Category Archives: Travel around the world

Jalan-jalan makan-makan senang-senang

#94 Traveling Effect: Kenapa Traveling Terbukti Membuat Kita Bertambah Kaya

Boleh percaya boleh tidak, manusia bisa memiliki peradaban maju seperti sekarang karena nenek moyang kita doyan jalan-jalan.

Setidaknya itu salah satu hipotesa Yuval Noah Harari dalam karya monumentalnya: Sapiens. Menurut Pi-Ej-Di (pengucapan Ph.D zaman Now) asal Israel itu, ada suatu masa ketika nenek moyang kita menjadi seperti si bolang: gemar berpetualang.

Zaman old itu sekitar 45.000 tahun lalu dimana sapiens generasi awal belum mengenal agrikultur atau revolusi industry. Mereka harus hidup dengan berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain hanya untuk bertahan hidup.

Tapi ternyata kebiasaan menjelajah ini menjadi metodologi paling ampuh untuk mendapatkan ilmu baru. Karena mereka harus mampu mengembangkan kemampuan analisa dengan cepat untuk menjawab pertanyaan yang menyangkut hidup dan mati.

Makanan apa yang aman dimakan? Apakah ada bahaya mengancam? Apa yang harus kita lakukan saat udara dingin? Kemana saya harus pindah setelah ini?

Rumusnya ternyata sederhana:

Tempat baru = pengalaman baru = pengetahuan baru.

Traveling membantu nenek moyang kita untuk mengembangkan pohon pengetahuan yang pada akhirnya mendorong perkembangan kemampuan berpikir manusia.

Seiring kemajuan peradaban, semangat traveling berkembang menjadi semangat penaklukan. Manusia menjelajah untuk menemukan dan mendapatkan wilayah baru. Dan ternyata para imperium besar menginvestasikan sumber daya mereka untuk dua kata sederhana: terra incognita, Tanah tak dikenal.

Pada tahun 1519 Spanyol mengutus pelaut 39 tahun yang ingin mengelilingi bumi dan memutus rantai perdagangan rempah: Ferdinand Magellan. Meskipun ia terbunuh di Philipina, kapal itu, Armada de Molucca, mampu kembali ke Spanyol pada 1522.

Perjalanan Magellan berdampak besar dan mematahkan berbagai mitos: bumi datar dengan ujung dunia, legenda monster laut, peta navigasi jadul yang masih banyak “blank”-nya, dan banyak pengetahuan yang membuat Spanyol mampu menjadi penguasa dunia hingga ratusan tahun kedepan.

Jika kita tarik ke zaman now maka Traveling = pengetahuan baru = kekayaan baru.

Ada banyak bukti orang kaya yang dapat inspirasi dari jalan-jalan. Johny Andrean membuka bread talk gara-gara main ke Singapura. Hendy Setiono dapat ide usaha kebab saat mbolang ke Qatar, sejak itu lahir kebab Baba Rafi. Bahkan Jack Ma pernah menyebut jika trip singkat-nya ke Australia saat muda adalah “perjalanan pembuka mata”.

Sesakti itu kah #efektraveling? Sampai Prof Rhenald Kasali mewajibkan mahasiswanya untuk “get lost” diluar negeri?

Penelitian dari Godart et al (2014) dalam Journal Academy of Management menunjukkan jika professional yang pernah bekerja diluar negeri cenderung lebih kreatif daripada yang tidak. Riset lain dari Zimmermann dan Neyer (2012) menemukan jika traveling membuat mahasiswa subjek penelitiannya lebih extrovert dan terbuka terhadap hal-hal baru.

Kenapa? Karena traveling memberikan kita sudut pandang berbeda dan memaksa kita keluar dari zona nyaman yang ada. Saat traveling kita belajar menjadi minoritas, dan itu berarti harus menerima nilai-nilai yang tak sama.

Jika masih muda, siapkan paspormu, kemasi kopermu, tentukan tujuan petualanganmu. Ingatlah petuah Mark Twain:

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.”

Waktunya ngerasain #fektraveling mumpung ada #KursiGratis
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Secret of getting India Visa in Just One Day

My friend asked me how to get India visa in one day only. Yes, believe it or not: One day visa application process.

Normally, you need 4 days to a week for this process. The application is made using two options available: online or offline.

If you have a credit card and too lazy to move your ass (or living outside of Jakarta), it’s better to apply it online. Just access this link, fill the form, and you will receive E-visa in a week. No need to come to embassy for interview session (finger print scanning actually..).

If you need faster processing time, offline process is the answer. Just visit Indian Embassy in Kuningan area in Jakarta, near of Singapore and Nederland embassy.

In front of Taj Mahal gate

The application time open from 9 – 12 AM, Monday to Friday. After clearing security check in the front line, we must queue to submit our application file. What kind of file? It depends on your visa type. The list is here. After you fill it, just print and bring the other supporting documents.

Getting India visa is not difficult. They are not like US who screen foreigner strictly.

So, what is the secret to get one day visa process?

Based on my personal experience, it’s a little bit dramatic. I applied India visa around May 2017. Continue reading Secret of getting India Visa in Just One Day

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Nudies Party ala Onsen

Jika berkunjung ke negeri Sakura, ada satu kegiatan yang wajib masuk to do list activity: mandi bareng di onsen!.

Pemandian air panas di Jepang dapat dibagi menjadi dua kategori berdasarkan sumber airnya. Ada yang bersumber dari air alami, disebut Onsen. Dan ada yang berasal dari air keran yang dipanasi dan diberi berbagai mineral dan aroma therapy, namanya sento.

Onsen biasanya ada di daerah pegunungan dan menjadi satu paket wisata dengan resort yang ada. Otomatis harganya jadi laham bo’ (bisa ribuan yen). Sedangkan sento, karena menggunakan air panas buatan, punya tiket masuk yang lebih terjangkau dan bisa ditemukan di kota besar.

Orang Jepang sendiri sangat suka mandi di pemandian umum. Kenapa? Karena zaman dahulu, ga semua orang bisa punya kamar mandi. Apalagi yang ada air panasnya. Sehingga orang berbondong-bondong datang ke onsen untuk mencari kehangatan mandi air panas ditengah udara Jepang yang dingin.

Karena penasaran, akhirnya saya dan Pipi Kentang googling daftar onsen yang ada. Kebetulan didekat penginapan kami ada Funaoka Onsen, ‘sento’ tradisional yang kata Wikipedia, sudah berdiri sejak tahun 1923 (ngalahin Nyonya Meneer cuy!).

Foto dari depan. Ga boleh foto didalem cuy. dok pribadi

Telanjang Bulat

Setelah sampai, kami agak kagok. Karena ga bawa handuk sedangkan semua orang sudah siap dengan peralatan mandinya. Setelah membayar tiket 430 yen, kami harus membayar extra 200 yen untuk membeli handuk (ya kali bajunya dibuat handuk).

Setelah itu pengunjung harus masuk ke ruang ganti. Lebih tepatnya, ruang copot baju. Karena disini Anda harus menanggalkan semua pakaian seperti mau mandi dirumah sendiri. Rasanya gimana? Aneh dan ga biasa. Apalagi pas baru masuk and ngeliat bapak-bapak dengan santainya nyopot baju disamping saya.

Aturan mandi di onsen mengharuskan kita untuk telanjang bulat saat masuk kedalam. Agak kagok juga sih, puasa-puasa ngeliat “rudal” orang. Klo kalah gede gimana? Kan maluuuu -_-

Setelah itu saya masuk ke ruang pembilasan. Disini kita diminta menyiram badan kita sebelum masuk ke kolam. Abis gebyar gebyur asal basah, masuklah saya kedalam lokasi pemandian.

Orang-orang sudah berendam dengan santainya. Kondisinya cukup ramai, meski masih jam setengah 4 sore (padahal Funaoka onsen baru buka jam 3). Mungkin karena onsen ini menjadi salah satu top visit places di forum-forum travel, banyak turis mampir untuk berendam.

Karena banyak turis yang datang saya bisa melakukan uji ANOVA (analysis of variance) dari hipotesis yang saya dapat dari video J*V, bra*zer, atau b*ngbros. Oh “samurai” orang Jepang segitu, “pedangnya” orang bule segitu, “goloknya” orang Timur Tengah segitu. Hehehe.

Rasa airnya gimana?

Panassss! Saya yang baru berendam 15 menit udah ngerasa berendam 15 tahun. Untungnya Onsen ini menawarkan berbagai pilihan air panas. Ada yang regular (air panas biasa), beraroma rempah-rempah, sampai yang dialiri listrik! Kita tinggal pindah-pindah kolam untuk merasakan sensasi berendam yang berbeda-beda.

Saya paling suka kolam rempah. Aroma airnya segar. Khusus untuk yang berlistrik, airnya mendapat aliran listrik ber-watt rendah. Rasanya seperti digelitik dan kedut-kedut di kulit. Apalagi di bagian sensitive kita, Auuwwww.

Andai ada di Indonesia…

Zaman sekarang, karena semua orang sudah punya kamar mandi dan pemanas air, onsen sudah berganti fungsi. Dari sekedar tempat mandi dan mensucikan diri (ajaran Buddha menempatkan mandi sebagai bentuk penyucian), menjadi wahana relaksasi dan rekreasi.

Saya tidak bisa membayangkan jika ada ritual mandi telanjang bareng seperti ini ada di Indonesia. Sudah pasti dicurigai jadi sarang pesta Gay dan jadi target penggrebekan FPI.

Padahal mandi bareng di onsen punya filosofi social yang tinggi. Kewajiban telanjang bulat membuat kita membuang semua sikap “ja-im” dan malu-malu. Suasana onsen yang rileks juga sangat cocok untuk menambah keakraban dan bonding time bersama teman.

Tapi jujur saja, saya masih merasa malu. Apa karena itu kemaluan saya besar?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Orang India Masih Suka Membaca Koran?

Dalam kunjungan saya ke India, ada satu hal yang menarik perhatian soal media: surat kabar cetak ternyata masih hidup bahagia!

Awalnya saya tidak percaya saat disodori data oleh media agency dan team local di Bangalore. Masa sih print penetration masih tinggi? Hari gini siapa sih yang masih baca Koran cetak selain orang tua?

Dibandingkan dengan belahan dunia lainnya, Koran-koran India masih Berjaya. Spending iklan masih tumbuh antara 8-10%. Hampir setiap hari ada pengiklan yang memesan “jacket ads” di halaman depan (biasanya harga paling mahal).

Advertising spending di print bahkan mengalahkan televisi. Pembaca masih setia, tingkat readership surat kabar masih tinggi (60%). Masih ada 70.000 media cetak yang melayani hampir 700 juta pembaca.

Kenapa? Setelah melakukan observasi langsung dan meeting dengan media local, menurut saya setidaknya ada tiga alasan sederhana.

Harga yang Murah

Boleh percaya boleh tidak, di India Anda bisa mendapatkan Koran dengan harga hanya 5 rupee (1.000 rupiah) saja! Harga ini masih bisa lebih murah lagi jika berlangganan bulanan. Jajanan pasar Jaelebi yang disukai Sharoo di film Lion aja berharga 10 rupee. Lha ini Koran 20-an halaman full colour cuma seharga setengahnya!

Harga yang sangat terjangkau membuat surat kabar cetak menjadi bagian keseharian yang tak terlupakan bagi semua kalangan. Tiada pagi tanpa membaca Koran dan segelas kopi.

Koq bisa murah banget sih? Karena mereka melakukan subsidi silang. Porsi pendapatan berasal dari iklan dan digunakan untuk mensubsidi biaya produksi (kata forum internet, biaya produksi asli satu koran sekitar 30 rupee, dijual rugi hanya 5 rupee). Selain itu economics of scale dalam jumlah besar, bahan baku kertas yang berlimpah, dan man power yang murah, membuat produksi dapat lebih efisien.

Budaya baca yang tinggi

Factor kedua yang membuat India masih setia dengan surat kabar cetak adalah tingginya budaya baca disana. Menurut NOP World Culture Scores (2005), rata-rata orang India menghabiskan 10,2 jam sepekan untuk membaca. Sangat berbeda dibandingkan orang Indonesia yang menonton TV selama 20 jam.

Ini juga dibuktikan dengan tingginya jumlah buku baru yang terbit. Total lebih dari 90.000 judul buku baru diterbitkan di India. Indonesia? Masih jauh, kita hanya mampu menghasilkan 24.000 judul buku (data 2009).

Menurut Nielsen, market value buku di India mencapai 261 milyar rupee (sekitar 52 trilyun rupiah). Ini menempatkan India sebagai pasar buku terbesar keenam dunia, dan nomer dua untuk penerbitan dalam bahasa Inggris.

Tingginya budaya baca India sebenarnya bukan hal yang baru. India kuno sudah menghasilkan bacaan kelas dunia seperti Mahabharata atau Ramayana. Orang Asia yang menjadi pemenang nobel sastra pertama juga berasal dari India: Rabindranath Tagore.

Penetrasi online yang belum maksimal

Meskipun India memiliki image sebagai “silicon valley of Asia”, dan banyak bos-bos perusahaan IT multinasional berasal dari sana (CEO Google Sundar Pichai misalnya), ternyata penetrasi digital mereka belum merata. Secara rata-rata baru 27% penduduknya yang melek internet (mayoritas kota besar).

Pengalaman saya mengunjungi beberapa kota di barat dan utara India, sinyal data akan bervariasi tergantung Negara bagian. Provider yang setrong (aduh bahasanya) di Uttar Pradesh misalnya, bisa jadi justru ngilang saat masuk ke Negara bagian Maharashtra.

Tapi tentu digital terus tumbuh tak tertahankan. Penetrasi smartphone dan semakin terjangkaunya paket data menjadi pemicunya. Salah satunya ada provider gila yang rela memberikan free unlimited data hingga satu tahun! Tindakan edan ini diikuti provider yang lain dengan memberikan diskon data. Digitalized India hanyalah soal waktu.

Apa yang bisa dilakukan surat kabar Indonesia?

Kita tahu industry media cetak Indonesia memasuki masa sunset. Readership terus turun, pemasukan iklan terus berkurang, dan beberapa media mulai gulung tikar. Meniru jalan India dengan meningkatkan readership lewat harga gila yang super murah ditengah tingginya ongkos produksi sepertinya jalan bunuh diri yang tak perlu dicoba.

India bukan Indonesia. Digitalized news dan migrasi ke online platform sudah menjadi keharusan. Kekuatan media ada di content. Content akan menarik traffic. Traffic akan menarik pengiklan. Untuk urusan berbentuk kertas atau daring, itu hanyalah medium.

http://www.pinkjooz.com/wp-content/uploads/2013/06/newspapers_industry_booming_india.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

“Three Good”

Konon, tingkat peradaban sebuah kota bisa dilihat dari lalu lintasnya. Jika teratur jalanannya, maka teratur pula masyarakatnya. Demikian sebaliknya, semakin ruwet jalanan sebuah kota, maka semakin chaos orang-orang yang ada di dalamnya.

Ketika menginjakkan kaki di Delhi, sebagai manusia eksodus via Jakarta saya sudah mengantisipasi keruwetan yang akan terjadi.

“Paling ga seruwet Jakarta” itu yang ada dalam benak saya.

Tapi begitu menjelajahi jalanan Delhi dan Mumbai, ternyata lalu lintas Jakarta belum ada apa-apanya! Saya tiba-tiba jadi sholeh dan ingat Tuhan karena gaya menyetir yang dekat dengan kecelakaan. Beberapa kali kami menyalip dengan jarak yang tipissss. Klo saya main game Need for Speed, NOS-nya bakal keisi terus.

Bawaannya ngebut, rebutan jalan, salip menyalip, hobi rem mendadak, ditambah klakson yang terus ditekan membuat suasana menjadi seperti konser: ramai dan meriah. Lalu lintas sudah seperti hunger game sehingga berlaku hukum rimba: siapa cepat dia dapat.

Raj, driver yang mengantar kami bilang jika dibutuhkan “3 good” untuk bisa menyetir dengan selamat di Delhi.

Pertama adalah “Good Break”

Rem yang pakem. Jika Anda menyetir di Delhi maka jangan kaget jika tiba-tiba ada benda asing nyelonong ke tengah jalan. Bisa auto rickshaw (bajai) yang lagi belajar nikung kaya nikung pacar teman, orang yang bosen hidup tiba-tiba lari menyebrang, hingga sapi yang like a boss melenggang dengan santai.

(FYI, sapi disini adalah binatang suci yang dilindungi. Dia takkan dimarahi atau diusir. Dan jangan pernah mengajak teman India Hindu Anda untuk makan malam steak tenderloin atau Wagyu!)

Pergerakan kendaraan yang ada di jalanan sangat stochastic menyaingi pergerakan indeks bursa Dow Jones. Sekarang saya tahu kenapa di Indonesia ada ungkapan:

“Ngeles aja lu kaya Bajai!”

Karena ternyata sodara-sodara, di negeri nenek moyang Bajai udah bukan ngeles lagi. Tapi sudah masuk ke tingkat evasion: bisa menghindar dengan sangat lihai. Jangan heran klo selama nyetir tiba-tiba mobil dibelakang sudah nyalip dari samping. Udah kaya ninja aja.

Menurut data WHO, ada 238 ribu kecelakaan jalan raya pada 2013. India adalah Negara dengan jumlah kecelakaan terbesar kedua dunia setelah China. Well, mungkin karena jumlah penduduk mereka 1 milyar lebih.

Good yang kedua: Good horn

Lalu lintas Delhi bagaikan orchestra raksasa yang memainkan symphony Beethoven no 5. Semua orang memainkan alat music klaksonnya dengan bersemangat.

Mulai sedan yang menglakson truk didepannya, tiba2 ada klakson dari mini van yang ingin ikut nyalip, diikuti klakson nyaring bis yang harus ngerem ndadak, dan ditutup dengan auto (sejenis bajai) yang tiba-tiba masuk nyalip si truk.

Saking hingar bingarnya lalu lintas di India, ada tiga kota yang termasuk top 10 kota terbising di dunia: Delhi, Kolkata, dan Mumbai. Tingkat kebisingannya bisa mencapai 100 db (decibel). Kebisingan 100 decibel itu seperti mendengarkan pesawat Jet yang lagi take off dari jarak 300 meter.

My friend, this is the beauty of India. Negara dengan 1,3 miliar penduduk yang penuh cerita. Setelah menceritakan dua Good tadi, Raj terdiam. Saya yang udah penasaran akhirnya bertanya.

“What is the last good?”

Dengan santai Raj bilang: “Good luck”.

Jpeg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

7 Pelajaran Hidup dari Pokemon Go

Pokemon sukses mengguncang dunia. Anak-anak muda sekarang lebih sering bertanya “Sudah punya Pikachu belum?” daripada pertanyaan basa-basi menyindir hati macam “sudah punya pacar atau belum?”.

Disaat Amerika sedang mengirimkan satelit untuk memfoto permukaan Pluto, kita masih ketakutan jika gara-gara game ini kantor pemerintahan kita dimata-matai mbah Google, atau tembok belakang kampus tempat nongkrong mahasiswa sambil ngupil bisa ketahuan.

Saya sudah 2 minggu bermain Pokemon Go. Dan menurut saya ada banyak aspek positif yang kita ambil hikmahnya. Karena seorang gamer sejati pasti tahu, games bukan sekedar permainan, tapi juga pembelajaran kehidupan.

#1 Jika peluang dalam hidup diibaratkan Pokemon, maka melarikan diri bukan solusi.

1

Kita harus menghadapi seseram apapun “pokemon” (peluang dan masalah kehidupan) yang ada di depan kita. Karena winner never quit, quitter never win.

#2 Semakin banyak ‘pokemon’ yang Anda tangkap, level kehidupan Anda naik

2Bersyukurlah jika sedang banyak masalah. Itu adalah ‘pokemon’ yang dikirimkan Tuhan untuk menguji kita. Semakin banyak permasalahan hidup yang kita selesaikan, Tuhan akan menaikkan kualitas diri kita

#3 Anda ingin maju? Bergeraklah

bergerak

Pokemon memaksa pemainnya untuk keluar rumah karena kemajuan tidak didapat dengan duduk manis didalam rumah. Kita harus bergerak mencari peluang.

#4 Setelah menangkap urusan belum selesai, kita harus berlatih

battle

Sudah berhasil pokemon naga seperti Dratini? Tugas Anda belum selesai. Ia harus dilatih. Demikian juga hidup. Setiap bakat adalah ‘pokemon’ yang kita miliki. Kita harus mengasahnya untuk menjadikannya ahli.

#5 Jika ingin kuat, kita harus bekerja sama

kerjasama

Pokemon Go memaksa pemainnya untuk memilih team ketika memasuki level 5. Tidak ada lone wolf atau single fighter. Karena tidak ada Superman atau rambo di dunia nyata. Semua manusia harus bekerja sama.

#6 Pokemon Go mengajarkan saya jika manusia adalah binatang buas yang tak pernah puas

3

Untuk apa kita menangkap pokemon? Memenuhi hasrat menguasai? Mengeksploitasi makhluk lain? Sudah berapa pokemon yang kita punya? 10, 20, 30? Kenapa kita tak pernah puas dan terus mencari pokemon lagi?

#7 Pada akhirnya kebahagiaan ada pada proses

catch them all

Saya tak bisa membayangkan jika bisa cheat dan langsung mendapat Pokemon dengan CP 1 juta point. Tak ada petualangan. Tak ada pertarungan. Tak ada pembelajaran. Keseruan bermain Pokemon Go ada pada proses menjadi trainer kuat. Kenikmatan kehidupan ada pada proses menjadi manusia hebat. Keindahan kehidupan, ada pada perjalanan yang penuh perjuangan.

Disclaimer on image:  Beberapa sumber sudah tercantum, mostly from 9Gag, 1Cak, Kaskus

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ka’bah Dekat Rumah (7): Hotel Bintang Tujuh

Seperti cerita di tulisan sebelumnya, alhamdulilah saya mendapat tumpangan menuju madinah. Kebetulan masih ada bangku bus yang kosong. Ibrahim mengenalkan saya dengan rombongan dari Indonesia. Jauh-jauh menghindari macet ibukota, eh tetap saja ketemu warga Jakarta. Haha.

Mereka kaget karena tahu saya ga pake rombongan. Istilah kerennya: solo backpacker. Istilah jujurnya: ga punya duit ikutan umroh lewat tour and travel. Mereka pada penasaran nanti nginep dimana? Makan apa? Ke Mekah gimana? Jangankan mereka, saya yang mau ngejalanin aja ga tau mau tidur dimana, makan apa, atau cara umroh ke Mekah gimana. Kita lihat saja nanti.

Yang penting itu niatnya.

Kelaparan? Tuhan akan memberikan makanan

Kebingungan? Tuhan akan menunjukkan jalan.

Kejauhan? Tuhan akan memberikan tumpangan.

Keyakinan itu yang coba saya afirmasi kedalam diri. Pasrah dan berserah. Sepasrah-pasrahnya. Seikhlas-ikhlasnya. Toh selalu ada jalan bagi mereka yang mau berdoa dan berusaha.

Mananya yang Merah?

Akhirnya saya jadi peserta travel selundupan. Dan menikmati paket tour yang sama. Berarti saya juga ikutan rombongan yang akan berjalan-jalan ke Masjid Apung dan Laut Merah. Asyikkk!

Saya tidak sabar ingin menyaksikan masjid Apung di tepi laut merah. Seperti apa rupanya? Saya Cuma tahu lesehan warung apung. Ini masjid yang mengapung? Di laut merah? Apa lautnya benar-benar berwarna merah?

Setelah menempuh perjalanan yang saya isi dengan tidur (untuk menghemat tenaga karena tidak tahu nanti malam akan tidur dimana), tibalah kami di masjid Apung di tepi laut merah. Ya elah, disebut masjid Apung karena kalo air pasang, masjid ini seolah-olah “mengapung” di lautan. Dan lautnya? Koq ga merah ya?

Saya baru tahu jika sebutan laut merah karena adanya organisme sejenis Trichodesmium berwarna merah yang hidup dilautan ini. Saya sempat berpikir laut ini disebut laut merah karena merah darah pasukan firaun yang ingin menangkap nabi Musa. Untungnya pikiran sesat saya berhasil dicerahkan oleh wikipedia.

Karena sudah sholat dan takut ketinggalan bus (risiko penumpang gelap), saya menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di tepi pantai disekitar parkiran. Ternyata banyak juga orang Indonesia yang jualan makanan dan minuman. Karena banyaknya orang arab ditengah orang Indonesia, atau sebaliknya banyak orang Indonesia ditengah orang arab, saya kemudian berpikir:

Anggep aja saya lagi liburan di puncak, tapi ga pake acara kawin kontrak.

Hampir Disiram

Setelah kurang lebih satu jam berkunjung ke Masjid Apung, akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Jarak dari Jeddah ke Madinah sekitar 400 km. Hampir sama dengan jarak Jakarta-Pekalongan. Bedanya, jika di Jawa harus melewati kemacetan dan butuh waktu 10-12 jam, disini jalanan lebar dan mulus. Bus melaju dengan kencang dan hanya butuh 4-6 jam tergantung mau istirahat berapa lama.

Tak terasa kami menempuh sekitar 6 jam perjalanan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan sampailah kami di Madinah al mukarromah. Bus langsung menuju ke masjid Nabawi, karena rombongan travel yang saya tumpangi menginap di hotel sekitar sana. Terus lo nginep dimana cuk?

Setelah berhenti dan mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya ke rombongan yang berbaik hati membantu, saya langsung mengambil ransel satu-satunya. Turun. Memasuki pelataran Masjid, dan memikirkan dua hal. Pertama: Alhamdulilah ya Allah bisa berkunjung ke masjid Nabawi, dan kedua: bingung mau tidur dimana.

Memasuki pelataran masjid, pintu masih ditutup. Rencana saya untuk nyamar jadi jamaah sholat untuk tidur di dalam gagal. Karena bingung, lagi-lagi saya pake jurus minta petunjuk: sholat. Toh sholat di masjid Nabawi insya Allah lebih punya keutamaan.

“Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih baik dari seribu (shalat) daripada yang lain kecuali Masjidil Haram, dan shalat di Masjid haram itu lebih baik dari seratus ribu (shalat) daripada yang lain.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Kali aja abis sholat terus saya berdoa langsung dikabulin. Contohnya:

“Ya Tuhan, mau tidur di hotel donkkk..”

Tiba-tiba kunci hotel jatuh dari langit, atau ada orang yang ngerasa saya mirip keluarga kerajaan dan menawari nginep di Abraj al bait yang terkenal dengan menara jam-nya itu. Aduh, kebanyakan nonton pilem hidayah ya bro???

Karena selanjutnya tak terjadi apa-apa..

Malah saya hampir disiram karena tidur di depan pintu masjid dan kebetulan lantainya mau di pel. Langsung saya berdiri dan melarikan diri. Tangi leee…

Karena bingung saya coba perhatikan keadaan sekeliling. Ternyata saya tidak sendiri. Ada beberapa jemaah lain yang Cuma bermodal tas berisi pakaian. Mereka rata2 tidur di sekitar toilet/WC. Akhirnya saya dekati mereka. Salam. Senyum sana-sini dan basa-basi. Meletakkan barang pribadi. Merebahkan diri. Ah lelahnya tubuh ini.

Sambil menunggu pintu masjid dibuka bagi para jemaah yang ingin sholat malam dan berdoa di sekitar raudhah, saya mencoba beristirahat. Berbaring disamping jamaah asal Pakistan. Tak lupa memakai kaus kaki dan pakaian dobel karena suhu yang dingin. Sambil memandang langit.

Terima kasih Tuhan, karena menerima hamba dirumah-Mu.

Dibandingkan hotel-hotel yang saya tempati sebelumnya, maka saya berada di “hotel bintang tujuh”.

Karena saya tertidur dengan hati yang damai. Sejuk sekali.

Pemandangan didepan "hotel" saya :)
Pemandangan didepan “hotel” saya 🙂
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Calo Tiket: Musibah Atau Berkah?

Pada 13 Desember lalu, harusnya saya terbang ke Yogyakarta untuk urusan keluarga yang sangat penting. Naik salah satu budget airlines di terminal 3 Soekarno Hatta. Jadwal flight jam 5.20, tapi berkat kebodohan saya sendiri, saya terlambat dan ditolak untuk check in (saya lupa untuk web checkin T_T).

Karena sudah janji dan tidak bisa diwakilkan, mau tidak mau saya harus terbang pagi ini juga. Saya cek next flight, ada yang jam 6. Tapi sudah penuh. Ada penerbangan selanjutnya yang available jam 10 pagi. Saya sudah telat.

Saya coba pindah jurusan. Cek jurusan Solo via internet. Karena acara keluarga sebenarnya di Solo. Saya terbang ke Jogja karena rata-rata tiket kesana lebih murah dari yang langsung ke Solo. Adanya malah sore. Lha terus gimana donk?

Satu pintu tertutup, dua jendela terbuka. Kepercayaan yang menggelora di dalam dada. Pasti ada cara untuk mendapatkan tiket penerbangan. Banyak jalan menuju Solo! Akhirnya saya pindah ke terminal 1A, coba tanya ke sales counter maskapai yang plesetannya Late is Our Nature. Penuh juga.

Mampus… saat saya sudah siap dimarahin keluarga sekampung, saya iseng-iseng mengelilingi terminal 1. Niatnya sih menyambangin semua kantor maskapi dari 1A sampai terminal 2. Ga berapa lama berjalan, saya didekati bapak-bapak:

“Mas, Solo mas? Ini ada tinggal satu”

Wah, bau-bau calo nih.

“Berapa Pak?” tanya saya iseng.

“Berangkat pagi ini juga, jam 8. Satu koma empat saja”

Gile ni bapak tua bangka. Masa ke Solo doank 1,4 juta. Apalagi kalo mau ke Amerika?

“Normalnya kan 500 Pak, ya udah 700 aja mau?” saya coba tawar.

“Ga bisa mas. Kita bayar ke maskapai-nya aja 400rb. Belum uang rokok ama uang nganter check in kedalam. Ini tinggal terakhir nih” sanggah bapak yang mengaku bernama Yayat.

Untuk negosiasi seperti ini, jangan sampai penjual tahu jika Anda benar-benar butuh. Munculkan alternative, dan jika dia tidak tertarik, gunakan exit strategy.

“Pak, saya masih bisa cari maskapai lain. Kalau Bapak ga mau, ya Bapak sendiri yang rugi karena tiketnya hangus” kata saya sambil berpura-pura melangkahkan kaki. Dalam hati saya berdoa biar dia manggil saya. Kalau saya yang kembali ke dia, posisi tawar dia menguat dan dia bisa mempertahankan harga.

Baru berjalan beberapa langkah, ada suara:

“Ya udah Mas sini. Tapi tolong tambahin uang rokok ama ongkos nganter ke dalam ya”

Ok kita deal di 850rb. Saya setuju karena ya saya juga bener-bener butuh ama tiketnya dan harga segitu adalah harga normal tertinggi untuk flight ke Solo. Sambil mengambil uang di ATM, muncul pertanyaan di kepala: amankah beli tiket di calo? Kalau saya ditolak masuk gimana? Kalau saya ditipu? Ah.. anggap aja ini risiko dan bisa jadi pelajaran. Siapa suruh telat datang ke bandara?

Sindikat

Setelah setuju saya dibawa ke gerombolan teman-temannya. Mereka duduk-duduk di ruang tunggu. Dekat tempat dropping taxi.

“Ini ada yang mau Solo nih, cari yang mudaan” seru pak Yayat.

Hah? Muda apaan?

Salah seorang temannya lalu merogoh kantong dan mengeluarkan setumpuk KTP. Sambil melihat wajah saya yang ganteng dan mempesona (huekkk), dia menyerahkan salah satu KTP.

Ternyata, dia memiliki setumpuk KTP aspal dengan nama yang sama, tapi dengan wajah berbeda. Nama yang dipilih adalah unisex: Mardian. Bisa untuk laki, bisa untuk perempuan. Tinggal foto-nya aja. Ada yang tua, ada yang muda.

Saya menerima KTP atas nama Mardian asal Jakarta. Kelahiran tahun 73. Buset tua amat. Wajahnya garang. Beda jauh ama komuk (muka) saya yang imut-imut.

sejak kapan muka saya jadi sangar?
sejak kapan muka saya jadi sangar?

Setelah ada KTP, pak Yayat meminta uang 400rb untuk menebus tiket. Saya tidak mau. Untuk berurusan dengan para rent seeker seperti ini, kita harus punya golden rule: Jangan berikan uang sebelum jasa diterima.

Saya ga mau bayar sebelum dapat tiket dan sudah berhasil masuk ke boarding room. Akhirnya saya maksa untuk ikut ke sales counter dan membayar 400rb-nya disana, sedangkan sisanya akan dibayar setelah check in di dalam ruang tunggu.

Akhirnya kami melangkah ke sales counter maskapai berlogo singa yang bisa terbang itu. Disana sudah menunggu anggota gang mereka, Adi namanya. Rupanya dia juga sedang mengurus tiket untuk 2 penumpang dengan tujuan yang sama dengan saya: Solo.

Saya ga tau mekanismenya gimana, pokoknya mereka meminta saya membayar 400rb kepada kasir sales counter. Untuk kemudian bisa langsung check in ke dalam.

“Kita return dulu tiketnya, Mas. 400rb itu untuk biaya return”. Return maksudnya gimana ya?

Hipotesa saya: mereka bekerja sama dengan travel agent melakukan booking, meng-hold booking tersebut, dan melakukan payment jika sudah ada korban orang tidak berdosa yang kepepet seperti saya.

Yang jelas, saya kemudian diantar ke dalam. Di check-in kan dan membayar sisa 450rb di koridor sebelum boarding room. Setelah itu semua berjalan sesuai rencana. Saya boarding dengan mulus, duduk manis di dalam pesawat yang penuh, dengan menggunakan identitas Mardian.

tiket

Lemahnya Pengawasan

Begitu mudahnya saya masuk dan menggunakan KTP abal-abal menunjukkan lemahnya pengawasan bandara kita. Dan ini juga berarti rendahnya standar kemanan. Seorang calo bisa dengan bebas keluar masuk ruang check-in. Untung saya tidak berniat jahat, bagaimana jika saya adalah seorang buronan polisi yang ingin terbang untuk menghilangkan jejak?

Calo juga menghadirkan ineffisiensi pasar. Penumpang diharuskan membayar harga yang jauh diatas harga pasar untuk keuntungan segelintir orang. Terjadi asimetric information antara penumpang dan airlines sebagai penyedia jasa. Sang calo seenak jidat bisa menyebutkan harga jual yang harus dibayar.

Kehadiran calo sebenarnya juga merugikan airlines. Jika terjadi musibah, maka pihak asuransi berhak menolak mengganti biaya kerugian pesawat karena ketidaksesuaian manifest. Tapi toh calo hadir dikarenakan sistem maskapai itu sendiri. Mereka melihat peluang dalam lemahnya fungsi pengawasan data penumpang.

Selain itu mayoritas LCC (low cost carrier) tidak memperkenankan adanya uang kembali jika penumpang berhalangan terbang. Hal ini menyebabkan banyak penumpang yang gagal terbang, malas me-return tiketnya yang berakibat tertutupnya peluang orang-orang go show (mencari tiket untuk terbang saat itu juga) untuk mendapat kursi pesawat secara resmi. Mereka akhirnya memilih opsi menjual di secondary market lewat calo (pak Yayat mengatakan bisa membantu menjual tiket yang sudah di book).

Yo wes lah… ambil positifnya saja. Jika pengawasan penerbangan kita terlalu ketat, saya pasti gagal terbang dan batal menikah.

Iya, saya harus terbang untuk mengucapkan janji suci di depan petugas KUA.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Mitos dan Fakta Tentang Timor Leste yang Mungkin Belum Kamu Tahu

“Yog, lu minggu depan ada agenda apa? Lo ke Dili ya”, tanya atasan saya.

Hah??? Dili? Timor Timor? Timor Leste? Rahul Lemos? Krisdayanti? Ada apaan disana?

Sama sekali tidak ada bayangan tempat wisata iconic yang melintas di otak seperti Merlion di Singapura, Great Wall di China, atau Dolly di Surabaya. Astaghirullah… sayangnya yang terakhir udah tutup…

Sebagai cecunguk berkasta Sudra di korporasi kapitalis, saya tidak punya pilihan lain. Sebenarnya saya pingin jawab: “Aku mau kalo duty travel-nya ke Europe, Mas”, atau “Australia aja donk”, tapi jika saya lakukan tentu minggu depan saya sudah nyebar2 CV di Jobstreet.

Apalagi beberapa teman yang sudah kesana menakut-nakuti dengan cerita “horror”.

“Ga, nanti lu kalo di Dili jangan lupa pakai baju rompi warna cerah ya” kata Pai, yang sudah pernah 3x ke negeri Xanana Gusmao itu.

“Hah? Kenapa emangnya?” mengingat reputasi si Pai sebagai traveler yang lebih berpengalaman (ni orang sampai pernah iseng-iseng main ke Christmast Island), saya langsung pasang telinga dengan sungguh-sungguh.

“Jaga-jaga aja sih.. biar kalo lu ditembak, mayat lu keliatan di semak-semak”.

“………..” mengheningkan cipta. Mulai.

Perjalanan saya menuju Timor Leste diselimuti mitos, legenda, dan cerita rakyat yang negative tentang Timor Leste. Ada yang bilang Krisdayanti dipuja seperti ratu disana. Dili juga dibilang tidak aman lah, penuh tentara United Nation dengan senjata lengkap yang berpatroli lah, hingga berlakunya jam malam.

Tulisan ini ingin memberikan klarifikasi berdasarkan pengalaman pribadi, tentang mitos vs fakta perjalanan wisata ke Dili.

Mitos 1#: Kita harus bisa berbahasa Portugis

Karena Timor Leste termasuk anggota persemakmuran Portugis, awalnya saya kira kita harus bisa bahasa Porto. Ternyata bahasa yang dominan adalah bahasa lokal, Tetum. Bahasa daerah orang Timor sejak dulu.

Dili airport
Dili airport

Fakta 1#: “Selamat Pagi, Apa Kabar?” Dimengerti Semua Orang

Begitu mendarat eh ternyata semua orang bisa bahasa Indonesia. Saya merasa Timor Leste masih menjadi provinsi ke-27. Semua orang dewasa mengerti bahasa Indonesia. Meskipun bukan bahasa resmi, tapi bahasa Indonesia adalah “bahasa gaul”.

Karena di Timor Leste hiburan media terbatas (TV resmi mereka, TVTL hanya mengudara dari jam 8 ke jam 9 untuk menyiarkan berita), mau tidak mau masyarakat Timor Leste menonton siaran tv Indonesia dengan parabola. Jangan heran kalau mereka tahu Ganteng-Ganteng Srigala, mengikuti sepak terjang koalisi Merah Putih, atau tertawa menonton Indonesia Lawak Club.

 

Ngerti koran bahasa Tetum ini?
Ngerti koran bahasa Tetum ini?

Mitos 2#: Timor Leste Menggunakan Mata Uang Sendiri Setelah Merdeka

Seperti negara merdeka pada umumnya, biasanya mereka mencetak mata uang sendiri. Begitu kita merdeka, Gulden ditinggalkan dan kita punya rupiah. Berbeda dengan Timor Leste, mata uang “lokal” yang berlaku hanyalah uang koin Centavos. 100 centavos sama dengan satu dollar AS.

Koin centavos
Koin centavos

Fakta 2#: Transaksi Menggunakan Dollar, dan Rupiah Tidak Diterima

Dollar Amerika cong, bukan Dollar Bekasi :P.

Pake dollar brooo

Mitos 3#: Wisata ke Timor Leste Murah

Timor Leste? Deket NTT? Nitip oleh-oleh donk, pasti murah2 kan yah disana? Mereka yang ngomong kaya gini pasti kalo traveling paling jauh ke Mall di Tangerang Selatan. Mereka tidak tahu perjalanan ke Indonesia Timur itu lebih mahal daripada perjalanan ke barat mengambil kitab suci.

Timor Plaza, "Mall" terbesar di Timor Leste
Timor Plaza, “Mall” terbesar di Timor Leste

Fakta 3#: Wisata ke Timor Leste Nggak Mahal, tapi Muahaaalllll

Emberrr. Untuk tiket pesawat, karena tak ada direct flight Jakarta-Dili saya harus singgah dan bermalam dulu di Bali. Terus untuk pulangnya lebih rempong lagi, karena return flight ke Bali penuh, saya harus muter ke Singapura dulu sebelum bisa kembali ke Jakarta. Total untuk tiket pesawat saja, kira-kira habis 8 jutaan.

Sebagai negara kecil yang baru merdeka, Timor Leste sangat bergantung pada barang impor untuk memenuhi kebutuhan warganya. Sehingga wajar saja, apa-apa serba mahal. Untuk biaya hidup, sekali makan di warung biasa2 aja berkisar 5 dollar belum pake minum. Mau nongkrong di roof top skybar? Siapin 50 dollar cuk! Hotel juga begitu. Penginapan yang saya tempati punya corporate rate 125 dollar/malam padahal hanya sekelas hotel 800rb-an di Bali.

Tapi tenang sodara-sodara. Masih banyak yang murah koq disini. Karena pajak hanya 5%, Anda bisa membeli mobil-mobil macam Pajero atau Ford Ranger dengan harga separuh dari Indonesia. Dan bagi pecinta anggur, maka Timor Leste adalah tempat yang tepat. Disini Anda bisa mabok sepuasnya dengan harga mulai dari 7 dollar/botol!.

Wine dan minuman keras dijual bebas (dan murah)

Mitos 4#: Dili Bukanlah Kota yang Aman, Penuh Tentara Bersenjata!

Hanya jika Anda berkunjung ke Dili dibawah tahun 2012, Anda akan menemukan pasukan UN bersenjata lengkap, berjaga diseluruh kota. Tapi itu dulu. Sejak tahun 2012, pasukan UN sudah ditarik mundur.

Saya juga ga tau buat tuh meriam untuk apa
Saya juga ga tau buat tuh meriam untuk apa

Fakta 4#: Dili adalah kota yang Tenang

Dili adalah kota yang tenang cenderung sepi. Tapi ternyata hal ini tidak terjadi begitu saja. Berdasarkan cerita dari orang lokal, sebelum tahun 2013 sering terjadi keributan malam. Mereka yang minum-minum, dansa, senggol dikit, bacok, tembak, berantem. Oleh karena itu mulai tahun 2013 hiburan malam dilarang. Sekarang Dili jam 8 malam hampir seperti Jakarta jam 3 pagi. Sepi. Semua sudah pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

Suasana Largo de Cidere, taman kota Dili
Suasana Largo de Cidere, taman kota Dili

Mitos 5#: Tidak ada Objek Wisata yang Menarik Disini

Apa yang dicari di lingkungan gersang dan panas seperti Timor Leste? Ilmu pelet apa yang dipakai Rahul Lemos untuk meyakinkan Krisdayanti hingga rela tinggal disini?

Anak-anak bermain di dermaga, dekat Largo de Cidere

Fakta 5#: Dili Punya Potensi Secantik Bali

Kata siapa Dili tidak Indah? Mereka punya Christo Rei, patung Paus Benedictus, taman kota yang menarik, Los Palos, hingga Pulau Jaco.

patung maria

paus

landscape1

Narsist dikit ah…

 

Kesimpulannya, Timor Leste adalah negeri yang indah untuk dikunjungi. Saya akan mengenangnya sebagai Negara muda yang akan selalu menjadi saudara kita.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ka’bah Dekat Rumah (6): Hello Brother!!!

Saya berhasil meninggalkan imigrasi paling sakti sekitar jam 12 siang. Cuaca kering menyambut. Parah. Panas dan gerah. Pantes onta punya punuk. Buat nampung air biar ga kehausan. Saya juga punya punuk. Sayangnya ditaruh di perut.

Karena keringetan dan belum mandi, saya putuskan untuk numpang mandi disalah satu toilet disekitar bandara. Bermodal tampang cuek meski diliatin petugas kebersihan. Setelah merasa segar dan berganti baju bersih, waktunya sholat dhuhur dulu.

Tujuan selanjutnya adalah Madinah. Loh koq ga langsung ke Mekah? Ngapain jauh-jauh ke Madinah dulu? Koq ga miqat di Jeddah? Karena ilmu agama saya pas-pasan, saya percaya aja kata berbagai buku umroh dan nasihat travel agent saya. Katanya miqat di Jeddah hanya boleh untuk Ahlul-Jeddah. Alias warga jedah asli. Karena KTP saya masih Sidoarjo ya udah, ke Madinah aja dulu.

Nah sodara-sodara, bagaimana cara ke Madinah? Jarak Jeddah Madinah cukup jauh. Sekitar 450 km. Pilihannya bisa naik pesawat, bis, taksi, atau onta biar kaya musafir jaman dulu. Berdasarkan hasil penerawangan saya bersama mbah Google, harusnya ada bus umum yang melayani rute Jeddah-Madinah. Namanya Saptco (Saudi Public Transport Company). Bus ini yang jadi tujuan mode transportasi saya.

No English Please

Karena semua jamaah yang landed sudah dijemput travel masing-masing, saya doank yang bengong bingung mau ngapain. Saya coba tanya2 ke petugas bandara. Tapi jawabannya:

“La English. La English” ternyata hampir semua petugas tidak bisa berbahasa Inggris.

Saya coba datangi supir taksi yang mangkal di sekitar bandara.

“Where is bus station to Madinah?” tanya saya baik-baik.

“Madinah? 200 riyal” kata dia sampai menggunakan bahasa Inggris ala kadarnya ditambah body language bahasa tarzan.

“No, I want to go to city. Bus terminal. Not madinah!” kata saya berusaha menjelaskan.

Tapi tetep aja. Keterbatasan bahasa komunikasi dimana saya ga bisa bahasa arab dan dia ga ngerti bahasa inggris membuat pembicaraan kami seperti orang bisu lagi ngobrol ama orang tuli. Ga nyambung hahaha.

Saya coba berpindah tempat, berganti supir taksi. Tapi hasilnya sama aja. Saya ga bisa menjelaskan kalo saya mau naik taksi mereka ke terminal bus di kota, untuk ke Madinah. Semua minta hal yang sama: Madinah 150-200 riyal.

Setelah capek muter2, akhirnya saya ngaso dulu. Sambi berdoa dan memikirkan plan B, harus membayar 150 riyal (sekitar 600rb) untuk taksi ke Madinah.

Sambil duduk saya berdoa. Ya Allah, sudah jauh-jauh kesini masa ga bisa ke Madinah. Tolong bantuin donk. Kan mahal banget kalau belum-belum ngeluarin duit 150-200 riyal atau sekitar 600-700rb. Saya berdoa sekhusuk2-nya. Kata orang sholeh, doanya orang kesusahan itu lebih didengar Tuhan. Kebetulan saya orang susah. Susah kurus lebih tepatnya.

Ibrahim

Yo wes lah, yang penting sudah berdoa. Waktunya berusaha. Saya coba datangi lagi. Ada taksi yang lagi cari-cari penumpang. Dan saya baru ingat, di hape kan ada Tourist Language! Itu loh, applikasi android yang bisa diunduh gratis berisi percakapan sehari-hari dari berbagai bahasa seluruh dunia.

Lewat aplikasi ini ada bantuan bahasa bagi turis yang ingin bertanya hal-hal sederhana. Mulai dari berapa harga barang, sampai lokasi hotel. Dan disitu juga ada pertanyaan mengenai transportasi. Bus! Yah itu dia.

Nah kebetulan juga ada supir taksi yang jemput bola menawarkan tumpangan.

“Where is the bus station?” kata saya.

“Bus?” kata dia.

Langsung saya sodorkan hape dan saya putarkan audio translation dalam bahasa arab (aplikasi ini ada fasilitas speech dalam bahasa asing). Eh tiba-tiba ni orang langsung semangat.

“Hello brother..”. Tak lupa nyerocos dalam bahasa arab. Rupanya dia kira kalo suara aplikasi adalah suara telpon sodara saya. Dia pikir sedang ngobrol ama orang beneran! Hahahaha langsung saya ngakak ga ketahan.

“Hello brother.. Hello brother…” dia mulai panik dan mengembalikan hape saya karena mengira perbicaraan telpon sudah terputus. Saya masih ketawa-ketawa aja. Ga tahu mau njelasinnya dalam bahasa arab.

Ha-fila. Nah itu dia bahasa arabnya bus. “Where is the ha-fila?” kata saya lagi.

“No.. me taksi” kata dia menjelaskan kalau dia supir taksi. Sebenarnya saya juga tahu kalo dia driver taksi dan bukan penjual bakso atau artis film porno. Tapi alhamdulilah abang taksi ini berinisiatif mencari seorang pekerja orang Indonesia! Alhamdulilah akhirnya ga perlu bicara bahasa tarzan terus!

Bertemulah saya dengan Aa’ Zainal. Orang Tasik yang udah 3 tahun kerja di airport. Setelah saya cerita kalau ada makhluk ganteng yang baru landing dari Indonesia dan butuh tumpangan ke Madinah, dia segera memerika passport saya.

“Coba kasih ke orang disebelah sana. Bilang kalo mau ke Madinah” kata bujang yang hanya pulang setahun sekali ini.

Dia menunjuk sekawanan orang berbadan besar, berkulit gelap, dengan gamis putih yang sedang duduk di mobil listrik mirip caddie car. Busyet, masa baru datang udah ketemu asykar. Tapi karena ga ada pilihan lain dan orang yang berniat melakukan pelecehan seksual kepada saya pasti berpikir dua kali, akhirnya saya berani.

Saya datang, menunjukkan paspor dan meminta tolong untuk tumpangan ke Madinah. Ternyata mereka bukan asykar. Tapi semacam agen bus. Mengatur kedatangan dan jadwal keberangkatan bus penjemput jamaah. Setelah di cek sebentar, laki-laki yang mengenakan kemeja berdiri, lalu berteriak:

“IIBBRAAHIIMMMMM!!!!” woww suaranya uda kaya macan yang mengaum membelah keramaian bandara. Ibarat film Kungfu, dia baru saja mengeluarkan jurus “Auman Singa pemecah gendang telinga”.

Tak berapa lama datanglah seorang Om-om dari Indonesia, mengenakan rompi, dan berbadan subur. Setelah tahu duduk permasalahannya, dan mengecek paspor saya, dia menoleh sebentar:

“Nanti ikut saya”. Alhamdulilah…

Jika Tuhan pernah membantu nabi Musa dengan membelah lautan. Hari itu Tuhan membantu saya dengan memberikan tumpangan.

Peta jeddah ke Madinah
Peta jeddah ke Madinah
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail