidak ada Superman atau rambo di dunia nyata. Semua manusia harus bekerja sama.

#6 Pokemon Go mengajarkan saya jika manusia adalah binatang buas yang tak pernah puas

3

Untuk apa kita menangkap pokemon? Memenuhi hasrat menguasai? Mengeksploitasi makhluk lain? Sudah berapa pokemon yang kita punya? 10, 20, 30? Kenapa kita tak pernah puas dan terus mencari pokemon lagi?

#7 Pada akhirnya kebahagiaan ada pada proses

catch them all

Saya tak bisa membayangkan jika bisa cheat dan langsung mendapat Pokemon dengan CP 1 juta point. Tak ada petualangan. Tak ada pertarungan. Tak ada pembelajaran. Keseruan bermain Pokemon Go ada pada proses menjadi trainer kuat. Kenikmatan kehidupan ada pada proses menjadi manusia hebat. Keindahan kehidupan, ada pada perjalanan yang penuh perjuangan.

Disclaimer on image:  Beberapa sumber sudah tercantum, mostly from 9Gag, 1Cak, Kaskus

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Acara Tivi Koq Kaya Gini?

Sering, Gusti, aku bertanya-tanya sendiri,

kenapa sih mama tenggelam di televisi,

mengunyah iklan menelan mimpi.

Sabar, mama, tunggu aku masuk ke layar tivi.

(Doa 1 – Silampukau)

logo tv dari https://infoindonesia.files.wordpress.com/2014/04/stasiun-tv-swasta.jpeg

Seorang kawan terheran-heran begitu tahu jika dirumah saya tak ada televisi.

“Hah yang bener? Pasti langganan tv kabel kan?”

Kabelnya sih ada, tapi tivi-nya ga ada. Lha gimana mau nonton tv kabel kalau ga punya tivi? Absennya kotak hiburan warna-warni di rumah kami memang sudah menjadi komitmen bersama. Selain tidak terlalu menikmati acara yang ditayangkan di layar kaca, kami sepakat untuk menjalani hidup hemat biaya hahaha.

Tapi ciyus, ada beberapa alasan kami tidak tertarik membeli tivi. Karena pernah bekerja di media agency, saya tahu jika televisi tak lebih dari media pemasaran untuk mendongkrak penjualan. Semua acara yang diproduksi pada akhirnya akan bermuara pada berapa banyak duit iklan yang bisa dihasilkan (rating hanya salah satu metode pengukuran).

Bagi yang belum tahu, biaya ngiklan selama 30 detik untuk prime time (jam 7 – 9 malam) bisa mencapai puluhan juta rupiah (30-80 juta). Dan biasanya semakin tinggi rating maka semakin mahal biaya ngiklannya.

Bagaimana cara mengukur rating? Mayoritas pengiklan akan menggunakan rating point hasil study AC Nielsen. Jadi Nielsen memiliki sebuah alat “people meter”, dimana dia akan memasangkan alat di ribuan rumah yang dijadikan sample. Lewat alat itu akan ketahuan, berapa persen orang yang menonton suatu acara, program apa yang paling diminati, acara yang paling sedikit penontonnya, dan kebiasaan menonton lainnya.

Semakin tinggi suatu rating, berarti semakin banyak penontonnya. Jika semakin banyak yang nonton, akan semakin banyak pengiklan yang membeli spot iklan di acara itu. Nah karena logika yang berlaku adalah hukum pasar, maka stasiun tivi akan terus menayangkan program yang memiliki rating bagus. Sekarang tahu kan kenapa ada Tukang Bubur yang udah bertahun-tahun exist meski buburnya ga ada lagi. Ya itu berarti tim programnya sukses mempertahankan rating acara.

 Bukan Salah Stasiun TV

Saya sering tertawa ketika mendengar ada orang menyalahkan stasiun tivi karena acara-acara yang dianggap “kurang bermutu”. Pertama, saya bingung ketika harus mendefiniskan acara yang “bermutu” dan “tidak bermutu” itu seperti apa. Apakah acara berita pasti lebih bagus dari sinetron? Apa benchmark-nya? Apa metrics yang digunakan untuk mengukurnya?

Kalau ada acara yang dianggap “kurang mendidik”, apa definisi program yang mendidik? Bukankah filter mendidik-tidaknya sebuah tayangan ada di otak para penontonnya sendiri? Contohnya ada acara sinetron yang menampilkan kehidupan keluarga kaya dan hidup mewah. Sebagian orang akan protes:

“Sinetron seperti ini hanya menampilkan kemewahan!”

Loh, bukannya justru bagus ya? bukannya itu mengajarkan kita untuk tidak malu jika ingin kaya, yang penting terus berusaha. Pola pikir sirik-nya diubah donk: Jika mereka yang ada di sinetron aja bisa kaya, kita juga pasti bisa.

Alasan kedua adalah program yang ada di televisi kita hanyalah cerminan selera masyarakat kita. Kan sebelumnya sudah saya bilang, iklan ngikutin rating, dan rating ngikutin selera penonton. Jadi ya jangan ngambek kalo acara kita isinya sinetron dan drama India, berarti ya masyarakat kita sukanya sinetron dan drama India.

Program yang ada di televisi kita hanyalah cerminan selera masyarakat kita

Saya iseng nulis ini sebagai salah satu aksi konkret dan ajakan untuk menjadi penonton kritis. Mumpung sedang ramai membahas revisi UU penyiaran. Mbok ya jangan Cuma mengutuk acara tivi kita yang katanya kurang mencerdaskan. Siaran Tivi ga cerdas ya berarti masyarakat kita juga belum cerdas. Masih suka drama cinta-cintaan, makhluk jadi-jadian, kebut-kebutan, India-Indiaan dan Turki-Turkian.

Sudah ga kuat dan muak dengan acara tivi yang ada? Jauhkan televisi dari rumah Anda :p

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Perahu ke Surga

Hari ini (9 April) saya diajak kawan kuliah (si Desti) untuk berkunjung ke Bogor. Bertemu murid-murid boarding school dari salah satu lembaga pendidikan. Desti punya ide untuk menghubungkan cita-cita dan realita dunia nyata. Ada muridnya yang ingin jadi Diplomat, dan kebetulan pula ada kawan kami (Dika) yang sekarang jadi diplomat.

Diharapkan Dika bisa sharing tentang suka duka jadi diplomat, sekaligus memberikan tips dan trick jika ingin mengikuti jejaknya. Semacam kelas inspirasi gitu. Saya sengaja ikutan untuk jalan-jalan, dan juga karena males disuruh bersih-bersih kalo hanya main game di rumah. Kami berlima (sama Bocil dan Lila) janjian ketemu di Bogor.

“Bro bear, Nanti disana lu harus menginspirasi anak-anak ya” kata Desti waktu kami bertemu di KFC stasiun Bogor.

Hah? Inspirasi apaan? Soal hubungan signifikan obesitas terhadap ketampanan? Atau pengaruh lari pagi terhadap penurunan berat badan yang tak pernah berarti? Saya tak akan bisa memotivasi orang lain karena saya percaya motivasi terbaik ya motivasi yang dihasilkan diri sendiri.

“Ya udah nanti sharing-sharing aja ya”. Kamipun berangkat dan menempuh perjalanan hampir 1 jam.

Acara dilaksanakan di masjid. Dika sukses menginspirasi anak-anak. Dengan cerita serunya keliling dunia mewakili Indonesia, serta berbagai cerita off the record soal hubungan luar negeri kita. Saat saya diminta sharing, masa saya harus cerita soal marketing strategy ke anak-anak SMA tak berdosa ini?

Saat bingung, saya teringat ‘Perahu Neraka ke Surga’. Salah satu problem solving tools sederhana yang saya pakai untuk memperbaiki proses, menambal loop hole, menciptakan perubahan, dan juga mendapatkan jodoh (hey, saya PDKT ke istri pakai manajemen strategic lho!).

Kalo saya pikir-pikir, tools ini saya tulis dari hasil membaca beberapa buku problem solving yang dikembangkan perusahaan konsultan macam McKinsey dan six sigma ala General Electric. Tentu dengan simplifikasi sederhana yang cocok untuk anak SMA.

Agar lebih mudah kita pakai cerita fiktif.

Surga yang Terbuka

Alkisah, ada orang yang menjadi penghuni neraka. Karena tak tahan menderita, ia lalu berdoa:

“Ya Tuhan, ampunilah dosa hamba. Sudah bertahun-tahun hamba di neraka, tolong hentikan siksa ini dan masukkan hamba ke surga”

Karena kasihan, Tuhan pun membukakan pintu surga untuknya.

“Baiklah, Kubukakan pintu surga untukmu”

Karena girang bukan kepalang, orang tadi langsung jingkrak-jingkrak dan berlari meninggalkan ‘kompleks neraka’. Begitu kagetnya ia ketika ternyata ada sungai yang memisahkan surga dan neraka. Didalam sungai banyak monster dan setan.

“Tuhan, bagaimana cara ke surga?”

Tiba-tiba ada suara:

“Gunakan akalmu, optimalkan sumber dayamu, semua kubebaskan kepadamu”. Kata suara ghaib itu.

Orang itu sadar, ia ada di neraka, dan ingin menuju ke surga. Dan pintu surga sudah terbuka! Ia hanya perlu kesana. Ia tahu ada sungai yang membatasi dan harus melintasinya. Ia butuh alat untuk menyebrang sungai.

Setelah melihat sekeliling, ia akhirnya mengambil pohon-pohon untuk menciptakan rakit. Urusan tenggelam itu belakangan, yang penting ia sudah membuat rakit dan mengarungi sungai. Membelah arus, menuju surga yang ia impikan.

Matrix Neraka-Surga

Cerita diatas hanyalah perumpamaan. Neraka adalah kondisi kita saat ini. Surga adalah hal yang ingin kita tuju. Sungai adalah hambatan yang menghadang. Kita harus tahu apa hambatan yang ada baru kemudian bisa menentukan solusi untuk mengatasi hambatan itu.

Untuk lebih simple-nya bisa mengacu matrix dibawah ini. Contoh kasus, saya ingin menurunkan badan dari 115 ke 95 kg. Yang perlu saya lakukan adalah menyebutkan keadaan sekarang, lalu kondisi yang saya harapkan.

Mengapa keadaan sekarang belum seperti yang saya harapkan? Karena ada “sungai hambatan”. Dengan merinci hambatan yang ada, saya bisa men-list “perahu” yang ingin saya buat. Setelah itu saya bisa menciptakan action plan yang harus saya lakukan.

Matrix neraka-surga
Matrix neraka-surga

Kenapa matrix neraka-surga ini penting?

  1. Karena banyak dari kita tidak tahu perubahan apa yang diinginkan
  2. Karena banyak dari kita tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan

Dengan menuliskan-nya di matrix neraka-surga, kita memiliki road map sederhana. Apa yang ingin kita capai, apa penghambatnya, apa yang kurang, dan apa yang harus kita lakukan.

Ketika salah satu murid bernama Sandy mencoba matrix ini, ia tahu jika cita-citanya adalah menjadi diplomat (surga). Sedangkan sekarang ia masih anak SMA (neraka). Ada sungai yang menghadang (gelar S1 dengan IPK dan Universitas yang bagus, Toefl 550, tes Departemen Luar Negeri, communication skill, negotiation skill, politik luar negeri, dan skill dipomat lainnya).

Sekarang Sandy tahu action plan yang harus dilakukan. Berdoa kepada Tuhan, belajar yang rajin, mempersiapkan kelulusan untuk masuk ke kampus bergengsi dan mengambil jurusan humaniora, membeli kamus, belajar vocabulary, mencoba menulis esai, belajar speaking in English, dan rajin membaca berita luar negeri di koran.

“Mulai hari ini dan seterusnya, saya memantapkan cita-cita saya di kemudian hari, yaitu memiliki pasport berwarna hitam…” tulis Sandy di facebook-nya. Pasport hitam adalah pasport diplomatik.

Sandy bermimpi. Tapi mimpi tak cukup. Kita harus beraksi. Sepenuh hati. Mengeluarkan potensi yang kita miliki. Karena Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubahnya sendiri.

Karena Tuhan telah membuka pintu surga-Nya. Kita hanya perlu perahu untuk mencapainya.

Foto bareng di Bogor
Foto bareng di Bogor
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mengejar Valuasi, Cerita Perusahaan yang Sengaja Rugi

source: grobecpa.com

“Serem”. Kata yang tak saya sangka akan diucapkan oleh Pak W, salah satu petinggi biro iklan multinasional ketika mengomentari belanja iklan jor-joran dari perusahaan e-commerce.

Malam itu pertengahan tahun 2015. Kami sedang makan malam dalam rangka memperkenalkan direktur baru kami kepada partner, salah satunya media agency dimana Pak W bekerja. Kita sedang berdiskusi tentang hebohnya startup. Karena tiga tahun terakhir adalah surga bagi “perusahaan online”. Semua berinvestasi jor-joran, termasuk untuk belanja iklan.

“Kelihatannya sih bagus, tapi siapa siapa bisa jamin tahun depannya? Contohnya si Rocket internet (group dibalik Lazada, Zalora dll), tahun lalu dia spending gila-gilaan. Tapi kalo tiba-tiba dia decide untuk tutup operasinya dari Indonesia? Kita yang pusing dikejerin media”.

Dia kemudian menyinggung strategy “burning money” serta “cut loss” yang biasa terjadi dalam dunia start up. Burning money berarti mereka rela rugi, sedangkan cut loss maksudnya mereka bisa kapan saja hengkang saat dirasa perusahaan yang mereka bangun tidak berkembang.

 “Sekarang di dunia ini, ada dua jenis perusahaan”. Pria botak yang sempat menjadi direktur salah satu airlines itu lalu bercerita.

“Ada operation company, dimana perusahaan mencari untung dari proses operasi yang dilakukan. Mereka memproduksi barang dan jasa, lalu dijual dengan margin untuk mendapatkan keuntungan. Nah selain itu, ada namanya valuation company. Mereka tidak mengejar keuntungan dari operasi, tapi valuasi bisnis yang dilakukan oleh potensial investor”.

Bakar Duit, Dapat Duit

Ia lalu mencontohnya Traveloka. Online travel agent yang iklannya bisa kita lihat setiap hari. Bagaimana mungkin tiket yang dijual di Traveloka bisa lebih murah dari website airlines sendiri?

“Karena mereka tidak mengejar keuntungan. Komisi di bypass ke konsumen, ditambahin subsidi. Convenience fee tidak dibebankan ke pembeli. Mereka berani rugi, yang penting traffic masuk, dapat user gede yang pada ujungnya membuat Traveloka seksi dimata investor”.

Beberapa media meng-klaim Traveloka berpotensi menjadi startup unicorn, perusahaan dengan valuasi 1 milyar dollar. Dengan tingginya potensi traffic, user, dan masa depan industri travel di Indonesia, tak heran jika mereka mendapat suntikan dana dari Global Founders Capital, salah satu venture capital elit dunia yang punya uang ga berseri.

Mungkin karena itu juga start up macam Go-jek dan Grab Bike melakukan hal yang sama. Rela “bakar duit” dengan mensubsidi tarif antar penumpang dan barang, ngasih komisi lumayan ke driver, hingga ngiklan kemana-mana.

Go-jek dikabarkan mendapat pendanaan dari beberapa private equity macam Northstar Group dan Sequoia capital yang nilainya lumayan gede (konon total bisa ratusan juta dollar). Sedangkan Grab dapat 350 juta dollar dari China Investment Corporation. Pokoknya , kalo duit para venture capital ini dibelikan es dawet, kita bisa bikin kali Ciliwung full of dawet.

Investasi

Apa yang dicari oleh venture capital ketika memodali sebuah perusahaan startup?

Back to basic: duit. Venture capital bukan orang bego atau sinterklas yang rela duitnya dibakar begitu saja. Seperti kata pepatah:

“Dibutuhkan ikan kecil untuk menjadi umpan ikan besar”

Mereka berinvestasi karena percaya akan nilai dari business model yang diciptakan. Sekaligus pasti berharap return di kemudian hari. Setiap investasi yang dilakukan pasti sudah ada perhitungannya. Berapa tahun harus merugi, kapan harus mulai melepas subsidi, kapan harus profit taking, termasuk menghitung valuasi saat “exit strategy”.

Ya, mayoritas venture capital mensupport startup untuk “dijual” lagi. Mereka mendanai masa inkubasi, mendapat jatah saham, untuk kemudian dijual ke pemodal lain  dengan keuntungan yang berlipat-lipat. Itulah yang disebut “exit”. Studi dilakukan Tyebjee and Bruno (1984), mayoritas venture capital sudah punya strategy untuk keluar saat mereka baru mendanai startup itu.

Sedangkan berdasarkan riset yang dilakukan Miloud et al (2015), valuasi startup yang dilakukan venture capital berdasarkan beberapa faktor:

  1. Product differentiation – sejauh mana produk itu benar-benar unik dan punya “disruptive effect”
  2. Industry growth – apakah industri ini berprospek cerah?
  3. Entrepreneur dan manajerial – siapa dibalik tim manajemennya?
  4. Network – sejauh mana startup itu mampu membangun jaringan

Intinya jika Anda ingin dapat funding jutaan dollar dari venture capital: temukan industry yang akan booming, ciptakan produk yang inovatif, miliki tim yang solid, dan kembangkan jaringan seluas-luasnya.

Karena mimpi utama semua venture capital adalah ketika startup yang didanai-nya bisa go public dan listing di bursa saham. Ketika itu terjadi, mereka telah lulus ujian sebagai seorang kapitalis yang sukses menciptakan mesin pencetak uang. Seperti kata salah satu maestro valuasi saham, Warren Buffett:

“Price is what you pay. Value is what you get”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Perbandingan Social Media Calon Bupati Sidoarjo, Siapa yang Unggul?

Awalnya saya kaget, loh koq tanggal 9 Desember ada pengumuman libur? Ada hari besar apa ya? Perasaan hari raya udah lewat dan hari kiamat belum diumumkan. Betapa hebohnya saya ketika tahu jika tanggal itu adalah pilkada serentak.

Saya merasa kzl (kesel), sebagai warga negara yang baik dan kebetulan sedang merantau di luar kota, informasi yang saya terima sangat minim. Saya tidak tahu siapa yang maju, apa program mereka, dan kenapa saya harus repot-repot pulang hanya demi nyoblos muka asing yang tidak berpengaruh ke rekening bank saya setiap bulan.

Tapi saya tetap penasaran, siapa aja sih calonnya? Setelah browsing sana sini ternyata ada 4 calon pimpinan daerah yang akan menggawangi kabupaten Sidoarjo, daerah KTP saya.

Daftar calon KPU
Daftar calon KPU

Buset sapa mereka? Koq ga ada yang kenal. Saya coba meng-klik halaman visi misi. Isinya seragam: penuh janji berbusa dengan bahasa berbunga-bunga. Lantas, bagaimana saya bisa tahu pasangan mana yang berbeda?

Iseng-iseng saya mencoba men-compare data social media masing-masing calon. Karena zaman sekarang social media sudah menjadi alat propaganda politik yang sangat ampuh. Trend ini dimulai saat Obama menggunakan twitter dan facebook untuk merebut hati rakyat Amerika (Gross:2012).

Ditengah perkembangan dunia digital seperti saat ini, dimana tingkat penetrasi internet sudah lebih dari 60% dan Indonesia adalah salah satu negara dengan user facebook dan twitter terbesar, social media adalah salah satu senjata untuk mempengaruhi persepsi publik.

Data social media masing-masing calon terlampir dibawah ini:

Data data fans dan follower
Data data fans dan follower

He to the O, Helloowww! Jika melihat halaman social media masing-masing calon akan terlihat jelas jika akun masih memiliki potensi untuk dioptimalkan dengan melakukan posting secara teratur, engagement activity, response yang tanggap, dan juga iklan ke khalayak ramai.

Okay, secara angka fans dan follower maka pasangan no 1 memimpin tipis diatas pasangan no 2. Tapi bagaimana dengan engagement rate? Mari melihat angka-angka yang ada di twitter. Penulis menggunakan tools dari tweetreach untuk mendapatkan angka masing-masing calon kepala daerah. Untuk menyederhanakan data, saya hanya menggunakan nama calon bupati sebagai search query.

Hadi Sutjipo

Tweet Hadi Sutjipto memiliki jangkauan hingga lebih dari 30 ribu. Dan seminggu terakhir ada 15 orang yang mentweet tentang Hadi Sutjipto. Jika melihat contributor, maka reach terbesar berasal dari @beritajatimcom.

 Hadi sutcipto

Utsman Ikhsan

Memiliki reach yang tidak sebesar calon bupati pertama, dengan jumlah kontributor tweet yang lebih sedikit. Kontributor terbesar tetap @beritajatimcom.

Utsman IkhsanSaiful Ilah

Memiliki jumlah exposure dan reach terbesar. Dengan kontributor (orang yang men-tweet) sebanyak 22 orang dalam seminggu terakhir. Penyumbang reach terbesar dari @infojatimID dan @sidoarjonews.

Saiful IllahWarih Andono

Calon bupati terakhir dan paling kasihan. Namanya tidak terdengar di jagat dunia maya. Mungkin tim sukses mereka perlu memasang internet di rumah.

Warih AndonoJika kita melakukan komparasi menggunakan Topsy, didapatkan data yang serupa:

Topsy PilkadaCalon bupati no 3 mengungguli pasangan no 1 dan 2. Tapi beberapa hari terakhir calon no 1 mulai naik (lihat di sisi kanan grafik). Calon bupati no 4? Tolong ingatkan saya saat tim suksesnya sudah memasang internet.

Simpulan Sederhana

Melihat data-data sederhana social media, calon bupati no 1 dan 3 akan bersaing memperebutkan juara dan runner up. Tapi perlu dicatat jika tidak semua pemilih melek digital. Masih banyak kalangan grass root yang tidak mengakses social media. Dan yang paling penting, banyak faktor yang mempengaruhi keputusan pemilih.

Seperti pesan Brigitte Majewski:

“Just because you have a follower doesn’t mean you have a vote. It just means that you have caught their ear. … It’s a good signal, but at the end of the day, a signal is not a vote.”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail