Category Archives: Sosial Budaya

Apa yang terjadi di sekitar kita…

Perahu ke Surga

Hari ini (9 April) saya diajak kawan kuliah (si Desti) untuk berkunjung ke Bogor. Bertemu murid-murid boarding school dari salah satu lembaga pendidikan. Desti punya ide untuk menghubungkan cita-cita dan realita dunia nyata. Ada muridnya yang ingin jadi Diplomat, dan kebetulan pula ada kawan kami (Dika) yang sekarang jadi diplomat.

Diharapkan Dika bisa sharing tentang suka duka jadi diplomat, sekaligus memberikan tips dan trick jika ingin mengikuti jejaknya. Semacam kelas inspirasi gitu. Saya sengaja ikutan untuk jalan-jalan, dan juga karena males disuruh bersih-bersih kalo hanya main game di rumah. Kami berlima (sama Bocil dan Lila) janjian ketemu di Bogor.

“Bro bear, Nanti disana lu harus menginspirasi anak-anak ya” kata Desti waktu kami bertemu di KFC stasiun Bogor.

Hah? Inspirasi apaan? Soal hubungan signifikan obesitas terhadap ketampanan? Atau pengaruh lari pagi terhadap penurunan berat badan yang tak pernah berarti? Saya tak akan bisa memotivasi orang lain karena saya percaya motivasi terbaik ya motivasi yang dihasilkan diri sendiri.

“Ya udah nanti sharing-sharing aja ya”. Kamipun berangkat dan menempuh perjalanan hampir 1 jam.

Acara dilaksanakan di masjid. Dika sukses menginspirasi anak-anak. Dengan cerita serunya keliling dunia mewakili Indonesia, serta berbagai cerita off the record soal hubungan luar negeri kita. Saat saya diminta sharing, masa saya harus cerita soal marketing strategy ke anak-anak SMA tak berdosa ini?

Saat bingung, saya teringat ‘Perahu Neraka ke Surga’. Salah satu problem solving tools sederhana yang saya pakai untuk memperbaiki proses, menambal loop hole, menciptakan perubahan, dan juga mendapatkan jodoh (hey, saya PDKT ke istri pakai manajemen strategic lho!).

Kalo saya pikir-pikir, tools ini saya tulis dari hasil membaca beberapa buku problem solving yang dikembangkan perusahaan konsultan macam McKinsey dan six sigma ala General Electric. Tentu dengan simplifikasi sederhana yang cocok untuk anak SMA.

Agar lebih mudah kita pakai cerita fiktif.

Surga yang Terbuka

Alkisah, ada orang yang menjadi penghuni neraka. Karena tak tahan menderita, ia lalu berdoa:

“Ya Tuhan, ampunilah dosa hamba. Sudah bertahun-tahun hamba di neraka, tolong hentikan siksa ini dan masukkan hamba ke surga”

Karena kasihan, Tuhan pun membukakan pintu surga untuknya.

“Baiklah, Kubukakan pintu surga untukmu”

Karena girang bukan kepalang, orang tadi langsung jingkrak-jingkrak dan berlari meninggalkan ‘kompleks neraka’. Begitu kagetnya ia ketika ternyata ada sungai yang memisahkan surga dan neraka. Didalam sungai banyak monster dan setan.

“Tuhan, bagaimana cara ke surga?”

Tiba-tiba ada suara:

“Gunakan akalmu, optimalkan sumber dayamu, semua kubebaskan kepadamu”. Kata suara ghaib itu.

Orang itu sadar, ia ada di neraka, dan ingin menuju ke surga. Dan pintu surga sudah terbuka! Ia hanya perlu kesana. Ia tahu ada sungai yang membatasi dan harus melintasinya. Ia butuh alat untuk menyebrang sungai.

Setelah melihat sekeliling, ia akhirnya mengambil pohon-pohon untuk menciptakan rakit. Urusan tenggelam itu belakangan, yang penting ia sudah membuat rakit dan mengarungi sungai. Membelah arus, menuju surga yang ia impikan.

Matrix Neraka-Surga

Cerita diatas hanyalah perumpamaan. Neraka adalah kondisi kita saat ini. Surga adalah hal yang ingin kita tuju. Sungai adalah hambatan yang menghadang. Kita harus tahu apa hambatan yang ada baru kemudian bisa menentukan solusi untuk mengatasi hambatan itu.

Untuk lebih simple-nya bisa mengacu matrix dibawah ini. Contoh kasus, saya ingin menurunkan badan dari 115 ke 95 kg. Yang perlu saya lakukan adalah menyebutkan keadaan sekarang, lalu kondisi yang saya harapkan.

Mengapa keadaan sekarang belum seperti yang saya harapkan? Karena ada “sungai hambatan”. Dengan merinci hambatan yang ada, saya bisa men-list “perahu” yang ingin saya buat. Setelah itu saya bisa menciptakan action plan yang harus saya lakukan.

Matrix neraka-surga
Matrix neraka-surga

Kenapa matrix neraka-surga ini penting?

  1. Karena banyak dari kita tidak tahu perubahan apa yang diinginkan
  2. Karena banyak dari kita tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan

Dengan menuliskan-nya di matrix neraka-surga, kita memiliki road map sederhana. Apa yang ingin kita capai, apa penghambatnya, apa yang kurang, dan apa yang harus kita lakukan.

Ketika salah satu murid bernama Sandy mencoba matrix ini, ia tahu jika cita-citanya adalah menjadi diplomat (surga). Sedangkan sekarang ia masih anak SMA (neraka). Ada sungai yang menghadang (gelar S1 dengan IPK dan Universitas yang bagus, Toefl 550, tes Departemen Luar Negeri, communication skill, negotiation skill, politik luar negeri, dan skill dipomat lainnya).

Sekarang Sandy tahu action plan yang harus dilakukan. Berdoa kepada Tuhan, belajar yang rajin, mempersiapkan kelulusan untuk masuk ke kampus bergengsi dan mengambil jurusan humaniora, membeli kamus, belajar vocabulary, mencoba menulis esai, belajar speaking in English, dan rajin membaca berita luar negeri di koran.

“Mulai hari ini dan seterusnya, saya memantapkan cita-cita saya di kemudian hari, yaitu memiliki pasport berwarna hitam…” tulis Sandy di facebook-nya. Pasport hitam adalah pasport diplomatik.

Sandy bermimpi. Tapi mimpi tak cukup. Kita harus beraksi. Sepenuh hati. Mengeluarkan potensi yang kita miliki. Karena Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubahnya sendiri.

Karena Tuhan telah membuka pintu surga-Nya. Kita hanya perlu perahu untuk mencapainya.

Foto bareng di Bogor
Foto bareng di Bogor
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mengejar Valuasi, Cerita Perusahaan yang Sengaja Rugi

source: grobecpa.com

“Serem”. Kata yang tak saya sangka akan diucapkan oleh Pak W, salah satu petinggi biro iklan multinasional ketika mengomentari belanja iklan jor-joran dari perusahaan e-commerce.

Malam itu pertengahan tahun 2015. Kami sedang makan malam dalam rangka memperkenalkan direktur baru kami kepada partner, salah satunya media agency dimana Pak W bekerja. Kita sedang berdiskusi tentang hebohnya startup. Karena tiga tahun terakhir adalah surga bagi “perusahaan online”. Semua berinvestasi jor-joran, termasuk untuk belanja iklan.

“Kelihatannya sih bagus, tapi siapa siapa bisa jamin tahun depannya? Contohnya si Rocket internet (group dibalik Lazada, Zalora dll), tahun lalu dia spending gila-gilaan. Tapi kalo tiba-tiba dia decide untuk tutup operasinya dari Indonesia? Kita yang pusing dikejerin media”.

Dia kemudian menyinggung strategy “burning money” serta “cut loss” yang biasa terjadi dalam dunia start up. Burning money berarti mereka rela rugi, sedangkan cut loss maksudnya mereka bisa kapan saja hengkang saat dirasa perusahaan yang mereka bangun tidak berkembang.

 “Sekarang di dunia ini, ada dua jenis perusahaan”. Pria botak yang sempat menjadi direktur salah satu airlines itu lalu bercerita.

“Ada operation company, dimana perusahaan mencari untung dari proses operasi yang dilakukan. Mereka memproduksi barang dan jasa, lalu dijual dengan margin untuk mendapatkan keuntungan. Nah selain itu, ada namanya valuation company. Mereka tidak mengejar keuntungan dari operasi, tapi valuasi bisnis yang dilakukan oleh potensial investor”.

Bakar Duit, Dapat Duit

Ia lalu mencontohnya Traveloka. Online travel agent yang iklannya bisa kita lihat setiap hari. Bagaimana mungkin tiket yang dijual di Traveloka bisa lebih murah dari website airlines sendiri?

“Karena mereka tidak mengejar keuntungan. Komisi di bypass ke konsumen, ditambahin subsidi. Convenience fee tidak dibebankan ke pembeli. Mereka berani rugi, yang penting traffic masuk, dapat user gede yang pada ujungnya membuat Traveloka seksi dimata investor”.

Beberapa media meng-klaim Traveloka berpotensi menjadi startup unicorn, perusahaan dengan valuasi 1 milyar dollar. Dengan tingginya potensi traffic, user, dan masa depan industri travel di Indonesia, tak heran jika mereka mendapat suntikan dana dari Global Founders Capital, salah satu venture capital elit dunia yang punya uang ga berseri.

Mungkin karena itu juga start up macam Go-jek dan Grab Bike melakukan hal yang sama. Rela “bakar duit” dengan mensubsidi tarif antar penumpang dan barang, ngasih komisi lumayan ke driver, hingga ngiklan kemana-mana.

Go-jek dikabarkan mendapat pendanaan dari beberapa private equity macam Northstar Group dan Sequoia capital yang nilainya lumayan gede (konon total bisa ratusan juta dollar). Sedangkan Grab dapat 350 juta dollar dari China Investment Corporation. Pokoknya , kalo duit para venture capital ini dibelikan es dawet, kita bisa bikin kali Ciliwung full of dawet.

Investasi

Apa yang dicari oleh venture capital ketika memodali sebuah perusahaan startup?

Back to basic: duit. Venture capital bukan orang bego atau sinterklas yang rela duitnya dibakar begitu saja. Seperti kata pepatah:

“Dibutuhkan ikan kecil untuk menjadi umpan ikan besar”

Mereka berinvestasi karena percaya akan nilai dari business model yang diciptakan. Sekaligus pasti berharap return di kemudian hari. Setiap investasi yang dilakukan pasti sudah ada perhitungannya. Berapa tahun harus merugi, kapan harus mulai melepas subsidi, kapan harus profit taking, termasuk menghitung valuasi saat “exit strategy”.

Ya, mayoritas venture capital mensupport startup untuk “dijual” lagi. Mereka mendanai masa inkubasi, mendapat jatah saham, untuk kemudian dijual ke pemodal lain  dengan keuntungan yang berlipat-lipat. Itulah yang disebut “exit”. Studi dilakukan Tyebjee and Bruno (1984), mayoritas venture capital sudah punya strategy untuk keluar saat mereka baru mendanai startup itu.

Sedangkan berdasarkan riset yang dilakukan Miloud et al (2015), valuasi startup yang dilakukan venture capital berdasarkan beberapa faktor:

  1. Product differentiation – sejauh mana produk itu benar-benar unik dan punya “disruptive effect”
  2. Industry growth – apakah industri ini berprospek cerah?
  3. Entrepreneur dan manajerial – siapa dibalik tim manajemennya?
  4. Network – sejauh mana startup itu mampu membangun jaringan

Intinya jika Anda ingin dapat funding jutaan dollar dari venture capital: temukan industry yang akan booming, ciptakan produk yang inovatif, miliki tim yang solid, dan kembangkan jaringan seluas-luasnya.

Karena mimpi utama semua venture capital adalah ketika startup yang didanai-nya bisa go public dan listing di bursa saham. Ketika itu terjadi, mereka telah lulus ujian sebagai seorang kapitalis yang sukses menciptakan mesin pencetak uang. Seperti kata salah satu maestro valuasi saham, Warren Buffett:

“Price is what you pay. Value is what you get”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Perbandingan Social Media Calon Bupati Sidoarjo, Siapa yang Unggul?

Awalnya saya kaget, loh koq tanggal 9 Desember ada pengumuman libur? Ada hari besar apa ya? Perasaan hari raya udah lewat dan hari kiamat belum diumumkan. Betapa hebohnya saya ketika tahu jika tanggal itu adalah pilkada serentak.

Saya merasa kzl (kesel), sebagai warga negara yang baik dan kebetulan sedang merantau di luar kota, informasi yang saya terima sangat minim. Saya tidak tahu siapa yang maju, apa program mereka, dan kenapa saya harus repot-repot pulang hanya demi nyoblos muka asing yang tidak berpengaruh ke rekening bank saya setiap bulan.

Tapi saya tetap penasaran, siapa aja sih calonnya? Setelah browsing sana sini ternyata ada 4 calon pimpinan daerah yang akan menggawangi kabupaten Sidoarjo, daerah KTP saya.

Daftar calon KPU
Daftar calon KPU

Buset sapa mereka? Koq ga ada yang kenal. Saya coba meng-klik halaman visi misi. Isinya seragam: penuh janji berbusa dengan bahasa berbunga-bunga. Lantas, bagaimana saya bisa tahu pasangan mana yang berbeda?

Iseng-iseng saya mencoba men-compare data social media masing-masing calon. Karena zaman sekarang social media sudah menjadi alat propaganda politik yang sangat ampuh. Trend ini dimulai saat Obama menggunakan twitter dan facebook untuk merebut hati rakyat Amerika (Gross:2012).

Ditengah perkembangan dunia digital seperti saat ini, dimana tingkat penetrasi internet sudah lebih dari 60% dan Indonesia adalah salah satu negara dengan user facebook dan twitter terbesar, social media adalah salah satu senjata untuk mempengaruhi persepsi publik.

Data social media masing-masing calon terlampir dibawah ini:

Data data fans dan follower
Data data fans dan follower

He to the O, Helloowww! Jika melihat halaman social media masing-masing calon akan terlihat jelas jika akun masih memiliki potensi untuk dioptimalkan dengan melakukan posting secara teratur, engagement activity, response yang tanggap, dan juga iklan ke khalayak ramai.

Okay, secara angka fans dan follower maka pasangan no 1 memimpin tipis diatas pasangan no 2. Tapi bagaimana dengan engagement rate? Mari melihat angka-angka yang ada di twitter. Penulis menggunakan tools dari tweetreach untuk mendapatkan angka masing-masing calon kepala daerah. Untuk menyederhanakan data, saya hanya menggunakan nama calon bupati sebagai search query.

Hadi Sutjipo

Tweet Hadi Sutjipto memiliki jangkauan hingga lebih dari 30 ribu. Dan seminggu terakhir ada 15 orang yang mentweet tentang Hadi Sutjipto. Jika melihat contributor, maka reach terbesar berasal dari @beritajatimcom.

 Hadi sutcipto

Utsman Ikhsan

Memiliki reach yang tidak sebesar calon bupati pertama, dengan jumlah kontributor tweet yang lebih sedikit. Kontributor terbesar tetap @beritajatimcom.

Utsman IkhsanSaiful Ilah

Memiliki jumlah exposure dan reach terbesar. Dengan kontributor (orang yang men-tweet) sebanyak 22 orang dalam seminggu terakhir. Penyumbang reach terbesar dari @infojatimID dan @sidoarjonews.

Saiful IllahWarih Andono

Calon bupati terakhir dan paling kasihan. Namanya tidak terdengar di jagat dunia maya. Mungkin tim sukses mereka perlu memasang internet di rumah.

Warih AndonoJika kita melakukan komparasi menggunakan Topsy, didapatkan data yang serupa:

Topsy PilkadaCalon bupati no 3 mengungguli pasangan no 1 dan 2. Tapi beberapa hari terakhir calon no 1 mulai naik (lihat di sisi kanan grafik). Calon bupati no 4? Tolong ingatkan saya saat tim suksesnya sudah memasang internet.

Simpulan Sederhana

Melihat data-data sederhana social media, calon bupati no 1 dan 3 akan bersaing memperebutkan juara dan runner up. Tapi perlu dicatat jika tidak semua pemilih melek digital. Masih banyak kalangan grass root yang tidak mengakses social media. Dan yang paling penting, banyak faktor yang mempengaruhi keputusan pemilih.

Seperti pesan Brigitte Majewski:

“Just because you have a follower doesn’t mean you have a vote. It just means that you have caught their ear. … It’s a good signal, but at the end of the day, a signal is not a vote.”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

[Ngakak] Kompilasi Meme Perusak Bunga Amaryllis

Rusaknya kebun bunga Amaryllis  di daerah Pathuk, Gunung Kidul bukan hanya menimbulkan penyesalan (karena saya belum sempat kesana :p). Salah satu “oknum” mahasiswi yang menyebarkan foto di media social dan dengan cueknya berkata “Terserah gua donk” memaksi reaksi netizen. Puluhan meme lahir sebagai bentuk sindiran terharap mahasiswa baru itu.

initial foto
initial foto

Berikut beberapa meme yang sempat saya rangkum dari situs 1cak.com

Civil War version

captain americaShe is everywhere

everywhereVersi Larangan Ibu

ibu2

Jurassic Worldjurrassic Monaskompilasi1Sampe di Bulan Sob! mars Kompilasi Moto GPmoto GPPararel World pararrel world Adik Bayiselfie bayi Finding Neverlandselfie ketubrukPlant vs Zombie seperti zombie Ada benernya jugasholat selfieDimana-mana lagi transportasiWWE wweSo, next time hati-hati ya sebelum posting di social media 🙂

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Berkenalan dengan Scientology

Scientology? Agama apaan tuh? Aliran kepercayaan penganut science?

Awalnya saya hanya tahu jika Tom Cruise adalah penganut Scientology. Dan bukan cuma mas Tom, ada juga John Travolta dan beberapa artis macam Chick Corea atau Dave Brubeck (kalo suka Jazz pasti tahu siapa mereka).

Rasa kepo saya baru sedikit terjawab setelah menonton film dokumenter “Going Clear Scientology and The Prison of Belief”. Film tahun 2015 ini menceritakan seluk beluk Scientology yang diceritakan dengan detail dan berdasarkan pengakuan para mantan pengurusnya.

source: http://300mbfilms.org

Hubbard

Lafayette Ronald Hubbard, adalah pendiri Scientology. Cukup menarik ketika membaca riwayat hidupnya, karena awalnya dia adalah penulis cerita science fiction di majalah. Setelah perang dunia, dimana dia ikut menjadi anggota Angkatan Laut Amerika Serikat, dia kembali dan menulis “bible” dari Scientology: Dianetics.

Dianetics adalah fondasi Scientology. Berasal dari kata Dia (menembus) dan Noos (jiwa). Dianetics secara sederhana berarti “menembus jiwa”. Hubbard menjelaskan jika setiap kejadian dalam hidup akan terekam dalam otak. Dan otak manusia terdiri dari dua bagian: analytic dan reactive.

Analytic berurusan dengan logika, perhitungan, pemikiran. Sedangkan reactive bertugas untuk menyimpan hal-hal yang bersifat emosional. Manusia menggunakan dua jenis otak ini untuk membuat keputusan dan bertahan hidup. Penderitaan manusia terjadi karena kejadian-kejadian traumatis tersimpan dalam otak reactive,  seringkali tertidur dan belum tersembuhkan.

Hubbart percaya, pengalaman traumatis manusia dapat disembuhkan dengan memintanya menceritakan pengalaman itu, untuk kemudian move on dan melanjutkan hidupnya lagi. Untuk itulah Scientology memperkenalkan konsep “audit”. Dimana peserta diminta untuk memegang alat bernama “e-meter” yang diklaim bisa membaca pergerakan emosi dalam otak.

Auditor (orang yang memandu sesi auditing) akan bertanya:

“Kenapa Anda galau?”

“Kenapa Anda selalu gagal move on?”

“Apa yang paling Anda kenang dari masa lalu bersama mantan?”

Pokoknya pertanyaan-nya itu mengaduk emosi dan mem-blender perasaan. Jika ada sesuatu yang tidak beres, e-meter akan bereaksi. Titittitititittt. Auditor akan meminta Anda untuk bercerita lagi. Dan setelah itu, pufffffff. Emosi terlepaskan dan tidak ada sinyal dari e-meter.

orang sedang memegang e-meter, sumber: tonyortega.org

Setelah melakukan audit, maka Anda akan “clear”, Bersih. Terbebas dari pengalaman traumatis masa lalu, terlepas dari emosi negatif, dan Anda akan memiliki pikiran yang jernih untuk menyongsong masa depan yang cerah. Sungguh sebuah praktik yang mirip dengan konsultasi psikologis.

Menjadi Agama

Bagaimana mungkin sebuah buku self help dan metode konseling dapat menjadi agama? Inilah yang membuat saya penasaran dan sekaligus membuat saya kagum. Saya harus mengacungkan jempol kepada Hubbard yang mampu menciptakan “kepercayaan”, “ritual”, “simbol”, “institusi” dan tak kalah penting: “sistem bisnis”.

Jadi ceritanya, setelah sukses dengan Dianetics dan pelatihan auditing (dimana peserta harus membayar $500 pada tahun 1950an untuk di-audit), Hubbard mulai percaya jika dia adalah penyelamat umat manusia karena merasa bisa menyembuhkan semua penyakit psikologis yang ada. Dan kemudian, dia juga bermasalah dengan pajak. Satu-satunya jalan adalah mendirikan organisasi sosial berbasis keagamaan.

Kemudian lahirlah Scientology. Menggunakan Dianetics sebagai value (kepercayaan), Hubbard menciptakan skema audit berjenjang (ritual), mempercanggih e-meter (simbol), dan tak kalah gila: mendirikan gereja Scientology (institusi). Skema audit berjenjang berarti Anda harus membayar lebih untuk berada di level yang lebih tinggi. Dan itu juga berarti kerajaan bisnis yang tak tersentuh oleh pajak.

Seperti penjelasan Hubbard sendiri dalam Dianetics 55:

SCIENTOLOGY: is an applied religious philosophy and technology resolving problems of the spirit, Life and thought; discovered, developed and organized by L. Ron Hubbard as a result of his earlier Dianetic discoveries. Coming from the Latin, scio (knowing) and the Greek logos (study), Scientology means „knowing how to know“ or “the study of wisdom.“

Hubbard tahu jika manusia adalah makhluk yang gelisah. Ia tahu jika manusia membutuhkan solusi praktis, dan bukan hanya ceramah dogmatis. Ia mengerti jika agama takkan berarti apa-apa tanpa sebuah tindakan nyata.

Jika Anda datang ke “gereja Scientolog” maka Anda akan menemukan bangunan modern yang lebih mirip kampus. Berisi orang-orang muda, berteknologi canggih, dan materi “khotbah” disampaikan dalam bentuk audio visual. Dan coba lihat topiknya: bukan hanya berbicara sesuatu yang mengawang-awang seperti Tuhan dan hal ghaib, tapi topik-topik praktis yang bisa diterapkan sehari-hari. Seperti “bagaimana berkomunikasi lebih efektif”, “bagaimana cara menjadi bahagia”, atau “hal-hal yang harus Anda lakukan untuk kesuksesan karir”.

Hubbard me-rebranding agama sebagai sesuatu yang praktis, solutif, interaktif, dan aplikatif. Sebuah pembelajaran bagi agama-agama Ibrahim.

gereja scientology source: we.com

Note:

Link download move bisa diklik disini

Untuk mendapatkan perspektif dari sumber primer, Anda bisa membuka website resmi Scientology.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Gaji Anda Kecil dan Merasa Kurang? Baca Cerita Ini

sumber gambar: http://buruhmigran.or.id/

Seorang yang sedang mengalami kesulitan keuangan mendatangai Imam Syafi’i dan mengadukan krisis finansial yang dialaminya. Ia bekerja sebagai buruh dengan gaji lima dirham. Dan gaji itu tidak mencukupi kebutuhannya. Harga sembako terus merangkak naik. Upahnya habis untuk “basa-basi”. Bayar sana, bayar sini.

Setelah mendengar keluh-kesah orang itu, sang imam memberikan saran yang aneh. Imam Syafi’i justru menyuruhnya untuk menemui bos-nya dan meminta pengurangan gaji menjadi empat dirham!.

Koq aneh sih? Wong lagi krisis ekonomi koq malah disuruh nyunat gaji sendiri? Harusnya nyuruh demo naik gaji donk! Tapi karena ini nasihat dari orang sholeh, orang itu pun pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i meskipun dia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah beberapa lama kemudian orang itu kembali datang menemui Imam Syafi’i dan mengadukan kehidupannya yang tidak kunjung mendapat kemajuan. Lalu Imam Syafi’i memerintahkannya kembali untuk mendatangi orang yang telah mengupahnya dan meminta majikannya untuk mengurangi gajinya (lagi), menjadi tiga dirham!

Lelaki ini Cuma bisa geleng-geleng kepala. Hidup sudah susah, ini diminta untuk hidup semakin susah. Mengencangkan pinggang Jennifer Lopez yang bahenol sih enak, lha ini mengencangkan pinggang sendiri yang sudah kurus kering! Tapi lagi-lagi orang itu pun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan membawa perasaan keheranan bercampur rasa pasrah.

Beberapa hari kemudian orang itu kembali datang menemui Imam Syafi’i dan mengucapkan terima kasih atas nasihatnya yang tidak biasa. Dia bercerita, bahwa tiga dirham yang dia dapatkan justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan sekarang hidupnya menjadi lapang.

Dia bertanya, “Ada rahasia apakah di balik semua itu?”

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan yang dijalaninya itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari tiga dirham. Dan kelebihan dua dirham itu telah “mencabut” keberkahan harta yang dimilikinya ketika tercampur dengan harta yang lainnya. Sang Imam lantas mengutip sebuah sya’ir:

“Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya harta itu mejadi banyak. Yang haram pun masuk ke dalam yang halal lalu harta itu merusaknya”.

Gaji dan Kepuasan Kerja

Cerita diatas saya ambil dari Talking in The Heaven karya Agus Setiawan dan Faisal Kunhi. Pesan moralnya sederhana: gaji bukanlah tolak ukur “keberkahan” sebuah pekerjaan. Ada orang gajinya puluhan juta yang kerjaannya cuma datang rapat, duduk, diam, bergaya interupsi sana-sini, pake “nyambi” jadi tersangka korupsi, eh masih beralasan gajinya kurang.

Tapi ada juga pahlawan yang mengabdi di pelosok negeri. Statusnya bukan pegawai negeri. Tunjangannya minim sekali. Tanpa fasilitas disana-sini. Dan mereka melakukannya sepenuh hati tanpa mengharap balasan suatu hari nanti. Mereka mengerti: rezeki Tuhan tak mesti berbentuk materi.

Dalam studi manajemen, gaji memang berkorelasi dengan kepuasan kerja. Tapi tidak selamanya linear. Penelitian yang dilakukan oleh Daniel Kahneman (2010), salah satu peraih Nobel ekonomi menunjukkan angka USD 75,000 adalah batasnya (untuk kasus Amerika). Jika pendapatan Anda dibawah 75rb dollar setahun, maka gaji adalah segalanya. Tapi jika Anda memiliki pendapatan diatas 75rb setahun (US dollar ya cuk, bukan IDR), maka “there’s something that money can’t buy”, dan Anda akan melakukan sesuatu bukan hanya semata-mata karena uang.

Berapa “angka pendapatan sehingga otak kita ga cuma mikir duit” di Indonesia?

Karena nilai 75rb USD sekitar 2x pendapatan perkapita, dan rata-rata pendapatan perkapita Jakarta adalah 135 juta, maka angka 270 juta adalah masuk akal. Artinya jika pendapatan kita selama setahun kurang dari 270 juta (22,5 juta per bulan), maka sangat wajar jika kita menjadi manusia mata duitan dan rela panas-panasan untuk berdemo dari pagi sampai sore hari demi kenaikan gaji.

Tapi daripada berorasi dan menutup jalan yang ujungnya malah bikin hidup orang lain susah, yang wajib kita lakukan adalah “memantaskan diri” untuk dibayar mahal. Dengan menciptakan nilai tambah yang bisa membantu dan mempermudah hidup orang lain.

Dan jika gaji Anda sudah puluhan juta sedangkan kerjaan-nya cuma datang rapat, duduk, diam, sok interupsi sana-sini, jalan-jalan keluar negeri bawa family, sambil teriak-teriak minta kenaikan gaji, maka saran Imam Syafi’i diatas, patut untuk dicoba.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Wahai Blogger Bayaran, Tolong Perhatikan 3 Hal Ini

Di suatu siang yang damai, tiba-tiba ada email masuk:

“Hi Yoga, how are you? We met in ***** at the ****** my name is Bunga a Jakarta based blogger/instagramer, I have a proposal to do a collaboration with you, please check it out and let me know what you think about it.”

Oh si Bunga, bukan nama blogger sebenarnya. Ia berbasa-basi menanyakan kabar sambil tak lupa mencantumkan “proposal kerjasama”. Isinya? Mulai data statistik follower, contoh brand yang pernah di endorse, dan tak lupa: rate card harga.

Dia memasang tarif jutaan untuk sekali post di socila media (blog/twitter/instagram/facebook). Bagi yang belum tahu, blogger sekarang sudah menjadi profesi yang menjanjikan. Dan untuk urusan rupiah, jangan salah. Blogger yang sudah punya nama, bisa mematok harga belasan jutaan rupiah untuk sekali postingan di media sosialnya.

Bayangin cuk! Ngepost di media sosial doank dapat belasan juta! Masih mau pake media social Cuma buat curhat dan nge-share link bokep? (terkutuklah engkau wahai spammer link bokep!!!).

Tim marketing brand-brand besar menggunakan blogger (atau istilah kerennya Key Opinion Leader) untuk menembak ceruk pasar yang tak terjangkau media konvensional. Selain itu emotional bonding antara blogger dan para pengikutnya adalah hal yang paling dicari. Semakin berpengaruh seorang blogger, maka semakin mahal ongkos nge-postnya.

Dari berbagai penawaran blogger yang sering saya terima, setidaknya ada 3 hal yang perlu kita perhatikan sebelum mengajukan “rate card” dan menjadi paid blogger (blogger yang dibayar oleh brand).

  1. “Siapa” lebih penting dari “Berapa”
http://opusfidelis.com

Hal pertama yang sering ditanyakan pihak brand atau agency adalah “Bro/Sis followernya berapa?”. Angka pengikut memang penting, tapi sebenarnya ada pertanyaan yang lebih penting: “Profile followernya seperti apa? Siapa mereka?”.

Pertanyaan “Siapa” akan menentukan apakah blogger itu cocok untuk merepresentasikan brand. Karena pada akhirnya, fans/follower adalah tujuan utama sebuah brand beriklan. Jika Anda berjualan terasi masak tentu lebih pas jika bekerja sama dengan @farahquinnofficial dengan follower ratusan ribu daripada @princessyahrini yang punya jutaan pengikut.

Lagipula zaman sekarang fans/follower di dunia maya bisa dibeli. Pingin menang lomba di facebook yang berdasarkan likes? Pake aja like ads. Ingin memenangkan pemilihan presiden? Bikin aja tim sukses untuk jadi cyber warrior #eh…

  1. Hard vs soft sell
http://cdn.onextrapixel.com

Dalam blog, content is the king. Seorang blogger berbayar harus mau dan mampu memasukkan brand ke dalam content blog mereka. Secara sederhana, ada dua cara untuk “menyelundupkan” brand yang di endorse, hard sell dan soft sell.

Hard sell disini bukan berarti menjual dengan kekerasan, tapi lebih pada pola komunikasi brand seorang blogger kepada pengikutnya. Hard sell is straightforward selling. Blogger akan menunjukkan produk/jasa, men-highlight kelebihan atau fiturnya, dan biasanya ditutup dengan call to action untuk membeli/berpartisipasi. Contoh:

“Eh tau ga sih Terasi XYZ? Itu lho terasi yang mengandung Omega 4 dengan vitamin Z kompleks. Bisa menyedapkan makanan sekaligus menyehatkan pikiran. Cobain deh, Cuma 10rb. Dapetin di IndoApril dan Betamaret terdekat ya! #terasi #terasiXYZ #hidupterasi #akucintaterasiXYZ”

Sedangkan soft sell adalah jualan “halus”. Brand akan di infuse senatural mungkin. Bahkan di beberapa post instagramer berbayar, mereka tidak menyebut merek, yang penting brand itu terlihat di gambar. Contoh:

“Lagi pingin masak ayam goreng presto pake sambel terasi nih. Pas belanja di G-ant terus nemu promo terasi baru. Ada yang udah pernah nyoba? #lunch #ayamgoreng #sambal #terasibaru”.

Penggunaan hard sell vs soft sell biasanya bergantung dari tujuan brand dan pilihan blogger itu sendiri. Karena ada beberapa blogger yang “anti berjualan garis keras”. Dalam artian, mereka tidak ingin fans mereka “diracuni” postingan bersponsor yang bisa mengurangi kredibilitas postingannya.

  1. Post relationship
www.poketors.com

Yang tak kalah penting untuk diingat ketika seorang blogger mempromosikan sebuah brand, adalah hubungannya dengan brand setelah periode kerjasama itu berakhir. Pernah ada kejadian sebuah maskapai memberangkatkan blogger jalan-jalan. Saat pulang, ternyata pesawatnya delay. Dodolnya, si blogger yang kzl (kesel) mem-post ke media sosial. Terjadilah perang dunia ketiga antara maskapai dan blogger. Lha wong uda dikasih tiket gratis koq masih ngeluh kalo delay sebentar?

Hukum fisika yang berlaku: jangan pernah mendiskreditkan sebuah brand jika Anda masih ingin mendapatkan job dari dia.

By the way, semua yang saya tulis diatas berdasarkan perspektif seorang brand owner. Ada yang mau berbagi pengalaman sebagai paid blogger?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Masih Banyak Wanita Pintar yang Jadi Korban Buaya Darat?

“Tolong nasihatin bahwa menggugurkan kandungan itu dosa besar… lebih baik menikahiku.. terserah setelah anak ini lahir dia mau menceraikan, tapi aku ga mau kalau disuruh gugurin kandungan… dosa besar..”

Cerita dari teman perempuannya teman perempuan saya (jangan diartikan jadi girl friend donk!) waktu zaman kuliah membuat saya tercengang. Bunga, bukan nama sebenarnya, rupanya sedang hamil, padahal belum menikah! Koq bisa kejadian?

Rupanya dia menjadi korban gombalan pacarnya, sebut saja Si Borokokok. Borokokok dan Bunga memang sudah lama berpacaran sejak zaman kuliah. Hubungan mereka sempat putus nyambung, pasang surut, dan naik turun seperti nilai tukar rupiah. Sempat dikira sudah masuk tahap merger ke arah pernikahan, eh sekarang Borokokok malah meminta bayi di kandungan Bunga untuk segera dilikuidasi.

Mungkin Borokokok ga pernah hamil, dan ga bakal ngerasain mengandung bayi di perut. Saya ngerasain perut yang mengandung lemak aja udah kepayahan. Apalagi mengandung seorang bayi mungil belahan jiwa yang kelak akan menjadi penerus masa depan dunia?

Padahal Bunga adalah wanita karier yang pintar. Lha koq bisa bego-begoin sama Borokokok?

Koq Bunga bisa begitu bodoh dan tidak belajar dari kasus-kasus “tabrak lari” sebelumnya. Kan kejadian seperti ini sudah menjadi rahasia umum. Sampai diangkat ke layar kaca macam sinetron “Pernikahan Dini” (keliatan banget umurnya) atau film “Juno”. Seharusnya dia sudah tahu donk, banyak kasus klise dimana perempuan jadi korban gombalan laki-laki buaya darat.

Pertanyaan sederhana: kenapa masih banyak waniita berpendidikan yang menjadi korban?

Pleasure Seeker

Kejadian ini kembali menegaskan premis jika pada dasarnya manusia tidak rasional. Jika teman saya rasional, seharusnya dia tidak akan menyerahkan keperawanannya kepada lelaki yang belum mempersuntingnya. Jika si Borokokok rasional, seharusnya dia berhati-hati dan menggunakan kontrasepsi sewaktu menyemprotkan benihnya (eh….).

Kita memang sangat tidak rasional. Jika manusia rasional, takkan ada perokok (karena kita tahu itu merugikan kesehatan), tak ada penderita obesitas (karena semua tahu terlalu banyak makanan berlemak bisa membunuhmu), takkan ada sampah berserakan di jalan (karena logikanya, semua tahu jika sampah menyebabkan penyakit macam banjir dan kutukan lainnya), dan tak akan ada yang mau jadi pengguna narkoba.

Tapi kenyataannya, kita tidak melakukan apa yang bermanfaat bagi kita, tapi apa yang menyenangkan bagi kita. Manusia modern pada umumnya, meminjam tagline salah satu es krim, adalah seorang “pleasure seeker”, pencari kenikmatan. Enak duluan, risiko dipikir belakangan.

Rokok itu enak, jadi kita tak peduli dengan paru-paru. Lemak itu nikmat, persetan dengan kolesterol. Membuang sampah di tong itu ribet, lebih gampang tinggal buang dimana saja. Narkoba itu asoy, jika kecanduan itu urusan belakang.

Berpikir Lebih Panjang

Daniel Kahneman, salah satu pemenang nobel pernah menulis tentang dua jenis cara berpikir. Sistem 1 dan sistem 2. Sistem 1 adalah sistem “berpikir pendek”, dimana tidak diperlukan pekerjaan mental yang berat. Terkadang kita menjalankan sistem 1 berdasarkan insting dan kebiasaan. Misalnya saat mengendarai kendaraan di jalanan sepi, membaca sekilas headline koran hari ini, memasak masakan yang sudah kita kuasai, atau menjawab pertanyaan sederhana berapa 1+1.

Sistem 2 bekerja lebih kompleks. Ia akan bekerja jika sistem 1 tidak mampu menjawab permasalahan yang ada. Seperti saat menghitung 25 x 17 tanpa kalkulator, mengingat nomer handphone, memarkirkan kendaraan di sudut sempit, mengisi SPT pajak, atau bermain sudoku.

Pada kasus Bunga teman saya, rasa cinta di sistem 1 telah mengambil alih kendali logika sehingga sistem 2 tak pernah muncul ke permukaan. Padahal untuk memunculkan sistem 2, kita hanya perlu mengajukan tiga pertanyaan sederhana. Tiga pertanyaan yang akan memaksa kita melakukan evaluasi dan mengaktifkan sistem 2.

a.       Apakah yang kita lakukan ini baik?

b.      Apakah yang kita lakukan ini benar?

c.       Apakah yang kita lakukan ini berguna?

Sayangnya nasi sudah menjadi bubur. Nafsu atas nama cinta sudah membutakan logika. Kini saya hanya bisa berdoa agar si Borokokok sadar dan mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Semoga dengan menulis ini, para gadis yang sedang berpacaraan mau berpikir berkali-kali sebelum menyerahkan kesucian jiwanya atas nama cinta.

Untuk Bunga, semoga mampu bersabar dalam taubat. Tidak usah menggugurkan kandungannya. Karena wanita memiliki rahim, dan Tuhan itu ar-rahim. Maha pengasih. Dan kasih Tuhan tidak mengenal status orang suci atau pendosa. Semoga kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga, seperti sajak Soebagio Sastrowardoyo:

Karena dosa, Kita dewasa.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Chichikov

“Tuan menginginkan orang-orang yang sudah mati?” tanya Sobakevich heran.

“Ya… yang sudah tidak ada” jawab tamu dihadapannya menegaskan.

Bagaimana mungkin, seseorang ingin membeli petani-petaninya, yang sudah mati? Sobakevich si tuan tanah kembali bertanya. Tapi sang pembeli, sangat serius dengan tawarannya. Akhirnya mereka sepakat di harga dua setengah rubel. Untuk membeli petani yang sudah tak ada lagi. Transaksi jual beli atas jiwa-jiwa mati.

Pembeli itu, Chichikov, adalah pejabat licik yang bersembunyi dalam topeng kesopanan aristokrat. Pakaiannya selalu rapi, tubuhnya terbungkus jas dari satin atau beludru. Memiliki kereta dengan kuda yang sehat. Berkeliling Rusia untuk mencari tuan tanah, dan menawarkan transaksi konyol: Chichikov akan membeli petani mereka yang sudah tiada.

Korupsi

Chichikov adalah tokoh dalam Dead Souls karya Nikolai Gogol. Sastrawan besar Rusia yang mengkritik bobroknya birokrasi dalam karya sastra indah yang penuh nuansa satir. Chichikov digambarkan sebagai birokrat tulen: pandai menjilat atasan, bermuka manis, tapi sebenarnya akan melakukan apapun untuk keuntungan pribadinya.

Ilustrasi from Russia-antique.com
Ilustrasi from Russia-antique.com

Ia pernah menjadi petugas bea cukai. Menolak segala macam suap kecil hanya agar bisa dipromosikan ke kantor pusat sehingga ia bisa melakukan korupsi yang lebih besar: penyelundupan terselubung. Ketika kejahatannya mulai terendus, ia melarikan diri dan berpikir untuk melakukan bisnis “jiwa-jiwa mati”.

Diceritakan Rusia pada saat itu akan mengadakan sensus penduduk setiap beberapa tahun. Sayangnya data penduduk seringkali tidak update. Banyak penduduk yang tercatat meskipun pada kenyataannya mereka sudah mati. Pada umumnya petani penggarap ladang. Chichikov melihat peluang.

Rencana Chichikov sederhana: ia akan membeli petani mati (disensus tercatat masih hidup), mengurus akte pembelian sehingga ia secara resmi “tercatat memiliki petani”, untuk kemudian menjadikan akte kepemilikan petani itu sebagai jaminan untuk mendapatkan pinjaman.

Chichikov sudah dibutakan oleh harta. Yang ia tahu, bagaimana mendapatkan rubel dengan cara mudah. Meskipun harta itu didapat dari hasil korupsi, menjilat, atau menipu, bukanlah soal. Ia mungkin tidak tahu firman Tuhan:

“Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik..” Al-Baqarah 168.

Kostanjoglo

Ketika aparat hukum mulai mencurigai transaksi aneh ini, Chichikov melarikan diri. Ia sempat singgah di sebuah desa dan bertemu tuan tanah kaya yang rajin bekerja.

“Kalau Tuan ingin cepat kaya.. Tuan tak akan pernah kaya. Tapi, kalau Tuan ingin menjadi kaya tanpa memikirkan berapa lama Tuan membutuhkan waktu, Tuan akan menjadi kaya dengan cepat. Orang harus mencintai pekerjannya. Tanpa itu Tuan tak dapat melakukan sesatu.” Konstanjoglo menjawab pertanyaan Chichikov tentang cara cepat menjadi kaya.

Chichikov tercengang mendengar petuahnya. Dan beralasan jika ia tidak terlahir dari golongan kaya. Tapi Konstanjoglo menentang pendapat itu.

“Orang yang dilahirkan dengan beberapa ribu dan dibesarkan dengan beberapa ribu tak akan pernah mencetak uang, karena ia telah mengembangkan segala macam kebiasaan mahal dan segala macam hal yang lain.

Orang harus mulai dari permulaan dan bukan dari tengah, dari satu kopek, dan bukan dari satu rubel. Dari bawah dan bukan dari atas. Barulah orang akan mendapat pengetahuan yang menyeluruh mengenai hidup dan juga orang-orang, yang kemudian hari akan berurusan dengannya.

Kalau Tuan telah mengalami semua itu dan telah mengerti bahwa setiap uang tembaga harus dijaga baik-baik sebelum Tuan dapat melipatkannya menjadi tiga, dan apabila Tuan telah melewati segala macam cobaan dan bencana Tuan akan menjadi demikian terlatih dalam berbagai cara dunia, hingga Tuan tak akan pernah membuat kesalahan dan tak akan pernah bersedih dalam usaha apa pun.”

Di akhir novel, Chichikov harus merasakan akibat perbuatannya. Ia dijebloskan kepenjara. Tapi Chichikov beruntung. Pangeran bersedia mengampuninya setelah dibujuk oleh Murazov, pembela hukumnya. Chichikov pun hanya dihukum ringan: hartanya disita dan ia diminta pergi meninggalkan kota.

Saat diperjalanan, Chichikov terus mengingat pesan dari Murazov.

“Tuan tak punya kecintaan akan kebaikan, paksalah diri Tuan melakukan kebaikan tanpa suatu kecintaan kepadanya… Paksalah diri Tuan beberapa kali… nanti Tuan akan belajar mencintainya”.

Ia pun memulai hidup baru. Dari awal, tanpa memiliki apa-apa. Chichikov yang dulunya pejabat kalangan atas, sekarang harus menjadi rakyat kelas bawah.

Tapi bukankah itulah hukumnya? Orang harus mulai dari bawah, dan bukan dari atas.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Dua Burung

Netizen dihebohkan dengan Kakek Winnie The Pooh didaerah Sidoarjo (dekat rumah ortu saya!). Si Kakek dengan tampang memelas dan mengaku terkena stroke, ditemukan berkeliaran di jalan dan kemudian dilaporkan ke radio setempat. Simpati berdatangan. Aparat bergerak cepat. Kakek langsung “diselamatkan” dan dibawa ke shelter penampungan.

sumber: Merdeka.com

Simpati berubah menjadi caci maki setelah kemudian terpapar fakta mencengangkan. Si kakek ternyata punya rumah layak, sepeda motor belasan juta, dan pernah menikah 7 kali! (saya aja kalah T_T). Bahkan saat diamankan, ia kedapatan memegang uang ratusan ribu rupiah. Nilai yang takkan terduga jika melihat penampilannya.

Si Kakek berusaha mengoptimalkan bentuk fisiknya untuk menghasilkan pundi-pundi materi. Dan yang lebih parah: sepertinya pihak keluarga tahu. Bahkan seolah-olah menjadi “peminta professional” yang takkan pulang sebelum membawa pulang ratusan ribu rupiah.

Mental “peminta” bukanlah hal yang salah. Karena kita bukanlah makhluk serba bisa. Asal kita tahu, meminta kepada siapa. Kepada manusia? Kepada jin penguasa laut selatan? Meminta berkah kepada leluhur dan lelembut? Atau pemilik dari segala alam?

“Berdoalah (mintalah) kepadaKu, niscaya Aku kabulkan untukmu” janji Tuhan dalam Al-Mukmin ayat 60.

Sedangkan untuk urusan dengan manusia, kita dihadapkan pada dua pilihan: menjadi peminta atau pemberi. Seperti cerita yang saya cuplik dari ON karya Jamil Azzaini.

Pilihan

Seorang sufi pernah bercerita bahwa sahabatnya yang bernama Al-Balkhi pada suatu hari berpamitan hendak berdagang ke suatu negeri untuk mencari rezeki dari Allah. Sebelum berangkat, ia berpamitan dengan sahabat karibnya, Ibrahim ibn Adham. Ia menyampaikan kepada Ibrahim bahwa ia ingin pergi dalam jangka waktu yang lama. Ternyata beberapa hari kemudian ia sudah kembali. Ketika Ibrahim berjumpa Al-Balkhi, ia bertanya:

“Apa gerangan yang membuat engkau cepat pulang?”

Mendengar pernyataan itu, Al-Balkhi menceritakan, “Dalam perjalanan aku singgah di suatu tempat yang teduh untuk beristirahat. Tiba- tiba terlihat di hadapanku seekor burung yang pincang dan buta. Aku merasa heran sambil berkata di dalam hati ‘Bagaimana burung ini bisa hidup ditempat semacam ini, padahal ia tidak bisa melihat dan tidak bisa berjalan?’

Sejenak kemudian, seekor burung lain datang membawa makanan menghampiri burung yang cacat itu. Lalu makanan itu diberikan. Ternyata burung yang membawa makanan itu berulang- ulang datang sehingga burung yang pincang dan buta itu merasa puas dan kenyang. Timbullah angan-angan dalam pikiranku:

‘Sesungguhnya Sang Pemberi rezeki terhadap burung yang pincang dan buta ini tentu berkuasa memberi rezeki ini padaku.’ Akhirnya, pada saat itu juga aku memutuskan tidak perlu berdagang, lalu kembali pulang lagi ke kampungku.”

Setelah mendengar kisah sahabatnya itu, Ibrahim ibn Adham berkata padanya,

“Mengapa kamu lebih senang memilih menjadi burung yang pincang dan buta, yang hidupnya ditanggung oleh burung lain? Dan mengapa kamu tidak memilih untuk menjadi burung yang sanggup hidup sendiri, sehingga bisa menolong kawannya yang pincang dan buta itu? Apakah kamu tidak tahu bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah?”

Lalu Al-Balkhi bangkit mendekati Ibrahim sambil berkata padanya:

“Sungguh Anda telah menjadi mahaguru saya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail